Mendu: Seni Lakon Memukau dan Langka dari Natuna

Mendu merupakan seni lakon rakyat Melayu yang sangat menarik untuk disimak. Teater tradisionalnya memainkan hikayat Dewa Mendu (dari sastra Melayu klasik) yang turun ke dunia dan berbaur dengan manusia sampai ia kembali ke Khayangan. Pertunjukan seni rakyat khas Melayu ini sarat pesan dan menggabungkan unsur nyanyi, tari, dan pertunjukan di Pulau Natuna, Kepulauan Riau.

Keunikan pementasannya adalah cerita yang dimainkan tanpa naskah sehingga pemainnya harus memahami alur cerita. Dialognya disampaikan dengan tarian dan nyanyian yang diiringi dengan musik yang khas. Iringan musik menggunakan alat musik gong, gendang, beduk, biola, dan kaleng.

Awalnya seni pertunjukan mendu dimainkan saudagar, nelayan, dan petani untuk hiburan. Mereka memainkan musik, nyanyian, dan berpantun untuk melepas rindu pada kampung halaman. Kata menghibur diri berubah menjadi mendu karena kesenian ini menjadi tontonan menarik yang kemudian digemari oleh masyarakat Natuna.

Teater rakyat mendu awalnya dimainkan pukul 21.00 hingga semalam suntuk. Hikayat Dewa Mendu dimainkan sebagai cerita pertunjukan ini yang dipentaskan di tanah lapang dimana penonton dapat melihatnya sesuka hati. Sebagian besar penontonnya adalah petani dan nelayan yang butuh hiburan setelah lelah bekerja seharian.

Dahulu pementasan mendu memerlukan waktu yang sangat panjang. Jika keseluruhan episode dimainkan bisa memakan waktu sampai 40 malam namun sekarang dapat diperpendek sampai 3 malam saja. Bahkan, saat ini bisa dimainkan dalam sehari hanya dalam waktu 45 menit sampai 2 jam saja dengan mengambil fragmen yang diperlukan.

Cerita Hikayat Dewa Mendu yang menjadi inti pertunjukan ini terbagi ke dalam tujuh episode. Ketujuh episode tersebut terdiri dari episode pertama yang menceritakan kehidupan khayangan dan turunnya Dewa Mendu dan saudaranya Angkara Dewa ke dunia, hingga bertemunya Dewa Mendu dengan Siti Mahadewi yang kemudian menikah dengannya; sampai dengan episode ketujuh bagaimana Dewa Mendu bertemu dengan anaknya, Kilan Cahaya, dengan diawali perkelahian antar keduanya. Hikayat ini dapat dimainkan dalam beberapa versi, namun tidak menghilangkan inti cerita.

Keseniannya dimainkan di atas panggung seukuran 4×14 meter yang berada di area terbuka. Panggung tersebut terdiri dari 3 bagian yakni ruang rias, balai penghadapan, dan arena berladun. Kostum para pemain kesenian mendu menggunakan baju kurung teluk belanga untuk laki-laki, dan kebaya untuk perempuan. Selain itu kostum akan disesuaikan dengan peran yang dilakoninya, karena hal kostum tidak ada patokan khusus.

Pementasan mendu akan dimainkan oleh minimal 25 orang, biasanya 25-35 orang pemain. Jika jumlahnya hanya 25 orang, maka pengaturannya 5 orang sebagai pemusik, dan lainnya sebagai pelakon. Jumlah 20 orang ini bisa berganti peran pada adegan berikutnya. Baiknya jika jumlah pemain lengkap sampai 35 orang, maka setiap orang akan memainkan satu peran saja.

Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Mendu dan bahasa Melayu sehari-hari masyarakat pendukungnya. Bahasa Mendu akan dipergunakan oleh tokoh-tokoh utama, sementara bahasa Melayu sehari-harinya akan digunakan oleh pemeran tokoh-tokoh pendukung lainnya.

Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam pementasan mendu sesuai urutan alur cerita adalah: Numu Satu, Lemak Lamun, Lakau, Catuk, Air Mawar, Jalan Kunon, Ilang Wayat, Perang, Beremas, Ayuhai, Tale Satu, Pucok Labu, Sengkawang, Nasib, Numu Satu Serawak, Setanggi, Burung Putih, Wakang Pecah, Mas Merah, Indar dan Tarik Lembu. Sementara tariannya meliputi Ladun, Jalan Runon, Air Mawar, Lemak Lamun, Lakau, dan terakhir Baremas yang artinya berkemas-kemas untuk pulang.

Orang yang paling bertanggung jawab atas berlangsungnya kesenian ini disebut Khafilah. Tugasnya layaknya sutradara yang mengatur jalannya pementasan. Sesekali ia bermadah untuk menyampaikan prolog berisi ringkasan cerita penampilan berikutnya. Sedangkan, yang bertanggung jawab terhadap lingkungan disebut dengan Syekh. Tugasnya melindungi para pelakon dari ancaman kekuatan jahat. Oleh karena itu pementasan mendu memerlukan Pohon Pulai (alstonia scholaris) yang ditanam pada bagian depan panggung sebagai penangkal kekuatan jahat yang dapat mencelakakan pelakon. Syekh maupun Khafilah berada di belakang. Syekh ada kalanya berperan sebagai Khafilah, tetapi tidak untuk sebaliknya.

Seni pertunjukan Hikayat Dewa Mendu saat ini dipentaskan untuk memeriahkan acara pernikahan, HUT Kemerdekaan Indonesia, hari-hari besar agama Islam. Terkadang, kesenian menarik ini juga ditampilkan dalam sebuah festival kesenian yang diselenggarakan Pemerintah.

Kesenian mendu menyebar ke berbagai tempat di daerah yang disebut dengan Pulau Tujuh, yaitu Bunguran Timur (Ranai dan Sepempang), Siantan (Terempa dan Langi), dan Midai. Bahkan di Tanjung Pinang saat ini telah ada grup mendu yang anggotanya orang-orang dari Natuna. Meskipun demikian, jika orang mendengar mendu maka yang teringat adalah Bunguran, Natuna. Hal itu wajar karena pusat kesenian ini ada di Bunguran.