Category Archives: Riau

Budaya, Riau

Istana Siak: Istana Matahari Timur yang Menawan

 

Sebuah kerajaan Melayu Islam terbesar di Riau telah meninggalkan jejak yang cantik di muka bumi. Itulah Istana Siak yang berada di Kabupaten Siak, Riau. Istana ini dibangun saat kepemimpinan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889.

Di Istana Siak Anda dapat melihat beragam koleksi warisan kerajaan berupa kursi singgasana yang bersepuh emas, duplikat mahkota kerajaan, brankas kerajaan, tombak, payung kerajaan, patung perunggu Ratu Wihemina, serta alat musik komet yang hanya ada dua di dunia. Saat ini beberapa koleksi benda antik dari Istana Siak Sri Indrapura disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Istana Siak memiliki perpaduan arsitektur  Melayu-Arab-Eropa. Dijuluki sebagai Istana Matahari Timur dan bernama asli Assiyaratul Hasyimiah. Pada dinding istananya dihiasi keramik yang didatangkan dari Prancis. Bangunan istana ini berlantai dua, dimana di lantai bawah terbagi menjadi 6 ruangan sidang, ruang tamu kehormatan, ruang tamu untuk laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, dan ruang sidang kerajaan sekaligus ruang pesta. Sementara lantai atas meliputi 9 ruangan untuk Sultan dan ruang untuk tamu kerajaan.

Istana ini kini sekarang difungsikan sebagai perkantoran, rumah tinggal, penginapan, dan toko oleh penduduk. Istana Siak dan ratusan benda pusaka di dalamnya dikelola Yayasan Amanah Sultan Syarif Kasim dimana pengurusnya masih keturunan Sultan Siak.

Kerajaan Siak sendiri merupakan kerajaan yang berdiri lebih dari dua abad, yaitu tahun 1723 hingga 1946. Kerajaan Siak awalnya adalah pecahan dari Kerajaan Melayu yaitu antara Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja Kecil) dan Sultan Suleiman yang dibantu oleh Bugis. Sultan Abdul Jalil akhirnya tersingkir dan berpindah tempat yaitu ke Johor, Bintan, Bengkalis, hingga akhirnya ke pedalaman Sungai Siak, di Buantan sekitar 10 km di hilir kota Siak Sri Indrapura sekarang. Kerajaan Siak berkali-kali berpindah ibukota yaitu di Buantan, Mempura, Senapelan, Mempura, dan terakhir di Kota Tinggi atau Siak Sri Indrapura.

Temukan beragam kisah dan ilmu penuh makna dari istana ini. Anda akan diajak berwisata ke rangkuman sejarah, budaya, dan wawasan ilmiah yang mengagumkan.

Jam buka Istana Siak adalah Senin-Kamis dan Sabtu, pukul 09.00-16.00 WIB. Pada Jumat tutup pukul 09.00-11.00 dan buka kembali pukul 13.45-16.00 WIB. Tiket masuk  untuk dewasa Rp3.000,00 dan anak-anak Rp2.000,00.

Kegiatan

Pintu gerbang istana ini akan menyambut Anda dengan sepasang burung elang yang bertengger indah dan sorot mata tajam. Di puncak bangunan pun terdapat 6 patung burung elang sebagai lambang keberanian istana ini.

Di dalam istana, Anda dapat melihat berbagai koleksi bernilai tinggi warisan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Mulai dari keramik, payung kerajaan, brangkas kerajaan, dan kursi kristal yang dibuat tahun 1986. Ada pula perkakas seperti sendok, piring, gelas-cangkir berlambangkan Kerajaan Siak.

Anda jangan terlewat untuk mengamati sebuah cermin bernama Ratu Agung. Cermin tersebut dulunya milik permaisuri sultan. Konon cermin tersebut apabila sering digunakan dapat membuat wajah semakin cerah dan awet muda.

 

Saat berkeliling di luar istana Anda dapat mengamati puncak bangunan istana ini dimana terdapat 6 patung burung elang sebagai lambang keberanian Istana. Di sekitar istana juga terdapat 8 meriam yang menyebar pada sisi-sisi halaman istana. Lihat juga di sebelah kiri belakang Istana terdapat bangunan kecil sebagai penjara sementara.

Ada juga alat musik komet yaitu sejenis gramafon ini hanya tinggal dua di dunia, yaitu ada di Siak dan Jerman. Piringan baja komet tersebut dibawa Sultan Syarief Hasyim dari lawatannya di Jerman ke Siak tahun 1896.

Kegiatan

Selama berkeliling berikut ini ada tempat-tempat menarik untuk Anda hayati nilai historisnya.

Masjid Syahabuddin yang merupakan masjid kerajaan yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Kasim I. Bangunan masjidnya masih mempertahankan bentuk aslinya dengan denah 21, 6 X 18, 5 m.

Makam Sultan Kasim II yang merupakan sultan terakhir yang meninggal pada 23 April 1968. Berbentuk 4 undak dari tegel dan marmer berukuran panjang 305 cm, lebar 153 cm, dan tinggi 110 m. Nisan tersebut terbuat dari kayu bermotif suluran dengan bentuknya bulat silinder bersudut 8, berdiameter 26 cm. Bentuknya berupa kelopak bunga teratai. Temukan makam ini di belakang Masjid Syahabuddin,

Jembatan Siak berangka tahun 1899, berdiri di atas sungai yang diduga sebagai parit pertahanan kompleks istana. Jembatan ini berada sekitar 100 meter disebelah Tenggara kompleks Istana Siak Sri Indrapura.

Kapal Kato adalah kapal dengan panjang 12 m dan berat 15 ton. Kapal besi berbahan bakar batu bara ini adalah milik Sultan Siak yang digunakan untuk berkunjung ke daerah kekuasaannya. Temukan Monumen Kapal Kato ini di pinggir Sungai Siak.

Balai Kerapatan adalah bangunan bertingkat 2, berdenah persegi 4 dengan tiang utama berupa pilar berbentuk silinder. Lantai bawahnya terdiri dari 7 ruang dan lantai atas 3 ruang. Bangunan ini menghadap ke arah sungai (selatan) dimana dahulu berfungsi sebagai tempat pertemuan atau sidang sultan dengan panglimanya.

 

Kuliner

Selepas lelah berkeliling seputar istana maka manjakan lidah Anda dengan belaian kuliner di sepanjang tepian Sungai Siak dengan pemandangan Jembatan Siak. Makanan yang paling banyak akan Anda temukan adalah rumah makan khas Minang.

Beberapa tempat makan yang dapat Anda pilih di Siak adalah berikut ini.

Masakan Minang

Jl. Sultan Ismail, Siak Sri Indrapura

Cik Minah

Jl. S.S. Qasim, Siak Sri Indrapura

Telp. +62-761-20386

Gantino Baru

Jl. Sultan Ismail Siak Sri Indrapura

Resi

Jl. Sultan Ismail, Siak Sri Indrapura

Elok Basamo

Jl. Sultan Ismail, Siak Sri Indrapura

Nasi Neti

Jl. Sultan Ismail, Siak Sri Indrapura

Saiyo

Jl. Sultan Ismail, Siak Sri Indrapura

Awak Juo

Jl. Bahagia No. 221

Siak Sri Indrapura, tel. +62-764-20136

Dun Sanak

Jl. Pasar Baru, Siak Sri Indrapura

Wina Ria

Jl. Pasar baru, Siak Sri Indrapura

Dolita

Jl. Bahagia No. 121

Siak Sri Indrapura, tel. +62-764-20161

Kedai Eri Betrizal

Jl. Sultan Ismail, Pasar

Siak Sri Indrapura

Telp. +62-764-20198

Tiga Suku

Jl. Sultan Ismail, Siak Sri Indrapura

Yessi

Jl. Sultan Ismail, Siak Sri Indrapura

Telp. +62-764-20209

Rencananya di atas jembatan Siak setinggi 23 meter akan dibuka tempat makan mirip di Jembatan San Fransisco. Untuk menuju ke atas pengunjung akan menaiki lift yang tersedia. Saat ini jembatan ini dalam proses pembangunan.

 

Berbelanja

Salah satu keindahan kerajinan tangan asal Siak adalah kain tenun siak. Kain tersebut awalnya dikenal di lingkungan istana saja. Tenun siak yang cantik dibuat dengan benang katun atau benang sutera yang diberi benang emas. Motifnya berupa tampuk manggis, pucuk rebung, atau siku keluang. Kain tenun siak dibuat dengan kik yaitu alat tenun yang sederhana dari bahan kayu berukuran 1×2 meter. Dengan alat tersebut kain yang dihasilkan tidaklah lebar, jadi untuk satu kain sarung harus disambung dua (kain berkampuh). Tenunan Siak selain digemari masyarakat juga merupakan cenderamata yang diminati kolektor dan wisatawan yang datang ke Siak. Harganya bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Temukan tempat asli kain tenun ini di Kecamatan Bukit Batu

Temukan juga bolu kemojo berupa kue berwarna hijau coklat yang lezat. Proses pembuatan kue ini seperti bolu pada umumnya yang membedakan hanyalah warna hijaunya dari pandan. Kue ini sering disajikan saat hajatan, buka puasa, atau perayaan-perayaan hari besar seperti lebaran.

Anda perlu membawa oleh-oleh salak siak yang rasanya manis tak kalah seperti salak bali dan salak pondoh. Di Kecamatan Dayun, sejauh 65 Km dari Kota Siak Sri Indrapura terdapat perkebunan salak yang terbentang seluas 40 Ha.

 

Akomodasi

Temukan beragam akomodasi dengan harga bervariasi di Kabupaten Siak. Untuk memudahkan Anda menemukannya berikut ini referensi dari Indonesia.travel.

Hotel Istana Tujuh

Jl. Raya Perawang km.6

tel: +62-761-92859, 92168

tarif: Rp 100.000 – 175.000

Wisma Jaya

Jl. Raya Perawang km. 6 Tualang

tel: +62-761-92859

tarif: Rp 120.000 – 175.000

Hotel Yasmin

Jl. Indragiri No. 2 Kp. Rompak

tel: +62-764-320888

tarif : Rp 100.000 – 350.000

Hotel Winaria

Jl. Dr. Sutomo No. 13

tel: +62-764-320920

tarif: Rp 95.000 – 385.000

Wisma Tuah

Jl. Suak Lanjut No. 30A

tel: +62-764-20455

tarif: Rp 90.000 – 175.000

Hotel Perawang Makmur

Jl. Raya Perawang km. 5,5 Tualang

tel: +62-761-91037

Wisma Santai

Jl. Sultan Ismail

Wisma Monalisa

Jl. Sultan Ismail 1

tel: +62-764-20116

tarif: Rp 77.000 – 165.000

Wisma Maharaja

Jl. Sultan Syarif Qasim

tel: +62-85265909326

tarif: Rp 50.000 – 100.000

Penginapan Harmoni

Jl. Bahagia No. 2

tel: +62-764-20074

tarif: Rp 40.000 – 90.000

 

 

Transportasi

Capailah lokasi komplek indah ini dari sebelah timur Pekanbaru selama 4 jam perjalanan hingga Anda tiba di Kabupaten Siak Sri Indrapura. Istana Kesultanan Siak Sri Indrapura terletak di tepi Sungai Siak yang dulu disebut Sungai Jantan. Istana Siak ini bisa dicapai lewat darat atau sungai.

 

Kabupaten Siak sendiri awalnya merupakan wilayah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibu kotanya Siak Sri Indrapura.

 

 

 

 

 

 

Budaya, Riau

Candi Muara Takus: Keunikan Candi Budha yang Berharga

 

Sekilas

Anda layak mengunjungi candi Budha ini karena menjadi satu-satunya peninggalan sejarah berbentuk candi yang ada di Riau sampai saat ini. Berlokasi di Desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto Kampar, Kabupaten Kampar atau sekitar 135 km dari Pekanbaru. Candi Muara Takus dikelilingi tembok dari batu putih berukuran 74 m X 74 m, letaknya di pinggir jalan yang menghubungkan Desa Muara Takus dengan desa Tanjung Kecamatan Tigabelas Koto Kampar.

Candi Muara Takus merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga dan diperkirakan merupakan bagian atau pusat Kerajaan Sriwijaya. Candi ini dahulunya merupakan pusat penyiaran dan pendidikan agama Budha. Bahkan diperkirakan tidak itu saja, daerah alur Sungai Kampar juga merupakan salah satu pusat perdagangan internasional melalui Selat Malaka sampai ke Muara Takus yang disinggahi kapal dan perahu dari berbagai negara.

Candi Muara Takus adalah candi yang tertua terbuat dari tanah liat dan tanah pasir, sementara candi yang ada di Jawa umumnya terbuat dari batu pegunungan. Bahan pembuatan candi diambil dan Desa Pongkai sekitar 6 km dari candi tersebut. Nama Pongkai berasal bahasa Cina “Pong” artinya lobang dan “Kai” artinya tanah. Maksudnya lubang tanah yang diakibatkan oleh penggalian untuk pembuatan Candi Muara Takus tersebut. Bekas lubang galian itu sekarang tidak dapat terlihat lagi karena tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang. Kata Muara Takus berasal dari nama anak sungai kecil bernama Takui (Takus) yang bermuara di Sungai Kampar. Pendapat lain mengatakan kata “takus” berasal di Bahasa Cina  “Takuse” yang artinya  ta: besar, ku: tua, dan se: candi,  jadi artinya candi besar tua yang terletak di muara sungai.

Candi Muara Takus yang berupa stupa menunjukkan identitasnya sebagai tempat pemujaan agama Budha Mahayana. Hal ini membuktikan bahwa agama Budha pernah berkembang di daerah ini. Belum dapat dipastikan secara pasti kapan candi ini didirikan. Berdasarkan penelitian tahun 1935, 1936, dan 1938, Dr. FM Schnitger di dalam bukunya yang berjudul “Forgotten Kingdoms in Sumatra”, menyatakan bahwa Kompleks Candi Muara Takus didirikan pada abad 11-12 M. Tetapi para ahli lainnya menyatakan bahwa tempat pemujaan penganut agama Buddha Mahayana ini dibangun oleh Kerajaan Sriwijaya sekitar tahun 900-1000 Sementara itu, J.C. Moens di dalam bukunya “Crivijaya, Java en Kataha” menyatakan Muara Takus adalah pusat dari kerajaan Sriwijaya dan dibangun pada awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya sekitar abad 7 M.

Bahan pembuatan candi ini dari batu bata yang bervariasi ukurannya dengan panjang antara 23 sampai 26 cm, lebar 14 sampai dengan 15,5 cm, dan tebalnya 3,5 cm sampai 4,5 cm. Bata ini pada masa lampau memiliki kualitas yang lebih baik dari bata pada masa sekarang dimana dahulu tanah liat yang digunakan disaring hingga tidak ada komponen lain selain tanah liat, misalnya pasir. Selain itu, terdapat ”isian” di dalam bata, biasanya berupa sekam agar bata kuat. Perekatan antar batu bata menggunakan cara kosod yaitu menggosokkan bata dengan bata lain sambil bidang gosokannya diberi air. Cara pembuatan ini sekarang masih dapat ditemukan di sekitar situs-situs di Jawa Timur dan di Bali. Cara kosod membuat perekatan antarbata akan bertambah kuat dari tahun ke tahun. Batu bata ini disusun bergotong-royong dari tangan ke tangan secara berantai dengan tenaga manusia yang banyak sejauh 8 km, bagaimana luar biasa bukan?

Gugusan Candi Muara Takus pertama kali ditemukan Cornet De Groot tahun 1860 yang kemudian dituangkan dalam sebuah tulisan yang berjudul “Koto Candi “. Berikutnya W.P. GROENEVELD tahun 1880, mengadakan penelitian dan hasil penelitian tersebut merupakan kunci dari tulisan singkat Verbeek dan Van Delden tahun 1880 yang mengatakan bahwa bangunan purbakala tersebut adalah bangunan Budha yang terdiri dari Biara dan beberapa candi. Tahun 1889, J.W Izerman meneliti dan mengungkapkan bahwa  Stupa (candi Mahligai) merupakan bangunan yang masih baik sehingga dapat digambar menurut keadaan sebenarnya, namun ada bagian-bagian dari bangunan yang telah rusak. Di bagian puncak menara terdapat batu dengan lukisan daun oval dan relief.

Menurut para ahli, jumlah keseluruhan candi tersebut sebanyak 7 (tujuh) gugusan. Bangunan I diperkirakan tempat pembakaran mayat dan Bangunan II diperkirakan bangunan candi yang belum diketahui nama dan bentuknya. Di gugusan ini terdapat beberapa candi yaitu Candi Mahligai, Candi Palangka, Candi Bungsu, Candi Tua, Bangunan I, Bangunan II, Bangunan IV tanggul kuno. dan Pagar keliling.

Arsitektur Candi Muara Takus bersifat Budha dengan adanya stupa yang merupakan lambang Budha Gautama. Akan tetapi, pada bentuk candi Mahligai dianggap sebagai masa peralihan antara Ciwaitis ke Budha dengan adanya lambang Pallus dan Yoni. Dilihat dari jauh bentuknya persis seperti menara. Arsitektur stupa Candi Muara Takus memiliki persamaan dengan arsitektur bangunan Candi Aloha di India dan candi-candi yang ada di Myanmar (Burma). Demikian juga dengan candi Bihar Mahal di Sumatera Utara dan teras-teras  atas Candi Muara Takus ini mirip dengan Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Arsitektur stupa Candi Muara Takus sangatlah unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Stupa candi ini memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa. Patung singa sendiri secara filosofis merupakan unsur hiasan candi yang melambangkan aspek baik yang dapat mengalahkan aspek jahat. Dalam ajaran Budha motif hiasan singa dihubungkan maknanya dengan sang Budha, yaitu julukan yang diberikan kepada sang Budha sebagai singa dari keluarga Sakya. Serta ajaran yang disampaikan oleh sang Budha juga diibaratkan sebagai suara (simhanada) yang terdengar keras di seluruh penjuru mata angin.

Berdasarkan cerita rakyat dari Shahibul Hikayat, penduduk hulu sungai Kampar berasal dari keturunan putri Sri Dunia yang datang dengan keluarganya dari Pariangan Padang Panjang. Seorang raja Hindu menikasi putri Sri Dunia kemudian mendirikan sebuah kerajaan di Muara Takus. Keturunannya dapat ditemukan di Muara Takus. Kemudian raja Hindu tersebut kembali ke negerinya hingga datang orang Batak yang juga menganut agama Hindu. Putri Sri Dunia rupanya telah kawin dengan seorang datuk anak laki-laki yang diberi nama Induk Dunia yang kemudian hari menjadi raja di Muara Takus, keturunannya adalah Raja Pamuncak Datuk Dubalai. Raja terakhir di Muara Takus adalah Raja Bicau. Dahulunya kota Muara Takus sangat luas sehingga apabila seekor kucing menjelajahi kota dari atap ke atap rumah maka memerlukan waktu selama 3 bulan baru sampai kembali ke tempat semula.

Kegiatan

Nikmatilah menelusuri setiap lekuk arsitektur dari jejak keemasan masa silam Nusantara di tempat ini. Anda dapat membayangkan bagaimana tempat ini dahulunya merupakan pusat pendidikan agama Budha dari berbagai negara.

Bangunan candi sendiri merupakan bangunan suci yang berkembang pada masa Hindu-Buddha. Candi adalah bangunan suci sebagai sarana pemujaan dewa-dewi agama Hindu maupun agama Buddha yang keduanya berasal dari India. Oleh karena itu, konsep yang digunakan dalam pendirian sebuah bangunan suci sama dengan konsep yang berkembang dan digunakan di India, yaitu konsep tentang air suci.  Ini artinya saat mengunjungi Candi Muara Takus, Anda dapat melihat jejak bagaimana bangunan suci harus berada di dekat air yang dianggap suci. Air itu digunakan sebagai sarana dalam upacara ritual. Peran air tidak hanya digunakan untuk upacara ritual saja, namun secara teknis juga diperlukan dalam pembangunan maupun pemeliharaan dan kelangsungan hidup bangunan itu sendiri. Pendirian bangunan suci seperti candi oleh para seniman bangunan waktu itu akan selalu memperhatikan potensi kesucian suatu tempat untuk didirikan bangunan candi.

Bangunan utama di kompleks Candi Muara Takus adalah sebuah stupa besar dengan bentukkan menara. Bentuk arsitektur stupa ini berbeda dengan bangunan-bangunan stupa lain yang ada di Indonesia. Jelajahilah tempat ini satu per satu meliputi bagian candi-candi berikut ini.

Candi Mahligai

Anda tidak akan menemukan arsitektur bangunan stupa candi ini di Sumatera, Jawa, atau di tempat lain di Indonesia. Bahkan beberapa Arkeolog mengasumsikan bahwa bentuk candi ini memiliki kesamaan bentuk dengan Stupa Budha di Myanmar, Stupa Vilagaam di Sri Lanka, atau stupa kuno di India pada masa periode Ashoka.  Amatilah stupa dengan ornamen sebuah roda dan kepala singa, hampir sama dengan arca yang diketemukan di dalam stupa. Stupa Mahligai memiliki alas atau pondasi berdenah persegi panjang berukuran 9,44 m x 10,6 m, serta memiliki 28 sisi yang mengelilingi alas candi. Pada bagian alas tersebut terdapat ornamentasi lotus ganda. Lalu di bagian tengahnya berdiri bangunan menara silindrik dengan 36 sisi berbentuk kelopak bunga pada dasarnya. Tahun 1860 M saat Cornet De Groot berkunjung pada alas candi tersebut terdapat teratai berganda dan pada setiap sisi dijumpai patung singa dalam posisi duduk.

Candi Sulung (Candi Tua)

Kata sulung mempunyai arti paling tua dalam bahasa Melayu. Candi ini juga terbuat dari batu bata dan masih di restorasi.Candi sulung adalah candi terbesar di antara bangunan-bangunan lainnya di kompleks ini. Ukuran pondasi bangunan candi ini adalah 31,65 x 20,20 m. pada sisi timur dan barat terdapat pintu masuk dengan dekorasi arca berbentuk Singa. Pondasi candi ini memiliki 36 sisi yang mengelilingi bagian dasar. Candi Tua, Candi ini merupakan candi terbesar di antara candi-candi yang ada dengan sisi 36 buah dan dipugar pada tahun 1990.

Candi Bungsu

Dalam bahasa Melayu bungsu mempunyai arti yang termuda . Berlokasi di sebelah barat dari stupa Mahligai, bagian pondasi bagunannya memiliki 20 sisi dengan sebuah bidang di atasnya yang terdapat teratai dan bagian dalam bidang tersebut dahulunya terdapat relung berisikan tanah dan abu. Dahulu pada relung tersebut diketemukan 3 lempeng emas dan sebuah lempeng logam yang berhiaskan gambar Vajra. Pemugaran Candi Bungsu dimulai tahun 1988 dan selesai tahun 1990. Ukurannya 7.50 m X 16.28 m dan tingginya setelah di pugar 6.20 m dari permukaan tanah, dan volumenya 365.80 m3 .

Candi Palangka

Terletak di sisi timur Stupa Mahligai berukuran tubuh candi 5,10x 5,7 m. Candi ini mempunyai pintu masuk menghadap utara dimana di samping semua candi yang telah disebut pada kompleks candi ini, juga terdapat dua reruntuhan bangunan yang hanya tinggal bagian pondasi bangunanya saja. Candi Palangka dipugar tahun 1987 dan selesai pada tahun 1989.

 

 

Anda dapat melihat tempat pembuatan batu bata untuk menyusun candi ini di daerah Pongkai (Dari bahasa China, “pong” artinya lobang, dan “kai” artinya tanah) yaitu berupa lobang tanah luas yang menjadi tempat pengambilan tanah untuk dijadikan batu bata. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk.  Dahulu batu bata itu setelah dibuat di Desa Pongkai awalnya dibawa melalui sungai ke Muara Takus tetapi karena mengangkut melalui sungai tersebut sangat berat maka cara pengangkutannya diubah dengan memakai tenaga manusia yang dibariskan mulai dari Desa Pongkai sampai ke tempat pembangunan candi di Muara Takus. Jadi batu bata itu diangkut secara berantai dengan tenaga manusia yang banyak sejauh 8 km.

Selain melihat-lihat Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa, dan Palangka, di dalam kompleks candi ini tepatnya di depan gerbang Candi Tuo terdapat onggokan tanah yang mempunyai dua lobang. Tempat ini diperkirakan tempat pembakaran jenazah. Lobang yang satu untuk memasukkan jenazah dan yang satunya lagi untuk mengeluarkan abunya. Di dalam onggokan tanah tersebut terdapat batu-batu kerikil yang berasal dari Sungai Kampar. Di di luar kompleks Candi Muara Takus, yaitu di beberapa tempat di sekitar Desa Muarata Takus, juga diketemukan beberapa bangunan yang diduga masih erat kaitannya dengan candi ini. Bangunan-bangunan (bekas) tersebut terbuat dari batu bata dan belum dapat dipastikan jenis bangunannya.

 

Akomodasi

Pilihlah salah satu dari beberapa referensi hotel berikut ini yang berada di sekitar Bangkinang, Kampar.

Wisma SamudraJl. M. Yamin 27

Tel: +62-762-20245

Wisma Bangkinang Baru

Jl. DI. Panjaitan 74

Wisma Langgini

Jl. M. Yamin 281

Tel: +62-762-20028

Wisma Angga

Jl. A. Yani

Tel: +62-762-20870

Wisma Fitri

Jl. Sisingamangaraja

Tel: +62-762-20081

Losmen Pantian Ragi

Jl. Sei. Kampar 20

Tel: +62-762-21201

Teratai

Jl. Pendidikan

 

Transportasi

Pekanbaru-Muara Takus dapat Anda tempuh sekitar 2,5 jam atau sekitar 135 km dengan kendaraan bermotor. Perjalanan menuju Desa Muara Takus hanya dapat dilakukan melalui jalan darat yaitu dari Pekanbaru ke arah Bukittinggi sampai di Muara Mahat. Dari Muara Mahat melalui jalan kecil menuju ke Desa Muara Takus.

Gugusan candi Muara Takus terletak di garis khatulistiwa 0.021 lintang utara dan 100.039 bujur timur. Kawasan candi ini berada di kaki bukit di dekat di dekat Sungai Kampat Atas yang juga merupakan batas alam antara Riau dan Provinsi Sumatra Barat, hanya sekitar 26 km dari jalan utama Pekanbaru-Bukittinggi.

Berkeliling

Anda dapat bekeliling di Kabupaten Kampar dengan mengunjungi beberapa temapt berikut ini.

Museum Kandil Kemilau Emas

Berada di Pulau Belimbing Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar. Diresmikan 22 Mei 1988 dengan bentuk rumah adat Lima Koto Kampar yang dibangun tahun 1900 oleh almarhum Haji Hamid. Ada dua ratus lima puluh (250) macam barang antik koleksi musium Kandil Kemilau Emas yang semuanya merupakan koleksi warisan yang telah turun temurun sebagai barang pusaka. Tersimpan berbagai barang antik koleksi yang memiliki nilai sejarah seperti tembikar, alat pertukangan, pertanian, penangkap ikan, alat-alat kesenian, alat pelaminan, alat perdagangan, alat pesta dan lain-lain. Tersimpan pula dayung perahu dagang terbuat dari kayu sangat kuat berasal dari abad ke 18, serta sebuah kompas yang terbuat dari bambu yang dibuat oleh China .

Masjid Jamia

Masjid Jamia berada dekat Pasar Air Tiris Kecamatan Kampar. Memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan masjid-masjid lain di Provinsi Riau. Dibangun tahun 1901 dimana pada puncak atapnya terdapat tingkatan menara yang cukup tinggi dan bahan bangunannya terbuat dari kayu tanpa menggunakan paku besi. Oleh masyarakat, masjid ini dianggap keramat dan banyak dikunjungi wisatawan Nusantara maupun dari Singapura dan Malaysia untuk membayar nazar dan mandi di sumurnya. Biasanya musim kunjungan terbanyak sesudah Ramadhan atau pada hari raya Puasa Enam. Temukan sumur di masjid ini yang dalamnya terendam batu besar mirip kepala kerbau. Konon, batu tersebut selalu berpindah tempat tanpa ada yang memindahkannya.

Makam Syekh Burhanuddin

Terletak di Kuntu Lipat Kain, Kabupaten Kampar. Almarhum Syekh Burhanuddin adalah salah seorang penyebar Agama Islam. Tempat ini banyak dikunjungan masyarakat terutama pada hari besar Islam dan menjelang bulan Ramadhan tiba.

Taman Rekreasi Stanum

Adalah tempat rekreasi di ibukota Kabupaten Kampar, sekitar 1 Km dari pusat kota. Lokasinya berada di atas perbukitan berhawa sejuk. Kawasan ini dilengkapi fasilitas pemandian, mushola, gedung Pertemuan, motel, restoran, panggung, bioskop dan kolam renang berskala Internasional.

Rumah Asli Lontiok

Terletak di Desa Sipungguk Kecamatan Bangkinang Barat yang berusia lebih dari 100 tahun. Daya tariknya ada pada arsitektur yang mencerminkan budaya masyarakat Melayu Darat dengan perpaduan budaya Islam.

PLTA Koto Panjang

Lokasinya sekitar Candi Muara Takus di Desa Merangin, Bangkinang Barat, Kabupaten Kampar, sekitar 88 km dari Pekanbaru. Di Danau PLTA Koto Panjang, Anda dapat kita melihat pemandangan alam yang sangat indah berupa deretan bukit-bukit yang ditumbuhi pepohonan beragam. Luas areal PLTA Koto Panjang ini sekitar 12.900 Ha

Pemandian Alam Petapahan

Terletak di Desa Petapahan Kecamatan Tapung. Merupakan tempat pemandian dengan sumber mata air berasal dari alam. Terdapat jalan setapak untuk mencapai ke pemandian dan untuk menikmati keindahan alamnya. Suasana alami sangat terasa tepat untuk bersantai melepas lelah didukung ketersediaan warung, rumah makan trasdisional dan shefter yang nyaman untuk bercengkrama.

Taman Rekreasi Sekijang

Lokasi wisata ini berada di desa Sekijang di Kecamatan Tapung Hilir. Dalam  sejarahnya, tempat ini sebagai tempat persembunyian sepasang pengantin yang melakukan kawin lari. Perkawinan kawin lari merupan adat istiadat yang masih ada sampai saat ini terutama dilakukan oleh keturunan asli masyarakatnya. Daya tarik objek wisata ini juga adalah keindahan alam yang telah tertata baik.

Air Terjun Alahan

Sungai kampar memiliki banyak jeram dengan air terjun yang sangat indah untuk dinikmati atau untuk diarungi dengan menggunakan perahu khusus. Lokasi objek wisata tersebut terletak hulu sungai Kampar Kecamatan XIII Koto Kampar. Daya tarik obyek wisata ini adalah keindahan serta kesegaran udaranya. Tempat ini juga cocok untuk Anda yang memiliki jiwa petualangan dalam mengangumi keberadaan alam yang masih alami.

Modern, Riau

Pekanbaru: Kota Madani

 

Sekilas

Kota multietnik ini merupakan wilayah pelabuhan di tepi Sungai Siak dan dikenali sebagai ‘ibu kota-nya minyak bumi Indonesia’ meski kini julukan tersebut beralih menjadi Kota Madani dengan maksud sebagai kota yang berisikan masyarakat agamis dan berperadaban, berkualitas dan berkemajuan. Nyatanya memang perekonomian kota ini begitu mengeliat dari beragam sektor bisnis. Pertumbuhan kotanya terbilang lebih besar dari Palembang atau Padang padahal populasi penduduknya lebih sedikit.

Perekonomian Pekanbaru sangat dipengaruhi kehadiran perkebunan kelapa sawit, pabrik kertas dan pulp, perusahaan minyak, serta pabrik pengolahannya. Pekanbaru pun tumbuh menjadu kota modern dengan tingkat pertumbuhan infrastruktur, migrasi dan urbanisasi cukup tinggi. Menggeliat menjadi pusat bisnis dengan dinamika perekonomian dan pertumbuhan kota yang menjadi daya tarik masyarakat luar Riau untuk mengadu nasib.

Wisatawan mancanegara terutama dari negara tetangga memanfaatkan Pekanbaru sebagai persinggahan sebelum mereka menjelajahi beragam tujuan wisata lain di Pulau Sumatera. Akan tetapi, hal ini bukan berarti ‘kota bertuah’ ini tidak memiliki tujuan wisata karena sebenarnya ada banyak hal dapat Anda lakukan untuk berlibur di sini.

Nikmati berwisata di Pekanbaru dengan mengunjungi beragam jenis tujuan wisata, dari alam hingga bahari, dari budaya hingga berbelanja. Air Terjun Alahan di kecamatan XII Koto Kampar salah satunya tepat untuk menikmati sejuknya air terjun sembari mengamati fauna dan flora khas Sungai Kampar. Tujuan wisata yang lain adalah Alam Mayang, Taman Rekreasi Danau Buatan Lembah Sari, atau Kebun Binatang Kasang Kulim.

Berwisata religi tentunya tepat di sini dengan mengunjungi Masjid Agung An-Nur. Masjid ini wajib Anda disambangi karena ini selain masjid provinsi yang indah di pusat kota Pekanbaru juga menjadi ikon wisata Pekanbaru. Masjid tersebut juga merupakan peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura dimana terdapat komplek pemakaman raja-raja Siak.

Pastikan juga Anda mencicipi kenikmatan kuliner khas Pekanbaru mulai dari gulai asam patin pedas, ayam bakar, dan beragam makanan khas melayu lainnya. Di Pasar Bawah yang berlokasi di pinggir Sungai Siak dan tidak jauh dari pelabuhan, menyediakan beragam barang dari luar negeri dengan harga terjangkau.

Pekanbaru sebelumnya dikenal sebagai Senapelan dimana mulanya hanya sebuah ladang yang menjadi dusun kecil. Kemudian Dusun Senapelan itu berpindah ke tepi muara Sungai Siak. Daerah ini berkembang saat masa Raja Siak Sri Indrapura yang keempat, yaitu Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Tengku Alam) (1766-1780 M). Sejak 23 Juni 1784 M Senapelan diganti namanya menjadi Pekan Baharu dan dalam bahasa sehari-hari berikutnya sering disebut Pekanbaru.

 

Kota Pekanbaru tumbuh menjadi kota modern dengan banyak berdiri mall megah dan hotel berbintang. Hal itu seakan ingin menunjukan pesatnya pembangunan meski berpopulasi penduduk sekira 717 ribu jiwa. Beberapa mall yang ada di kota ini di antaranya, yaitu: Mal Pekanbaru, Mal Ciputra Seraya, dan Mal SKA. Sementara itu, akomodasi, yaitu: Hotel Grand Jatra, Hotel Ibis, Hotel Grand Elite, dan Hotel Aston.

 

 

Kegiatan

Adalah keliru menganggap Kota Pekanbaru tidak memiliki tujuan wisata yang menarik. Di sini Anda dapat berwisata sejarah sekaligus religi, berwisata alam, maupun wisata berbekanja.

Masjid Raya Pekanbaru dibangun abad ke-18 dimana merupakan masjid tertua di Pekanbaru sekaligus sejarah peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Di sini terdapat sumur yang menurut cerita setempat dapat menjadi lokasi membayar zakat atau nazar. Kunjungi pula makam Sultan Marhum Bukit dan Sultan Marhum Pekan sebagai pendiri kota Pekanbaru.

Masjid Agung An-Nur adalah masjid kebanggaan masyarakat Riau. Memiliki bentuk bangunan khas daerah dilengkapi menara. Temukan lokasinya di pusat kota Pekanbaru dengan taman yang indah dan luas.

Taman Rekreasi Danau Buatan Lembah Sari berlokasi di Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, jaraknya sekira 10 km dari pusat kota. Lokasinya berupa bendungan air yang dikelilingi perbukitan dengan panorama yang indah. Di sini tersedia fasilitas cottage, restoran, perahu, sepeda air, taman bermain, dan panggung hiburan.

Taman Putri Kaca Mayang di Jalan Jenderal Sudirman adalah tempat rekreasi yang lokasinya berada di jantung kota dengan fasilitas taman bermain yang banyak dikunjungi warga.

Museum Sang Nila Utama berada Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, dimana menyimpan sekira 4.000 koleksi barang seni budaya Provinsi Riau. Pada hari-hari tertentu di sini sering digelar pameran edukatif dan kultural.

 

Balai Adat Riau berlokasi di Jalan Diponegoro, memiliki bangunan dua lantai berasitektur khas Riau yang melambangkan kebesaran budaya Melayu. Perhatikan ukiran motif dan warna dari bangunan ini yang cantik dan mencirikan budaya khas Melayu. Untuk melengkapi cerita dan pengetahuna berkaitan Riau maka kunjungi saja Museum Negeri Riau dan Taman Budaya Riau di Jalan Sudirman.

Anda yang hobi memancing maka dapat mengunjungi Alam Mayang di Jalan H. Imam Munandar, Kecamatan Bukit Raya. Ada tiga buah kolam dengan luas keseluruhan 18.560 m² dengan ikan buruan adalah gurame, lemak, nila, dan sepat siam.

 

Berkeliling

Kota Pekanbaru dibelah Sungai Siak yang mengalir dari barat ke timur sekaligus menjadi jalur perhubungan lalu lintas perekonomian rakyat pedalaman ke Kota Pekanbaru dan daerah lainnya. Jadi, mengapa tidak merasakan berkeliling di sekitar sungainya dengan perahu.

Untuk berkeliling di Pekanbaru, Anda dapat menaiki Trans Metro Pekanbaru. Bus dalam kota ini mirip seperti busway di Jakarta namun tidak memiliki jalur khusus. Bus ini cukup nyaman dengan fasilitas AC dengan kursi dan kabin yang besar. Kenali bus ini yang berwarna kuning biru. Bus ini juga rencananya termasuk moda yang akan mendukung event PON 2012 di Riau nanti.

 

Akomodasi

Ada banyak akomodasi beragam jenis tersedia di Pekanbaru, Anda tinggal memilihnya sesuai kebutuhan. Berikut ini beberapa di antaranya.

Jl. Dr. Sutomo No. 86, Pekanbaru

Telp : 0761-36233

Fax : 0761-38906

New Resty Menara

Jl. Sisingamangraja 102, Pekanbaru

Telp : 0761-32300, 32303

Fax : 0761-32303, 34555

Sri Indriyani Hotel

Jl. Dr. Sam Ratulangi No. 02, Pekanbaru 28151

Telp : 0761-35600

Fax : 0761-31870

Unigraha Hotel

Komp. PT. Riau Andalan Pulp & Paper, Pangkalan Kerinci

Telp : 0761-95555, 95666

Rindu Sempadan Hotel

Jl. Raya Minas Km. 23, Pekanbaru

Telp : 0761-29017

Fax : 0761-29016

Asean Baru Hotel

Jl. Tuanku Tembusai No. 88, Pekanbaru

Telp : 0761-571302

Asean Hotel

Jl. Jend. Sudirman No. 722

Telp : 0761-23677

Email :  aseanhotel@yahoo.com

Bumi Asih Hotel

Jl. Jend. Sudirman Ho. 51 A, Pekanbaru

Telp : 0761-21265

Fax : 0761-21337

Makmur Haya Hotel

Jl. Riau No. 10-14, Pekanbaru

Telp : 0761-36142

Fax : 0761-23203

Permai Hotel

Jl. Tanjung Permai No. 87, Pekanbaru 28144

Telp : 0761-33372

Fax  : 0761-33211

Resti Menara Hotel

Jl. Sisingamangraja No. 09, Pekanbaru

Telp : 0761-36142

Fax : 0761-32303

Rauda Hotel

Jl. Tangkuban Perahu No. 04, Pekanbaru

Telp : 0761-33372

Fax : 0761-33211

Tasia Ratu Hotel

Jl. KH. Hasyim Ashari No. 10

Telp : 0761-849416, 854117

 

Lihat pula tautan berikut untuk informasi hotel yang menyediakan layanan website.

 

Kuliner

Wajiblah kiranya Anda menikmati wisata jajanan makanan malam hari di  Jalan Jenderal Sudirman tepatnya di Bandar serai purna MTQ. Di sini tersedia jagung bakar dan es kolding khas kota Pekanbaru. Warga pekan baru biasanya memadati lokasi ini pada  malam Minggu sambil bercengkrama menikmati jagung bakar.

Pondok Durian di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, adalah lokasi dimana Anda dapat menikmati buah durian yang lezat dan ada sepanjang waktu tanpa harus menunggu musimnya. Santaplah durian lezat ini bersamaan dengan ketan lemang.

 

Bandar Serai atau Bandar Seni Raja Ali Haji di Jalan Jenderal Sudirman selain sebagai tempat berolah raga, juga menjadi lokasi tepat untuk menyantap aneka masakan dan makanan ringan khas Riau.

 

Temukan beragam masakan melayu, masakan padang, masakan jawa, masakan sunda, atau masakan China, di beberapa titik kota di Pekanbaru berikut ini.

Jl. Jend. Sudirman 405-408

Telp.0761-44508, 84980

Pondok Ayam Goreng Pak Abbas

Jl. Arengka II

Telp. 081365795367

RM Khas Melayu

Jl. Jend. Sudirman  (arah ke Bandara SSK II)

  1. Surya Kampar

Jl. Teratak Buluh

RM Pondok Gurami Bakar Lubuk Idai

Jl. Taman Labuai Samping Bandar Serai

Telp. 08127559630

  1. Pondok Asam Pedas Baung

Jl. Jend. Sudirman-Pekanbaru

Telp. 0761-44750

  1. Pondok Gurih

Jl. Jend. Sudirman No. 202

Telp. 0761-27069-40323

Jakarta Mie Ayam

Jl. Kaharuddin Nasution 142 Pekanbaru

Telp. +62-761-674884

Plasa Soto Nusantara

Jl. Jend Sudirman 419 -Pekanbaru

Telp. +62-0761-35699

Ayam Goreng Tulang Lunak Hayam Wuruk

Jl. Ahmad Yani 122 A-B Pekanbaru

Telp. 0761-859899

Ikan Bakar Bang Zul

Jl. Setia Budi 89 (belakang Hotel Angkasa)

Belanja

Kunjungi Dekranasda Pekanbaru dimana di sini dijual beragam kerajinan khas Riau. Temukan karya cantik kain songket, anyaman, dan baju adat khas Riau, serta beragam hasil keterampilan tangan lainnya.

Pasar Bawah atau Pasar Wisata di Jalan Ahmad Yani menyediakan berbagai macam barang yang dapat menjadi cenderamata seperti pakaian, keramik, serta asesoris berkualitas.

Jangan lewatkan juga untuk datang ke Khadijah Bolu  yang khusus menjual oleh-oleh khas Riau. Wisatawan yang datang ke sini umumya membeli bolu kemojo, lempuk durian, keripik nenas, dan kudapan nikmat lainya khas Riau.

 

Apabila pilihan Anda adalah mengunjungi pusat perbelanjaan modern maka dapat mengunjungi beberapa mall di kota ini. Di antaranya adalah Mall Pekanbaru, Mall SKA, Ramayana, Plaza Senapelan. Ada pula Mall Ciputra Seraya di Jl. Riau dimana merupakan pusat perbelanjaan dan permainan terlengkap.

 

Transportasi

Untuk menuju Kota Pekanbaru manfaatkan Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II sebagai pintu masuk dari jalur udaranya. Bandara ini juga merupakan yang tersibuk kedua di Pulau Sumatera setelah Bandara Polonia di Medan.

Pekanbaru dihubungkan jaringan jalan yang tersambung dari arah Padang di sebelah barat, Medan di sebelah utara, dan Jambi di sebelah selatan. Anda dapat pula mencapai kota ini melalui darat ke terminal antarkota dan antarprovinsi di Terminal Bandar Raya Payung Sekaki yang merupakan terminal terbaik di Sumatera bahkan terbersih di Indonesia.

Ada dua pelabuhan Pekanbaru yaitu Pelabuhan Pelita Pantai dan Pelabuhan Sungai Duku. Pelabuhan Pekanbaru terletak di tepi Sungai Siak dan berjarak 96 mil ke muara sungai, menjadi sarana transportasi untuk komoditi ekspor seperti kelapa sawit. Selain itu, pelabuhan ini juga menghubungkan Pekanbaru dengan kota-kota di Kepulauan Riau, seperti Batam dan Tanjung Pinang.

 

 

Alam, Riau

Taman Nasional Zambrud: Keindahan Danau Air Hitam dan Kemegahan Hutan Rawa di Siak

 

Sekilas

Berlokasi di Desa Zambrud, Kecamatan Siak Indrapura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, kawasan Taman Nasional Zambrud menyuguhkan keindahan yang seakan representasi keelokan batu zamrud yang banyak digemari itu. Danau dan hutan rawanya begitu asri dan alami meskipun airnya berwarna hitam jernih. Di sinilah alam dibentangkan dengan cantiknya tanpa banyak terjamah, liar sekaligus menentramkan batin.

Airnya berwarna hitam diselimuti hutan rawa akan menyuguhkan pada Anda nuansa alam mengagumkan. Pastikan menyaksikan keindahan air danau ini yang berwarna hijau pekat layaknya zamrud saat sinar Matahari senja terbenam.

Taman Nasional Zambrud merupakan sebuah kawasan dimana ada dua danau yang berdampingan yaitu Danau Pulau Besar (2.416 ha) dan Danau Bawah (360 ha). Kedua danau ini memiliki air berwarna hitam dan menjadi rumah beragam fauna dan flora langka.

Di Danau Pulau Besar terdapat empat pulau, yakni Pulau Besar (10 hektar), Pulau Tengah (1 hektar), Pulau Bungsu (1 hektar) dan Pulau Beruk (2 hektar). Sejak 25 November 1980, kawasan seluas 28.237,95 hektar itu ditetapkan sebagai kawasan suaka margasatwa (KSM). Baru sejak Agustus 2007 Suaka Margasatwa ini diresmikan presiden menjadi Taman Nasional (TN) Zamrud dengan luas lebih dari 30.129 hektare. Kawasan ini berupa hutan rawa primer di atas lahan gambut dengan ketinggian 100-200 meter dari permukaan air laut. Lapisan tanahnya berupa cekungan raksasa dimana air yang berasal dari daerah sekitarnya akan tertampung di danau ini.

Fauna yang dilindungi di kawasan ini adalah harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis), harimau dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus), dan napu (Tragulus napu). Jenis primata yang dilindungi diantaranya adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina), dan kokah (Presbytis melalophos).  Ada juga reptil yang dilindungi seperti buaya sinyulong (Tomistoma Schlegelii) dan buaya muara (Crocodylus porosus).

Di kawasan ini juga hidup 38 jenis burung dimana 12 diantaranya dilindungi termasuk bangau putih, enggang palung, enggang benguk, enggang dua warna, dan enggang ekor hitam. Ada pula burung Serindit (Loriculus galgulus) yang menjadi ikon Provinsi Riau.

Di dalam danaunya sendiri hidup 14 jenis ikan dimana 8 di antaranya memiliki nilai ekonomi penting bagi nelayan setempat yaitu sipimping, selais, kayangan, tapah, baung, tomang, balido, gabus, lele, silais, buju, patin, dan gelang.

Kawasan Danau zamrud didominasi tumbuhan rawa seperti bengku, rengas dan pisang-pisangan. Ada pula vegetasi langka jenis pinang merah yang berbeda dengan tanaman hias pinang merah lainnya karena warnanya lebih cerah dan tumbuhan tersebut tidak dapat tumbuh di daerah lain.

Taman Nasional Zambrud akan terus diperluas untuk melindungi kawasan dan zona pemanfaatannya. Termasuk juga membangun sarana prasarana laboratorium alam dan wisata terbatas. Rencananya Pemerintah Kabupaten Siak akan melengkapinya dengan cable car untuk membawa wisatawan berkeliling kawasan hutan dan danau.

 

Kegiatan

Berbagai keunikan di Taman Nasional Zambrud merupakan objek yang menarik untuk diteliti dari berbagai disiplin ilmu sekaligus dapat digunakan pula sebagai wahana pendidikan.

Keliaran dan kemegahan alam Taman Nasional Zambrud akan menjadi surga bagi Anda pecinta wisata alam. Di sini juga tersaji banyak lokasi dan tentunya fauna untuk diabadikan fotografer.

Saat Matahari terbenam maka itulah waktu dimana hewan-hewan penghuni Taman Nasional Zambrud keluar. Ada burung elang terbang dari pohon ke pohon, sekawanan kera yang bertengger di pohon. Pemandangan di sepanjang Sungai Rawa begitu mengagumkan dikelilingi hutan lebat. Di Sungai Rawa  juga akan Anda temukan ampang-ampang untuk perangkap ikan di tengah sungai yang dipasang nelayan setempat.

 

 

Berkeliling

Anda dapat memanfaatkan jasa pemandu dari warga setempat sekaligus untuk menyewa perahu pompong untuk melintasi dan berkeliling danau. Susurilah Sungai Rawa sepanjang 36 kilometer yang berbelok-belok dan menyempit untuk mengamati kekayaan flora dan fauna taman nasional luar biasa ini.

 

 

Akomodasi

Beberapa akomodasi yang  dapat Anda pilih ada di Siak, berikut ini di antaranya.

Hotel Istana Tujuh

Jl. Raya Perawang km.6

Telp.  +62 761 92859|+62 761 92168

Hotel Perawang Makmur

Jl. Raya Perawang km. 5,5 Tualang

Telp. +62 761 91037

 

 

Kuliner

Karena di kawasan ini merupakan wilayah taman nasional yang dilindungi maka tentunya tempat untuk Anda mencicipi kuliner khas Siak adalah di kotanya. Oleh karena itu, sempatkan waktu berkeliling di kota tersebut.

 

 

Transportasi

Untuk menuju Danau Zambrud maka Anda dapat menempuh perjalanan sekira 180 km atau sekitar 3 jam dari ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru. Anda dapat memanfaatkan kendaraan umum seperti bus dari terminal kota atau menyewa kendaraan.

Begitu memasuki kawasan penyangga sekitar 35 kilometer dari kawasan inti maka Anda diharuskan melapor kepada Badan Operasi Bersama (BOB) Coastal Plain Pekanbaru (CPP) Sumatera Basin, untuk masuk ke lokasi tersebut. BOB CPP Sumatera Basin merupakan perusahaan konsorsium PT Bumi Siak Pusako dengan PT Pertamina Hulu yang mengeksplorasi kandungan minyak di kawasan Danau Zamrud.

 

 

Tips

Kawawan Danau Zamrud adalah taman nasional yang dilindungi sehingga terbilang tertutup untuk umum. Tidak ada yang bisa menjamin perubahan status kawasan tidak akan menimbulkan kerusakan lingkungan. Anda yang datang ke sini dapat dikatakan adalah pecinta alam atau peneliti. Oleh karena itu, pastikan perizinan terpenuhi dan Anda turut berperan melindungi keberadaan kawasan ini dengan tidak melakukan hal-hal yang bersifat merusak harmonisasi alam

 

Anda yang beminat memancing di danaunya hanya diperbolehkan menggunakan jaring kecil atau pancing.

Modern, Riau

Siak: Mengunjungi Negeri Istana Warisan Kesultanan Siak Sri Indrapura

 

Sekilas

Siak adalah sebuah kabupaten di Provinsi Riau yang dulunya merupakan pusat kesultanan Islam terbesar di Riau yaitu Siak Sri Indrapura. Warisan kebesarannya pun hingga kini masih nampak di berbagai sudut kota. Sejarahnya yang panjang telah meninggalkan warisan peradaban Melayu yang mengagumkan dan pantas dibanggakan Indonesia.

 

Siak semakin banyak diminati wisatawan mengingat di sini berdiam banyak sisa bangunan bersejarah sisa dari Kesultanan Siak Sri Indrapura hingga bangunan peninggalan Hindia Belanda. Beberapa yang sering dikunjungi wisatawan adalah Istana Siak, Masjid Sultan, Makam Marhum Buantan, Balai Kerapatan Tinggi, Wisata Bahari Danau Pulau Besar, Wisata Sungai dan Wisata Agro, Taman Hutan Raya Sultan Syarif Qasyim, Monumen Pompa Angguk, Bangunan Peninggalan Belanda, dan Kapal Kato. Dengan beragam peninggalan tersebut membuat Kota Siak menjadi salah satu lokasi wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan.

 

Kesultanan Siak Sri Indrapura didirikan pada 1723 M oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, yaitu putra Raja Johor Sultan Mahmud Syah. Kesultanan Melayu Islam yang terbesar di Riau ini mengalami masa kejayaan pada abad ke-16 hingga abad ke-20. Kesultanan ini memiliki hubungan erat dengan kerajaan Malaka dan Johor-Riau. Kini pun seakan tidak lepas dari sejarahnya, Kabupaten Siak masuk dalam wilayah segitiga pertumbuhan (growth triangle) Indonesia – Malaysia – Singapura.

 

Sungai Siak yang membelah wilayah Kabupaten Siak merupakan sungai terdalam di Indonesia dan berfungsi sebagai sarana transportasi dan perhubungan. Selain Sungai Siak ada juga sungai lainnya di Siak, yaitu: Sungai Mandau, Sungai Gasib, Sungai Apit, Sungai Tengah, Sungai Rawa, Sungai Buantan, Sungai Limau, dan Sungai Bayam. Ada pula beberapa danau, yaitu: Danau Ketialau, Danau Air Hitam, Danau Besi, Danau Tembatu Sonsang, Danau Pulau Besar, Danau Zamrud, Danau Pulau Bawah, Danau Pulau Atas dan Tasik Rawa.

 

Ada beragam makna dari kata siak, sebagian mengatakan itu berasal dari nama tumbuhan yang banyak terdapat di daerah ini yaitu yaitu siak-siak. Kata Siak Sri Inderapura dalam bahasa Sanskerta berasal dari kata sri (bercahaya), indra (raja), dan pura (kota atau kerajaan), secara harfiah bermakna pusat kota raja yang taat beragama. Dalam anggapan masyarakat Melayu bahwa kata siak berarti sangat bertali erat dengan agama Islam, yaitu orang siak adalah orang yang ahli agama Islam, jadi apabila seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai orang siak.

 

Kabupaten Siak awalnya merupakan wilayah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Berikutnya, tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibu kota Siak Sri Indrapura. Kabupaten Siak dikenal sebagai penghasil minyak bumi dengan standard terbaik di Indonesia. Tambang Minyak Bumi ini berada di Kecamatan Siak, Sungai Apit dan Minas yang dikelola oleh PT. Chevron dan PT. Kondur Petroleum SA.

 

Kota Siak memiliki nuansa yang tenang, bersih, dan ramah masyarakatnya. Salah satu icon terbaru kota ini adalah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Keberadaannya selain sebagai sarana transportasi juga menjadi tujuan wisata di daerah ini.

 

 

Kegiatan

Luangkan juga waktu lebih banyak untuk menelusuri sisa kejayaan Kesultanan Siak dengan mengunjungi beberapa bangunan bersejarah di kota ini.

 

Istana Siak memliki luas 32.000 m² adalah tujuan wisata yang wajib Anda sambangi. Dibangun Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin tahun 1889. Nama lain istana ini adalah Assirayatul Hasyimiah. Pemandangan dari depannya begitu cantik dengan taman tertata rapi di halaman depan serta dihiasi meriam di sisi kiri dan kanannya. Pintu gerbang dan pilarnya dihiasi burung elang yang menjadi simbol Kerajaan Siak. Bangunan istana seluas 1000 m² tersebut terdiri dari dua lantai. Lantai pertama berisi barang-barang peninggalan kerajaan, diantaranya adalah: kursi singgasana kerajaan berbalut emas, duplikat mahkota kerajaan, brankas kerajaan, payung kerajaan, tombak kerajaan, sebuah merupakan instrumen musik berbentuk gramofon raksasa (disebut komet) buatan Jerman abad VIII  yang menjadi barang langka dan hanya ada dua di dunia.  Lantai kedua terdapat kamar sultan, kamar tamu dan barang-barang pribadi milik sultan. Temukan di bagian belakang istana sebuah benteng pengawal istana dan sumur berusia ratusan tahun, juga sebuah perahu kerajaan yang dahulu digunakan sultan. Di arah timur istana ada kompleks makam raja-raja Siak dengan arsitektur seperti masjid. Di sisi kiri makam terdapat masjid dan di belakangnya terdapat taman kecil yang langsung berbatasan dengan Sungai Siak.

 

Jembatan Siak atau nama lainnya Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah adalah salah satu yang paling ramai dikunjungi pendatang dan masyarakat sekitar. Di atas jembatan tersebut ada dua menara setinggi 80 meter dilengkapi dua buah lift untuk menuju puncaknya. Jembatan sepanjang 1.196 meter dan lebar 16,95 meter ini mengapit sisi kanan dan kiri jembatan. Ketinggian jembatan mencapai 23 meter di atas permukaan Sungai Siak. Diresmikan pada 2007 oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan akan terus dikembangkan dengan sebuah restoran sehingga wisatawan dapat menyantap hidangan sambil memandang keindahan panorama Kota Siak.

 

Kapal Kato adalah kapal besi dengan bahan bakar batu bara milik sultan Siak yang terletak di pinggir Sungai Siak dan menjadi monumen bersejarah. Kapal ini memiliki ukuran panjang 12 m dengan berat 15 ton dan dahulu digunakan untuk berkunjung ke daerah-daerah kekuasaannya.

 

Masjid Sultan, atau Masjid Raya Siak berada sekira 500 m di depan Istana Siak. Bangunannya khas dan unik dan memiliki sebuah mimbar kayu berukir indah bermotifkan daun, sulur dan bunga. Di sini ada pula makam Sultan Syarif Kasim beserta permaisuri dan istrinya yang ramai diziarahi.

 

Wisata Bahari Danau Pulau Besar atau dikenal kini menjadi Taman Nasional Zambrud berada di Desa Zamrud. Tempat ini memiliki dua danau yaitu Danau Bawah dan Danau Pulau Besar dimana panoramanya sangat mengagumkan dengan hutan rawan yang masih asli. Keanekaragaman flora dan fauna di kawasan ini merupakan kekayaan tersendiri di Riau.

 

Monumen Pompa Angguk berada di Minas yang terkenal sebagai penghasil minyak bumi dengan standard terbaik dunia dan daerah pengeboran minyak pertama di Riau. Pompa minyak pertamanya yang bermerk Lufkin itu kini menjadi monumen sejarah perminyakan di Provinsi Riau.

 

Kompleks Makam Koto Tinggi berada di sebelah timur Istana Siak. Tempat ini merupakan kompleks makam dari Sultan Syarif Hasyim beserta keluarga dan kerabat kerajaan. Perhatikan dengan seksama makam berukuran 15 x 15 m² ini memiliki nisan dengan ukiran rumit namun indah terbuat dari kayu dan marmer.

 

Wisata Sungai dan Wisata Agro berada di kawasan sepanjang Sungai Siak dan Sungai Mempura. Di sini Anda dapat menikmati wisata sungai dengan menggunakan transportasi berupa sampan sembari melihat deretan pohon sawit tertata rapi.

 

Benteng dan Barak Militer Belanda berada di tepi Sungai Siak tepat berhadapan dengan Istana Siak. Susurilah sisa bangunan komplek yang memegang peran penting saat masa kolonial Hindia Belanda.

 

 

Berkeliling

Di Kota Siak, Anda dapat berjalan kaki sekitar Istana Siak. Apabila Anda ingin menikmati suasana Kota Siak dengan berkeliling secara nyaman dan santai maka manfaatkan becak dengan ongkos sekira Rp20.000,- per orang.

 

 

Akomodasi

Ada beberapa akomodasi yang dapat menjadi pilihan Anda saat menyambangi Kota Siak. Berikut ini referensinya untuk Anda .

 

Hotel Rindu Sempadan

Jl. Raya Minas Kec. Minas

Telp. 0761 29017

 

Wisma Tuah

Jl. Suak Lanjut – Siak Sri Indrapura

 

Hotel Winaria

Jl. Sutomo – Siak Sri Indrapura

 

Hotel Yasmin

Jl. Indragiri Kp. Rempak – Siak Sri Indrapura

 

Wisma Permata

Jl. Gajah Mada

 

Hotel Mutiara

Jl. Raya Pekanbaru – Dumai

 

Hotel Istana Tujuh

Km. 6 Perawang – Tualang

 

Pilihan akomodasi yang lainnya silakan buka tautan berikut.

 

Kuliner

Di tepi Sungai Siak tidak jauh dari Istana Siak, mulai sore hari hingga malamnya, ada banyak penjaja makanan seperti jagung bakar, es kelapa muda, dan aneka makanan laut. Anda dapat berduduk santai sambil bercengkrama menikmati keindahan pemandangan Matahari terbenam dan gemerlap lampu Jembatan Siak.

 

Tidak jauh dari Istana Siak, banyak terdapat warung makan yang menyajikan Udang Galah Goreng sebagai salah satu ikon makanan khas Siak. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) adalah jenis udang air tawar yang berukuran cukup besar dan menjadi kuliner yang patut Anda cicipi.

 

Temukan beberapa tempat menarik untuk pilihan kuliner di Siak, seperti berikut ini.

 

Ocky’s Resto Café

Jl. Hang Tuah (Depan Gedung LAM)

 

Selera Setia Raja

Jl. Hang Tuah (Depan Gedung LAM)

 

Restoran Lancang Kuningestoran Lanc

Jl. Pemda – Sei. Mempura

 

Rm. Simpang Raya

Jl. Perawang – Tualang

 

 

Belanja

Kerajinan tangan yang terkenal dari Siak sejak dahulu adalah tenunan siak. Kain tersebut awalnya dikenal di lingkungan istana saja. Tenunan ini dibuat  menggunakan benang katun atau benang sutera bermotif pucuk rebung, siku keluang, tampuk manggis, dan lain-lain. Tenunan Siak pastinya menjadi cenderamata spesial karena diminati kolektor dan pelancong yang datang ke Siak. Harganya bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Temukan tempat asli kain tenun ini di Kecamatan Bukit Batu.

 

Kabupaten Siak adalah salah satu penghasil salak karena memiliki perkebunan seluas 40 hektare di Kecamatan Dayun,  65 Km dari Kota Siak. Di Siak Anda dapat membeli salak dengan rasa manis dan tak kalah dengan salak bali atau salak pondoh. Jika berkunjung ke Kabupaten Siak, jangan lupa untuk menyempatkan diri mencicipi Salak Siak.

 

Bolu kemojo adalah makanan khas Siak yang dapat menjadi pilihan oleh-oleh atau sekadar dicicipi kenikmatannya. Warna kue bolu ini hijau coklat terbuat dari tepung terigu dan pandan sebagai pewarnanya. Biasanya kue ini disajikan saat hajatan atau hari raya.

 

 

Transportasi

Untuk mengunjungi Siak, Anda disarankan membawa kendaraan pribadi atau menyewanya karena jaraknya cukup jauh. Tersedia tiga jalur perjalanan untuk menuju Siak dari Pekanbaru. Pertama, Pekanbaru-Pangkalan Kerinci-Siak, dengan lama perjalanan sekira 2-3 jam. Kedua, jalur Pekanbaru-Rumbai-Minas-Perawang-lalu menyeberang menggunakan ferry. Ketiga, dari Pekanbaru menyusuri Sungai Siak, namun kondisi jalan di jalur ini masih tanah dan biasanya dilalui oleh kendaraan berat.

 

Kendaraan umum tercepat untuk sampai ke kota Siak Sri Indrapura adalah menggunakan speedboat yang setiap harinya beroperasi mulai pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB. Operator pelayaran yang tersedia adalah Siak Wisata Express Speedboat, Paris Express Speedboat dan Siak Gemilang Speedboat. Tiket sekali jalan sekira Rp100.000/orang. Tiket dibeli di terminal Speedboat Pelabuhan Sungai Duku Pekanbaru.

 

 

Tips

Saat Anda berkunjung ke makam raja di Istana Siak maka khusus untuk pengunjung wanita wajib mengenakan kerundung dan tidak diperbolehkan masuk ke kompleks jika sedang haid.

 

Budaya, Riau

Pengantin Sahur: Tradisi Menarik saat Ramadhan di Riau

Sebuah tradisi unik dan menarik hadir pada malam bulan Ramadhan di Riau. Dalam tradisi ini Anda akan menyaksikan keramaian penuh suka cita dimana pengantin ditopang di atas gerobak atau kuda kemudian diarak berkeliling desa sambil menyanyikan lagu Islami dengan pengeras suara, musik, dan penerangan.

Tradisi membangunkan warga untuk sahur saat Ramadhan adalah hal biasa di banyak daerah di Nusantara tetapi apa yang dipertahankan di Riau adalah bentuk yang lebih menarik. Arak-arakan menampilkan pengantin layaknya sungguhan tetapi yang menjadi pengantin keduanya adalah pria dan salah satunya dirias bak pengantin perempuan lengkap dengan baju pengantin sungguhan. Biasanya pengantin yang diarak sejumlah tiga pasang menggunakan gerobak kemudian berkeliling kampung. Di beberapa tempat di Riau kadang arak-arakan ini menggunakan kuda.

Arak-arakan pengantin sahur akan membangunkan warga dari pukul 01.30 hingga pukul 03.00 atau hingga sahur tiba. Warga yang terbangun karena keramian ini tak jarang selanjutnya turut berkeliling meramaikan arak-arakan ini.

Tradisi arak-arakan pengantin sahur di Riau sudah dimulai sejak puluhan tahun lalu dan bahkan dulu digelar hampir tiap malam selama Ramadan. Akan tetapi, kini biasanya hanya dilakukan pada Minggu malam saja. Untuk mempertahankan tradisi itu kadang juga digelar lomba arak-arakan pengantin sahur dimana penilaian ditentukan berdasarkan jumlah peserta, jumlah rombongan, dan keunikan dari atraksi yang ditampilkan.

Saat Anda bermalam di Riau di bulan Ramadhan maka pastinya terbangun dengan kegaduhan ini. Mengapa tidak bergabung saja untuk untuk mendapatkan pengalaman penuh kesan di sini. Beberapa daerah di Riau yang terkenal menggelar tradisi tersebut ada di Pulau Palas, Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Modern, Riau

Indragiri Hilir: Berwisata di Negeri Seribu Jembatan

Sekilas

Indragiri Hilir adalah sebuah kabupaten di selatan Provinsi Riau dengan ibu kotanya Tembilahan. Kabupaten ini lokasinya ada di pesisir timur Pulau Sumatera sekaligus menjadi pintu gerbang selatan dari Provinsi Riau. Wilayah Indragiri Hilir merupakan dataran rendah berupa rawa (gambut) yang memanjang dari barat laut ke tenggara dan selatan.

Indragiri Hilir dikenal memiliki perkebunan kelapa terluas di Indonesia bahkan mungkin di dunia dengan julukan “Lahan Kelapa Dunia“. Dapat dikatakan kabupaten ini berperan sebagai lumbung kelapa di Provinsi Riau bahkan di Indonesia.

Selain perkebunan kelapa yang terbentang luas, menariknya daerah ini juga memiliki perairan, sungai, dan rawa yang dipisahkan oleh ribuan parit sehingga dijuluki “Negeri Seribu Parit“. Ada pula yang menggelarinya”Negeri Seribu Jembatan“, itu karena akan Anda temui jembatan besar dan kecil setiap kurang dari 100 meter perjalanan.

Ada banyak hal dapat Anda lakukan selama berwisata di Indragiri Hilir mengingat letaknya berdekatan dengan pusat pengembangan pariwisata nasional yaitu, Pulau Batam, Pulau Bintan, Tanjung Pinang, Tanjung Balai Karimun serta Tanjung Batu Kundur. Selain itu, Indragiri Hilir juga menjadi wilayah strategis bagi aktivitas ekspor lintas batas negara karena bertetangga dengan Singapura dan Malaysia. Kabupaten ini didukung empat pelabuhan laut, yaitu: Pelabuhan Kuala Enok, Pelabuhan Kuala Gaung, Pelabuhan Sungai Guntung, dan Palabuhan Parit 21 Tembilahan.

 

Upacara Semah Kampung menjadi sebuah atraksi budaya tradisional yang meenarik digelar setiap tahun oleh warga nelayan di Kampung Pelanduk. Menggelar sesaji tanda terima kasih kepada Tuhan atas kekayaan laut yang selalu mencukupi kebutuhan hidup mereka. Upacara ini lekat dengan corak budaya Melayu dengan nilai religi Islami.

 

Kegiatan

Nikmatilah apa yang disajikan dari Kabupaten Indragiri Hilir mulai dari wisata bahari, wisata alam, wisata sejarah, hingga wisata religi.

Bukit Berbunga adalah lokasi camping ground  yang diselimuti kabut dan panorama alam dan pedesaan yang memikat. Tempat ini tepat untuk Anda yang berminat melakukan pejelajahan hutan dan mengamati beraneka ragam bunga dengan beragam warna dan aroma. Lokasinya berada di selatan Desa Batu Ampar, 4 km dari Selensen, ibu kota Kecamatan Kemuning. Untuk menuju ke sini Anda perlu melalui kaki bukit dengan menyeberangi 2 sungai kecil.

Air Terjun 86 mempunyai ketinggian 50 meter, nama 86 berasal dari yang terletak di kilometer 86 Jalan Raya Lintas Timur Sumatera. Untuk menuju lokasinya maka Anda perlu melalui perjalanan sejauh 14 km melewati jalan tanah dengan mengendarai sepeda motor atau jeep.

 

Bukit Api Panjang merupakan puncak bukit setinggi 60 meter dimana Anda dapat melihat rangkaian pulau yang tersebar di Provinsi Kepulauan Riau. Di hutannya terdapat beragam flora langka dalam jumlah besar seperti nibung (Oncosperma tigilarium) atau pohon palma liar.

 

Pantai Tertitip yang berpasir putih hanya berjarak 5 menit dari pelabuhan Sungai Guntung dengan perahu (pompong). Di lokasi ini terus dikembangkan menjadi kawasan wisata tirta dimana wisatawan dapat melakukan berbagai aktivitas rekreasi, hiburan, dan olah raga air.

 

Pulau Burung atau Pulau Berkanal memiliki keindahan alam berupa perkebunan, kelapa, nenas, tambak ikan dan udang. Nikmati berkeliling kanal memakai perahu (pompong) sembari mencicipi makanan dan minuman yang merupakan hasil perkebunan. Tempat ini dapat dicapai sekira 20 menit dari ibu kota Kecamatan Pulau Burung dengan menggunakan speed boat atau apabila dari arah kota Tanjung Batu di Kepulauan Riau  memakan waktu 15 menit.

 

Pantai Solop berada di jalur pelayaran Tembilahan-Pulau Batam. Keindahan pantai ini cukup menawan dengan keasrian alamnya terutama keunikan berupa kawasan lumpur berpasir putih dari kulit kerang-kerangan yang dibawa ombak ke daratan pantai.

 

Danau Tagaraja ini bernama Kolam Raja sebagai tempat pemandian dan sumber air bersih dari Kerajaan Kateman. Areanya sekira 100 hektar dan terus dikembangkan sebagai sumber penyediaan air bersih dan kawasan wisata dengan tempat wisata air dan resort. Lokasinya sekira 4 km dari kota Sungai Guntung yang dapat ditempuh dengan memakai sepeda motor pribadi atau menumpang ojek.

 

Di Desa Selensen dapat Anda nikmati pemandangan dari sebuah shelter dengan panorama berupa bangunan rumah tradisional melayu dinamakan Pesanggrahan.

 

Di Kecamatan Kemuning ada tujuan wisata menarik untuk dikunjungi seperti Air Terjun Tembulun Rusa, Air Terjun Selensen Salak, Goa Batu Leman, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, atau berarung jeram di Sungai Ngibul.

 

Makam Syech Abdurrachman Siddiq Al-Banjari, di Hidayat, tidak jauh dari Sapat, Kecamatan Kuala Indragiri termasuk yang banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Ulama besar kharismatik tersebut dikenal sebagai sastrawan Islam yang handal dimana salah satu syair karyanya yaitu “Kabar Hari Kiamat” sering dipakai sebagai media dakwah hingga saat ini.

Selain wisata religi, Kecamatan Kuindra menyuguhkan obyek wisata berupa atraksi budaya suku laut. Anda dapat mengamati aktivitas nelayan setempat dengan sepotong papan meluncur di permukaan lumpur sambil mengumpulkan kerang. Selain itu, ada juga Concong Luar yang terkenal di kalangan masyarakat Tionghoa asal Singapura dan Malaysia sebagai tempat perayaan Cap Go.

 

Beberapa tujuan wisata sejarah di Indragiri Hilir antara lain adalah Makam dan Benteng Panglima (Pemimpin Tertinggi) Tengku Sulung, Makam Kudus di Kota Baru dan Rumah Kuning warisan Belanda di Desa Tanjung.

 

 

Berkeliling

Untuk berkeliling di sini maka transportasi yang banyak dimanfaatkan adalah memanfaatkan sungai. Sungai dianggap masyarakat setempat sebagai sarana yang paling efektif, murah dan cepat untuk menghubungkan daerah yang satu dengan lainnya.

 

Di kota Tembilahan akan Anda temukan bangunan besar bertingkat berupa ruko berjejer di jalan-jalan utamanya. Nyatanya bangunan tersebut berfungsi untuk sarang burung wallet. Suasananya pun akan Anda dengar kicau burung wallet mendominasi.

 

 

Akomodasi

Di Tembilahan, ibu kota Indragiri Hilir terdapat berbagi akomodasi berupa hotel maupun wisma. Berikut ini beberap referensinya.

Hotel Inhil Pratama

Jl.Guru Hasan 88, Tembilahan

Telp : 0768-21105

Hotel Arrahman

Jl.Diponegoro 8A, Tembilahan

Telp : 0768-23061

Hotel Arrahman II

Jl.Suntung Ardi, Tembilahan

Telp : 0768- 22189

Hotel Gemilang Plaza

Jl. Jend.Sudirman, Tembilahan

Penginapan Terusan Mas

Jl. Jend.Sudirman, Tembilahan

Telp : 0768-21062

Wisma Indah Sari

Jl.M.Boya 29, Tembilahan

Telp : 0768-21051

Wisma Kencana 1

Jl.M.Boya 1, Tembilahan

Telp : 0768-21032

Wisma Andireng

Jl.Telaga biru 7, Tembilahan

Telp: 0768-21494

Wisma Sriwijaya

Jl.Baharuddin Yusuf 82, Tembilahan

Telp : 0768-23208

Wisma Kemuning Muda

Jl. Diponegoro 34, Tembilahan

Telp : 0768-21228

Wisma Akbar

Jl. Diponegoro 1, Tembilahan

Telp : 0768-21722

Penginapan Kurnia Jaya

Jl. Diponegoro, Tembilahan

Telp : +62-768-21387

Wisma Kartika Indra

Jl . Diponegoro 20, Tembilahan

Telp : 0768-21167

Wisma Kencana II

Jl . Kapt. Mukhtar 6, Tembilahan

Telp : 0768-23425

Wisma Emidah

Jl . H. Khalidi 7, Tembilahan

Telp : 0768-2263917

Wisma Rini

Jl. Telaga Biru 7, Tembilahan

Telp : 0768-24694

 

Kuliner

Di Tembilahan dapat Anda temukan beragam tempat kuliner khas Indragiri Hilir. Berikut ini beberapa referensinya.

 

  1. Bukittinggi

Jl. M. Boya No. 27 Tembilahan

Telp. +62-768-21811

  1. Riak Danau

Jl. H. A. Manaf Gg. Merpati No. 26 Tembilahan

Telp. +62-768-21417

  1. Rumah Gadang

Jl. M. Boya No. 64 Tembilahan

Telp. +62-768-325250

  1. Riau Jaya

Jl. Irian Jaya Tembilahan

Telp. +62-768-22295

  1. Simpang Tiga

Jl. H. Sadri No. 5A Tembilahan

Telp. 62-768-24417

  1. Family

Jl. Pasar Tgl Tembilahan

Telp. +62-768-21429

  1. Nasi Kapau

Jl. Sultan Syarif Kasim Tembilahan

Telp. +62-768-23379

  1. Ponorogo

Jl. S. S. Qasyim Tembilahan

Telp. +62-768-22581

Café Sekar Laut

Jl. Yos Sudarso Tembilahan

Café Bahari

Jl. Kh. Khalidi Tembilahan

dthazie

 

Pasar Wadai di Tembilahan, setiap bulan Ramadhan menjual aneka kue tradisional Riau seperti amparan tatak, papare, keraraban, dan kue buah malaka. Ada pula masakan lainnya seperti sempolek, roti canai,  jelurai, dan nasi lemak. dan sebagainya.

 

 

Belanja

Mengapa tidak Anda mencoba suasana berbelanja di Pasar Terapung di Tembilahan untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda. Pilihan lain kunjungilah Pasar Pajak (PJ) yang menjual berbagai barang bekas dari luar negeri mulai dari barang pecah belah dari China, aksesoris rumah tangga, pakaian, berbagai macam permainan anak-anak, barang-barang elektronik, dan lainnya.

 

Transportasi

Untuk mencapai Tembilahan, ibu kota Indragiri Hilir maka dari Kota Pekanbaru diperlukan sekira 8 jam perjalanan. Manfaatkan penyewaan kendaraan atau bus dari terminal di Pekanbaru.

 

Tips

Indragiri Hilir yang beriklim tropis basah cenderung memiliki curah hujan tinggi terutama bulan Oktober hingga Maret. Selain itu, saat musim angin utara, gelombang dan pasang relatif tinggi hingga mampu membawa air asin ke arah hulu sungai. Musim kemaraunya berlangsung selama 3  bulan dan menimbulkan masalah air bersih.

 

 

Alam, Riau

Pelalawan: Pintu Gerbang Menuju Petualangan Tiada Batas

Sekilas

Beribukota di Pangkalan Kerinsi, Kabupaten Pelalawan merupakan jalur strategis perekonomian Pulau Sumatera. Salah satu kabupaten di Provinsi Riau ini mencakup luas sekira 13.924,94 km² dimana sebagian besar wilayahnya merupakan daratan dan sisanya kepulauan. Kabupaten Pelalawan dikenal sebagai penghasil produksi hutan, perkebunan sawit, dan kelapa.

Kondisi geografis Kabupaten Pelalawan umumnya memang berupa hutan, perkebunan, dataran rawa gambut, dan dataran aluvium sungai. Kondisi alam ini nyatanya juga menjadi daya tarik perhatian wisatawan terutama para petualang. Kabupaten Pelalawan memiliki beberapa pulau yang relatif besar, diantaranya Pulau Mendul, Pulau Serapung, Pulau Lebuh, Pulau Muda dan beberapa pulau kecil seperti Pulau Ketam, Pulau Tugau dan Pulau Labu.

Pesona alam darat dan bahari kabupaten ini sangat memesona, dengan daratan yang membetang di sepanjang Hilir Sungai Kampar serta berdekatan dengan Selat Malaka. Membuat keindahan alam Pelalawan memiliki keistimewaan tersendiri. Ada banyak keindahan tersembunyi menunggu untuk ditemukan oleh Anda.

Sejarah Pelalawan telah dikenali sejak 1726 ketika sebuah kerajaan benama Pelalawan telah berdiri di tepi Sungai Kampar. Kerajaan ini berdiri pada 1811 hingga 1945 yang keberadaannya mulai diketahui pada masa pemerintahan Sultan Syed Abdurrahman Fachrudin (1811-1822). Nama Pelalawan berasal dari nama kerajaan ini. Dikatakan bahwa kerajaan ini merupakan pewaris dari kerajaan Kampar yang ada di Pekan Tua.

Kabupaten Pelalawan dihuni berbagai etnis dengan penduduk aslinya adalah Melayu. Etnis pendatang adalah dari Minang, Batak, Aceh, Jawa, Sunda, Banjar, dan Bugis. Meskipun terdapat perbedaan diantara penduduknya tetapi keharmonisan tumbuh subur selaras dengan subur tanahnya. Di wilayah ini juga terdapat suku pedalaman yang hidup di hutan-hutan seperti suku Mamak, suku Laut dan Suku sakai.

Kegiatan

Berkunjung ke Pelalawan sangat cocok bagi Anda yang suka berpetualang. Selain karena hampir sebagian besar daratan Pelalawan didominasi hutan, pekebunan sawit, dan sisanya perairan. Oleh karena itulah, di sini menjadi pintu gerbang untuk berpetualang dan menikmati kemegahan alam.

Gelombang Bono Sungai Kampar

Mungkin selama ini berpikir bahwa kegiatan berselancar hanya bisa dilakukan di laut saja. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa di Pelalawan terdapat Sungai Kampar yang memiliki gelombang dasyat dapat digunakan untuk sleancar dan hanya satu-satunya di Indonesia. Fenomena alam ini oleh warga setempat dikenal dengan Bono namun peselancar juga memberi nama seven ghosts. Gelombang Bono yang sudah terkenal di kalangan peselancar dunia ini merupakan fenomena alam yang terjadi akibat tekanan yang berasal dari dua arus yang berbeda yaitu arus Sungai Kampar dengan arus Laut Cina Selatan. Tinggi gelombangnya bisa mencapai 6 meter dengan kecepatan 40 km per jam. Bono tidak selalu muncul setiap saat, musim terbaik untuk bisa menaklukkan Bono adalah November hingga Februari. Kedatangan Bono diiringi suara gemuruh kencang. Sungai Kampar sendiri terletak di Desa Meranti dan dapat dicapai dari Pangkalan Kerinci ibu kota Kabupaten Pelalawan dalam waktu 4 jam dengan mobil atau 3 jam dengan speedboat.

Taman Nasional Tesso Neilo

Taman seluas 38.576 hektare ini merupakan hutan dataran rendah yang teletak di dua kabupaten yakni Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu. Jika Anda ingin menyaksikan satwa langka seperti gajah dan harimau sumatera maka datanglah ke hutan ini, meskipun jumlahnya sudah tidak banyak lagi dikarenakan perburuan dan pembalakan liar. Hutan ini memiliki koleksi flora dan fauna beragam diantaranya 360 jenis flora, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia, dan 18 jenis amfibia.

Danau Tajwid

Dari Sungai Kampar menuju Hulu terdapat sebuah danau bernama Danau Tajwid. Danau ini menawarkan ketenangan dan pemandangan rumah rakit para nelayan yang nampaknya sederhana namun bisa membuat Anda tersenyum. Dinamakan Tajwid dikarenakan bentuk kolam ini mirip dengan tanda Tajwid dari aksara Arab. Penduduk sekitar danau menjadikan danau ini sebagai sumber utama mata pencaharian mereka. Berkunjung ke danau ini untuk merasakan ketenagan dan menyaksikan aktivitas nelayan akan memberikan sensasi tersendiri, cobalah!

Desa Pelalawan

Tepian Sungai Kampar merupakan pusat dari Kerajaan Pelalawan dahulu. Kerajaan ini kemudian berakhir seiring diumumkannya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Jika Anda berkunjung ke desa ini, tidak heran jika Anda akan menemukan Makam raja-raja Pelalawan, Bangunan Istana Sayap kerajaan Pelalawan dan Meriam peninggalan kerajaan Pelalawan.

Tugu Ekuator

Anda bisa menemukan tugu ini di Dusun Tua, Pangkalan Kuras. berjarak sekira 56 km dari Pangkalan Kerinci. Sesuai namanya, tugu ini tepat berada di garis lintang 0 yang menjadi batas bumi bagian barat dan selatan. Di sekitar tugu ini dibagun taman dan rumah yang difungsikan sebagai tempat beristirahat sambil menikmati madu. Tempat menarik lain yang patut untuk dikunjungi antara lain: Desa Langgam, Desa Betung dan Hutan Lindung Kerumutan.

Akomodasi

Sebagai sebuah kabupaten, Pelalawan menyediakan akomodasi yang tidak hanya layak tetapi juga nyaman dan bersih. Biasanya wisatawan menginap di Pelalawan sebelum pergi berpetualang ke berbagai tempat menarik. Berikut ini beberapa hotel dan penginapan di Pelalawan yang bisa menjadi referensi.

Aini Hotel                                                                                                                                              Jl. Maharaja Indra Pangkalan Kerinci

Dika Raya Hotel
Jl. Maharaja Indra Pangkalan Kerinci
Telp. 0761 95024, 95192

Fanbinari Hotel
Jl. Maharaja Indra Pangkalan Kerinci

Grand Hotel
Jl. Maharaja Indra Pangkalan Kerinci

Hotel Unigraha
Komplek RAPP Pangkalan Kerinci
Telp. 0761 95529, 95725, 95555
Fax 0761 95666

Mawadi                                                                                                                                      Jl. Maharaja Indra Pangkalan Kerinci

Meranti Hotel                                                                                                                                     Jl. Maharaja Indra Pangkalan Kerinci

Ryan Hotel                                                                                                                                        Jl. Family Pangkalan Kerinci

Wisma Dinda                                                                                                                                       Jl. Maharaja Indra Pangkalan Kerinci
Telp. 0761 493382

Wisma Intan                                                                                                                                    Jl. Dahlia Pangkalan Kerinci
Telp. 0761 95895

Hotel Dangau                                                                                                                                    Jl. Lintas Timur Sorek Satu

Penginapan Sardela                                                                                                                             Alamat: Jl. Lintas Timur Sorek Satu

Penginapan Mandiri                                                                                                                             Alamat: Jl. Lintas Timur Ukui

 

Kuliner

Kliner di daerah ini umumnya bercita rasa pedas khas cita rasa makanan Melayu. Jika Anda berada di Palalawan cobalah kare, kuliner paling terkenal tidak hanya di Riau tetapi juga di Pelalawan. Bahan utama kare di Pelalawan adalah seafood, mengapa? Bahan ini lebih mudah didapat karena letak Pelalawan yang berada di pesisir Laut Cina Selatan.

Apabila Anda tidak cocok makanan pedas maka ada alternatif makanan lain, yaitu nasi manis, dodol, nasi kunyit, dan lopat. Berikut ini beberapa informasi rumah makan di sekitar Pelalawan yang bisa Anda sambangi.

  1. Lubuk Bangku Jl. Maharaja Indra Pangkalan Kerinci
  2. Takana Juo
    Jl. Akasia Pangkalan Kerinci

Family Soto                                                                                                                                  Jl. Akasia Pangkalan Kerinci

  1. Kak Long Jl. Seminai Pangkalan Kerinci
  2. Kota Buana Jl. Maharaja Indra Pangkalan Kerinci
  3. Keluarga Jl. Maharaja Indra Pangkalan Kerinci
  4. Putra Kampar Jl. Akasia Pangkalan Kerinci
  5. Sidi Macho Jl. Abdul Jalil Pangkalan Kerinci

Transportasi

Sebelum menuju Pelalawan tentunya Anda harus terlebih dahulu terbang atau berkendara menuju Pekanbaru, Riau. Dari Pekanbaru Anda dapat menuju Pangkalan Kerinci yakni Ibu Kota Kabupaten Pelalawan dengan menggunakan transportasi darat berupa mobil tipe L 300 yang banyak ditemukan di Jalan Imam Munandar, Kota Pekanbaru. Jarak yang ditempuh dari Pekanbaru ke Pangkalan Kerinci kurang lebih 70 km atau sekitar 1,5 jam.

 

Tips

Kondisi topografi Kabupaten Pelalawan umumnya berupa dataran rendah dan bukit-bukit. Jadi ada baiknya Anda menyiapkan sepatu khusus trekking yang nyaman.

Apabila Anda berminat berselancar di Sungai Kampar maka perhatikan perbekalan makanan, minuman, obat-obatan, dan pakaian ganti.

Budaya, Riau

Mandi Balimau Kasai Potang Mogang: Upacara Penyucian Diri Menyambut Ramadhan di Pelalawan

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya dengan tradisi adat budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Meskipun hembusan perubahan zaman kian kuat menerpa sebagian masyarakatnya namun beberapa tradisi masih kuat berakar dan terus dilaksanakan. Salah satu contohnya dapat Anda temukan di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Di sana masyarakatnya rutin setiap tahun menggelar tradisi Mandi Balimau Kasai Potang Mogang, yaitu upacara penyucian diri sebelum menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Selain dianggap sebagai upacara penyucian diri lahir dan batin, Mandi Balimau Kasai Potang Mogang juga sebagai ucapan syukur dan ungkapan kegembiraan datangnya bulan puasa yang akan segera datang. Dalam bahasa setempat, balimau berarti “mandi” dengan menggunakan air yang dicampur jeruk atau limau. Sedangkan kasai berarti “wangi-wangian” yang biasanya dipakai masyarakat setempat untuk berkeramas. Masyarakat Pelalawan memiliki keyakinan bahwa kasai dapat mengusir segala macam dengki yang tertanam dalam hati manusia selama bulan ramadhan.

Tradisi Balimau Kasai Potang Mogang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Menurut cerita masyarakat Pelalawan, tradisi ini berawal dari kebiasaan Raja Pelalawan tetapi ada juga yang meyakini bahwa tradisi ini berasal dari tradisi yang sama yang ada di Sumatera Barat. Sedangkan tradisi Balimau Kasai yang ada di Kampar merupakan tradisi hasil perkawinan dua keyakinan yaitu Hindu dan Islam yang keberadaannya sudah ada sejak masa Kerajaan Muara Takus.

Apabila Anda berkujung ke Kabupaten Pelalawan yang merupakan pintu gerbang menuju keajaiban gelobang Bono di Sungai Kampar maka sempatkanlah untuk datang ke Kecamatan Langgam. Di sana Anda dapat menyaksikan langsung tradisi sekali setahun ini. Akan tetapi, perlu diingat bahwa tradisi ini hanya diadakan ketika menjelang bulan puasa saja.

Upacara Balimau Kasai Potang Mogang dimulai dengan makan bejambau (makan beradat) bersama para pemuka adat, batin, ninek mamak, serta tokoh masyarakat dan para alim ulama. Kemudian mereka yang hadir akan berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer menuju Anjungan Ranah Tanjung Bunga tempat pelaksaan Balimau Kasai Potang Mogang.

Sebelum prosesi Balimau Kasai dilaksanakan, upacara Togak Tonggol terlebih dahulu dilakukan sebagai upacara pembuka dipimpin oleh Datuk Rajo Bilang Bungsu. Tonggol adalah bendera simbol kebesaran suku-suku masyarakat adat Langgam yang dikibarkan di atas tiang panjang. Pengibaran bendera tersebut merupakan pertanda bahwa suku pemilik tonggol tidak memiliki permasalahan apapun di dalam adat mereka. Oleh karena pentingnya pesan tersirat dalam bendera tersebut maka dalam setiap acara adat, tonggol harus dikibarkan. Setelah Togak Tonggol selesai dilaksanakan, warga yang hadir akan berramai-rami masuk ke sungai dan mandi bersama-sama.

Budaya, Riau

Benteng Tujuh Lapis: Jejak Kegigihan Perjuangan Tuanku Tambusai dan Pasukan Dalu Dalu

Mungkin Anda masih ingat pelajaran sejarah yang membahas mengenai Perang Padri yang terjadi pada 1803 hingga 1838 di tiga provinsi sekaligus yaitu Sumatera Utara, Sumatra Barat dan Riau. Perang Padri yang sebelumnya merupakan perang saudara antara kaum adat dan kaum padri kemudian melibatkan pihak Belanda (tahun 1821) atas permintaan kaum adat. Masuknya Belanda dalam perang tersebut membuat pertempuran semakin sengit termasuk juga meninggalkan jejak sejarah berupa sebuah benteng bernama Benteng Tujuh Lapis.

Benteng Tujuh Lapis terletak di Dalu Dalu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau.  Benteng ini merupakan saksi bisu kepahlawanan dan sikap pantang menyerah Tuanku Tambusai beserta pasukannya (Pasukan Dalu Dalu) dalam melawan penjajahan Belanda. Benteng ini dahulu menjadi tempat Tuanku Tambusai beserta Pasukan Dalu Dalu merancang strategi perang untuk melawan Belanda. Benteng ini pun tentunya berfungsi sebagai benteng pertahanan dan tempat peristirahatan pasukan.

Benteng Tujuh Lapis dibangun tahun 1835. Tidak seperti benteng-benteng lain di Nusantara yang mayoritas dibangun menggunakan batu, benteng ini justru terbuat dari tanah liat. Pasukan Dalu Dalu menyadari kelemahan konstruksi benteng sehingga mereka membuat benteng dari tanah liat tetapi jumlahnya hingga tujuh lapis. Dari hasil penggukuran benteng ini memiliki tinggi hingga delapan meter dan luas 3 hektar dimana bentuknya mirip sebuah perkampungan.

Sebagai benteng pertahanan dahulu dilengkapi bumbun atau aur berduri di sekilingnya. Di dalam benteng juga dibuat sejumlah parit berbentuk curam diselingi jalan pintas dan pos jaga. Di sekitar benteng saat ini dipenuhi pepohonan lebat sementara di bagian belakangnya terhubung langsung dengan Sungai Batang Sosoh.

Benteng ini lokasinya berjarak sekira 30 kilometer dari Kecamatan Pasirpengaraian dan dapat diakses menggunakan mobil pribadi atau pun ojek. Sebelum menuju lokasi benteng, Anda akan disambut sebuah gapura besar bertuliskaan huruf arab dan tulisan “Benteng Tujuh Lapis” tepat di tengah gapura. Apabila Anda berkunjung ke Benteng Tujuh Lapis, meskipun tidak seutuh sebelumnya, Anda masih bisa meresapi jejak dan semangat perjuangan Tuanku Tambusai beserta Pasukan Dalu Dalu yang gigih bertemput melawan Belanda.

Tuanku Tambusai sendiri adalah sosok penganut Islam yang taat dan merupakan pejabat tinggi agama Islam di Kerajaan Tambusai. Sebagai seorang ulama, beliau sangat perduli terhadap penyebaran agama Islam di Nusantara dan nasib saudaranya setanah airnya yang menderita atas pejajahan Belanda. Pada 1830 beliau bergabung dengan Pasukan Rao dan berhasil memimpin kekuatan di Dalu Dalu untuk mendesak Belanda keluar dari daerah tersebut. Akan tetapi, meskipun memiliki strategi perang cerdik ditambah keberanian luar bisa namun Pada 28 Desember 1839 Pasukan Dalu Dalu mampu dikalahkan Belanda dalam pertempuran sengit hingga akhirnya Benteng Tujuh Lapis pun jatuh ke tangan Belanda. Tuanku Tambusai akhirnya membawa pasukannya yang tersisa mengungsi ke Tapanuli Selatan.

Keberanian dan ketangkasan Tuanku Tambusai memimpin pasukan telah membuat pasukan Belanda kewalahan sehingga beliau pun dijuluki sebagai de Padrische van Rokan yang artinya Harimau Paderi dari Rokan. Tuanku Tambusai, meninggal dunia di Rasah, Seremban, Negeri Sembilan Malaysia pada 12 November 1882 dan kini telah digelari Pahlawan Nasional Indonesia.