Category Archives: Sumatera Barat

Budaya, Sumatera Barat

Tenun Songket Minang Khas Pande Sike

Rogok kantung atau dompet Anda, apakah ada uang Rp5000,-? Bila iya maka temukan gambar wanita sedang menenun di salah satu sisi lembarannya. Ya, gambar sosok perempuan berbusana adat Minang itu adalah penenun Pande Sike. Pande sike merupakan nama sebuah nagari di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Tempat dimana selain panorama sawah, kebun, lembah, dan hutan menghijau, juga menjadi rumah para penenun songket handal dari Tanah Minang.

Kata ‘pande sike’ berasal dari dua kata, yaitu ‘pande’ yang artinya pandai dan kata ‘sike’ yang artinya sisir berukuran besar dan digunakan pada alat tenun. Pande sike kemudian diartikan ‘pandai menggunakan sisir (alat tenun)’. Tenun songket Pande Sikek hampir seluruhnya dikerjakan dengan tangan. Alat-alat yang digunakan masih tradisional yang umumnya terbuat dari bahan alam seperti kayu dan bambu. Nyaris tak digunakan bahan logam seperti besi. Menenun kain songket khas pande sikek membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan ketekunan. Apabila tidak maka benang akan putus atau akan rendah kualitasnya.

Kain songket khas Pande Sike terdiri dari tiga jenis, yaitu: benang satu, dua dan empat. Songket benang satu lebih halus dan lentur sedangkan benang dua sedikit kurang tetapi sudah hilang kelenturannya, lebih kaku. Apalagi untuk songket berbenang empat, terlihat kaku sekali dan tebal. Hal ini disebabkan makin banyak benang yang digunakan makin kaku songket yang dihasilkan. Songket dengan benang empat motif tenunannya terlihat besar karena sekali memasukkan benang tenun dirangkap empat helai benang. Untuk membuat songket jenis benang satu diperlukan ketelitian karena dalam proses menenun benangnya helai demi helai. Untuk benang dua kira-kira perlu tiga minggu proses penenunan dan benang empat sekira dua minggu.

Harga masing-masing jenis kain songkrt tersebut berbeda. Benang satu itu jauh lebih mahal dibanding benang dua dan empat, karena waktu yang diperlukan untuk menenunnya lebih lama. Harga sebuah kain songket jenis benang satu, harganya mencapai Rp350.000,- dan bila bersama kain bawahan mencapaibRp 1 juta (minimal). Apabila benang dua seharga Rp250.000,- untuk satu helai selendang, dan dengan kain bawahan menjadi Rp850.000,-. Sementara untuk benang empat harganya Rp175.000,- per helai selendang dan lengkapnya bersama bawahan Rp500.ooo-,-. Benang bahan kain ini biasanya menggunakan benang makau, yaitu jenis benang asli dari India.

Untuk menuju Nagari Pande Sike di Tanah Datar maka arahkan perjalanan Anda yang terdekat dari Bukittinggi. Lokasinya ada di Desa Koto Baru, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tana Datar. Ada banyak rumah tenun dan toko penjual songket minang di lokasi ini, salah satunya adalah Pande Sikek Satu Karya. Bukan hanya handal menenun kain songket, warga setempat juga piawai menciptakan kerajinan tangan untuk cenderamata yang menarik berupa sulaman, ukiran, hiasan dinding, dan lainnya.

Budaya, Sumatera Barat

Indang Pariaman: Keindahan Hentakan dan Lantunan

Anda dapat menemukan keindahan seni tradisional ini salah satunya di kampung kecil bernama Koto Tinggi. Lokasinya berjaraknya tidak jauh dari Padang Alai Pariaman. Tahun 2009, Koto Tinggi merupakan salah satu wilayah yang menglami kehancuran parah akibat gempa.

Penduduk Koto Tinggi yang berasal dari kampuang maupun perantau kini bertekad membangun nagari indah ini bersama-sama. Salah satu upaya mereka adalah menggelar alek nagari yang disebut “Alek Indang”. Dalam acara ini Anda akan melihat masyarakat Koto Tinggi berkumpul selama sepekan untuk menyaksikan pertunjukan indang setiap malamnya.

Indang adalah jati diri masyarakat Pariaman. Kesenian ini dimainkan tiga kelompok untuk beradu pantun yang dinyanyikan. Setiap pemain duduk bersila rapat bersaf. Mereka mengenakan pakaian warna warni mencirikan tugas yang sudah ditentukan. Pertunjukkan indang juga tidak memandang usia baik tua maupun muda ikut ber apresiasi melihat pertunjukkan indang.

Pembagian tugas dalam indang meliputi pelaku berikut yaitu: tukang dikia, adalah pimpinan dan tokoh utama dalam pertunjukan indang sekaligus menciptakan pantun-pantun yang diperdebatkan antara ketiga kelompok indang. Tukang karang, adalah pemain indang yang membantu tukang dikia dalam mengarang pantun-pantun secara spontan. Ia juga disebut tukang aliah karena bertugas mengalihkan gerak-gerak tari dan nyanyian. Tukang apik, adalah yang bertugas sebagai pengapit tukang karang dalam posisi duduk sebagai peningkah permaian darak indang. Tukang pangga, adalah pengikut gerakan tari dan menurutkan permainan pola permainan darak rapai. Tukang pangga  meliputi beberapa orang pemain indang yang posisi duduknya di samping kiri dan kanan tukang apik. Tukang pangga, adalah beberapa orang anak indang yang paling ujung dari sederetan anak indang. Tukang pangga terdiri dari anak-anak yang masih kecil dimana mereka sedang belajar main indang.

Pertunjukkan indang akan diawali permainan darak indang dengan bunyi dan gerakan yang kompak. Berikutnya tukang dikia memulai berdendang. Isi teks yang dinyanyikan berisi permohonan izin kepada pengunjung untuk memulai pertunjukkan. Setelah dendang dinyayikan lalu diulang kembali oleh anak indang yang bernyanyi sambil menari kompak dan indah.

Dalam permainan indang dendang yang dilantunkan terdiri dari dendang pembuka, dendang isi dan dendang penutup. Anda akan terhanyut dalam lantunan dendang menggema ini yang beriringan bersama hentakkan pukulan indang serempak bersama gerakan pemainnya. Gerakannya indang berupa menjelentikkan jari seperti orang menggayuh sampan dan mendorong indang di atas tikar.

Saat pertunjukan dimainkan maka penonton berdesakan sampai merapat kepada anak indang yang duduk bersyaf mem persembahkan kebolehannya. Artinya, antara pemain dan penoton seperti tidak ada pembatasan yang jelas. Penonton dan pemain bersatu di atas laga-laga, dan bagi yang tidak dapat duduk di laga terpaksa berdiri saja sambil menikmati indahnya alunan pertunjukan indang pariaman ini.

Budaya, Sumatera Barat

Randai: Menikmati Perpaduan antara Musik Tradisional, Cerita Rakyat, Drama, dan Silek Minangkabau

Randai adalah kesenian teater khas masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat yang dimainkan beberapa orang secara berkelompok atau beregu. Biasanya Randai dimainkan saat perayaan pesta seperti pernikahan, pengangkatan penghulu atau hari-hari besar tertentu. Kesenian randai merupakan penggabungan dari beberapa macam seni yaitu drama, musik tradisional, tari, dan silek (silat) Minangkabau.

“..teater tradisi ini mengabungkan musik tradisional , cerita rakyat, drama, dan silat”

Randai sendiri berasal dari kata merandai yaitu istilah lokal yang artinya mengelilingi atau mengepung. Pendapat lain mengatakan bahwa randai berasal dari kata ronda yang bermakna seorang pengaman lingkungan tradisional masyarakat Minang. Kesenian randai dulunya ditampilkan di malam hari tetapi saat ini dapat ditampilkan kapan pun.

Jika kita mengenal tari saman dari Aceh dengan formasi duduk rapat berjajar membentuk garis menghadap ke penonton maka randai dimainkan dalam formasi lingkaran. Keunikannya randai justru terletak pada bentuk lingkaran ini dimana kedekatan antara pemain dan penonton menjadikan randai sangat akrab dengan masyarakat Minangkabau. Lingkaran adalah simbol filsafat yang tidak terputus dari masyarakat Minangkabau dan setiap aspek tradisinya didasarkan pada ajaran Islam dalam Al Quran, adat basanding syara, dan syara basanding kitabullah.

Dahulu, randai merupakan media untuk mengkomunikasikan sebuah pesan penting bagi penduduk setempat. Biasanya dilakukan di alam terbuka dalam bentuk arena dan tidak memakai panggung dimana penonton dan pertunjukkan menjadi satu bagian. Penonton boleh saja menyela dialog yang disampaikan pemain atau mungkin bersorak untuk memberikan gairah pemain. Ini mirip seperti halnya kesenian Lenong di Betawi, Jakarta. Dalam randai tidak ada dekorasi, tidak ada pula batasan antara pemain dan penonton termasuk dengan pemain musiknya. Suasana pementasan randai terasa sangat akrab sehingga penontonya tahan menyaksikan dari malam hingga subuh pagi.

Sampai saat ini, randai masih hidup dan berkembang bahkan masih digemari masyarakat Minangkabau terutama di pedesaan. Cerita yang dimainkan umumnya dari cerita popular dan digemari masyarakat Minang, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat Minangkabau lainnya. Bahkan grup randai yang pentas pun memakai nama dari cerita rakyat tersebut, misalnya Grup Randai Magek Manadin, Grup Randai Anggun Nan Tongga, Grup Randai Rambun Pamenan, dan Grup Randai Gadih Rantin.

“..randai sempat menjadi kurikulum pelajaran wajib di Hawaii, Manoa, Amerika Serikat”

Biasanya satu grup randai berjumlah  14 hingga 25 orang. Mereka berlatih selama berbulan-bulan tergantung jenis drama dimainkan. Latihan dapat memakan waktu berjam-jam dan yang paling lama bisanya saat akhir pekan. Anggota Randai bisa terdiri dari petani, pedagang atau pengrajin, mereka disebut sebagai anak randai.

Dalam pertunjukan randai ada beberapa pemain pendukung sebagai satu kesatuan pementasan. Ada pemain galombang yaitu yang melakukan gerakan gelombang dari pencak silat. Pemain musik atau dendang bertugas memainkan talempong, gendang, serunai, saluang, puput batang padi, bansi, rebab dan alat musik tradisional lainnya. Ada pembawa laur cerita yang menyampaikan narasi yang menjadi alur cerita randai dan dibawakan dengan suara lantang. Ada juga pemain pasambahan bertugas berdialog dalam petuah Minangkabau dan memberi pesan moral lewat kiasan. Tentunya ada juga pemain silek yang tampil saat alur cerita berupa perkelahian.

Teater tradisi randai menyajikan sastra lisan kaba yang atinya ‘cerita’ dan bakaba yang artinya bercerita. Unsur pokok randai ada dua yaitu pertama, meliputi unsur penceritaan kaba yang dipaparkan lewat gurindam, dendang, dan lagu yang diiringi alat musik tradisional Minang seperti: salung, rebab, bansi, rebana, atau yang lainnya. Unsur kedua adalah gerakan atau tarian yang dibawakan melalui gelombang. Gerak tari tersebut berasal dari gerak silek Minangkabau dengan berbagai variasinya gaya.

Sastra lisan kaba dalam randai selalu didendangkan karena sifatnya yang liris dan terikat pada jumlah suku kata dengan adanya sajak, syair, dan pantun. Di dalam randai bagian cerita yang didendangkan itulah yang disebut gurindam. Gurindam dan tari yang bersumber dari gerak silek (silat) inilah yang menjadi ciri randai sebagai teater tradisional yan khas.

Kehidupan budaya Minangkabau tercermin dari pertunjukkan randai, baik dialog yang diucapkan lewat pantun, syair, dan prosa liris yang berupa untaian bait-bait. Bait-bait tersebut terdiri dari empat baris meliputi dua baris berisi sampiran dan dua baris lainnya adalah isi pesan utama. Bait-bait tersebut untuk menjaga irama pertunjukkan agar sesuai gurindam dan dendang yang ada.

“.. randai adalah kombinasi gerakan tubuh dan emosi sarat muatan filosofi dari adat tradisi dan ajaran agama Islam”

Meskipun dijuluki sebagai teater tradisi, randai juga dianggap jenis tari oleh orang Minangkabau. Tarian dalam pandangan filsafat Minangkabau adalah kombinasi gerakan fisik dan emosi yang berakar dari pencak silat sebagai pelajaran penting dalam setiap surau, rumah doa, dan sistem pendidikan tradisional Minangkabau.

Randai dapat Anda temukan di festival lokal di dataran tinggi Minangkabau atau saat acara Idul Fitri dan bulan Ramadhan. Kini kesenian randai sudah dipentaskan di berbagai daerah di Indonesia dan dunia. Bahkan pernah dipentaskan dengan menggunakan versi bahasa Inggris oleh kelompok mahasiswa di University of Hawaii, Amerika Serikat. Selain itu randai sempat menjadi kurikulum pelajaran wajib di Hawaii, Manoa, Amerika Serikat.

Budaya, Sumatera Barat

Silek Harimau Minangkabau: Ilmu Seni Bela Diri Sumatera Barat

 

Pencak Silat adalah salah satu seni bela diri Nusantara yang terkenal di dunia dan berkembang di Asia Tenggara. Kata pencak silat sendiri merupakan kata majemuk, kata pencak digunakan masyarakat Pulau Jawa, Madura dan Bali, sedangkan kata silat biasa digunakan masyarakat di wilayah Indonesia lainnya serta di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan di Thailand bagian selatan dan Filipina.

Pencak silat dipengaruhi ilmu beladiri Cina dan India yang dibawa pedagang dan perantau dari Cina, India, Arab, Turki, dan lainnya. Multibudaya itu kemudian berasimilasi dengan kebudayaan penduduk asli bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu.

Penggabungan kata pencak dan silat pertama kalinya dikenalkan tahun 1948 saat dibentuknya organisasi persatuan perguruan pencak dan perguruan silat di Indonesia yang diberi nama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Surakarta. Sejak saat itu pencak silat menjadi istilah resmi di Indonesia dan perguruan-perguruan yang mengajarkan pencak dan silat asal Indonesia di berbagai negara kemudian juga menggunakan istilah pencak silat. Secara internasional pencak silat menjadi istilah resmi sejak dibentuknya Organisasi Federatif Internasional yang diberi nama Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (PERSILAT) di Jakarta tahun 1980. Meski demikian, karena kebiasaan yang mengakar, kata pencak dan silat masih digunakan secara terpisah.

Pencak silat diperkirakan menyebar di Nusantara sejak abad ke-7 M tetapi asalnya belum dapat dipastikan. Saat ini pencak silat diakui sebagai budaya suku Melayu pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, juga di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dimana mereka mengembangkan bentuk silat tradisional khas mereka sendiri.

Pencak atau mancak memiliki gerakan mirip tarian yang ditampilkan di depan penonton dalam acara adat dengan gerakan yang anggun. Sementara itu, silat atau silek adalah ilmu bela diri dengan gerakan sederhana, efektif, cepat, dan akurat, bertujuan untuk menghentikan serangan lawan. Saat ini sebagian orang belajar silek untuk ilmu bela diri dan yang lain mempelajarinya sebagai bentuk seni bela diri.

Dalam Bahasa Minangkabau, silat sama dengan silek. Silek di Minangkabau mempunyai dua tujuan yaitu ilmu bela diri menghadapi serangan musuh dan sebagai pertahanan negeri. Hal ini didasari keadaan Minangkabau yang saat itu merupakan daerah subur penghasil rempah-rempah telah mengundang kedatangan pihak lain untuk menguasainya. Saat masa damai, bela diri ini kemudian diarahkan agar tetap lestari dalam bentuk seni tarian  sekaligus penyaluran energi silat yang cenderung panas dan keras agar menjadi lembut dan tenang.

Orang Mingkabau menyebut silek sebagai panjago diri dan parik paga dalam nagari. Silek tidak saja sebagai alat untuk bela diri tetapi juga mengilhami gerakan dasar berbagai tarian dan randai (baca: drama Minangkabau). Randai memadukan alat musik, teater tradisional, dan gerakan silat tradisional Minangkabau untuk menghibur masyarakat dan biasanya diadakan saat pesta rakyat atau hari raya Idul Fitri. Randai awalnya adalah media untuk menyampaikan cerita-cerita rakyat, dan kurang tepat jika Randai disebut sebagai teater tradisi Minangkabau, walaupun dalam perkembangannya Randai mengadopsi gaya bercerita atau dialog teater atau sandiwara.

Silek Harimau Minangkabau memiliki sederetan gerakan lincah seperti menendang, memukul, mengunci, menahan, bertarung di tanah, dan mengunakan senjata. Langkah dalam permainan Silek Minangkabau mirip langkah berjalan dan posisinya lebih sering merendah dikombinasikan gerakan anggun namun kuat.

Mid Djamal dalam bukunya tahun 1986 menyebutkan pendiri Silek adalah Datuak Suri Dirajo di Pariangan, Padangpanjang sekitar tahun 1119.  Ia dibantu beberapa rekan-rekannya yang datang dari luar negeri, yaitu Kambiang Utan (Diduga dari Kamboja), Harimau Champo (Diduga dari Champa), Kuciang Siam (Diduga dari Siam atau Thailand), dan Anjiang Mualim (Diduga dari Persia).

Silek Harimau adalah seni bela diri yang berasal dari Padang terutama Minangkabau. Gerakan silek menyerupai teknik dan filosofi harimau ketika menyerang mangsanya. Salah satu cirinya dapat dilihat melalui teknik tangan terbuka yang meniru cakar harimau.

Nama Minangkabau sendiri berasal dari dua kata, minang dan kabau. Kata ini merefleksikan harga diri dan kelompok etnis matrilineal adat dataran tinggi di Sumatera Barat. Sebagai kelompok etnis matrilineal terbesar di dunia, anak lelaki masyarakat Minangkabau belajar bagaimana hidup di luar kampung halaman saat usianya cukup dewasa. Hal ini dikenal sebagai tradisi merantau, bertujuan mencari kehidupan lebih baik sekaligus mendapatkan pengetahuan dan pengalaman. Masyarakat Minangkabau memegang nilai penting bagaimana cara melindungi diri dan tanah kelahiran mereka melalui ilmu bela diri ini.

Nama Minangkabau juga dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang, konon dahulu ada kerajaan asing (diduga Majapahit, Red) yang datang dari laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar yang dipasang pisau pada tanduknya.

Saat pertarungan, anak kerbau yang lapar tersebut menyangka kerbau besar itu induknya sehingga langsung berlari mencari susu sambil menanduk dan mencabik-cabik perut kerbau besar lewat pisau di tanduknya. Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat untuk memakai nama Minangkabau yang berasal dari kata ‘Manang kabau‘ dan berarti ‘menang kerbau’. Nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau yang terletak di Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.

Budaya, Sumatera Barat

Pariaman: Rumahnya Perayaan Festival Tabuik

Dengan berkendara lebih dari 1 jam dari Kota Padang atau berjarak sekitar 56 km ke arah utara maka akan Anda temukan kota kecil bernama Pariaman. Kota ini merupakan daerah pesisir dengan garis pantai yang indah sepanjang 7 mil. Pariaman yang berarti ‘wilayah aman’ dikenal juga saat ini sebagai tempat perayaan Ashura di Indonesia dengan nama Festival Tabuik.

Festival Tabuik adalah untuk memperingati kematian dua cucu Nabi Muhammad saww. yakni Hasan dan Husein. Hasan wafat diracun sedangkan Husein memimpin pasukan Muslim untuk bertempur melawan Dinasti Bani Umayah dalam Perang Karbala. Pertempuran tersebut menewaskan Husein secara mengenaskan dan sebagian umat Muslim meyakini bahwa jenazah Husein di masukkan ke dalam peti jenazah (tabuik) kemudian dibawa ke langit menggunakan Bouraq. Peristiwa syahidnya Husein ini kemudian dikenal sebagai hari Ashura atau Muharram.

Waktu terbaik untuk berkujung ke Pariaman dan menyaksikan Festival Tabuik adalah sepuluh hari pertama bulan Muharam (bulan pertama kalender Islam). Anda dapat menyaksikan acara Tabuik tersebut mulai dari persiapannya hingga prosesinya selama 10 hari pertama bulan Muharram.

Kota pelabuhan Pariaman beberapa abad lalu telah disinggahi pedagang-pedagang dari Nusantara maupun mancanegara. Saat itu orang Minangkabau di pedalaman Sumatra Barat memproduksi emas, kertas, madu, kemiri, serta hasil bumi lokal untuk dijual di pelabuhan. Awal abad ke-17,  Sultan Aceh datang untuk mengusai tempat dan berikutnya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang menguasainya. Masyarakat Pariaman yang hidup menderita dalam penjajahan kemudian melakukan pemberontakan selama hampir satu abad untuk memaksa penjajah meninggalkan tempat yang indah ini.

Sejarah Pariaman sudah dimulai jauh sebelum kedatangan VOC. Catatan Tome Pires (1446-1524), yaitu pelaut Portugis dari Kerajaan Portugis di Asia mencatat adanya lalu lintas perdagangan antara India dan Pariaman, juga antara Tiku dan Barus. Pires juga mencatat perdagangan kuda di antara orang Batak dengan orang Sunda.

Tahun 1527, dua kapal dagang Prancis membawa, Jean dan Raoul Parmentier mengunjungi Pariaman dan berlabuh di Tiku serta Indrapura. Akan tetapi kedatangna mereka tidak meninggalkan catatan signifikan di wilayah ini. Tanggal 21 Nopember 1600, untuk pertama kalinya, Belanda datang ke Pariaman dan Tiku dibawah pimpinan Paulus Van Cardeen yang berlayar ke arah selatan dari Aceh dan Pasaman. Cornelis de Houtman, salah satu pelaut Belanda juga pernah mengunjungi Pariaman kemudian pindah ke selatan yaitu Sunda Kelapa atau Jakarta sekarang.

Tahun 1686, catatan W. Marsden menyebut bahwa orang Pryaman atau orang Pariaman telah melakukan kontak dengan Kerajaan Inggris. Saat itu, dipimpin Raffles, orang-orang India dalam kesatuan tentara Sepoy dari British Raj, dibawa ke kota pelabuhan tersebut. Orang-orang Sepoy dari India inilah yang kemudian memperkenalkan tradisi Muharram kepada penduduk setempat dengan nama Tabuik. Meskipun kontak tersebut tidak terlalu intensif tetapi telah meninggalkan jejak yang kemudian berkembang menjadi salah satu warisan budaya bernama Tabuik.

Kata tabuik diambil dari Bahasa Indonesia yaitu ‘tabut’. Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1831. Pariaman memiliki peran besar dalam perkembangan tradisi ini karena menjadi salah satu tempat di dunia di mana peringatan kematian Hasan bin Ali dan Ali bin Husein diperingati. Acara Tabuik di Pariaman seperti juga peringatan Ta’ziyeh di Iran untuk memperingati kematian Imam Hussein

Selain sebagai nama upacara, Tabuik juga disematkan untuk nama benda yang menjadi komponen penting dalam ritual ini. Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya berupa binatang berbadan kuda memiliki bersayap dan tubuh tegap berkepala manusia.

Pada hari kesepuluh Muharram, Masyarakat Pariaman secara tradisional akan berkumpul untuk melihat usungan jenazah melambangkan peti mati Husein. Secara visual, prosesi ini sangat mirip tradisi pembakaran jenazah di Bali, hanya saja di Pariaman, tabuik tidak dibakar pada akhirnya dengan api. Pada akhir acara, Tabuik akan dibawa ke pantai selanjutnya dilarung ke laut. Kepercayaan pelarungan Tabuik ke laut adalah untuk membuang kesialan. Di samping itu, momen ini juga dipercaya sebagai waktunya Buraq terbang ke langit membawa segala jenis arakannya.

 

 

Kegiatan

Datang dan nikmati meriahnya Festival Tabuik selama bulan Muharram dalam kalender Islam. Puncak acara ini akan jatuh pada hari kesepuluh Muharram. Jika Anda ingin mengikuti semua persiapan dan prosesinya maka Anda harus berada di sana sejak hari pertama bulan Muharram.

Listen

Read phonetically

Di negara lain, Tabuik dikenal dengan nama Muharram, Hosay, atau Tadjah. Tabuik juga telah diperingati di belahan dunia lain, seperti Tobago, Trinidad, Guyana, Suriname, dan Jamaika, dimana di tempat itulah Muslim Syiah dari India dan sekitarnya dikirim pada masa kolonialisme.

Pada hari pertama Muharram, prosesi yang dilakukan adalah mengumpulkan tanah merah sebagai lambang tanah berdarah di Karbala. Banyak tempat di Indonesia menggunakan nama tanah seperti: Tana Merah, Tanah Abang atau Lemah Abang, diduga ini merujuk pada peristiwa Pertempuran Karbala. Dua kelompok Tabuik yaitu Tabuik Pasar dan Tabuik Seberang akan memulai prosesinya dimana Tabuik Pasar berkumpul di Desa Alai Gelombang sedangkan Tabuik Seberang di Desa Pauh.

Pada hari ke-8, replika jenazah Husein dikirab keliling desa untuk menunjukkan bahwa ia adalah wali sejati bagi kaum lemah dan pribadi yang mewakili kakeknya Nabi Muhammad saww. Puncak acara akan berlangsung pada hari ke-10, tepat pukul 04.00 pagi, ketika dua tabuik setinggi 21 sampai 24 kaki beserta patung Buraq yang menyimbolkan kendaraan langit akan menemani Husein ke surga.

Mereka pergi beramai-ramai bersama penduduk lokal ke Pantai Gondoriah untuk melarung Tabuik ke lautan luas. Anda bisa ikut terjun ke air atau langsung berenang untuk mendapatkan salah satu potongan media yang digunakan dalam pesta Tabuik sebagai sovenir kunjungan Anda di Pariaman.

Pantai Gondoriah merupakan tempat penduduk lokal untuk bersantai. Ada beberapa tempat di sepanjang pinggir pantai yang juga bisa Anda kunjungi seperti Pantai Cermin dan Pantai Teluk Belibis. Nelayan hidup damai di sekitar pantai-pantai ini dimana Anda dapat menyewa perahu mereka untuk berpetualang ke pulau terpencil yang eksotis.

Pariaman juga merupakan rumah bagi pelukis lokal yang terinspirasi keindahan alam Pariaman. Jika Anda bertanya kepada masyarakat setempat maka mereka akan memberitahukan dimana tempat untuk Anda menemukan pelukis-pelukis handal setempat seperti Nasar, Nurdin, Muslim Saleh, dan Zaini.

 

Akomodasi

Sebagai kota yang tidak terlalu jauh dari kota Padang, Anda biasanya tinggal di Padang karena menawarkan banyak fasilitas lengkap bagi wisatawan. Namun, jika Anda memutuskan untuk tinggal di Pariaman maka ada beberapa hotel di kota ini mudah untuk ditemukan,  salah satunya adalah:

 

Nan Tongga Beach Hotel

Tugu Perjuangan Street, No. 45, Pariaman

+62 751 91666

Kuliner

Nasi sek adalah salah satu makanan khas Pariaman. Nasi sek dibungkus menggunakan daun pisang dengan porsi yang lebih besar dan disajikan bersama tumpukan piring kecil makanan khas Padang. Silakan merujuk ke Makanan Padang di Lembah Harau dan  Masakan Padang

 

Berbelanja

Salah satu sovenir yang terbaik dari Pariaman adalah Silungkang Songket, sejenis kain yang dibuat teliti dan indah bergaya tradisional. Anda juga dapat membeli Kain Silungkang berwarna merah marun berpadu dengan benang bordir warna emas yang cantik. Kain ini bisa Anda bingkai atau dijahit sebagai sarung bantal hias untuk mempercantik ruang tamu agar terlihat lebih menawan.

 

Transportasi dan Berkeliling

Anda dapat melakukan perjalanan ke Padang, ibu kota Sumatra Barat. Anda harus menginap di Padang sebelum menuju Pariaman, kecuali jika berencana untuk tinggal dan bermalam di dusun yang sunyi dan damai. Anda bisa menyewa sepeda motor atau mobil dari Padang untuk menuju ke arah utara mengikuti rute jalan menuju Danau Maninjau. Kota ini dapat ditempuh sekitar 1 jam. Jika Anda menggunakan transportasi umum, perjalanan akan memakan biaya sekitar Rp10.000,00

Inderawi, Sumatera Barat

Kerajinan Tangan Khas Minangkabau

Warna kain yang cerah dan motif rumit dianyam dengan cantik oleh tangan-tangan trampil orang Minangkabau. Sumatra Barat memiliki reputasi yang cemerlang dan sudah terkenal di seluruh Nusantara sebagai tempat kerajinan tangan yang indah ini.

Kain Minangkabau dikenal dengan nama kain songket. Kain tenun songket menggunakan benang emas dan perak untuk menciptakan pola pada bahan sutra atau katun. Pola tersebut terinspirasi dari alam seperti motif bunga dan pemandangan gunung.

Minangkabau juga terkenal dengan bordirnya yang cantik. Kain ini mencerminkan pengaruh cina. Pakaian pernikahan Minang contohnya, kaya akan bordir pada bahan satin warna merah dan hitam dengan gaya dan tradisi China. Wisatawan yang datang ke Minangkabau bahkan secara khusus datang untuk berburu pakaian dan dekorasi penikahan Minangkabau ini. Kain indah berbordir sarong dan selendang merupakan suvenir sempurna untuk Anda bawa pulang saat berkunjung ke Sumatra Barat.

Minangkabau juga terkenal dengan peraknya. Perhiasaan Filigree dirancang dan dibuat dengan keterampilan khusus di sini. Ada banyak desa di sekitar Bukittinggi mendalami kerajinan perak ini dan Anda bisa membeli beberapa kerajinan perak yang menarik hati.

Apabila Anda tertarik untuk belajar kerajinan Sumatera Barat atau ingin berbelanja beberapa souvenir maka datanglah ke Pandai Sikat, sebuah kota yang terkenal dengan tenun songket dan ukiran kayu. Nama Pandai Sikat diterjemahkan secara harfiah sebagai ‘pengrajin pintar‘. Desa kecil ini terletak 13 km dari Bukittinggi dan dapat dicapai dengan opelet (bus lokal) dari terminal bus Aur Kuning.

Alam, Sumatera Barat

Pulau Nyang Nyang: Memburu Ratusan Ombak di Mentawai

Sekilas

Pulau Nyang-Nyang adalah satu dari gugusan Kepulauan Mentawai. Keberadaanya telah dikenal hingga ke mancanegara sebagai surganya bagi peselancar. Mereka menyebut-nyebut bahwa ombak di Mentawai sebagai terbaik ketiga di dunia setelah Hawaii dan Tahiti. Pulau Nyang-Nyang dengan panorama alamnya yang eksotis berada tepat di Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Keindahan Pulau Nyang-Nyang telah menawan hati penyambangnya, terutama peselancar yang gemar menaklukkan ombak dengan sebuah papan. Hamparan pasir putih membingkai tepian pulau ini dilengkapi hutan hijau dan barisan pohon kelapa. Langit biru di atasnya menjadi pemadangan tropis yang menyejukkan mata. Udara yang masih segar dan angin yang meniup lembut sungguh menyejukkan bagi mereka yang mendamba ketenangan alam yang menawan. Belum lagi, air laut yang jernih disempurnakan suara debur ombak saling bergulungan. Inilah suguhan alam yang akan membuat Anda betah berlama-lama menikmatinya.

Terdapat banyak titik berselancar di Kepulauan Mentawai, yaitu sekira 400 titik, termasuk di Pulau Nyang-Nyang. Pada musim ombak, biasanya pertengahan tahun (Juni-Agustus), ombak di sekitar Pulau Nyang-Nyang dapat mencapai ketinggian 4 meter. Beberapa ombak menantang di pulau kecil ini di antaranya adalah Nifusi, Bank Vaults, Pit Stop, E Bay, dan Beng-Beng.

Perihal penamaan ombak ini, biasanya dinamai peselancar yang berhasil menaklukan ombak tersebut. Biasanya peselancar mengadakan lomba sesama mereka untuk memenangkan tantangan menaklukan ombak-ombak besar dan tinggi.

Dinamakan Bank Vaults karena ombaknya bersifat mengunci seperti halnya ruang penyimpanan uang di bank. Pit Stop adalah lokasi berselancar pertama yang akan dijejak wisatawan dari Desa Muara Siberut setibanya di Pulau Nyang-Nyang. E Bay mengacu pada nama emerald (zamrud) atau dapat juga mengacu pada huruf E, bentuk titik ini jika dilihat dari atas. Ombak Beng-Beng mendapatkan namanya dari karakteristik air di sekitar lokasi yang berwarna kecoklatan seperti halnya warna makanan ringan bermerk sama. Beng-beng termasuk jenis ombak yang hanya boleh dijajal peselancar berpengalaman sebab ombaknya besar dan bebatuan karang di titik tersebut patut diwaspadai.

Lokasi berselancar di Kepulauan Mentawai, termasuk di Pulau Nyang-Nyang, disebut-sebut sebagai salah satu lokasi selancar terbaik di dunia. Surga para peselancar ini konon baru ‘ditemukan’ tahun 1990-an. Sebelumnya, tidak ada yang berselancar di kawasan cantik ini. Akan tetapi, sekarang Pulau Nyang-Nyang adalah pulau impian  peselancar lokal maupun mancanegara. Bahkan, Pulau Nyang-Nyang lebih sering dikunjungi wisatawan mancanegara yang telah mendengar pesona dan kedahsyatan ombak menantang. Sejumlah peselancar terbaik nasional dan dunia seperti Rizal Tanjung, Kelly Slater dan Andy Irons sering terlihat datang ke Kepulauan Mentawai untuk menantang dan mengasah keahlian sambil menjadi lawan tanding bagi peselancar lokal.

 

Kegiatan

Keragaman ombak yang menantang untuk ditaklukan peselancar adalah daya tarik utama Pulau Nyang-Nyang dan sekitarnya. Kondisi pantai yang masih alami, bersih, serta memesona adalah bonus lain yang mengundang wisatawan ke Pulau Nyang-Nyang.

Selain berselancar, berkeliling di pulau kecil ini dalam waktu singkat juga akan menjadi kegiatan menarik. Pulau ini adalah juga lahan penduduk lokal menanam kelapa. Pada waktu-waktu tertentu, Anda akan berjumpa petani kelapa yang memanen kelapa dengan cara memanjat dan memetiknya hanya dengan bantuan galah.

Di sore hari, setelah lelah berburu ombak, Anda dapat bersantai sambil menikmati indahnya Matahari tenggelam sambil minum air kelapa muda. Untuk makan malam, belilah ikan segar hasil tangkapan penduduk. Apabila membutuhkan bantuan dalam memasak dan mengolah makanan, Anda dapat meminta bantuan penduduk dengan membayar jasa mereka. Bahan makanan seperti beras, mie instan, air minum, sayuran, makanan kaleng, dan lainnya dapat dibeli di Muara Siberut.

Apabila kurang berminat dengan kegiatan berselancar, jangan khawatir. Pantai dan pemandangan yang indah adalah tempat rekreasi yang menyenangkan. Anda dapat pula melakukan scuba diving, snorkeling, atau memancing.

Untuk melihat langsung kehidupan masyarakat lokal yang juga menarik dan eksotik dengan kekayaan budayanya maka Anda dapat mengunjungi pulau-pulau besar lainnya. Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Siberut, Sipora, Kepulauan Pagai Utara, dan Kepulauan Pagai Selatan.

 

Akomodasi

Pengunjung yang mendatangi pulau ini rata-rata menghabiskan waktu seminggu meski dengan fasilitas sederhana. Atau bisa saja justru mungkin ketenangan dalam kesederhanaan-lah yang menjadi magnet lain dari pulau cantik ini.

Wisatawan biasanya menginap di pondok-pondok kayu yang disewakan penduduk dengan tarif ekonomis. Akan tetapi, bagi yang ingin menginap di resort, terdapat pula resort yang dapat diandalkan sebagai pilihan akomodasi.  Salah satunya adalah Pitstop Hill Mentawai (http://pitstophill.com/accomodation.html), email: info@pitstophill.com.

Berkeliling

Tidak hanya memburu ombak di Pulau Nyang-Nyang, Anda dapat menjajal lokasi berselancar lainnya di sekitar Nyang-Nyang, seperti Pulau Karangmajat, Pulau Masilok, Pulau Muaro Limo, Pulau Mainuk, Pulau Botik, Pulau kroniki, dan lain-lain.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, terdapat sejumlah titik berselancar (sekira 400) yang tersebar di Kepulauan Mentawai. Masing-masing pulau menawarkan keragaman ombak besar yang menantang nyali dan keahlian tiap peselancar. Jenis-jenis ombak tersebut diberi nama peselancar sendiri. Biasanya mereka yang berhak memberi nama adalah peselancar yang berhasil menaklukkan ombak dalam suatu perlombaan antarpeselancar.

Di Pulau Karangmajat, misalnya, dikenal beberapa ombak dengan nama 4 Bobs, Rifles, John Candy, Karambak Left, Pistol, Resort Black, Crystal, dan No Kandui. Ombak Rifles adalah ombak yang berkecepatan tinggi dan karenanya disebut dengan ombak kualitas bintang 5. Rifles sebaiknya hanya boleh dijajal oleh peselancar berpengalaman. No Kandui berasal dari frasa “no one can do it”, mengingat betapa menantangnya ombak yang satu ini.

Di Pulau Muaro Limo, dikenal dengan adanya ombak bernama Eret dan Portugal. Sementara di Pulau Kroniki, ada ombak yang dinamakan Burger World dan McDonalds. Ombak Aduai dapat diburu di Pulau Mainuk, sementara ombak Nafi Rise, Masilo Wave, dan Andy Right dapat diburu di Pulau Masilok.

Transportasi

Pulau Nyang-Nyang dapat ditempuh menumpang perahu bermotor dari Muara Siberut. Berjarak sekira 21 mil dari Muara Siberut, tarif sewa perahu adalah sekira Rp400.000,- hingga Rp500.000,- untuk satu kali perjalanan. Lama perjalanan dari Muara Siberut ke Pulau Nyang-Nyang sekira 1 jam.

Apabila menumpang perahu boat besar, lama perjalanan mencapai 2 jam. Perahu boat besar dapat ditumpangi maksimal 8 orang dengan harga sewa Rp600.000,- hingga Rp800.000,- untuk sekali perjalanan. Datang bersama sekelompok teman tentu akan meringankan biaya perjalanan dengan perahu ini.

Tips

Bulan Juni hingga Agustus adalah saat terbaik untuk mengunjungi Pulau Nyang-Nyang dan berselancar.

Bawalah bekal bahan makanan dan minuman apabila hendak menginap di Pulau Nyang-Nyang. Tidak ada toko atau pun sumber air tawar di Pulau Nyang-Nyang.

Anda dapat meminta penduduk untuk memasak makanan dengan membayar sejumlah uang. Lauk utama biasanya adalah menu santapan laut (ikan), karenanya bagi yang tidak suka ikan hendaknya membawa bahan lauk lainnya.

Selain memastikan membawa sunblock,  penting pula membawa krim anti nyamuk sebab di Kepulauan Mentawai terkenal banyak nyamuk.

Saat berselancar, berhati-hatilah dengan batuan karang yang akan membahayakan peselancar.

Bagi Anda yang ingin membeli oleh-oleh sebagai kenangan, di pulau ini Anda dapat bertemu pedagang cenderamata, seperti kaus atau baju, gelang-gelang, maupun ukiran khas Mentawai berbentuk orang yang mendayung sampan.

Alam, Sumatera Barat

Kepulauan Mentawai: Surganya Peselancar dan Budaya Masyarakat Neolitikum

 

Sekilas

Kepulauan Mentawai adalah bagian dari Provinsi Sumatera Barat dimana sejak tahun 1999 ditetapkan menjadi sebuah kabupaten. Posisi Kepulauan Mentawai yang ada di tengah Samudera Hindia membuatnya dikelilingi alam laut yang mengagumkan dan sempurna untuk wisata bahari. Mentawai telah tersohor menjadi salah satu tujuan wisata berpetualang, wisata budaya, dan wisata bahari terutama surfing yang diminati peselancar dalam dan luar negeri.

Kepulauan Mentawai sendiri merupakan rangkaian pulau non-vulkanik dimana gugusan kepulauannya merupakan puncak dari suatu punggung pegunungan bawah laut. Ada empat pulau yang membentuk Kepulauan Mentawai yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Lokasi pulau-pulau tersebut berada di lepas pantai Provinsi Sumatera Barat yang memanjang dan dikelilingi Samudera Hindia.

Pulau Siberut adalah pulau terbesar di kepulauan ini dan satu-satunya yang memiliki pelayaran regular dengan Kota Padang di Sumatera Barat. Pusat pemerintahan kabupatennya sendiri berada di Tuapejat, yaitu sebelah utara Pulau Sipora.

Surfing atau selancar telah menjadi ikon wisata Kepulauan Mentawai, bahkan tidak jarang digelar kompetisi surfing bertaraf internasional di sini.  Sedikitnya tersebar 400 titik surfing di Kepulauan Mentawai. Ombaknya beraggam dan menantang, bahkan beberapa gulungan ombaknya termasuk dalam kategori extreme yang dicari peselancar dari berbagai penjuru dunia.

Kepulauan Mentawai juga menawarkan atraksi trekking menempuh pedalaman hutan tropis yang masih asli, menikmati gaya hidup masyarakat adat yang tinggal damai di dalamnya. Mentawai adalah sebuah daerah yang belum terjamah banyak oleh tangan manusia dan infrastruktur modern.

Saat Anda mengunjungi Mentawai maka akan disuguhi nuansa peradaban kuno zaman neolitikum dimana suku-suku di kepulauan ini tidak mengenal pengerjaan logam dan bercocok tanam, bahkan tidak juga teknik menenun kain. Jadi, Anda akan melihat perbedaan kebudayaan dengan masyarakat Minangkabau di bagian darat Sumatera Barat.

Mayoritas penghuni kepulauan ini adalah suku Mentawai yang berasal dari Pulau Siberut dengan jumlah sekira 30.000 jiwa. Setiap keluarga di Kepulauan Mentawai terdiri dari 5-15 orang yang tinggal di dalam desa maupun di ladang dekat hutan yang mereka garap. Rumah tradisional khas Mentawai sendiri dikenal dengan sebutan uma.

Kepulauan Mentawai sudah ada sejak lima ratus ribu tahun yang lalu namun tidak terdapat petunjuk atau bukti kapan orang pertama tiba di kepulauan ini. Sebagian besar penduduknya kini masih menganut kepercayaan animisme dan sisanya penganut Kristen dan Islam. Awalnya penduduk setempat meyakini paham Sabulungan yaitu paham yang mempercayai segala sesuatu mulai dari manusia sampai kera, batu dan cuaca yang mempunyai roh yang terpisah dan berkeliaran semaunya. Upacara tradisional oleh Sikerei atau Shaman biasanya dipentaskan selama pesta pernikahan dan saat memasuki rumah baru dengan tujuan untuk mengusir roh-roh jahat.

Suku Mentawai yang menjadi penghuni asli kepulauan yang indah ini. Apabila diamati ada kemiripan dengan suku Nias atau suku Enggano dengan budaya Proto-Melayu. Suku tersebut dikenal sebagai peramu dan ketika pertama kali dipelajari antropolog mereka belum mengenal cara bercocok tanam.

Suku Mentawai memiliki tradisi khas bertato di sekujur tubuh dimana terkait peran dan status sosial penggunanya. Tato tersebut terbuat dari tebu dan pewarna arang kelapa yang dilukiskan dengan menggunakan paku dan jarum serta dua buah kayu sebagai bantalan dan palu. Proses tato tradisional Mentawai dikenal sangat menyakitkan.

 

 

Kegiatan

Kepulauan Mentawai menjadi salah satu tujuan wisata petualangan, budaya dan bahari. Di kepulauan ini juga tedapat beberapa desa budaya yang sangat menarik untuk dikunjungi, seperti Desa Madobak, Desa Ugai, dan Desa Matotonan. Untuk mencapai tiga desa ini maka Anda perlu melalui jalur sungai dan jalan setapak dengan rute Muara Siberut-Rokdok-Madobak-Ugai-Matotonan dengan jarak tempuh sekitar 5-6 jam.

Kunjungi Desa Madobak dimana di sini terkenal dengan air terjun Kulu Kubuk dengan dua tingkatan setinggi 70 meter. Selain mengunjungi air terjun Kulu Kubuk di Desa Madobak atau area  perbatasan Taman Nasional Siberut di Desa Matotonan, Anda dapat berinteraksi dengan kehidupan keseharian masyarakat lokal dan berpartisipasi dalam upacara tradisional mereka.

Anda juga bisa berkunjung ke Danau Rua Oinan yang terletak di tengah hutan di Dusun Saumanganyak. Danau ini berbentuk muara dikelilingi pohon besar.

Bagi Anda yang gemar berselancar maka Kepulauan Mentawai adalah tempat sempurna untuk menantang adrenalin. Di kepulauan ini terdapat beberapa titik selancar dengan ombaknya yang besar dan tinggi, seperti di Desa Bosua yang memilki gulungan ombak mencapai 3 meter. Anda dapat menempuhnya sekira 4 jam dengan speedboat dari Kabupaten Tuapejat. Meskipun pantainya berkarang namun gulungan ombaknya sempurna dan telah terkenal di kalangan peselancar dunia.

Pilihan lokasi lain untuk berselancar adalah Pulau Nyang Nyang di Desa Katurei. Peselancar dari berbagai negara menyebut ombak di sini merupakan yang tertinggi di dunia, yaitu mencapai 4 meter. Pulau Karamajat masih di Desa Katurei juga memiliki ombak panjang dan tinggi yaitu mencapai 2 hingga 4 meter. Di desa ini juga tersedia penginapan terapung. Ombak di Pulau Koroniki, Awera, Teluk Sibigeu, Teluk Sinakak juga patut untuk dijajal.

Apabila Anda lebih memilih tempat yang ombaknya tidak terlalu besar maka bisa mengunjungi Pulau Siruso. Pulau ini cocok untuk rekreasi keluarga dengan pasir putih dan air laut jernih. Anda sekeluarga juga bisa berenang dan bermain pasir di tepi pantainya.

Pantai Bulasat bisa menjadi alternatif lain, selain memiliki pasir putih, juga sangat ramai dikunjungi wisatawan terutama hari libur keagamaan. Untuk menuju pantai ini, Anda bisa menggunakan kendaraan bermotor dan dimanjakan pemandangan alam hijau indah atau di pinggir jalan bisa berhenti untuk membeli durian dan kelapa muda.

Akomodasi

Karena tidak ada pilihan lain maka Anda bisa tinggal di rumah penduduk setempat tetapi jangan khawatir karena penduduk di Desa Madobak, Ugai, dan Matotonan sangat bersahabat dan ramah, mereka terbiasa dengan wisatawan.

Anda yang berkunjung untuk berselancar, tersedia homestay sederhana di beberapa desa tertentu, seperti: Pantai Nyangnyang, Pantai Karang Bajat, Pantai Karonik, dan Pantai Pananggelat Mainut di Kecamatan Siberut Selatan. Pantai Katiet Bosua di Kecamatan Sipora, dan Pantai Selatan. Ada juga Pantai Barat di Kecamatan Pagai Utara.

Apabila Anda hanya ingin tinggal sementara di Mentawai tanpa berkunjung ke tempat-tempat lain di sekitar Kepulauan Mentawai maka berikut ini beberapa hotel yang bisa jadi referensi.

Aloita Resort & Spa

Pulau Simakakang Tuapejat, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat

Telp: +62 (759) 320354

Email: info@aloitaresort.com

Website: http://www.aloitaresort.com/

 

Awera Island Surf Camp

Mentawai

Website: http://www.aweraisland.com/

Coconuts Mentawai

Pulau Mentawai

Telp: +62-816-4821041

Email: rosemary@coconuts-mentawai.com

Website: http://coconuts-mentawai.com/

Kuliner

Bagi masyarakat Mentawai, sagu merupakan makanan utama. Mereka biasa memakan sagu dengan ikan dan babi. Desa-desa di sini juga menanam padi.

Pastikan Anda menemukan makanan khas Mentawai yaitu keripik keladi yang berasal dari tanaman keladi dan menjadi bahan makanan masyarakat Mentawai. Makanan ini hanya ada di Mentawai saja, tepatnya di Desa Tua Pejat.

Berbelanja

Saat Anda berkunjung ke desa-desa tradisional di Kepulauan Mentawai maka Anda bisa membeli dan memesan kalung, wadah dan tas yang terbuat dari batang sagu atau kerajinan yang lainya. Kerajinan seperti panah, peralatan tradisional khas Mentawai, dan juga pengolahan makanan khas Mentawai menjadi salah satu produk yang digemari pengunjung. Anda juga bisa memesan sagu sebagai suvenir.

Transportasi

Akses untuk menuju Kepulauan Mentawai masih mengandalkan kapal motor yang hanya sanggup beroperasi dua kali dalam seminggu, yaitu Minggu malam (Kapal Sumber Rezeki Baru) dan Kamis malam (Kapal Simasin). Perjalanan sekira satu hari, berarti kapal kembali ke Padang pada Selasa dan Jumat malam. Harga tikenya Rp105.000,- sampai Rp125.000,-. Tersedia kapal tambahan yang beroperasi pada Minggu pertama dan kedua setiap bulan. Kapal Ambu-Ambu berangkat pada Sabtu malam dari Muara Padang dan kembali dari Siberut ke Padang pada Minggu malam.

Apabila Anda memutuskan untuk berangkat dari Bandara Internasional Minangkabau maka dapat menyewa pesawat kecil seperti Tiger Air atau SMAC ke Tuapejat di Pulau Sipora. Setelah itu, Anda bisa menyewa kapal untuk perjalanan sekitar 3 sampai 4 jam ke Muara Siberut.

Tips

Untuk mengunjungi desa wisata di Mentawai maka Anda perlu ditemani pemandu wisata yang memahami masyarakat dan budaya setempat. Pemnadu di sini akan meyakinkan keamanan dan kenyamanan Anda selama perjalanan. Anda bisa membayar pemandu wisata dari agen perjalanan di Bukittinggi atau di Pelabuhan Muara Siberut.

Kondisi laut antara Siberut dan Sumatera Barat terkadang terkadang sangat sulit ditempuh kapal karena ombaknya cukup besar. Hal itu khususnya pada Juni dan Juli dimana ombaknya bisa sangat membahayakan jiwa.

April hingga Oktober adalah waktu yang tepat untuk berselancar mengingat bulan tersebut ombak di Kepulauan Mentawai mencapai titik ketinggian maksimal. Pada bulan November hingga Maret, kondisi ombaknya tak terlalu tinggi sehingga kurang menantang untuk kegiatan perselancaran.

Beberapa lokasi yang tepat untuk kegiatan selancar, yaitu: Pantai Nyangnyang, Pantai Karang Bajat, Pantai Karonik, dan Pantai Pananggelat Mainut di Kecamatan Siberut Selatan. Di Kecamatan Sipora tersedia titik selancar di Pantai Katiet Bosua dan Pantai Selatan. Ada juga Pantai Barat di Kecamatan Pagai Utara. Untuk menjangkau lokasi selancar tersebut maka Anda dapat menggunakan kapal motor atau pesawat perintis. Tersedia pula jasa pemandu tur. Jika ingin bermalam terdapat sederetan penginapan di sepanjang pinggir pantai di Kepulauan Mentawai.

Alam, Sumatera Barat

Danau Kembar: Keindahan Alam Berselimut Nuansa Mistis

Sekilas

Kabupaten Solok merupakan wilayah yang memiliki danau-danau indah. Daerah hijau dan subur ini berada pada ketinggian 400-1.700 mdpl dan memiliki empat buah danau, yaitu Danau Singkarak, Danau Talang, Danau Diateh (Diatas), dan Danau Dibawah. Dua danau terakhir disebut sebagai Danau Kembar karena hampir sama luasnya dan letaknya berdekatan.

Danau Kembar terletak di Kabupaten Solok, tepatnya di daerah Bungo Tanjung, Alahan Panjang. Lokasi danau ini sangat strategis dan terletak di atas ketinggian sehingga suhu udaranya sangat dingin. Pegunungannya yang dibalut kabut dan aktivitas petani kol, kentang, cabe, dan aneka sayuran lainnya menjadi menjadi pemandangan tersendiri yang khas.

Alahan Panjang memiliki udara yang cukup dingin bahkan saat siang hari sekalipun. Anda akan melihat pemandangan yang biasa di sini dimana masyarakatnya mengenakan kain sarung.

Dari Kota Padang, Danau Kembar berjarak sekitar 65 km melewati jalan tanjakan dan tikungan. 15 km perjalanan meninggalkan pusat kota Padang maka Anda akan disuguhi pemandangan perbukitan, hutan, dan jurang yang curam. Begitu sampai di Lubuk Selasih, sekitar 35 km dari pusat kota Padang, Anda berbeloklah ke kanan untuk menuju arah Solok Selatan untuk menikmati suguhan aroma daun teh segar di antara hamparan perkebunannya yang membentang luas.

“..Dari puncak bukit Anda akan melihat kilatan ikan berenang di Danau Dibawah.”

Danau Diatas dan Danau di Bawah sering disebut juga sebagai Danau Kembar. Meskipun disebut kembar, keduanya sungguh berbeda baik luas, bentuk, maupun ketinggiannya. Uniknya danau yang letaknya lebih tinggi itu disebut Danau Di bawah. Keduanya berada saling berdampingan di jajaran Bukit Barisan. Jarak di antara keduanya hanya sekitar 300 meter sehingga disebutlah Danau Kembar.

 

Anda yang hobi memancing bisa menyalurkannya di sini. Anda juga bisa melihat Gunung Api Talang yang masih aktif. Kawasan Danau Kembar juga memiliki agroturis yang luas dan khas, seperti perkebunan teh, markisa, dan sayur-mayur. Di kawasan ini juga tersedia wisata outbond, tracking, olah raga air, dan kegiatan rekreasi lainnya. Sepulang menikmati panorama Danau Kembar, Anda dapat membeli beraneka ragam jenis bunga di sekitar danau.

Kegiatan

Keperawanan alam dan keaslian budaya masih kental di daerah ini.  Bila Anda datang dari arah Solok maka bisa langsung menuju Danau Dibawah dari Terminal Bareh Solok. Jalannya memang sedikit sempit namun pemandangannya sangat mengagumkan. Hutan pinus, perkebunan teh dan lembah akan Anda lewati. Sekitar 3 jam perjalanan, Anda akan sampai ke danau pertama, yaitu Danau Diatas.

Danau Diatas adalah danau yang lebih besar dibanding satunya. Terdapat sebuah dermaga kayu kecil di sana. Tempat ini menyajikan pemandangan danau yang alami dengan air yang bening. Pohon-pohon pinus yang tumbuh di tepian membuatnya seakan dijaga pagar alami.

Setelah menikmati Danau Diatas, Anda bisa menuju arah Timur untuk menjumpai Danau Dibawah. Danau Dibawah berjarak kira-kira 1 km di tempat yang terletak lebih tinggi. Danau tersebut dinamakan Danau Dibawah karena ketika melihatnya, danau tersebut terletak di bawah Anda. Anda harus berjalan ke tempat yang lebih tinggi untuk melihat danau ini. Kontur Alahan Panjang yang berbukit-bukit, membuatnya seperti mangkuk hijau raksasa. Panorama yang disajikan di sini tak kalah indahnya sambil menikmati buah markisa yang banyak dijual di sepanjang jalan.

Danau Kembar merupakan danau vulkanik besar yang terletak tidak berjauhan dan hampir berdampingan karena dipisahkan oleh sebuah bukit yang menjulang di antara keduanya. Keindahan kedua danau ini bisa Anda saksikan dari puncak bukit tersebut. Apabila Anda perhatikan dari atas bukit tersebut maka terlihat posisinya yang lebih dibawah adalah Danau Diatas dan sebaliknya Danau Dibawah jauh lebih di atas ketimbang kembarannya. Akan tetapi bila diukur maka Danau Diatas lebih tinggi posisinya.

Ikan-ikan di Danau Dibawah jarang ditangkap sehingga ukurannya besar dan jumlahnya cukup banyak. Dari puncak bukit Anda akan melihat kilatan dari ikan berenang di Danau Dibawah.

Danau Kembar memiliki nuansa magis ditambah budaya masyarakat setempat yang terkenal kental dengan ilmu mistisnya. Bahkan ilmu mistis masyarakat Danau Kembar  sudah terkenal di Kabupaten Solok. Banyak yang datang ke daerah ini untuk belajar ilmu kebatinan atau belajar silat yaitu silek pakieh rabun atau silek luncue.

 

Berkeliling

Di dua danau ini Anda bisa menikmati tur keliling danau dengan menggunakan perahu masyarakat setempat yang dapat disewa. Sebelum Anda sampai di Danau Dibawah, Anda bisa mampir sejenak menikmati panorama indah dan sejuknya angin sambil makan siang di beberapa lokasi yang sudah tersedia.

Anda juga bisa berkunjung ke Gunung Talang dari lokasi ini. Kunjungi pula Danau Talang yang terletak di pinggang Gunung Talang. Danau ini memiliki luas 1950 m x 1050 m, kedalaman 88 m, dan ketinggian 1674 mdpl. Selain itu ada juga Danau Kecil seluas 400 m x 100 m dan ketinggian 1707 m.  Di daerah Bukit Kili, terdapat mata air panas di kaki gunung api itu.

 

Akomodasi

Anda yang ingin menginap sambil menikmati keindahan alam di malam hari maka tersedia beberapa villa dengan harga antara Rp100.000,00 hingga Rp150.000,00 per kamar semalamnya.

Convention hall atau juga dikenal dengan Alahanpanjang Resort berada di tepian Danau Diateh (Danau Diatas) yang menyediakan 14 villa dengan kapasitas 36 kamar dilengkapi tempat tidur, lemari, meja dan kursi, serta kamar mandi. Ada aula berkapasitas 400 kursi yang dapat dimanfaatkan untuk pertemuan, rapat-rapat dan serimonial lainnya. Tersedia fasilitas pelengkap lain seperti mushala, dua kafe, serta dermaga kapal penyeberangan. Hamparan indahnya danau dan deretan villa mengekspresikan keindahan Danau Kembar yang begitu alami dan memukau.

Apabila Anda ingin memilih akomodasi di sekitaran Kabupaten Solok maka kami referensikan beberapa di antaranya berikut ini.

 

Ceredek Hotel

Jl. Perpatih Dt. Nan Sebatang Solok

Telp  : +62 755 20931

Melati Kodim Wisma

Jl. M. Yamin, SH

Telp  : +62 755 201413

Sinar Timbulun Hotel

Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 14

Telp  : +62 755 20026

Sulti Indah Wisma

Jl. Kampung Alak No. 26

Telp  : +62 755 70031

Taufina Hotel

Jl. Raya By Pass

Telp  : +62 755 21516, 3284840

Terang Penginapan

Jl. RA. Kartini

Telp  : +62 755 20236

Ully Hotel

Jl. Syekh Kukut No. 2, Solok

Telp  : +62 755 20095, 20086

Zam-Zam Wisma

Jl. Kampung Palak No. 26

Telp  : +62 755 70057

 

 

Kuliner

Datanglah ke Restoran Kayu Aro Solok di sebelah kantor Bupati Kabupaten Solok di daerah Aro Suka. Lokasinya berada tepat di sebelah kanan jalan dari Padang ke Solok. Cicipi  dendengnya yang lezat dan berbagai lauknya. Pemandangan perbukitan yang indah ditambah sejuknya udar pasti membuat Anda betah berlama-lama di sini.

Ada sop talang di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok yang rasanya lezat. Ini dipadu dengan hawa kaki Gunung Talang yang sejuk.

 

Restoran Dendeng Baracik H. Emmy Solok menyajikan kelezatan dendeng yang diracik dengan air kelapa. Anda bisa lupa berapa banyak potongan dendeng yang dihabiskan karena dijamin lezat. Ada juga penganan khas Minang seperti bubur kampiun dan ketan hitam. Berada Kecamatan Gunung Talang, tidak jauh dari SMP Talang, di sebelah kanan jalan menurun yang menuju Solok dari arah Padang.

 

Pilihan lain adalah Resto Meri di dekat wilayah Koto Baru. Anda dapat mencicipi ikan yang nikmat ditemani kerupuk singkongnya yang lezat.

 

Belanja

Tanah dan iklimnya yang sejuk membuat tempat ini sesuai untuk berbagai tanaman bunga dan buah-buahan. Terdapat sejumlah kebun sayur dan pesawahan di sekelilingnya. Sepanjang perjalanan ke Danau Diatas, mata Anda akan di manjakan panorama dan keindahan alam pegunungan yang indah dan kebun teh membentang luas. Semakin dekat ke lokasi akan terlihat kebun sayuran seperti kol, kentang, wortel, dan yang lainnya.

Ada buah-buahan khas Alahan Panjang yang dapat Anda beli dan Anda cicipi yaitu buah markisa dan terong virus.

 

Transportasi

Untuk mengunjungi Danau Kembar dan sekitarnya, setibanya Anda di Minangkabau International Airport di Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman, Anda bisa menggunakan travel dengan sistem sewa per hari berkisar Rp300.000,00 hingga Rp500.000, itu belum termasuk biaya bahan bakar. Transportasi umum belum bisa diandalkan untuk angkutan wisata yang bisa melayani satu-dua orang, kecuali rombongan.

Untuk mencapai lokasi Danau Kembar Dari Kota Padang, Anda dapat menggunakan bus antarkota dengan ongkos Rp20.000,00 menempuh perjalanan sejauh 60 km dalam waktu sekitar 1½ jam mengingat jalannya cukup berliku.

Alahan Panjang tempat dimana Danau Kembar berada bisa ditempuh dengan mobil atau motor sekitar 3 jam dari kota Padang. Sebelum sampai ke tujuan, sepanjang perjalanan dari Padang-Simpang Lubuak Selasiah, mata Anda akan disuguhi suatu pemandangan dan karakteristik alam pegunungan yang lengkap.

 

 

Tips

  • Kawasan danau kembar relatif bersuhu dingin, 14-16 derajat Celsius, karenanya Anda perlu membawa baju hangat.
  • Bila Anda datang dari arah Lubuk Selasih maka sekitar 1 km menjelang sampai di rumah makan Bungo Tanjung, Anda akan menyaksikan hamparan air Danau Diatas yang membiru, alam sejuk, asri, dan segar.

Budaya, Sumatera Barat

Tari Payung: Tarian Kasih Sayang dari Negeri Minang

Negeri Minang adalah tempat dengan beragam pesona. Banyak yang dapat Anda temukan dan nikmati di negeri yang masyarakatnya matrilineal ini. Lihat saja keindahan bentang alamnya yang hijau permai, lembah-lembah terhampar, perbukitan megah, serta danau-danaunya sehingga disebut negeri seribu danau.

Tidak hanya pesona alam yang memukau, tradisi dan kebudayaannya pun terbilang unik dan berciri khas tersendiri.  Kekayaan citarasa kulinernya misalnya, tentu sudah bukan suatu yang asing lagi bagi masyarakat Indonesia dan bahkan dunia. Rendang sudah mendapat popularitas yang bergengsi di dunia. Belum lagi bentuk rumah adat yang fenomenal, seni tradisi yang menarik, serta adat dan istiadat yang masih dilestarikan.

Berbicara mengenai seni tradisi, Negeri Minang memiliki sejumlah seni tari memikat dan atraktif seperti tari piring, tari randai, tari selendang, tari barabah, tari rancak, dan tari payung. Berbicara mengenai tari payung, dapat dikatakan inilah salah satu tari popular yang kerap dipentaskan dalam acara-acara pernikahan adat Minang. Tari ini dikenal sebagai tari pergaulan yang melambangkan kasih sayang sepasang kekasih.

Sebagai tarian yang melambangkan kasih sayang, Tari payung tentu ditarikan berpasangan oleh 3 atau 4 pasang penari. Ada beberapa variasi gerakan dimana penari lelaki berpindah pasangan namun hal ini bukan menandakan ketidaksetiaan melainkan hanyalah bentuk variasi atau kreasi semata.

Sesuai namanya, properti wajib yang digunakan dalam pementasan tari ini adalah payung yang dibawa penari lelaki mengusung simbol sebagai pelindung. Penari lelaki akan menutupi kepala penari wanita yang menjadi pasangan menarinya. Sementara, penari wanita mengenakan selendang khas Padang sebagai pelengkap kostum dan kemungkinan memiliki simbol khusus sebagai kesiapannya membina rumah tangga.

Musik pengiring Tari Payung berirama variatif. Ritme musik akan dimulai dengan pelan secara dinamis berpacu lebih cepat lagi mengiringi para penari. Tentunya perubahan ritme yang dinamis ini menambah kesan kemeriahan tersendiri pementasan Tari Payung. Musik yang biasa mengiringi tarian ini umumnya dihasilkan dari perpaduan alat-alat musik tradisional, seperti gong, rebana, akordion, gendang, dan gamelan khas Padang. Nada yang dihasilkan tentunya bernuansa Melayu kental.

Adapun lagu yang menjadi pengiring tarian cantik ini adalah sebuah lagu berjudul “Babendi-bendi ke Sungai Tanang”. Lagu klasik Melayu ini bercerita mengenai sepasang suami istri yang tengah berbulan madu di suatu tempat bernama Sungai Tanang.

Unsur kebudayaan Melayu memang terasa kental dalam sebuah suguhan pertunjukkan Tari Payung. Tari ini adalah salah satu tari klasik yang dulunya merupakan pelengkap ritual adat Minangkabau. Sebagai tari ritual, terdapat sejumlah pakem baik itu dalam bentuk gerakan, kostum, dan lainnya.

Akan tetapi, kini Tari Payung telah mengalami sejumlah perubahan atau penyesuaian seiiring bergesernya fungsinya sebagai tari populer. Tari Payung mendapat sentuhan pengaruh seni modern atau mengalami modernisasi baik dari budaya Timur maupun Barat. Senian-seniman tari di Sumatra Barat memang melakukan beberapa penyesuaian tersebut agar tari ini lebih menarik saat dikemas sebagai seni tari pertunjukkan populer. Meskipun telah bergeser, kedudukan tari payung tetaplah berakar pada seni warisan nenek moyang.

Tari Payung pun kini mendapatkan tempat di banyak tari baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, tari ini biasa dipentaskan dalam acara-acara khusus, seperti pesta, pameran, dan lainnya.

Berikut ini adalah lirik lagu pengiring Tari Payung yang berjudul “Babendi-bendi ke Sungai Tanang”.

Babendi-bendi

Babendi-bendi

Ka sungai tanang

Aduhai sayang (2x)

Singgahlah mamatiak… singgahlah mamatiak

Bunga lembayung (2x)

Hati siapo… indak ka Sanang, aduhai sayang… (2x)

Mailek rang mudo… mailek rang mudo manari payung… (2x)

Hati siapo… hati siapo… indak ka Sanang aduhai sayang… (2x)

Mailek si nona… mailek si nona manari payung… (2x)

 

Berbendi-bendi

Berbendi-bendi

Ke sungai tenang… aduhai sayang (2x)

Singgahlah memetik… singgahlah memetik bunga lembayung

Hati siapa..hati siapa tidaklah senang aduhai sayang (2x)

Melihat orang muda… melihat orang muda menari payung…

Hati siapa tidaklah senang aduhai sayang (2x)

Melihat si nona… melihat si nona… menari paying (2x)