Kain Cual: Tenunan Cantik khas Anambas

Saat Anda menyambangi Anambas di Provinsi Kepulauan Riau maka janganlah lupa membeli kain cual. Kain cual merupakan tenunan cantik halus berwarna cerah serupa dengan di Bangka Belitung, kain songket Palembang dan Samba namun yang membedakan adalah motifnya. Cual di Anambas berasal dari singkatan ‘belacu dijual‘ dan merupakan cikal bakal kain tenun songket yang diperjualbelikan di Pulau Siantan.

Keahlian menenun kain cual di Anambas diajarkan pertama kalinya oleh Hj. Halimah sejak 1863, di Kampung Teluk Encau yang sekarang menjadi bagian dari Kecamatan Siantan Timur di Pulau Siantan. Beliau berasal dari Siam, datang bersama suami beserta keluarganya yang ketika itu ingin berlayar ke Sambas, Kalimantan Barat. Mereka akhirnya memilih menetap di Pulau Siantan sampai beberapa waktu lamanya karena kapal yang ditumpangi rusak. Di Teluk Encau, Hj. Halimah menjadi guru mengaji bagi anak-anak usia SD, juga mengajarkan perempuan di sana menenun kain cual.

Kain cual Anambas begitu istimewa karena kehalusan, keindahan, serta kemewahan motifnya. Kain ini dipakai selain sebagai kain biasa yang digunakan untuk keperluan pribadi, juga dikenakan bangsawan khususnya saat hari perayaan maupun pernikahan.

Bahan kain cual terbuat dari kapas atau katun untuk benang kain dari Siantan, pewarna dari kayu samak, bahan benang dibuat dari benang belacu dan benang emas yang didatangkan dari Sambas. Begitu juga dengan alat tenun pertama kali didatangkan dari Sambas.

Kain cual yang sempat beberapa waktu lama hampir punah ketenarannya karena berkurangnya wanita yang pandai menenun. Kini kain cual sedang dihidupkan lagi sebagai warisan budaya khas Anambas. Dimulai sekira tahun 2010 lalu,  Ibu Yeni Fatria selaku Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) sampai saat ini giat mengangkat kembali citra kain cual sekaligus sebagai upaya pelestarian.

Saat Anda menyambanginya maka dapat menggali informasi keberadaan orang–orang yang mempunyai kemampuan menenun, serta ibu-ibu yang masih menyimpan kain cual berusia ratusan tahun. Pemilik kain cual lawas tersebut mengkhawatirkan kondisi kain yang mudah rapuh, apalagi sangat berharga sehingga tidak boleh dipinjamkan.

Sebagai solusinya, sebagai langkah awal misi mereka,  kain tersebut difoto inci per inci dan hasilnya dikirimkan ke Palembang (Sumatera Selatan) untuk dibuatkan kain tenun dengan mutu yang sama. Kemudian dimodifikasi ulang setelah ditenun menjadi kain batik di Pekalongan (Jawa Tengah), dan muncul dalam bentuk batik tulis dan cap.

Pembuatan di luar daerah ini dikarenakan belum tersedia alat tenun, cap, maupun alat cetak yang memadai untuk produksi kain cual di Kepulauan Anambas. Hasilnya, dari delapan motif asli kain cual, terdapat lima motif yang telah dipantenkan dan diberi nama Bunga Pucuk Rebung, Padang Terbakar, Tudung Saji, Bulan Purnama, dan Sampan Berlayar. Menyusul motif lainnya akan segera dipatenkan juga.

Warisan budaya dan keindahan motif yang tertuang dalam kain cual  tenunan asli dapat Anda hargai senilai Rp2.000.000,- sampai Rp4.000.000,-.  Sedangkan untuk kain cual cap atau print seharga Rp150.000,-. Anda bisa membelinya di kantor Dekranasda di depan Gedung DPRD Kabupaten Anambas di Kota Tarempa.

[ssba]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *