Rencong: Pusaka dan Simbol Ketangguhan Orang Aceh

Salah satu julukan Aceh “Tanah Rencong” dimana itu berasal dari senjata tradisional orang Aceh, yaitu rencong (reuncong). Rencong atau dalam bahasa Aceh disebut dengan rintjong, merupakan senjata para bangsawan dan lambang keberanian pejuang rakyat Aceh di masa perjuangan melawan penjajah. Senjata ini sudah dikenal sejak abad ke-16 pada masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah, yaitu pendiri Kesultanan Aceh.

Bentuk rencong seperti huruf L tetapi bila dilihat lebih dekat itu sebenarnya adalah bentuk kalimat bismillah. Rencong termasuk kategori senjata belati dan bukan pisau ataupun pedang. Senjata ini mirip pedang yang dipakai prajurit Turki pada masa Sultan Mahmud, Kerajaan Ottoman Turki. Dimungkinkan bentuknya dipengaruhi dari sana saat Sultan Al Kahar dari Kesultanan Aceh meminta bantuan Khalifah Turki Ottoman untuk menyerang Portugis. Senjata ini begitu terkenal bahkan tersimpan di Museum Praha, Ceko dan tentunya tersimpan pula di Museum Nasional di Jakarta.

Rencong selalu diselipkan di pinggang Sultan Aceh, selain juga dipakai oleh Ulee Balang dan pejuang Aceh. Berbeda dengan keris yang diselipkan di pinggang belakang, rencong justru diselipkan di pinggang depan sebagai makna siap untuk bertempur. Senjata ini digunakan setiap pria dan wanita Aceh sebagai penanda keperkasaan dan ketinggian martabat, sekaligus simbol pertahanan diri, keberanian, kebesaran, dan kepahlawanan untuk melawan penjajah.

Nyatanya memang dahulu rencong dikenal sebagai senjata yang mematikan. Dalam Perang Aceh diceritakan seorang pejuang Aceh mampu menewaskan serdadu Hindia Belanda bersenjata lengkap hanya dengan sebilah Rencong sehingga prajurit penjajah seringkali menyebut pasukan Aceh sebagai orang gila atau “Aceh pungo”. Salah satu yang membedakan rencong dengan senjata tradisional lainnya di Nusantara adalah s tidak pernah diasah karena hanya ujungnya runcingnya yang digunakan.

Bentuk rencong dinafasi nilai Islam dimana terlihat dari bentuknya yang terinspirasi dari kalimat bismillah (aksara Arab). Gagangnya melekuk dan menebal pada sikunya dari aksara ba, bujuran gagangnya aksara sin, bentuk lancip yang menurun ke bawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya dari aksara mim, lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya dari aksara lam, ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit ke atas dari aksara ha. Rangkain dari aksara ba, sin, lam, dan ha itulah yang mewujudkan kalimat bismillah. Dengan alasan itulah mengapa rencong hanya digunakan untuk perang suci (jihad) memerangi penjajah dan menegakkan keadilan.

Gagang rencong ada yang lurus dan ada pula yang melengkung ke atas. Rencong melengkung ke atas disebut rencong meucungkek dan terbuat dari gading serta tanduk pilihan. Rencong meucungkek disisipkan di bagian pinggang atau dibagian pusat sehingga orang tersebut tidak bisa menundukkan kepala atau membongkokkan badannya untuk memberi hormat kepada orang lain karena perutnya akan tertekan dengan gagang meucungkek tersebut. Maknanya jenis rencong ini adalah agar tidak terjadinya penghormatan berlebihan kepada sesama manusia, karena kehormatan yang hakiki haya milik Allah. Gagang meucungkek itu juga dimaksudkan agar saat darurat dapat ditarik cepat dari sarungnya dan tidak akan mudah lepas dari genggaman.

Rencong milik Sultan Aceh terbuat dari emas yang berukir kutipan ayat suci Al-Quran dan bersarungkan gading. Kini rencong emas milik Sultan Aceh dapat dijumpai di Museum Sejarah Aceh. Sementara itu, rencong umumnya dibuat dari perak, kuningan, besi putih dan sarungnya terbuat dari kayu atau tanduk kerbau. Rencong yang ampuh biasanya dibuat dari besi pilihan yang di padu logam emas, perak, tembaga, timah serta dilumuri racun.

Zaman dulu rencong hanya memiliki satu model saja dengan ukiran gagang yang diterapkan hanya sebatas motif etnik seperti pintu Aceh dan pucuk rebung. Pembuatan rencong kini bervariasi dengan motif ukiran yang lebih kreatif, seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan, serta jenis ukuran pun beragam. Sekarang rencong dipakai sebagai simbol adat dan budaya Aceh hingga pelengkap pakaian tradisional. Rencong juga seringkali dijadikan cenderamata untuk tamu kehormatan dan dijual untuk wisatawan.

Awalnya tempat pembuatan rencong berpusat di Kutaraja (sekarang Banda Aceh) dan perajin berkumpul di Gampong Pande. Kini, jika ingin tahu lebih banyak mengenai cara pembuatan rencong, Anda dapat mengunjungi pusat pembuatannya di Desa Baet Mesjid, Desa Baet Meusagoe dan Desa Baet Lampuot Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar. Desa tersebut dijadikan sebagai Kampung Rencong dengan tujuan untuk pelestarian dan umumnya dilakukan laki-laki secara turun temurun.

Untuk menemukan tempat pembuat rencong maka Anda bisa menyambangi kios-kios penjual cenderamata di Kota Takengon (Aceh Tengah), Pidie Jaya, Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Kota Sabang, dan Aceh Singkil. Sentra souvenir rencong juga tersebar di Jalan Sri Ratu Safiatuddin, Desa Peunayong, Kecamatan Kuta Alam ataupun Jalan Mohd Djam, Desa Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, atau di Jalan Tentara Pelajar Desa Merduati Kecamatan Kutaraja.

Jika langsung membeli kepada perajin, harga sebuah rencong sekira Rp100.000,- sampai dengan Rp120.000,-. Untuk menghindari karat, sebaiknya memilih Rencong yang terbuat dari besi putih. Para perajin pun memberikan layanan khusus kepada jika Anda ingin memesan dalam jumlah dan motif tertentu, serta garansi jika terdapat kerusakan.