Home Blog Page 15

Palem Beach: Amoi di Pesisir Singkawang

Kota Singkawang seibarat Kota Amoi dan China Town-nya Indonesia. Itu karena mayoritas penduduknya (sekitar 70%) merupakan etnis Tionghoa. Kota yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak, Malaysia ini memiliki sebuah pantai elok yang memikat, yaitu Pantai Pasir Panjang.

Pantai Pasir Panjang terletak di Kecamatan Tujuh Belas, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat. Kota Singkawang berjarak sekitar 142 kilometer dari Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Bandara Supadio atau Terminal Bus Pontianak, Anda dapat naik taksi, travel, atau bus sampai Kota Singkawang. Dari pusat Kota Singkawang, Pantai Pasir Panjang berjarak sekitar 17 kilometer lagi. Pengunjung dapat mengaksesnya dengan menggunakan taksi, bus, atau minibus.

Pantai Pasir Panjang telah menjadi ikon pariwisata Kota Singkawang dan salah satu objek wisata andalan Provinsi Kalimantan Barat. Bahkan kini telah dikembangkan menjadi sebuah paket wisata terpadu bernama Taman Pasir Panjang Indah (TPPI). Dinamakan Pantai Pasir Panjang karena pantainya membentang panjang melengkungi laut lepas.

Dari bibir pantai, Anda dapat menikmati panorama laut biru berlatar kaki langit yang juga biru. Samar-samar di kejauhan membias hijau Pulau Lemukutan, Pulau Kabung, dan Pulau Randayan yang dipagari perairan Laut Natuna. Hamparan pasir pantainya yang luas dan bersih menjadikan kawasan ini nyaman digunakan untuk berjemur atau melakukan aktivitas olahraga, seperti voli pantai dan sepakbola pantai.

Air lautnya yang jernih dan bersih sangat mendukung aktivitas Anda yang ingin berenang atau menyelam. Selain itu, ombaknya relatif besar dan menjadi rumah bagi banyak ikan sehingga tepat sekali digunakan sebagai arena berselancar dan area memancing.

Suasana kawasan ini kian eksklusif menjelang detik-detik terbenamnya Matahari (sunset) di balik pulau-pulau yang terdapat di sekitar kawasan pantai ini. Anda dapat menikmatinya dari pinggir pantai atau dari pondok-pondok wisata yang banyak terdapat di kawasan tersebut.

Bila bosan di pantai, Anda dapat melihat-lihat kehidupan masyarakat kampung nelayan yang tidak terlalu jauh dari lokasi pantai, atau bersantai di shelter-shelter yang terdapat di Semenanjung Cinta.

Di kawasan Pantai Pasir Panjang terdapat pusat informasi pariwisata, persewaan speed boat, sepeda air, darmoling, gokart, shelter-shelter, pondok wisata, dan toko suvenir. Pengunjung yang tidak terbiasa berenang di pantai dapat berenang di kolam renang yang tersedia sedangkan yang tidak suka berenang atau pun berjemur dapat mengelilingi pantai dengan naik banana boat. Pengunjung yang membawa anak-anaknya tetap bisa bersenang-senang karena di kawasan ini tersedia arena bermain anak-anak.

Anda tidak bakalan kesulitan mencari makanan karena di kawasan ini terdapat restoran, kafe, warung makan, dan pedagang asongan. Begitu juga yang ingin menginap, tidak perlu repot membawa tenda atau sleeping bag karena di kawasan ini tersedia wisma dan hotel dengan berbagai tipe. Salah satu akomodasi yang memadai adalah Palapa Beach Hotel. Berbagai fasilitas lengkap hotel ini siap memanjakan Anda yang berlibur ke pantai pasir panjang, Singkawang.

Kemeriahan Cap Go Meh Singkawang Kembali Hadir

Kemeriahan festival bernuansa Imlek yang selalu sukses digelar setiap tahun kembali hadir. Festival ini menampilkan sekira 813 tatung yang berlangsung pada Sabtu (8/2). Tidak hanya dari dalam negeri, kemeriahan juga akan menampilkan tarung dari negara tetangga. Perayaan Cap Go Meh selalu meriah di Singkawang setiap tahunnya, bahkan bisa dibilang yang paling meriah di Tanah Air. Oleh karena itu, Anda perlu menjadi bagian dari pengunjung yang menyaksikan kemeriahannya di Singkawang, Kalimantan Barat.

Festival Cap Go Meh Singkawang 2020 berlangsung sebagai atraksi mengisi liburan terbaik Anda dimana rangkaian acaranya sudah dapat dinikmati sejak 23 Januari hingga 9 Februari. Pusat venue festival ada di Stadion Kridasana, Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar).

Setidaknya sebanyak 800 Tatung datang dari 5 wilayah di Kalbar. Ada Singkawang, Pontianak, Sungai Pinyuh (Mempawah), Bengkayang, hingga Pemangkat (Sambas). Para Tatung semakin berwarna dengan kehadiran 11 peserta asal Kuala Lumpur, Malaysia. Ada juga Tatung asal Taiwan.

Tatung dalam bahasa Hakka berarti orang yang dirasuki roh, dewa, leluhur, atau kekuatan supranatural. Pawai tatung di Singkawang ini merupakan yang terbesar di dunia. Selain memiliki ciri khas budaya tradisi, aneka pertunjukan yang disajikan pada perayaan Cap Go Meh di Singkawang menyerap dan berasimilasi dengan budaya lokal.

Pawai akbar ini dihadiri lebih dari 600 undangan. Pejabat tinggi, pejabat negara, unsur pemerintah pusat hingga provinsi dan daerah, ada dalam daftar tamu yang diundang. Atraksi yang satu ini memang sedikit memberikan sensasi ketegangan tersendiri. Ini merupakan parade atraksi kesaktian warga Dayak-Tiongkok dalam merayakan Cap Go Meh, perayaan yang dilakukan pasca hari raya imlek. Atraksi yang diberi nama pawai tatung ini mengikuti tradisi Tionghoa yang berbaur dengan budaya Dayak yang hanya ada di Singkawang.

Dalam kepercayaan Tionghoa, ritual pawai tatung diyakini mampu mengusir roh-roh jahat dari seluruh penjuru kota. Para tatung dirasuki oleh roh leluhur sehingga di bawah alam sadar mereka mempertunjukkan ilmu kesaktiannya seperti menusuk pipi, kebal dengan senjata tajam, hingga aksi mengupas kelapa dengan gigi.

Konon, Kota Singkawang pada saat Cap Go Meh dipercaya menjadi pusat berkumpulnya para dewa. Setiap 15 hari setelah tahun baru Imlek, warga Tionghoa di seluruh dunia merayakan Cap Go Meh yang ditujukan sebagai penutup dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek.

“Parade Tatung tahun ini tetap meriah. Peserta yang mendaftar tetap antusias. Beberapa merupakan peserta festival tahun lalu. Nantinya para Tatung yang lolos verifikasi akan beraksi di Festival Cap Go Meh 2020,” ungkap Ketua Harian Panitia Imlek dan Cap Go Meh Singkawang 2020 Tjhai Leonardi.

Saat ini proses verifikasi Tatung masih berjalan hingga Senin (20/1). Selain administrasi, proses verifikasi juga dilakukan atas beragam peralatan yang digunakan para Tatung. Sebut saja, tandu-tandu yang akan digunakan para Tatung.

“Proses verifikasi masih dilakukan hingga pekan depan. Kami harus memastikan semua peralatan yang digunakan itu layak,” katanya.

“Tatung selalu menjadi daya tarik. Ada beragam aksi yang dipertontonkannya. Untuk menyaksikannya, para wisatawan pun bisa berdiri di sepanjang Jalan Diponegoro. Meski demikian, rangkaian Festival Cap Go Meh Singkawang secara keseluruhan tetaplah menarik,” tegas Leonardi lagi.

Selain Tatung, Festival Cap Go Meh Singkawang 2020 menampilkan beragam kemeriahan. Openingnya digelar Kamis (23/1) di Stadion Kridasana, Singkawang. Pesta tersebut nentinya menampilkan warna budaya multi etnis, replika Pagoda, hingga Expo beragam produk UMKM.

Festival semakin spesial dengan Pemilihan Hakka Ako dan Amoi Singkawang, Sabtu (1/2). Selang sehari berikutnya ada Lomba Atraksi Naga. Wisatawan juga bisa menikmati Karnaval Mobil Hias Lampion di hari Senin (6/2). Pada hari yang sama disajikan juga Food Fair CGM 2020.

Festival Cap Go Meh selama ini selalu menjadi salah satu penggerak perekonomian Singkawang. Pada 2019, festival mampu memantik pergerakan wisatawan hingga 76.964 orang. Jumlah tersebut naik 9,9% dari 2018. Paspor asing yang dijumpai, seperti Taiwan, Singapura, Malaysia, Australia, Thailand, Hong Kong, dan Filipina.

Singkawang merupakan kota kedua terbesar di Provinsi Kalimantan Barat setelah Pontianak. Tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, Singkawang memiliki suasana oriental yang berbeda dengan kehadiran ratusan kuil yang ditemukan di hampir setiap sudut kota. Hal itu karena lebih dari 70% penduduk Singkawang adalah keturunan Tionghoa, terutama dari suku Hakka dan beberapa suku Teochew. Lainnya adalah Melayu, Dayak dan etnis lainnya di Indonesia.

Pada abad ke-18, Kalimantan Barat memikat banyak orang dari daratan Tiongkok untuk datang ke tambang emas di Monterado (sekarang disebut Kecamatan Bengkayang). Kala itu ribuan orang China datang dan dalam perjalanan mereka memutuskan untuk bermalam di Singkawang hingga akhirnya sebagian besar menutuskan untuk menetap di Singkawang dan keturunannya saat ini membentuk mayoritas penduduk Singkawang.

Hari raya Cap Go Meh sendiri atau dinamai Yuan Xiaojie jatuh setiap tanggal 15 bulan pertama tahun Imlek. Awalnya perayaan Cap Go Meh sekitar tahun 180 SM, dimana Kaisar Hanwudi yang berkuasa pada masa Dinasti Han Barat naik takhta pada tanggal 15 bulan pertama Imlek. Untuk merayakan penobatannya, ia menjadikan tanggal 15 bulan pertama sebagai hari raya lampion. Pada tahun 104 SM, Festival Cap Go Meh resmi dicantumkan sebagai hari raya nasional negeri Tiongkok.

Hingga kini Cap Go Meh adalah salah satu dari hari raya tradisional Tiongkok dan dirayakan di berbagai negara dengan komunitas etnis Tionghoa berada. Menurut tradisi rakyat Tiongkok bahwa setelah Cap Go Meh maka berakhirlah seluruh perayaan Tahun Baru Imlek. Hari raya Imlek bagi kaum Tionghoa memiliki beragam arti, antara lain makna astronomis, agamis, agraris, sosial budaya, politis, dan juga bisnis.

Java Jazz Festival 2020: “Redeem Yourself Through Music”

Energi terbaik terus ditiupkan Java Jazz Festival. Untuk edisi 2020, grup musik legendaris dunia The Jacksons diplot sebagai kado terbaik, Sabtu (29/2). Selain kumpulan kakak mendiang Michael Jackson, Java Jazz Festival 2020 juga menawarkan aksi kekinian Omar Apollo dan beragam musisi lain.

Java Jazz Festival 2020 secara keseluruhan digelar 28 Februari hingga 1 Maret. Event ini bisa dinikmati di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Kehadiran The Jacksons dipastikan membuat pesta jazz tahun ini semakin spesial. Apalagi, The Jacksons sedang menggelar tur 50 tahun masa berkaryanya. President Director Java Festival Production Dewi Gontha mengatakan, The Jackson menguatkan warna event.

“Java Jazz Festival 2020 makin menarik dengan kehadiran The Jacksons. Mereka sangat populer dengan beragam karya terbaiknya. Fansnya kuat. Untuk itu, kami mengundang publik untuk bergabung di Java Jazz Festival 2020. Ada beragam kemeriahan live music yang disajikan,” kata Dewi.

Grup pelantun I Want You Back ini beranggotakan 3 musisi tenar. Ada Jackie Jackson, Tito Jackson dan Marlon Jackson. Selama 50 tahun eksis, The Jacksons memiliki sejarah luar biasa. Pada awal kemunculan di tahun 1966, mereka mengusung nama The Jackson 5. Personil tambahannya ada Michael Jackson dan Jermaine Jackson. Lalu, namanya berganti menjadi The Jacksons dan bertahan hingga kini.

Mereka mengawali karirnya dengan beragam single hits. Selain I Want You Back, single ABC, The Love You Save, dan I’ll Be There sukses memuncaki Billboard Hot 100. Adapun single Mama’s Pearl, Never Can Say Goodbye, dan Dancing Machine menduduki Top 5 Hits Pop. Single tersebut juga berstatus nomor 1 di tangga lagu single R&B. Prestasi lainnya, mereka 2 kali menjadi nominator Grammy Award.

“Mereka memang fenomenal, apalagi di era 1970-an. Kami beruntung karena The Jacksons bisa singgah di Java Jazz Festival 2020. Ini tentu menjadi moment yang langka. Apalagi, mereka sudah menyiapkan kejutan bagi fansnya di sini,” tegas Dewi lagi.

Meski menjadi grup lawas, karya The Jacksons masih dikenal hingga kini. Lagu I Want You Back bahkan menjadi pengisi film Marvel, Guardian of the Galaxy. Idol K-Pop Twice bahkan sempat mengaransemen ulang beberapa lagu The Jacksons. Selain karya fenomenal, The Jacksons juga dianggap sebagai pelopor boyband. Sebut saja, Backstreet Boys, New Edition, N*SYNC, New Kids on the Block, The Jonas Brother, hingga One Direction.

“Java Jazz Festival 2020 semakin gemerlap dengan aksi The Jacksons dan lainnya. The Jacksons selama ini menjadi inspirasi bagi industri musik dunia. Kami tentu gembira karena mereka datang ke Java Jazz Festival 2020,” terang Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelengggara Kegiatan (Event) Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Rizki Handayani.

Selain The Jacksons, Java Jazz 2020 juga semakin gemerlap dengan aksi Omar Apollo pada Minggu (1/3). Omar saat ini digandrungi oleh para milenial. Memiliki musikalitas tinggi, Omar mampu menulis dan bernyanyi dalam beragam genre. Selain Jazz, Omar mumpuni di genre R&B, Funk, Soul, hingga Pop. Saat ini, Omar telah menelorkan album Stereo (2018) dan Friends (2019).

“Komposisi daftar musisi pengisi Java Jazz Festival semakin menarik dengan nama Omar Apollo. Figur Omar luar biasa karena bisa menyanyi dan menulis lagu sekaligus. Dia itu sangat disukai oleh kaum muda dunia. Popularitasnya sekarang ini sedang tinggi,” jelas Rizki lagi.

Java Jazz Festival 2020 pun semakin berwarna dengan kehadiran musisi lainnya, baik lokal maupun luar. Ada Benny Mustafa N Jongens, Dwiki Dharmawan feat Nadin Amizah, Jay Som, Jeff Lorber Fusion Trio, hingga KRLY. Nama lainnya, Maya Hasan, Michael Paulo & Gregg Karukas feat Melissa Manchester, Michael White, Mldjazzproject All Star feat Devinta, hingga Moneva.

Daftar musisi yang tampil di Java Jazz Festival 2020 pun semakin panjang. Ikut bergabung juga Arta, Mldjazzproject S4 Feat Potret, Fariz RM & Humania, Nita Aartsen Quintet, dan Nusantero. Ada juga musisi Pamungkas, Paulinho Garcia, Phil Perry, RINI, Ron King Big Band, The Steve McQueens, United States Air Force Band of the Pacific, hingga Yongky Vincent.

“Komposisi terbaik memang dimiliki Java Jazz Festival 2020. Wisatawan dijamin akan terpuaskan oleh aksi banyak musisi yang tampil. Pasti sangat meriah. Pokoknya momentum terbaik ini jangan sampai terlewatkan. Jangan lupa ajak serta keluarga dan kerabat lainnya,” tutup Rizki.

Museum Kesultanan Bulungan: Menyusuri Jejak Sejarah Negeri Merancang

Saat Anda menyambangi Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan sekaligus juga Ibu Kota Provinsi Kalimantan Utara maka sempatkan menengok Museum Kesultanan Bulungan (Bulongan) di Kecamatan Tanjung Palas Utara. Di tempat tersebut Anda dapat menelurusi jejak historis Kesultanan Bulungan dimana sempat mengalami masa kejayaan selama berabad lamanya pada 1771 hingga 1938.

Uniknya, kesultanan ini bisa tegak berdiri tegak tanpa menarik upeti dari penduduk di wilayahnya. Itu karena semasa 13 generasi raja-raja Kesultanan Bulungan memerintah dengan bergelimpangan kekayaan yang didapat dari hasil hutan, sungai dan laut perbatasan Kalimantan. Ketika itu Kesultanan Bulungan memiliki kekuasaan wilayah administratif meliputi Bulungan, Tana Tidung, Malinau, Nunukan, Tarakan, bahkan hingga Jawi (kini Sabah di Malaysia).

Kesultanan Bulungan berdiri pada sekitar abad ke-16 masehi di tepi Sungai Kayan. Sejarah Kesultanan Bulungan dimulai dengan raja pertama bernama Wira Amir gelar Amiril Mukminin (1731–1777), dan Raja Kesultanan Bulungan yang terakhir atau ke-13 adalah Datuk Tiras gelar Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin (1931-1958). Wilayah Kesultanan Bulungan sendiri pada saat bergabung dengan Negara Republik Indonesia melalui Konvensi Malinau tanggal 7 Agustus 1949 dan sempat ditetapkan sebagai salah satu daerah istimewa.

Masa awal berdiri, Kesultanan Bulungan dipimpin oleh Datuk Mencang. Pada masa itu Datuk Mencang menikah dengan seorang wanita Dayak bernama Asung Luwan. Lalu setelah itu Datuk Mencang mencoba membangun tata kemasyarakatan (pemerintahan). Kedatangan Datuk Mencang ke Bulungan berawal dari tersesatnya ia saat melakukan pelayaran di lautan luas. Datuk Mencang tersesat dan tiba di perkampungan suku Dayak Kayan yang merupakan warga asli di lokasi tersebut. Datuk Mencang memimpin Kesultanan Bulungan sejak 1555-1594.

Kesultanan Bulungan diperkirakan baru mulai dikelola dengan sistematis pada abad 18 masehi. Sebab kala itu pemimpin Kesultanan Bulungan telah menyandang predikat resmi yaitu Sultan seperti lazimnya di aturan kerajaan. Saat itu tampuk kekuasaan Kesultanan Bulungan telah dipegang oleh Wira Amir yang berganti nama menjadi Aji Muhammad  setelah memeluk agama Islam tahun 1777. Pada masa itu juga Aji Muhammad digelari Sultan Amirul Mukminin.

Kunjungi dan dapatkan cerita menarik Kseultanan Bulungan dengan mengunjungi Museum Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Museum ini buka setiap hari (kecuali Selasa) dan dibuka pukul 08.00 pagi hingga 15.00. Untuk dapat sampai ke Tanjung Palas Tengah dari Tanjung Selor, bisa memakai perahu dengan biaya 4 ribu dan perjalanannya kurang lebih sekitar 5 hingga 10 menit. Museum ini sangat dekat dengan kota Tanjung Selor tetapi untuk bisa sampai ke museum tersebut harus menyeberang sungai memakai perahu ataupun speedboat, sebab Kecamatan Tanjung Palas Tengah serta Kota Tanjung Selor dipisahkan Sungai Kayan, apabila Anda berada di Kota Tanjung Selor maka dapat melihat Kecamatan Tanjung Palas Tengah, begitupun sebaliknya.

Di tempat ini Anda dapat menelusuri berbagai koleksi sejarah kejayaan dan identitas masyarakat Bulungan. Meski tahun 1964 Bangunan Kesultanan Bulungan pernah terbakar namun masih banyak menyimpan sisa peninggalan dimasanya seperti benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Bulungan seperti singasananya raja, tempat tidur, peralatan sehari-hari, sisilah raja, meja makan dan masih banyak yang lainnya. Ada pula foto-foto raja serta foto pertemuan para raja. Persis di depan museum ada juga 3 meriam yang dinamai Melati, Rindu, dan Dendam. 

Anda juga dapat mengunjungi makam keluarga Datu Adil yang berada di Desa Salimbatu. Lokasi ini hanya dapat dicapai lewat jalur sungai dengan waktu tempuh 30 menit. Konon ceritanya, Datu Adil adalah kerabat Kesultanan Bulungan yang terkenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.

Lake Sentarum National Park: Amazing Floating Forest

The pristine lake under the imaginary equator line is perched at the floodplain of Kapuas River, West Kalimantan, 700 kilometers inland from the Kapuas River waterfront in Pontianak, rising to 30 meters above sea level. The fresh water lake is vast, covering an area of 1,320 square kilometer as one of the Ramsar sites, a site under an international convention regarding the usability of wetlands in line with its value on economic, cultural, scientific, and recreational for future generation. As a fresh water marsh zone, Lake Sentarum National Park was not established as a national park until 1999, and with a fully operational management in 2006. Today, some of the best captured flora and fauna photos, or riverbank community activities with vivid blue sky were taken here.

During the high tide, the depth of the lake can reach six to eight meters deep. The water slowly turns to dark red due to rich tannic acid from the dead leaves and wood barks. Some of the rivers around the world recognize the term ‘black river’ due to its rich tannin. Tannin is valuable to protect trees from fire, insects, and bacteria. During the dry season, the water from the lake flows to the brown-colored, 1,143-kilometer Kapuas River, and leaves the national park a vast parched land. Vital food chains within the national park and the outflow river have made this area an extremely indispensable as various endemic fauna and plants are totally relying on it.

Some of the endemic and existing floras from the national park are tembesu or tengkawang (Shorea beccariana), jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), meranti (Shorea sp), keruing (Dipterocarpus sp), and ulin (Eusideroxylon zwageri). There are around 20 village enclaves within the park that accommodate around 20,000 people who have known many kinds of remedies from the protected lake, such as ambong-ambong (Blumea balsamifera), akar ara (Ficus sp), asam kandis (Garnia sp), asam tekala (Alpinia sp), aur-aur (Aneilema scaberrimun), bangelai (Zingiber pupureum), bawang gilang (Eleutherine americana), gambir (Uncaria gambir), kayu lawang (Cinnamomum sp), kunyit kuning (Curcuma domestica), kunyit putih (C. Zedoaria) nilam (Pogostemon cablin), and pasak bumi (Eurycoma longifolia).

If you are lucky enough, you can watch siamang (Hylobates muelleri) , a family of monkeys, as also bekantan (Nasalis larvatus), orangutans (Pongo pygmaeus), long-tailed monkey (Macaca fascicularis), squirrel (Callosciurus notatus, C. Prevostii), giant squirrel (Ratufa affinis), honey bear (Helarctos malayanus), and leopard (Neofelis nebulosa). Several birds are bekakak (Halcyon capensis), enggang gading (Rhinoplax vigil), rangkong (Buceros rhinoceros), white-head hawk (Haliastur Indus), and Raja Udang bird (Alcedo meninting), aside to 230s bird species, 143 mammal species, and 23 endemic Borneo species, including Asian Arowana and Clown Loach Botia. Around 26 reptiles are also found here, including False Gavial and Estuarine Crocodile.

Strap your leather boots tightly and put on your adventure hat as you giddy up the long boat, cruising inland through the mighty Kapuas River. The Lake Sentarum National Park is a place you wish to exist in many places. Not only is it naturally fascinating, but it is also culturally captivating. Shake the Dayak’s friendly hands and you are truly in Borneo.

TO DO 

The best time to visit the national park is within the month of June to September. Go to Lake Sentarum and find a place, with the assistance of your tour guide or the boat man, called Bukit Lanjak and Nanga Kenelang. They are the best spot to view the vast lake spotted with marsh plantation and flying endemic birds from the bush. Birdwatchers are here to study each of the findings as they spend the rest of the day paddling the pristine tranquil water.

If you wish to study the species found in the national park for any cause, visit Bukit Tekenang as a scientific laboratory is there to record the living species. Six kilometers from the center district of Lanjak, there is a rumah betang, or the longhouse of Dayak Iban tribesmen who hunt for living on the north and northeast of the lake. Around 100 people live in the house and you are invited to join the crowd, or the hunting activity on Sedik River. Besides the Ibans, the Embaloh tribesemen on the east and the Kantu tribesmen on the west of the lake also live in the national park. 

GETTING THERE

From Pontianak, take a rented and drive to Semitau, passing the town of Sintang. It will take you around 11 hours driving. If you are into the river, a 7-hour cruise on a longboat called bandong is an early adventure craving that you may munch through from Sintang to Semitau. From Semitau, however, you can only take a motorized boat to Lanjak, and there you are sitting before the great lake.

If you wish to get there faster, a two-hour flight by a small airplane is possible from Pontianak to Putussibau. From Putussibau, however, a 7-hour cruise again is to be taken on a longboat to Nanga Suhaid.

Putussibau is a small district in Kapuas Hulu. The distance is actually around 846 kilometers from Pontianak overland, and around 814 kilometers by the river cruise. It is by far, the closest town to the national park. Here you can find logistics and also accommodations if you wish to stay here rather than spending a night or two in the park.

TO STAY

You need to be well informed if not prepared that spending a night or two in Lake Sentarum National Park is most probably a bit odd than you might think. Living as a nomad on a drifting longboat called bandong is an experience you cannot forget. You cook, eat, and sleep here. Bring a mosquito net that works for you. Knot the rope securely and watch the night passing by, and expect a magnificent sunrise on the horizon. A room can also be prepared in one of the houses in nearby villages as it is much eco-friendly.

If you think that type of camping is too bizarre, In Putussibau, there are several places you might want to choose as a place to lie down. They are:

  • Aman Sentosa Hotel: Diponegoro Street, no. 14
  • Marisa Hotel: Melati Street No. 3
  • Harapan Kita Guesthouse: Jembatan Pelita Street, No. 3
  • Uncak Lestari Guesthouse on Lintas Selatan Street

TIPS

Banks are only available in Putussibau. They are Bank Rakyat Indonesia (BRI) on DI Panjaitan Street (Phone: +62 567 21020, 21177, 21866, or 21007) and Bank Kalbar on Merdeka Street (Phone: +62 567 21123, 21171, or 21585). No ATM is available, so plan your trip budget technicalities carefully.

Banks are only available in Putussibau. They are Bank Rakyat Indonesia (BRI) on DI Panjaitan Street (Phone: +62 567 21020, 21177, 21866, or 21007) and Bank Kalbar on Merdeka Street (Phone: +62 567 21123, 21171, or 21585). No ATM is available, so plan your trip budget technicalities carefully.

Telecommunication booth is available either on Diponegoro Street no. 14 or on Merdeka Baru No. 43. 

Bitung: Gerbang Penjelajahan ke Tangkoko

Di ujung timur laut Provinsi Sulawesi Utara, terdapat sebuah kota pelabuhan yang begitu cepat pertumbuhannya. Inilah Kota Bitung, kota yang namanya dirangkai dari nama pohon di sepanjang pesisir Bitung. Nama itu juga berasal dari kata Balisung yang artinya tempat pengobatan mujarab. Kedua pengertian tersebut memaknai Bitung sebagai kota yang damai dan sejahtera. 

Wilayah Kota Bitung terdiri dari daratan yang berada di kaki Gunung Duasudara dan sebuah pulau bernama Lembeh, surganya para penyelam. Kesehariannya disibukkan dengan segenggam aktivitas perdagangan dan pendidikan. Bahasa utama yang digunakan penduduknya adalah Bahasa Manado.

Penduduknya yang multietnis hidup di sini dimana sebagian besar terdiri dari Suku Minahasa dan Suku Sangihe. Mayoritas memeluk agama Kristen Protestan namun ada juga yang berasal dari etnis Jawa dan Gorontalo yang memeluk agama Islam. Sementara agama Kong Hu Cu dan Buddha dianut oleh penduduk dari etnis Tionghoa.

Uniknya, heterogenitas tersebut justru dijadikan latar belakang budaya yang mengarahkan Bitung sebagai kota pelabuhan internasional, industri, pariwisata, perdagangan dan jasa yang berwawasan lingkungan dan unggul di era globalisasi.

Belum lagi, Bitung merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki ekowisata khas. Cagar alam dan pantainya sangat potensial untuk memikat wisatawan lokal dan mancanegara. Primata terkecil di dunia yakni tarsius merupakan harta ekowisata Bitung yang begitu dibanggakan.

Julukan ‘Kota Cakalang‘ melekat padanya karena Bitung merupakan kota penghasil ikan cakalang terbesar di Indonesia. Jika memijakkan kaki di pusat kota tepatnya di Jalan Sam Ratulangi maka Anda akan menemukan patung ikan cakalang mempercantik wilayah ini.

Kegiatan

Delapan kali berturut-turut Bitung meraih penghargaan Adipura untuk kategori kebersihan dan tata kota. Jadi siapapun yang singgah di sini, pasti akan terpesona dibuatnya. Berkelilinglah di Kota Bitung untuk menikmati pemandangan tengah kota yang asri.

Selat Lembeh merupakan salah satu situs menyelam yang tersohor di Sulawesi Utara. Atraksi yang satu ini sudah berkembang sehingga tak jarang ditemukan operator diving di sekitarnya, resor-resor pun sudah menyediakan fasilitas dan paket diving.

Pecinta ekowisata wajib mengunjungi Cagar Alam Tangkoko dan Taman Margasatwa Tandurusa. Jelajahi hutan rimba di sana dan menyatulah dengan hewan-hewan endemik yang mendiaminya. Sudah lama Tangkoko dikenal para ilmuwan, termasuk seorang pemikir revolusioner yaitu Alfred Russel Wallace. Anda bisa melihat berbagai satwa seperti tarsius, monyet hitam Sulawesi, kuskus kerdil, anoa, dan musang khas Sulawesi.

Transportasi

Jarak dari Manado, ibukota Sulawesi Utara ke Bitung sekira 44 kilometer.  Jika tidak menggunakan kendaraan pribadi maka Anda bisa menaiki bus umum dengan rute Manado-Bitung dari Terminal Paal Dua atau Terminal Karombasan. Bus tidak ber-AC memasang tarif Rp7.500,- sedangkan yang ber-AC Rp8.500,- jarak tempuhnya 2 jam.

Alternatif lain bisa menggunakan taksi dengan tarif sekira Rp200 ribu. Adapun taksi yang bisa Anda hubungi dan pesan adalah: Blue Bird  (0431- 86 1234), Trust Taxi ( 0431-824000) dan Celebrity Taxi (0431-851010). 

Di Manado juga banyak terdapat penyewaan mobil menuju Bitung. Tarifnya bervariasi, sekira Rp300 ribu. Berikut ini beberapa penyedia rental mobil di Manado.

CV Central

Jl. Sungai Musi, Singkil
Telp. 0431 3335011

CV Kenalan

Jl. 21 Mei, Teling
Telp. 0431 3323293, 0811 437793 

Mawar Sharon

Jl. Sugiono No. 5  
Telp. 0431 855193

Mobil Rental Mitra

Jl. Jambore, Winangun 
Telp. 0431 3366442

Sebagai kota pelabuhan, Bitung juga mampu dicapai melalui kapal ferry. Rutenya adalah: Bitung-Pananaru, Bitung-Siau, Bitung-Melanguane dan Bitung-Ternate. 

Akomodasi

Kota Bitung memiliki 3 hotel berbintang satu, diantaranya adalah: Hotel Fatamorgana (0438-21227), Kungkungan Bay Resort (0438-30300), dan Hotel Nalendra (0438-30403).

Ada juga beberapa hotel kelas melati, seperti Hotel Melati Krista (0438-32483), Hotel Nice Bambu (0438-31507) atau Hotel Phoenix (0438-30255). 

Untuk informasi lengkapnya, silahkan kunjungi situs www.bitung.go.id.

Kuliner

Pasar Tua yang berlokasi di pusat Kelurahan Bitung Tengah, dirancang sebagai lokasi wisata kuliner. Berbagai makanan kaki lima dijajakan dengan gerobak, sajian unggulannya adalah olahan ikan khas Bitung seperti ikan kerapu, atau yang sering disebut dengan ikan woku belanga. Selain Pasar Tua, rumah-rumah makan yang terdapat di kawasan Taman Nasional Tangkoko, Kelurahan Batu Putih, juga menyajikan menu khas tersebut.

Woku belanga adalah racikan ikan kerapu dengan air jeruk nipis, tumis bawang merah, daun kemangi, daun pandan, cabe rawit merah, kunyit, jahe dan kemiri. Harumnya daun pandan dan daun kemangi membuat makanan ini bercitarasa unik. Guyuran kuah kentalnya akan membuat siapapun ingin melahap kuliner ini sampai habis.

Berbelanja

Ikan-ikan tuna hasil tangkapan Bitung dapat Anda bawa pulang. Tentu bukan dalam keadaan mentah, melainkan sudah tersaji di dalam kaleng. Ya, ada perusahaan-perusahaan tertentu yang memproduksi tuna sambal goreng atau tuna saus woku kalengan. Ada juga kornet ikan oles dan kornet tuna iris. Buah tangan ini dipatok dengan harga Rp7 ribu – Rp9 ribu per kalengnya.

Bila melangkah ke Kelurahan Girian, Bitung, berbeda lagi oleh-oleh yang Anda dapatkan. Warga di sini sibuk mengolah ikan cakalang untuk dijadikan buah tangan khas, cakalang fufu. Proses pengolahan cakalang melalui teknik pengasapan agar siap dikonsumsi. Ikan-ikan telah mendapatkan perlakuan panas yang cukup sehingga bakteri di dalamnya hilang. Bentuk dari cakalang fufu pun unik, ikan yang sudah dibersihkan dibelah menjadi dua kemudian ditusuk dengan bambu di bagian tengahnya. Masyarakat sekitar menyebutnya digepe.

Bubur Tinutuan: Mencicipi Lezatnya Kuliner Khas Manado

Meski tampilannya sederhana dan mungkin terkesan sedikit semrawut, jangan meremehkan keistimewaan rasa bubur yang satu ini. Bubur tinutuan atau juga dikenal dengan bubur manado adalah kuliner yang tak boleh dilewatkan saat Anda mengunjungi Kota Manado di Sulawesi Utara.

Kuliner di Kota Manado yang merupakan salah satu gerbang memasuki eksotisme dan keindahan taman laut Bunaken memang sudah menjadi buah bibir di kalangan pecinta atau penggemar wisata kuliner Nusantara. Cita rasa makanan Manado memang khas hasil dari racikan bumbu yang melimpah dan bercita rasa tinggi berpadu dengan sentuhan rasa pedas di hampir tiap masakannya.

Masyarakat Manado memang terkenal royal menggunakan bumbu dan rempah-rempah di setiap masakan mereka. Kekayaan rasa ini dapat dicecap di hampir semua jenis masakannya.Tidak terkecuali pada menu sarapan bubur tinutuan yang rasanya unik, hasil perpaduan rasa pedas, gurih, sekaligus segar. Demikian khas, lezat dan populernya menu lokal ini, bubur tersebut bahkan menjadi semacam ikon Kota Manado. Bagaimana tidak, apabila Kota Manado bahkan disebut pula sebagai Kota Tinutuan.  

Penampilan bubur yang bernutrisi tinggi ini tak jauh berbeda dari bubur kebanyakan. Hal yang menjadikannya berbeda dari bubur ayam biasa adalah pada warnanya agak kekuningan dan tampak sayur-sayuran yang tercampur aduk. Nama Tinutuan sendiri dalam bahasa Manado yang berarti semrawut atau campur aduk. Hal ini didasarkan pada tampilan fisik bubur dan cara pengolahannya dimana semua bahan dari beragam sayuran dicampur menjadi satu. 

Jenis sayuran yang biasa digunakan sebagai bahan bubur ini adalah labu kuning, ubi kuning, singkong, daun melinjo, kangkung, jagung, bayam, kemangi, gedi (sayuran khas Manado), dan lainnya. Adapun bumbu-bumbu yang dicampurkan di dalamnya adalah bawang putih, batang serai yang dimemarkan, daun salam, jahe, garam, dan lainnya. Cara membuatnya pun cukup sederhana dan mudah. Beras sebagai salah satu bahan utama dimasak dalam air yang sebelumnya sudah didihkan. Bumbu seperti bawang putih, serai, daun salam, dan garam dapat dimasukkan bersamaan dengan beras. Setelah setengah matang, potongan singkong dapat dimasukkan terlebih dahulu, disusul jagung, ubi jalar, lalu labu kuning. Setelah bahan-bahan tersebut agak lunak atau matang, baru dimasukkan berbagai macam jenis sayuran lain satu persatu. Bubur terus dimasak hingga teksturnya mengental dan semua bahan matang merata namun jangan sampai terlalu lembek atau terlalu matang.

Salah satu indikator keberhasilan membuat bubur ini adalah apabila warna kuning pada labu, ubi, dan jagung nampak menyatu mewarnai bubur. Ketiga bahan ini pula yang menyumbang cita rasa unik pada bubur tinutuan, khususnya cita rasa manis alami yang berpadu dengan rasa pedas. Rasa pedasnya didapat dari sambal tomat yang memang menjadi pelengkap sajian sarapan khas Manado ini. Selain sambal tomat, bubur tinutuan juga nikmat disandingkan dengan rica roa (sambel yang dicampur dengan ikan Rowa). Selain dilengkapi sambal, bubur Tinutuan biasa juga dihidangkan bersama ikan asin (jambal) atau cakalang yang akan menyumbang cita rasa berbeda bagi bubur bernutrisi tinggi ini. Bubur khas Manado nikmat ini dapat pula ditambahkan mie atau disebut sebagai midal.

Seporsi bubur tinutuan saat sarapan dipercaya akan memenuhi kebutuhan nutrisi Anda seharian. Itu karena makanan ini kaya nutrisi dari beragam sayuran. Untuk dapat menikmati sajian bubur khas Manado ini Anda dapat mengunjungi Jalan Wakeke yang sepertinya menjadi salah satu sentra bubur manado dan selalu ramai pengunjung. Harga seporsi bubur ini mulai dari Rp9000,-. Di sepanjang jalan tersebut, terdapat beberapa jejeran warung yang menjajakan bubur manado sebagai salah satu menu andalannya di samping menu-menu khas Manado lainnya.

Selain bubur tinutuan, dapat pula Anda cicipi menu andalan lain dari kota yang terus berbenah demi menunjang industri wisatanya ini. Kekayaan lautnya menjadikan menu olahan laut seperti ikan bakar dabu-dabu, ikan rica-rica, mie cakalang dan lainnya sebagai menu khas yang memanjakan lidah. Selain menu olahan laut, bagi Anda penggemar kuliner dengan bahan dan cita rasa ekstrim, dapat pula mencoba mencicipi Paniki, yaitu menu berbahan dasar kelelawar besar atau kalong yang dimasak pedas. Apabila Anda tidak terlalu suka pedas, sebaiknya hati-hati dengan menu yang satu ini. Daging kelelawar yang dimasak utuh tersebut dimasak dengan mencampur ragam rempah-rempah, diantaranya cabai, daun bawang, kemangi, sereh, daun jeruk nipis, kunyit, jahe, dan santan kental hasil perasan yang pertama. Untuk mendapatkan cita rasa yang sempurna, paniki biasanya dimasak selama setengah hari dengan api sedang. Perlu keterampilan tersendiri mengolah paniki, karena jika tidak paham, dagingnya akan terasa amis. Sayap-sayap paniki adalah juga bagian yang tak boleh dilewatkan sebab gurih dan lezat. Makanan ini terbilang mahal dan dihargai tergantung ukuran kelelawar. 

Selain makanan olahan kelelawar, ada pula masakan dari kawok, yaitu tikus hutan yang berekor putih. Tikus tersebut berbeda dengan tikus rumah. Kawok biasanya didapatkan di pohon-pohon besar di hutan, seperti pohon Enau. Kawok dimasak dengan cara yang sama seperti paniki. 

Bukit Doa Mahawu: Wisata Religi dan Menikmati Alam Tomohon

“Sepasang muda-mudi mengikrarkan pernikahan di dalam kapel, di atas dataran tinggi nan indah bertatap langsung dengan Gunung Lokon. Hijaunya pemandangan sekitar tidak berhenti menghangatkan hati setiap tamu pengantin, membuat mereka terpana akan kedamaian yang diciptakan Bukit Doa Mahawu”.

Siapapun yang menginjakkan kaki di Bukit Doa Mahawu pasti tak berhenti terkagum-kagum dengan arsitektur alam yang indah dan kesejukan udaranya. Pepohonan dan rumput-rumput diatur dengan sangat rapi, memagari jalan menanjak yang mengantar Anda menuju titik terbaik untuk meresapi bukit ini. Sinergitas alam, bagunan dan rohani adalah tiga hal yang menjaga Bukit Doa Mahawu tetap lestari. 

Duduklah di sebuah gazebo, dan lepaskan pandangan jauh ke cakrawala hingga Anda menemukan perbukitan Minahasa yang seperti sebuah lukisan. Angin yang berhembus sangat segar, membiarkan dahan-dahanan pepohonan bergesek melarutkan keheningan. Pohon pinus, cempaka, agatis, cemara, hingga kemiri dibuat berayun menyempurnakan pegalaman Anda di kaki Gunung Mahawu. Lihatlah ke belakang gazebo, terdapat viila-villa berbentuk rumah panggung khas Minahasa. Jangan terburu-buru untuk melangkah, singgahlah beberapa lama di gazebo sebelum Anda mengeksplor Bukit Doa ini lebih banyak.

Sebagian bukit di kawasan Tomohon dan Minahasa diperuntukkan bagi peribadatan, termasuk Bukit Doa Mahawu yang dikenal sebagai destinasi wisata religius bagi umat Katolik di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Mulai dari pemberkatan nikah yang kudus hingga pesta pernikahan bertemakan taman berlangsung di sini. 

Sebelum memulai perjalanan religi, Anda dapat memutuskan sendiri untuk didampingi oleh pastor atau tidak. Pihak Bukit Doa Mahawu akan menyediakan pastor apabila dibutuhkan.

Perjalanan religi dimulai dari menyusuri Jalan Salib yang memiliki 14 perhentian atau sering disebut via dolorosa. Setiap perhentian ada patung diorama seukuran manusia yang diletakkan di tengah jalan setapak yang berkontur bukit namun tak begitu terjal. Adegan kisah sengsara Tuhan Yesus dalam setiap perhentian sengaja diposisikan di tengah jalan agar peziarah lebih dekat dengan Yesus. Usai menapaki 14 perhentian dan sebelum melihat replika Makam Yesus, Anda akan dibuat terenyuh melihat replika pahatan karya Michael Angelo yang menggambarkan Bunda Maria memangku jenazah putra-Nya. 

Kemudian, langkah kaki terus dikayuh menuju sebuah terowongan tempat dimana Makam Yesus terletak. Ruangan ini tidak gelap gulita karena terdapat sinar Matahari yang masuk ke lubang-lubang ventilasi. Suasana wisata semakin khusyuk tatkala keheningan sangat terjaga. Usai mengunjungi Makam Yesus, terowongan akan membawa Anda keluar menyusuri jembatan menuju Gua Maria. Di depan gua maria, pengunjung diminta mencuci muka dari kolam yang tidak pernah mengering. Banyak peziarah yang mengartikan ini sebagai berkah yang melimpah dari Tuhan. Di sinilah perjalanan wisata religi Anda akan berakhir.  Biasanya para peziarah juga akan menyempurnakan kunjungan dengan berdoa di dalam kapel.

Bentuk kapel “Chapel of Mother Mary” yang unik menjadi pusat perhatian setiap pengunjung. Bentuknya tidak biasa sebagai bangunan gereja dengan atap setengah lingkaran seraya melambangkan kapal Nabi Nuh yang terbalik. Kerangka interior kapel juga dianggap sebagai tulang-tulang rusuk manusia. Berakar dari kisah Adam dan Hawa yang memulai terlahirnya garis keturunan dan milyaran manusia hingga kini. Tulang-tulang rusuk itu digambarkan dengan garis lengkung yang dapat dilihat di atap-atap kapel, terbuat dari besi baja sehingga menyerupai kapal terbalik. Jumlahnya ada Sembilan, mencerminkan angka kesempurnaan hidup yang dimulai dari kesadaran diri bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Kegiatan

Bukit Doa Mahawu menyediakan kecantikan alam sejati yang bisa dinikmati siapapun, tanpa terbatas untuk kalangan dan agama tertentu.  Area seluas 50 hektar ini akan membuat Anda leluasa menjelajah setiap sudut yang apik diabadikan di dalam kamera. Berpindah-pindah lah untuk menikmati pemandangan kapel, gazebo, amphiteater, atau bukit-bukit hijau yang dimilikinya.

Banyak yang terpikat dan menjadikan Bukit Doa Mahawu sebagai tempat untuk melaksanakan gathering, seminar, outbound, foto preweding, hingga pesta pernikahan. Pihak pengelola telah menyediakan paket pernikahan lengkap dengan dekorasi kapel, katering, sound system, dan bermacam pilihan tempat resepsi (Gua Mahawu, Cafe Mahawu, Alamanda, Moyaporong dan Kelong Garden). Setiap tempat memiliki pemandangan yang keunikan yang berbeda.

Khusus untuk pernikahan bertema taman, Bukit Doa Mahawu memiliki area yang disebut Kelong Garden dengan hall berkapasitas 200 orang. Kapasitas semakin banyak apabila ditambah dengan tenda-tenda dan gazebo. Suasana pesta semakin hangat karena Kelong Garden dilengkapi dengan kolam, juga bunga-bunga indah di sekelilingnya.

Pada hari wafatnya Yesus Kristus, para peziarah datang untuk menapaki kembali kisah wafat Yesus. Bersama dengan bimbingan pastur, peziarah menelusuri 14 titik Jalan Salib sambil membacakan renungan-renungan dan doa.

Megahnya amphiteater di sini membuat pengunjung bertanya-tanya kegunaannya. Amphiteater memang identik dengan struktur teater ala Colosseum Romawi untuk menyaksikan pertunjukkan Gladiator. Di Bukit Doa Mahawu, amphiteater digunakan untuk pertunjukan seni, tari kabasaran, altar ibadat, workshop, kompetisi, bahkan shooting acara TV swasta. Amphiteater Bukit Doa Mahawu didesain cantik dengan rumput-rumput hijau di setiap sela tempat duduk. Daya tampungnya mencapai 1.500 orang dan dilengkapi lampu-lampu. Selain itu, disediakan juga ruang ganti dan toilet.

Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi pihak pengelola:

Bukit Doa Mahawu

Jalan Lingkar Timur No. 99
Kelurahan Kakaskasen 2
Tomohon Utara, Sulawesi Utara
Telp/Fax.
0431 353 458
Contact Person
Pak Lorens (085240430838)
Buce (081356023071)

E-mail
kantorjsm@yahoo.com

Akomodasi

Rasakan menginap di villa tradisional bergaya khas Minahasa dengan bentuk rumah panggung. Alamanda Retreat adalah satu-satunya akomodasi yang berada di kawasan Bukit Doa Mahawu. Terdapat tiga bangunan terpisah yang memiliki kapasitas kamar berbeda-beda mulai dari 10-30 orang.

Dengan konsep penginapan ramah lingkungan, semua villa dibangun dengan struktur kayu namun dilengkapi atap bermaterial modern. Lingkungan sekitar merupakan ruang hijau dengan udara bersih, sehat dan alami. Setiap villa di ketinggian 1.200 m dpl ini memiliki kamar tidur dilengkapi toilet, ruang makan dan ruang pertemuan serba kayu yang bisa menampung hingga 200 orang. Pihak pengelola juga menyediakan permintaan menu makanan standar maupun di luar standar.

Villa-villa ini biasanya digunakan oleh rombongan atau keluarga yang mengadakan kegiatan berwisata, rohani, pertemuan dan seminar. Terdapat juga villa untuk VIP. Cobalah mengeksplor villa ini dan temukan Stone Park, yakni taman batu yang berada di antara unit putri dan dan unit vip. Pemandangannya sangat indah mengarah langsung ke Manado Tua Bunaken.

Kuliner

Kawasan Bukit Doa Mahawu sudah dirancang sedemikian rupa untuk menyiapkan segala yang dibutuhkan pengunjung, termasuk makanan. Nikmati kopi hitam dan pisang goreng sebagai camilan ataupun menyantap makanan khas Manado di Café Mahawu.

Transportasi

Bukit Doa Mahawu terletak di Desa Kakaskasen II, Kecataman Tomohon Utara, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Jalan Raya Tomohon adalah jalan terdekat untuk mencapainya dari Kota Manado. Dengan jarak 27,9 kilometer maka Anda membutuhkan waktu sekira 1 jam. Medan yang dilalui berkelok dan menanjak namun sepanjang diselimuti udara sejuk dan pemandangan berupa perbukitan.

Cara di atas ditempuh apabila Anda menggunakan kendaraan pribadi. Bukit Doa Mahawu juga bisa dicapai menggunakan kendaraan umum.  Dari Kota Manado, naiklah mikrolet jurusan Wanea Samrat menuju Terminal Karombasan, kemudian disambung bus jurusan ke Tomohon. Anda akan mendapati kawasan pedang bunga yang memenuhi kanan dan kiri jalan raya di sekitar Kelurahan Kakaskasen. Ini adalah tanda bahwa destinasi yang Anda tuju sudah dekat. Agar tidak tersesat, mintalah kepada kondektur untuk diturunkan di Bukit Doa Mahawu.

Danau Tondano: Keindahan dan Kedamaian danau Terluas di Sulawesi Utara

Danau Tondano adalah tujuan wisata yang terkenal di Provinsi Sulawesi Utara sekaligus menjadi danau  terluas di provinsi tersebut. Luasnya mencapai 4.278 ha dengan ukuran sekira 5 km x 11 km. Danau ini dilingkari dengan jalan provinsi dan menghubungkan kota Tondano, Kecamatan Tondano Timur, Kecamatan Eris, Kecamatan Kakas, Kecamatan Remboken, dan Kecamatan Tondano Selatan.

Danau ini berada 600 meter di atas permukaan laut dan meliputi area seluas 4.278 hektar dan terletak di desa Remboken, sekitar 3 kilometer dari kota Tomohon atau 30 km dari Manado. Pemandangan Tondano begitu memukau dengan berhiaskan pemandangan gunung dan bukit yang menjadi totonan yang sangat apik. Suasana di tempat ini bakal sangat memanjakan mata dan rasa.

Danau Tondano dikelilingi pegunungan setinggi 700 meter, yaitu Gunung Lembena,  Kaweng, Tampusu dan Masarang. Satu yang terlihat jelas adalah Gunung Kaweang yang nampak menjulang tinggi dari tepi danau. Danau ini mencakup tiga kecamatan yaitu Eris, Kakas dan Remboken. Dari sisi danau, Anda dapat melihat dengan jelas Gunung Kaweng.

Danau Tondano memiliki daya tarik wisata yang disebut “Sumaru Endo” Remboken, dan Resor Wisata Bukit Pinus (dari Tondano menuju Toliang Oki). Dari sisi danau di Toliang Oki dan Tondano Pante Anda dapat melihat Laut Maluku yang indah, di luar bukit Lembean.

Danau ini pun menyimpan carita rakyat tentang kisah percintaan dua kekasih yang tidak direstui oleh orang tua mereka. Sepasang kekasih ini kabur kemudian masuk ke dalam hutan di Kawasan Gunung Kaweng. Karena melanggar larangan menikah, akibatnya Gunung Kaweng Meletus hingga menyebabkan terjadinya kubangan besar. Kubangan inilah yang kemudian menjadi Danau Tondano hingga sekarang.

Danau Tondano terkenal kaya akan ikan tawar, ikan seperti mujair dan sepat menjadi ikan yang paling banyak terdapat di danau seluas 4000 hektar ini. Ikan tersebut adalah marbel goby atau biasa disebut dengan ikan betutu. Ikan ini merupakan salah satu komoditi yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Untuk harga nya pun bisa dikatakan tinggi dibeberapa Negara, bisa mencapai ratusan ribu perkilo nya.

Transportasi

Danau ini danau ini dapat dijangkau dengan mudah dari Kota Manado sebagai ibu kota Provinsi Sulut. Jarak tempuhnya yang hanya sekitar kurang dari satu jam dari Bandara Internasional ‘Sam Ratulangi’ maupun ‘Indonesia Main Port’ (IMP) Pelabuhan Samudera Bitung, membuat akses ke Danau Tondano sangat mulus.

Danau Tondano ini, dari Bandara Sam Ratulangi para wisatawan melanjutkan perjalanan ke kota Manado. Sesampainya di kota Manado, perjalanan dilanjutkan ke daerah Tomohon. Dari Tomohon ke danau Tondano ini berjarak sekitar 3 km atau sekitar 20 menit perjalanan dengan kendaraan pribadi ataupun dengan angkutan umum.

Kuliner

Cita rasa makanan khas Manado dominan pedas. Anda bisa mencobanya dengan membelinya di warung di sekitar Danau Tondano, ada woku belanga, ikan bakar berbumbu rempah. 

Berkelling

Beberapa tujuan wisata dapat Anda sambangi sekitar danau ini seperti Sumaru Endo Remboken dan Resort Wisata Bukit Pinus (Tondano arah Toliang Oki). Ada pula Gua Tikus Tasuka , atau naik ke gunung Makawembein. 

Akomodasi

Ada banyak resor tersebar sekitar danau ini yang dapat Anda pilih sesuai kebutuhan. Akan sangat menarik bila Anda memilih lokasi dengan pemandang ke arah danau secara langsung.

Tomohon: Kota Bunga di Sulawesi

Dikenal sebagai Kota Bunga, Tomohon adalah  bukit resor belokasi 22 km di timur ibu kota provinsi Sulawesi Utara yaitu Manado. Tomohon terdiri dari 35 desa di 5 sub distrik yaitu Barat, Timur, Tengah, Selatan dan Utara Tomohon. Di sepanjang jalan Tomohon baik sisi kanan mau pun kiri terdapat rumah makan dan penginapan. Pemandangan di sini didominasi oleh pohon kelapa.

Kondisi tanah yang subur dan udara yang sejuk membuatnya cocok untuk membudidayakan berbagai jenis bunga dan sayuran. Kota ini dikenal sebagai penghasil bunga. Saat musim berbunga tiba maka di sinilah tempat yang indah bunga bermekaran bahkan taman di rumah penduduk lokal dapat turut Anda nikmati.

Festival bunga tahunan Tomohon di selenggarakan bulan Juni dan Juli. Selama perhelatan ini Anda bisa melihat parade bunga di jalanan kota. Perlombaan bunga hias juga diselenggarakan selama festival ini dengan peserta berasal dari 94 kota.

Kegiatan 

Ketika anda berkunjung ke kota ini selama musim berbunga maka Anda akan melihat pemandangan bunga berwarna warni yang menawan di kaki bukit yang indah. Pemandangan ini terlihat sempurna ketika matahari terbit dan embun muncul di pagi hari.

Taman  bunga Tomohon berada di kaki Gunung Lokon sekaligus menjadikan gunung ini sebagai latar belakang bunga-bunga yang terlihat sangat indah. Anda juga bisa berjalan di sepanjang jalan utama kota yang di penuhi toko-toko bunga. Sejumlah  pemilik taman bunga mengizinkan Anda untuk memetik dan memilih bunga yang Anda sukai.

Akomodasi 

Jika anda ingin tinggal lebih lama di kota bercuaca dingin ini maka Anda tidak perlu khawatir mengenai akomodasi karena pengginapan tersedia banyak di pusat kota.

Penginapan favorit berada di pemukiman warga dimana taman-taman bunga indah terlihat. Harga untuk menyewa penginapan bervariasi tergantung fasilitasnya.

Kuliner 

Namun di pasar Tomohon, anda akan banyak menemui pedagang-pedagang lain seperti pedagang daging tikus,daging ular, anjing, babi, sampai kelelawar. Sungguh sebuah hal yang unik untuk di kunjungi, sekaligus mengerikan.

Datanglah ke pasar tradisional Tomohon sebelum akhir tahun. Di sini Anda akan merasakan pengalaman wisata kuliner ekstrem dengan mencoba paniki (kelelawar), woku, RW (anjing), babi hutan, dan tikus goreng, 

Anda pasti tidak pernah membayangkan untuk menyantap tikus. Tetapi tidak bagi masyarakat Tomohon. Daging tikus adalah salah satu santapan lezat yang disukai masyarakat. Jangan khawatir, tikus yang dimasak juga bukan tikus yang sering berkeliaran di dalam rumah. Namun, jenis tikus sawah atau tikus hutan yang bentuknya lebih besar. Tikus goreng sedikit mahal harganya yaitu Rp60.000,00 per porsi, mungkin karena sedikit susah mendapatkannya.

Makanan di sini semuanya menarik untuk dicoba. Cobalah untuk memakan sup brenebon. Sup yang berisi kacang merah ini memang sangat cocok dimakan selagi hangat di tengah dinginnya udara Tomohon.

Berbelanja 

Jika anda meyukai bunga maka Anda bisa membeli berragam jenis bunga dari Tomohon sebagai cendera mata. Anda juga bisa mengunjungi pasar-pasar di Tomohon yang buka setiap hari.

Berkeliling 

Tomohon mempunyai topografi yang bergunung dan berbukit dari utara hingga ke selatannya. Ada empat gunung berapi di Tomohon dimana dua di antaranya masih aktif, yaitu Gunung Lokon dan Gunung Mahawu. Gunung Lokon tingginya 1,580 meter dan merupakan gunung tertinggi di Tomohon.    

Selama musim berbunga Anda bisa melihat bunga-bunga di sepanjang jalan. Ada banyak toko dan taman di sepanjang sisi pegunungan.

Tips

Tentunya waktu terbaik untuk berkunjung adalah selama musim berbunga yaitu bulan Desember, January, dan April. Festival bunga tahunan tomohon di selenggarakan bulan Juni dan Juli.

Disarankan untuk menyewa mobil jika Anda ingin melihat kebun bunga di lereng gunung karena lokasinya jauh dari jalan utama. Kondisi jalan di sini curam dan berliku. 

Untuk Anda pecinta hewan peliharaan tidak disarankan untuk berkunjung ke ke pasar tradisional Tomohon. Namun buat anda yang ingin melihat sebuah pasar yang unik dan makanan ekstrem, silahkan mampir sejenak ke pasar Tomohon. Di pasar Tomohon Anda dapat melihat langsung proses pembunuhan anjing yang tidak disembelih, melainkan di pukul sampai mati, kemudian dibakar agar bulunya hilang.