Home Blog

Situs Gunung Padang di Cianjur: Maha Karya Terpendam Peradaban Purba Nusantara

Balok-balok batu berserakan di mana-mana, berpusat di gunung yang berusia sangat tua sekali. Tidak hanya di sana tetapi juga di pesawahan, di sekitar rumah-rumah penduduk, bahkan diperkirakan masih tak terhitung jumlahnya tertanam di bawah bukit dan tanahnya yang amat subur. Situs ini merupakan peninggalan zaman batu besar yang tak ternilai harganya dan hingga artikel ini tertulis diberitakan bahwa Situs Gunung Padang adalah penemuan bangunaun piramid tertua di dunia dan akan mengubah lembaran buku-buku sejarah di dunia.

Situs Gunung Padang adalah peninggalan megalitik terbesar di Asia Tenggara bahkan di dunia dengan luas bangunan purbakalanya sekitar 900 m² dan areal situsnya sekitar 3 Ha. Bangunan punden berundaknya berbahan bebatuan vulkanik alami dengan ukuran yang berbeda-beda, unik sekaligus melayangkan dalam benak Anda, sisa apa ini sebenarnya?

Lokasi situs ini berada di ketinggian 885 m dpl, di Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Tepat di puncak gunungnya, bebatuan tersebut berserakan dengan denah mengkerucut dalam 5 teras. Diperkirakan batunya berusia 4000-9000 SM (Sebelum Masehi). Situs megalitik ini sendiri berasal dari periode 2500-4000 SM. Ini berarti bangunannya telah ada sekitar 2.800 tahun sebelum dibangunnya Candi Borobudur. Bahkan, usia situs megalitik ini lebih tua dari Machu Picchu di Peru. Situs megalitik Situs Gunung Padang diperkirakan sezaman dengan bangunan pertama Piramida di Mesir.

Kata ‘padang’ dalam bahasa Sunda berarti caang atau terang benderang. Ada juga pengertian lain dari istilah ‘padang’, yaitu: pa (tempat), da (besar; agung), dan hyang (eyang; moyang; leluhur), dari ketiga kata tersebut kemudian kata ‘padang’ dimaknakan sebagai tempat agung para leluhur.

Situs Gunung Padang merupakan peninggalan zaman batu besar yang tak ternilai harganya. Bentuknya berupa tiang-tiang dengan panjang rata-rata sekitar 1 meter dan berdiameter rata-rata 20 cm, berjenis  andesit, basaltik, dan basal. Geometri ujung batu dan pahatan ribuan batu besar dibuat sedemikian rupanya teratur berbentuk pentagonal (lima sudut). Angka 5 juga seakan memberikan identitas pemujaan bilangan ‘5’ oleh masyarakat Sunda dahulu kala. Hal ini membedakannya dengan Babylonia yang menganggap sakral angka 11 atau Romawi Kuno dengan angka 7.  Simbol ‘5’ tersebut mirip dengan tangga nada musik Sunda pentatonis, yaitu: da mi na ti na. Oleh karena itulah, selain kompleks peribadatan purba, banyak juga menyebut Situs Gunung Padang sebagai teater musikal purba.

Batu-batu andesit Situs Gunung Padang tersebut hanya dapat ditemui di sekitar Gunung Padang. Begitu menyeberangi Kali Cikuta dan Kali Cipanggulaan, tidak ada lagi batu-batu besi seperti itu. Masyarakat setempat percaya bahwa batuan andesit itu terlebih dahulu diukir di satu tempat yang kini disebut Kampung Ukir dan dicuci di satu empang yang disebut Kampung Empang. Hingga kini terhampar berserakan sisa-sisa ukiran batu purba tersebut. Kampung Ukir dan Kampung Empang berada sekitar 500 meter arah tenggara Situs Megalitik Gunung Padang.

Situs Gunung Padang pertama kali tahun 1914 yang termuat dalam Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD) atau Buletin Dinas Kepurbakalaan pemerintah Hindia Belanda. Seorang sejarawan Belanda ternama yaitu N. J. Krom sempat menguraikannya tetapi belum banyak keterangan lebih lanjut mengenai informasi keberadaannya.

Kajian arkeologi, sejarah, dan geologi kemudian dilakukan Puslit Arkenas sejak 1979. Tidak ditemukannya artefak berupa manik-manik atau peralatan perunggu menyulitkan penentuan umur situs ini. Hal itu karena mayoritas artefak megalitik di Indonesia dan Asia Tenggara ditemukan pada masa kebudayaan Dongson (500 SM).

Para arkeologi sepakat bahwa Situs Gunung Padang bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh Krom (1914) tetapi merupakan sebuah tempat pemujaan masyarakat Sunda Kuna. Selain itu, situs ini juga dibangun dengan posisi memperhatikan pertimbangan geomantik dan astromantik.

Situs Gunung Padang secara astronomis ternyata berharmoni dalam naungan bintang-bintang di langit. Analisis dengan planetarium yang dilacak hingga ke tahun 100 M menunjukkan bahwa posisi Situs Gunung Padang pada masa prasejarah menunjukan berada tepat di bawah langit yang lintasannya padat bintang berupa jalur Galaksi Bima Sakti.

Sementara itu, bagi masyarakat setempat, mereka meyakini bahwa reruntuhan bebatuan ini berkaitan dengan upaya Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran yang ingin membangun istana dalam semalam. Bersama pasukan dan masyarakatnya mengumpulkan balok-balok batu alami dari sekitar Gunung Padang. Akan tetapi, sayang upaya tersebut gagal karena fajar telah menggagalkannya sehingga bebatuan vulkanik masif yang berbentuk persegi panjang itu dibiarkan berserakan di atas bukit. Asumsi tersebut diyakini karena peninggalan prasejarah ini berupa bebatuan yang sama sekali belum mengalami sentuhan tangan manusia atau belum dibentuk oleh tangan manusia. Bebatuan ini jumlahya sangat banyak dan tersebar hampir menutupi bagian puncak Gunung Padang. Penduduk menamakan 5 teras di gunung ini dengan nama-nama bernuansa Islam, yaitu: Meja Kiai Giling Pangancingan, Kursi Eyang Bonang, Jojodog (tempat duduk) Eyang Swasana, Sandaran Batu Syeh Suhaedin (Syeh Abdul Rusman), Tangga Eyang Syeh Marzuki, dan Batu Syeh Abdul Fukor.

Berkaitan umur Situs Gunung Padang, ada yang berpendapat dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad ke-15 karena ditemukan guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau pada dua bilah batu. Akan tetapi, arkeolog berpendapat lain, situs ini umurnya jauh lebih tua 2500-400 SM. Hal tu berdasarkan bentuk monumental megalit dan catatan Bujangga Manik, yaitu seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda dari abad ke-16 yang menyebutkan suatu tempat yaitu Kabuyutan (tempat leluhur yang dihormati orang Sunda) berada di hulu Sungai Cisokan yang berhulu di sekitar Gunung Padang. Bujangga Manik juga menulis bahwa situs ini sudah ada sebelum Kerajaan Sunda.

Situs Gunung Padang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan yang telah berlangsung 2000 SM.

Kegiatan

Bulatkan tekad Anda untuk mengunjungi situs luar biasa ini yang menjadi sebuah warisan peradaban Nusantara yang menakjubkan sekaligus penuh tanda tanya. Jangan kalah dengan turis asing yang telah terkagum-kagum melihat situs ini bahkan sebagian berhasrat membeli beberapa bongkahan batu tersebut (Red. Jelas ini terlarang).

Datanglah ke sini untuk melihat langit indah malam hari di bawah riuhnya milyaran bintang dimana tepat di tengah Galaksi Bima Sakti yang dikawal rasi Serpens dan Aquila yang mewakili dunia bawah dan atas. Malam cerah di bulan Juli dapat Anda pilih untuk waktu yang sempurna, duduk saat malam Bulan Purnama bersama reruntuhan yang berusia 2500-4000 SM.

Situs Gunung Padang merupakan Punden Berundak yang tidak simetris. Ini  berbeda dengan punden berundak simetris seperti Candi Borrobudur. Sebuah punden berundak tidak simetris menunjukkan bahwa pembangunan punden ini mementingkan satu arah saja ke mana bangunan ini menghadap. Menerka-lah dalam benak Anda, kiranya seperti apa bentuk ritual kurban dari nenek moyang kepada Matahari, Bulan, dan Ruh Leluhur. Benarkah mereka mempersembahkan 5 sapi sebagai kurban di 5 terasnya yang bertingkat?

5 teras dari Situs Gunung Padang ini mengarah kepada Gunung Gede (2950 m dpl) yang terletak sekitar 25 km dari situs ini. Teras pertama merupakan teras terbawah dengan ukuran paling besar, kemudian berturut-turut sampai ke teras lima yang ukurannya semakin mengecil. Bentuk punden berundak juga menunjukan bahwa semakin ke atas maka tingkat kesuciannya semakin tinggi.

Situs prasejarah ini tak ternilai harganya, bukan hanya berarti bagi Indonesia tetapi juga bagi peradaban manusia. Oleh karena itu, sangat bijak bagi Anda untuk tidak mencoret, tidak memukul-mukul batu, dan tentunya membuang sampah pada tempatnya.

Situs prasejarah ini dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Di puncak gunungnya Anda dapat melihat melihat pemandangan indah dan hamparan beberapa gunung, yaitu Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Pasir Pogor, Gunung pasir Gombong, dan Gunung Pasir Domas.

Situs Gunung Padang sebenarnya bukan satu-satunya kompleks tradisi megalitik di Cianjur. Masih ada peninggalan tradisi megalitik di sekitar Kabupaten Cianjur yaitu di Ciranjang, Pacet, Cikalong Wetan, dan Cibeber.

Transportasi

Berlokasi di Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, situs megalitik yang luar biasa ini dapat ditempuh 1,5 jam atau 45 km dari kota Cianjur. Dari Jakarta jaraknya 165 km dan dari Bandung sektar 110 km. Perjalanan melalui jalur naik-turun, kadang aspalnya mulus dan kadang jalanan berlubang dan berbatu. Cara praktis untuk menuju lokasi ini adalah dengan menyewa mobil dari Jakarta atau Bandung.

Panduan terdekat menuju lokasi adalah sekitar 26 km arah barat daya ada Stasiun Kereta Api Lampegan (1879-1882). Berdiri pula terowongan yang dapat menjadi tempat menarik untuk disambangi sebelum tiba atau pulang dari Situs Gunung Padang.

Ada dua rute perjalanan yang mudah ditempuh menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat, yaitu melalui Pal Dua dan Tegal Sereh. Melalui jalur Pal Dua ditempuh melewati Jalan Raya Cianjur-Sukabumi, dari Desa Warungkondang maka berbeloklah ke kanan menuju ke Cipadang-Cibokor-Lampegan-Pal Dua-Ciwangin-Cimanggu dan Gunung Padang. Jalanan yang dilalui cukup bervariasi dan melewati pemandangan indah Perkebunan Teh Gunung Manik. Apabila Anda melalui Jalan Tegal Sereh maka melalui rute Jalan Raya Cianjur-Sukabumi, dari Sukaraja belok ke kiri Cireungas-Cibanteng–Rawabesar-Sukamukti-Cipanggulaan-Gunung Padang.

Tips

Lokasinya berbukit curam namun telah tersedia anak tangga untuk mencapai puncaknya setinggi 95 meter. Tangga tersebut tersusun dari 468 anak tangga dari batu andesit yang direkonstruksi. Ada dua bagian anak tangga, satu tangga berbahan batu alami dan yang satunya lagi tangga berbahan semen dan pasir.

Apabila Anda menggunakan tangga berbatu alami maka perlu berhati-hati tetapi ini adalah jalur aslinya dengan sudut panorama yang menawan.

Saat Anda menuruni anak tangga yang berbahan semen maka berhentilah sesaat beberapa kali untuk menghindari kaki bergetar sesampainya di bawah.

 

 

Besok Pagi Kita Akan Minum Kopi di Meulaboh atau Kita akan Gugur!

“Singoh beungoh tanjoe ta djeb kupi di Meulaboh atawa ion akan sjahid”

Itulah petik ucap pahlawan nasional kita dari Tanah Rencong, Teuku Umar, yang menggambarkan jelas bahwa minum kopi di Aceh adalah nadi kuat budaya mereka! Siapapun yang sambangi Aceh perlu merasakan nikmat dan harumnya secangkir kopi aceh. Kopi Aceh sangat spesial rasanya karena Anda tidak akan menemukan kopi senikmat kopi aceh di daerah manapun di Indonesia dan bagaimana jumlah kedai kopi di sana begitu banyak bertebaran tanpa harus takut kehilangan pelanggannya.

Hal menarik dari kedai kopi di Aceh adalah itu telah menjadi ruang diskursus publik yang dinamis. Warga lintas generasi akan datang bergantian selepas subuh hingga Isya mengisi kursi-kursi sederhana yang nyaman meski tanpa AC. Di kedai kopi tersebut orang Aceh berbincang berbagai persoalan mulai dari keluarga hingga politik. Sulit menahan mereka untuk berbincang di kedai kopi hanya sejam saja.

Minum kopi merupakan tradisi dan kebiasaan sehari-hari yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam kehidupan masyarakat Aceh. Oleh karena itu, di Aceh banyak terdapat kedai kopi. Teknik membuat secangkir kopi di kedai kopi di Aceh tidak ada duanya. Para barista di sini tidak pernah pergi ke pelatihan khusus untuk belajar cara menyajikan secangkir kopi. Cara penyajian kopi di Aceh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Di sini, kopi diseduh melalui beberapa penyaringan sampai pada kekentalan yang diinginkan sehingga membuat kopi lebih harum, nikmat dan memiliki efek rasa yang kuat.

Saat ini di Aceh banyak warung kopi tersebar di Banda Aceh dan di kota lainnya, seperti Lhokseumawe dan Takengon. Bahkan banyak yang menyebut Aceh sebagai Negeri Seribu Warung Kopi. Kebiasaan minum kopi di Banda Aceh dan sekitarnya sudah mengakar di kalangan masyarakat sejak masa Kesultanan Aceh dengan fakta bahwa mereka memiliki hubungan spesial dengan Kesultanan Turki Otoman, tempat dimana budaya ngopi berkembang masa lalu.

Warung kopi tradisional di Aceh membuat minuman kopi yang direbus lalu menggunakan saringan saat hendak disajikan. Fasilitasnya tak lebih dari meja dan kursi. Warung kopi tradisional digolongkan sebagai generasi pertama. Generasi kedua adalah warung kopi yang dikembangkan dengan waralaba. Generasi ketiga adalah warung kopi yang memberi fasilitas tak hanya minuman dan makanan, tetapi juga musik, televisi satelit, dan akses internet.

Berikut ini beberapa tempat untuk Anda mencicipi kenikmatan kopi Tanah Rencong yang telah banyak dikunjungi warga Banda Aceh atau dari kota lain di Indonesia, bahkan juga dari luar negeri.

  • Dhapu Kupi di Simpang Surabaya, Banda Aceh tidak jauh dari Mesjid Baiturrahman dan Bandara Iskandar Muda. Pemandangan kota Banda Aceh yang semakin rapih dan cantik dari lantai atasnya sungguh spektakuler.
  • Warkop Solong di Ulee Kareng, Lampenurut, dan di beberapa tempat lainnya di Banda Aceh karena cabagnnya yang semakin menyebar. Warung Kopi ini memiliki konsumen yang menyukai kopi yang sedikit lebih kuat aromanya dari kopi biasa.
  • Ring Road Coffee di stasiun bus Banda Aceh yang paling meriah dari semua yang ada karena di sini para pemuda sering duduk minum kopi sambil melihat pertandingan sepak bola.
  • Tower Kopi di depan Taman Sari Banda Aceh dan hanya 100 meter dari Mesjid Baiturrahman adalah tempat berkumpulnya masyarakat kota untuk duduk di luar ruang dan menghadap meja dengan kehangatan kopi kuat Aceh yang harum.
  • Coffee Bay yang terletak di Ule Lheue kea rah pelabuhan sangat populer bagi para pelancong yang menginginkan rasa kopi Aceh sebelum menyebrang ke Pulau Weh.

Jejak Kolonial yang Menggetarkan Hati di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

Nusantara, negeri yang menyediakan segalanya apalagi bagi tamu yang tak diundang dan serakah seperti VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Mereka bersembunyi di balik benteng tempat rerimbunan pulau di Utara Batavia hingga ratusan tahun waktu bersaksi dan mereka pun pergi dengan berat hati. Bagi Kerajaan Belanda saat ini, VOC adalah sejarah yang membanggakan dengan beberapa noda dosa saja. VOC telah memberi nilai tambah luar biasa besarnya bagi negeri Belanda berupa kemakmuran serta cakrawala baru tentang kegemilangan sejarah yaitu hegemoni tatanan dagang di lautan Nusantara yang seolah tanpa batas.

Begitu mengagumkan dan menggetarkan hati saat Anda menjejak kaki di kawasan Taman Arkeologi Pulau Onrust, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Reruntuhan sisa bangunan bersejarah berupa benteng, meriam, hingga ribuan artefaknya menjadi saksi setia bagi anak negeri untuk mengambil pelajaran di Laut Jawa yang masih penuh misteri.

Selain sebagai kawasan konservasi dan wisata bahari, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu menyimpan wisata sejarah yang menarik sekaligus menggetarkan untuk ditelusuri. Di kepulauan yang sejatinya berjumlah sekira 342 pulau tersebut (termasuk pulau yang sudah tenggelam akibat abrasi laut dan atau pun tidak), tersimpan peninggalan sejarah yang amat berharga dan amat layak untuk disambangi.

Beberapa pulau di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dulunya memang menjadi lokasi pusat aktvitas kapal dagang dan kapal perang VOC. Sebut saja beberapa pulau di kawasan ini, yaitu: Pulau Onrust, Pulau Khayangan, Pulau Kelor, Pulau Bidadari, Pulau Panggang, dan Pulau Damar. Di sinilah berdiam dengan setia sisa-sisa mengetarkan dari kekuasaan VOC yang kemudian dilanjutkan oleh Pemerintahan Hindia Belanda.

Kinilah saatnya Anda menyusuri jejak kolonial di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Bukan untuk membesarkan masa kejayaan mereka di masa lalu melainkan untuk mengenang bahwa penjajahan nyata terjadi di Nusantara. Mintalah seorang pemandu yang dapat memaparkan tentang tempat mengagumkan penuh nilai sejarah ini. Resapi pengalaman menyusuri setiap sudut yang tersisa tentang bagaimana sejarah tidak hanya untuk dikenang tetapi menjadi pelajaran agar manusia Indonesia tidak bodoh dan asing dengan masa lalunya.

Pulau Onrust awalnya merupakan lokasi dari galangan kapal milik VOC yang hilir mudik mengangkut hasil bumi Nusantara sebelum memasuki pelabuhan di Batavia pada abad ke-17 hingga ke-18. Nama Pulau Onrust sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu onrust yang bermakna tanpa istirahat, hal itu dikaitkan dengan  keberadaannya yang sangat sibuk disinggahi kapal-kapal VOC. Pulau ini oleh penduduk sekitar saat itu dinamai Pulau Kapal dimana lagi-lagi disematkan karena banyaknya kapal lalu-lalang di sekitarnya. Pulau Onrust dapat dikatakan pusat pertahanan VOC saat itu. Letak pulaunya strategis terlindungi Pulau Kelor dan Pulau Cipir, luasnya pun memadai untuk sebuah benteng yang kuat dan strategis.

Tahun 1803 hingga 1810 Pulau Onrust sempat 3 kali dihujani bom besi oleh armada Angkatan Laut Inggris pimpinan Admiral Edward Pellow, hasilnya pulau ini pun hancur lebur hingga sebgaian tersisa seperti saat ini. Berikutnya benteng-benteng tersebut sempat dibangun kembali tahun 1840 sebagai pangkalan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Di Pulau Onrust ini berikutnya Pemerintah Hindia Belanda melakukan aktivitas bongkar muat logistik untuk perang. Kita masih dapat menyaksikan reruntuhan dari bangunannya berupa benteng, pelabuhan kuno, dan makam Belanda (kerkhoff) dimana salah satunya bernisan nama Maria van Der Lende, yaitu anak petinggi galangan kapal yang meninggal muda karena malaria.

Sejak tahun 1619, ketika VOC mencengkram Pulau Jawa, Pulau Onrust yang kecil itu dijadikan benteng pertahanan sekaligus pangkalan yang tidak pernah sepi dari bongkar muat kapal dagang dan kapal perang. Benteng ini terus digempur armada Laut Kerajaan Inggris sejak tahun 1800 hingga saat ini jejak kerusakannya nampak bersama andil abrasi dari Laut Jawa.

Tahun 1930-an, Pulau Onrust sempat menjadi asrama haji sebelum diberangkatkan ke Mekah, Arab Saudi. Nasionalisasi yang dimotori pelajar Islam Nusantara yang berangkat haji saat itu sangat diwaspadai Pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena itu, calon haji diinapkan di pulau ini dengan alasan karantina untuk beradaptasi dengan laut tetapi nyatanya entah bagaimana nasib mereka. Pulau Onrust juga sempat menjadi lokasi tahanan orang Jerman ketika Belanda berperang dengan Jerman (1933). Selain itu, pulau ini pernah menjadi tempat pembuangan anak jalanan atau gelandangan dari Kota Jakarta pada masa Orde Lama. Sejak masa Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, berikutnya pulau ini ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya.

Di Pulau Khayangan masih tersisa bangunan benteng warisan VOC lengkap dengan meriamnya. Pulau Kahyangan atau disebut juga Pulau Cipir memiliki peninggalan sejarah berupa sebuah benteng dari zaman VOC. Pulau Cipir dijadikan pulau tampungan bagi pasien kusta atau lepra dari Pulau Onrust. Penderita penyakit lepra, kusta dan TBC diungsikan ke Pulau Onrust dan Pulau Cipir bukan untuk diteliti dan disembuhkan tetapi untuk diisolasi sehingga tidak menyebar. Dahulu kedua pulau tersebut dihubungkan sebuah jembatan namun kini yang tersisa hanya pondasi sisa pijakannya yang hancur akibat peperangan ataupun abrasi laut.

Pulau Kelor bukanlah pulau yang besar karena luasnya kini tersisa 1,5 hektar dari luas asal sekira 5 hektar akibat tergerus abrasi laut. Akan tetapi, siapapun tidak akan mengira bahwa di pulau inilah dahulu tentara VOC dan Hindia Belanda menjadikannya sebagai pertahanan pertama sebelum berikutnya membangun benteng pertahanan di pulau lain di Nusantara. Dahulu pulau ini juga merupakan kerkhoff atau kuburan tentara Hindia Belanda. Di pulau ini Anda dapat menemukan sebuah benteng pertahanan sekaligus menara pengawas yang di Eropa disebut Menara Martello (artinya lingkaran). Fungsi bangunan tersebut awalnya sebagai menara pengawas tetapi Pemerintah Hindia Belanda berikutnya memanfaatkannya juga sebagai benteng pertahanan. Bentuk bangunan ini berupa lingkatan bergaris tengah sekira 23 meter dan bertdinding setebal 2,50 meter. Awalnya benteng ini berlapis dua tetapi lapisan terluar sudah tenggelam karena abrasi laut. Uniknya di bagian tengah terdapat dinding melingkar untuk menampung air bersih demi keperluan minum dan memasak pasukan penjaga saat itu.

Pulau Bidadari juga menjadi salah satu dari rangkaian pulau bersejarah di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Di pulau ini ada peninggalan berupa benteng dan menara pengawas yang dibangun abad ke-17 dan lebih besar dari yang di Pulau Onrust. Pulau Bidadari juga menjadi penunjang aktivitas Pulau Onrust. Tahun 1679, VOC membangun rumah sakit lepra, kusta dan TBC di pulau ini hasil pemindahan dari Muara Angke. Oleh karena itu, pulau ini sempat dinamakan Pulau Sakit oleh penduduk sekitarnya saat itu.

Di Pulau Damar juga berdiam sebuah mercusuar yang dibangun tahun 1879 oleh Pemerintah Hindia Belanda atas perintah langsung dari Raja Williem III. Pulau ini juga menurut penuturan penduduk setempat sempat menjadi pulau persembunyian dari ratu Banten yang melarikan diri dikejar lawannya karena diketahui bekerja sama dengan Pemerintah Hindia Belanda.

Di Kepulauan Seribu juga ditemukan beberapa makam Muslim seperti makam Sultan Mahmud Zakaria (kerabat Kesultanan Banten) di Pulau Panjang, makam Syarif Maulana Syarifudin (kerabat Kesultanan Banten) di Pulau Kelapa, makam legenda Darah Putih di Pulau Panggang. Di Pulau Panggang terdapat sisa Kantor eks Asisten Resident Duizen Eilanden yang dibangun tahun 1880-an. Ada pula beberapa makam di sini juga da makam Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al Aidid yang berangka tahun wafat 15 Mei 1895.

Begitu mengagumkan dan menggetarkan hati saat Anda menjejak kaki di pulau-pulau penuh sejarah kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Sisa bangunan bersejarah tersebut menjadi saksi setia bagi anak negeri untuk mengambil pelajaran sedalam Laut Jawa yang penuh misteri. Saat ini, untuk melestarikannya, pemerintah setempat berupaya menyulap sebuah gedung lama menjadi museum sejarah untuk menyimpan benda cagar budaya dan diorama singkat sejarah Kepulauan Seribu. Selain itu, juga akan dibangun di Pulau Onrust dan di Pulau Cipir berupa gazebo agar wisatawan dapat menikmati panorama alamnya. Harapan dari upaya-upaya tersebut tentunya selain tetap menjaga kelestarian sejarah dan alamnya, juga demi kepentingan pariwisata.

Negeri Belanda sekarang rutin memperingati Kekuasaan VOC secara nasional. Generasi muda mereka wajib mengetahui tentang apa arti dan perwujudan VOC sebagai bagian dari karya nyata dan kejayaan Kerajaan Belanda di masa lalu. Negeri Kincir Angin itu juga mengajak Pemerintah Afrika Selatan, Sri Lanka dan India agar ikut ambil bagian memperingati saat perayaan 400 tahun VOC pada 20 Maret 2002. Tak lupa juga mengundang Indonesia, negeri yang disadari secara nyata bahwa sebagian besar kegiatan dan keuntungan yang diraup VOC adalah berasal dari tanah yang dibasahi keringat dan darah manusia Indonesia yang mereka sebut sebagai ‘inlander’.

 

Harta Haram Orang Jawa: Fakta Mental Keserakahan pada Harta

Kepercayaan terhadap roh-roh yang berwujud seperti anak kecil atau makhluk halus jahat yang dapat membuat orang menjadi kaya atau ada hubungannya dengan kekayaan yang meningkat atau menurun, entah berupa uang atau semacamnya, telah menjadi tema tua yang dapat ditemukan di pelbagai tempat di Pulau Jawa. Ini secuil gambaran bagaimana jiwa zaman orang Jawa pada kepemilikan harta dan penghidupan mistis yang memengaruhinya.

Fakta mental keserakahan pada harta memang tidak ada kaitannya dengan monetarisasi atau kapitalisme modern. Akan tetapi, perubahan detail dari kepercayaan cerita rakyat tersebut mencerminkan tingkah laku sosial dari ekonomi tradisional, baik dalam aspek struktural maupun siklus yang dialami masyarakat Jawa.

Literatur Indonesia dan historiografi Eropa serta laporan utusan dagang Tiongkok dapat menghasilkan variasi sejarah yang kaya tentang keberadaan dan kepercayaan rakyat Indonesia terhadap makhluk-makhluk halus jahat yang dapat memperkaya pundi-pundi materi mereka. Meskipun akan selalu tidak mudah untuk menelusuri sumber serta membangun kronologi yang memuaskan menjadi sebuah tulisan ringan bertema ekonomi dan bernuasa sejarah namun saya harap siapapun yang membaca ini kemudian bertemu dengan saya langsung dapat berbagi lebih banyak cerita yang mungkin unik untuk didengar.

Kita mulai dari Clifford Geertz yang menulis tentang keberadaan tuyul selama bekerja lapangan di daerah Mojokerto antara tahun 1952 dan 1954. Ia menyebutkan makhluk halus yang dapat mencuri tanpa diketahui dan hanya dapat dilihat oleh pemiliknya serta orang tertentu yang memiliki kemampuan spiritual tinggi seperti ulama hingga pewaris ilmu batin atau juga para dukun. Jasa Tuyul tersebut harus dibayar dengan kematian manusia yang akan datang lebih awal dan sangat mengerikan.

Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap Tuyul menggambarkan kondisi sosial masyarakat Jawa saat itu yang berswasembada tanpa menggunakan uang tunai. Kepingan emas dan perak asli pribumi dari hasil pertanian telah digunakan sejak abad ke-8, begitu pula keping uang China dan perak Belanda (duiten) yang telah menembus pelosok Nusantara.

Selain itu, ada juga uang tembaga Belanda yang dipakai untuk membayar tanaman wajib perdagangan pasar Eropa dan sebagai gaji sejumlah tenaga kerja rodi. Saat Hindia Belanda mengalami depresi ekonomi pada 1930-an yang membuat proporsi tenaga buruh tani yang ditawarkan di pedesaan meningkat hingga 50% dan memicu ketersediaan uang lebih banyak lagi,  kemunculan makhluk halus seperti Tuyul pun terkuak dan dikupas.

Makhluk halus lain yang berhubungan dengan kekayaan haram adalah setan gundul yang muncul tahun 1894. Sosoknya mirip bocah empat tahunan. Ia dapat mencuri uang untuk tuannya tanpa diketahui oleh korban. Setan Gundul dapat dibeli dari dukun khusus atau dikontrak selama tujuh tahun.

Akan tetapi, uniknya hal itu dapat ditunda hingga dua kali tujuh tahun jika pemiliknya mampu dan mau mengorbankan orang lain sebagai gantinya. Setan Gundul harus diberi makan kacang hijau setiap hari. Apabila sang istri mempunyai bayi, ia juga harus menyusui si Gundul. Ruangan tersendiri yang hanya boleh dimasuki oleh majikannya juga disediakan untuk si Gundul. Bila dirawat dengan baik, ia akan memberikan kekayaan dan melindungi rumah pemiliknya dari gangguan musuh.

Sosok Gundul kemudian hilang begitu saja pada tahun 1930-an dan 1940-an. Ketika ekonomi mulai melaju dan kesempatan untuk memperoleh kekayaan muncul, masyarakat Jawa membutuhkan sosok hantu “baru” untuk menjelaskan tentang kekayaan yang mendadak.

Ada pula makhluk mentek yang dikenal di kalangan petani dan menjadi penyebab munculnya penyakit padi atau hama. Dalam literatur lama Mentek digambarkan sebagai anak kecil telanjang yang mampu merusak padi di sawah. Penjelasan tentangnya cukup rumit, apakah periode depresi dan perang memungkinkan makhluk perusak tanaman beralih menjadi pencuri padi dan penghasil padi yang cepat? Saat itu pandangan tentang kekayaan tidak diukur oleh uang, tetapi jumlah padi yang dihasilkan.

Mentek telah kehilangan fungsinya sebagai penghasil beras ketika uang telah diterima sebagai alat tukar dan tabungan. Ia tidak hilang sama sekali dari cerita turun-temurun, tetapi statusnya beralih menjadi penyakit tanaman dan ia muncul kembali tahun 1930-an ketika uang tidak begitu penting dibandingkan padi.

Beda lagi, ada kecit yang digambarkan sebagai boneka berbentuk manusia atau setan berwujud anak. Kemampuannya adalah dapat mengembalikan uang yang telah dibelanjakan pemiliknya.

Selain kepercayaan kepada makhluk halus yang dapat memberikan kekayaan, ada juga kepercayaan terhadap chthonic yang disebut hewan bumi atau hantu bumi yang tinggal di atas tanah ataupun air. Ia mengetahui di mana letak harta karun; emas, perak, berlian dalam Bumi. Sebetulnya kepercayaan ini ditemukan pula pada bangsa lain, seperti India dan Srilanka pada abad ke-17, saat pedagang kaya gemar menimbun harta demi menghindar dari peraturan atau birokrasi.

Bukti paling awal tentang kepercayaan ini ditemukan di Indonesia tahun 1820 saat seorang Residen Cirebon menuliskan bahwa banyak orang desa di Jawa mengubur uangnya dalam tanah karena khawatir terhadap kecemburuan dan mata tetangganya atau tidak berani memperlihatkan kekayaannnya karena bukan dari kalangan bangsawan. Mengubur uang bersama pemiliknya yang mati juga dilakukan karena ketakutan akan menghantui bila kekayaannya hasil kerjanya dinikmati orang lain. Dapat disimpulkan bahwa penguburan uang merupakan kebiasaan umum pada masyarakat di Pulau Jawa tempo dulu.

Selain itu, ada pula blorong sebagai kasus perubahan gender yang cukup terkenal. Blorong yang berkelamin jantan masa 1855-1875 kemudian mengalami perubahan menjadi wanita tahun 1879-1924. Blorong adalah seekor ular atau ikan berkepala manusia kadang dengan banyak tangan dan kaki mirip lipan, berdiam di pegunungan  atau sepanjang Pantai Selatan. Roh pemujanya akan berubah menjadi ular sesudah ia mati. Keberadaannya terkait juga dengan Nyai Lara Loro) Kidul yang dapat memberikan kekayaan.

Siluman sang pencuri lain adalah ipri, yaitu sosok makhluk halus betina jahat variasi lain dari blorong untuk orang Sunda. Ipri pertama kali disebut tahun 1910 dan sebutan untuk mendapatkan roh makhluk ini dinamakan ngipri dimana pelakunya menjadi seekor ular, baik pada saat ia masih hidup maupun sesudah mati. Tindakan tersebut disebut sebagai likantropi yaitu orang yang secara temporal dapat berubah menjadi binatang. Orang yang jiwanya masuk sebentar ke dalam seekor binatang saat ia tidur atau kesurupan dan orang yang jiwa atau rohnya berubah atau masuk ke dalam binatang setelah ia mati. Binatang yang disebut tersebut adalah kera (ngethek), anjing, babi (nyegik) dan celeng (babi hutan).

Ada juga cerita yang lebih kuno tentang jerangkong (kerangka tulang) sebagai roh dalam bentuk anjing kadang kambing, kucing atau kera, yang pada masa hidupnya merupakan pemakan riba, kikir, atau menggunakan makhluk halus untuk memperoleh kekayaan.

Jalan dan cara untuk memperoleh pelayanan dari makhluk halus penghasil uang dan kekayaan adalah membeli pengetahuan (ngelmu) tetapi perlahan pembelian sebagai sarana untuk memperoleh makhluk halus telah terhenti pada awal abad ke-20. Meditasi, bertapa dan tarikat di kuburan keramat di puncak pegunungan sering disebut setelah tahun1900 tetapi jarang sekali terjadi sebelum tahun itu. (Him)

Banda Neira: Setidaknya Datanglah ke Sini Sekali Seumur Hidup

Aroma rempah telah mengundang penjelajahan dunia, membangun hubungan dagang antarbangsa, bahkan memicu lahirnya kolonialisme. Dunia dan peradaban berubah karena rempah. Rempah memang mengharumkan nama Nusantara namun selain berkah, rupanya rempah menjadi benih bencana bagi bangsa ini. Kekuasaan lokal di Nusantara merasakan pedihnya penjajahan kolonial selama lebih dari satu abad dan itu semua bermula dari sebuah tempat bernama Banda.

Banda Neira terletak di Pulau Neira dimana merupakan kota berwujud pulau yang berfungsi sebagai pusat administratif dari sebuah kecamatan di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Dahulu inilah Ibukota pertama Hindia Belanda sekaligus titik mula pengaturan perdagangan rempah dunia sehingga menghubungkan berbagai tempat dan pelabuhan di Asia dan Eropa kemudian membentuk apa yang disebut sebagai jalur rempah.

Merkantilisme di Eropa telah menggiring kebijakan ekonomi baru yang bertujuan menjaga dan mempertahankan kemakmuran negara di Eropa dengan menjaga kesatuan ekonomi dan kontrol politis. Hal itu dilakukan dengan cara memonopoli perdagangan dan mendapatkan daerah jajahan baru. Negara induk (Mother Country) akan mengontrol semua perdagangan di wilayah koloninya. Koloni dilarang berdagang dengan koloni atau kerajaan lain, berusaha menekan impor dan mendukung ekspor. Ini adalah cikal bakal kolonialisme.

Di masa keemasan Banda dahulu, para saudagar melakukan jual beli pala dan fuli yang mana merupakan komoditi paling banyak dicari di dunia dan Banda menjadi asal sumber rempah-rempah tersebut. Tatatan niaga yang mapan dan stabil selama ratusan tahun akhirnya berakhir dengan monopoli rempah-rempah oleh VOC di wilayah ini.

Pala berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang digunakan dalam industri pengalengan dan kosmetik. Berbagai sumber tertulis menyatakan biji pala dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin, selain untuk obat pencernaan, obat muntah-muntah dan lainnya. Bahkan, Biarawan Fransiskan Roger Bacon (1220-1292) menyarankan campuran yang terdiri dari ular tedung yang digiling dan dikeringkan, cengkeh, pala dan bunga pala sebagai ramuan anti tua.

Rempah membawa berbagai perubahan besar, mulai dari perubahan tradisi kuliner, teknologi pengawetan, kosmetik, dan pengobatan. Rempah menjadi bagian penting pergaulan sehari-hari, menunjukan strata sosial, sebagai alat tukar, bahkan menjadi pampasan dan alat tukar politik dalam perjanjian antar negara. Jamuan makan yang disajikan dengan taburan lada, menunjukan status sosial orang tersebut. Semakin banyak lada yang ditaburkan, semakin kaya orang tersebut. Bahkan mereka menggunakan wadah perak untuk menyajikan lada. Pada abad 16-17 Masehi harga 1 karung lada sebanding dengan harga sewa apartemen mewah selama 2 tahun berikut biaya perawatannya di London saat itu.

Penjelajahan orang-orang Belanda mencari rempah hingga ke Banda dipengaruhi oleh buku Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien (Catatan Perjalanan ke Timor atau Hindia Portugis) karya Jan Huygen van Linschoten, seorang pelaut Belanda yang bekerja pada armada Portugis yang melakukan perdagangan di kepulauan Nusantara pada awal abad ke-16. Dalam buku itu dia menuliskan dengan baik keindahan pohon penghasil rempah-rampah dan berbagai keajaibannya.

Ketika VOC mengetahui keberadaan pusat rempah-rempah dunia maka tidak ada pilihan bagi mereka kecuali memonopolinya dengan mencengkramkan kekuasaan politik dan ekonomi di jantung rempah dunia. VOC kemudian membangun Kota Banda Neira dengan mendirikan bangunan istana bernama Istana Mini Neira. Istana tersebut kala itu berfungsi sebagai tempat tinggal Gubernur VOC. VOC lebih dahulu membagun istana ini setahun sebelum pembangunan Istana Negara di Batavia (Jakarta). Istana Mini Neira menjadi satu-satunya bangunan besar dan indah saat itu di kawasan ini. Berikutnya di sekitarnya banyak dibangun rumah besar sebagai tempat tinggal dari petinggi orang Eropa yang datang ke pulau ini. Bangunan ibarat masion tersebut memiliki arsitektur Eropa yang khas. 

Untuk bertahan dari serangan musuh, Jenderal VOC Piether Both yang saat itu ditugaskan untuk memonopoli perdagangan di Banda Neira membangun Benteng Belgica sebagai pertahanan. Tidak jauh darinyaterdapat Benteng Nassau. Berbeda dengan Benteng Belgicia, benteng ini pertama kali dibagun oleh Portugis tahun1529. Penguasaan monopoli dagang rempah-rempah oleh VOC di wilayah ini telah mengakibatkan pembantaian terhadap warga Banda kala itu.Bahkan, mereka juga membawa sebagian orang Banda Neira ke Batavia untuk dijadikan budak. 

Menyambangi Maluku akan lengkap apabila Anda menyempatkan diri menjemput keindahan Banda Neira. Selain berwisata sejarah di pulau ini Anda bisa berwisata bahari dan alam. Begitu menapakkan kaki di tanah penuh kaya sejarah ini, nuansa bangunan koloniali begitu terasa. Anda ibarat sedang memasuki mesin waktu kembali pada era kekuasaan VOC. Berkunjung ke Banda Neira tepat rasanya diibaratkan dengan pepatah “Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”

Tidak hanya jejak sejarah Banda yang mengagumkan, perairannya menyimpan kekayaan biota laut yang memesona. Titik menyelam di perairan Banda Neira merupakan surga bagi mereka yang menggilai aktivitas menyelam. Total terdapat 22 lokasi menyelam di perairan Banda Neira,diantaranya adalah: Tanjung Barat Pulau Pisang, Selamo Village (Pulau Banda Besar), Tanjung Burang (Pulau Banda Besar), Batu Kapal, Mandarin City (Jetty Reef)  dan Pasir Putih (Lighthouse Pulau Neira). Ada banyak hal dan tempat menarik bisa Anda temui di sana. Banda Neira lekat dengan nuansa kota tua karena memang hingga pertengahan abad ke-19 wilayah ini menjadi pusat perdagangan rempah-rempah.


Kegiatan 

Setelah memilih hotel tempat menginap dan beristirahat dari pejalanan yang cukup melelahkan. Berikutnya persiapkan perlengkapan Anda dan bergegas menikmati indahnya suasana Kota Banda Neira. Berikut beberapa tempat dengan nilai sejarah yang bisa Anda sambangi.

Rumah Budaya, berlokasidi Jl. Gereja Tua, dahulu merupakan mansion milik pejabat Belanda. Kini rumah ini berubah fungsi menjadi museum yang menyimpan beberapa peninggalan sejarah, seperti:meriam, mata uang kuno, peta kuno, helm kuno, lukisan yang bercerita mengenai peperangan pada masa lalu,dan juga terdapat diorama sejarah Banda. 

Istana Mini Neira, dahulunyamerupakan tempat tinggal Gubernur Jenderal Belanda, salah satunyapernah ditinggali Jan Pieterszoon Coen. Ukuran istana ini tidak telalu besar namun untuk ukuran istana bagunan ini termasuk kecil. Di depan istana terdapat meriam sisa perang dari masa lalu. Anda bisa berajalan-jalan menelusuri halaman istana yang luas. 

Benteng Nassau dan Benteng Belgica, kedua benteng ini dibagun oleh dua bangsa yang berbeda yaitu Portugis dan Belanda. Letak keduanya berdekatan. Kedua benteng tersebut hingga tahun 1860 merupakan markas pertahanan militer Belanda. Kondisi keduanya terlihat sangat memprihatinkan karena mulai runtuh namun pemerintah setempat melakukan perbaikan. Selain menikmati peniggalan sejarah ini, Anda bisa menikmati pemandangan di sekitar benteng-benteng termasuk menyaksikan Gunung Api yang berdiri gagah. 

Tempat lain yang layak dikunjungi di daratan Banda Neira antara lain: Rumah Hatta, Rumah Kapten Cole, Gereja Protestan Belanda dan Gereja Elim Tabernakel.

Kegiatan yang tentunya tidak mungkin untuk dilewatkan adalah menyelam dan snorkeling menikmati indahnya terumbu karang dengan berbagai bentuk. Terdapat sekira 350 jenis biota laut termasuk ikan, kerang purba, rumput laut, Moluska, Gurita, Udang, Kepiting, penyu,dan terumbu karang. 

Berikut beberapa lokasi menyelam yang bisa Anda kunjungi, yaitu: Tanjung Barat Pulau Pisang,Selamo Village (Pulau Banda Besar), Tanjung Burang (Pulau Banda Besar), Batu Kapal Mandarin City (Jetty Reef), Pasir Putih (Lighthouse Pulau Neira),  Light House Reef (Pulau Kraka), Lava Flow I (Old Lava), Lava Flow II, Tanjung Batu Udang (Pulau Ai Selatan)ragonet, Tanjung Batu Payong (Pulau Ai Barat Laut), Tanjung Nailaka (Run Island), Tanjung Lokon (Pulau Run), Tanjung Noret (Pulau Run), Pulau Run Depan Kampung, Tanjung Selatan (Pulau Suanggi), Tanjung Utara (Pulau Suanggi), Takat Hatta (Submerged Reef), Tanjung Buton (Tanjung Selatan Pulau Hatta),Tanjung Salamasa (Pulau Hatta Barat), Tanjung Kanari (Pulau Hatta Utara) dan Tanjung Pulau Pisang. 

Jika Anda masih memiliki sisa waktu, kenapa tidak berkunjung ke Pulau Gunung Api. Di pulau iniada gunung api vulkanis setinggi 666 meteryangterakhir meletus tahun 1988. Gunung tersebut dapat didaki dan untuk mencapai puncaknyadibutuhkan waktu sekira1,5 jam. 

Akomodasi

Berikut beberapa hotel dan penginapan yang bisa menjadi referensi bagi Anda ketika berkunjung ke Banda Neira. 

The Maulana Hotel: Jl. Maulana, Banda Neira; Telp: (0910) 21022

Mutiara Guest House: Telp: +62 813 30343377.

Vita Guest House: Jl. Pasar, Banda Neira; Telp: +62 819 45090110.

Delfika: Jl. Gereja Tua, Banda Neira; Telp: (0910) 21027

Pondok Wisata Matahari: Jl. Pasar, Banda Neira; Telp: (0910) 21050

Pondok Wisata Flamboyan: Jl. Syahrir; Telp: (0910) 21233

Podok Wisata Florida: Jl. Hatta, Banda Neira; Telp: (0910) 21086

Rosmina: Jl. Kujali, Banda Neira; Telp: (0910) 21145


Berkeliling 

Berkeliling di Banda Neiradapat dilakukan dengan berjalan kaki, mengendarai ojek atau becak. Desa wisata terjauh berjarak sekira 45menit dengan berjalan kaki.Kota Banda Neira  sendiri terbilang sepi dan mulai ramai ketika kapal Pelni berlabuh. Mendadak pedagang akan memadati pasar menyambut penumpang yang turun ke darat untuk membeli makanan dan oleh-oleh khas Banda.

Apabila Anda ingin berkeliling Kepulauan Banda maka sewalah perahu kayu dan lakukan tawar menawar sewajarnya. Terdapat sepuluh pulau yang bisa Anda jelajahi dengan jarak antarpulau sekira 1 jam. Beberapa pulau yang dapat disambangi adalah: Pulau Lontor, Pulau Gunung Api, Pulau Neira, Pulau Ay, Pulau Rhun, Pulau Hatta, Pulau Syahrir, Pulau Manukang, Pulau Kurukan, Pulau Nailaka dan Pulau Kapal. 


Kuliner

Ikanbakar disajikan di penginapan dan rumah makan. Andamungkinperlu memesanikansatu hari sebelumnya karena di sini restoran tidak menyimpan ikan di lemari pendingin namun langsung di beli di pasar ikan. 

Ikan Kuah Pala Banda yang bercitarasa gurih pedas dan asam patut dicicipi. Sensani rasanya yang unik pasti akan membuat Anda ketagihan. Biasanya ikankuah pala disajikan dengan urap daun pepaya dan ikan kakap merah bakar. Sambal bekasang juga tidak boleh Anda lewatkan ketika berwisata kuliner di Banda Neira. 

Makanan dan minuman yang sangat direkomendasikan untuk dicoba apabila sedang wisata di Banda adalah ikan kuah asam pala dan jus buah pala. Banda memang terkenal sebagai sentra produksi pala sehingga masyarakat setempat terbiasa membuat masakan dengan memasukkan pala sebagai bahannya. Ikan kuah asam pala banyak dipuji sebagai makanan yang sangat nikmat karena rasa kuah yang asam bercampur dengan pedasnya pala benar-benar sesuai untuk pendamping makan ikan. BuahPaladi pulau ini juga dimakan sebagai camilanmaniskeringdan dapat dibeli di sepanjang jalan utama diBanda Neira. 


Berbelanja 

Ketika kapal PELNI tiba di Pebuhan Nairamaka bersiaplah karena lokasi sekitar pelabuhan tiba-tiba berubah menjadi lautan pedagang makanan dan minuman. Berbaurlah dalam riuh ramai yang menarik ini. Anda bisa membeli sovenir khas Banda Neira di Jalan Pelabuhan. Jalan ini merupakan pusat penjualan souvenir di Banda Neira.


Transportasi 

Untuk menuju Banda Neira maka arahkan penerbangan ke Bandara Pattimura di Ambon. Berikutnya dilanjutkan terbang ke Banda Neira. Penerbangan beroperasi seminggu sekali atau setiap dua minggu. Alternatif ideal adalah Anda dapat menyeberangi Laut kapal PELNI dua kali seminggu dengan kapal KM Ciremai dari Ambon ke Banda Neira. Kapal ferry berlayar dari Pelabuhan Tulehu di Pulau Ambon ke Pelabuhan Banda Neira sebanyak 2 kali seminggu pada Sabtu dan Selasa. Sedangkan kapal yang berlayar pada rute sebaliknya adalah pada Minggu dan Rabu. Kapal berangkat pukul 09.30 dan tiba pukul 16.00 setelah menempuh kurang lebih 6 jam perjalanan. Pastikan Anda dua kali memeriksa jadwal untuk perubahan yang tak terduga.

ApabilaAnda menggunakan perjalanan laut dari Surabaya akan memakan waktu 6 hari untuk sampai di Banda menggunakan kapal PELNI. Kapal cepat penumpang Express Bahari ada 2x dalam seminggu. Tulehu – Banda Rabu dan Minggu, Banda – Tulehu Selasa dan Sabtu. Info kapal cepat: 081343292900.

Waktu terbaik berkunjung ke Banda Neira terutama bagi Anda yang ingin menyelam adalah April-November. Untuk daerah sebelah Barat dan Utara Banda Besar, sekitar Gunung Api, dan daerah Neira Anda perlu berhati-hati karena saat itu angin Tenggara bertiup. 

Wae Rebo: Rumah Kerucut Flores yang Tersisa

Bagai kampung di atas awan, Waerebo adalah representasi keindahan desa tradisional paling memukau di Flores. Butuh tekad kuat pelancong menyambanginya dengan treking hingga 3 jam (paling lama). Sederetan rumah adat ini berjejer cantik dihimpit pegunungan dan hutan hujan tropis yang amat lebat, bahkan desa terdekat darinya jauh terpisah lembah menganga di antara bukit-bukit berkerudung kabut di ujung pepohonan yang tinggi.


Mengapa rumah adat ini berbentuk kerucut dan dari mana asal muasalnya masih sebuah tanda tanya besar, kecuali secuil informasi dari tradisi penuturan masyarakatnya sendiri yang merupakan generasi ke-18. Pegunungan hujan tropis dan lembah hijau yang mendekap hangat dusun inilah yang membuatnya dapat mempertahankan budaya, tradisi dan keunikan arsitekturnya.

Dusun Wae Rebo begitu terpencil sehingga warga desa di satu kecamatan masih banyak yang tak mengenal keberadaan dusun ini. Seperti Kampung Denge, desa terdekat ke Wae Rebo belum seutuhnya menjadi desa tetangga karena belum semua pernah ke Wae Rebo. Wae Rebo berada di Kabupaten Manggarai, tepatnya di Kecamatan Satarmese Barat, Desa Satar Lenda. 

Sudah banyak turis asing dari Belanda, Perancis, Jerman, hingga Amerika dan beberapa negara Asia terperangah keindahan kampung yang rumahnya seperti payung berbahan daun lontar atau rumbia yang disebut mbaru niang. Mbaru niang sudah punah sebelum memasuki awal tahun 70-an saat pemerintah mengkampanyekan perpindahan masyarakat pegunungan ke dataran rendah.

Seorang antropolog, Catherine Allerton mengenang pembicaraannya dengan tu’a golo, pemimpin politik dan kepala kampung, juga tu’a gendang, kepala upacara adat. Warga Wae Rebo saat itu tak memutuskan meninggalkan dusunnya. Sudah generasi ke-18 hingga kini Wae Rebo bertahan dari seorang penghuni pertama dan pendiri Wae Rebo lebih dari 100 tahun lalu, Empo Maro.

Leluhur Wae Rebo, termasuk Empo Maro, mewariskan 7 buah rumah kerucut yang sangat menawan meskipun telah dimakan usia dan beberapa diantaranya telah rubuh dan belum dibina kembali. Sebuah yayasan dari Jakarta diberitakan telah memberikan bantuan pertanda kasih sayangnya pada keaslian Wae Rebo dengan mendirikan satu rumah yang sama bentuknya dan dinamakan Tirto Gena Ndorom, dimana Tirto adalah secuil kata dari nama yayasan donatur tadi.

Rumah yang disebut mbaru niang terdiri dari 5 tingkat yang semua ditutupi atap dan menjadi sebuah kerucut. Di tingkat pertama, lutur, atau tenda adalah tempat tinggal penghuninya. Di tingkat kedua, lobo, atau loteng ialah tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Tingkat ketiga ialah lentar yang berfungsi menyimpan benih jagung dan tanaman untuk bercocok tanam lainnya. Tingkat keempat ialah lempa rae, yaitu tempat untuk menyimpan stok cadangan makanan yang akan sangat berguna saat panen dirasa kurang berhasil. Sedangkan tingkat kelima, hekang kode, yaitu tempat menyimpan sesajian untuk para leluhur.

Di Wae Rebo, tidak seperti di dusun tradisional lain yang terkadang memiliki berbagai klan. Di sini hanya terdapat satu klan atau marga saja. Klan tersebut memiliki gendang pusaka di rumah gendang di tiang utamanya. Mereka memiliki pantangan untuk tidak makan satu binatang, yaitu musang. Dari penuturan tetua, leluhur mereka datang ke Wae Rebo dengan bertemankan seekor musang sehingga dipercayai bahwa musang adalah bagian dari leluhur mereka.

Berkembangnya penduduk Wae Rebo membuat keberadaan sebuah desa baru dirasakan harus dibina. Sebagian masyarakat Wae Rebo dibagi tempatnya dengan desa baru yang disebut Kombo. Tak banyak wisatawan mengetahuinya, walau Kombo dan Wae Rebo adalah masyarakat yang sama. Akan tetapi, karena lingkungannya dipertahankan sesuai aslinya, Wae Rebo seolah permata di atas lumpur. Kombo dipandang berbeda karena tidak berasal dari leluhur yang merintis keberadaan kampung itu.

Warga paruh baya dan anak-anak sekolah tinggal di Kombo, sedangkan orang tua dari para pria muda serta belasa tahun yang menginjak dewasa tinggal di Wae Rebo. Mereka semua memiliki kepercayaan yang sama. Katolik adalah agama yang dipeluk masyarakatnya, walau kepercayaan animisme masih kental terasa dalam kehidupan mereka.

Mereka yakin bahwa tanah atau hutan memiliki emosi dan perasaan. Sebelum bercocok tanam dan mencangkulnya, sebuah ritual harus dilakukan untuk meminta izin pada penunggunya. Bila tak berizin maka tanah akan menjerit dan merintih. Bercocok tanam pun harus rutin agar tanah tidak ‘menangis’ sedih. Warga Wae Rebo memandang tanah sebagai bagian dari mereka dan seperti manusia yang harus dihormati.

Di tengah dusun terdapat panggung batu yang dikisahkan telah dibina atas bantuan penunggu hutan yang berupa manusia gagah menawan yang mampu mengangkat batu besar dengan satu tangan. Masing-masing tangan dan kaki penunggu hutan ini memiliki jari berjumlah enam. Rambutnya dikisahkan sangat panjang dan parasnya cantik rupawan. Setelah panggung ini selesai, tarian caci digelar dan juga tabuhan gendang dilaksanakan (mbata).

Dari Ruteng, perjalanan dengan kendaraan selama 4 jam yang berkelok sehingga penumpang tak henti bergoyang. Sampailah di sebuah desa pesisir bernama Dintor. Jalan terus dilanjutkan menuju tanjakan ke pedalaman pulau menempuh pematang sawah dan jalan setapak di Sebu sebelum sampai di Denge. Dari Denge langkah terus dihentakkan melalui hutan kecil, melalui Sungai Wae Lomba. Setelah mengatur kerja paru-paru di sepanjang jalan setapak, dari Ponto Nao, terlihat pusat Wae Rebo, sebuah dusun yang mengepul asap dari kerucut-kerucut aneh yang berkumpul di sebuah lapang hijau. Itulah sisa-sia mbaru niang yang hampir punah.

Perjalanan panjang menuju dusun ini membuat masyarakatnya sedikit terasing dari peradaban, terutama pendidikan dan kesehatan. Seorang anak bahkan dewasa dirata-ratakan telah berjalan kaki selama 4 jam sekali keluar dari dusunnya dan kembali membawa sesuatu seberat 15 kilogram untuk dijadikan bahan makanan cadangan karena terbatas sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan. Dalam satu tahun, diperhitungkan seorang anak akan membawa barang dengan total berat hingga 2 ton.

Tiba di dusun ini, sambutan hangat adalah sebuah keniscayaan. Ubi, talas, dan jagung akan disajikan termasuk daging ayam. Menginap di sana seperti sebuah mimpi berhari-hari. Ada kesan khusus dan tak akan tergantikan oleh perjalanan apapun, karena memang hanya satu kali pengalaman ini terjadi di Wae Rebo. Di sini semua berawal, dan akan terus berlanjut sebagai tanah tumpah darah warga Wae Rebo yang disebutkan dalam bahasa daerah sebagai Neka hemong kuni agu kalo.

Koffie Fabriek Aroma Bandoeng: Toko Kopi Legendaris Nusantara

Apakah anda percaya bahwa pemilik kedai kopi dunia Starbucks, yaitu Howard Schultz pernah datang jauh-jauh ke Bandung dari Seattle, Amerika, hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya terhadap kenikmatan kopi legendaris Nusantara ini! Apa yang menjadikan Koffie Fabriek Aroma Bandoeng begitu digemari dan bertahan selama puluhan tahun?

Bukan cafe atau pun kedai kopi! Orang mungkin juga tidak akan mengira tempat ini masih bertahan di tengah hiruk pikuk kota Bandung. Di antara berseliwernya kabel tiang listrik dan penjual kaca lampu mobil bekas warna warni, di situ masih bertahan dengan bersahaja pabrik sekaligus toko kopi legendaris Nusantara. Namanya adalah, Koffie Fabriek Aroma Bandoeng!

“Paberik Kopi” itulah yang tertulis di tembok putih usang bagian atas bangunan langgam Art Deco di Jalan Banceuy 51, Kota Bandung. Wilayah ini dulunya memang Pecinan China dan salah satu dari pusat niaga tertua di Bandung. Bertanyalah pada tukang parkir atau orang yang Anda temui di jalanan sekitar maka mereka langsung akan menunjukan arahnya kepada Anda.

Pagi hari pukul 06.00 WIB, Widya Pratama Tanara sudah bergegas memeriksa mesin kopi di pabriknya yang berumur sekira 80 tahun. Ia meneruskan tongkat estafet usahanya tersebut dari sang ayah, Tan Houw Sian. Berkunjunglah ke sini dan resapi salah satu contoh nyata filosofi dan tradisi bisnis Tionghoa, yaitu “Orang tua yang merintis dan sang anak yang mengembangkan”. Koffie Fabriek Aroma Bandoeng dijalankan bukan saja ‘dilakukan dengan baik’  tetapi juga ‘dilakukan dengan benar’.

Itu karena memang Koffie Fabriek Aroma Bandoeng mempertahankan proses pengolahan kopi kualitas tinggi secara konsisten selama puluhan tahun. Percaya atau tidak Koffie Fabriek Aroma Bandoeng dalam tiap bungkusnya adalah kopi yang sebelumnya disimpan selama bertahun-tahun. Untuk sebuah kopi mokka arabika maka itu disimpang selama 8 tahun dan kopi robusta disimpan selama 5 tahun. Setelah masa yang cukup lama tersebut barulah kopi diolah dalam beberapa tahapan lalu diteguk setiap hari oleh penikmatnya.

Tujuan penyimpanan kopi dalam waktu lama ini adalah agar tingkat keasaman dan kadar kafein bisa berkurang atau hilang sehingga setiap orang yang meminumnya tidak akan bermasalah dengan ketidaknyamanan perut. Kopi yang berkualitas bagi Widya Pratama haruslah sehat dan tidak dicampur zat kimia. Itulah sebab, penikmat kopi legendaris ini bukan hanya seputaran Nusantara melainkan hingga ke Jepang, Australia, Belanda, Amerika Serikat, dan Kanada. Koffie Fabriek Aroma Bandoeng sejak puluhan tahun telah memasok kopinya ke berbagai hotel dan cafe ternama di Nusantara dan mancanegara.

Di sini diproses dengan mesin pembakaran berbahan bakar kayu dari pohon karet. Apa tujuannya? Itu agar penyerapan panas merata dan dapat mematangkan kopi secara perlahan sehingga keluarlah aroma asli kopi yang nikmat. Dengan bahan bakar kayu pohon karet itu juga membuat asap yang mengepul tidak menghitam legam mengotori langit biru Kota Bandung.

Apa Anda setuju bila dikatakan untuk menikmati kopi tanpa tahu asal usulnya rasanya kurang sedap? Ya, menikmati kopi akan lebih sedap apabila kita tahu prosesnya, tahu juga sifat dan cara menyajikannya. Beda penyajian maka bisa beda rasa, benar tidak?

Koffie Fabriek Aroma Bandoeng dikatakan penikmatnya bukan saja memberi kepuasan rasa tetapi nyatanya menggelontorokan candu yang sehat. Bisa jadi memang kopi ini memiliki kekuatan seperti juga asal kata kopi yaitu dari kata qahwah (Bahasa Arab) yang artinya kekuatan karena memiliki energi tinggi.

Pembeli yang datang diperkenankan melihat langsung proses pembuatan kopi tersebut. Di toko kopi ini juga akan Anda lihat beragam peralatan pengolah kopi seperti mesin grinder dan roasting dari masa Hindia Belanda. Di sini berderet pula toples kaca antik yang sudah ada di situ sejak tahun 1930-an dan diyakinkan tidak ada yang memproduksinya lagi.  

Nah, sekarang bagaimana sebenarnya Koffie Fabriek Aroma Bandoeng ini diolah? Buah kopi arabika (hanya yang sudah matang) dipesan langsung dari Aceh, Medan, Toraja, Floresdan Jawa Tengah. Sementara itu, untuk buah kopi robusta (hanya yang sudah matang) berasal dari Bengkulu, Lampung dan Jawa Tengah. Koffie Fabriek Aroma Bandoeng jelas-jelas memproduksi campuran kopi (blend) dari berbagai petani kopi di Nusantara dan tidak dari luar negeri.

Buah kopi yang baru datang akan dijemur terlebih dulu beberapa jam untuk mengurangi kadar air. Berikutnya kopi akan dimasukan ke dalam karung goni berwarna coklat untuk disimpan selama 5 hingga 8 tahun. Karung itu akan diberi nomor penanda seperti tanda lahir seseorang. Karung goni dipandang memiliki  ruang udara yang lebih baik ketimbang kertas, besi atau pun plastik. Proses penyimpanan tersebut bertujuan untuk mengurangi kandungan asam dan kadar kafein. Biasanya biji kopi arabika yang memiliki tingkat keasaman lebih tinggi disimpan selama 8 tahun dan untuk kopi robusta disimpan selama 5 tahun.

Untuk membedakan kopi yang berumur muda dengan yang berumur lama maka cobalah Anda pukul karung goni tersebut. Karung goni yang keras menunjukan sudah berumur lama dan yang lebih lunak maka itu baru 1 atau 2 tahun saja. Bila waktunya tiba karung goni akan dibuka dan biji kopi disangrai selama beberapa jam dalam mesin roaster berbetuk bulat dengan bahan bakar kayu dari pohon karet.

Kemudian, biji kopi yang selesai disangrai akan didinginkan lalu diseleksi dalam mesin untuk memilah biji kopi dari ampas dan biji yang kualitasnya kurang bagus. Setelah itu, dilanjutkan proses penggilingan biji kopi menjadi bubuk kopi siap kemas. Pengemasan kopi berlangsung pagi hari langsung di depan pembeli. Pembeli juga akan melihat langsung bubuk kopi yang ditakar, ditiimbang, lalu dibungkus dalam kertas putih berlapis plastik bening.

Ada satu lagi yang khas tidak berubah dari bungkusan sederhana Koffie Fabriek Aroma Bandoeng, yaitu tertera tulisan dalam 2 bahasa yaitu bahasa Belanda dan Bahasa Indonesia dengan ejaan lama. Ini tulisannya:

“Maoe minoem Koffie selamanja enak? aromanja dan rasanja tinggal tetep, kaloe ini Koffie soeda di boeka dari kantongnja harep di pindahken di stopfles atawa di blik jang ter-toetoep rapet. Djangan tinggal di kantong!”

Koffie Fabriek Aroma Bandoeng hanya menjual dua jenis kopi yakni, pertama, kopi robusta seharga Rp 12.500,- per 250 gram dan kedua, kopi mokka arabika seharga Rp17.500,- per 250 gram. Harga kopi tersebut biasanya naik sekira 10% per tahunnya.

Ada hal lain yang berbeda dalam pola penjualan Koffie Fabriek Aroma Bandoeng. Kopi ini dijual terbatas dimana seseorang hanya dapat membeli 10 kg paling banyak dan kopi yang dijual dalam satu hari hanya untuk hari itu saja. Tujuannya lagi-lagi agar kualitas kopi tetap segar dan tidak disimpan terlalu lama sehingga berkurang kualitasnya. Masuki toko ini dan perhatikan sejak pukul 08.00 (pagi) orang sudah mengantre untuk mendapatkan kopi kesayangannya. Itu berlangsung hingga pukul 15.00 (sore).

Ada beberapa tips untuk penyimpanan kopi ini. Simpan kopi di tempat kedap udara atau di dalam frezer lemari es. Apabila Anda membawanya ke luar Bandung maka jangan letakkan di bagasi mobil tetapi di bagian depan dekat AC mobil. Itu agar bau oli mesin tidak mencampuri harumnya aroma kopi ini.

Bagaimana cara penyajian kopi ini?

Perhatikan dengan seksama! Sajikan kopi dalam cangkir atau gelas yang ketebalannya lebih daripada gelas bening agar suhu tidak cepat dingin. Seduhlah kopi dengan air mendidih lalu biarkan sekira 2 menit agar larut. Berikutnya tambahkan gula secukupnya.

Nah, sekarang memahami jenis kopinya. Apabila Anda membeli kopi robusta maka ini cocok bagi penderita diabetes, darah rendah, dan untuk meningkatkan vitalitas tubuh dan. Bukan tanpa alasan! Kopi ini pernah diteliti seorang proffesor dari Rumah Sakit Hasan Sadikin di Bandung. Hasilnya memang disarankan kopi jenis robusta dapat bermanfaat bagi penderita diabetes. Bukan itu saja, bubuk kopi ini juga bila ditaburkan pada luka penderita diabetes kategori ringan maka dapat mengeringkan lukanya. Kopi robusta juga cocok untuk Anda yang butuh tetap melek dan konsentrasi seperti saat kerja lembur atau menyetir jarak jauh. Minumlah kopi jenis saat malam hari ketika hendak beristirahat.

Sementara itu, untuk untuk kopi jenis arabika berbeda. Kopi ini yang lebih lembut, akan cocok untuk penderita darah tinggi. Kopi arabika juga nikmat diminum saat Anda merasa santai.

Kesahajaan dan kejujuran adalah resep sang pemilik Koffie Fabriek Aroma Bandoeng

Saat Anda mengunjungi Koffie Fabriek Aroma Bandoeng maka jangan lupa untuk mengenali sosok Widya Pratama. Kakek 1 cucu ini juga sebenarnya seorang dosen pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. Ia secara berkala mengajar mata kuliah operation management dan entreuprenership. Pastinya beliau juga akan bercerita kepada Anda tentang bagaimana ia diangkat anak oleh seorang Guru Besar Ekonomi Indonesia, yaitu Almarhum Proffesor R. Sumitro.

Sejak tahun 1971, Widya Pratama menjadi pewaris pabrik kopi seluas 1.300 m² tersebut. Ia meneruskan tongkat estafet perusahaan yang sudah menjadi kebiasaan mendarah daging dari penguasa Tionghoa, yaitu “Orang tua yang merintis dan sang anak yang mengembangkan”. Dari keuletan dan kejujurannya-lah Koffie Fabriek Aroma Bandoeng dikenal luas di kalangan pecinta kopi baik dalam maupun luar negeri. Pria kelahiran Bandung, 16 Oktober 1952 itu tidak banyak melakukan perubahan hanya terus secara konsisten menjaga kualitasnya dan sekali lagi bekerja dengan kejujuran!

Widya Pratama tidak berniat membuat usaha kopinya lebih besar dari yang sekarang. Baginya perusahaan warisan tersebut sudah cukup sesuai dengan kemampuannya mengelola. Ia khawatir jika diperbesar justru akan menurunkan kualitas kopi yang dihasilkan. Lagi pula, baginya berbisnis kopi bukan sekadar mencari uang tetapi juga mempertanggungjawabkan hasilnya kepada pembelinya dan tentunya juga kepada Tuhan.

Widya Pratama adalah refleksi pengusaha yang menjalankan usaha dengan konsep fair trade. Sebuah cara berbisnis yang lebih banyak menjadi sebatas jargon saja bagi kebanyakan perusahaan kopi multinasional saat ini. Widya Pratama sangat menjunjung tinggi falsafah bisnis dengan integritas, kejujuran, keadilan, dan kesederhanaan. Dari hal itu pula yang membuat Koffie Fabriek Aroma Bandoeng harum namanya di dalam negeri maupun mancanegara.

Widya Pratama juga mungkin akan bercerita kepada Anda tentang tiga sepeda ontel yang dipajang atas dinding ruang penggilingan kopinya. Sepeda itu tidak ingin ia pindahkan karena dianggap akan senantiasa mengingatkannya tentang dari mana ia berasal. Tentang cerita ayahnya, Tan Houw Sian yang bersepeda setiap hari untuk merintis usaha Koffie Fabriek Aroma Bandoeng sejak 1930. 

Inerie: Menggapai Pucuk Tertinggi Pulau Flores

Dini hari sebelum Matahari meninggi, sebelum senyum ramah penduduk Bajawa di Kabupaten Ngada merekah, sebuah bukit telah memperlihatkan sinaran mentari tercantik yang pernah ada. Rona merah-jingga terlihat dari pelupuk Gunung Ebulobo, gunung api aktif setinggi 2.124 m dpl yang selalu mengeluarkan asap menyamarkan berlapis-lapis bukit di sekelilingnya. Sang Gunung begitu kokok dan gagah menjulang tinggi seperti ditopang sulur tanah cadas berbadan tegap.

Ada cerita di balik kepulan asap dari gunung tertinggi di Nusa Tenggara Timur itu sebagai tanda pesakitan seorang pria. Ebulobo diyakini sebagai jelmaan seorang pemuda yang diserang oleh kekasihnya sendiri, Inerie.  Bagaimana tidak, cintanya tidak berbalas padahal mas kawin (belis) sudah diberikan untuk Inerie namun wanita itu lebih memilih pria lain, yaitu Jaramasih. Ebulobo begitu kecewa dibakar api amarah lalu menerjang Inerie yang lari ketakutan hingga mengenai sanggul wanita tersebut. Sanggul Inerie yang rusak dikaitkan dengan muasal bentuk puncak gunung yang tidak presisi.

Kini Inerie abadi sebagai legenda di Bajawa, ia berdiri kokoh di selatan Ebulobo, menjadi gunung tertinggi di Nusa Tenggara Timur dengan keindahan yang begitu sempurna. Di sisi selatan puncak Gunung Inerie terdapat sebuah batu besar yang diyakini sebagai penjelmaan dari sosok Jaramasi beserta kuda tunggangannya. Bagi warga sekitar, Jaramasi adalah seorang satria penjaga Gunung Inerie. Kata jara berarti kuda dan masi adalah nama orang sehingga bermakna kuda milik Masi sementara Inerie sendiri dalam bahasa ngada meliputi dua kata, ine berarti ibu dan ri’ bermakna agung.

Gunung Inerie masih aktif, kerap didaki wisatawan lokal maupun mancanegara. Butuh waktu 4-6 jam untuk tiba di puncak dengan medan lereng curam dan sesekali melewati jurang di kedua sisi jalan. Hadiah yang didapat di puncak Inerie adalah pengalaman yang tidak pernah tergantikan. Puncak di ketinggian 2.245 m dpl ini menawarkan sejuta keindahan mulai dari laut selatan, seluruh Kota Bajawa, Gunung Ebulobo, Riung, bahkan Pulau Sumba. Karena medan tergolong cukup sulit maka pendaki diwajibkan menyewa pemandu lokal untuk sampai ke puncak Inerie.

Pendakian dimulai pukul 04.00 dari titik Desa Watumeze, sekira 15-20 menit dari pusat Kota Bajawa. Petualangan sepagi itu dimaksudkan untuk menyaksikan Matahari terbit yang spektakuler, juga untuk menghindari cuaca panas karena pepohonan tidak berkerumun di sini.

Di awal perjalanan, Anda akan melewati rumah-rumah tradisional yang terbuat dari bambu. Medan menantang dimulai pada titik 1810 m dpl dimana terdapat jurang dan pasir berkerikil. Pada ketinggian 2.115 m dpl, Anda akan menemukan kawah dan yang lahan cukup luas untuk mendirikan tenda. Butuh usaha lebih keras lagi untuk menaklukan medan curam menuju puncak.

Anda sebaiknya mengenakan sarung tangan untuk memudahkan diri berpegang pada semak-semak dan bebatuan. Tentu saja persiapkan perlengkapan mendaki yang mumpuni, janganlah lupa membawa persediaan air sendiri karena tidak terdapat mata air di sini. Selain itu, pemandu lokal juga akan memberitahu bahwa Anda wajib membawa rokok sebagai seserahan untuk Jaramasih yang diwujudkan melalui batu megalitik di puncak Inerie.

Apabila stamina Anda masih cukup, perjalanan ke desa-desa tradisional di Ngada adalah pilihan yang menarik. Anda bisa melanjutkan trekking ke Kampung Bena, Gurusina ataupun Desa Tololela. Rumah-rumah di sini dibangun dari bambu dan atap rumbia, serta  memiliki batu-batu megalitik besar di halaman.

Hutan Rimba Orang Sunda: Terkoyaknya Pola Pikir Benteng Pelindung Alam

Waktu pun berjalan begitu cepatnya ketika Jalan Raya Pos Anyer Panarukan berhasil dibina mengorbankan lebatnya hutan demi menyokong hegemoni ekonomi penguasa yang semakin menguat saja. Koloni perkebunan secara menggebu membangun budayanya sendiri di perbukitan dan dataran tinggi. Berdiri rapuh dari lahan yang dulunya adalah kesatuan organik dan kosmologik manusia Jawa.

Kita bukan akan bicara hijaunya kondisi Pulau Jawa 800 tahun dulu melainkan cukup 300 tahun yang lalu saat Gustaaf Willem van Imhoff, gubernur Hindia Belanda tahun 1745 mengutarakan bahwa Pulau Jawa saat itu masih diselimuti hutan belantara menghijau rimbun. Secara perlahan hingga akhir abad ke-19 hutan-hutan tersebut habis digerus cepat oleh hegemoni produk industri perkebunan seperti teh, karet, kina, kopi dan jati.

Akibat itulah kemudian orang di Pulau Jawa benar-benar telah kehilangan mayoritas hutan mereka. Abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18, hutan di Jawa diperkirakan masih sekitar 9 juta hektare namun dengan cepat hingga akhir tahun 1980-an, tutupan hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektare atau 7 persen dari luas total Pulau Jawa.

Terbinanya Jalan Anyer Panarukan yang menghubungkan pesisir utara Pulau Jawa memberi andil hilangnya tutupan hutan Pulau Jawa. Wilayah-wilayah yang dilalui jalur pos yang sejatinya untuk militer dan angkut hasil bumi itu mengubah wajah Pulau Jawa yang dulunya manusia air (sungai dan laut) menjadi manusia daratan karena jalan-jalan lebih banyak tercipta melahirkan desa-desa baru yang kemudian menjadi kota besar di masa depannya. Pintu-pintu rumah yang menghadap bibir sungai mulai tergantikan pintu-pintu yang menganga ke hadapan jalan raya.

Sebenarnya hingga akhir abad ke-19 hutan rimba masih menyisakan kisahnya. Percayakah Anda ada cerita bahwa awal abad ke-20 di beberapa tempat di Batavia (Jakarta) orang Belanda dan pribumi itu masih bahu-membahu memburu buaya besar di rawa dan sungai mereka. Pun terjadi di dataran tinggi Parahyangan (Bandung) orang Eropa ditemani orang lokal gemar berburu badak di padang ilalang luas, di rawa tengah hutan, atau di sekitar danau-danau yang tersisa. Badak di Bandung kini sudah punah tak bersisa kecuali patung badak putih di pelataran Balai Kota Bandung atau datanglah ke museum di Kebun Raya Bogor, di sana ada badak terakhir dari Bandung yang berhasil diawetkan. Badak penghuni hutan orang Sunda pun ikut punah belakangan di banyak hutan di Jawa Barat seperti di Hutan Cipatujah, Hutan Sancang, Hutan Cikepuh, dan Hutan Bojonglarang.

Sungguh ironi sebenarnya karena kita kehilangan bukan saja satu spesies hewan dengan dibabatnya hutan tetapi juga beragam jenis hewan yang hidup di dalamnya terancam punah karena tempat hidup dan lingkaran rantai makanan mereka terkoyak keseimbanganya. Kini, cerita itu hanya jadi endapan bawah sadar dan hanya menyisakan pola pikir hutan dari masyarakatnya.

Sekarang hutan di Jawa bagian barat hanya jadi tanda budaya dalam tingkah laku maupun tradisi lisan masyarakatnya. Coba Anda tengok apa yang meresapi cara berpikir orang pedesaan di Jawa bagian barat itu kebanyakan bukan cara berpikir orang kota tetapi pola pikir orang pedesaan itu adalah pola pikir hutan. Alam telah mengambil saham besar membentuk dan menyusun pola masyarakat pedesaan untuk menjaga hutan dan hidup berdampingan dengannya.

Apalagi desa tertutup seperti Badui di Banten atau Kampung Naga di Garut dimana hutan rimba telah menjadi bagian dari kehidupan kampung mereka yang jumlah warganya dibatasi. Hutan di Jawa bagian barat memang menjadi penyangga utama lingkungan. Hutan-hutan itu juga menjadi sumber cerita rakyat yang tercatat dalam dongeng, kepercayaan lokal, babasan, dan paribasa.

Dalam tradisi peladang Sunda ada pepatah “Mipit kudu amit, ngala kudu bebeja” yang artinya bahwa saat memetik itu harusnya yang perlu dipetik saja (jangan mengambil yang masih kecil atau yang baru tumbuh), mengambil pun harus memberitahu. Pepatah kearifan lokal ini bukan sekadar pesan moral melainkan bagaimana bersikap kepada alam. Ketika memanfaatkan alam, tanaman atau pun sumber dayanya maka harus memerhatikan keseimbangan ekologis dan keberlanjutan dan kelestariannya.

Masyarakat Sunda pun mengenal istilah hutan larangan yaitu hutan sakral yang bukan sembarangan untuk dijejaki apalagi dibabat untuk perkebunan. Bahkan, mereka dilarang berbicara dan bertingkah sembarangan di hutan larangan atau mendapat celaka nantinya. Di hutan larangan pula raja Padjadjaran itu ngahiang-lenyap dalam hutan rimba atau pun menjelma menjadi harimau putih yang magis.

Konsep hutan larangan dalam masyarakat sunda memberikan pesan bahwa alam itu diyakini harus dijaga sepenuhnya. Konsep hutan sebagai huluwotan (sumber mata air) dan tempatnya tinggal makhluk ghaib adalah strategi pencegahan dari nenek moyang agar orang sekarang tidak merusak alam.

Orang peladang Sunda itu sejatinya memang membudidayakan alam namun di saat bersamaan mereka menyisakan alam murni yang bertahan dengan caranya sendiri. Mereka mempertahankan hutan rimba seperti hutan larangan untuk aliran hidup jasmaniah dan rohaniah. Bila hutan larangan itu dibabat habis maka tidak ada manfaatnya sama sekali. Hujan tidak akan turun dan air jernih bagi kehidupan tidak akan mengalir. Apabila mereka membabat kayu di hutan larangan maka tidak pula membuat kaya malah alih-alih mendatangkan bencana.

Pola pikir hutan orang peladang Sunda secara murni adalah benteng pelindung alam, utamanya hutan. Kebanyakan orang peladang Sunda itu ‘tertutup’ dan diikat oleh hutan mereka. Hutan menjadi bagian dari hidupnya. Tritangtu orang Sunda menjabarkan bahwa mereka sebagai manusia itu terikat karena kesatuan organik dan kosmologik antara tempat hunian dan ladang dengan kuburan-patilasan leluhur dan hutan rimba di bukit-bukit. Pola pikir ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang masih ada di Bali dengan Tri Hita Karana.

Alam sejatinya perlu dihidupi dengan harmonis oleh manusia untuk kemaslahatan bersama. Alam akan memberi bagian terbaiknya bagi manusia bila diperlakukan seharusnya. Kini manusia modern itu tidak takut dengan berbagai pamali (larangan) dan akibatnya alam pun dirusak. Apa yang melindungi hutan yang tersisa di Jawa itu saat ini mungkin hanya nurani kita saja.

Bertemu Kawan Baru di Kwatisore

Ketika tanah dan laut berpadu lalu tubuh Anda tercelup dalam fantasi yang menggugah maka pertemuan dan interaksi dengan ikan terbesar di muka bumi ini akan menjadi pengalaman yang amat spesial. Rasakan sendiri secara langsung sensasi menyelam bersama hiu paus di Kwatisore, Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Di biru kobalt laut Papua yang jernih dan bersih akan Anda dapatkan pengalaman takan terlupakan seumur hidup karena ikan raksasa tersebut telah menjadi penyingkapan besar dalam dekade ini.

Hiu paus (Rhincodon typus) tercatat sebagai ikan terbesar di muka Bumi saat ini. Bayangkan bobotnya bisa mencapai 21 ton, panjangnya hingga 14 meter serta umurnya sampai 150 tahun. Hewan menakjubkan ini terlihat pada masa tertentu di beberapa negara saja, yaitu mulai dari Afrika Selatan, Filipina, Australia, dan Indonesia. Mereka berpindah-pindah dengan bermigrasi untuk mencari tempat makan dan bertelur. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa hewan yang sejatinya ramah namun penuh misteri ini dapat ditemui sepanjang tahun di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih di Papua Barat dan Papua. Di sinilah Anda dapat berenang dan bermain gelembung bersama mereka, bagaimana berani mencoba?

Memang kini saatnya Anda mengalihkan perhatian atau melabelkan wisata menyelam di Papua hanya pada Raja Ampat saja, mengapa? Itu karena sebenarnya Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) adalah taman nasional dengan  perairan terluas di Indonesia dan memiliki kekayaan biota laut dalam takaran lebih dari cukup. Kawasan nan indah ini membentang dari Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua Barat, hingga Kabupaten Nabire di Provinsi Papua. Perairan yang luas dan dilindungi itu semakin istimewa karena berjodoh dengan keberadaan hiu paus yang berukuran besar sekaligus menakjubkan.

Hiu paus (Rhincodon typus) dinamai masyarakat Papua Barat sebagai gurano bintang dan oleh masyarakat Nabire di Provinsi Papua disebut hiniota nibre. Hewan raksasa itu sempat mendapat anggapan sebagai pembawa sial apabila nelayan melihatnya di perairan sehingga biasa disebut Sang Hantu. Akan tetapi, kini anggapan itu sirna karena nelayan di Kwatisore telah lama bersahabat dengannya, bahkan ibaratnya kini menjadi hewan peliharaan yang hidup di alam bebas. Ingin tahu jelasnya bagaimana?

Di Desa Kwatisore, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, hiu paus ini bersahabat dengan nelayan setempat. Mereka muncul berkelompok setiap hari di sekitar bagan nelayan (perahu sejenis keramba terapung dengan jaring penangkap ikan di bawahnya) dengan kemunculan selama berjam-jam. Hiu paus itu rupanya tertarik dengan sekumpulan ikan puri (sejenis ikan teri) yang tertangkap dalam jaring terapung di bawah bagan dan juga menanti ikan mati yang dilemparkan nelayan. Mereka biasanya mendekati bagan secara berkelompok hingga enam ekor. Padahal sifat hewan ini sebenarnya penyendiri, pemakan plankton, dan seringnya berada di bawah permukaan laut hingga kedalaman ratusan meter. Perlu diketahui bahwa di Australia, wisatawan harus menunggu saat musim panas untuk melihat hiu paus dan itu pun perlu digiring terlebih dahulu agar bisa ditonton.

Bagan nelayan di Kwatisore adalah sebuah perahu terapung berukuran 18 x 18 meter yang dikonversi menjadi lokasi penangkap ikan puri berbentuk persegi dengan bagian bawahnya terpasang jaring. Papan kayu dipasang menghubungkan antar sudut dan dideretkan banyak lampu untuk penerang saat malam agar ikan puri mendekat dan masuk dalam jaring. Jumlah bagan di perairan ini cukup banyak lebih dari sepuluh dan keberadaannya perlu terdaftar di Dinas Kelautan dan Perikanan.

Di Kwatisore, hiu paus sudah terbiasa diberi makan ikan puri dan sering berinteraksi dengan penyelam. Saat penyelam mendekatinya maka ikan raksasa ini akan dengan santainya berenang bersama. Tidak seperti hiu lain yang memiliki gigi tajam, hiu paus memiliki gigi halus di ujung mulut bagian dalamnya. Caranya makan adalah menyedot air laut sembari menjaring plankton dan ikan kecil yang masuk bersama air ke mulutnya.

Biasanya sesaat sebelum dan sesudah Bulan Purnama, hiu paus tidak muncul karena nelayan tidak dapat menangkap ikan puri akibat terangnya cahaya Bulan sehingga lampu-lampu pada bagan tersebut kurang menarik lagi bagi ikan puri. Puncak penangkapan ikan puri di kawasan ini berlangsung antara Desember dan Januari.

Sudah jadi ketentuan setiap operator diving akan membayar ikan puri yang disediakan nelayan dengan membelinya seharga 1 juta untuk sehari agar penyelam dapat melihat langsung secara lebih dekat. Anda dapat juga memberi makan hiu paus ini langsung dari atas bagan. Kegemarannya memakan ikan puri  ketimbang plankton di Kwatisore jelas adalah hal yang unik dan luar biasa.

Atraksi menarik ini sebenarnya tidak sengaja dimulai sejak tahun 2000 bersamaan saat nelayan setempat membangun bagan di tengah laut. Saat itu, hiu paus pun mulai berdatangan menyambangi bagan karena tertarik dengan ikan puri yang tertangkap di jaring bawah bagan tersebut. Ikan puri di dalam jaring kemudian sering didatangi dan dihisap hiu paus. Sebenarnya tidak ada ikan yang berhasil ia makan kecuali pada jaring yang bolong. Seringnya hiu paus menghisap ikan puri dalam jaring justru membuat sebagian ikan di dalam jaring mati lalu dibuang nelayan ke laut. Kebiasaan membuang ikan puri inilah yang membuat hiu paus sering berada di sekitar bagan dan seolah menjadi hewan peliharaan. Saat itu pula masyarakat setempat menyadari bahwa ikan raksasa ini sebenarnya tidak berbahaya.

Banyak misteri dari kehidupan hiu paus yang belum terkuak. Christoph Rohner, peneliti dari Universitas Queensland, mengemukakan bahwa ternyata ukuran tubuh hiu paus dapat mencapai 20 meter. Hal itu berdasarkan cara pengukuran terbaru dengan laser yang ditempatkan 50 cm dari kamera pada hiu yang sedang bergerak. Metode ini menghasilkan ukuran yang akurat daripada metode photogrammetery sebelumnya. Selain itu, hewan yang diperkirakan ada sejak 60 juta tahun lalu itu rupanya memasuki usia subur pada usia 30 tahun. Reproduksinya relatif lambat dibandingkan dengan ikan lain yang ada di muka bumi. Mengacu pada International Union for the Conservation of Nature dan Resources, jelas hewan ini tergolong dilindungi. Oleh karena itu, keberadaannya yang sepanjang tahun dapat dilihat di Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) adalah sebuah fenomena sekaligus daya tarik wisata bahari yang unik di dunia.

Catatan TNTC hingga 2012 ada sekira 40 ekor hiu paus yang hidup di kawasan teluk ini. Mereka selalu ada sepanjang tahun dan sering ditemukan berkelompok. Penemuan hiu paus yang terbesar memiliki panjangnya sekira 14 meter dan berbobot 15 ton. Saat ini, perlindungan hanya mengacu bahwa hiu paus adalah satwa yang rentan. Status perlindungan hiu paus ini perlu ditingkatkan sebagai satwa dilindungi seperti dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. Jangan sampai terlambat dan keadaan berbalik seperti tahun 2005 saat hiu terancam karena perburuan siripnya. Lalu keberadaan hiu paus ini di Taman Nasional Teluk Cendrawasih bisa jadi hanya tinggal cerita saja dan penyesalan anak cucu. Tidak ada seorang pun tahu apa lagi yang dapat ditemukan dari penyingkapan di Teluk Cendrawasih. Indonesia layak bangga pada masyarakat Papua di Teluk Cendrawasih yang bekerja sama dengan para peneliti dan aktivis lingkungan untuk menjaga keberadaan ikan terbesar di muka bumi ini.

Bermainlah ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih, tepatnya ke Kwatisore. Di sini Anda dapat menyelam atau snorkeling sembari berinteraksi dan bermain bersama  hiu paus yang jinak. Anda yang belum berminat mencemplung maka bisa memberi makan hewan ini dari atas bagan. Hiu paus adalah alasan kuat mengapa berwisata ke bagian timur Indonesia dapat menjadi begitu spesial. Sepulangnya bertemu hiu paus yang luar biasa itu dipastikan benak Anda dipenuhi rasa terpesona. Jadi, ada pilihan lain berwisata bahari di Papua selain ke Raja Ampat bukan!

Untuk datang ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih, waktu yang bersahabat adalah antara Mei dan Oktober meskipun hiu paus dapat ditemui di sini sepanjang tahun. Tersedia penerbangan dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar menuju Biak, berikutnya menggunakan pesawat Susi Air ke Manokwari atau Nabire. Tersedia juga  penerbangan dari Jayapura ke Biak. Anda yang datang dari Jakarta dan Makassar dapat memanfaatkan penerbangan dengan Batavia ke Manokwari. Dari Manokwari ke TNTC dapat melanjutkan perjalanan menggunakan kapal laut sejauh 95 km. Maskapai Lion menyediakan penerbangan dari Jakarta langsung ke Nabire. Sementara dari Nabire ke TNTC menggunakan perahu motor sejauh 38 km atau sekira 3 jam.

Apabila Anda berminat atau bermimpi melakukan live aboard dengan kapal phinisi maka tersedia operator diving live aboard (LOB) yang melayani jasa penjelajahan di Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Operator diving live aboard dapat ditemui di Bali, Raja Ampat,  dan Sorong. Bagaimana pun juga perjalanan dengan cara live aboard adalah yang paling logis untuk menjelajahi banyak titik menyelam secara sekaligus di TNTC yang sulit dijangkau, tersebar, dan jauh dari daratan. Pilihlah operator yang tepat sesuai kebutuhan Anda. Pihak operator akan mengatur segala kebutuhan Anda selama tinggal berhari-hari di atas kapal. Mereka juga akan mengarahkan pada banyak titik menyelam, mengatur perlengkapan, mengecek arus, menunggu dan memandu Anda selama penyelaman, hingga melayani kebutuhan makanan. (Him | Traverse.id)

Lovina: Harmoni Manusia dengan Alam

Di Lovina, Anda dipandu bercakap dengan alam dan masyarakatnya, tentang sejauh mana keduanya saling menjaga. Ada pelajaran berharga tentang kontribusi masyarakat Lovina yang begitu besar terhadap kehidupan bahari dimana hasilnya bisa kita nikmati hingga hari ini. Mereka tidak hanya bertanggung jawab atas kelestarian lumba-lumba, terumbu karang, atau biota laut apapun di sepanjang perairan Gerokgak hingga Tejakula tetapi lebih dari itu, yakni merekalah tangan-tangan pertama yang memperkenalkannya kepada Anda.

Di bibir Pantai Lovina, dini hari pukul 06.00 WITA. Satu, dua, perahu jukung mulai didorong ke tengah untuk menyusur Laut Bali yang masih tenang. Hari ini akan sedikit berbeda sepertinya, diawali oleh Matahari yang muncul berwarna merah muda-keunguan dan menggelapkan bukit-bukit di sekitarnya. Selang 30 menit kemudian perahu-perahu jukung bertambah banyak. Sepuluh, dua puluh, hingga berjumlah ratusan jukung yang tersebar di seluruh penjuru mata angin sejauh pandangan dilepaskan. Benar bahwa ini akhir pekan tapi alasan mutlak bagi penumpang jukung untuk rela bangun sepagi itu bukanlah sekadar melihat Matahari terbit, melainkan lumba-lumba. 

“Lumba-lumba di sini senang kita kunjungi, kalau tidak senang, dia pasti sudah pergi sejak lama,” ucap seorang bli pengendara jukung. Hal yang sama akan diutarakan oleh para nelayan atau awak perahu. Jika Anda bertanya kepada mereka tentang kapan lumba-lumba tidak muncul. Mereka pasti akan berpikir sebentar lalu menjawab; “hampir tidak pernah”.

Obrolan menarik tentang kelestarian lingkungan bersama masyarakat pegiat bahari di sana membuat seolah waktu serasa terhenti. Komitmen mereka terhadap kelestarian alam mengacu pada Ajaran Tri Hita Karana. Ajaran tersebut mengajak untuk terus menjaga keselarasan dan hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, antara manusia dengan sesama, serta antara manusia dengan lingkungannya. Nilai-nilai luhur ini kemudian tertata dengan baik pada perilaku masyarakat yang begitu bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan. 

Rasa salut terhadap Lovina belum cukup sampai di situ. Bagaimana pemandu wisata bahari menjaga ketertaturan mereka juga sangat menginspirasi. Mereka sepakat untuk menyatukan diri dalam satu organisasi, yaitu Catur Karya Bakti Segara, dimana para pemandu tidak hanya saling belajar dan berbagi untuk menjaga kelestarian lingkungan sendiri, namun juga menjalin persahabatan sehingga persaingan di antara mereka mengendur.

Usai melihat segenap cerita dan gambar menarik dari Lovina, maka tidak sulit untuk memilah-milah belasan brosur tentang destinasi di Bali yang memang menggiurkan. Mari sejenak lupakan tentang meriahnya kehidupan malam di Kuta, ataupun hangatnya Matahari di Sanur. Di Lovina, rasa ingin menikmati hiburan mainstream sejenak terkubur. 

Lovina benar-benar menawarkan sebuah pengalaman yang mahal, yaitu menyaksikan perilaku unik lumba-lumba secara langsung di laut lepas. Mereka di permukaan air melakukan traveling, membentuk kelompok untuk mencari mangsa dan pergerakan migrasi, serta berkomunikasi dengan sesama lumba-lumba. Jika Anda terheran-heran mengapa  lumba-lumba selalu membuat gerakan dan formasi yang teratur, ini karena ada pemimpin lumba-lumba yang mengarahkan kelompoknya menuju tempat tertentu.

Bangunlah pagi-pagi untuk menikmati ini karena hewan cerdas tersebut lebih banyak muncul di pagi hari pukul 07.00-11 WITA, dengan pergerakan dari arah timur laut menuju barat daya. Pada saat sinar Matahari mencapai kecerahan maksimum maka kelompok lumba-lumba kembali ke perairan yang lebih dalam, mengikuti pergerakan mangsanya.

Dengan kaki katak dan snorkel, mulailah berpetualang melihat sekilas keadaan bawah air di Lovina. Terumbu karang yang masih sehat bisa ditemukan di sini, sekelilingnya pun dipenuhi ikan-ikan hias dengan warna-warna yang indah. Banyak yang belum tau bahwa karang-karang ini pernah rusak namun dengan segenap upaya, kelompok Pemandu Wisata Bahari dan kelompok Nelayan di sekitar kawasan Lovina menerapkan sistem konservasi untuk menjaga kelestarian ekosistem laut yang menjadi harapan hidup mereka.

Di samping menyaksikan atraksi natural lumba-lumba. Pantai-pantai berpasir cokelat hingga kehitaman bisa Anda susuri, atau pergilah ke Desa Kalibukbuk agar dengan masyarakat lebih akrab lagi. Dari situ Anda akan belajar bahwa keadaan pemukiman dan pantai seakan menjadi refleksi komitmen warga untuk menjaga Lovina. Ini juga terlihat saat menelusuri jalan-jalan besar dimana saluran drainase dan sungai terjaga kebersihannya. Begitupun dengan jalanan umum, serta tempat pembuangan sampah yang tersedia dimana-mana. Jika Anda teliti, meskipun pasir-pasir di Lovina tidak seputih pasir di Uluwatu, meskipun air lautnya tidak sejernih di Nusa Penida, tapi tidak terlihat adanya pencemaran lingkungan di sini.

Tips

  • Keberadaan populasi lumba-lumba di Lovina sangat bergantung pada perubahan arus dan arah angin. Hewan tersebut dapat diamati setiap hari, namun jumlah terbanyak biasanya terdapat pada bulan Februari-Maret, atau Juli-Agustus. Pada bulan-bulan tersebut angin dan arus berasal dari arah Barat Laut sehingga ikan-ikan kecil yang merupakan makanan lumba-lumba jumlahnya melimpah.
  • Prioritaskan pilihan hotel di pinggir laut agar Anda mudah menjangkau titik start tour dolphins. Akan lebih baik apabila pihak hotel juga menyediakan jasa untuk mengorganisir tour dolphins.
  • Kabupaten Buleleng relatif sepi pada malam hari sehingga Anda disarankan menyewa kendaraan pribadi agar lebih mudah melakukan mobilitas, mencari makan ataupun berbelanja.

Transportasi

Lovina terletak sekira 9 km di sebelah barat Kota Singaraja. Kondisi jalan dari Denpasar atau Kuta ke Lovina sudah cukup baik, karena letaknya berada dekat dengan jalan utama provinsi. Untuk menuju ke Lovina, ada beberapa cara yaituberikut ini.

Dari Bandara Ngurah Rai

  • Menggunakan taksi-taksi dari Bandara, tarifnya sekira Rp350 ribu untuk satu mobil dengan lama perjalanan kurang lebih 3 jam.
  • Menggunakan Bus Trans Sarbagita rute Bandara-Mengwi, turun di Terminal Mengwi, kemudian menaiki angkot Mengwi-Ubung turun di Terminal Ubung. Dari Ubung, bisa melanjutkan dengan bus Ubung-Singaraja-Lovina.

Dari Pelabuhan Benoa

  • Menggunakan taksi/ojek dari Pelabuhan Benoa ke Terminal Ubung, kemudian menaiki bis Ubung-Singaraja-Lovina turun di Pantai Lovina.

Dari Pelabuhan Gilimanuk

  • Menaiki bus/travel Gilimanuk-Singaraja kemudian turun di Pantai Lovina

Dari Pelabuhan Padangbai

  • Menaiki bis/angkot Padangbai-Ubung turun di Terminal Ubung, kemudian dilanjutkan dengan bus Ubung-Singaraja-Lovina turun di Pantai Lovina.

Berkeliling

Setidaknya ada 6 destinasi utama yang dibanggakanoleh Buleleng, termasuk di Lovina. Pemerintah Kabupaten membaginya ke dalam tiga zona yaitu timur, tengah dan barat. 

Timur

Desa Les

Nelayan Desa Les mayoritas mencari ikan hias untuk menghidupi keluarga mereka sejak kurang lebih 30 tahun lalu. Awalnya alat yang digunakan berupa jaring, lalu beralih menggunakan potas atau bius untuk meningkatkan kemampuan mencari ikan seiring banyaknya permintaan ikan hias. Namun karena potas terbukti menyebabkan 70 persen terumbu karang di Desa Les rusak, akhirnya mereka mempelajari cara tangkap ikan yang ramah lingkungan.

Desa Les patut menjadi inspirasi dan dikenang kearifannya karena menaungi masyarakat-masyarakat yang menghargai alam. Kini desa wisata ini merupakan tempat menyelam yang menarik. Terumbu karang yang dahulu rusak sekarang telah tumbuh menjadi barisan hard dan soft coral yang indah, ikan-ikan yang cantik pun kembali berdatangan untuk menghiasi alam bawah lautnya.

Tengah

Desa Kerobokan

Desa Kerobokan terdapat di Kecamatan Sawan, hanya 7 kilometer dari Singaraja. Salah satu yang bisa Anda nikmati di sini adalah kemilau pasir hitam di Pantai Kerobokan yang berbatasan langsung dengan petak persawahan warga sekitar, sehingga baik lanskap pantai dan persawahan bisa Anda nikmati sekaligus. 

Barat

Desa Pemuteran

Pemuteran merupakan desa dengan potensi wisata yang menarik dan menyenangkan. Desa Pemuteran terletak di pesisir barat Pulau Bali atau sekira 55 km arah barat kota Singaraja dan 30 km dari Gilimanuk. Letaknya berada di antara gugusan perbukitan dan hamparan laut sehingga membuat tempat ini begitu indah dan tenang, jauh dari keramaian.

Hal menarik dari Pemuteran adalah terumbu karang di kawasan ini dipelihara dan dikonservasi secara profesional. Masyarakat lokal di kawasan ini sudah memiliki kesadaran tinggi tentang pentingnya menjaga kekayaan alam di desa mereka.

Akomodasi

Ada penginapan di Lovina yang menyediakan atraksi lumba-lumba yang sudah terlatih yaitu Bali Melka Lumba-Lumba Hotel Resor. Tersedia juga banyak penginapan mulai dari penginapan melati hingga hotel mewah, berikut ini beberapa diantaranya:

Zen Resort Bali

Jl. Umeanyar, Desa Ume Anyar, Seririt, Buleleng, Singaraja

Tlp. (0362) 93578

Sander Homestay

Anturan, Buleleng, 81152

Tlp. (0362) 41035

Pulestis Beach Hotel

Jl. Raya Singaraja Seririt Lovina Beach Kalibubuk, Singaraja, 81151

Tlp. (0362) 41035

Hotel My Lovina

Jl. Singaraja-Gilimanuk, Anturan, Buleleng, 81152

Tlp. (0362) 3435884

Bali Lovina Beach Hotel

Pantai Lovina, Singaraja

Tlp. (0362) 41285

Sunari Beach Resort

Jl. Raya Lovina, Desa Kalibukbuk, Singaraja, 81151

Tlp. (0362) 41775

Chonos Hotel

Jl. Raya Singaraja, Seririt, 80571

Tlp. (0362) 41569

Ju’Blu Hotel

Jl. Mawar, Kalibukbuk, Sukasada, Buleleng, 81151

Tlp. (0362) 3391529

Villa Teman

Jl. Palem Kalibukbuk, Lovina, 81152

Tlp. (0362) 3435650

Boutique Hotel Rambutan

Jl. Mawar, Desa Kalibukbuk, Lovina, Buleleng, 81151

Tlp. (0362) 41388

Tepe Villa Lux Appartments

Jl. Mawar, Anturan, Buleleng, 81152

Tlp.  0818-0548-7830

Kuliner

Masyarakat pesisir Lovina kreatif dalam menciptakan kuliner khasnya. Masih dipengaruhi oleh pohon-pohon khas pesisir seperti kelapa muda, ada rujak yeh yang terdiri dari air kelapa setengah tua dengan rasa asin, manis, serta rasa lengkuas. Rujak yeh merupakan ekstrak dari kelapa muda dan air pembuatan lawar. Minuman ini kerap digunakan untuk menetralisir perut dan mulut setelah mengonsumsi hidangan berlemak seperti daging babi. Selain itu, ada minuman es kopyor, minuman es rujak, es tuak manis dan minuman-minuman segar lainnya.

Sudah lumrah bahwa makanan laut merupakan sajian utama restoran-restoran di pesisir, Anda akan menemukannya di sepanjang Lovina. Berikut ini beberapa referensinya.

Secret Garden Restaurant

Jl. Pura Dalem, Lovina, Singaraja

Tlp. 0887-3321-007

Buda Bakery & Resto

Jl. Damai Singaraja, Singaraja, 81151

Tlp. (0362) 42106

Warung Jegeg

Hotel Bali Jegeg, Jl. Raya Lovina, Bali

Tlp. 0813-3799-6096

Spice Beach Club Bali

Pantai Lovina, Jl. Singaraja, Seririt No.224, Kaliasem, 81152

Tlp. 0851-0001-2666

Akar Cafe Lovina

Jl. Binaria, Lovina, Bali

Tlp. (0362) 343536

Berbelanja

Pusat oleh-oleh Krisna juga terdapat di Jalan Seririt, Temukus, Singaraja. Krisna memiliki koleksi buah tangan yang lengkap mulai dari t-shirt motif khas Bali, suvenir, hingga makanan. Lokasinya mudah diakses, memiliki lahan parkir yang luas, serta  disekitarnya terdapat restoran-restoran, mushola dan akomodasi lainnya.

Taman Nasional Danau Sentarum: Hutan di Atas Air

Sebuah danau yang menjadi sumber air Sungai Kapuas menjulur sepanjang 1.143 kilometer dan mengambang di antara gunung-gungung menjulang setinggi 750 meter. Menempuhnya harus menyusuri sungai sejauh 700 kilometer dari Pontianak dan beberapa riam memaksa Anda untuk mendorong longboat melaju membelah air Kapuas kecoklatan. Mengunjungi danau ini adalah pembuktian kecerdasan naturalistik Anda demi menyatukan rasa ingin tahu terhadap Kalimantan dalam satu keranjang petualangan.

Luas membentang di Kalimantan Barat, Taman Nasional Danau Sentarum memiliki fungsi amat vital bagi kehidupan di sepanjang jalur sungai yang mengalir darinya menjadikannya diakui sebagai salah satu situs Ramsar, yaitu sebuah perjanjian internasional untuk melindungi daerah konservasi air terpenting dunia.

Sebelum tahun 1999, status taman nasional ini belum lahir. Bahkan kelahirannya harus melalui proses panjang hingga tahun 2006, barulah operasionalisasi taman nasional ini betul-betul berjalan. Danau Sentarum menjadi destinasi wisata internasional dimana keindahannya mewarnai foto-foto perjalanan para petualang dunia.

Saat pasang, kedalamannya mencapai 6 hingga 8 meter, airnya menjadi coklat kemerahan akibat bahan asam tannin dari pohon dan daun yang membusuk di dalam air. Fungsinya sungguh banyak, bagi kehidupan flora dan fauna, juga bagi manusia. Saat surut, danau ini hanya menyisakan beberapa titik air sebagai sumber hidup bagi mahluk-mahluk yang bersembunyi di balik semak belukar taman nasional ini. Kapuas pun tak selamanya besar saat danau ini tak menyisakan tabungan airnya. Maka penting sekali menjaga kelestarian danau ini bagi keberlangsungan mahluk hidup di danau, di ujung sungai, dan segala sesuatu diantaranya.

Beberapa endemik, yakni satwa dan tumbuhan khas dari daerah ini, tersebut dalam catatan ilmuwan seperti tembesu atau tengkawang (Shorea beccariana), jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), meranti (Shorea sp), keruing (Dipterocarpus sp), dan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri). Penduduk yang tinggal di sekitar danau terhitung sebanyak 20 desa dan mengakomodir sekitar 20.000 penduduk yang sudah terbiasa dengan obat-obatan alami seperti ambong-ambong (Blumea balsamifera), akar ara (Ficus sp), asam kandis (Garnia sp), asam tekala (Alpinia sp), aur-aur (Aneilema scaberrimun), bangelai (Zingiber pupureum), bawang gilang (Eleutherine americana), gambir (Uncaria gambir), kayu lawang (Cinnamomum sp), kunyit kuning (Curcuma domestica), kunyit putih (C. Zedoaria) nilam (Pogostemon cablin), dan pasak bumi (Eurycoma longifolia).

Selain itu, bila Anda  cukup beruntung, beberapa satwa unik dapat ditemui seperti siamang (Hylobates muelleri), keluarga kera seperti bekantan (Nasalis larvatus), orangutans (Pongo pygmaeus), long-tailed monkey (Macaca fascicularis), tupai (Callosciurus notatus, C. Prevostii), tupai besar (Ratufa affinis), beruang madu (Helarctos malayanus), dan macan pohon (Neofelis nebulosa). Beberapa jenis burung cantik seperti bekakak (Halcyon capensis), enggang gading (Rhinoplax vigil), rangkong (Buceros rhinoceros), elang kepala putih (Haliastur Indus), dan burung Raja Udang (Alcedo meninting), adalah tuan rumah yang mewakili 230-an species burung, 143 species mamalia, dan 23 spesies endemik dari Kalimantan, termasuk ikan arowanaasia dan ikan badut loach botia. Sekitar 26 jenis reptil pun ditemukan di taman nasional ini termasuk false gavial dan buaya estuarine.

Siapkanlah perbekalan petualangan Anda  yang selama ini hanya dipajang. Pesan paket dari sekarang atau ajaklah beberapa teman untuk menemani liburan Anda  ke Kalimantan Barat dan taman nasionalnya yang belum banyak disentuh. Tak hanya sekedar alamnya yang menawan, budayanya pun akan mengajak Anda  untuk hidup sementara di dunia dongeng tentang Kalimantan yang menantang.

Aktivitas

Waktu terbaik untuk mengunjungi taman nasional ini ialah di bulan Juni hingga September. Datanglah ke Bukit Lanjak dan Nanga Kenelang untuk mendapatkan spot terbaik saatmengamati burung-burung endemik, bersampan, dan juga mengambil gambar terhebat. Para petualang birdwatching paling sering mendatangai tempat ini. Bila Anda  ingin melihat laboratorium penelitian, datanglah ke Bukit Tekenang.

6kilometer dari pusat kecamatan Lanjak, rumah betang atau rumah panjang suku Dayak dapat ditemukan. Bergabunglah bersama mereka untuk menikmati kehidupan bersama 100 orang di tengah-tengah alam yang hangat. Dayak Iban menjadikan daerah ini kediamannya, dan juga Sungai Sedik sebagai tempat perburuannya. Suku Tembaloh hidup di sebelah timur danau dan suku Kantu di sebelah barat danau yang juga memiliki gaya hidup yang hampir sama.

Transportasi

Dari Pontianak, kendaraan roda empat dapat menjadi alternatifmenuju taman nasional ini dengan melalui Sintang hingga ke Semitau. Perjalanan darat ini memakan waktu kira-kira 11 jam. Bila melalui sungai, perjalanan menyusuri sungai akan menempuh waktu selama 7 jam dengan menggunakan perahu bandongdari Siantang ke Semitau. Dari Semitau, perahu adalah satu-satunya cara menuju Lanjak dimana Anda  dapat menjumpai danau yang dilindungi ini.

Bila Anda  ingin lebih cepat, perjalanan menggunakan pesawat terbang dapat ditempuh selama 2 jam dari Pontianak menuju Putussibau. Dari Putussibau, perahu bandong kembali akan membawa Anda  selama 7 jam ke Nanga Suhaid.

Putussibau merupakan kota terdekat dari taman nasional ini. Jarak yang sebenarnya dari Pontianak menuju Putussibau ialah 846 kilometer melalui darat, atau sekitar 814 kilometer melalui sungai. Di Putussibau, Anda  masih dapat menemukan jejak-jejak peradaban modern dimana penginapan,bank, dan toko makanan masih mudah didapatkan.

Akomodasi

Anda sebaiknya sudah menduga bila bermalam di Taman Nasional Danau Sentarum bisa begitu ekstrim. Kemungkinan terbesar ialah Anda  harus tidur di atas kapal bandong, sekaligus memasak, dan makan segala sesuatu yang Anda  siapkan. Pengalaman ini tentu tak akan dapat Anda lupakan dan inilah petualangan yang sebenarnya.

Bila tidur di atas perahu terdengar tidak begitu ramah bagi Anda , cobalah untuk mengunjungi salah satu rumah di desa-desa yang terdekat dari tempat Anda. Sewalah kamar untuk Anda  menginap dan pengalaman ini pun akan menjadi salah satu pengalaman yang terbaik bagi Anda.

Putussibau pun menawarkan beberapa tempat menginap walau tak banyak. Diantaranya berikut ini.

  • Aman Sentosa Hotel di Jl. Diponegoro no. 14 Phone: +62 567 21691
  • Marisa Hotel di Jl. Melati  no. 3, Phone: +62 567 21125
  • Harapan Kita Guesthouse di Jl. Sembatan Pelita no. 3 Phone: +62 567 21157
  • Uncak Lestari Guesthouse di Jl. Lintas Selatan, Phone +62 567  21822

Tips

  • Bank hanya terdapat di Putussibau, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Jl. DI Panjaitan (Phone: +62 567 21020, 21177, 21866, atau 21007) dan Bank Kalbar di Jl. Merdeka (Phone: +62 567 21123, 21171, or 21585). ATM tidak dapat Anda temukansejauh ini di daerah taman nasional. Maka rencanakanlah perjalanan Anda dengan baik.
  • Paket perjalanan yang menjual petualangan di Kalimatan ialah:
  • Extreme Borneo:  http://www.extremeborneo.com/ 
  • Borneo Tour Gigant at http://www.borneotourgigant.com/

Alor = Alam Lestari Orang Ramah

Terhimpit di antara rimbunnya gugusan pulau di ujung timur Flores, Pulau Alor adalah impian bagi penyelam bawah laut dan para petualang dari berbagai negara. Pulau ini mampu membuai para petualang dan pelancong hingga terlena sampai batas akhir, bahkan bagi mereka yang datang lebih dari sekali ke sini. Bisa jadi ini adalah tujuan wisata Indonesia di masa depan!

Alor adalah sebuah pulau di gugusan bagian timur Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Telah tersohor jauh-jauh hari sebelumnya oleh mereka para penjelajah dan penikmat keindahan bawah laut. Ya, Alor memang digadang-gadang sebanding dengan keindahan taman bawah laut di Karibia, benarkah itu? Atau bahkan lebih?

Keindahan bawah laut Alor telah disaksikan langsung oleh banyak penyelam dari berbagai negara mulai dari Amerika, Australia, Austria, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Kanada, Selandia Baru, hingga beberapa negara di Asia. Di perairan sekitar Alor setidaknya ada lebih dari 60 titik menyelam dengan 20 di antaranya berkualitas terbaik di dunia. Titik-titik menyelam tersebut tersebar mulai dari Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, Pulau Pantar, dan Pulau Pura. Sederetan daftar nama titik-titik meyelam di Alor itu dapat membuat bingung dan bertanya-tanya ada apa di bawahnya? Mengapa begitu banyak?

Perpaduan laut Indonesia yang hangat dengan Laut Australia yang dingin telah menjadikan Alor sebagai tempat pertemuan biota laut yang unik sekaligus megah. Saat menyelam di Alor, bahkan mereka yang tergolong para profesional saja tetap berdecak kagum. Bagaimana tidak, di sini mereka dapat menyelam bersama sunfish dan menemukannya lebih dari sekali. Ini jelas diasumsikan ada banyak sunfish atau mola-mola menetap di perairan Alor. Lupakan Seaworld, menyaksikan cara hidup mereka langsung di alamnya adalah sangat luar biasa.

Adalah Magnus Mattsson, salah satu fotografer bawah laut pertama yang telah mengindentifikasikan secara pasti ada lebih dari 50 ekor sunfish di perairan Alor. Bahkan ia pernah menyelam dan bersnorkling sembari bermain bersama sunfish hampir setengah jam lamanya. Berenang bersama sunfish atau bahkan sekelompok orca liar pastinya adalah impian bagi para penyelam dimanapun. Binatang besar ini sering ditemukan di perairan Alor dan sangat luar biasa untuk menyelam bersama mereka demi sebuah kenangan yang tak terlupakan.

Jangan kaget juga apabila melihat lumba-lumba (Delphinidae) melompat kesana-kemari seakan menyambut dan mengajak Anda untuk terjun menyelam bersama. Makhluk yang menakjubkan itu dapat dilihat setiap hari dari atas perahu dan fantastis mereka sesekali mengeluarkan semburan air ke permukaan. Apabila Anda beruntung bisa saja menyaksikan langsung saat sekelompok paus orca (Orcinus orca) bekerja sama untuk memburu lumba-lumba ini. Biasanya mereka melintas antara Oktober hingga November, saat dimana arus laut bersahabat bagi penyelam.

Ada banyak tebing dan jurang di taman bawah laut Alor seakan tak terlukiskan kata-kata. Tersusun seperti rak buku dimana setiap bagian dihuni oleh beragam biota dan karang yang mengagumkan. Semua yang pernah melihatnya secara langsung pasti lebih menyarankan untuk menyaksikannya sendiri lalu bercerita hingga kehabisan kata-kata.

Kepa Alor

Salah seorang yang berjasa mengenalkan surga bawah air yang memesona ini adalah Kal Muller. Ia telah menuliskan bagaimana keindahan bawah laut Alor dan menyebutnya sebagai taman laut kelas dunia. Dalam dua bukunya yang berjudul “Underwater Indonesia” dan “East of Bali”, Karl Muller mengungkapkan bahwa Alor memiliki air laut yang bersih, biota laut yang beraneka ragam, dan banyak titik selam yang dapat dinikmati bahkan saat malam hari. Ia seakan mengekspos habis-habisan sehingga membukakan mata dunia untuk berbondong-bondong menuju keajaiban bawah laut Alor.

Untuk menuju Alor, khususnya Anda yang datang dari wilayah barat Indonesia, ada penerbangan dari Jakarta ke Bandara El Tari, Kupang. Berikutnya lanjutkan penerbangan ke Bandara Mali di Kota Kalabahi, yaitu ibu kota Kabupaten Alor. Rute penerbangannya masih sangat terbatas beberapa maskapai saja, salah satunya yang setiap hari tersedia adalah maskapai Trans Nusa.

Kegiatan penjelajahan taman bawah air di Alor dapat dimulai dari Pelabuhan Kalabahi dan beberapa dermaga sekitarnya. Operator diving akan mengatur semua perlengkapan, makanan, tujuan, dan transportasi ke berbagai titik menyelam di sekitar Alor, termasuk apabila Anda berminat melakukan penyelaman malam hari. Jangan heran pula apabila di pulau ini rata-rata operator diving adalah orang asing yang fasih berbahasa Indonesia serta telah lama tinggal di Alor dan sekitarnya.

Budaya Moko dan Al-Quran Berusia 800 tahun di Pulau Alor

Alor memang bukan pulau besar seperti Flores tetapi cukup mencengangkan di sini telah ditemukan peninggalan sejarah yang luar biasa, yaitu moko dalam jumlah yang amat banyak. Museum 1.000 Moko di Kalabahi Alor bahkan berambisi melewati angka 1.000 koleksi moko. Adalah cukup menjadi tanda tanya bahwa moko di Alor tidak dibuat oleh masyarakat asli Alor karena budaya moko sejatinya berasal dari kebudayaan perunggu Dongson di Vietnam Utara.

Orang Alor sendiri percaya bahwa moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi. Moko memiliki peranan penting bagi masyarakat Alor, yaitu kepemilikan terhadap jumlah dan jenis moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang. Di beberapa suku tradisional di Pulau Alor moko digunakan sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Selain sebagai alat musik tradisional, Moko juga berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor. Hal inilah yang kemudian menyebabkan inflasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda sehingga membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko di Pulau Alor.

Saat ini, moko berfungsi sebagai peralatan belis atau mas kawin serta simbol status sosial. Dalam adat dan istiadat pernikahan masyarakat Alor, moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon isterinya. Moko dipercaya dapat mengikat pernikahan.

Selain moko, Pulau Alor ternyata secara mengejutkan menyimpan sebuah Al-Quran yang berusia 800 tahun. Kitab suci umat Islam tersebut hingga saat ini adalah yang tertua bukan saja di Indonesia tetapi di Asia Tenggara. Terbuat dari bahan kulit kayu dan pewarna alam, Al-Quran ini masih utuh kelengkapan ayat dan suratnya. Tahun 1982, sempat terjadi kebakaran di perkampungan Muslim ini termasuk rumah tempat disimpannya Al-Quran tua tersebut. Untungnya Al-Quran itu selamat dan tidak rusak padahal disimpan dalam kotak kayu yang mudah terbakar. Al-Quran tua ini pada April 2011 pernah sekali dibawa keluar dari Pulau Alor untuk dipamerkan dalam Festival Legu Gam, Ternate, melalui Kesultanan Ternate.

Anda dapat melihat Al-Quran tersebut di Desa Alor Besar yang disimpan oleh Nurdin Gogo, yaitu generasi ke-15 keturunan Iang Gogo, penyebar agama Islam yang datang dari Ternate. Iang Gogo membawa Al-Quran dari kulit kayu ke wilayah ini sekaligus berperan sebagai guru agama Islam. Ia hidup pada masa Sultan Baabullah (1570-1583) tetapi Al Quran tua tersebut diperkirakan sudah ada sebelumnya.

Agama Islam sendiri bukanlah agama mayoritas di Alor tetapi keberadaan Al-Quran tua ini sangatlah berarti bagi masyarakat Kabupaten Alor. Hal itu menunjukan bagaimana kerukunan hidup beragama begitu terjalin harmonis, persis seperti watak masyarakat Alor yang ramah. Bahkan kiranya tidak keliru apabila orang-orang memanjangkan kata Alor yang singkat sebagai: Alam Lestari dan Orang Ramah. Kunjungi Pulau Alor dan buktikan sendiri!

Solo Surakarta: Menjejak Sejarah Budaya Jawa Kuno

Inilah kota yang penuh nuansa sejarah dan budaya, diwarisi tradisi Jawa yang dibanggakan warganya. Sebuah tempat yang akan membuat Anda terkesima dengan beragam atraksi warisan budaya Jawa kuno. Paling tidak beberapa hari perlu disisihkan untuk menikmati semua sajian wisata yang mengagumkan. Dari menjelajahi kota sambil melihat keraton, mengunjungi pasar tadisional, berbelanja batik dan kerajinan yang berkualitas, melihat atraksi tarian yang anggun, wayang kulit, kuliner yang lezat, dan tentunya merasakan keramahan orang-orangnya.

Bila Anda menyandingkan Solo dengan Yogyakarta maka tampak seolah adanya “emulasi” dan “kontes” kultural antara Surakarta dan Yogyakarta. Tidaklah mengherankan kemudian melahirkan apa yang dikenal sebagai “gaya Surakarta” dan “gaya Yogyakarta” baik itu dalam busana, tarian, wayang, pengolahan batik, gamelan, dan bentuk budaya lainnya.

Kota Solo atau disebut juga Surakarta adalah kota kuno yang dibangun Paku Buwana II. Riwayat kota ini tidak bisa lepas dari sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang merupakan penerus Kerajaan Mataram Islam. Surakarta dikenal sebagai salah satu pusat dan inti dari kebudayaan Jawa kuno karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 telah mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, makanan, pakaian, arsitektur, dan beragam hasil budaya indah lainnya. 

Masyarakat Solo pandai memelihara budaya lokalnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila bahasa Jawa dari Solo digunakan sebagai standar bahasa Jawa nasional. Tarian daerah Bedhaya dan Srimpi masih dilestarikan di Keraton Solo. Batik terkenal yang berasal dari Solo yaitu Batik Keris dan Batik Danarhadi. Penduduk Solo memang bangga dengan batik, bahkan label kota Solo selain ‘Solo, The Spirit of Java‘ juga dikenal julukan “The City of Batik”. Biasanya wisatawan yang berlibur ke Jogja juga akan singgah di Solo, atau sebaliknya.

Solo dikenal sebagai kota yang tidak pernah tidur, selalu ada sesuatu yang menarik dapat Anda temukan di Solo. Dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang biasa didatangi oleh wisatawan dari kota-kota besar. Selain menyungguhkan pemandangan kota dan kraton Kasunanan, Solo juga menawarkan wisata alam di sekitarnya, antara lain Tawangmangu di timur kota Solo dan kawasan wisata Selo di barat kota Solo. Di Solo juga terdapat sebuah museum batik yang terlengkap di Indonesia yaitu House of Danar Hadi

Di kota Solo Anda dapat mengunjungi 2 keraton Jawa, yaitu Sunan Surakarta dan Pangeran Mangkunegaraan. Berkelilinglah di kota tua ini dengan naik kereta kuda (andong) atau becak sambil melihat bangunan tua dan labirin di sepanjang dinding istana yang bercat putih.

Keraton Kasunanan Surakarta memiliki luas sekitar 500 x 700 meter yang dikelilingi oleh dinding pertahanan (benteng) yang disebutBaluarti. Dinding tersebut mengelilingi keraton setinggi 3 – 5 meter, tebalnya sekitar 1 meter, dengan bentuk persegi panjang. Karaton Kasunanan atau disebut Keraton Surakarta Hadiningratdibangun tahun 1745 oleh Raja Paku Buwono ke II. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa.Istana indah ini dirancang Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono Isekaligus juga menjadi arsitek Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. 

Keraton Surakarta dibangun secara bertahap tahun 1744-1745 dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dari awalnya. Pembangunan dan restorasi besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono Xyang bertahta  pada tahun 1893-1939. Kawasan keraton dilengkapi berbagai fasilitas bagi wisatawan, seperti pemandu wisata, peminjaman pakaian khas Jawa, brosur wisata, serta toilet. Untuk keperluan salat, wisatawan dapat memanfaatkan Masjid Agung Surakarta yang terletak tidak jauh di depan keraton.

Secara umum pembagian keraton meliputi di antaranya: Kompleks Alun-alun Lor di Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sitihinggil Lor di Utara, Kompleks Kamandungan Lor di Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedhaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Srimanganti Kidul di Selatan dan Kemandungan Kidul di Selatan, serta Kompleks Sitihinggil Kidul dan Alun-alun Kidul. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kemandungan Lor di Utara sampai Kemandungan Kidul di Selatan. Kedua kompleks Sitihinggil dan Alun-alun tidak dilingkungi tembok pertahanan ini.Di halaman istana didominasi sebuah menara bernama Panggung Sanggabuwono. Sebuah menara misterius berdiri sebagai tempat bertemunya Raja dengan Kanjeng Ratu Kidul,penguasa Laut Selatan. Tidak ada tempat lain di Indonesia dimana dapat Anda temukan sebuah monumen seperti ini yang terasa penuh martabat dankedamaiansebagai warisan kerajaan klasik Jawa.

Akomodasi

Ada berbagai macam pilihan akomodasi yang tersedia di Solo. Hotel bertaraf internasionalyang tersediadisini yiatu Novotel dan Ibis. Hotel Indah Palace adalah hotel bintang tiga yang terletak ditengah kota.

Berikut ini daftar hotel lainnya yang dapat Anda jadikan referensi.

BINTANG 4 **** 

  • HOTEL NOVOTEL : Jl. Slamet Riyadi No 272 Solo. Telp(0271)724666 Fax(0271)724666 
  • THE SUNAN HOTEL : Jl. Ahmad Yani No 40 Solo. Telp(0271)731312 Fax(0271)738677 

BINTANG3 *** 

  • HOTEL RIYADI PALACE : Jl. Slamet Riyadi No 335 Solo. Telp(0271)713300 Fax(0271)721552 
  • HOTEL SOLO INN : Jl. Slamet Riyadi No 366, Solo. Telp(0271)716075 Fax(0271)716076 
  • HOTEL AGAS INTERNATIONAL : Jl.Dr. Muwardi No. 44 Solo. Telp (0271)714888 Fax(0271)720747 
  • HOTEL INDAH PALACE : Jl. Veteran No 284 Solo. Telp(0271)711011 Fax(0271)724368 
  • HOTEL DANA : Jl. Slamet Riyadi No 286 Solo. Telp (0271)7118989 Fax(0271)713880 
  • HOTEL GRAND SETIA KAWAN BARU : Jl.Ahmad Yani No 290 Solo. (0271)718989 Fax(0271)715243 
  • HOTEL ASIA : Jl. Monginsidi No 01 Solo. Telp(0271)661166 Fax(0271)646418 
  • HOTEL IBIS : Jl. Slamet Riyadi No 272 Solo. Telp(0271)724555 Fax(0271)724666 

HOTEL BINTANG 2 ** 

  • HOTEL PRAMESTHI : Jl. A. Yani 101 Kartasura, Solo. Telp(0271)782277 Fax(0271)784245 
  • HOTEL KUSUMA KARTIKA SARI : Jl. Ir. Sutami. No 63 Solo. Telp(0271)656861 Fax(0271)656862 
  • HOTEL DIAMOND : Jl. Slamet Riyadi No 392 Solo. Telp (0271)726232 Fax(0271)715343 
  • HOTEL GRAND ORCHID : Jl. Gajah Mada No 29 Solo. Telp(0271)731888 Fax(0271)712233 
  • HOTEL GRAND SOBA : Jl. Raya Langenharjo Dlopo Blok GE 30-31 Solo Baru, Sukoharjo. Telp(0271)626698 
  • HOTEL BINTANG : Jl. Ir. Sutami No 104 Solo. Telp(0271)648737 Fax(0271)646418 

HOTEL BINTANG1 * 

  • HOTEL SANASHTRI : Jl. Sutawijaya No.45 Solo. Telp(0271)718308 Fax(0271)715807 
  • HOTEL INDAH JAYA : Jl. Hasanudin No 116 -118 Solo. Telp(0271)717445 Fax(0271)715444 
  • HOTEL GRAHA INDAH BARU : Jl. Dr. Setiabudi NBo 39 Solo. Telp(0271)714755 
  • HOTEL WISATA INDAH : Jl. Slamet Riyadi No 173 Solo. Telp(0271)646770, 643753 
  • HOTEL KOMAJAYA KOMARATIH : Jl. Lawu Kav 150-151 Tawangmangu Telp.(0271)697125 Fax(0271)697205 

HOTEL MELATI 

  • HOTEL BARON INDAH : Jl. Dr. Rajiman No 374 Solo. (0271)729071 Fax(0271)732090 
  • HOTEL TRIHADI : Jl. Monginsidi No 97 Solo. Telp(0271)637557 
  • HOTEL ARINI : Jl. Slamet Riyadi No 361 Solo. Telp(0271)716525 
  • HOTEL MANDALA WISATA : Jl. Perintis Kemerdekaan No 12 Solo. Telp(0271)722467 Fax(0271)742006 
  • HOTEL GRIYA KENCANA : Jl. Latar Ireng No 22 Solo Telp(0271)722467 Fax(0271)742935 
  • HOTEL MAWAR INDRIA : Jl. Monginsidi No 125 Solo. Telp(0271)632810 Fax(0271)652389 
  • HOTEL SUKA MAREM : Jl. dr. Sutomo No 11 Solo. Telp(0271)714887 
  • DE SOLO BOUTIQUE HOTEL : Jl. Dr. Sutomo No 08 Solo. Telp(0271)714887 
  • HOTEL ATINA GRAHA : Jl. Bangka No 30 Solo. Telp(0271)654549 
  • HOTEL TIARA PUSPITA BARU: Jl. Dr. Rajiman No 404 Solo. Telp(0271)729805 
  • HOTEL PRASASTI : Jl. Letjen Suprapto No 81 Solo. Telp(0271)723990 
  • HOTEL WISMA BRANI : Jl. Setiyaki I/VII Solo. Telp(0271)714177

Kuliner

Makanan adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat Solo, jadi wisata kuliner Anda akan terpuaskan di kota ini.Di kota ini juga tidak sulit untuk Anda mencari rumah makan yang menyajikan menu masakan khas Solo maupun menu makanan internasional.

Solo terkenal dengan banyaknya jajanan kuliner tradisional yang lezat. Beberapa makanan khas Surakarta di antaranya: nasi liwet, nasi timlo, nasi gudegyang sedikit berbeda dengan gudeg Yogyakartacabuk rambak, serabi Notosuman, intip, bakpia balong, dan roti mandarin. Ada juga Ayam bakar yang dipanggang disajikan dengan lalapan atau sayuran mentah. Peceldengan sayuran yang dimasak di atas nasi dengan saus kacang pedas.

Untuk minuman khas Solo ada wedang asleyaitu minuman hangat dengan nasi ketan sertakelapa muda utuh sebagai minuman menyegarkan.

Berikut ini beberapa tempat kuliner yang dapat Anda kunjungi di Solo.

  • Tengkleng Pasar Klewer, tepat di gapura Pasar klewer. Ini menu wajib bagi fans kuliner terutama bagi penikmat kambing, sebaiknya jangan datang terlalu siang karena pasti sudah habis.
  • Nasi liwet Bu Wongso Lemu, terletak di Keprabon Kulon Solo dan sudah berdiri sejak 1950.
  • Cabuk Rambak, terletak di Pasar Besar Pintu Timur, Dasaran, berjualan pukul 7.00-12.00.
  • RM Timlo Sastro, terletak di Jl. Pasar Gede Timur 1-2, Balong, Solo Telp. 0271654820; Jl. Pasar Gede Timur 1-2 Balong; Jl. Dr Supomo Solo
  • Gudeg Cakar Bu Kasnoatau Gudeg Margoyudan, terletak di jalan Wolter Monginsidi depan GKJ Margoyudan. 
  • Serabi NotosumanJl.Prof.M.Yamin No.52, Notosuman, berjualan pukul 06.00-18.00
  • Warung Bebek Goreng Pak Slamet,terletak di Jalan Sedahromo Lor RT 01 RW 07 Kartosuro.
  • Dawet Selasih Bu Watik, terletak si Pasar Gede
  • Roti Mandarin, Toko Orion, di  Jl.Urp Sumohardjo No.92, Mesen, berjualan pukul 09.00-21.00

Berkeliling

Angkutan umum dalam kota yang dapat Anda temukan di Solo adalah bus kota, angkot, taksi, becak, dan andong. Cara santai untuk berkeliling kota Solo adalah dengan becak. Bersepeda juga dapat menjadi pilihan yang baik dengan menyewanya dari kantor wisata di kota.

Penyewaan mobil tersedia di beberapa hotel besar di Solo. Untuk pengalaman yang mengesankan mengapa tidak menggunakan cara tradisonal yaitu menyewa kereta kuda atau andong.

Berbelanja

Batik Solo memiliki ciri pengolahan yang khas yaitu warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogya yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman. Beberapa usaha batik terkenal di Solo adalah Batik Keris dan Batik Danarhadi. Pusat perdagangan batik di kota ini berada di Pasar Klewer. Selain itu di kecamatan Laweyan juga terdapat Kampung Batik Laweyan.

Jangan lewatkan untuk berbelanja di Pasar Klewer yang terletak di jalan Dr. Rajiman di Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon. Anda dapat berjalan kaki menuju Pasar Klewer yang berjarak sekitar 200 meter dari Keraton Surakarta. Di pasar ini ini terdapat bursa textil dan batik terbesar di Kota Solo dan sekitarnya bahkan terkenal di seluruh Indonesia. Selain pribumi juga ada orang keturunan Arab dan India Muslim yang menjadi penjualnya. Di antara lorong-lorongnya terdapat beragam baju batik, katun tenun, sutra, serta banyak yang lainnya.

Pasar Triwindu adalah pasar loak namun sangat ramai. Temukan di sinidari topeng tua, wayang, alat musik dan koin.  Bahkan jika Anda tidak ingin berbelanja namun kunjungilah pasar ini untuk melihat barang yang unik dan aneh dijual.

Pasar Gede adalah pasar utama di Solo yang menjual beragam barang dagangan dari desa seperti sayuran, buah-buahan, beras, kopi, ikan kering, pakaian, banyak lagi yang lainnya.Gunakan keterampilan Anda dalam tawar-menawar di sini.

Ada juga pasar burung di Pasar Depok, yang menjual bermacam-macam jenis burung dari Beo, ayam, merpati, kenari, burung hantu, dan elang.

Batik Danar Hadi SOLO 

• Jl. Dr. Rajiman 164 – Telp. (0271) 644 126

• Jl. Slamet Riyadi 261, Wuryaningratan – Telp. (0271) 713 140

• Jl. Gatot Subroto 5 – Telp. (0271) 635 743

GALERI BATIK KUNO DANAR HADI

Jl. Slamet Riyadi 261 – Telp. (0271) 714 326

Transportasi

Surakarta memiliki bandara udara internasional Adisumarmo terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar dan Boyolali. Bandara ini terhubung ke Jakarta, Kuala Lumpur, dan Singapura. Dari Jakarta waktu tempuh kurang lebih 50 menit. Beberapa operator penerbangan yang melayani rute dari atau ke kota Solo antara lain Garuda Indonesia, Citilink Air, Batik dan Lion Air.

Kereta api secara teratur beroperasi antara Solo dan Jakarta dengan perjalanan memakan waktu antara 11-12 jam. Stasiun kereta api utama bernama Stasiun Solo Balapan yang merupakan stasiun untuk pemberangkatan kereta api kelas Bisnis dan Eksekutif dan terletak berdekatan dengan terminal bus Tirtonadi, suatu hal yang jarang dijumpai di Indonesia.

Untuk bus malam perjalanan dari Jakarta ke Solo memakan waktu sekitar 12 jam.

Dari Yogya, Anda dapat melakukan perjalanan ke Solo dengan minibus sekitar 1 jam. Bus tersedia juga dengan harga yang lebih murah.

Kota Solo merupakan kota perlintasan Yogyakarta-Surabaya. Dari Yogyakarta, Solo terletak sekitar 65 km arah Timur, sementara dari Surabaya, Kota Solo terletak sekitar 285 kilometer arah Barat. Dari kota besar lainnya, yaitu dari Semarang, Solo terletak sekitar 100 kilometer arah Tenggara. Untuk menuju Kota Solo, Anda dapat memanfaatkan transportasi udara dan mendarat di Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo, atau menggunakan jasa bus dan kereta menuju Terminal Tirtonadi dan Stasiun Balapan Solo. Dari Bandara, terminal, maupun stasiun, Anda dapat memanfaatkan bus kota, angkot, taksi, maupun andong untuk menuju ke pusat kota mengunjungi Keraton Surakarta.

Tips

  • Anda yang ingin menikmati keindahan keraton diwajibkan mematuhi berbagai peraturan, seperti tidak memakai topi, kacamata hitam, celana pendek, sandal, serta jaket. Bagi Anda yang memakai celana pendek, dapat meminjam kain bawahan untuk digunakan selama mengelilingi kawasan keraton.
  • Terdapat beberapa agen wisata yang dapat mambantu Anda menikmati wisata di kota ini.
  • Yogya tours
  • JavaAdventure
  • Jogjakarta Tour
  • Java Overland Tours

Pulau Kanawa: Pengikat Petualangan di Flores

Jauh jalur ditempuh di Pulau Flores yang merentang sepanjang lebih dari 300 kilometer, selayaknya telah menguntai puluhan kenangan berpetualang yang tak terlupakan. Seperti setumpuk perhiasan yang terkumpul dari Maumere hingga Labuan Bajo, menyimpannya harus di dalam sebuah keranjang yang sama berharganya. Mengunjungi Pulau Kanawa seolah menyiapkan keranjang berharga yang akan membuat semua petualangan di Pulau Flores menjadi sebuah kesempurnaan.

Terletak sekitar 15 kilometer dari Labuan Bajo, Pulau Kanawa menyendiri dalam luasnya lautan di sekeliling Taman Nasional Komodo sehingga luas pulaunya yang 32 hektar seperti tak begitu berarti. Akan tetapi, tetap saja bukit batu yang ditumbuhi belukar dan rumput kering di musim kemarau ini bagaikan dialek Italia yang menggoda. Birunya laut yang dibatasi warna hijau kebiruan di bibir pantainya menyeret rasa penasaran seolah gravitasi bumi.

Pulau Kanawa awalnya dibina oleh seorang warga Labuan Bajo, pulau ini diserahkan pengelolaannya pada orang Italia yang mengembangkan 14 bungalow di kaki bukit batu yang menerawang ke arah pantai. Sebuah dermaga kayu cukup untuk melabuhkan beberapa perahu kecil menjulurkan sambutannya hingga tepi karang dan tebing bawah laut. Biru bercampur hijau tepat mengulas kaki gazebo di ujung dermaga. Tak salah lagi, terumbu karang seluas areal yang melingkari pulau itu tumbuh subur, berbinar mengundang mereka yang mendekat.

Setelah menyinggahi Pulau Rinca dan Komodo yang membuka cakrawala pengetahuan fauna Indonesia, setengah lingkaran jam tak perlu dihabiskan terlalu cepat hingga terbenam Matahari di Labuan Bajo. Pulau Kanawa dengan kemewahan langit, pantai, dan terumbu karangnya adalah perhiasan sebelum pergi pulang. Bersoleklah dengan pengalaman satu lagi di jernihnya air dan warna-warni ikan yang bermain di antara bunga laut, terumbu karang, dan bukit pasir di bawah laut.

Bila jatuh hati pada pandangan pertama saat menatap Kanawa, singgahlah untuk menanyakan kemungkinan  bermalam di salah satu bungalow-nya karena itu adalah ide yang paling baik. Di bangun di antara bibir pantai yang jernih dan bukit menjulang, bungalow tersebut dilengkapi tempat tidur nyaman, berkelambu putih dan tempat tidur ayunan yang diapit dua pohon rindang, siap mengakomodir keinginan Anda untuk berlabuh.

Di Pulau Kanawa saat menjelang sore, air lautnya surut dimana Anda dapat mengambil bintang laut dan kepiting kecil yang ada di pesisir pantai. Kejadian ini adalah hal rutin terjadi saat air laut surut.

Kursi beanbag disusun seperti bioskop di pantai, lengkap dengan peneduh alami menghadap langit menguning saat sunset. Beach café bernama Starfish dan satu lagi di bibir pantai bernama KB’s bar memutar lagu penuh semangat, mengingatkan setiap pengunjung untuk tetap ceria. Perahu dari Labuan Bajo selalu datang pada jam yang telah ditetapkan dan juga berangkat dari pulau ini pada jadwal yang dipatuhi. Pengunjung yang bermalam di sini tak perlu lagi membayar ongkos perahu yang melaut 45 menit dari Kanawa ke Labuan Bajo karena telah termasuk tarif bermalam.

Penyelamkah Anda? Bergegaslah untuk menemui manta ray, hiu paus, dan mola-mola diantara jadwal pertemuan lain dengan parrot fish yang memiliki bejolan besar di kepalanya. Kuda laut pigmi dan beraneka ragam nudibranch adalah hal lain yang mudah ditemukan di sini beserta penyelam lainnya yang selalu bertukar pengalaman sambil menyeruput minuman dingin di Starfish café.

Transportasi

Pulau Kanawa dapat dijangkau dengan perahu bermesin dari  Labuan Bajo. Lama perjalanan sekitar 40 menit. Kapal tersebut berangkat pukul 12.00. Pilihan lain Anda dapat menggunakan speed boat dengan biaya Rp60.000,-.

Memacu Adrenalin di Pekalen Problinggo

Lupakan sejenak berbelanja di pertokoan mewah atau menikmati makanan enak di restoran ternama. Ini saatnya Anda mencicipi ketegangan yang memuaskan di Sungai Pekalen. Ketika melintasi jeram, berteriaklah dengan keras sepuasnya karena itu adalah sah-sah saja. Hal ini bisa jadi kegiatan paling tepat untuk melepaskan diri dari semua masalah yang membebani pikiran. Adrenalin Anda akan dipacu dan berpadu pada keindahan alam Probolinggo yang memukau.

Sungai Pekalen terletak di Desa Ranu Gedang, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dinamakan Desa Ranu Gedang, karena di desa ini banyak terdapat pohon pisang yang dalam bahasa Jawa pisang disebut gedang. Di tempat inilah Anda dapat menjajal ketegangan arung jeram membelah arus air, pepohonan, hingga air terjunnya yang menawan

Keindahan Probolinggo menurut cerita rakyat setempat telah melenakan Raja Majapahit Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada. Keduanya terpesona keindahan alam Probolinggo dan betah berlama-lama di tempat ini. Bisa jadi istilah ‘probolinggo’ berasal dari kata ‘prabu linggih’ yang kemudian lambat laun mengalami perubahan lafal menjadi ‘probolinggo’.

Olahraga arung jeram sendiri populer di Indonesia sejak tahun 90-an. Sebelumnya lebih banyak dilakukan para pencinta alam sehingga menampilkan kesan bahwa arung jeram hanya bisa dilakukan orang yang sudah ahli atau berpengalaman. Akan tetapi, pada dasarnya olahraga arung jeram bisa dilakukan siapa saja, tentunya dengan persyaratan keselamatan.

Kegiatan Arung jeram sangat menggairahkan, mengasyikkan, sedikit liar, tetapi sangat memuaskan. Seperti pada kegiatan petualangan lainnya, arung jeram tetap memiliki resiko dan bahaya. Namun resiko tersebut justru menambah semangat dan menjadi pengalaman yang sangat memuaskan. Perlu Anda ketahui bahwa seorang pemandu arung jeram (skipper) atau kadang disebut capten sangat berpengalaman untuk meminimalisasi resiko dan bahaya. Saat beratraksi maka Anda akan selalu mengenakan pelampung (life jacket) dengan daya apung tinggi. Pelampung ini akan tetap menjaga Anda berada di atas permukaan air, bahkan pada saat anda terlempar dari perahu dan tercebur ke sungai. Perahu karet yang dipakai adalah jenis inflatable raft yang memang diperuntukkan melewati jeram dengan aman karena berisi udara yang dapat meredam benturan antara badan perahu dengan bebatuan jeram.

Apabila Anda tidak bisa berenang maka tidak perlu khawatir. Karena banyak orang yang tidak dapat berenang justru mengikuti kegiatan arung jeram dan mereka sangat menikmatinya. Penting diketahui bahwa Anda tidak panik saat terlempar dari perahu dan tercebur ke sungai.

Sungai Pekalen, terletak 25 km dari kota Probolinggo tepatnya terbentang di antara tiga kecamatan yaitu kecamatan Tiris, Maron, dan Gading. Jalur sungai yang bisa diarungi berjarak 29 km yang terbagi atas 3 area. Sungai Pekalen bersumber dari mata air Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan dengan lebar sungai rata-rata 5-20 meter, memiliki tingkat kesulitan (grade atau class) 2 hingga 3+ dan kedalaman air kurang lebih 1-3 meter. Jarak pengarungan dari start hingga finish untuk jalur Sungai Pekalen Bawah sepanjang 9 km, dan 12 kilometer untuk jalur Sungai Pekalen Atas dengan jumlah jeram masing-masing sekitar 50 buah.

Sungai Pekalen Atas berjarak 12 km, Sungai Pekalen Tengah berjarak 7 km, dan Sungai Pekalen Bawah berjarak 10 km. Sebagai awal, Anda dapat mulai pada sungai dengan tingkat kesulitan class 2 atau class 3. Jika merasa yakin dengan kemampuan yang Anda miliki, sehat dan haus tantangan maka mengapa tidak mencoba sungai dengan tingkat kesulitan class 4, meskipun belum memiliki pengalaman sebelumnya. Hal itu karena pemandu akan melatih Anda terlebih dahulu dan menjelaskan bagaimana cara penyelamatan di sungai serta teknik mendayungnya. Sedangkan untuk sungai dengan class 5, Anda harus memiliki pengalaman pengarungan sungai dengan tingkat kesulitan class 4 sebelumnya.

Kegiatan
Berarung jeram di Sungai Pekalen begitu menyenangkan. Dijamin rasa penat Anda pun akan hilang begitu melihat keindahan dan merasakan serunya berarung jeram. Berarung jeram dapat meningkatkan kapasitas jantung dan paru-paru, kekuatan dan daya tahan otot, serta fleksibilitas sendi bahu dan pinggang. Seperti olah raga aktif lainnya, dengan arung jeram maka tubuh Anda bisa merasa lebih bugar dan adrenalin benar-benar terpuaskan dalam suasana kekompakan tim yang menyenangkan sekaligus menegangkan.

Sebelum kegiatan dimulai maka Anda dan tim akan dipandu pimpinan perjalanan atau trip leader untuk menaiki kendaraan yang telah disiapkan menuju titik start pengarungan. Saat menuju ke lokasi start, trip leader akan menjelaskan beberapa informasi penting selama 20 menit tentang keselamatan saat berarung jeram. Selanjutnya Anda akan menuju perahu yang memuat 6-8 orang dan seorang pemandu arung jeram (skipper). Pemandu yang menyertai tersebut akan memberikan instruksi lanjutan tentang cara memegang dayung dan menggunakannya saat pengarungan, juga bagaimana mengikuti perintah yang diberikan. Selanjutnya nikmatilah petualangan yang menegangkan sekaligus menyenangkan dari titik start sampai titik finish-nya.

Jarak pengarungan dari start hingga finish sekitar 12 km selama 3,5 jam dengan tingkat kesulitan arung jeram grade atau class 2 sampai 3+. Jumlah jeram sekitar 50 buah seperti Welcome, Batu Jenggot, Pandawa, Rajawali, Xtravaganza, KPLA, Tripple Ace, The Fly Matador, Hiu, Cucak Rowo, Long Rapid, Good Bye. Ada yang unik yaitu “Jeram Inul”, dimana untuk melewati jeram itu, Anda harus bergoyang bak Inul. Di sinilah Anda akan merasakan petualangan yang menegangkan sekaligus memuaskan. Karakteristik sungai Pekalen berbelok dan bertebing, memiliki panorama alam yang indah, puluhan jeram yang menantang, kemegahan air terjun, dan kemolekan gua-gua kelelawar. Bahkan masih ditemuinya beberapa satwa langka seperti burung elang, burung kepodang, monyet, biawak, linsang, dan tupai.

Dalam kegiatan arung jeram selalu menggunakan dayung. Ini artinya Anda akan memegang dayung dan melakukan pendayungan saat berada di atas perahu. Mendayung dapat menyebabkan kelelahan, tetapi pemandu akan memberikan instruksi pada anda teknik mendayung. Sehingga tidak selamanya saat Anda berada di atas perahu akan melakukan pendayungan.

Apabila Anda terlempar dari perahu maka tetaplah tenang. Percaya atau tidak, banyak orang yang menyukai saat terlempar keluar dari perahu! Ini sangat mengasyikkan. Pada awalnya memang dapat menyebabkan sedikit kewalahan dengan perubahan arah. Beberapa orang hanya berenang pada pengarungan pertama mereka karena tidak mampu naik kembali keatas perahu atau karena tertinggal jauh dari perahu yang melemparkannya. Ini adalah bagian dari sebuah kegiatan arung jeram.

Selama perjalanan mengarungi sungai Anda akan disuguhi keindahan 7 air terjun dan goa-goa kelelawar yang sesekali memekik beterbangan. Amatilah bagaimana struktur batuan alami dan airnya masih begitu jernih dan segar. Trip leader akan memberhentikan perjalanan tepat di bawah derasnya guyuran air terjun. Dijamin Anda akan langsung dapat merasakan segar dan derasnya guyuran airnya. Terdapat pula tempat untuk terjun bebas dari ketinggian sekitar 5 meter. Tempat yang pas untuk melepaskan ketegangan. Bagaimana beranikah Anda?

Untuk kembali ke basecamp Anda akan menyusuri jalan setapak dan dinaikkan lagi ke mobil pengantar. Sesampainya di basecamp Anda dapat segera membersihkan badan dan berganti pakaian. Sesudah itu semua, sajian yang menggoda selera tersedia seperti tempe, tahu, ikan penyet, urap-urapan, dan lodeh siap mengenyangkan perut Anda setelah energinya terkuras selama berarung jeram.

Paket arung jeram reguler di Pekalen Atas sejauh 12 km berkisar Rp219.000,00 untuk minimal 5 orang. Fasilitas yang termasuk di dalamnya adalah asuransi, welcome drink, peralatan standart rafting, air mineral bekal pengarungan, transportasi, guide dan rescue team, snack dan beverage, dan makan siang.

Paket arung jeram reguler di Pekalen bawah sejauh 10 km berkisar Rp. 189.000 min 5 org
Fasilitas yang termasuk di dalamnya adalah welcome drink, peralatan standart, air mineral bekal pengarungan, transportasi local, guide dan rescue team, snack dan kelapa muda, makan siang, dan asuransi.

Beberapa operator arung jeram di Pekalen menawarkan paket arung jeram keluarga, dimana anda dapat membawa serta Anak Anda walau masih berumur 6 tahun. Setiap sungai yang dikelola secara komersil oleh operator arung jeram memiliki paket-paket dengan batas minimal umur peserta kegiatan, seperti 6 tahun, 10 tahun atau 14 tahun. Pihak operator arung jeram yang menawarkan paket keluarga tersebut dapat Anda konfirmasi tentang umur minimal peserta yang boleh mengikuti kegiatan tersebut.

Selain arung jeram Anda juga dapat mencoba kegiatan outbound training untuk meningkatkan motivasi, keberanian, percaya diri, berfikir kreatif, memiliki rasa kebersamaan, tanggung jawab, kooperatif, rasa saling percaya, dan lain-lain.

Akomodasi
Penginapan Cottage Kamboja Songa dapat menjadi pilihan Anda seharga Rp50.000,00/orang dengan fasilitas penginapan berbentuk gazebo serta menyediakan makan pagi.

Beberapa hotel di Probolinggo yang dapat Anda jadikan referensi.

• Hotel Bromo View
Jl Bromo Km 5
PROBOLINGGO
(0335) 427222

• Hotel Ratna
Jl Raya Panglima Sudirman 16
PROBOLINGGO
(0335) 427886

• Hotel Paramita
Jl Siaman 7
PROBOLINGGO
(0335) 421535

• Hotel Bromo Permai
Jl Raya Panglima Sudirman 237
PROBOLINGGO
(0335) 427451

• Hotel Tampiarto
Jl Suroyo 15
PROBOLINGGO
(0335) 421288

• Hotel Tentrem
Jl Raya Panglima Sudirman 15
PROBOLINGGO
(0335) 421049

Berbelanja
Tas mode produk perajin Kota Probolinggo sangat cantik dan cocok untuk dipakai dalam segala acara. Harganya pun terjangkau bagi remaja putri dan ibu-ibu yang ingin tampil beda. Tas cantik ini dapat Anda pesan sesuai dengan selera di Handycraft Incoming Collection di Jalan Lumajang Gg. Melati 69 Probolinggo (0335-423852; 0335-7608023)

Bagi anda pecinta keramik dan ingin memiliki ragam yang berbeda dapat ditemui di kedai keramik lingkungan Kanigaran dan Mayangan. Desain keramik yang apik dan unik mempunyai ciri khas tersendiri dengan mengusung motif nuansa alam yang dibentuk gaya kontemporer membuat produk keramik ini berbeda. Anda dapt berkujung ke Keramik Kinasih di Jalan Cangkring Probolinggo (085850227961) juga di Jawa Keramik, Jalan Raden Intan Probolinggo (085230029926).

Di tangan pengolah hasil laut asal Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo, hasil tangkapan ikan diolah menjadi beraneka produk olahan khas. Ikan kering, kerupuk jenggelek, kerupuk ikan tengiri dan kerupuk rajungan menjadi camilan yang nikmat sebagai teman makan dan santai. Limbah kulit dan tulang ikan punti dapat diolah oleh tangan-tangan terampil pengrajin menjadi rambak ikan punti danrempeyek tulang ikan yang tak kalah lezatnya sebagai makanan khas Probolinggo. Anda dapat menemukannya di Krupuk Tengiri Jl. KH. Mansyur Probolinggo (0335-7603535) dan di Camilan Tonali Jl. Bengawan Solo (081358 970 254).

Kuliner
Selepas berarung jeram pengelola atraksi menyediakan makanan lalapan seperti tempe, tahu dan ikan penyet, urap-urap dan lodeh pun siap mengenyangkan perut Anda yang energinya terkuras setelah berarung jeram.

Bila anda berkunjung Probolinggo, tidak lengkap rasanya bila tidak mencicipi kuliner sego mbledos. Sego mbeldos merupakan makanan yang ada hanya ada di Probolinggo dan bentuknya unik menyerupai Gunung Bromo. Sambalnya di bikin lumer dan berwarna merah meyerupai lava pijar yang keluar dari gunung. Dikatakan mbeledos karena bila nasi ini dimakan di dalam nasi yang bentuknya kerucut ini akan keluar berbagai macam lauk pauk seperti sambal goreng ikan teri goreng dan urap urap.

Apabila Anda ingin mencicipi makanan di Probolinggo mengapa tidak mengunjungi salah satu tempat berikut ini.

• Bayuangga Depot
Stand Terminal 20, Gebang, Patrang Probolinggo

• Bromo Indah Depot
Jl Raya Panglima Sudirman 84 Probolinggo

• Bu Ali Warung
Jl KH M Mansyur, Mayangan, Mayangan Probolinggo

• Cairo Rumah Makan
Jl Brigjen Katamso 19 PROBOLINGGO

• Edi Bakso
Jl Soekarno Hatta 158, Pilang, Kademangan Probolinggo

• Empat Lima Depot
Jl Soekarno Hatta 11-A, Sukabumi, Mayangan Probolinggo

• Lumayan Depot
Jl Terminal PROBOLINGGO

• Madina Rumah Makan
Jl Soekarno Hatta 45, Curahginting, Mayangan Probolinggo

• Malang Rumah Makan
Jl Raya Panglima Sudirman 48, Kebonsari Kulon, Mayangan Probolinggo

• Panorama Restaurant
Jl Raya Lemah Kembar Km 6, Sumberasih Probolinggo

• Phonix Depot
Jl Soekarno Hatta 249 PROBOLINGGO

• Probolinggo Depot
Kompl Terminal Bus St 7, Triwing Lor, Kademangan Probolinggo

• Ramayana Depot
Jl Randu Putih 122 Probolinggo

• Sidodadi Restoran
Jl Dr Soetomo 90, Jember Lor, Patrang Probolinggo

• Sopongiro Depot
Jl Raya Dringu 36, Mangil, Kaliwates Probolinggo

• Stasiun Bakso
Jl KH Mas Mansyur, Mayangan, Mayangan Probolinggo

• Sulastri Depot
Jl Pahlawan 15, Tisnonegaran, Mayangan Probolinggo

• Sumber Hidup Restoran
Jl Dr Saleh 2, Pengantigan, Banyuwangi Probolinggo

• Sumber Hidup Rumah Makan
Jl Soekarno Hatta 20 Probolinggo

Transportasi
Wisata arung jeram Sungai Pekalen sendiri terletak di Desa Ranu Gedang, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Untuk menuju Probolinggo yang berada di jalur utama Surabaya-Banyuwangi, Anda dapat menempuh perjalanan dari Surabaya menggunakan bus sekitar 2,5 jam. Kota ini juga terdapat stasiun kereta api lintas timur Surabaya-Jember-Banyuwangi. Kereta api yang singgah di Probolinggo diantaranya adalah Mutiara Timur (Surabaya-Banyuwangi-Denpasar), Cantik Ekspress (Surabaya-Jember), Logawa (Purwokerto-Surabaya-Jemebr), dan Sri Tanjung (Yogyakarta-Surabaya-Banyuwangi).

Untuk menemukan lokasi pengelola arung jeram seperti Songa atau Noars tidaklah begitu sulit karena dari jalan raya Probolinggo Anda tinggal melihat papan petunjuk yang terletak di pinggir jalan. Dari jalan raya ini menempuh jarak sekitar 15 km. Kondisi jalannya tidak begitu bagus tapi layak dan memakan waktu sekitar 1 jam.

Anda dapat juga menyewa sebuah mobil untuk beberapa hari dengan harga yang dapat dinegosiasikan.

Tips
• Anda tentunya harus memiliki kondisi yang sehat dan fit saat mengikuti kegiatan arung jeram. Jika Anda merasa ragu dengan kemampuan mengikuti kegiatan arung jeram atau kesehatan tidak mendukung maka sebaiknya cek kesehatan terlebih dahulu sebelum mengikuti kegiatan ini.

• Sebelum memulai pengarungan maka akan diberikan instruksi apa yang harus dilakukan jika Anda terlempar keluar dari perahu dan bagaimana berusaha agar tetap aman. Ikuti semua instruksi pemandu dan jika Anda tetap terlempar keluar perahu maka berenang akan lebih mengasyikan dalam pengarungan Anda!

• Tidak dianjurkan untuk membawa video rekam atau kamera saat pengarungan. Karena akan mudah rusak bila terkena air, kecuali jika Anda memiliki kamera khusus untuk kegiatan outdoor yang anti air. Pengelola arung jeram biasanya menyiapkan tenaga photographer yang akan mengabadikan kegiatan pangarungan Anda, selanjutnya dapat dilihat atau dipesan setelah selesai pengarungan.

• Anda yang tidak dapat berenang tidak dianjurkan mengikuti kegiatan arung jeram pada sungai yang memiliki tingkat kesulitan class 4 atau class 5, cukuplah menikmati jeram dengan mengenakan pelampung pada sungai dengan tingkat kesulitan class 2 dan class 3.

• Untuk Anda yang berkacamata, disarankan untuk memberikan pengait tali pada kacamata agar tidak terlepas.

• Saat Anda menggunakan krim tabir surya (sunscreen) maka jangan gunakan di kening karena saat terkena air akan berbahaya bila terkena mata. Jangan juga menggunakannya pada kaki bagian belakang, hal ini dapat menyebabkan terpeleset.

• Tidak dianjurkan mengenakan sandal karena tidak memberikan proteksi bahkan sedikit menyulitkan bila dipakai berenang. Kenakanlah sepatu olahraga atau sepatu jogging, atau bila Anda memiliki sepatu khusus untuk kegiatan arung jeram akan lebih baik lagi.

• Dianjurkan pula untuk mengenakan pakaian dari bahan synthetic fleece, polypro, capilene atau wool pada bagian dalamnya. Jangan mengenakan pakaian dari bahan katun karena akan membuat Anda kedinginan saat basah.

• Saat cuaca panas dengan suhu air dingin disarankan mengenakan wet suit. Sementara saat cuaca dingin dan suhu air dingin pada sungai class 5 kenakan wet suit dikombinasi dengan jaket khusus. Apabila cuaca hangat dan suhu air yang tidak terlalu dingin sebaiknya kenakan pakaian olahraga dan t-shirt saja.

Informasi
Anda dapat mengunjungi website berikut ini yang merupakan salah satu operator arung jeram setempat.

• www.songarafting.com/

• www.noarsrafting.com/

Fahombo: Tradisi Lompat Batu di Pulau Nias

Dengan ancang-ancang lari yang tidak seberapa jauh, seorang pemuda Nias dengan tangkas berlari kencang lalu menginjak sebongkah batu untuk kemudian melenting ke udara melewati sebuah batu besar setinggi dua meteran menyerupai benteng. Puncak bantu tidak boleh tersentuh dan sebuah pendaratan yang sempurna harus dituntaskan karena apabila tidak maka resikonya akan cedera bahkan patah tulang.

Tradisi lompat batu di Pulau Nias, Sumatera Utara atau disebut sebagai hombo batu atau fahombo telah berlangsung selama berabad-abad. Tradisi ini lestari bersama budaya megalit di pulau seluas 5.625 km² yang dikelilingi Samudera Hindia dan berpenduduk 700.000 jiwa.

Tradisi fahombo diwariskan turun-termurun di setiap keluarga dari ayah kepada anak lelakinya. Akan tetapi, tidak semua pemuda Nias sanggup melakukannya meskipun sudah berlatih sedari kecil. Masyarakat Nias percaya bahwa selain latihan, ada unsur magis dari roh leluhur dimana seseorang dapat berhasil melompati batu dengan sempurna. Batu yang harus dilompati tingginya sekira 2 meter, berlebar 90 cm, dan panjangnya 60 cm.

Sedari 7 tahun anak lelaki di Pulau Nias berlatih melompati tali yang terus meninggi takarannya seiring usia mereka yang bertambah. Bila saatnya tiba maka mereka akan melompati tumpukan batu berbentuk seperti prisma terpotong setinggi 2 meter. Ini juga sekaligus  menjadi penakar keberanian dan kedewasaan mereka sebagai keturunan pejuang Nias.

Lompat batu di Pulau Nias awalnya merupakan tradisi yang lahir dari kebiasaan berperang antardesa suku-suku di Pulau Nias. Masyarakat Nias memiliki karakter keras dan kuat diwarisi dari budaya pejuang perang. Dahulu suku-suku di pulau ini sering berperang karena terprovokasi oleh rasa dendam, perbatasan tanah, atau masalah perbudakan. Masing-masing desa kemudian membentengi wilayahnya dengan batu atau bambu setinggi 2 meter. Oleh karena itu, tradisi lompat batu pun lahir dan dilakukan sebagai sebuah persiapan sebelum berperang.

Saat itu, desa-desa di Pulau Nias yang dipimpin para bangsawan dari strata balugu akan menentukan pantas tidaknya seorang pria Nias menjadi prajurit untuk berperang. Selain memilki fisik yang kuat, menguasai bela diri dan ilmu-ilmu hitam, mereka juga harus dapat melompati sebuah batu bersusun setinggi 2 meter tanpa menyentuh permukaannya sedikitpun sebagai tes akhir.

Kini tradisi lompat batu bukan untuk persiapan perang antarsuku atau antardesa tetapi sebagai ritual dan simbol budaya orang Nias. Pemuda Nias yang berhasil melakukan tradisi ini akan dianggap dewasa dan matang secara fisik sehingga dapat menikah. Kadang orang yang berhasil melakukan tradisi ini juga akan dianggap menjadi pembela desanya jika terjadi konflik.

Atraksi hombo batu tidak hanya memberikan kebanggaan bagi seorang pemuda Nias tetapi juga untuk keluarga mereka. Keluarga yang anaknya telah berhasil dalam hombo batu maka akan mengadakan pesta dengan menyembelih beberapa ekor ternak.

Anda dapat menikmati atraksi mengagumkan ini di beberapa tempat di Pulau Nias, seperti di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari) atau di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan. Saat menyambangi Pulau Nias jangan lewatkan juga untuk mengamati kemegahan warisan budayanya berupa arca peninggalan megalit, rumah tradisional, dan tentunya berselancar (surfing) atau menyelam (diving).

 

Sendratari Ramayana: Pementasan Epos India dalam Ragam Kesenian Jawa

Tak terbendung oleh waktu, kisah Ramayana yang ditulis Walmiki sudah dua puluh empat abad menjadi dongeng yang tak pernah membosankan untuk disimak. Kisah ini telah mengilhami para pujangga untuk menyalin serta menyadurnya dalam cerita yang terus memikat sepanjang zaman. Sejarah telah berbicara bahwa kisah Ramayana hingga kini terekam dalam bentuk pewayangan, lukisan, film, hingga pahatan di candi-candi nan megah. Kini saatnya Anda menyaksikan suguhan cerita epos ini dalam bentuk ragam kesenian Jawa yang dipentaskan di Yogyakarta, di Candi Prambanan, atau juga di Surakarta.

Inilah sebuah pementasan cantik dan megah yang menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama, dan musik dalam satu panggung. Menikmati pertunjukannya ibarat diajak pada visualisasi mengagumkan dari epos legendaris “Ramayana” karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Menikmati ceritanya dalam rangkaian gerak tari khas Jawa diiringi musik gamelan menjadi sebuah hal yang berkesan. Sendratari Ramayana Prambanan sudah ditonton tokoh nasional maupun internasional dari berbagai negara.

Untuk menikmati pementasan indah ini maka memahami ceritanya akan membawa Anda lebih menikmati penggalan babak demi babaknya. Di dalamnya tidak ada dialog yang terucap dari penarinya, hanya tembang lagu-lagu dalam bahasa Jawa yang terdengar dari sinden untuk menggambarkan jalannya cerita. Selain itu, ada pula atraksi permainan bola api dan kelincahan penari berakrobat dalam beberapa adegan yang menegangkan. Gerak penarinya sangat memukau dengan kelincahan sekaligus gemulai bak penari balet. Tata panggung dan cahaya yang indah juga akan melarutkan Anda pada suasana pementasan sendratari ini. Ceritanya yang menarik dan panjang tersebut dirangkum dalam empat babak, yaitu: penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Rahwana, dan pertemuan kembali antara Rama dan Sinta. 

Perlu diketahui bahwa kisah Ramayana sendiri terpahat pada Candi Prambanan yang bercorak Hindu mirip dengan cerita aslinya dalam tradisi lisan di India. Ramayana berasal dari kata ‘rama’dan ‘ayana’ yang artinya ‘Perjalanan Rama’, yaitu cerita epos dari India yang digubah oleh Walmiki (Valmiki). Ramayana telah dikenal sebagai cerita Hindu terkenal di dunia selain Mahabharata. Di Nusantara terutama di Pulau Jawa dan Bali, kisah Ramayana mengalami gubahan dalam khazanah sastra Jawa dengan bahasa Jawa Baru. Wiracarita Ramayana telah diangkat ke dalam budaya pewayangan, lukisan, maupun pahatan di beberapa negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, dan Filipina.

Sendratari Ramayana sudah dipentaskan selama 51 tahun sejak 28 Juli 1961.  Digagas oleh Letjen TNI (purn) GPH Djati Kusumo dengan mementaskannya di panggung terbuka sebelah selatan Candi Prambanan. Saat itu tujuannya memang untuk menjadi sebuah daya tarik bagi wisatawan dan Presiden Soekarno sendiri sangat ingin membawa Ramayana Prambanan sebagai langkah dari seni budaya Indonesia yang pentas ke dunia. Dari waktu ke waktu pementasan kolosal ini terus diimprovisasi dan diperlengkapi lebih megah. Pada masa Presiden Soeharto, tepatnya tahun 1989 diresmikan panggung utama di Candi Prambanan untuk pementasannya dengan dilatari keindahan candi tercantik di Indonesia tersebut.

Hingga saat ini Sendratari Ramayana Prambanan telah meraih berabgai penghargaan dan terakhir tahun 2012 mendapatkan penghargaan Pacific Asia Travel Association (PATA) Gold Awards mengalahkan 180 konstestan dari 79 negara untuk kategori “Heritage”. Sebelumnya untuk kategori yang sama diperoleh tahun 1994 dan 2011. Hal ini membuktikan bahwa keinginan Presiden Soekarno untuk membawa salah satu budaya Indonesia pada kancah yang lebih tinggi telah terwujud, bahkan menjadi yang terbaik.

Apabila Anda ingin menyaksikan pementasan Sendratari Ramayana maka ada di dua tempat utama saat ini, yaitu di Yogyakartadan di Candi prambanan. Pertama, di Yogyakarta digelar di Purawisata Yogyakarta, di Jalan Brigjen Katamso, sebelah timur Kraton Yogyakarta. Di tempat tersebut sendratari ini telah pentas setiap hari tanpa pernah absen selama 25 tahun. Tempat kedua, tentunya di Candi Prambananyang berdiam cerita Ramayana terpahat pada relief candinya. Anda dapat memperoleh informasi jadwal dan tiket di Candi Prambanan dengan mengunjungi laman: http://www.borobudurpark.com/.

Pilihan lain yang cukup menggembirakan adalah Sendratari Ramayana juga dipentaskan di Kota Solo, tepatnya di Taman Balekambang, Surakarta. Di tempat ini pementasan berlangsung setiap malam bulan purnama dibawakan oleh kelompok Wayang Orang Sriwedari. Hingga artikel ini ditulis, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta menggelar pementasan ini untuk umum dan gratis. Tentunya juga bertujuan untuk menarik minat wisatawan agar datang ke Surakarta.

Kisah epik Ramayana yang ditulis dua puluh empat abad yang lalu itu senantiasa memberikan pesan dan hikmah meski diejawantahkan dalam banyak versi kesenian dan pertunjukan. Nilai pelajaran yang terpenting adalah bentuk keteladanan tokoh utama (Rama, Sita, Maniken dan Satya) yang bisa dijadikan cermin dalam menjalani hidup ini. Tokoh tersebut memberikan gambaran sifat-sifat seorang raja, kesatria, saudara, dan istri yang baik.

Tari Caci: Tarian Perang Khas Manggarai

Seorang petarung caci berputar-putar dan berjingkrak seperti kuda jantan mengelilingi sekelompok musuhnya. Kulit hitam di bawah sengatan sinar mentari menutupi otot-otot kering yang mencengkeram sebuah pecut kayu berujung kulit kerbau yang suaranya dapat mengoyak suasana riuh rendah. Setelah saling memanaskan besutan adrenalin, seorang paki, penyerang yang memegang pecut, bersiap dengan kuda-kudanya mengayunkan sabetannya ke arah seorang ta’ang, yaitu penangkis yang diam bagai pasak. Ta’ang siap menangkis dengan sebongkah nggiling yaitu tameng kulit kerbau di tangan kiri dan tereng yaitu kayu penangkis di tangan kanan.

Tari tradisional adalah salah satu dari sejumlah kekayaan budaya bangsa Indonesia yang multikultural. Setiap daerah memiliki jenis dan ragam tarian sendiri yang tentunya unik dan menarik bagi wisatawan. Tari caci salah satunya, yaitu atraksi tarian perang khas Manggarai, di Nusa Tenggara Timur yang menyiratkan simbol dan makna kepahlawanan serta keperkasaan. Tarian ini melibatkan dua orang laki-laki yang masing-masing bertindak sebagai penyerang dan sebagai pihak yang bertahan (penangkis serangan). Penari Caci yang saling unjuk kebolehan tersebut biasanya berasal dari dua kelompok, masing-masing terdiri dari delapan orang yang secara bergantian bertukar posisi sebagai kelompok penyerang dan bertahan. Setiap penari akan mendapat kesempatan berhadapan dengan anggota kelompok lawan, baik sebagai penyerang atau penangkis serangan.

Para penari caci semuanya adalah laki-laki tetapi tidak semua lelaki dapat unjuk kebolehan dan keterampilan di arena caci. Terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi diantaranya adalah tubuh atletis adalah salah satu syarat yang harus dimiliki seorang penari caci. Syarat lainnya, penari harus pandai pula menyerang lawan dan atau bertahan dari serangan lawan, luwes dalam melakukan gerak tari, serta dapat menyanyikan lagu daerah. Hal-hal tersebut yang akan mereka lakukan selama pertunjukkan yang diringi musik gendang, gong, dan nyanyian.

Pakaian penarinya yang khas sudah menjadi daya tarik sendiri. Penari perang tersebut mengenakan celana panjang berwarna putih dipadu dengan kain songke (sejenis songket khas Manggarai) yang dikenakan di sebatas pinggang hingga lutut. Tubuh bagian atas dibiarkan telanjang sebab tubuh tersebut adalah sasaran bagi serangan lawan. Pada bagian kepala, para penari mengenakan topeng (panggal) berbentuk seperti tanduk kerbau dan terbuat dari kulit kerbau yang keras serta dihiasi kain warna-warni. Panggal akan menutupi sebagian muka yang sebelumnya sudah dibalut dengan handuk atau destar sebagai pelindung.

Bersiaplah mendengar deru suara tandak atau danding menggaung saat pecut menghantam lawan. Bagai suara senapan menggelegar, tameng beradu dengan ujung pecut terbuat dari kulit kerbau. Seutas lidi yang dipasang di ujung pecut atau mbete luput dari tameng ataupun tereng. Luka menggurat mengucurkan darah. Sorak penonton menggema, memahami makna tetesan darah sebagai persembahan untuk kesuburan dan lambang kejantanan.

Tak sama seperti beberapa bela diri lain, dalam Caci boleh menyerang bagian tubuh dari perut hingga kepala tetapi tidak bagian perut ke bawah. Acap kali mengenai mata pun sudah menjadi hal lumrah. Sebelum Caci dilangsungkan, sebuah pemanjatan nyanyian bernama kelong dialunkan sebagai panggilan kepada arwah para leluhur. Saat kelong dilantunkan, dan tandak atau danding mengikuti, maka Caci harus dilaksanakan. Tidak ada kelong tanpa Caci dan sebaliknya.

Para penari biasanya juga mengenakan hiasan mirip ekor kuda terbuat dari bulu ekor kuda (lalong denki). Pada bagian sisi pinggang terpasang sapu tangan warna-warni yang digunakan untuk menari setelah atau sebelum dipukul lawan. Terdapat pula untaian pada pinggang belakang yang akan bergemirincing mengikuti gerak penari sekaligus penambah semarak musik gendang dan gong serta nyanyian (nenggo atau dere) pengiring tarian.

Para penari tersebut nampak gagah mengenakan pakaian tersebut ditambah lagi dengan postur tubuh yang atletis. Penampilan mereka sebagai penari perang semakin meyakinkan dengan atribut senjata. Penari yang berperan sebagai penyerang (paki) dipersenjatai dengan cambuk yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi yang dikeringkan. Pegangan cambuk juga terbuat dari lilitan kulit kerbau. Pada bagian ujung cambuk, biasanya dipasang kulit kerbau tipis yang sudah dikeringingkan (lempa) atau dapat juga menggunakan lidi enau yang masih hijau (pori).

Sementara itu, penari yang berperan sebagai penangkis serangan (ta’ang) dibekali perisai (nggiling) yang juga terbuat dari kulit kerbau yang dikeringkan dan berbentuk bundar. Selain itu, ia juga memegang sejenis busur (agang atau tereng) yang terbuat dari bambu dan rotan yang berjalin dan dibentuk melengkung serupa busur.

Sebelum tarian seru ini dimulai, pertunjukan tari caci akan diawali terlebih dahulu dengan pentas tari danding atau tandak manggarai. Tarian ini dibawakan laki-laki dan perempuan yang  memang khusus dipertunjukkan sebagai atraksi untuk meramaikan tari caci. Selain melakukan gerak tari, para penari danding juga akan melantunkan lagu dengan lirik untuk membangkitkan semangat para petarung Caci. Para penari Caci sebelum memasuki arena yang biasanya di lapangan berumput, akan terlebih dahulu melakukan  gerakan pemanasan dengan menggerakkan badannya serupa gerakan kuda. Saat menantang lawan, biasanya dilakukan sambil menyanyikan lagu-lagu adat.

Pihak penyerang akan menyerang dan mencambuk tubuh lawan, terutama bagian lengan, punggung, dan dada. Tugas pihak lawan adalah menangkis atau menghindari serangan tersebut dengan perisai dan busur yang ia pegang di masing-masing tangan. Apabila kurang lincah mengelak maka dipastikan cambuk akan menyisakan bekas di tubuh hingga berdarah. Apabila pihak yang bertahan terkena cambuk pada matanya maka ia dinyatakan kalah (beke) dan kedua penari harus keluar arena dan digantikan oleh sepasang penari lainnya.

Pedih terlihat samar di mata seorang ta’ang tapi tak boleh di antara ta’ang dan paki tercipta permusuhan, bahkan amarah sekalipun. Caci adalah sebuah permainan yang menjunjung tinggi sportifitas dan merayakan sebuah rasa kasih sayang dari kakak kepada adik. Sungguh tak lumrah, tapi legenda di balik permainan dan tarian ini akan menjadi sebuah pemahaman.

Bekas luka dari atraksi tari tersebut bagaimana pun juga dianggap sebagai kebanggaan karena merupakan lambang maskulinitas. Kabarnya Caci merupakan medium pembuktian ketangkasan seorang laki-laki Manggarai sekaligus sebagai ajang menempa diri dengan semangat sportivitas. Dalam mempertunjukkan tarian ini, para penari saling menghormati satu sama lain dengan menjaga ucapan, emosi, sportifitas, dan rasa hormat. Selesai pertunjukkan, tidak ada dendam di antara para penari karena inilah salah satu seni kebanggaan masyarakat Manggarai di Flores bagian barat. Sebuah pertunjukkan yang unik dimana uji ketangkasan dipadukan dengan seni berupa gerak tari dan lagu daerah khas Manggarai.

Caci sendiri berasal dari dua kata yaitu ca yang berarti satu dan ci yang artinya uji. Jadi makna dari caci adalah uji ketangkasan satu lawan satu. Tarian ini memiliki kisah asal mula, yaitu dahulu kala, dua orang kakak beradik berjalan melewati hutan padang rumput dengan seekor kerbau yang mereka pelihara. Si adik diceritakan terjerumus dalam sebuah lubang dalam sehingga sang kakak panik mencari apapun untuk menarik adiknya. Tak satu pun dapat membantu upayanya, kecuali ia harus menyembelih kerbaunya dan menggunakan kulitnya untuk menarik sang adik. Itu pun akhirnya ia lakukan dan si adik terselamatkan. Untuk merayakannya, mereka menciptakan permainan Caci untuk memperingati rasa kasih sayang di antara keduanya.

Seorang petarung Caci mengenakan pangga, sebuah asesoris kepala dan bukan pelindung wajah. Bentuknya seperti kepala kerbau bertanduk tiga. Di ujung tanduknya dihiasi bulu ekor kuda. Hal ini mengingatkan dua orang kakak beradik dalam legenda. Tubuh petarung tak dilindungi seutas kain pun. Celana putih bersih dikenakan dibalik sarung songket yang terkenal dari Flores atau Sumba. Ekor kuda pun dipasang dibelakang songket yang menjadikan seorang petarung Caci seperti layaknya seekor kuda atau kerbau yang gagah dan berjiwa satria.

Tari Caci biasanya hanya dipentaskan pada acara-acara khusus, yaitu hari-hari besar seperti HUT Kemerdekaan RI atau acara-acara adat diantaranya syukuran musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan lahan baru, upacara menyambut tamu, dan sebagainya. Saat diadakan pertunjukkan caci, biasanya pesta besar pun dilangsungkan dengan memotong beberapa ekor kerbau kemudian disajikan sebagai makanan bagi para peserta dan  penonton. Biasanya, dua kelompok tari caci merupakan kelompok laki-laki dari dua desa atau kampung.

Caci dapat juga Anda saksikan setiap bulan-bulan panen antara Juli dan Oktober di desa-desa sekitar Manggarai, Flores bagian barat. Salah satu desa dengan Caci yang mengesankan ialah Wolomboro. Langitnya yang biru bersih di siang hari saat menghadiri Caci digelar adalah pemandangan dan pengalaman yang tak berbanding.

Mie Aceh: Hanyut dalam Cita Rasa Kaya Rempah

 

Jika melancong ke Aceh belum lengkap bila lidah Anda belum mencicipi nikmatnya mie aceh. Kuliner ikonik Tanah Rencong ini kelezatannya sudah tersohor ke berbagai daerah di Indonesia dengan ciri pedas ditaburi bawang goreng dan disajikan bersama emping, potongan bawang merah, mentimun, dan jeruk nipis.

Perbedaan utama mie aceh dari hidangan mie dari daerah lain terletak pada racikan bumbu yang lebih tajam dan kaya rempah. Komposisi utama dari bumbu halus pada kuliner ini adalah berupa cabai merah, kunyit, jintan, kapulaga, merica dan bawang putih. Selain itu, berbeda dengan umumnya mie goreng atau rebus dari tanah Jawa, mie aceh (jenis yang digoreng) tidak menggunakan telur dan sebagai gantinya bumbu halus ditumis bersama bahan pelengkap sesuai pesanan.

Rasa khas mie aceh didapat dari tekstur mie kuning yang lembut dan kenyal dimana biasanya itu diproduksi sendiri dengan tidak menggunakan bahan pengawet. Mie aceh dilengkapi dengan irisan daging sapi atau kambing atau makanan laut (seafood). Saat selesai diolah, mie aceh biasanya akan diangkat ke atas piring untuk diberikan perasan jeruk nipis sehingga menambahkan rasa asam yang segar. Tidak lupa taburan irisan bawang goreng, acar bawang merah, emping melinjo dan irisan mentimun sebagai pelengkap sajian ini.

Ada beberapa jenis mie aceh, yaitu mie aceh kuah (direbus), mie aceh tumis (mie aceh basah) yang dimasak dengan sedikit kuah, dan mie aceh goreng yang dimasak kering tanpa kuah. Ketiganya sangat enak disantap saat masih hangat dan meski ada di berbagai kota di Tanah Air namun tentu tidak ada salahnya jika menikmati kuliner ini langsung di daerah asalnya.

Bagian terpenting dari mie aceh adalah bumbunya yang terdiri dari bumbu kari, cabai, bawang putih, kemiri yang dominan; kacang, tomat, dan sayuran. Melengkapinya berupa taoge dan kol, serta bahan lainnya yang dicampur air kaldu sapi. Olahan bumbu tersebut menghasilkan rasa gurih dan pedas yang khas.

Tidak ada yang tahu pasti asal usul makanan khas Aceh ini. Ada yang pendapat mie aceh merupakan pengaruh dari Tiongkok yang datang pada abad ke-13 Masehi, sedangkan kuah karinya merupakan pengaruh dari masakan India. Pendapat lain pun mengatakan variasi isi berupa daging sapi atau kambing pengaruh dari masakan Timur Tengah. Sedangkan makanan laut seperti udang, cumi, atau kepiting ada karena pengaruh letak geografis Aceh yang dikelilingi Selat Malaka, Laut Andaman, dan Samudera Hindia.

Dilihat dari asal usul yang beredar, tidak mengherankan makanan ini sangatlah kaya rasa. Sehingga kelezatan mie aceh sangat disukai bahkan dari perantau Aceh yang datang dari jauh. Dahulu mie aceh belum terlalu popular sampai ketika bencana Tsunami terjadi, mie aceh akhirnya dikenal luas karena kalangan pendatang khususnya relawan asing yang datang ke Aceh selepas tragedi Tsunami.

Anda dapat menemukan mie aceh di warung-warung makan yang dalam pengolahannya masih tradisional untuk menjaga cita rasa. Perbedaannya terletak pada olahan bahan dasar mie dan bumbunya. Dengan harga cukup terjangkau Rp15.000,- sampai dengan Rp18.000,- per porsi Anda sudah dapat menikmati sajian lezat mie letza ini. Selepas menikmati mie aceh, jangan lupa memesan segelas es timun serut untuk menjadi teman sepadan meredakan rasa pedas di lidah Anda.

Berikut daftar warung mie aceh yang bisa Anda kunjungi di Banda Aceh.

Warung Mie Razali di Jalan Panglima Polem Banda Aceh.

Warung ini hanya menjual mie aceh dari tahun 1963 dengan berbagai minuman jus dan minuman ringan lainnya. Mie Razali juga membuka cabang di Jalan Soekarno-Hatta, Lampeuneurut, Aceh Besar.

Warung Mie Lhoknga di Desa Lhok Nga, Aceh Besar.

Warung Mie Bireuen di Simpang Tujuh, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Pusat jajanan Rex Peunayong di Jalan Ratu Safiatuddin, Banda Aceh.

Pusat jajanan yang menjual berbagai macam makanan. Selain mie Aceh juga ada nasi goreng, kerang rebus, sate matang, martabak telur, dan aneka minuman.

Warung Mie Kajhu di Jalan Banda Aceh, Krueng Raya, Kajhu Aceh Besar.

Selain menjual mie Aceh, warung ini juga menjual rujak Aceh.

Kopi Aceh: Menikmati Keharuman dan Kenikmatan Kopi yang Khas

Meneguk nikmat dan harumnya secangkir kopi panas khas Aceh adalah suatu keharusan yang tidak boleh dilewatkan ketika Anda berkunjung ke sana. Kopi Aceh sangat spesial rasanya karena Anda tidak akan menemukan kopi senikmat ini di daerah manapun di Indonesia. Para barista di sini tidak pernah pergi ke pelatihan khusus untuk belajar cara menyajikan secangkir kopi yang tidak saja nikmat melain juga lebih harum dengan efek rasa yang begitu kuatnya. Anda harus mencobanya langsung di sana!

Minum kopi merupakan tradisi dan kebiasaan sehari-hari yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam kehidupan masyarakat Aceh. Aceh telah digenapi sebagai rumahnya kopi di Indonesia, coba tengok dari Takengon di Aceh Tengah telah dihiasi oleh perkebunan dan pabrik kopi, sementara dari Lamno di Aceh Barat menjadi produsen kopi terbaik di Indonesia. Dari Takengon dan Lamno yang menjadi hulu kopi kemudian di-hilirisasi ke meja di banyak kedai kopi di berbagai sudut Kota Banda Aceh.

Terkenal dengan biji kopi Arabikanya, Aceh memberikan kontribusi sebesar 40% dari produksi kopi Indonesia. Teknik membuat secangkir kopi di kedai kopi di Aceh tidak ada duanya. Cara penyajian kopi di Aceh diseduh melalui beberapa penyaringan sampai pada kekentalan yang diinginkan sehingga membuat kopi lebih harum, nikmat dan memiliki efek rasa yang kuat.

Saat ini di Aceh banyak warung kopi tersebar di Banda Aceh dan di kota lainnya, seperti Lhokseumawe dan Takengon. Bahkan banyak yang menyebut Aceh sebagai Negeri Seribu Warung Kopi. Kebiasaan minum kopi di Banda Aceh dan sekitarnya sudah mengakar di kalangan masyarakat sejak masa Kesultanan Aceh.

Warung kopi tradisional di Aceh membuat minuman kopi yang direbus lalu menggunakan saringan saat hendak disajikan. Fasilitasnya tak lebih dari meja dan kursi. Warung kopi tradisional digolongkan sebagai generasi pertama. Generasi kedua adalah warung kopi yang dikembangkan dengan waralaba. Generasi ketiga adalah warung kopi yang memberi fasilitas tak hanya minuman dan makanan, tetapi juga musik, televisi satelit, dan akses internet.

Di Banda Aceh banyak bertebaran warung kopi bahkan banyak yang menyebut Aceh sebagai Negeri Seribu Warung Kopi. Kebiasaan minum kopi di Banda Aceh dan sekitarnya sudah mengakar di masyarakat terutama dari fakta sejarah mengenai komunikasi yang intens antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Ottoman di Turki.

Warung kopi tradisional di Aceh awalnya adalah minuman kopi yang direbus lalu menggunakan saringan saat hendak disajikan. Fasilitasnya tak lebih dari meja dan kursi. Warung kopi tradisional digolongkan sebagai generasi pertama. Generasi kedua adalah warung kopi yang dikembangkan dengan waralaba. Generasi ketiga adalah warung kopi yang memberi fasilitas tak hanya minuman dan makanan, tetapi juga musik, televisi satelit, dan akses internet.

Berikut ini beberapa tempat untuk Anda mencicipi kenikmatan kopi Tanah Rencong yang telah banyak dikunjungi masyarakat Banda Aceh atau dari kota lain di Indonesia, bahkan juga dari luar negeri.

Dhapu Kupi di Simpang Surabaya, Banda Aceh tidak jauh dari Mesjid Baiturrahman dan Bandara Iskandar Muda. Pemandangan kota Banda Aceh yang semakin rapih dan cantik dari lantai atasnya sungguh spektakuler.

Warkop Solong di Ulee Kareng, Lampenurut, dan di beberapa tempat lainnya di Banda Aceh  karena cabagnnya yang semakin menyebar. Warung Kopi ini memiliki konsumen yang menyukai kopi yang sedikit lebih kuat aromanya dari kopi biasa.

Ring Road Coffee di stasiun bus Banda Aceh yang paling meriah dari semua yang ada karena di sini para pemuda sering duduk minum kopi sambil melihat pertandingan sepak bola.

Tower Kopi di depan Taman Sari Banda Aceh dan hanya 100 meter dari Mesjid Baiturrahman adalah tempat berkumpulnya masyarakat kota untuk duduk di luar ruang dan menghadap meja dengan kehangatan kopi kuat Aceh yang harum.

Coffee Bay yang terletak di Ule Lheue kea rah pelabuhan sangat populer bagi para pelancong yang menginginkan rasa kopi Aceh sebelum menyebrang ke Pulau Weh.

Suku Bajo: Kisah Manusia Perahu Di Negeri Bahari

Suku Bajo yang mendapat sebutan sea nomads atau manusia perahu karena sejak zaman dahulu mereka adalah petualang laut sejati yang hidup sepenuhnya di atas perahu sederhana. Mereka berlayar berpindah-pindah dari wilayah perairan yang satu dan lainnya. Perahu adalah rumah sekaligus sarana mereka mencari ikan di luas lautan yang ibaratnya adalah ladang bagi mereka. Ikan-ikan yang mereka tangkap akan dijual kepada penduduk di sekitar pesisir pantai atau pulau. Inilah asal mula mereka disebut sebagai manusia perahu atau sea nomads. Kini mereka banyak bermukim di pulau-pulau sekitar Pulau Sulawesi, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Persebaran suku Bajo di beberapa daerah di Nusantara tentunya terjadi karena cara hidup mereka yang berpindah-pindah dan berlayar dengan perahu.

Pancang-pancang terbuat dari kayu menjadi semacam pondasi yang memisahkan dan menjaga rumah-rumah mereka dari terjangan air laut saat pasang. Beratapkan rumbia, berdinding kayu dengan luas yang tidak seberapa, rumah-rumah tersebut biasanya dihuni satu keluarga bahkan lebih. Nampak pula perahu-perahu kayu sederhana terparkir di sekitaran pelataran rumah yang halamannya adalah air laut.

Di berbagai tempat di negeri ini saya temui mereka. Di Wakatobi, Togean, Gorontalo Bunaken, Derawan, Madura, hingga ke Pulau Komodo dan Riung 17 di Flores. Mereka adalah suku yang tinggal di berbagai pulau kecil dengan deretan rumah apung di atas permukaan laut dangkal sekitar kepulauan tersebut. Meski kini sudah banyak diantara mereka hidup menetap di rumah-rumah sederhana tetapi tetap tidak terpisahkan dari laut. Kemungkinan besar karena alasan inilah mereka membangun rumah di tepian pantai atau di atas permukaan laut yang dangkal.

Mata pencaharian utama suku Bajo adalah mencari ikan dengan cara tradisional, seperti memancing, memanah, dan menjaring ikan. Ikan-ikan tersebut dijual kepada penduduk sekitar pesisir atau pulau terdekat. Kehidupan Suku Bajo memang masih terbilang sederhana. Mendirikan pemukiman tetap pun mungkin tak terpikir oleh mereka apabila tidak dihimbau oleh Pemerintah setempat. Dengan membangun rumah dan pemukiman di sekitar pulau, akses terhadap pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak suku ini diharapkan lebih terjamin.

Meskipun begitu, kepala keluarga biasanya tetap menghabiskan sebagian besar waktunya di laut lepas, mengingat laut adalah ladang mata pencaharian mereka. Ibu rumah tangga suku Bajo selain mengurus rumah tangga juga membantu suami dengan cara mengolah hasil tangkapan ikan atau menenun. Saat melintasi perkampungan yang sederhana ini nampak hamparan ikan hasil tangkapan yang dijemur di sekitar rumah.

Beberapa suku Bajo bahkan sudah mengenal teknik budidaya produk laut tertentu, misalnya lobster, ikan kerapu, udang, dan lain sebagainya. Mereka menyebut tempat budidaya sebagai tambak terapung yang biasanya terletak tak jauh dari pemukiman. Sebagian kecil masyarakat suku Bajo bahkan sudah membuat rumah permanen dengan menggunakan semen dan berjendela kaca. Anak-anak Suku Bajo juga sudah banyak yang bersekolah, bahkan ada yang sampai perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran mereka tentang pentingnya pendidikan sudah mulai terbangun.

Selain hidup di sekitar Taman Nasional Kepulauan Togean, masyarakat suku Bajo tersebar di hampir setiap provinsi di Pulau Sulawesi. Di Sulawesi Selatan, pemukiman suku Bajo terpusat di Kelurahan Bajoe, Kabupaten Bone. Orang Bajodi wilayah ini tinggal di kawasan sepanjang pesisir teluk Bone sejak ratusan tahun silam.

Suku bajo tersebar di banyak tempat di Nusantara bahkan hingga ke negara tetangga termasuk Malaysia, Filipina dan Thailand. Satu kesamaan darinya adalah di tempat berbeda tersebut mereka menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa ibu suku Bajoe. Dari segi bahasa yang digunakan suku Bajo saat ini pun ada kesamaan dengan bahasa Tagalog, Filipina.

Di Sulawesi Tengah, masyarakat Suku Bajo menempati Pulau Siatu, Pulau Bomba, Pulau Kuling Kenari, Pulau Tumbu Lawa, dan lainnya. Di Gorontalo, Suku Bajo bermukim di sepanjang pesisir Teluk Tomini, yaitu di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato dan di Tanjung Bajoe, Kabupaten Bualemo.

Inilah salah satu suku di negeri ini yang menjadi favorit saya. Mereka memiliki ketangguhan dan kedekatan dengan alam yang luar biasa. Dengan sejarah yang panjang sebagai pengarung lautan, anak-anak mereka sedari kecil berteman dan bermain dengan laut, mereka hidup dan dihidupi lingkungan laut. Meresap dan melekat keseharian mereka tentang tradisi serta kearifan lokal mengelola ekosistem laut.

Di Sulawesi Tenggara, dapat Anda temui juga suku Bajo berdiam di pesisir Konawe dan Kolaka. Bahkan suku Bajo di Desa Bangko, Kecamatan Baginti, Pulau Muna, sudah ada sejak abad ke-16. Tersebar juga hunian suku Bajo di Pulau Kabaena, Pulau Wolio, Pulau Buton, Kepulauan Wakatobi (Kaledupa, Binongko, Kapotta dan Tomea).

Suku Bajo juga menetap di Nusa Tenggara Timur, dari Kabupaten Manggarai Barat hingga Flores Timur. Salah satu nama kota sebagai tempat singgah ke Taman Nasional Komodo bernama Labuhan Bajodan itu diambil dari nama suku Bajoe.

Orang Bajo juga banyak dijumpai di kawasan sekitar Pulau Komodo dan Rinca. Pemukiman suku Bajo bahkan sampai di Lembata yakni di wilayah Balauring, Wairiang, Waijarang, Lalaba dan Lewoleba. Jauh ke arah timur hingga Timor Barat mereka ada yang menetap di Pulau Adonara (Meko, Sagu dan Waiwerang), Pulau Solor, Alor, dan Timor. Mereka bermukim disana sejak ratusan tahun silam dan hidup rukun dengan penduduk setempat.

Di kawasan Nusa Tenggara Barat, suku Bajo membangun pemukiman di Pulau Medang. Suku Bajo juga bermukim di Pulau Lombok, menghuni sebuah kampung di Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur. Sedangkan di Pulau Sumbawa, mereka dapat dijumpai di Pulau Moyo dan sekitarnya serta kawasan Bima di timur Sumbawa.

Di Pulau Madura, Jawa Timur, tepatnya di Kepulauan Kangean, Sumenep berdiam juga suku Bajoe. Ada pula di Pulau Sapeken, Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, Paliat, dan pulau-pulau sekitarnya. Mereka tinggal bersama dengan suku Madura dan Bugis.

Sekarang, seiiring meningkatnya jumlah suku Bajo yang mendirikan rumah di tepian pantai dan mulai menetap, dikabarkan bahwa jumlah suku Bajo yang menggantungkan hidupnya di perahu-perahu kayu sudah mulai berkurang. Meski demikian, mereka tetap tidak terpisahkan dari laut. Keberadaan mereka telah mengundang banyak kalangan untuk mengenal lebih jauh asal usul, pola hidup, adat, seni, dan budaya tradisional suku penghuni lautan di negeri bahari ini.

Ngada: Bersentuhan dengan Tradisi Leluhur dari Zaman Batu

Jauh di tepian timur Pulau Flores, di sebelah barat Maumere, Kabupaten Sikka, tersebutlah Kabupaten Ngada dengan desa-desa tradisionalnya yang memukau. Anda perlu merasakan sentuhan langsung budaya warisan zaman batu Austronesia dengan segala keunikannya yang jarang terungkap dalam buku atau televisi. Kunjungan ke desa tradisonal ini akan menjadi pelengkap sempurna petualangan Anda di NTT, bisa juga dari atau ke Taman Nasional Komodo yang terkenal itu.

Mengunjungi Ngada bukanlah hal yang sulit karena jalan di Flores tak begitu rumit seperti di Pulau Jawa atau Sumatera. Ngada bersebelahan dengan Sikka dan Ende sehingga tak sulit mencapainya. Para petualang sering melalui jalan-jalan ke Bajawa. Angkot dan ojek selalu menjadi pilihan populer bagi para petualang. Alternatif lain Anda dapat menyewa kendaraan di Maumere atau di Labuan Bajo.

Ngada telah memperlihatkan toleransi terhadap pengaruh luar. Sentuhan modernisasi sudah menjadi hal biasa di ibukotanya yaitu Bajawa. Infrastruktur, fasilitas umum, dan beragam bangunan tidaklah jauh berbeda dengan kota lain di Flores yang sedang berkembang menuju abad ke-22. Akan tetapi, hanya belasan kilometer dari Bajawa, sebuah desa seolah tak pernah melalui abad 20, bahkan abad 19, desa tersebut masih terus mempertahankan kesederhanaannya dengan tradisi kuno yang dihidupkan dengan kuat.

Jadikan hari Anda di Desa Bena atau Desa Lupa sebagai hari yang menyenangkan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Cobalah memakan sirih yang merupakan kegiatan mengasyikan para ibu di sana. Lihat bagaimana mereka melalui hidup dalam kesehariannya. Hargai kepercayaan dan tradisi mereka maka suatu waktu Anda sendiri akan bersyukur betapa hidup ini begitu berharga dan bermakna.

Di Desa Bena atau Desa Lupa akan Anda dapati batu-batu seperti taring babi hutan atau raksasa menengadah ke langit bersandar rapi di tepi altar yang juga terbuat dari batu. Konon persembahan bagi para dewa dulunya dilakukan di atasnya. Penataan lahan dan lanskap arsitektur yang penuh bebatuan tersebut menandakan budaya zaman megalitik masih tersisa dan bertahan di sini. Masih dalam kawasan yang sama, rumah panggung beratap rumbia berjajar saling berhadapan membawa Anda pada nuansa masyarakat tradisional sesungguhnya.

Desa Bena lokasinya tak jauh dari Bajawa sekitar 12 kilometer saja tetapi dalam perhitungan waktu, desa ini memiliki kehidupan seolah di abad ke-17 atau 18. Perjalanan ke Desa Bena tak begitu mudah karena kondisi jalan yang belum laik (baca: pantas; layak), sehingga waktu yang diperlukan dapat mencapai 1 jam. Namun demikian, sebaiknya tetap diingat bahwa kecepatan bukanlah hal terpenting dalam berpetualang. Apa yang akan Anda dapatkan, lihat, rasakan, dan dengar adalah hal penting sehingga kecepatan rata-rata 12 km/jam tentulah bukan masalah.

Anggota masyarakat di Desa Bena merupakan anggota klan tertentu yang diwakili oleh setiap rumah yang berdiri di dalamnya. Rumah di Bena dibagi dalam tiga area, yakni area tamu, area tidur, dan area bekerja. Sementara para pria bekerja di ladang maka para ibu bekerja di serambi sambil menenun kain ikat dengan warna-warni sungguh menawan. Anda dapat melihat cara pembuatan tradisionalnya atau mengapa tidak membelinya langsung.

Di dalam sistem kemasyarakatan Bena dan umumnya di desa-desa tradisional di Ngada, sistem matrilineal adalah tatanan yang dipertahankan hingga kini. Garis keturunan dari ibu memegang peranan penting terutama perihal waris dan gelar. Akan tetapi, nyatanya kepemimpinan tidak menjadi harus matriarki karena masyarakat tradisional di Ngada lentur dengan kepemimpinan para pria.

Pusatkan perhatian Anda ke tengah pelataran di Bena untuk melihat lambang-lambang kepercayaan kuno. Termasuk juga tumpukan batu yang merupakan kuburan para leluhur, seolah dibuatkan rumah oleh para penduduk desanya. Tempat yang dianggap keramat oleh masyarakatnya ini selalunya dalam keadaan rapih dan bersih. Patutlah Anda kiranya turut menghormati dan bertoleransi.

Walau masih memegang kepercayaan kepada para leluhur, masyarakat Bena sudah banyak yang memeluk Katolik. Nampak poster dan tanda-tanda di atas batu bernuansakan Katolik. Menariknya, mereka pun percaya bahwa ada dewa pria atau dewa langit, serta dewa wanita atau dewa bumi. Keduanya berjalan seiring dalam kehidupan masyarakat ini. Hal tersebut tercermin dari aktifnya kegiatan gereja dan juga tumpukan tulang rahang babi dan juga tanduk-tanduk kerbau yang disusun di depan rumah para penduduk desa yang dianggap lebih makmur dan berpengaruh. Itu juga sebagai simbol penting dalam kemasyarakatan.

Bila ingin melihat desa lain maka Anda bisa mencoba mengunjungi Desa Lupa yang sering didatangi wisatawan asing. Karena berkendaraan terkadang dianggap sebagai hal yang membosankan maka banyak wisatawan yang memilih pulang dari Bena dengan cara berjalan kaki sehingga dapat mampir di desa-desa lainnya yang memiliki fitur dan karakter hampir serupa.

Burung Cendrawasih: Kecantikan Burung dari Surga

Warna bulu cenderawasih yang mencolok biasanya merupakan kombinasi beberapa warna yang lain seperti hitam, cokelat, oranye, kuning, putih, biru, merah, hijau, dan ungu. Burung ini semakin molek dengan keberadaan bulu memanjang dan unik yang tumbuh dari paruh, sayap, atau kepalanya.

Cukup beralasan apabila burung cenderawasih disebut-sebut sebagai bird of paradise. Bagaimana tidak, burung yang menjadi maskot Papua ini memang memiliki keindahan dengan warna bulu yang indah. Karena kemolekan warnanya,burung cenderawasih disebut sebagai burung dari surga atau bird of paradise. Bahkan, kabarnya karena keindahannya itu juga burung ini jarang turun ke tanah atau seringnya terbang di udara dan hinggap di dahan pohon.

Burung cendrawasih yang berbulu indah ini biasanya adalah pejantan. Bulu indah tersebut menjadi modal cenderawasih jantan untukmenarik perhatian betina pada musim kawin. Selain memamerkan keindahan bulu mereka, cenderawasih jantan bahkan melakukan gerakan-gerakan atraktif serupa tarian yang dinamis dan indah untuk merebut perhatian betina. Tiap jenis cenderawasih memiliki jenis tarian dan atraksi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Cenderawasih betina cenderung berukuran lebih kecil dengan warna bulu yang tidak seindah dan sesemarak warna cenderawasih jantan.

Warna yang dimiliki burung surga ini bermacam-macam dan menjadi salah satu indikator pengelompokan jenis mereka. Burung cendrawasih dikelompokkan dalam  famili Paradisaeidae; terdiri dari 13 genus dan sekira 43 spesies (jenis). Habitat aslinya di hutan-hutan lebat yang umumnya terletak di daerah dataran rendah dan hanya dapat ditemukan di Indonesia bagian timur terutama pulau-pulau selat Torres, Papua Nugini, dan Australia timur. 

Kabarnya, Indonesia adalah negara dengan jumlah spesies cendrawasih terbanyak. Diduga terdapat sekira 30 jenis cendrawasih di Indonesia, 28 jenis diantaranya dapat ditemukan di Papua. Burung cenderawasih mati kawat (Seleucidis melanoleuca) adalah jenis yang menjadi maskot atau identitas Provinsi Papua.Selain menjadi maskot Papua, masyarakat di Papua juga sering menggunakan bulu cenderawasih sebagai pelengkap atau hiasan dalam pakaian adat mereka.

Sebab keindahan bulunya, keberadaan burung cenderawasih ini kian lama kian terancam. Perburuan dan penangkapan liar untuk tujuan perdagangan serta kerusakan habitat hidup di alam bebas menjadi beberapa penyebab utama kian langkanya burung ini. Bahkan di akhir abad 19 dan awal abad 20, bulu cenderawasih marak diperdagangkan karena menjadi trend penghias topi wanita di Eropa.

Akan tetapi, kini burung cantik yang eksotis ini dikategorikan sebagai jenis satwa yang dilindungi. Di Indonesia sendiri, beberapa jenis cenderawasih diantaranya cendrawasih kuning kecil, cendrawasih botak, cendrawasih raja, cendrawasih merah, dan toowa telah masuk daftar jenis satwa yang dilindungi berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 dan PP No 7 Tahun 1999. Pemanfaatan bulu burung cenderawasih masih diperbolehkan hanya untuk kepentingan masyarakat lokal dalam menghiasi pakaian adat mereka. Itu pun tentu tidak secara berlebihan dan untungnya masyarakat Papua memiliki kearifan lokal dan adat untuk turut menjaga kelestarian burung ini. 

Berikut adalah beberapa jenis dan karakteristik burung cenderawasih.

Lesser bird of paradise (Paradisaea minor)

Diantara sekian banyak jenis cenderawasih, mungkin burung ini yang paling dikenal kebanyakan orang. Burung ini memiliki warna merah kecoklatan dengan mahkota kuning dan punggung atas kuning kecoklatan. Burung jantan jenis ini memiliki tenggorokan berwarna hijau  zamrud tua, sepasang ekor yang panjang dan dihiasi dengan bulu hiasan sayap yang berwarna kuning dan putih. Habitat asli burung ini terdapat hampir di seluruh hutan bagian utara Papua Nugini dan juga pulau-pulau sekitar, seperti Pulau Misool dan Yapen.

Cenderawasih Merah atau Red bird of paradise (Paradisaea rubra)

Dinamakan cendrawasih merah sebab burung ini memiliki warna bulu dominan merah darah. Kombinasi warna lain tampak pada bagian muka; bulu muka warna gelap, memiliki semacam mahkota atau jambul berwarna hijau zamrud, paruh dan sedikit di bawah leher berwarna kuning terang. Pada bagian ekornya terdapat dua buah bulu memanjang serupa tali atau pita berbentuk pilin ganda berwarna hitam. Cenderawasih merah hanya terdapat di hutan dataran rendah, diantaranya di Pulau Waigeo dan Batanta, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. 

Di Desa Sawinggrai yang terletak di Distrik Meos Mansar, cenderawasih merah merupakan ikon khas desa kecil ini. Di desa tersebut, Anda dapat menyaksikan langsung burung jenis ini di habitat asli melakukan atraksi menari pada jam-jam tertentu, yaitu pada pagi dan petang hari di musim kawin. 

Lawes’s Parotia (Parotia Lawesii)

Sekilas postur burung jantan jenis ini mirip dengan perkutut, hanya saja ia berwarna hitam dengan kening putih dan mata berwarna biru gelap. Tengkuknya berwarna biru; sedikit di bagian dada atas (mulai dari bawah paruh) berwarna perpaduan hijau dan emas. Ciri khas yang mencolok dari jantan burung jenis ini adalah adanya tiga bulu memanjang yang tumbuh dari ujung tiap matanya (masing-masing 3 helai). Sementaraitu, burung betinanya berwarna coklat dan mata berwarna kuning gelap.

King of Saxony bird of paradise (Pteridophora alberti)

King of Saxony bird of paradise adalah jenis burung pengicau yangterbilang kecil sebab memiliki panjang sekira 22 cm.  Burung jantan berwarna hitam dan kuning tua. Bulu mantel dan punggungnya tumbuh memanjang berbentuk serupa tudung berwarna hitam. Pada bagian mulai dari dada hingga ke perut berwarna putih kekuningan. Iris matanya berwarna coklat tua dan paruhnya berwarna hitam dengan bagian dalam mulut berwarna hijau laut. Yang membuatnya atraktif dan eksotis adalah adanya dua helai bulu kawat bersisik yang berwarna biru langit mengilap yang tumbuh mulai dari wajahnya. Panjangnya dapat mencapai 40 cm, seolah tak seimbang dengan tubuhnya yang kecil. 

Sementara burung betinanya berwarna abu-abu kecoklatan dengan garis-garis dan bintik gelap. Burung betina tidak “mengenakan” mantel dan tidak memiliki bulu kawat yang memanjang. Burung betina berukuran lebih kecil ketimbangburung jantan.

Wilson’s bird of paradise (Cicinnurus respublica)

Jantan Wilson’s Bird of Paradise yang berukuran kecil sekira 21 cm ini berwarna perpaduan merah darah dan hitam. Ia “mengenakan”  jubah kecil berwarna kuning terang di bagian tengkuk. Pada bagian kepala, ia seolah memakai penutup kepala berwarna biru langit, sedikit lebih terang dibandingkan warna kakinya yang juga biru. Selain perpaduan warna yang menarik, keunikan burung ini adalah memiliki dua bulu ekor yang berwarna ungu dan bentuknya melengkung serupa sulur. Sedangkan pada burung betina memiliki warna kecoklatan dan bermahkota biru.

Selain burung cenderawasih di atas, masih banyak jenis lain dengan warna dan variasi bulunya bermacam-macam dan tak kalah cantik. Semoga burung dari surga ini tidak akan menjadi semacam dongeng untukgenerasi penerus karena tindakan tidak bertanggung jawab manusia yang mengancam kelestariannya. 

Baleo: Menghujam Jantung Ikan Paus di Lamalera

Angin berderu di hadapan Laut Sawu yang dilalui paus sperma setiap tahunnya. Lelaki pemburu paus Lamalera mengepulkan asap rokok dari mulutnya lalu segera hilang diterpa angin. Kotoklema (Paus sperma-Physeter macrocephalus) tak lama lagi akan menjadi objek keramaian bagi warga Lamalera di Pulau Lembata, pun demikian bagi turis asing yang sabar menanti berhari-hari di sana untuk menyaksikan atraksi yang sangat jarang disaksikan.  

Kebiasaan memburu paus sudah dimulai sejak abad ke-17 atau mungkin ke-16. Catatan Portugis menyebutkan adanya masyarakat di Pulau Lembata yang memburu paus dengan cara tradisional. Di Lamalera ada 15 klan keluarga dengan tradisi ini, lengkap dengan rumah adat, rumah perahu atau najeng, dan tale leo atau tali penangkap paus.

Ikan Paus Sperma adalah buruan satu-satunya yang dijalankan masyarakat Lamalera Atas ataupun Lamalera Bawah. Ikan paus biru (Balaenoptera musculus) pun sering berlalu di hadapan mereka sebagai mamalia air terbesar yang ada (cetacean). Namun paus itu tak pernah diburu, karena selain untuk menjaga kelestarian satwa laut besar ini, tradisi menyebutkan bahwa Lamalera dan Lembata pada umumnya pernah diselamatkan paus biru dulu kala.

Pantangan lain bagi mereka selain membunuh ikan paus biru, ialah membunuh paus sperma betina yang sedang hamil, anak paus, dan paus yang sedang dalam suasana kawin. Kepekaan terhadap kondisi ini hanya dapat diturunkan oleh klan-klan yang ada di Lamalera. Sayang, sekarang pantangan ini terkadang diabaikan.

Secara tradisi, ikan paus yang didapatkan dikonsumsi untuk masyarakat desa dan tidak melebihi dari kebutuhan hidup secara keseluruhan secara sosial. Terkadang jumlah paus yang ditangkap berfluktuasi sesuai ketersediaan dan keperluan masyarakatnya. Kadang setahun hanya ada 4 paus, dan kadang dapat mencapai  56 paus, jumlah tertinggi yang diraih pada tahun 1969. Seorang ahli biologi kelautan menyebutkan bahwa fluktuasi tergantung dari pola meteorologis dan pola populasi paus tersebut.

Kebiasaan kotoklema yang digelar hanya antara Mei dan Oktober dikhawatirkan akan sirna oleh gerusan modernisasi dan juga celah yang timbul dari upaya konservasi dan pendekatan adat di sana. Tahun 2009, pemburuan kotoklema dicetuskan menjadi sebuah festival agar tradisi ini dapat bertahan. Festival Baleo akhirnya dikenal dari tahun ke tahun. 

Saat festival, pakaian adat dikenakan. Tambangnya asli terbuat dari daun sawu, dan di awal Mei, sebuah lefa, upacara adat yang juga disebut iyegerek, dilaksanakan sebagai pembukaan baleo. Satu peledang diisi oleh 7 orang matros, dan seorang lamafa atau balafaing, sang penghujam harpoon tangan yang tajam yang disebut secara tradisonal sebagai tempuling

Pemburuan dapat memakan waktu berjam-jam. Saat paus nampak, matros akan mengayuh dayung kea rah paus sasaran. Lamafa segera menghujamkan tempuling ke jantung sang paus, tiga hingga empat kali sampai paus letih kehabisan darah. Hujaman pertama dapat sangat berbahaya bagi seluruh awak, karena paus akan menerjang, bergeliat kesakitan dan menghancurkan segala yang ada di dekatnya.

Tak heran festival ini begitu sangat berharga bagi wisatawan, selain menangkap nyale, cacing laut, melihat pasola yang juga melibatkan lembing, dan terkadang darah. Nusa Tenggara Timur memang kaya akan budaya tereksotis di negeri Indonesia, termasuk tarian yang juga mengundang decak kagum para insan perfilman seperti Tari Caci yang gagah berani.

Seorang peneliti Universitas Oxford, R.H. Barnes menuliskan dalam bukunya, “Sea Hunters of Indonesia: Fisher and Weavers of Lamalera (1996)”, bahwa Lamalera berasal dari bahasa lokal yang berarti Cakram Matahari.

Kuliner

Temukan jagung titi di Desa Waienga, Kabupaten Lembata sebagai sebuah kuliner khas sekaligus pangan dari kearifan lokal. Anda dapat melihat penduduk setempat meniti jagung yaitu menumbuk butiran jagung menjadi pipih seperti kripik. Sebuah keterampilan yang diturunkan turun-temurun dan menggunakan peralatan yang sangat sederhana berupa periuk tanah kecil untuk menyangrai butiran jagung, batu ceper sebagai landasan untuk meniti dan batu berbentuk lonjong yang berfungsi sebagai penumbuk (titi). 

Bahan jagung titi ini diambil dari hasil panen masyarakatnya, biasanya yang paling enak berasal dari Jagung Pulut, sedangkan agar proses menitinya lebih mudah, digunakan jagung yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Untuk membuat jagung titi biasanya dilakukan pada subuh sampai menjelang pagi. Proses pembuatannya dimulai dengan butiran-butiran jagung pipilan disangrai di dalam periuk tanah. Cukup menggunakan kayu bakar yang sedikit saja, agar jagung tidak cepat gosong. Setelah berwarna agak kekuningan atau sekitar 3 menit disangrai. Bila periuk tanah tadi terdengar berbunyi “kletek-kletek-kletek” maka itu tandanya jagung sudah siap untuk dititi. Sejumlah 4 butir jagung diambil langsung dari periuk dengan menggunakan tangan tanpa alas, lalu diletakkan di atas batu landasan. Butiran jagung tadi ditumbuk (dititi) menggunakan batu lonjong seberat lebih kurang 2 kg. Diperlukan ketepatan waktu antara meletakkan butiran jagung dan menarik telapak tangan agar tidak terpukul. Dengan sekali titi saja maka sudah jadilah jagung titi.

Jagung titi lebih nikmat disantap dengan lawar, sejenis pangan yang berbahan utama ikan-ikan kecil sejenis ikan teri segar yang direndam beberapa menit di dalam cuka yang telah ditambahkan dengan cabe dan bawang. Dengan sendirinya ikan-ikan kecil ini akan melunak dan menjadi setengah matang, mirip dengan salah satu jenis makanan Jepang.

Masyarakat Desa Waienga umumnya melakukan kebiasaan membuat jagung titi untuk konsumsi dan sebagian lagi untuk dijual. Untuk keperluan konsumsi, masyarakat meniti jagung bila dianggap persediaan sudah habis, selain itu masyarakat Desa Waienga juga akan meniti bilamana ada pesanan. Untuk dijual dengan pola pemasaran yang dilakukan masih sangat sederhana. Biasanya jagung titi dijual kepada pemesan di sekitar desa atau di pasar lokal setempat. Umumnya masih dalam jumlah yang terbatas, 3 mangkuk plastik dihargai Rp10.000,00. 

Kunjungilah Desa Waienga dan cicipi jagung titi untuk melestarikan dan mengapresiasi pangan dan kearifan lokal ditengah-tengah gencarnya promosi makanan siap saji.

Selain Lamalera, Desa Lamakera di Pulau Solor bagian timur pun memiliki tradisi memburu ikan paus dan ikan yang lebih beragam jenisnya. Di Desa Lamalera, mayoritas beragama Kristen walau tradisi adat masih sangat kuat diterapkan. Di Desa Lamakerta, mayoritas penduduknya berdagang dan menganut agama Islam.

Transportasi

Pulau Lembata yang menjadi kabupaten tersendiri terletak 190 kilometer di sebelah utara Kupang, Ibukota Nusa Tenggara Timur. Kota terbesar di Pulau Lembata ialah Lewoleba di bagian selatan pulau yang merupakan ibu kota Kabupaten Lembata. 

Karena terpisah secara geografis, menuju Lewoleba hanya dapat ditempuh melalui udara dengan Bandar Udara Wonopito atau dengan melalui laut. Penerbangan menuju Maumere menjadi penerbangan terakhir sebelum dilanjutkan oleh perjalanan laut di Larantuka. Jadi Anda harus menuju Larantuka dari Maumere dengan menggunakan bus kota.

Dari Larantuka Flores, kapal laut berlayar setiap hari ke Lewoleba, atau ada pula yang berlayar langsung ke Lamalera seminggu sekali.

Kopi Luwak Gunung Malabar: Black Beauty Indonesia

Indonesia tidak hanya dianugerahi kekayaan alam yang menakjubkan namun juga memiliki suguhan unik. Dibanding dengan negara lain, Indonesia dikenal memiliki beragam jenis kopi terbaik di dunia. Salah satunya adalah kopi luwak yang dianggap memiliki kualitas terbaik dan salah satu kopi termahal di dunia. Menemukan tempat terbaik menikmati “black beauty” (nama lain kopi kuwak malabar) adalah di perkebunan yang terletak di kaki Pegunungan Malabar, di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Terletak hanya sekitar 40 km di sebelah selatan Bandung, Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, Kecamatan Pangaleran terkenal dengan suasananya yang segar dan sejuk. Lokasinya terletak di 1,500 m di atas permukaan laut, wilayah ini juga cocok digunakan untuk pertanian dan berbagai perkebunan untuk teh, kina, dan tentu saja kopi. Di antara perbukitan Pegunungan Malabar, sekelompok petani memanfaatkan Kelompok Pengelolaan Hasil Hutan dan menghasilkan Kopi Luwak sebagai produk utama mereka.

Perkebunan kopi menggunakan sepertiga dari total 150 hektar hutan untuk menumbuhkan kopi. Bisa dikatakan bahwa perkebunan ini menghasilkan Kopi Arabika terbaik ketiga di negeri ini. Banyak yang percaya bahwa tanah dimana kopi ditanam memengaruhi kualitas. Semakin tinggi ketinggian, semakin jarang pohon kopi ditemukan namun kualitas semakin tinggi daripada di tempat yang lebih rendah. Kopi juga harus dipetik dalam waktu yang tepat ketika sudah matang yang ditandai dengan warna kemerahan. Unsur-unsur lain yang berpengaruh pada kualitas kopi adalah cahaya. Pohon kopi membutuhkan pohon lain yang lebih tinggi sebagai tempat berlindung dimana pohon kopi hanya dapat tumbuh dengan baik jika mendapatkan 40% cahaya langsung.

Seperti yang telah banyak diketahui, yang membuat Kopi Luwak spesial adalah keterlibatan luwak dalam proses produksi. Kopi mengalami proses fermentasi melalui sistem pencernaan luwak. Hal ini diyakini menjadi alasan mengapa kopi memiliki rasa yang benar-benar lezat, karena luwak hanya mengonsumsi biji kopi dengan kualitas terbaik.

Untuk membuat Kopi Luwak dengan kualitas terbaik, kondisi luwak juga menjadi prioritas utama. Tidak mengherankan bahwa Penangkaran Luwak Malabar menerima penghargaan sebagai Pusat Kopi Luwak Terbersih di Indonesia pada tahun 2011. Di sini, luwak diberi kandang yang cukup luas sekitar 2,5 x 2,5 m. Selain kopi, luwak juga diberikan diet alami dari berbagai macam buah – buahan segar seperti pisang, apel, pepaya dan lainnya. Ada lebih dari 100 luwak disini yang menghasilkan sekitar 50 ton kopi per tahun.

Pada prosesnya, kopi dikumpulkan dan ditumbuk untuk memisahkan biji dengan kulit luar. Selanjutnya, kopi akan dipilih untuk dipisahkan berdasarkan kualitasnya. Biji kopi selanjutnya akan dipanggang menggunakan mesin pemanggang kopi. Dalam proses ini, suhu juga memengaruhi kopi semakin panas proses pemanggangan maka semakin tinggi tingkat keasaman pada kopi.

90% produksi kopi pada wilayah perkebunan ini diekspor ke luar negeri. Namun di Pusat Wisata dan Kuliner Kopi Malabar Anda dapat menikmati seduhan Kopi Luwak tepat dimana biji kopi ditanam dan dikonsumsi oleh luwak.

Dengan pegunungan yang menjulang tinggi dan bukit-bukit hijau yang luas sebagai latar belakang ditambah dengan sejuknya udara dan suasana yang tenang, menyesap kesegaran Kopi Luwak disini akan mengartikan apa arti lezat yang sebenarnya. Sebelum disajikan kepada pelanggan, kopi diseduh dan didiamkan beberapa menit lalu ampasnya dibuang. Hal ini diyakini sebagai cara untuk menambahkan cita rasa kopi. Secangkir Kopi Luwak dihargai Rp 29.000, jauh dari harga yang akan Anda dapatkan untuk kopi sejenis di beberapa negara di luar negeri.

Kecamatan Pangalengan terletak di 40 km sebelah selatan Bandung, Ibu Kota provinsi Jawa Barat. Untuk menuju wilayah tersebut cara terbaik adalahh menyewa mobil dengan sopirnya yang telah hafal wilayah tersebut. Dari pusat Kota Bandung Anda dapat melewati jalan tol dan keluar BuahBatu atau Mochammad Toha. Dari pintu keluar Mochamad Toha ambil jalur kanan lalu lurus menuju Dayeuh Kolot, sementara dari BuahBatu keluar ambil kanan menuju Baleendah, Kedua rute tersebut menuju Pameuengpeuk dan Anda dapat melanjutkan menuju Banjaran, Cimaung, sebelum ke Pangalengan. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Borobudur: Puzzle Raksasa Sarat Cerita

Bertengger di Selatan Bukit Menoreh, candi ini begitu istimewa bukan hanya karena ukurannya namun juga karena teknik penyusunan batu, kualitas dan kuantitas reliefnya, pemilihan cerita yang termuat di dalamnya, bahkan hingga arca-arcanya. Sekira 2 juta balok batu vulkanik dipahat sedemikian rupa pada candi ini saling mengunci satu dengan yang lain menjadikannya begitu megah ibarat puzzle raksasa sarat cerita. Ada sekira 2.672 panel relief melekat pada dindingnya yang jika dibentangkan maka panjangnya mencapai 6 km.

Candi Borobudur berada di puncak sebuah bukit menghadap ke sawah subur, di antara Bukit Dagi dan sebuah bukit kecil lainnya. Sekira dua kilometer di timur terdapat Sungai Progo dan Sungai Elo. Diperkirakan kawasan candi ini awalnya adalah sebuah danau purba. Dulu, kawasan tersebut merupakan muara dari berbagai aliran sungai. Karena tertimbun endapan lahar kemudian menjadi dataran.

Candi ini cakupan wilayahnya sangat besar, yakni 123 x 123 m². Bayangkan dari luasan tersebut candi ini memamerkan sekira 504 patung Buddha, 72 stupa terawang dan 1 stupa induk. Dinding candinya meliputi 2.672 panel relief yang apabila disusun berjajar maka panjangnya mencapai 6 km. Sebenarnya masih ada 160 panel yang sengaja ditimbun di bagian paling bawah, berisi adegan Sutra Karmawibhangga (hukum sebab-akibat). Penimbunan bagian bawah tersebut diduga untuk menguatkan bagian pondasi yang sejak awal ditemukan sudah sangat rusak.

Ansambel reliefnya tersebut merupakan yang paling lengkap di dunia dan tak tertandingi nilai seninya serta setiap adegannya adalah mahakarya yang utuh. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya. Cerita dimulai dari sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbangnya.

Arsitektur dan bangunan batu candi ini pun sungguh tiada bandingannya karena strukturnya ibarat sebuah kesatuan deretan lego yang saling mengukuhkan dan  dibuat bersamaan tanpa semen sedikitpun. Luas bangunan Candi Borobudur mencapai 15.129 m²  yang tersusun dari 55.000 m³ batu, terdiri dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 x 10 x 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan mencapai 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton.

Dengan luasan dan isi volumenya yang besar dan luar bisa itu membuat Borobudur menjadi monumen Buddha terbesar di dunia. UNESCO pun telah mengakui sekaligus memuji Candi Borobudur sebagai salah satu monumen Budha terbesar di dunia.

Candi Borobudur memiliki 10 tingkat, dimana tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Sedangkan tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir. Bagian paling atas di tingkat ke-10 terdapat stupa besar berdiameter 9,90 m, dengan tinggi 7 meter.

Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad sejak masa Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Bangunan raksasa ini baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani dengan angka tahun selesainya 746 Saka atau 824 Masehi. Usia pembangunannya tersebut diperkirakan 300 tahun sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 400 tahun sebelum katedral-katedral agung di Eropa. Candi ini beraksitektur Gupta yang mencerminkan pengaruh India.

Masa pembangunan candi ini diperkirakan selama 75 tahun di bawah pimpinan arsitek Gunadarma. Bahan pembangunnya adalah sekira 60.000 meter kubik batuan vulkanik dari Sungai Elo dan Progo yang terletak sekitar 2 km sebelah timur candi. Saat itu sistem metrik belum dikenal dan satuan panjang yang digunakan untuk membangun Candi Borobudur adalah tala yang dihitung dengan cara merentangkan ibu jari dan jari tengah atau mengukur panjang rambut dari dahi hingga dasar dagu.

Sejak pertengahan abad ke-9 hingga awal abad ke-11, Candi Borobudur menjadi tempat peziarah umat Budha dari China, India, Tibet, dan Kamboja. Candi Borobudur menjadi salah satu jejak sejarah paling penting dalam perkembangan peradaban manusia. Kemegahan dan keagungan arsitektur Candi Borobudur merupakan harta karun dunia yang mengagumkan dan tak ternilai harganya.

Diperkirakan awalnya candi ini sebagai tempat pemujaan. J.G. de Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur. Sebagian sejarawan juga ada yang menyatakan bahwa nama Borobudur ini berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Vihara Buddha Uhr” yang artinya  “Biara Buddha di Bukit”.

Keberadaan Borobudur sebelum tahun 1814 tertimbun material Gunung Merapi. Adalah Sir Thomas Stanford Raffles memerintahkan situs tersebut dibersihkan dan dipelajari secara menyeluruh. Candi Borobudur tetap kuat meski selama sepuluh abad tak terpelihara. Dari waktu ke waktu candi raksasa ini menarik minat peneliti di masa Pemerintahan Hindia Belanda hingga proyek restorasi Borobudur secara besar-besaran dimulai dari tahun 1905 sampai tahun 1910. Restorasi kedua untuk menyelamatkan Borobudur dilanjutkan sejak 1913 sampai 1983. Tahun 1970-an Pemerintah Indonesia dan UNESCO bekerja sama untuk mengembalikan keagungan Borobudur. Perbaikan yang dilakukan memakan waktu delapan tahun sampai dengan selesai dan saat ini Borobudur adalah salah satu keajaiban dan harta Indonesia dan dunia yang amat berharga.

Kegiatan

Jelajahilah keseluruhan relief di Borobudur yang mencerminkan ajaran Budha Mahayana dimana semakin ke atas semakin menyimbolkan tingkat kesempurnaan. Bagian paling bawah atau Kamadhatu menggambarkan perilaku penuh angkara murka dan hawa nafsu yang menyebabkan seseorang masuk neraka jahanam. Bagian tengah meliputi empat tingkat dinamakan Rapadhatu, tempat manusia dibebaskan dari nafsu dan hal-hal duniawi. Sementara bagian teratas termasuk tiga teras melingkar yang mengarah ke pusat kubah disebut Arupadhatu atau tempat para dewa bersemayam (nirwana).

Sebenarnya ada relief Karmawibhangga yang tertimbun di tanah dan menggambarkan perbuatan mansia yang mengikuti hawa nafsunya, seperti bergosip, membunuh, menyiksa, dan memerkosa. Bahkan ada juga adegan-adegan seks dalam berbagai posisi. Sejumlah pendapat menyebutkan bahwa relief tersebut ditimbun karena dianggap kurang pantas dipertontonkan tetapi ada pula yang berpendapat penutupan ini semata-mata demi kestabilan posisi candi agar tidak amblas.

Tahun 1885, arkeolog JW Yzerman sempat mendokumentasikan dan merekam relief ini kemudian dibukukan tahun 1931. Buku aslinya kini ada di Museum Nasional, Jakarta. Sedangkan klise aslinya disimpan di Museum Tropen, Amsterdam mengingat statusnya milik Pemerintah Belanda sementara Pemerintah Indonesia memiliki replika seluruh foto tersebut.

Sekitar tahun 1890-1891, bagian yang tertutup itu dibuka seluruhnya oleh fotografer Kasiyan Chepas untuk dipotret satu per satu. Batu bervolume 13000 meter kubik ini diangkat, lalu dikembalikan lagi ke posisi semula.  Hingga hari ini, bagian itu ditimbun tanah sehingga tidak bisa dilihat. Ada tiga panel di bagian tenggara candi yang terbuka diduga karena proses penutupan kembali yang tak sempurna.

Bila Anda telah mencapai puncak candi maka beristirahatlah dan nikmati pemandangan indahnya. Di bagian atas Borobudur Anda akan menemukan ruang kosong yang merupakan simbol  kesempurnaan. Selama Anda di bagian puncaknya, nikmatilah pemandangan gunung yang hijau dan lebat di sekitarnya, dan rasakanlah hembusan angin yang lembut. Anda bebas untuk mengambil sebanyak mungkin objek foto indah yang Anda inginkan.

Kepercayaan masyarakat lokal menyebutkan bahwa jika Anda telah berada di puncak candi dan memiliki satu keinginan sungguh-sungguh, lalu tangan Anda menjangkau dan menyentuh sosok Sang Buddha di dalamnya, maka permintaan Anda akan terwujud.

Anda dapat mencatat beberapa cerita menarik dari ukiran dari relief candi ini karena ada banyak cerita menarik di dalamnya. Pastikan pemandu wisata Anda menceritakan rentetan cerita yang terdapat dalam ukiran  batu. Jika Anda seorang penulis atau penyair mungkin ada cerita yang dapat menginspirasi Anda.

Hal menarik lainnya dari Borobudur adalah bukit Manoreh di selatan. Jika Anda melihatnya dengan seksama nampak garis kontur bukit-bukit berbentuk seperti orang tidur seolah Borobudur tampak berdiri tegak di samping “orang tidur”.

Candi Borobudur memiliki 100 talang air berbentuk makara (patung ikan berkepala gajah) sebagai saluran air sekaligus untuk menambah keindahan candi. Dahulu, air hujan yang mengalir melalui makara akan terlihat seperti air mancur.

Museum Samudera Raksa akan memberitahu Anda tentang sejarah perdagangan Indonesia dan Afrika di zaman kuno dan bagaimana upaya modern untuk menciptakan kembali rute perjalanan ini.

Di Museum Karmawibhangga tersedia sumber informasi lengkap tentang tempat megah ini.

Saat Anda berwisata ke Candi Borobudur, kali ini mengapa tidak untuk mengejar keindahan Matahari terbitnya.

Tips

  • Sewalah pemandu wisata resmi untuk mendapatkan informasi yang lebih baik. Anda dapat menyewa pemandu wisata resmi berpengalaman dengan harga Rp50.000,- Jangan sampai melewatkan pengalaman mengunjungi candi besar ini tanpa belajar tentang sejarah dan pesan penting yang ditangkap pada relief candi.
  • Anda bisa mengelilingi kompleks Taman Wisata Candi Borobudur menggunakan kereta mini atau yang biasa dikenal dengan nama kereta kelinci. Kendaraan ini biasanya menjadi favorit anak-anak. Tarif kereta kelinci: Rp5.000,00 per orang sekali putaran.
  • Festival Waisak diselenggarakan sekali setahun bulan Mei saat purnama. Saat itu banyak peziarah dan pengunjung berdatangan untuk merayakan kelahiran, kematian, dan pencerahan Buddha.
  • Apabila Anda datang dalam rombongan maka seewalah Andong. Andong dapat dijumpai dengan mudah di terminal maupun pasar Borobudur. Andong wisata juga ada di dalam kompleks candi dan bisa digunakan untuk berkeliling mengitari candi. Tarif andong keliling desa: Rp75.000,00 dengan rute: Dusun Klipoh – Desa Tanjungsari – Dusun Jowahan – Desa Wanurejo). Tarif andong keliling candi: Rp30.000,00 untuk 4 orang sekali putaran.
  • Kenakan pakaian sopan ringan dan nyaman saat mengunnjungi candi ini.
  • Apabila Anda membawa anak-anak, jangan menginjak area rumput hijau besar sekitar lokasi Borobudur.
  • Selama musim panas, Anda sebaiknya memakai topi atau payung yang disewa di sekitar lokasi.
  • Penyewaan sepeda tersebar di berbagai tempat seperti hotel-hotel tempat Anda menginap maupun di kawasan taman Candi Borobudur. Dengan bersepeda maka Anda dapat menyusuri kawasan Borobudur yang masih asri dan memiliki udara yang segar menggunakan sepeda akan menjadi pilihan yang menyenangkan. Tarif sewa sepeda onthel: Rp 20.000 / 10 jam. Tarif sewa sepeda biasa: Rp 25.000 / 10 jam. Tarif sewa sepeda di areal candi: Rp 10.000. Tarif sewa sepeda tandem di areal candi: Rp 15.000.
  • Anda dapat menyewa motor selama di Borobudur karena akan mempermudah dan memperluas ruang gerak. Anda bisa berkeliling ke tempat-tempat yang jauh semisal Bukit Punthuk Setumbu atau Puncak Suroloyo. Tarif sewa sepeda motor: Rp 50.000 – Rp 70.000 per 12 jam.
  • Anda dapat menghubungi agen perjalanan untuk mengorganisir kebutuhan dan mendapatkan tur yang menarik, seperti Campa Tour (081263679350).

Tenun Flores: Bayang Feminim Wanita FLores

Berapa banyak wanita yang telah menderita
Menderita karena pengorbanannya sendiri
Pengorbanan itu mengakibatkan kesedihan
Pinggulmu sakit dan terasa patah

Usaha seorang wanita Flores dalam meluangkan waktunya berjam-jam duduk sambil menenun adalah hal luar biasa. Semua anggota tubuh, baik tangan, leher, pinggul, tungkai maupun mata harus dikoordinasikan dengan baik dan dibutuhkan konsentrasi untuk melakukannya. Seperti di daerah lain di Nusantara, tenun Flores pun memiliki nilai yang sedemikian tinggi mengikuti alur kerumitan proses menenun itu sendiri. Semakin rumit motif suatu tenun maka semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk membuatnya. Semakin baik hasil tenun maka semakin tinggi nilai artistik yang tertata di dalamnya.

Anda bisa melihat bagaimana proses menenun mendeksripsikan sifat feminim dari seorang wanita. Tidak banyak bicara saat menenun melambangkan feminitas. Bahkan seberapa ahli mereka menenun dijadikan tolak ukur feminitas. Wanita muda yang menggunakan tenun hasil buatannya sendiri menandai bahwa ia telah sepenuhnya menjadi wanita. Selain itu aktivitas menenun, bagi wanita Flores, juga sebuah wujud seberapa tinggi  pertahanan fisik mereka dan simbol dedikasi penuh bagi keluarga. Wanita-wanita di Kabupaten Ende terbiasa mempelajari  tenun semenjak mereka masih remaja namun tidak semua wanita Flores bisa menenun karena ada daerah tertentu yang melarangnya terkait alasan sejarah.

Motif kain tenun di Nusa Tenggara Timur sangat banyak, antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya berbeda-beda. Hasil penelitian Romo Bosco menyimpulkan bahwa terdapat dua kategori besar tenun, yaitu jenis ikat tradisional dan sulam songket.  Jenis ikat menyebar dari Flores bagian tengah mulai dari Kabupaten Ende hingga Kabupaten Flores Timur sampai Lembata, sementara tenun sulam songket banyak dibuat dari Kabupaten Nagekeo sampai Kabupaten Manggarai Barat.

Tenun Sumba Timur misalnya, didominasi motif kuda, rusa, udang, naga, singa, orang-orangan dan pohon tengkorak. Sedangkan tenun Timor Tengah Selatan lebih menonjolkan motif burung, cecak, buaya dan motif kaif. Suku-suku lainnya lebih banyak menggunakan motif bunga atau daun. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa motif tenun Flores merupakan turunan dari motif patola di India, seperti gajah atau burung yang kemudian berkembang dengan ragam variasi.

Meski kini warna kain tenun ikat berasal dari pewarna kimia tetapi masih banyak yang melestarikan pewarna alam seperti dengan mengekstrak mengkudu ataupun nila. Bahkan kain-kain tenun di Alor menggunakan biota laut seperti teripang dan cumi-cumi sebagai pewarna alami tenun. Inovasi ini diwujudkan seiring dengan tren ramah lingkungan yang sedang menggaung di Indonesia. Dengan menghindari pewarnaan kimia, berarti kepeduliaan terhadap lingkungan sudah ditunjukkan. Limbah dari pewarnaan kimia industri tekstil kerap kali mencemari kualitas air sungai sebagai tempat pembuangan. Selain itu Warna dari bahan alami dan benang dari kapas membuat warnanya memang tidak secerah benang modern tetapi justru lebih tahan lama dan menguak warna yang makin lama makin indah.

Pembuatan desain kain tenun ikat di Flores dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan kadang-kadang sampai berbulan-bulan. Seringkali pencelupan dikerjakan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung meskipun terkadang dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung. Tenun Flores dibuat dengan bahan dasar benang dari kapas yang dipilin oleh penenunnya sendiri. Benangnya kasar dan dicelup warna biru indigo. Kain dihiasi dengan ragam hias bentuk geometris aneka warna cerah.

Kain tenun Flores umumnya selain menjadi pakaian penutup juga melengkapi pakaian adat dalam upacara tradisional dan ritual keagamaan. Beberapa daerah di NTT menghasilkan kain-kain tenun yang indah seperti di Manggarai, Ngada, Nage Keo, Ende, hingga sekitar Lio, Sikka, hingga Lembata dan Alor di timur Flores. Setiap daerah memiliki ragam motif, corak dan preferensi warna yang berbeda-beda dalam membuat kain tenun ikat. Keragaman tersebut merupakan bentuk pengejawantahan simbol-simbol yang merepresentasikan etnis, adat, religi, dan hal lainnya dari keseharian masyarakat Flores.

Candi Ijo: Menikmati Senja di atas Bukit Padas

Sebelum hari berangsur gelap dan lampu-lampu menerangi setiap sudut jalan di Yogyakarta, tujuan terakhir dari perjalanan di sana adalah menikmati senja yang perlahan tenggelam di pelupuk garis horizon. Pantai bukanlah satu-satunya titik di Yogyakarta yang menyimpan pemandangan ini. Di Kompleks Candi Ijo, Anda akan diajak melihat Matahari terbenam dari ketinggian 400 m dpl dengan candi-candi sebagai latarnya.

Candi ini dibangun di lereng Bukit Padas tepat di depan Gunung Ijo yang puncaknya tertutup oleh pepohonan. Dari atas sini terlihat jelas panorama wilayah Gunung Kidul beserta areal persawahan, lembah Sungai Opak dan Bandara Adisucipto sehingga menghasilkan paduan lansekap yang menawan.

Candi ini pertama kali ditemukan oleh H.E Dorrepal pada 1886. Terdapat total 17 bangunan yang terletak di atas 11 halaman berbentuk teras berundak yang memanjang dari arah barat ke timur. Pola keletakan Candi Ijo mirip dengan pemujaan tradisi megalitik dimana halaman teras teratas merupakan tempat yang paling suci, dipagari delapan lingga patok yang masing-masing memencar ke empat arah mata angin.

Seluruh candi telah direstorasi namun bangunan dasarnya tetaplah konstruksi asli. Pelataran kompleks kini meliputi empat candi yaitu satu candi utama, tiga candi sekunder dan struktur lain yang belum teridentifikasi. 

Bangunan candi induk memiliki tinggi sekira 9,20 meter dengan keliling fondasi 18,40 meter persegi, serta dilengkapi dengan tangga di sisi barat. Bangunan ini diperkiran didahului oleh teras atau gerbang yang disimpulkan dari adanya lubang-lubang untuk fondasi di teras-teras terdepan, namun tembok dari teras atau gerbang tersebut kini sudah runtuh. Meskipun demikian Anda masih dapat menikmati ukiran-ukiran relief yag indah di bagian tubuh candi. Relief berupa untaian bunga-bunga, angin beliung, pertapa, hingga singa. 

Berjalan ke arah timur tangga maka Anda akan menemukan ceruk yang disebut lingga, ini adalah pusat lokasi dari kawasan suci tersebut. Arca Siwa dan Ganesa ditemukan di candi utama, begitu pun dengan arca Wisnu dan Narasimha. Arca lain yang diidentifikasi sebagai Parwati juga ditemukan dekat dengan candi namun sekarang sudah dipindahkan ke Museum Prambanan. Pada bagian pintu masuk candi induk terdapat ukiran Kala Makara yang berupa mulit raksasa berbadan naga, ukiran ini mirip seperti yang tampak pada pintu masuk Candi Borobudur.

Tepat di depan candi induk terdapat tiga buah candi sekunder dengan ukuran yang lebih kecil, semuanya dibangun sejajar menghadap ke arah timur. Candi paling utara dan paling selatan memiliki konstruksi fondasi yang mirip, berukuran 5,11 meter x 5,11 meter. Batasan ranah suci ini ditandai dengan adanya tembok-tembok di sekitar candi.

Berdasarkan peninggalan dari panteon Hindu hingga lingga-yoni, bisa dipastikan bahwa Kompleks Candi Ijo merupakan bangunan suci untuk pemujaan agama Hindu. Reliefnya memiliki banyak kesamaan dengan yang terdapat pada candi lain di daerah perbukitan Ratu Boko.

Transportasi

Wilayah Candi Ijo masih terletak di perbukitan yang sama dengan Candi Ratu Boko, tepatnya di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Jaraknya sekira 28  kilometer dari Kota Yogyakarta. Anda dapat menggunakan bus Trans Jogja dengan mengambil rute ke arah Sleman atau Candi Prambanan, kemudian dilanjutkan dengan ojek ataupun taksi ke arah selatan. Candi Ijo berada tepat di jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta dengan Piyungan. Setelah berjalan sekira 15 menit maka Anda akan menemukan Candi Ijo. Apabila menggunakan kendaraan pribadi, Anda bisa memarkirnya tepat di dekat pelataran Kompleks Candi Ijo.

Kegiatan

Catat seluruh candi-candi di sekitar Yogyakarta dan buatlah daftar candi mana saja yang menarik Anda kunjungi dalam sehari penuh. Biasanya tur candi akan berakhir di Candi Ratu Boko atau di Candi Ijo dengan panorama Matahari terbenam yang spektakuler. Inilah yang membuat Candi Ijo begitu ramai akan pengunjung, terutama pada saat akhir pekan. 

Tidak jauh dari kompleks candi terdapat Tebing Breksi yang merupakan area penambangan batu karst. Banyak wisatawan yang mengunjunginya karena tempat ini menawarkan pemandangan yang cukup unik. Dari puncak Tebing Breksi, Anda pun dapat melihat Candi Prambanan, Candi Ratu Boko dan Candi Barong sekaligus.

Sebelum menghabiskan hari di Candi Ijo, Anda ditawarkan melihat perkampungan unik yang dihuni oleh rumah-rumah dengan atap berbentuk setengah lingkaran. Sekira 15 menit berkendara, Anda akan tiba di desa dengan nama Dome Telletubbies ini. Rumah tersebut merupakan pemukiman korban gempa tahun 2006. Total bangunan ada 80 buah, 71 merupakan hunian warga dan 6 buah rumah lainnya adalah fasilitas bersama seperti MCK, masjid dan aula. Di kawasan ini disediakan rental sepeda agar Anda bisa berkeliling kampung dan menemukan titik-titik menarik. Untuk mendapat penjelasan yang lebih akurat, Anda bisa menyewa pramuwisata dengan tarif mulai dari Rp50 ribu.

Kuliner

Tidak perlu kembali ke Yogyakarta apabila ingin menikmati kuliner enak, cukup menjelajah Kabupaten Sleman dan temukan kuliner-kuliner yang akan memanjakan lidah Anda.

Waroeng Tempo Doloe di Jalan Palagan Tentara Pelajar No.52, Sleman

Jejamuran di Jalan Magelang Km.11 RT.11/RW.20, Desa Niron, Pandowoharjo, Tridadi, Sleman. Jejamuran resto menyiapkan makanan serba jamur, mulai dari sate jamur, sup jamur, pepes jamur, rendang jamur, tongseng jamur dan masih banyak lagi. Restoran ini mengandalkan bahan-bahan jamur yang dihasilkan petani di sekitar Sleman.

Gudeg Yu Narni di Jalan Kaliurang Km 4,5, Karangasem, Kocoran, Catur Tunggal, Sleman

Akomodasi

Anda bisa menginap di Kota Yogyakarta kemudian mengambil tur candi ke Sleman ataupun menginap langsung di Sleman. Berikut beberapa hotel yang direkomendasikan di Sleman.

Prima SR Hotel & Convention di Jalan Magelang, Mlati, Sleman

Griya Syandana di Perum Dayu Baru Jl. Kaliurang Km 8,5 

Omkara Mountain Retreat di Dusun Ngepas Lor, Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman Tlp. 0813-287706149

Alamo Homestay di Jalan Damai No.10-A, Ngangklik, Sleman

Omah Kecebong di Jalan Sendari, Tirtoadi, Sleman

Menjadi Penyelam dan Ketakutannya

Kehidupan bawah laut merupakan sebuah surga yang menyimpan berbagai keindahan yang tak ada bandingannya. Tidak hanya berperan dalam menopang sektor maritim namun berkontribusi pula dalam sektor lainnya sebagai multiplier effect. Tak terkecuali aktivitas menyelam selain sebagai salah satu cabang olahraga di Indonesia juga berperan menjadi kegiatan menyenangkan di waktu luang dan dapat dilakukan oleh siapapun yang ingin mencoba menyelami kehidupan didalamnya.

Kemolekan berbagai spesies ikan yang berlalu lalang dalam birunya laut ditambah berjuta flora dan fauna lainnya nampak semarak dalam keheningan dasar laut. Begitu Anda “menceburkan diri” di kedalamannya, percayalah akan tercipta sebuah sensasi yang menggelorakan hati dan pikiran.

Beberapa dari Anda, terutama bagi seorang pemula, mungkin ada perasaan takut dan ragu untuk menelusuri “kancah bawah laut”. Wajar bila Anda memiliki perasaan tersebut karena sesuatu yang awal biasanya terbayang meragukan bahkan menakutkan. Berikut kami sampaikan beberapa tips yang dapat membantu menghilangkan kegundahan hati Anda agar tak perlu lagi ragu atau takut untuk menelurkan pengalaman “perdana” menyelam Anda :

Kondisi Psikologi
Seseorang yang akan melakukan penyelaman, awal mulanya harus membuang jauh pikirannya dari rasa takut. Kestabilan emosi sangatlah ampuh dalam mengendalikan tekanan fisik dan mental dalam menghadapi kedalaman laut. Kepanikan ketika menghadapi arus laut yang tak bisa ditebak dapat membahayakan keselamatan Anda.

Kondisi Badan
Kesehatan memang sangat vital bagi calon penyelam. Fungsijantung, paru-paru, THT (telinga, hidung dan tenggorokan) dan sistem saraf tentunya harus dalam batas normal. Organ-organ tersebut berfungsi untuk menyuplai peredaran darah dan oksigen ke seluruh tubuh, serta mempertahankan kesadaran penyelam.

Kondisi badan yang fit sangatlah penting bahkan Anda harus terhindar dari flu ringan sedikitpun karena Anda harus melakukan proses equalisasi. Equalisasi merupakan proses penyesuaian tekanan. Kegunaannya untuk menghindari rasa nyeri pada telinga akibat perbedaan tekanan antara dunia luar dan telinga bagian tengah yang terjadi saat menyelam nantinya.

Asupan Makanan dan Hindari Konsumsi Rokok
Hindari makanan dan minuman yang mengandung alkohol serta hindari konsumsi rokok.  Kandungan alkohol dan zat yang terkandung dalam tembakau dapat mengakibatkan penyumbatan pada saluran eustachio.

Minum Air Putih
Mungkin terkesan sepele namun siapa yang tahu bahwa minum air putih sebelum menyelam dapat menghindari Anda dari dehidrasi dan penyakit hypothermia.

Dive Operator
Pilihlah dive operator yang menyediakan peralatan selam sesuai standard dan berfungsi dengan baik. Cobalah peralatan tersebut terlebih dahulu dalam kolam renang. Dive operator harus menyediakan penyelam pendamping (buddy) yang berpengalaman. Selain itu pilihlah operator yang menyediakan latihan selam sebelum Anda menyelam sungguhan di laut.

Instruksi Pemandu Selam
Jeli lah dalam mendengarkan instruksi yang diberikan oleh pemandu selam. Dari mulai hafalan isyarat ketika menyelam, penggunaan tabung oksigen hingga peralatan penyelaman yang pas sesuai ukuran Anda. Saat menyelam pun diusahakan Anda tidak jauh dari rombongan peselam dan pemandu Anda.

Pemanasan
Sama seperti olah raga pada umumnya, agar Anda terhindar dari kram, sebelum menyelam pun perlu dilakukan pemanasan. Namun jika tubuh Anda mengalami kram ketika menyelam, jangan paksakan Anda tetap menyelam, beri isyarat pada penyelam pemandu dan segera mungkin perlahan-lahan naik ke atas permukaan laut.

Metode Valsava
Metode valsava merupakan proses equalisasi yang bermanfaat untuk menyamakan tekanan udara pada telinga Anda. Latihan penerapan metode valsava biasanya dilakukan bagi peselam pemula dengan cara menutup dua buah lubang hidung kemudian membuang nafas tanpa melalui hidung sehingga nafas yang dihembuskan dipaksa keluar melalui rongga telinga. Idealnya akan muncul suara pop/plop atau klik, itu berarti Anda terhindar rasa sakit/nyeri pada telinga anda. Untuk melakukan proses ini pastikan telinga Anda bersih dari kotoran dan cairan.

Saat Penyelaman
Jangan tahan nafas Anda ketika berada dalam air, walau terkadang secara tidak sadar terjadi, bersikaplah tenang, hirup udara perlahan-lahan dari mulut dan hembuskan dari mulut jua. Pada kedalaman tertentu, bisa saja Anda merasakan sakit telinga, untuk mengatasinya cukup telan ludah ataupun dengan menekan dan menghembuskan nafas dari hidung (dengan catatan hidung harus dalam keadaan tertutup). Posisi selam sebaiknya bergerak secara horizontal dan hindari melakukan banyak gerakan karena akan menghabiskan banyak udara.

Beberapa mitos terkadang menjadi hal yang mengurungkan niat Anda untuk menyelam. Walaupun begitu uraian berikut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi Anda agar tak perlu khawatir kembali terhadap mitos seputar menyelam.

Perempuan Haid
Perempuan yang tengah mengalami haid dengan keluhan tertentu seperti kram perut, mual, muntah baiknya memang menghindari penyelaman namun jika tidak mengalami keluhan tersebut masih bisa menyelam dengan tetap menggunakan tampon/ pembalut.

Pengidap Asma
Mitos pengidap asma tidak diperbolehkan menyelam itu belum sepenuhnya benar karena seseorang berhak untuk menyelam itu ditentukan oleh dive licence (sertifikat menyelam). Dengan dive license akan terlihat apakah seseorang walaupun mengidap asma masah layak atau tidak untuk menyelam.

Ganasnya Hiu
Ketakutan terhadap hiu menyerang Anda ketika menyelam tidak selamanya benar terjadi. Tahu kah Anda? sebenarnya hiu itu akan menjauh dari peselam begitu hiu mendeteksi ada peselam disekitarnya dan munculnya gelembung yang keluar dari peralatan penyelam. Hiu tidaklah agresif, hanya hiu jenis great white shark lah yang agresif dan itupun sangat jarang ditemukan.

Kemampuan Berenang
Jika selama ini Anda mengurungkan niat untuk menyelam hanya karena tidak bisa berenang, ternyata itu salah. Pada prinsipnya berenang dan menyelam merupakan aktivitas yang berbeda. Berenang bukan menjadi syarat mutlak untuk menyelam. Berenang hanya memudahkan Anda untuk beradaptasi dengan keadaan air laut.

Hantu Laut
Pada kedalaman tertentu mungkin tubuh kita akan terasa lumpuh dan sering dianggap ada kaitannya dengan mahluk penunggu laut yang tidak senang dengan keberadaan peselam. Hal tersebut hanyalah sebuah mitos. Sebenarnya lumpuh tersebut terjadi karena faktor medis yakni terjadinya dekompresi. Dekompresi merupakan suatu kondisi tubuh dimana akumulasi nitrogen yang terlarut setelah menyelam membentuk gelembung udara yang menyumbat aliran darah serta sistem syaraf.  Biasanya gejala yang ditimbulkan berupa sakit kepala, pusing, blurred vision, kesemutan, kelelahan yang ekstrim. Jadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan hantu laut. Penyakit ini beresiko terkena pada orang-orang yang mengonsumsi alkohol, mengalami keletihan dan kegemukan.

Bobot Peralatan Selam
Selintas peralatan menyelam terlihat seperti memiliki bobot yang berat. Sebetulnya ketika kita sudah menggunakan peralatan tersebut dan mulai menyelam di laut, berat tersebut tidak akan terasa. Bahkan kini sudah banyak peralatan selam yang disesuaikan dengan gender dan usia sehingga membuat Anda nyaman.

Jadi tidak ada lagi alasan bagi Anda untuk tidak mencoba menyelam. Happy diving!