Home Blog Page 150

Alor = Alam Lestari Orang Ramah

Alor-IMG_2814

 

Terhimpit di antara rimbunnya gugusan pulau di ujung timur Flores, inilah Alor, impian bagi penyelam bawah laut dan para petualang dari berbagai negara. Alor adalah sebuah tempat yang akan membuai Anda sepenuhnya hingga terlena sampai batas akhir,  itu bahkan termasuk bagi mereka yang datang lebih dari sekali ke sini. Mungkinkah ini menjadi tujuan wisata di Indonesia masa depan?

 

Alor adalah sebuah pulau di gugusan bagian timur Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Telah tersohor jauh-jauh hari sebelumnya oleh mereka para penjelajah dan penikmat keindahan bawah laut. Ya, Alor memang digadang-gadang sebanding dengan keindahan taman bawah laut di Karibia, benarkah itu? Atau bahkan lebih?

 

Keindahan bawah laut Alor telah disaksikan langsung oleh banyak penyelam dari berbagai negara mulai dari Amerika, Australia, Austria, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Kanada, Selandia Baru, hingga beberapa negara di Asia. Di perairan sekitar Alor setidaknya ada lebih dari 60 titik menyelam dengan 20 di antaranya berkualitas terbaik di dunia. Titik-titik menyelam tersebut tersebar mulai dari Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, Pulau Pantar, dan Pulau Pura. Sederetan daftar nama titik-titik meyelam di Alor itu dapat membuat bingung dan bertanya-tanya ada apa di bawahnya? Mengapa begitu banyak?

 

Perpaduan laut Indonesia yang hangat dengan Laut Australia yang dingin telah menjadikan Alor sebagai tempat pertemuan biota laut yang unik sekaligus megah. Saat menyelam di Alor, bahkan mereka yang tergolong para profesional saja tetap berdecak kagum. Bagaimana tidak, di sini mereka dapat menyelam bersama sunfish dan menemukannya lebih dari sekali. Ini jelas diasumsikan ada banyak sunfish atau mola-mola menetap di perairan Alor. Lupakan Seaworld, menyaksikan cara hidup mereka langsung di alamnya adalah sangat luar biasa.

 

Adalah Magnus Mattsson, salah satu fotografer bawah laut pertama yang telah mengindentifikasikan secara pasti ada lebih dari 50 ekor sunfish di perairan Alor. Bahkan ia pernah menyelam dan bersnorkling sembari bermain bersama sunfish hampir setengah jam lamanya. Berenang bersama sunfish atau bahkan sekelompok orca liar pastinya adalah impian bagi para penyelam dimanapun. Binatang besar ini sering ditemukan di perairan Alor dan sangat luar biasa untuk menyelam bersama mereka demi sebuah kenangan yang tak terlupakan.

 

Jangan kaget juga apabila melihat lumba-lumba (Delphinidae) melompat kesana-kemari seakan menyambut dan mengajak Anda untuk terjun menyelam bersama. Makhluk yang menakjubkan itu dapat dilihat setiap hari dari atas perahu dan fantastis mereka sesekali mengeluarkan semburan air ke permukaan. Apabila Anda beruntung bisa saja menyaksikan langsung saat sekelompok paus orca (Orcinus orca) bekerja sama untuk memburu lumba-lumba ini. Biasanya mereka melintas antara Oktober hingga November, saat dimana arus laut bersahabat bagi penyelam.

 

Ada banyak tebing dan jurang di taman bawah laut Alor seakan tak terlukiskan kata-kata. Tersusun seperti rak buku dimana setiap bagian dihuni oleh beragam biota dan karang yang mengagumkan. Semua yang pernah melihatnya secara langsung pasti lebih menyarankan untuk menyaksikannya sendiri lalu bercerita hingga kehabisan kata-kata.

 

Salah seorang yang berjasa mengenalkan surga bawah air yang memesona ini adalah Kal Muller. Ia telah menuliskan bagaimana keindahan bawah laut Alor dan menyebutnya sebagai taman laut kelas dunia. Dalam dua bukunya yang berjudul “Underwater Indonesia” dan “East of Bali”, Karl Muller mengungkapkan bahwa Alor memiliki air laut yang bersih, biota laut yang beraneka ragam, dan banyak titik selam yang dapat dinikmati bahkan saat malam hari. Ia seakan mengekspos habis-habisan sehingga membukakan mata dunia untuk berbondong-bondong menuju keajaiban bawah laut Alor.

 

Untuk menuju Alor, khususnya Anda yang datang dari wilayah barat Indonesia, ada penerbangan dari Jakarta ke Bandara El Tari, Kupang. Berikutnya lanjutkan penerbangan ke Bandara Mali di Kota Kalabahi, yaitu ibu kota Kabupaten Alor. Rute penerbangannya masih sangat terbatas beberapa maskapai saja, salah satunya yang setiap hari tersedia adalah maskapai Trans Nusa.

 

Kegiatan penjelajahan taman bawah air di Alor dapat dimulai dari Pelabuhan Kalabahi dan beberapa dermaga sekitarnya. Operator diving akan mengatur semua perlengkapan, makanan, tujuan, dan transportasi ke berbagai titik menyelam di sekitar Alor, termasuk apabila Anda berminat melakukan penyelaman malam hari. Jangan heran pula apabila di pulau ini rata-rata operator diving adalah orang asing yang fasih berbahasa Indonesia serta telah lama tinggal di Alor dan sekitarnya.

 

 

Budaya Moko dan Al-Quran Berusia 800 tahun di Pulau Alor

 

 

Alor memang bukan pulau besar seperti Flores tetapi cukup mencengangkan di sini telah ditemukan peninggalan sejarah yang luar biasa, yaitu moko dalam jumlah yang amat banyak. Museum 1.000 Moko di Kalabahi Alor bahkan berambisi melewati angka 1.000 koleksi moko. Adalah cukup menjadi tanda tanya bahwa moko di Alor tidak dibuat oleh masyarakat asli Alor karena budaya moko sejatinya berasal dari kebudayaan perunggu Dongson di Vietnam Utara.

 

Orang Alor sendiri percaya bahwa moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi. Moko memiliki peranan penting bagi masyarakat Alor, yaitu kepemilikan terhadap jumlah dan jenis moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang. Di beberapa suku tradisional di Pulau Alor moko digunakan sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Selain sebagai alat musik tradisional, Moko juga berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor. Hal inilah yang kemudian menyebabkan inflasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda sehingga membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko di Pulau Alor.

 

Saat ini, moko berfungsi sebagai peralatan belis atau mas kawin serta simbol status sosial. Dalam adat dan istiadat pernikahan masyarakat Alor, moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon isterinya. Moko dipercaya dapat mengikat pernikahan.

 

Selain moko, Pulau Alor ternyata secara mengejutkan menyimpan sebuah Al-Quran yang berusia 800 tahun. Kitab suci umat Islam tersebut hingga saat ini adalah yang tertua bukan saja di Indonesia tetapi di Asia Tenggara. Terbuat dari bahan kulit kayu dan pewarna alam, Al-Quran ini masih utuh kelengkapan ayat dan suratnya. Tahun 1982, sempat terjadi kebakaran di perkampungan Muslim ini termasuk rumah tempat disimpannya Al-Quran tua tersebut. Untungnya Al-Quran itu selamat dan tidak rusak padahal disimpan dalam kotak kayu yang mudah terbakar. Al-Quran tua ini pada April 2011 pernah sekali dibawa keluar dari Pulau Alor untuk dipamerkan dalam Festival Legu Gam, Ternate, melalui Kesultanan Ternate.

 

Anda dapat melihat Al-Quran tersebut di Desa Alor Besar yang disimpan oleh Nurdin Gogo, yaitu generasi ke-15 keturunan Iang Gogo, penyebar agama Islam yang datang dari Ternate. Iang Gogo membawa Al-Quran dari kulit kayu ke wilayah ini sekaligus berperan sebagai guru agama Islam. Ia hidup pada masa Sultan Baabullah (1570-1583) tetapi Al Quran tua tersebut diperkirakan sudah ada sebelumnya.

 

Agama Islam sendiri bukanlah agama mayoritas di Alor tetapi keberadaan Al-Quran tua ini sangatlah berarti bagi masyarakat Kabupaten Alor. Hal itu menunjukan bagaimana kerukunan hidup beragama begitu terjalin harmonis, persis seperti watak masyarakat Alor yang ramah. Bahkan kiranya tidak keliru apabila orang-orang memanjangkan kata Alor yang singkat sebagai: Alam Lestari dan Orang Ramah. Kunjungi saja Pulau Alor dan buktikan sendiri!

Noken: Mahakarya Wanita Papua

Mama-mama Papua telah berabad lamanya memvisualisasikan seperti apa bentuk organ reproduksi wanita dan elastisitas rahim tempat bayi mereka melalui perspektif kearifan lokal bernama noken. Jadi, ini bukan kantung biasa ini benda yang istimewa tentunya!

Mama-mama di Papua berjalan kaki dengan semangat untuk mencapai rumah setelah seharian penuh berususan dengan ladang. Mereka menyusuri jalan sambil membawa tas-tas besar yang digantungkan di kepala dan bagian kantungnya menjuntai hingga punggung. Kantung rajutan itu tampak tidak ringan karena membawa muatan sepeti umbi-umbian, sayur-sayuran, barang-barang, anak babi, bahkan ada yang menggunakannya untuk menggendong bayi.

Kantung rajutan khas Papua itu bernama noken, yaitu wadah menyerupai tas (tetapi bukan tas) yang dibuat dari bahan alami berupa serat kayu ataupun daun (saat ini ada juga yang dari benang). Noken otentik terbuat dari akar-akaran yang dipilin dan dijalin berbentuk jaring sehingga sangat elastis, barang dengan dimensi besar sekalipun muat di dalamnya. Noken telah menjadi lambang kesuburan serta simbol kehidupan dan perdamaian bagi masyarakat di Papua, terutama di Pegunungan Tengah Papua seperti suku Mee, suku Damal, suku Yali, suku Lani dan suku Bauzi.

Masyarakat Papua biasanya menggunakan pohon manduam dan pohon nawa untuk membuat noken yang daya tahannya mencapai tahunan. Bahan tersebut selanjutnya harus dibersihkan, dipilin, dirajut atau dianyam membentuk pola dan ikatan yang harmonis satu sama lain. Dalam proses pembuatan noken dibutuhkan keuletan dan kesabaran, maka tidak heran karakter itu sesuai dengan naluri seorang ibu.

Pembuatannya cukup rumit karena dirajut tidak menggunakan mesin. Warna-warni noken yang bervariasi dihasilkan oleh pewarna alami. Untuk membuat satu noken dibutuhkan waktu 1-2 minggu, untuk noken berukuran besar membutuhkan waktu hingga 3 minggu.

Ketika ikatan dari sebuah noken sudah terbentuk maka akan saling menopang agar semakin kokoh memuat bawaan yang volumenya berkali lipat dari volume noken itu sendiri, demikian pula untuk menggendong anak yang masih kecil. Hal ini tentunya persis seperti sifat elastis jaringan otot polos rahim yang mampu mengerut dan memelar sesuai umur kandungannya.

Fungsi noken beragam, mulai dari memuat harta keluarga, hasil kebun, kebutuhan sehari-hari, hingga tempat menggendong bayi. Noken yang berukuran kecil biasanya digunakan untuk membawa barang-barang pribadi, sementara yang berukuran besar untuk mengangkut barang seperti kayu bakar dan tanaman hasil panen. Siapapun dapat memiliki noken karena benda ini dijual sebagai oleh-oleh untuk wisatawan, harganya relatif murah antara Rp25-Rp50 ribu tergantung jenis dan ukurannya.

Apabila ingin melihat langsung pembuatannya, Anda bisa mengunjungi Desa Sauwandarek di Wayag, Kabupaten Raja Ampat. Noken hanya dibuat oleh perempuan di Papua dimana itu juga sekaligus penanda kedewasaan wanita. Jika sudah dianggap dewasa maka ia baru boleh menikah.

Sebagai benda budaya noken telah terdaftar di UNESCO sebagai warisan kebudayaan tak benda pada 4 Desember 2012. Pengakuan UNESCO diharapkan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya noken yang dimiliki oleh lebih dari 250 suku bangsa di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Silek Harimau: Silat Khas Minangkabau

Pencak Silat adalah salah satu seni bela diri Nusantara yang terkenal di dunia dan berkembang di Asia Tenggara. Pencak silat dipengaruhi ilmu beladiri Cina dan India yang dibawa pedagang dan perantau dari Cina, India, Arab, Turki, dan lainnya. Multibudaya itu kemudian berasimilasi dengan kebudayaan penduduk asli bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu.

Kata pencak silat merupakan kata majemuk dari pencak yang digunakan masyarakat Pulau Jawa, Madura dan Bali, serta kata silat yang biasa digunakan masyarakat di wilayah Indonesia lainnya serta di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan di Thailand bagian selatan dan Filipina.

Penggabungan kata pencak dan silat pertama kalinya dikenalkan tahun 1948 saat dibentuknya organisasi persatuan perguruan pencak dan perguruan silat di Indonesia yang diberi nama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Surakarta. Sejak saat itu pencak silat menjadi istilah resmi di Indonesia dan perguruan-perguruan yang mengajarkan pencak dan silat asal Indonesia di berbagai negara kemudian juga menggunakan istilah pencak silat.

Secara internasional pencak silat menjadi istilah resmi sejak dibentuknya Organisasi Federatif Internasional yang diberi nama Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (PERSILAT) di Jakarta tahun 1980. Meski demikian, karena kebiasaan yang mengakar, kata pencak dan silat masih digunakan secara terpisah.

Pencak silat diperkirakan menyebar di Nusantara sejak abad ke-7 M tetapi asalnya belum dapat dipastikan. Saat ini pencak silat diakui sebagai budaya suku Melayu pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, juga di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dimana mereka mengembangkan bentuk silat tradisional khas mereka sendiri.

Pencak atau mancak memiliki gerakan mirip tarian yang ditampilkan di depan penonton dalam acara adat dengan gerakan yang anggun. Sementara itu, silat atau silek adalah ilmu bela diri dengan gerakan sederhana, efektif, cepat, dan akurat, bertujuan untuk menghentikan serangan lawan. Saat ini sebagian orang belajar silek untuk ilmu bela diri dan yang lain mempelajarinya sebagai bentuk seni bela diri.

Dalam Bahasa Minangkabau, silat sama dengan silek. Silek di Minangkabau mempunyai dua tujuan yaitu ilmu bela diri menghadapi serangan musuh dan sebagai pertahanan negeri. Hal ini didasari keadaan Minangkabau yang saat itu merupakan daerah subur penghasil rempah-rempah telah mengundang kedatangan pihak lain untuk menguasainya. Saat masa damai, bela diri ini kemudian diarahkan agar tetap lestari dalam bentuk seni tarian sekaligus penyaluran energi silat yang cenderung panas dan keras agar menjadi lembut dan tenang.

Orang Mingkabau menyebut silek sebagai panjago diri dan parik paga dalam nagari. Silek tidak saja sebagai alat untuk bela diri tetapi juga mengilhami gerakan dasar berbagai tarian dan randai (baca: drama Minangkabau). Randai memadukan alat musik, teater tradisional, dan gerakan silat tradisional Minangkabau untuk menghibur masyarakat dan biasanya diadakan saat pesta rakyat atau hari raya Idul Fitri.

Randai awalnya adalah media untuk menyampaikan cerita-cerita rakyat, dan kurang tepat jika Randai disebut sebagai teater tradisi Minangkabau, walaupun dalam perkembangannya Randai mengadopsi gaya bercerita atau dialog teater atau sandiwara.

Silek Harimau Minangkabau memiliki sederetan gerakan lincah seperti menendang, memukul, mengunci, menahan, bertarung di tanah, dan mengunakan senjata. Langkah dalam permainan Silek Minangkabau mirip langkah berjalan dan posisinya lebih sering merendah dikombinasikan gerakan anggun namun kuat.

Mid Djamal dalam bukunya tahun 1986 menyebutkan pendiri Silek adalah Datuak Suri Dirajo di Pariangan, Padangpanjang sekitar tahun 1119. Ia dibantu beberapa rekan-rekannya yang datang dari luar negeri, yaitu Kambiang Utan (Diduga dari Kamboja), Harimau Champo (Diduga dari Champa), Kuciang Siam (Diduga dari Siam atau Thailand), dan Anjiang Mualim (Diduga dari Persia).

Silek Harimau adalah seni bela diri yang berasal dari Padang terutama Minangkabau. Gerakan silek menyerupai teknik dan filosofi harimau ketika menyerang mangsanya. Salah satu cirinya dapat dilihat melalui teknik tangan terbuka yang meniru cakar harimau.

Nama Minangkabau sendiri berasal dari dua kata, minang dan kabau. Kata ini merefleksikan harga diri dan kelompok etnis matrilineal adat dataran tinggi di Sumatera Barat. Sebagai kelompok etnis matrilineal terbesar di dunia, anak lelaki masyarakat Minangkabau belajar bagaimana hidup di luar kampung halaman saat usianya cukup dewasa. Hal ini dikenal sebagai tradisi merantau, bertujuan mencari kehidupan lebih baik sekaligus mendapatkan pengetahuan dan pengalaman. Masyarakat Minangkabau memegang nilai penting bagaimana cara melindungi diri dan tanah kelahiran mereka melalui ilmu bela diri ini.

Nama Minangkabau juga dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang, konon dahulu ada kerajaan asing (diduga Majapahit, Red) yang datang dari laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar yang dipasang pisau pada tanduknya.

Saat pertarungan, anak kerbau yang lapar tersebut menyangka kerbau besar itu induknya sehingga langsung berlari mencari susu sambil menanduk dan mencabik-cabik perut kerbau besar lewat pisau di tanduknya. Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat untuk memakai nama Minangkabau yang berasal dari kata ‘Manang kabau‘ dan berarti ‘menang kerbau’. Nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau yang terletak di Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.

Tenun Songket Silungkang: Kilau Benang nan Indah dari Minang

Tenun songket asal Silungkang terkenal memiliki kualitas tinggi, bukan hanya kilau benang emas beragam motif unik tetapi juga fungsi sosial sebagai alat kelengkapan busana tradisional. Lebih jauh, terkandung nilai filosofis kehidupan orang Minang dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tentang kesakralan, keindahan, ketekunan, ketelitian, dan juga kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin terwujud helaian tenun songket yang indah itu.

Inilah salah satu karya terbaik yang dihadirkan budaya Minangkabau. Ketika Anda usai mengarungi keindahan Danau Singkarak, Danau Maninjau, atau pun Danau Kembar di Sumatera Barat maka pastikan menyusuri jejak sejarah pertambangan di Sawahlunto. Di kota yang terkungkung gunung dan bukit bak kuali itu akhiri plesirnya dengan menyambangi Silungkang, lokasinya persis di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) ruas Sawahlunto-Solok.

Tentunya ada yang istimewa di Silungkang. Di sinilah tempat tenun songket terindah di Nusantara dibina helai demi helai benangnya menjadi sebuah lembaran kain yang amat indah. Meski hanya sebuah nagari atau desa namun nama Silungkang terkenal hingga di Asia Tenggara dan bahkan wisatawan peminat kain songket dari Eropa. Desa yang luasnya sekira 4.800 hektar tersebut penduduknya sejak dahulu sudah memiliki keahlian menenun kain songket yang mereka pelajari saat berdagang ke Siam (Thailand) abad ke-12. Di sana mereka belajar dari penduduk Siam untuk kemudian mengembangkannya sendiri di kampung halaman dengan corak yang lebih unik dan perpaduan dua atau tiga jenis benang dalam satu motif.

Songket Silungkang tenunan dasarnya berciri warna merah tua, hijau tua, atau biru tua. Motif ragam hiasnya dibentuk dengan benang mas, perak, juga benang berwarna lainnya. Ada dua macam kain songket, yaitu: pertama, kain songket ragam hias benang berwarna mas; dan kedua, kain songket ragam hias bukan dari benang berwarna emas.

Kain songket motif benang mas selain jumlahnya relatif terbatas dan harganya mahal, juga dipakai saat acara tertentu seperti perkawinan, batagak gala (penobatan penghulu), dan penyambutan tamu penting. Sementara itu, kain songket bukan dari benang berwarna emas untuk memenuhi pasaran umum dan bukan busana tradisional sehingga cukup berragam seperti untuk bahan kemeja, selendang, taplak, dan lainnya.

enun Songket Silungkang, Sumatera Barat (Photo credit: Him @Saifanah)
Tenun Songket Silungkang, Sumatera Barat (Photo credit: Him @Saifanah)

Kain songket silungkang dibentuk dari bahan dasarnya benang tenun yang disebut benang lusi atau lungsin dengan satuan ukurannya disebut palu. Hiasannya songketnya sendiri menggunakan benang makao atau benang pakan dengan satuan ukuran disebut pak. Benang lusi dan makao tersebut memiliki dasar yang berbeda baik pada warna, ukuran, maupun bahan seratnya. Dari perbedaan itulah yang kemudian melahirkan ragam hias kain songket yang menonjol dan terlihat karena berbeda dengan tenun latarnya.

Peralatan untuk membuat tenun songket silungkang persis seperti tenun di Pandai Sikek. Alat utamanya adalah seperangkat alat tenun yang dibuat sendiri, yaitu meliputi: panta, alat gulungan untuk benang dasar tenunan, sisia, alat untuk merentang dan memperoleh benang tenunan, pancukia, alat untuk membuat motif songket, dan turak, alat untuk memasukkan benang lain ke benang dasar. Selain itu, ada pula alatan tambahan berupa alat bantu yang digunakan sebelum dan sesudah proses pembuatan songket, yaitu ani dan alat penggulung kain hasil tenunan yang berbentuk kayu bulat dengan panjang sekitar 1 meter dan berdiameter 5 cm.

Pembuatan tenun songket silungkang melalui dua tahapan, yaitu menenun kain dasar dengan konstruksi tenunan rata atau polos, kemudian yang kedua menenun bagian ragam hias yang merupakan bagian tambahan dari benang pakan. Lama tidaknya pembuatan suatu tenun songket ini bergantung pada jenis tenunan yang dibuat, ukurannya, juga kehalusan dan kerumitan motifnya. Semakin halus dan rumit motif songketnya maka semakin lama pengerjaannya. Pembuatan sarung dan atau kain tersebut memerlukan waktu kurang lebih satu bulan. Setiap harinya seorang pengrajin rata-rata hanya dapat menyelesaikan kain sepanjang 5-10 cm.

Tenun silungkang umumnya jenis bertabur, yaitu songket yang hiasannya tidak memenuhi bidang kain, dengan dasar songket ada yang polos dan ada yang kotak-kotak. Motif tenun silungkang ini terinspirasi dari alam sekitar seperti pucuak rabuang yang paling terkenal di samping ada motif bunga, motif burung, sirangkak, balah katupek, dan lainnya. Motif bentukannya lebih sederhana bila dibandingkan dengan tenun songket Pandai sikek dan tidak rumit dalam pengerjaannya sehingga dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun demikian justru kesederhanaan itulah yang membuat kain songket silungkang begitu memikat dan banyak digemari bahkan hingga ke Malaysia dan Brunei.

Kini para pengrajin kain songket silungkang memadukan teknik ikat dengan teknik songket dengan berbagai variasi motif. Bahan yang digunakan pun saat ini selain benang katun juga benang sutera dengan hiasan benang makau atau benang katun berwarna. Produksi turunan kain songket pun semakin beragam, yaitu berupa: baju wanita, sprey, baju kursi, bantal permadani, selendang, serber, kain lap dapur, sapu tangan, bahan kemeja, tussor (bahan tenun diagonal), gambar dinding, taplak meja, permadani bergambar, dan taplak meja polos.

Bahkan, kini bukan hanya kain songket silungkang yang mereka produksi tetapi juga alat tenunnya, benang, konstruksi tenunan, sampai proses pewarnaannya. Silungkang bahkan menjadi daerah pemasok benang tenun yang telah dicelup atau diwarnai untuk kebutuhan pengrajin tenun di Sumatera Barat.

Untuk berbelanja kain silungkang Anda dapat mampir ke Jalan Lintas Sumatera ruas Sawahlunto-Solok. Di sana berjejer butik, toko dan juga pabrik kain tenun khas silungkang. Salah satunya adalah Toko Tenun dan Songket Silungkang di Dusun Lubuk Nan Gadang Silungkang III, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto.

Batu Bacan: Istimewa dari Maluku Utara

 

16711996661_5584ddfa1e_o

Dari sekian banyak kekayaan alam yang dihadirkan di Maluku Utara, adalah bacan sebuah nama pulau, nama kerajaan, sekaligus juga nama batu mulia yang telah melambungkan namanya ke mancanegara. Untuk yang terakhir itu, bacan sebagai nama jenis batu mulia telah tersohor hingga ke luar negeri bukan hanya di masa sekarang melainkan sejak abad pertengahan dimana kawasan ini menjadi pusat rempah-rempah dunia.

 

Meski pamor batu bacan menguat beberapa tahun belakangan di kalangan peminat batu mulia namun sebenarnya orang di kawasan empat kerajaan Maluku (Terante, Tidore, Jailolo, dan Bacan) sudah mengetahui jauh sebelumnya. Nama pulau penghasil batu bacan sendiri adalah Pulau Kasiruta. Akan tetapi, penisbahan nama bacan diawali dari tempat pertama kali batu itu diperdagangkan, yaitu Pulau Bacan yang tidak seberapa jauh jaraknya dari Pulau Kasiruta.

 

Batu bacan merupakan ‘batu hidup’ karena kemampuannya berproses menjadi lebih indah secara alami ataupun cukup dengan mengenakannya setiap hari dalam bentuk cincin, kalung, ataupun kepala sabuk. Batu bacan dengan inklusi atau serat batu yang banyak secara perlahan akan berubah menjadi lebih bersih (bening) dan mengkristal dalam waktu bertahun-tahun.

 

Sebagai contoh, batu bacan warna hitam secara bertahap mampu berubah menjadi hijau. Tidak cukup berproses sampai di situ, berikutnya batu ini masih bisa berubah lagi dalam proses ‘pembersihan’ sehingga menjadi hijau bening seperti air. Untuk mempercepat proses tersebut biasanya pemilik batu bacan akan terus-menerus memakainya hingga berubah warnanya.

 

Tidak hanya mampu ‘hidup’ berubah warna secara alami, batu bacan juga untuk beberapa jenis dapat menyerap senyawa lain dari bahan yang melekatinya. Seperti sebutir batu bacan hijau doko yang dilekatkan dengan tali pengikat berbahan emas mampu menyerap bahan emas tersebut sehingga bagian dalam batunya muncul bintik-bintik emas.

 

Kemampuan batu bacan yang berubah warna secara alami dan mencerap bahan melekatinya itulah yang membuat pecinta batu mulia di luar negeri dari China, Arab, dan Eropa tercengang dan kagum terhadapnya. Selain itu, batu bacan juga memiliki tingkat kekerasan batu 7,5 skala Mohs seperti batu jamrud dan melebihi batu giok. Dengan keistimewaan dan keunggulan batu bacan itulah banyak pecinta batu mulia dari luar negeri memburunya sejak tahun 1994. Di Indonesia sendiri batu ini baru popular belakangan sejak 2005 dimana sekarang harganya sangat mahal serta kurang logis bagi orang awam.

 

Penambangan batu bacan sendiri di Pulau Kasiruta tidaklah mudah karena perlu penggalian tanah hingga lebih dari 10 meter. Penambang batunya perlu mencari di tanah terdalam demi mencari urat-urat galur batu bacan. Meski lebih identik dengan warna hijau, batu bacan sebenarnya memiliki ragam warna lain seperti kuning tua, kuning muda, merah, putih bening, putih susu, coklat kemerahan, keunguan, coklat, bahkan juga beragam warna lainnya hingga 9 macam.

 

Batu bacan diketahui telah menjadi perhiasan hampir setiap warga sejak masa empat kesultanan (Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) di Maluku Utara, baik itu oleh pria maupun wanita. Bahkan, batu bacan terbaik menjadi penghias mahkota para sultan yang masih ada hingga saat ini seperti pada mahkota Kesultanan Ternate. Sering pula batu ini menjadi hadiah bagi tamu yang menyambangi pulau-pulau di Maluku. Tahun 1960 saat Presiden Soekarno berkunjung ke Pulau Bacan dihadiahi warga di sana berupa batu bacan. Presiden SBY juga sempat menghadiahi Presiden Amerika Serikat, yaitu Barrack Obama berupa cincin batu bacan saat berkunjung ke Indonesia.

 

Apabila Anda menyambangi Ternate, Tidore, Jailolo, atau pun Pulau Bacan maka pastikan mendapatkannya untuk sebuah cenderamata. Akan tetapi, perlu kecermatan memilih atau mintalah saran orang yang memahaminya terkait keasliannya. Hindari pula membeli batu bacan ‘mati’ yang dibentuk jadi mata kalung atau mata cincin dimana terkadang batu tersebut tidak akan proses lagi.

 

Sebagai panduan singkat bahwa jenis batu bacan berkualitas yang umum dikenal dan beredar di pasaran ada dua, yaitu bacan doko dan bacan palamea. Bacan doko kebanyakan berwarna hijau tua sedangkan bacan Palamea berwarna hijau muda kebiruan. Nama palamea dan doko sendiri diambil dari nama desa di Pulau Kasiruta. Kedua desa tersebut memiliki deposit batu bacan cukup banyak selain di desa Imbu Imbu dan Desa Besori. Batu bacan sendiri merupakan jenis batu krisokola yang kebanyakan berwarna hijau kebiruan. Kekerasan awal batu ini berkisar antara 3-4 pada skala Mohs. Batu Bacan berkualitas adalah yang telah mengalami proses silisifikasi sehingga kekerasannya mencapai 7 pada skala Mohs. Batu bacan yang sudah memproses alami akan terlihat mengkilat dan keras ketika sudah diasah.

 

Tari Gandrung: Memikat Dinikmati dari Banyuwangi

Seorang penari gandrung akan menari mengikuti irama instrumen gamelan dengan berbekal sebuah kipas. Ketika kipas sang penari dikibaskan pada salah seorang penonton maka itu berarti sang penari mengajaknya maju ke arena untuk menari bersama.

Banyuwangi dijuluk sebagai “Kota Gandrung” mengingat daerah ini merupakan rumah kesenian tersebut. Bahkan, sejak tahun 2000, tari gandrung telah resmi menjadi maskot pariwisata Banyuwangi dan dipromosikan lewat pementasan di berbagai daerah seperti Surabaya, Jakarta, Hongkong, bahkan hingga ke Amerika. Tarian gandrung juga adalah salah satu tarian Nusantara khas Banyuwangi yang disukai oleh Presiden Soekarno. Bahkan, saat itu sang presiden sering mengundang penari ganrung untuk tampil di Istana Negara.

Tarian gandrung biasanya dibawakan sepasang penari, yaitu penari perempuan sebagai penari utama dan lelaki dari penonton yang diajak menari atau disebut sebagai paju. Tari gandrung sering dipentaskan pada acara perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan, dan acara lainnya. Pertunjukan tarian secara khusus biasanya dimainkan pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh.

Tari gandrung mirip tari ketuk tilu di Jawa Barat, tari tayub di Jawa Tengah, tari lengger di Cilacap dan Banyumas, atau joged bumbung di Bali. Tarian ini juga mirip tari seblang apabila dilihat dari seni gerakan tari, nyanyian, serta alat musik yang digunakan. Hal yang membedakan pada tari seblang biasanya disertai kerasukan pada sang penarinya, sementara tari gandrung lebih bersifat hiburan semata.

Tari gandrung sendiri berasal dari kata gandrung, yang berarti kekaguman. Kemunculan tarian ini diperkirakan saat dibabadnya Hutan Tirtagondo (Tirta Arum) untuk dijadikan wilayah Ibu Kota Balambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang) atas prakarsa Mas Alit yang dilantik sebagai bupati pada 2 Februari 1774. Tarian gandrung dimainkan untuk menghibur para pembabat hutan dan mengiringi upacara selamatan terkait pembabatan Hutan Tirtagondo yang dianggap angker saat itu oleh warga sekitar.

Ada pula versi lain yang menyatakan bahwa tarian ini adalah kesenian peninggalan Majapahit dan pada masa itu hanya ditampilkan untuk kalangan kerajaan saja. Pada masanya tarian ini dipentaskan malam hari saat Bulan Purnama. Ketika pertama kali berkembang, tari gandung hanya dimainkan penari pria yang berdandan dengan pakaian dan riasan perempuan. Seiring berkembangnya pengaruh agama Islam, tarian gandrung kemudian lebih banyak dimainkan penari perempuan karena adanya fatwa ulama bahwa seorang lelaki tidak diperkenankan berdandan seperti perempuan.

Saat pertama kali berkembang, tarian gandrung hanya diiringi alat musik tradisional gamelan. Barulah pada masa sekarang tarian ini diiringi alat musik yang lebih lengkap namun kendang dan biola tetaplah menjadi ciri khasnya. Selain itu, dahulu busana yang dikenakan penari sangat sederhana, berupa mahkota terbuat dari dedaunan. Sekarang, pakaian penari gandrung telah menyesuaikan dengan zaman mahkota dan pakaian yang indah penuh warna berkilap.

Apabila diperhatikan, seorang penari gandrung akan selalu mengenakan mahkota unik yang disebut omprok. Pada mahkota juga diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah penari bulat telur serta tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Mahkota penari tersebut biasanya terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, yaitu putra Bima dalam legenda pewayangan.

Pakaian yang dikenakan penari gandrung terbuat dari beludru berwarna hitam yang dihias ornamen kuning emas serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada. Untuk bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka lalu bagian lengan dihias kelat bahu dan bagian pinggang dengan ikat pinggang serta sembong sebagai pemanis. Selendang juga akan selalu dikenakan sang penari di bahunya.

Sementara itu, untuk bagian bawah busananya, penari gandrung mengenakan kain batik dan yang umum adalah batik corak gajah oling atau corak tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Dahulu seorang penari ganrung akan menari tanpa alas kaki dan baru sejak tahun 1930-an penarinya selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukan.

Setiap kali taian ganrung dimainkan maka akan selalu melibatkan penari, instrumen alat musik tradisional, nyanyian, gerak tari, dan arenanya yang berupa lapangan terbuka atau panggung. Saat ini biasanya ketika tarian ini dipentaskan maka erat kaitannya dengan kepentingan pemilik hajatan. Tari ini juga sering dijadikan media untuk mencari sumbangan dari tamu yang hadir.

Sebagai salah satu kesenian daerah asli Banyuwangi, tari gandrung banyak dibawakan masyarakat mulai dari usia anak-anak hingga orang dewasa. Selain itu, tarian ini pun terus dilestarikan dimana sekolah-sekolah di daerah tersebut menjadikan tarian ini masuk salah satu kegiatan ekstrakurikulernya dalam berbagai macam versi seperti tari gandrung jejer, jaran dawuk, atau tari gandrung jejer gandrung dor.

Tari gandrung juga kini telah berkembang hingga ke Bali dan Sasak (Lombok). Apabila di Banyuwangi tari ini menunjukkan penari yang bertingkah mesra pada maka di Lombok tariannya lebih riang dengan penari yang sering berlenggang-lenggok. Sementara itu, di Bali tarian ini lebih dikenal sebagai tari joged muani dengan goyangan atraktif dan sorot mata khas tari Bali sehingga cukup digandrungi kalangan muda. (Him)

Ketika Tubuh Dibawa Sungai Citumang

Sungai Citumang (Photo Credit: Him)
Sungai Citumang (Photo Credit: Him)

Saat Anda menyambangi Pangandaran, beranjaklah mengarahkan tujuan ke arah barat sekira 4 km dari Jalan Raga Pangandaran-Cijulang. Di sana berdiam suguhan alam memesona berupa sungai berwarna hijau jernih yang sempurna untuk kegiatan body rafting. Sungai ini dinamai Citumang, lokasinya persis di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Pangandaran. Apabila Anda melanjutkan perjalanan dari Batu Karas maka itu lebih dekat sekira 20 menit saja.
Nama citumang sendiri berasal dari kepercayaan penduduk setempat bahwa di sungai tersebut terdapat seekor buaya yang kakinya buntung. Penduduk memberi nama buaya itu Si Tumang yang kemudian perlahan menjadi nama sungai yang membelah hutan alami tersebut. Ada pula versi lain yang menyebut asal namanya ini terkait aliran sungai yang berhulu keluar dari gua kemudian jatuh membentuk curug (air terjun). Aliran air di atas gua di sebut numpang dalam bahasa Sunda namun masyarakat setempat lebih suka menyebut Citumang dibandingkan Citumpang.
Ketika Anda tiba di Sungai Citumang, bersiaplah terpukau menyaksikan bening dan hijaunya warna air sungai ini. Airnya mengalir membelah hutan jati, melalui bebatuan dan jeram yang nikmat untuk dilompati. Menjelajah sepanjang aliran sungai ini dengan body rafting tentunya akan memberikan sensasi tersendiri yang belum pernah Anda alami sebelumnya.
Sesaat sebelum memulai pengarungan Anda akan diajak berjalan kaki melewati hutan dengan pepohonan dan batuan dari tebing bukit. Sebelum pengarungan pun akan Anda dapati jernihnya air yang melalui Desa Bojong seakan terus menggoda agar segera menceburkan diri.
Sekira 500 meter ke arah hulu sungai sebelum dimulainya keseruan body rafting akan ditemui keajaiban alam berupa Goa Taringgul atau dikenal Sanghyang Tikoro. Goa ini menurut masyarakat setempat dialiri air hingga ke bawah tanah hingga kedalaman 50 meter. Perlu diketahui bahwa oksigen di dalam goa terbatas terbatas sehingga perlu peralatan khusus apabila berniat menjelajahnya untuk keperluan ekspedisi. Goa dengan lubang langit setinggi 6 meter itu juga dihiasi akar pohon melintang yang sering dimanfaatkan pengunjung untuk menjadi tangga apabila cukup nyali melompat ke sungai.
Kegiatan body rafting ideal dilakukan di Sungai Citumang  karena memiliki debit air cukup deras sehingga mampu membawa tubuh Anda mengapung (dengan pelampung) menyusuri sungai. Anda hanya perlu membiarkan tubuh mengambang terbawa arus sembari menikmati suguhan lebatnya hutan hijau yang masih alami.

 

 

Kerkhof Peucut: Saksi Bisu Dasyatnya Perang Aceh

Kerkhof Peucut merupakan kuburan serdadu Belanda yang terletak di luar Belanda. Kuburan ini merupakan pemakaman terbesar kedua tentara Belanda setelah yang pertama terbesar di Belanda dan terbesar pertama di luar Belanda. Komplek Makam Kerkhoff berukuran 150 x 200 m berlokasi di Jalan Teuku Umar, Kampung Sukaramai, Blower (samping Blang Padang) Banda Aceh.

Di sini terkubur sekira 2.200 serdadu Hindia Belanda termasuk empat orang jenderal kenamaan. Hingga saat ini Pemerintah Kerajaan Belanda sangat haru dan menghormati warga Banda Aceh yang merawat dengan rapi kuburan tersebut.

Perang Aceh sendiri berlangsung 1873-1904 dimana menjadikannya perang paling pahit bagi Belanda melebihi pahitnya pengalaman mereka dalam Perang Napoleon. Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada 8 April 1873 melalui laut sambil menembakkan meriam dari kapal perang Citadel Van Antwerpen. Saat itu tentara Belanda jumlahnya mencapai 3.198 orang, termasuk tentara dari etnis Jawa, Ambon, Batak, dan tentara etnis Indonesia lainya yang tergabung dalam Angkatan Bersenjata Hindia-Belanda.

Pada masa pendudukan Hindia Belanda, Masjid Agung Baiturrahman dikuasai tentara Belanda. Namun, pada periode pertama perang tersebut (1873-1874), masyarakat Aceh berhasil menahan serangan Belanda. Johan Harmen Rodolf Kohler yang merupakan jenderal Belanda yang memimpin Perang Aceh kemudian terbunuh dan dimakamkan di Kerkhoff, Banda Aceh.

Bagian paling meletihkan selama perang tersebut adalah perjuangan merebut kembali Masjid Agung Baiturrahman. Perang terus berkecamuk hingga empat periode dari 1873 sampai 1910. Dengan metode perang gerilya akhirnya pejuang Aceh membuat Belanda menyerah dan meninggalkan Tanah Rencong. Cut Nyak Dhien yang memimpin peyerangan tersebut terus berjuang melawan kolonialisme hingga akhirnya ditangkap, diasingkan dan wafat di Sumedang, Jawa Barat.

image

Banyak hal menarik dapat Anda temui di kompleks pemakaman ini. Seperti kisah para prajurit semasa hidupnya sampai pada saat dikubur. Semuanya diceritakan sekilas pada batu nisan sehingga makam ini seolah-olah sedang bercerita kepada Anda tentang masa hidupnya.

Ada yang unik di tengah-tengah kuburan tentara Belanda itu, terdapat sebuah kuburan yang terpisah dari yang lainnya, yaitu kuburan Meurah Pupok, putera kesayangan Sultan Iskandar Muda. Meurah Pupok dihukum rajam oleh ayahnya sendiri karena berbuat zina dengan isteri seorang perwira muda yang menjadi pelatih dari angkatan perang Aceh. Akhirnya Meurah Pupok tertangkap dan dihukum rajam sampai mati oleh Sultan Iskandar Muda selaku ayahnya di depan umum.

Makam Kerkhoff tidak saja bukti nyata kepahlawanan rakyat Aceh melawan penjajah tetapi juga isyarat tentang pentingnya seorang pemimpin menjunjung tinggi hukum dan keadilan.

 

Bintan Triathlon 2016

Sebelum tanggal puncak penyelengaraan terdapat lomba lain yang dilaksanakan yaitu Bintan Swim Classic pada tanggal 27 Mei 2016.

Triathlon merupakan kombinasi beberapa olahraga, yaitu renang, balap sepeda dan lari. Kategori yang akan dilombakan dalam Bintan Triathlon adalah:

  1. Olympics Distance yang terdiri dari 1,5km berenang, 40km bersepeda, dan 10 berlari.
  2. Sprint Distance terdiri dari 750m berenang, 20 km bersepeda, dan 5 km berlari.
  3. Youth Distance terdiri dari 300m berenang, 12 km bersepeda, dan 3 km berlari.
  4. Kids Distance terdiri dari 150 m berenang, 6 km bersepeda, dan 1,5 km berlari.

Selain kategori tersebut terdapat pula perlombaan baru lain seperti Super Sprint Relay, Fun Duo Challenge serta Bintan Swim Classic.Pada Super Sprint Relay peserta beranggotakan 3 orangdan menempuh 250 m renang, 6 km bersepeda dan 1,5 km berlari. Syaratnya adalah minimal berumur 16 tahun pada 31 Desember 2016.

Untuk mengenalkan olahraga atletik triathlon maka diadakan Fun Duo Challenge yang memilki rute lebih pendek yaitu dimulai dengan 1,5 km berlari dan diikuti dengan 150 m berenang dengan anggota 2 orang. Pemenang akan dipilih kepada tim yang menampilkan atraksi, strategi dan kerjasama yang luar biasa serta tim yang finish dalam waktu terbaik.

Bintan Swim Classic terdri dari dua kategori yaitu 1000m dan 400m yang berlokasi di lepas pantai yang indah di Nirwana Gardens. Kondisi laut terbilang tenang pada Mei dengan suhu sekira 29 derajat celcius. Pada kategori 400m didesain untuk anak-anak dan pemula. Khusus saat lari akan ada drink stations yang tersedia di tiap dua kilometer.

Berbagai medan tempuh akan dilewati oleh peserta, seperti berenang yang berlokasi di lepas pantai yang indah di Nirwana Gardens. Kemudian saat bersepeda peserta akan melewati jalanan Bintan yang lebar dan mulus serta panorama indah di kawasan wisata Lagoi. Saat berlari peserta juga akan melalui rerimbun pepohonan dan pantai yang indah di Nirwana Gardens.

Bintan Triathlon merupakan Asia’s Premier Triathlon Fesitval dimana bukan hanya memberikan pengalaman bagi pesertanya namun juga hiburan dengan adanya kelas yoga, mencoba rute sepeda, melukis wajah, kolam busa, dan pesta di pinggir pantai setelah lomba. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Bintan juga memberikan apresiasi dengan menyajikan pertunjukan seni budaya yang meriah bagi peserta.Bintan Triathlon diorganisasi oleh Tribob, sebuah perusahaan manajemen olahraga yang berkedudukan di Singapura, sementara lombanya diselenggarakan oleh Meta Sport yang berpengalaman menyelenggarakan triathlon.

Pulau Bintan sendiri merupakan pulau tropis yang lokasinya tidak jauh dari Singapura. Di pulau indah ini terdapat hotel-hotel berkelas internasional dan lima lapangan golf fantastik, bahkan beberapa merupakan yang terbaik di Asia. Selain itu, Pulau Bintan juga memiliki banyak pantai yang menjadi lokasi wisata bahari dengan kondisi alam dan iklim nan eksotis serta dapat pula menikmati wisata sejarah dan budaya. Kebanyakan pengunjung datang ke Bintan dengan kapal ferry.Bintan pun mempunyai bandara kecil di Tanjung Pinang yang melayani penerbangan dari Jakarta.

Informasi dan keterangan silakan kunjungi laman berikut www.bintantriathlon.com.

Festival Sabang Fair 2016

ota Sabang terletak di Pulau Weh di ujung barat Indonesia. Sabang terkenal memiliki keindahan alam yang memukau serta atraksi budaya yang menarik.

Lokasi Sabang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga. Oleh karena itu, pelaksanaan Sabang Fair 2016 akan terasa istimewa dengan kehadiran perwakilan dari negara tetangga ASEAN yang telah diundang oleh Gubernur Aceh agar dapat turut serta dalam kemeriahan acara pesta budaya tahun ini. Panitia juga mengundang provinsi tetangga seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang akan berpartisipasi menampilkan kesenian budayanya masing-masing.

Terdapat 6 kriteria perlombaan yang telah ditetapkan selama berlangsungnya Sabang Fair 2016, diantaranya berikut ini.

  1. Lomba Tari Kreasi Baru Aceh Garapan
  2. Lomba Musik Etnik Kolaborasi Aceh Modern
  3. Lomba Cagok/Lawak Aceh
  4. Lomba Pawai Budaya
  5. Lomba Anjungan Pameran Kreatif Daerah

Pertunjukan Seni (Penampilan Sanggar Seni Se-Aceh)
Panitia acara telah menetapkan bulan Mei sebelum pelaksaan puasa di tahun 2016 dengan melakukan persiapan sebaik mungkin demi kesuksesan dan kepuasan peserta. Selain itu, pesta tahunan Sabang Fair Festival di tahun ini juga diadakan guna mempersiapkan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang akan diselenggarakan tahun 2017 nanti.

Informasi sejenis silakan melihat di laman berikut.

Budpar Kota Sabang