Upacara Adat Laut di Negeri Kita

Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Bangsa pelaut yang memiliki armada niaga, armada militer, dan kesibukannya di laut menandingi irama gelombang laut itu sendiri. (Ir. Soekarno)

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan 17.504 pulau, sekira 75% wilayahnya berupa lautan. Negara ini jelas dikelilingi laut. Tak ayal laut menjadi identitas masyarakat bahari Indonesia. Laut adalah tempat bergantung hidup dan sekaligus kehidupan itu sendiri. Laut juga menjadi lokasi diadakannya upacara adat atau festival sebab berbagai alasan dan tujuan yang dinilai sakral.

Berikut beberapa festival atau upacara adat masyarakat Indonesia yang mengambil lokasi di laut.

Hajat Laut Pangandaran, Jawa Barat

Hajat Laut Pangandaran adalah upacara yang dilakukan nelayan di Pangandaran sebagai wujud rasa terima kasih atau syukur terhadap Tuhan YME. Hajat ini biasanya dilaksanakan setiap bulan Syura atau bulan Muharam berdasar penanggalan Hijriah dan biasanya digelar setiap hari Senin atau Kamis terakhir di bulan Muharam. Wujud terima kasih ditunjukkan dengan cara melarung sesajen ke laut lepas. Sesajen yang dilarung berupa kepala kerbau dan kambing, makanan, buah-buahan, perhiasan atau aksesoris, pakaian, dan lain sebagainya.

Saat acara ini berlangsung, Pantai Timur Pangandaran akan dihiasi jajaran perahu kayu bercadik yang sudah dihias cantik. Beberapa perahu dibuat khusus dengan berukirkan kepala naga (atau pun ukiran lainnya) pada salah satu ujungnya. Perahu-perahu ini akan mengangkut dong dang atau sesaji ke tengah laut. Sesampainya di lokasi di tengah laut yang telah ditentukan, semua persembahan pun ditenggelamkan. Sebelum prosesi ini dimulai, sejumlah kegiatan atau ritual dan hiburan turut meramaikan dan memeriahkan hajat laut Pangandaran.

Tradisi hajat laut ini hampir selalu berhasil menarik ribuan wisatawan. Karenanya, selain mempertahankan budaya, hajat laut juga mendorong potensi pariwisata daerah. Pantai Pangandaran berjarak sekira 91 km dari Ciamis dan sering dikaitkan dengan keberadaan Nyi Roro Kidul yang dipercaya sebagai penguasa Pantai Selatan.

Pesta Lomban, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.

Pesta Lomban biasanya dilaksanakan pada hari ketujuh setelah Idul Fitri. Pesta laut ini adalah tradisi nelayan Karimunjawa sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan kekayaan dari laut yang menghidupi para nelayan. Selain sebagai wujud syukur, pesta ini dapat pula dianggap sebagai perayaan hari raya dengan bersenang-senang setelah sebulan penuh berpuasa.

Istilah Lomban sendiri dapat diartikan “bersenang-senang”; sesuai arti asal katanya dari bahasa lokal, yaitu “lomba-lomba” atau “lelumban”. Pesta Lomban ini juga dikenal dengan sebutan “Bada Kupat”, karena pada perayaan sedekah ini masyarakat Karimunjawa akan memasak ketupat sebagai simbol bagi hati yang kembali suci.

Pesta Lomban dimulai sejak pukul 06.00 WIB dan dipimpin oleh pemuka agama saat melakukan upacara pelepasan sesaji ke pantai. Sesaji yang dilarung berupa kepala kerbau, kaki, kulit, dan jeroannya dibungkus dengan kain putih. Sesaji lainnya berisi sepasang ketupat dan lepet, bubur merah putih, jajanan pasar, arang-arang kambong (beras digoreng), nasi yang diatasnya ditutupi ikan, ayam dekeman dan kembang boreh(setaman). Semua sesaji tersebut diletakkan dalam sebuah ancak kemudian dilepas atau dilarung ke tengah lautan teriring doa sesaji.

Tak hanya itu, kemeriahan pesta ini kian terasa saat beberapa perahu nelayan berebut mendapatkan air dari sesaji yang telah dilarung. Air tersebut kemudian disiramkan ke kapal mereka dengan keyakinan kapal tersebut akan mendapatkan banyak berkah saat mencari ikan nantinya. Tradisi perang ketupat juga mewarnai pesta ini, dimana antarperahu saling melempar ketupat. Tarian tradisional gambyong, langen beken, dan pertunjukan seni dan budaya Karimunjawa lainnya juga menjadi atraksi yang menarik dalam gelaran Pesta Lomban.

Upacara Melasti, Bali

Dilaksanakan pada tiga hari (tilem kesanga) sebelum Hari Raya Nyepi, Upacara Melasti bertujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk di masa lalu dan membuangnya ke laut. Selain melakukan sembahyang dan menyucikan diri, disucikan pula benda sakral milik Pura. Benda-benda tersebut kemudian diarak mengelilingi desa dengan maksud menyucikan desa lalu selanjutnya menuju samudra, laut, danau, sungai atau mata air lainnya yang dianggap suci.

Upacara yang juga dikenal dengan Upacara Melis atau Mekilis ini tepatnya dilangsungkan sebelum sebelum merayakan Tapa Brata penyepian. Dengan mengenakan baju putih, seluruh peserta upacara melakukan sembahyang dengan menghadap laut. Aneka rupa sesaji tak lupa melengkapi upacara.

Secara keseluruhan, Melasti adalah suatu upacara pembersihan atau penyucian kembali diri manusia, alam dan benda sakral dengan melakukan sembahyang dan permohon kepada Hyang Widhi. Dalam upaya itu, upacaramelibatkan perantara air kehidupan (laut, danau, sungai) sebagai media tempat dihanyutkannya segala kotoran. Di samping itu, upacara ini juga bertujuan untuk memohon kekuatan dalam melaksanakan rangkaian Nyepi.  

Bau Nyale, Lombok, NTB

Bau Nyale adalah upacara berburu cacing laut yang beraneka warna untuk menyambut Pasola. Pasola sendiri adalah pesta rakyat Pulau Sumba berbentuk permainan di atas kuda dan melempar lembing sebagai tanda syukur atas panen berlimpah. Tradisi Bau Nyale yang tenar di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ini biasanya diselenggarakan sekitar bulan Februari dan Maret atau lima hari setelah purnama pada bulan ke-10 pada Kalender Suku Sasak.

Nyale adalah sebutan bagi cacing laut beraneka warna yang ditangkap untuk diolah menjadi masakan khas. Menikmati nyale dapat berarti kemakmuran, sedangkan menolaknya dapat berakibat bencana. Demikianlah yang diyakini para penganut kepercayaan animism, Marapu.

Untuk menyambutnya biasanya masyarakat telah melakukan berbagai macam ritual dari jauh-jauh hari. Seorang Rato atau pemimpin Marapu lah yang biasanya menentukan tibanya Bau Nyale. Saat upacara ini berlangsung, ribuan orang akan berburu jutaan nyale yang menepi ke bibir pantai.

Ayam dimasak dan ketupat dibuat guna menyambut Bau Nyale. Ada kepercayaan, bila darah masih terlihat pada usus ayam atau warna coklat kemerahan nampak pada ketupat, maka kejadian sedih atau bencana akan terjadi saat Pasola.

Festival Teluk Jailolo

Festival Teluk Jailolo adalah pesta tahunan di Halmahera Barat, Maluku yang selalu berhasil menarik perhatian banyak wisatawan, baik wisnus maupun wisman. Pengunjung yang hadir akan dimanjakan dengan beragam gelaran budaya daerah yang memikat, seperti Cakalele, Soya-soya, Legu Sarai, musik Yanger, Tataruba, Sara Dabi-dabi, Horum Sasadu, dan masih banyak lagi. Parade gerobak sapi yang melibatkan ratusan petani di Halmahera Barat, ekspedisi burung bidadari, dan sejumlah acara lain juga digelar.

Festival yang telah masuk dalam kalender kegiatan pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini juga diramaikan dengan berbagai jenis lomba yang melibatkan masyarakat setempat dan para wisatawan, seperti lomba memancing, lomba dayung dan lomba renang. Satu lagi acara khas dari festival ini adalah acara kuliner kolosal, yaitu bakar ikan dari hasil tangkapan nelayan secara beramai-ramai yang kemudian dapat dinikmati oleh semua orang secara gratis. Tahun lalu, satu rekor MURI berhasil dipecahkan, yakni rekor bakar ikan sebanyak 10 ton yang kemudian dinikmati secara gratis oleh pengunjung.

Salah satu rangkaian acara di Festival Teluk Jailolo selain berbagai festival dan hiburan rakyat adalah adanya Upacara Bersih Laut. Upacara ini diadakan pada hari pertama festival dengan cara memberikan sesembahan kepada alam khususnya laut demi kelancaran acara. Upacara Bersih Laut merupakan acara yang melibatkan Kesultanan Jailolo bersama belasan iringan kapal yang dihiasi ornamen lokal khas Jailolo.

Jailolo adalah sebuah kota yang berada di Kabupaten Halmahera Barat. Festival besar ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2008. Di tahun ini satu rekor MURI berhasil dipecahkan, yaitu berdirinya panggung pertujukkan permanen di atas permukaan laut. 

Macceratasi, Kalimantan Selatan

Upacara Macceratasi adalah upacara menjelang tahun baru Masehi (sekitar bulan Desember) yang dilaksanakan oleh masyarakat pesisir Kotabaru, Kalimantan Selatan. Masyarakat pesisir ini umumnya terdiri dari beberapa suku, yaitu Bugis, Mandar, Banjar, dan Bajau atau Bajo. Digelar di Pantai Gedambaan, upacara ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah penghidupan dari laut.

Secara keseluruhan, Upacara Adat Macceratasi dilaksanakan selama dua hari. Ritual khas dan merupakan inti dari upacara ini adalah menumpahkan darah hewan ke laut. Rangkaian acara diawali dengan upacara Tampung Tawar yang dipimpin oleh seorang tokoh adat, yaitu memanjatkan doa kepada Tuhan. Sang tokoh adat memanjatkan doa dengan duduk di antara sesaji berupa bahan pokok mentah seperti beras, kelapa, gula, ayam yang masih hidup, dan air kembang. Rangkaian acara lainnya adalah penyembelihan hewan, melarung sesaji ke laut, kemudian dilanjutkan denga hiburan berupa pentas kesenian dan beladiri tradisional.