Home Blog Page 13

Promotor Didorong Miliki SOP Baru Penyelenggaran Event

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendorong para promotor event memiliki standar operasi prosedur (SOP) dalam penyelenggaraan event untuk mempersiapkan gelaran acara di kondisi new normal maupun pascapandemi COVID-19.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf Rizki Handayani Mustafa saat pertemuan online dengan beberapa promotor event Indonesia, Kamis (7/5/2020) menjelaskan, pentingnya penyiapan SOP baru bagi promotor event sejak saat ini untuk mengantisipasi permintaan penyelenggaraan acara dalam kondisi new normal.

“Industri event merupakan industri yang paling terdampak dibandingkan industri lain karena sifatnya yang mengumpulkan banyak orang. Pascapandemi atau memasuki masa new normal, SOP baru dalam dunia event harus dirumuskan dan diterapkan, khususnya hal tentang kesehatan dan higienitas,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, hadir beberapa promotor event di Indonesia seperti Dino Hamid (Berlian Entertainment), Shiba Nadhila (MCP), Anas Alimi (Rajawali Indonesia), Emil Mahyudin (Nada Promotama), Kenny Harjani dan Harry Sudarma (PK Entertainment), Sintorini Purwastiti (Java Bass), Anton Wirjono (Brightspot), Lenny Tedja (Jakarta Fashion Week), dan Sveda.

Rizki Handayani menjelaskan, pada 2021 ketika diproyeksikan pandemi berakhir, semua berharap agar para promotor dapat mendatangkan event internasional dan mempromosikan event di dalam negeri untuk menarik wisatawan mancanegara berkunjung.

Namun, Kata Rizki, SOP baru dalam dunia event tersebut harus dirumuskan dan diterapkan, khususnya terkait pola menjaga kesehatan dan higienitas. Ia mencontohkan Singapura yang akan menerapkan SOP baru dalam hal penyelenggaraan event mereka dengan mengurangi jumlah pengunjung sebanyak 50 persen dari total kapasitas venue.

“Saat ini Singapura memberlakukan kampanye ‘SG Clean’ sebagai komitmen nyata pemerintah dan warganya untuk menjaga kebersihan destinasi wisata dan tempat umumnya. Tidak ada salahnya bila kita mengadopsi dan mengadaptasi apa yang dilakukan Singapura dalam menjalankan SOP dengan baik,” ujarnya.

Kemenparekraf, lanjut Rizki Handayani, juga mendorong promotor untuk bersama-sama membuat Roadmap Event 2021 – 2024 di Indonesia. Serta membuat daftar event internasional yang berpotensi untuk diselenggarakan di Indonesia. Diharapkan market event tersebut adalah pasar internasional atau paling tidak Asia Tenggara.

“Agar jalannya event dengan market yang sama tidak bersamaan, termasuk di dalamya adalah penjadwalan, promosi luar negeri, promosi dalam negeri, dan seterusnya. Pada kuartal 4 diharapkan baru akan dimulai semua kampanye terkait dengan kesiapan industri event menghadapi new normal sehingga masyarakat tertarik,” katanya.

Industri Pariwisata Tiongkok Bantu Indonesia Hadapi Pandemi

Pelaku pariwisata yang selama ini menjadi mitra kerja dalam promosi Wonderful Indonesia di Tiongkok membalas empati serupa yang pernah dikirimkan Indonesia kepada mereka melalui salam “jiayou” (semangat) sekaligus membantu alat kesehatan termasuk APD untuk tenaga kesehatan di Indonesia dalam melawan COVID-19.

Direktur Pemasaran Pariwisata Regional 2 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sigit Witjaksono saat menyerahkan APD yang diterima Direktur Pengelolaan Logistik Dan Peralatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Rustian, di Kantor BNPB, Jakarta (6/5/2020) menjelaskan Kemenparekraf mendapatkan kiriman khusus dari sejumlah mitra kerja pelaku pariwisata di Tiongkok. Kiriman tersebut berupa bantuan alat kesehatan termasuk Alat Pelindung Diri (APD).

“Jadi saat awal Tiongkok menghadapi wabah COVID-19, Kemenparekraf mengirimkan video message motivasi ‘Jiayou’ untuk menunjukkan rasa empati kepada publik di sana. Saat ini mereka melakukan hal serupa untuk kita dan memberikan balasan berupa APD untuk para tenaga kesehatan di Indonesia,” kata Sigit Witjaksono.

Mereka yang bermitra dan bekerja sama mengirimkan bantuan alat pelindung diri di antaranya sejumlah mitra kerja pariwisata di Tiongkok seperti Trip.com dan Qunar.com.

Kerja sama dengan mitra kerja itu menghasilkan donasi yang disampaikan bagi tenaga kesehatan di Indonesia berupa 100.000 surgical masks, 150 particulate respiratory masks, dan 50 baju hazmat.

Bantuan dikirimkan langsung dari Tiongkok dan tiba di Jakarta pada 29 April 2020, kemudian akan dikoordinasikan dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Bantuan tersebut, selanjutnya akan disalurkan ke sejumlah rumah sakit rujukan seperti Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto, Rumah Sakit Persahabatan, Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Sulianti Saroso, Rumah Sakit Universitas Airlangga, Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Wisma Atlet, dan fasilitas kesehatan lainnya.

Sigit juga menjelaskan, alat kesehatan tersebut merupakan hasil kerja sama terpadu (joint promotion) dengan mitra industri pariwisata di Tiongkok yang berempati dengan kondisi pandemi COVID-19 yang sedang terjadi di Indonesia.

“Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi mereka yang sedang berjuang sampai detik ini dan semoga para pahlawan kesehatan dapat terlindungi dan lebih semangat dalam menangani pasien,” ujar Sigit Witjaksono.

Kemenparekraf sebelumnya telah berkomitmen untuk mendukung dalam mencegah penyebaran COVID-19. Berbagai upaya telah dilakukan, di antaranya dengan mendukung pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dengan sejumlah program stimulus, di sisi lain juga memberikan bantuan alat-alat kesehatan.

“Tenaga kesehatan merupakan garda terdepan yang berdedikasi tinggi dan ikhlas mempertaruhkan nyawa dan meninggalkan keluarga untuk menolong pasien positif COVID-19, maka selayaknya kita dukung dengan menyiapkan akomodasi dan alat-alat kesehatan agar mereka dapat bekerja dengan aman dan tenang,” katanya.

Film Pariwisata Indonesia Raih Penghargaan di ITFF Bulgaria

Dua film pendek produksi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berhasil meraih penghargaan pada International Tourism Film Festival (ITFF) ke-16 pada 4 Mei 2020 di Bulgaria. Beberapa tahun sebelumnya Indonesia juga mendapatkan penghargaan pada festival film yang diikuti 119 negara sejak 2014 itu.

Penghargaan tersebut yakni untuk kategori Region Promotional Film dengan judul “Danau Toba – The Biggest Caldera Lake in the World” dan penghargaan kedua untuk kategori Eco-tourism Promotional Clip dengan judul “Raja Ampat – The King of the Ocean”. Raihan penghargaan tersebut disampaikan langsung oleh Duta Besar RI untuk Bulgaria Sri Astari Rasjid kepada Deputi Bidang Pemasaran Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nia Niscaya.

Nia Niscaya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (5/5/2020) menyambut baik raihan dua penghargaan pada International Tourism Film Festival (ITFF). Ia mengatakan, film dapat menjadi sarana yang efektif untuk mempromosikan industri pariwisata.

“Kita tahu banyak film-film yang mempromosikan atau secara halus mengkampanyekan sebuah destinasi wisata dan itu sangat berhasil, sangat efektif. Dua penghargaan di tengah pandemi COVID-19 ini juga, jadi salah satu cara kita mengkomunikasikan ke dunia atau soft promotion kalau Indonesia tetap ada dan indah untuk dikunjungi saat pandemi ini usai sebagaimana dalam strategi komunikasi kepada wisman untuk #StayAtHome dan #TravelTomorrow,” kata Nia seraya mengatakan kampanye itu juga masif dilakukan di website www.indonesia.travel.

Nia Niscaya mengatakan, penghargaan ini juga sebagai bentuk dukungan terhadap industri film tanah air, tidak hanya untuk proses produksinya, tetapi juga ekosistem secara keseluruhan.

“Prestasi ini kabar yang sangat baik untuk industri. Kemenparekraf dalam hal ini harus terus mendukung ekosistemnya tidak hanya produksinya saja,” katanya.

Seperti diketahui, misi dari ITFF adalah untuk mempromosikan produksi film pariwisata dan merangsang agar film pariwisata semakin berkembang seiring tren perfilman dunia. Indonesia sudah mengikuti festival ini sejak 2015.

Penghargaan dari ITFF bukan kali pertama didapat oleh Indonesia, sebelumnya pada 2017 Indonesia meraih dua penghargaan sekaligus dengan judul “Indonesia, Wonderful World” meraih penghargaan Grand Prix Award dan Film “Wonderful Indonesia, a Visual Journey Through Wakatobi” meraih penghargaan Nature and Ecotourism pada sub-kategori Advertising Film.

Penurunan Kunjungan Wisman ke Indonesia Akibat Pandemi COVID-19 Sesuai Perkiraan

Penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sebagai dampak pandemi COVID-19 sesuai perkiraan sebagaimana terjadi juga di negara lain. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif fokus melakukan mitigasi dampak pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sekaligus mempersiapkan program dan strategi dalam menghadapinya untuk bangkit pascapandemi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio dalam keterangannya di Jakarta, Senin (4/5/2020), mengatakan, pariwisata merupakan sektor pertama dan paling terdampak atas pandemi COVID-19.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret 2020 turun sebesar 45,50 persen dibandingkan bulan Februari 2020. Dibandingkan pada Maret 2019, jumlah kunjungan wisman pada Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 64,11 persen.

“Secara kumulatif pada Januari hingga Maret 2020, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 2,61 juta kunjungan atau turun 30,62 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2019 yang berjumlah 3,76 juta kunjungan,” kata Wishnutama.

Penurunan ini, kata Wishnutama, sudah dapat diperkirakan mengingat langkah-langkah pemerintah Indonesia dan juga pemerintah negara penyumbang wisman potensial ke Indonesia yang memutuskan menutup akses keluar-masuk negaranya demi pencegahan penyebaran COVID-19.

“Kemenparekraf sendiri saat ini fokus dalam upaya bersama mencegah penyebaran COVID-19 serta memastikan dan menjalankan langkah mitigasi dampak dari pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Wishnutama.

Banyak langkah yang telah dijalankan Kemenparekraf/Baparekraf, baik dengan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait maupun program mandiri Kemenparekraf yang semuanya memfokuskan terhadap pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Program-program yang membantu pekerja dan pengusaha sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akan terus dilakukan, termasuk memberi usulan pada kementerian/lembaga lain dalam menjaga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Wishnutama.

Untuk itu Wishnutama mengajak partisipasi aktif para pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif untuk sama-sama berjuang dan tetap optimis guna membangkitkan pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi. Sebelumnya Presiden Joko Widodo juga memperkirakan akan terjadi booming pariwisata usai pandemi COVID-19 teratasi.

“Pembangunan pariwisata ke depan, kita akan fokuskan ke hal-hal yang sangat prinsip guna mengantisipasi tren dan paradigma baru pariwisata atau yang dikenal ‘new normal’ yang lebih peduli pada masalah sanitasi dan higienitas, misalnya. Termasuk meningkatkan pendekatan teknologi dan digital dalam layanan wisata dan ekonomi kreatif,” kata Wishnutama.

Ia mengatakan, menurunnya kinerja sektor pariwisata tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di negara-negara lain. Penutupan batas kota atau negara mengakibatkan tidak beroperasinya banyak rute penerbangan sehingga aktivitas pariwisata pun mandek.
Dalam kondisi pandemi ini, Kemenparekraf dalam batas kewenangannya telah berupaya turut serta memutus rantai penyebaran virus dan mengakhiri pandemi ini, salah satunya dengan menyediakan fasilitas transportasi dan akomodasi bagi tenaga kesehatan yang berjuang di garda terdepan. Hal itu juga sejalan dengan upaya membantu pekerja sektor parekraf agar tetap terasa geliatnya di tengah perjuangan melawan COVID-19.

“Kami menyadari bahwa ini bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh satu pihak semata, tetapi kita semua sebagai satu bangsa harus bersatu untuk Bersama Jaga Indonesia,” kata Wishnutama.

Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dipastikan Mendapat Insentif Pajak

Para pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif dipastikan mendapatkan insentif pajak setelah diterapkan kebijakan perluasan cakupan sektor yang mendapatkan relaksasi dan kemudahan di tengah pandemi COVID-19.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memastikan bahwa perluasan cakupan sektor industri yang mendapat insentif pajak di dalamnya memuat industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Hal ini sekaligus sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan industri pariwisata agar tetap laju di tengah pandemi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio dalam keterangannya, Minggu (3/5/2020) mengatakan pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 44/PMK.03/2020 sebagai perluasan dari PMK 23.

“PMK ini mengatur tentang pemberian insentif berupa subsidi PPh 21, pembebasan PPh Pasal 22 Impor, dan pengurangan PPh Pasal 25 sebesar 30 persen,” kata Wishnutama.

Kebijakan perluasan cakupan sektor itu diterapkan hingga melingkupi industri pariwisata dan ekonomi kreatif, setelah kalangan industri mengusulkan agar pemerintah memperluas sektor yang mendapat insentif pajak.

“Terdapat perluasan sektor industri, termasuk pariwisata dan yang mencakup perhotelan, restoran, biro perjalanan wisata, dan usaha wisata lainnya serta ekonomi kreatif seperti fotografi, periklanan, perfilman dan lainnya,” ungkap Wishnutama Kusubandio.

Menparekraf mengatakan, insentif ini sekaligus menjadi langkah mitigasi dampak COVID-19 terhadap industri pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai sektor yang terdampak paling parah akibat pandemi COVID-19. Dimana insentif ini juga telah dinanti lama oleh pihak industri.

“Oleh karena itu diharapkan industri pariwisata dan ekonomi kreatif dapat mengoptimalkan kebijakan stimulus dan relaksasi yang diberikan sehingga keberlangsungan industri pariwisata dan ekonomi kreatif tetap laju di tengah pandemi,” kata Wishnutama.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, Kemenparekraf akan terus melakukan langkah mitigasi dampak COVID-19 lainnya terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Sehingga pada saat pandemi ini berakhir, pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi sektor pertama yang pulih sekaligus beradaptasi dengan situasi new normal pascapandemi COVID-19,” kata Wishnutama.

Travel Agen di Indonesia Dituntut Miliki Platform Digital

Menteri pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio mendorong ASITA (Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies) memiliki platform digital untuk mempersiapkan prediksi lonjakan wisatawan pascapandemi COVID-19.

Menparekraf Wishnutama saat diskusi virtual Bincang Bisnis ASITA, Sabtu (2/5/2020) menjelaskan, saat ini kita melihat bagaimana teknologi dan media digital memberi cara baru dalam rutinitas dan kehidupan yang akan menjadi “New Normal”. Terlebih, gaya hidup, mencari informasi, memperbandingkan antar produk, memesan paket wisata, dan berbagi informasi kini telah dilakukan secara digital.

“Pandemi ini akan membawa kita pada kondisi “New Normal”. Termasuk pertemuan yang kita lakukan saat ini. Kita ditunjukkan bagaimana teknologi dan media digital membawa kita pada rutinitas dan cara hidup yang baru. Ini yang akan segera kita alami dalam industri pariwisata kita. Meskipun berbagai macam teknologi yang kita gunakan seperti virtual reality (VR) sangat canggih, namun tidak bisa menggantikan experience ketika kita berkunjung langsung ke destinasi wisata,” kata Wishnutama.

Saat forum diskusi virtual Bincang Bisnis ASITA, hadir pula ketua ASITA Nunung Rusmiati, Roslan Othman Direktur Tourism Malaysia Jakarta, Tantowi Yahya Dubes RI untuk New Zealand, Pratito Soeharyo Dubes RI untuk Laos, Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid, hingga beberapa Kadispar dan anggota ASITA yang ada di Indonesia.

Lebih lanjut, Wishnutama menjelaskan, era digital memang menjadi tantangan yang berat bagi travel agen secara umum. Platform digital diyakini sangat dibutuhkan dalam ekosistem pariwisata yang mempertemukan buyer dan seller di mana semua travel agent, akomodasi, atraksi dikumpulkan untuk bertransaksi, terlebih dalam mempersiapkan lonjakan wisatawan pascapandemi COVID-19.

“Temen-teman ASITA harus mencari potensi apalagi di tengah pandemi COVID-19 ini, suka tidak suka mau tidak mau, era digital suatu keniscayaan, dan ini tantangan buat ASITA,” katanya.

Kemenparekraf, ujar Wishnutama tengah berkoordinasi dengan para stakeholder pariwisata untuk mempersiapkan lonjakan wisatawan tersebut dengan membuat paket wisata menarik dan kompetitif. Sehingga setelah masa pandemi ini selesai, pihaknya langsung gencar melakukan promosi baik dalam atau luar negeri.

“Tentunya sebagai langkah awal menggerakan wisatawan nusantara dengan membuat paket wisata yang kompetitif. Kami juga sudah berkomunikasi dengan Garuda dan chain hotel untuk membuat paket-paket menarik. Nanti setelah pandemi selesai kita siap menyambut wisatawan,” kata Wishnutama.

Tren wisata dan paradigma baru, kata Wishnutama, pascapandemi COVID-19 diperkirakan akan terjadi. Hal tersebut mengarah pada kesehatan dan kenyamanan di berbagai sektor mulai dari atraksi, akomodasi, preferensi produk, transportasi, hingga label higienis.

“Pembangunan pariwisata ke depan, kita akan fokuskan ke hal-hal yang sangat prinsip misalnya toilet bersih, sanitasi dan higienitas. Sebagai salah satu contoh, toilet yang ada di Mandalika dibuat setara dengan toilet hotel berbintang. Nantinya kita harapkan terdapat semacam sertifikasi tempat wisata atau hotel memenuhi kriteria tersebut, aman dari sisi keamanan, kesehatan terjamin dan ini menjadi hal yang sangat penting ,” katanya.

Ia juga menceritakan saat berbicara dalam forum G20, ia mendorong seluruh negara terus bekerja sama dalam menyiapkan standar baru dalam menyikapi dinamika perubahan global akibat pandemi COVID-19 di sektor kepariwisataan.

“Dibutuhkan kerja sama yang kuat untuk mendorong dunia dalam mitigasi dan pemulihan situasi. Baik selama pandemi dan pascapandemi. Indonesia siap untuk membantu, dalam merumuskan kebijakan global dan menerapkan norma dan standar baru,” katanya.

Kemenparekraf Pastikan Pekerja Pariwisata Bisa Akses Program Perlindungan Ketenagakerjaan

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) akan memastikan para pekerja di bidang pariwisata termasuk restoran dan perhotelan bisa mengakses dan mendapatkan prioritas program-program perlindungan ketenagakerjaan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (1/5/2020) mengatakan pariwisata merupakan sektor yang paling utama terdampak COVID-19.

“Dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Jokowi terkait ketenagakerjaan telah dilaporkan bahwa sektor yang utamanya terdampak COVID-19 adalah pariwisata, restoran, sarana umum, transportasi, ritel, dampaknya itu lebih dari 40 persen. Bahkan restoran dan pariwisata itu sekitar 70 persen,” kata Wishnutama.

Terkait dengan daerah, kata dia, wilayah yang pariwisatanya terdampak paling parah seperti di Bali, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Utara. Demikian pula Jakarta yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga cukup terimbas.

Dari sisi ketenagakerjaan termasuk SDM pariwisata di dalamnya, jumlah tenaga kerja yang dirumahkan mencapai satu juta lebih, kemudian yang di-PHK 375.000 sehingga total yang dirumahkan mencapai 1,4 juta pekerja.

Kemudian pekerja informal 314.833 orang sehingga jumlahnya mencapai 1,7 juta secara total.

Oleh karena itu, Wishnutama memastikan pihaknya akan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait khususnya Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) agar dapat memprioritaskan para pekerja pariwisata mendapatkan bantuan dari program pemerintah termasuk kartu prakerja.

“Melalui koordinasi dan sinergi antar K/L, nantinya pekerja yang di-PHK dan dirumahkan ini akan dimasukkan dalam Program Kartu Pra Kerja secara bertahap bergelombang dalam 4-5 minggu ke depan,” kata Wishnutama.

Sebelumnya, enam langkah akan diterapkan untuk memitigasi dampak COVID-19 bagi tenaga kerja termasuk mereka yang bergerak di sektor pariwisata.

Langkah pertama, mencegah meluasnya PHK dan memastikan program stimulus ekonomi yang sudah diputuskan segera diimplementasikan.

Langkah kedua, untuk pekerja di sektor formal yang jumlah pekerjanya ada 56 juta, dipastikan skema program yang meringankan beban mereka termasuk insentif pajak dan relaksasi iuran BPJS.

Langkah yang ketiga, pekerja di sektor informal dimasukkan dalam program jaring pengaman sosial. Hal keempat, pekerja yang dirumahkan atau korban PHK, diprioritaskan untuk mendapatkan kartu prakerja.

Langkah yang kelima K/L memperbanyak program padat karya tunai, sehingga terjadi penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.

Dan langkah keenam, diberikan perlindungan kepada para pekerja migran baik yang sudah kembali ke tanah air maupun yang masih berada di luar negeri.

Mudik Tetap Dilarang, Kemenhub Akan Keluarkan Aturan Turunan dari Permenhub No 25 tahun 2020

Kementerian Perhubungan akan mengeluarkan aturan turunan dari Permenhub No 25 tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19. Dengan adanya aturan turunan tersebut, Pemerintah tetap dengan tegas melarang kegiatan mudik untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

“Mudik tetap dilarang, tidak ada perubahan atas hal itu. Yang tengah kami lakukan adalah menyusun Surat Edaran dari Dirjen Perhubungan Darat, Laut, Udara dan Perkeretaapian sebagai aturan turunan dari Permenhub 25/2020. Hal itu sebagai tindak lanjut terhadap usulan dari Kemenko Perekonomian untuk mengakomodir kebutuhan yang penting dan mendesak bagi masyarakat agar perekonomian tetap dapat berjalan dengan baik dengan menyediakan transportasi penumpang secara terbatas, dengan syarat tetap memenuhi protokol kesehatan,” demikian disampaikan Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati di Jakarta, Jumat (1/5).

Adita menegaskan, sebelum Surat Edaran tersebut diterbitkan, saat ini aturan yang berlaku terkait larangan penggunaan sarana transportasi masih seperti yang berlangsung saat ini yaitu larangan mengangkut penumpang keluar dan masuk wilayah PSBB, zona merah dan aglomerasi yang sudah PSBB, di semua moda transportasi. Sedangkan transportasi untuk logistik dan angkutan barang tetap berjalan seperti biasa.

Adita menambahkan, Surat Edaran Dirjen nantinya akan mengatur kegiatan penyediaan transportasi (darat, laut, udara dan kereta api) untuk bepergian masyarakat dengan kebutuhan yang penting dan mendesak, yang harus dilaksanakan sesuai dengan tata cara physical distancing yang telah diatur dalam Permenhub 18/2020.

“Kemenhub juga tengah mengkoordinasikan teknis pelaksanaan pemeriksaan calon penumpang dengan kriteria kebutuhan penting dan mendesak dengan pihak terkait seperti Kementerian Kesehatan dan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sebagai pihak yang berwenang terhadap protokol kesehatan,” terang Adita.

Bali Jadi Pulau Terpopuler se-Dunia

Reputasi Bali sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia memang sudah tidak diragukan lagi. Buktinya di tengah masa pandemi COVID-19 ini, keindahan Pulau Dewata justru kian populer dan menjadi bahan pembicaraan wisatawan di sosial media.

Start up travel ternama asal Jerman, Tourlane, pada 8 April 2020 merilis hasil riset yang salah satunya menetapkan Bali sebagai pulau terpopuler di dunia. Penetapan tersebut menggunakan metode pencarian dari jumlah tanda pagar (pagar) di Instagram.

Selama beberapa periode riset dilakukan, hasil menunjukkan bahwa Pulau Bali menjadi destinasi yang paling banyak dicari dengan jumlah tagar mencapai 60.4733.066. Jumlah tersebut mengungguli Pulau Ibiza, Spanyol, di peringkat kedua dengan tagar 16.320.328, dan Pulau Sisilia, Italia, di peringkat ketiga dengan jumlah 12.974.059 tagar.

Merespon hal itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparerkaf) Wishnutama Kusubandio menyambut baik ditetapkannya Bali sebagai pulau terpopuler di dunia saat ini. Ia mengatakan, penetapan itu semakin memotivasi Indonesia untuk menumbuhkan Bali-Bali baru di samping meningkatkan pariwisata Bali agar semakin ramah dan berkelanjutan.

Selama ini Bali memang telah dikenal di dunia sebagai destinasi alam dan budaya dengan atraksi wisata Bali yang tidak perlu diragukan lagi. Daya tarik Bali terletak pada bentang alam yang indah, sekaligus tradisi dan budaya masyarakatnya yang unik.

“Kekuatan tradisi dan budaya di Bali tidak perlu diragukan lagi hingga menjadi alasan tersendiri wisatawan untuk datang selain keindahan alamnya. Maka tak heran, Bali sangat populer di dunia,” kata Wishnutama.

Lebih lanjut, Menparekraf Wishnutama juga menjelaskan, bukan tanpa pekerjaan rumah kepopuleran Bali diminati oleh wisatawan. Terlebih pascapandemi COVID-19, tren berwisata akan berubah lebih mengarah pada pariwisata yang fokus pada kesehatan dan kenyamanan wisatawan.

“Kami dan masyarakat Bali terus berkolaborasi guna berbenah diri menghadapi tren berwisata baru, termasuk soal penanganan sampah, sanitasi, higienitas, hingga kenyamanan. Masyarakat Bali juga sudah punya kesadaran tinggi akan pariwisata bersih” katanya.

Penetapan Bali sebagai destinasi terpopuler di dunia bukan kali pertama didapat. Sebelumnya, Pulau Dewata berada di peringkat teratas dari 24 kota di dunia sebagai Destinasi Terbaik di Dunia 2017 versi situs tinjauan perjalanan wisata paling populer, Tripadvisor.

Selain itu, beberapa situs dan asosiasi internasional juga pernah menobatkan Bali sebagai yang terbaik antara lain Travel and Leisure, World Travel Awards, Conde Nast Traveler, hingga UNWTO Awards.

Indonesia Dorong Terbentuknya Skema Kemitraan Pariwisata Baru dalam “New Normal” di ASEAN

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo menegaskan kembali dukungan Indonesia dalam pengembangan pariwisata digital dan memasukkannya ke Rencana Strategis Pariwisata ASEAN 2016-2025.

Angela Tanoesoedibjo saat berbicara dalam Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Rabu (29/4/2020), mengatakan pertemuan yang dihadiri para menteri pariwisata dari negara-negara ASEAN ini sangatlah penting sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap pariwisata yang merupakan sektor paling terdampak wabah COVID-19. Tidak hanya dapat bertahan dalam masa yang sulit ini, tapi juga dapat segera pulih setelah pandemi berakhir.

“Saya ingin menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk mendukung program dan kegiatan, dalam konteks Rencana Strategis Pariwisata ASEAN dan banyak lagi, terutama di masa-masa sulit ini untuk mendorong kegiatan yang dapat mempercepat pemulihan pariwisata di ASEAN,” kata Angela.

M-ATM COVID-19 dipimpin oleh Kamboja selaku Chair dan Indonesia sebagai Vice-Chair. Negara-negara anggota ASEAN yang berpartisipasi dalam agenda ini adalah Brunei Darussalam, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Pertemuan ini merupakan gagasan Menteri Wishnutama Kusubandio untuk membahas dampak COVID-19 terhadap pariwisata di ASEAN, sekaligus menemukan solusi kerja sama untuk memitigasinya.

Angela mengatakan, sejak kasus COVID-19 terkonfirmasi pertama kali di Indonesia pada awal Maret 2020, pemerintah Indonesia telah bersiap menghadapi dampak yang tak dapat dipungkiri. Pemerintah Indonesia bekerja keras untuk mengatasi dampak pandemi ini di bawah kebijakan stimulus ekonomi dengan anggaran lebih dari 24 miliar dolar AS untuk jaring pengamanan sosial, keringanan pajak, bantuan bagi pekerja yang terdampak, dan lain sebagainya.

Khusus di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan tiga langkah utama. Yakni program perlindungan sosial untuk para pekerja, stimulus ekonomi untuk bisnis di sektor ini, serta realokasi anggaran kementerian ke dalam berbagai program yang diantaranya padat karya.

Untuk mengimplementasi instruksi tersebut, Angela mengatakan Kemenparekraf telah memformulasikan berbagai program dan aktivitas untuk mendukung lebih dari 13 juta tenaga kerja langsung dan 32,5 juta tenaga kerja tidak langsung di sektor pariwisata Indonesia.

Program dan aktivitas itu diantaranya mendistribusikan kebutuhan sehari-hari serta perlengkapan kebersihan dan sanitasi, juga pelatihan dan peningkatan keterampilan bagi para pekerja pariwisata yang terdampak, serta menerapkan standar protokol untuk kesehatan, kebersihan dan keselamatan di destinasi.

“Kami juga bekerja sama dengan sektor swasta untuk mendukung ribuan tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam menghadapi COVID-19 dengan penyediaan akomodasi, layanan antar-jemput (transportasi), makanan dan minuman, serta binatu,” kata Angela.

Kerja sama ini juga sebagai bentuk dukungan Kemenparekraf terhadap industri pariwisata yakni bisnis hotel dan transportasi agar tetap bisa mempekerjakan pegawainya.

Di sisi lain, Angela mengatakan, saat ini kita melihat bagaimana teknologi dan media digital memberi cara baru dalam rutinitas dan kehidupan yang akan menjadi “New Normal”. Untuk itu ia kembali menegaskan dukungan Indonesia untuk memasukkan pariwisata digital ke Rencana Strategis Pariwisata ASEAN 2016-2025.

“Pandemi ini akan membawa kita pada kondisi “New Normal”. Di samping mendorong pentingnya standar kesehatan dan kebersihan bagi para profesional pariwisata, melalui pertemuan virtual ini, kita ditunjukkan bagaimana teknologi dan media digital membawa kita pada rutinitas dan cara hidup yang baru. Ini yang akan segera kita alami dalam industri pariwisata kita,” ujar Angela.

“Kita harus menanggapi tantangan bersama ini dengan bekerja sama. Bersama kita akan kuat,” kata Angela.

Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) kemudian menghasilkan dua hal penting, yakni Consolidated Paper dan Joint Statement.

Consolidated Paper digunakan sebagai referensi mengenai penilaian dan langkah awal mengurangi dampak COVID-19 terhadap negara anggota ASEAN.

Sedangkan Joint Statement memuat komitmen para negara, usulan pembentukan ASEAN Tourism Crisis Communication Team, dan eksplorasi kebijakan bersama untuk dibahas oleh para Head of National Tourism Organisations (NTOs) and Committee.