Home Blog Page 17

Infrastruktur Labuan Bajo Ditargetkan Rampung 2020

Seluruh pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur ditargetkan selesai di akhir tahun 2020. Hal tersebut disampaikan Presiden RI Joko Widodo saat meninjau Pelabuhan Multipurpose yang akan dijadikan Pelabuhan khusus logistik di Wae Kelambu, Manggarai Barat, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada Senin (20/1).

“Infrastruktur akan rampung di akhir tahun ini (2020) semuanya, pelabuhan yang baru akan selesai semuanya, revitalisasi pelabuhan lama sampai ke ujung semuanya akan selesai juga. Waringin, landscape dari kota ini juga akan dirubah dengan diperbanyak tanaman bunga seperti flamboyan, bougenvilel, wisata Goa Batu Cermin semua berubah akhir tahun ini,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden berharap dengan selesainya pembangunan infrastruktur termasuk infrastruktur transportasi, akan ada wajah baru di Labuan Bajo untuk menarik perhatian wisatawan maupun para investor baik dalam negeri maupun luar negeri untuk berinvestasi.

Lebih lanjut, Presiden mengatakan untuk Pelabuhan Multipurpose di Wae Kelambu nantinya akan dikhususkan menjadi Pelabuhan logistik. Jarak pelabuhan lama dengan pelabuhan multipurpose (logistik) sejauh kurang lebih 15 KM.

“Nanti coba kita lihat ya, pelabuhan ini, kontainer-kontainer itu akan bersih di tarik ke 15 KM ke Wae Klambu, selesai nanti insyaallah akhir tahun ini. Sudah selesai ini sedikit demi sedikit ditarik kesana dan ini juga akan nanti di revitalisasi dengan desain yang sudah disiapkan sehingga wajah atau muka pelabuhan menghadap ke arah laut. semua akan berubah dari ujung sampai di hotel baru yang ada, semuanya akan berubah total,” jelas Presiden Jokowi.

Terkait Bandara Komodo, Presiden juga menargetkan akhir tahun 2020 perpanjangan runway dan pembangunan terminal akan rampung.

Bukan hanya pembangunan infrastruktur, Presiden mengatakan akan dilakukan peningkatan kualitas SDM agar mempunyai ilmu dan keahlian. Selain itu juga di Waringin akan menjadi kreatif hub yang menampilkan usaha kecil dan menengah seperti memperlihatkan proses pengerjaan kerajianan hingga memberikan kegiatan kepada wisatawan untuk berlatih membuat kerajinan.

Sementara itu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan akan segera mengerjakan arahan Presiden Jokowi untuk menjadikan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata utama Indonesia. Salah satunya yaitu dengan memisahkan pelabuhan penumpang dengan pelabuhan khusus logistik.

“Mandat dari Presiden adalah untuk menjadikan Labuan Baju menjadi destinasi wisata, maka itu kita memberikan prioritas bagi dunia wisata dalam kegiatannya. Dari identifikasi yang kita lakukan waktu itu oleh Presiden, kita lihat bahwa ada satu tempat yang begitu potensial, begitu indah tapi ada satu tumpang tindih fungsi. Fungsi penumpang dan fungsi logistik di labuan bajo. Maka dari itu Presiden memerintahkan untuk dipisahkan,” jelas Menhub Budi.

Oleh karenanya pembangunan ini dikerjakan secara multiyears. Serta akan dilakukan kerjasama dari seluruh stakeholder seperti Pelindo III dan lainnya.

Untuk diketahui pengembangan Terminal Multipurpose Labuhan Bajo meliputi: Panjang Dermaga 120×20, terminal curah cair 1 Ha, Causeway 600×20, Area Lini II 3 Ha, Trestle 100×12, lapangan penumpukan petikemas 1,5 Ha dan Area Penumpukan Non Petikemas 0.5 Ha.

Sedangkan Fasilitas Dermaga Curah Cair mempunyai panjang 120 M, kedalaman kolam- 16 mlws, Konstruksi Deck On Pile, Tiang Pancang Baja, Mutu Beton K350 dengan kapasitas 1.500.000 ton/tahun.

Untuk Dermaga Multi Purpose mempunyai panjang 120×20 M dengan kapasitas kapal max 25.000 DWT, kedalaman kolan- 16 mlws, konstruksi deck on pile, tiang pancang baja, mutu beton K350 dan mempunyai kapasitas 110.000 TEUs/tahun.

Keamanan dan Keselamatan Jadi Fokus Pengembangan di Destinasi Labuan Bajo NTT

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menekankan keamanan dan keselamatan menjadi faktor penting yang akan difokuskan dalam mengembangkan kawasan pariwisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio saat kunjungan kerja ke Labuan Bajo mendampingi Presiden Joko Widodo, Senin (20/1/2020) menjelaskan keamanan dan keselamatan harus menjadi pertimbangan utama dalam membangun sebuah destinasi.

“Presiden Joko Widodo menekankan, di Labuan Bajo telah disiapkan organisasi dari BNPB, Basarnas, yang berkaitan dengan keamanan pariwisata. Setidaknya wisatawan akan melihat bila di wilayah ini ada SAR. Sehingga rasa aman nyaman itu akan muncul karena kesiapan kita untuk mengantisipasi segala sesuatu,” ujarnya.

Terkait isu _travel advisory_, Menparekraf Wishnutama berjanji untuk memperbaiki citra dan kondisi tersebut. Terlebih status Indonesia dalam _travel advisory_ negara-negara tetangga lebih sering digambarkan dalam kondisi kuning bukan hijau.

“Hijau artinya aman, kuning itu artinya hati-hati. Jika status Indonesia dianggap dalam kondisi aman dan nyaman jumlah wisman bisa naik 20-30 persen,” katanya.

Wishnutama juga mengatakan, pariwisata itu tidak hanya sekadar membangun infrastruktur atau event, tapi _safety_ dan _security_ juga penting yang disebutnya bukan pekerjaan yang sederhana.

“Karena perlu koordinasi dengan banyak lintas sektor. Upaya kita sendiri, perlu adanya ’Early Warning System’ di sebuah destinasi wisata, serta membuat Sistem Manajemen Krisis,” katanya.

Presiden Joko Widodo sebelumnya berharap jajarannya menyiapkan suatu organisasi yang terdiri atas Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menjamin keamanan wisatawan.

“Sudah distandby-kan satu helikopter dan peralatan lainnya, artinya _security_ dan _safety_ menjadi bagian dari yang kita siapkan bukan hanya infrastruktur saja,” kata Presiden.

“Gerakan Bale Nagi” Pulang Kampung ke Flores Timur

Kabupaten Flores Timur mempromosikan potensi wisata daerahnya melalui Gerakan Bale Nagi (GBN) yang bertujuan untuk mengajak orang-orang Flores Timur yang berada di luar Larantuka, untuk pulang kampung saat Pekan Suci Semana Santa.

Ketua Pelaksana GBN Simon Lamakadu saat Launching Gerakan Bale Nagi (GBN) yang diluncurkan di Gedung Sapta Pesona Balairung Soesilo Soedarman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Sabtu (18/1/2020) menjelaskan Gerakan Bale Nagi merupakan frasa melayu Larantuka yang berarti pulang kampung.

“Bagi orang Flores Timur frasa ini memiliki arti khusus untuk mengajak masyarakat Flores Timur untuk mengangkat potensi wisata alam, budaya, dan wisata religi yang ada di daerahnya seperti hari paskah yang digelar perhelatan Semana Santa,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur Apolonia Corebima mengatakan, GBN ini merupakan sinergi antara diaspora yang ada di Luar Flores Timur. Sebenarnya tahun lalu sudah digelar Festival Bale Nagi yang tujuannya untuk menjadi daya tarik baru bagi para peziarah. Ajang itu ternyata mampu menjaring wisatawan ke wilayah Larantuka.

“Biasanya wisatawan yang datang ke Larantuka saat Samana Santa hanya 1-2 hari. Semoga dengan digelarnya gerakan dan Festival Bale Nagi, lama tinggal wisatawan bisa semakin panjang mencapai 7 hari,” katanya.

Nia sapaan akrab Apolonia Corebima juga menjelaskan, berbagai kegiatan telah disiapkan untuk menghadirkan atraksi bagi wisatawan, seperti festival tenun ikat, kuliner lokal, dan berbagai kegiatan lainnya sebelum akhirnya mengikuti prosesi Semana Santa atau Pekan Suci yang merupakan sebuah perayaan liturgi dan devosi umat Katolik di Larantuka.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata yang saat ini berubah nomenklatur menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rizky Handayani menambahkan, setiap tahunnya, banyak wisatawan asing yang antusias mengikuti ritual rohani yang merupakan salah satu peninggalan bersejarah dalam sejarah umat Kristen-Katolik tersebut.

“Ratusan orang peziarah dari mancanegera hadir di Larantuka. Karena Semana Santa ini sudah ada sejak dahulu di Larantuka, prosesinya hampir sama dengan yang ada di Portugal. Jadi ini menjadi daya tarik wisata religi bagi wisatawan,” katanya.

Indonesia Sukses Gaet Wisatawan India Lewat South Asia Travel and Tourism Expo (SATTE) 2020

Indonesia sukses membukukan transaksi hingga lebih dari 2.593.050 dolar AS atau setara Rp37 miliar saat kegiatan pameran South Asia Travel and Tourism Expo (SATTE) 2020 yang digelar pada 8-10 Januari 2020 di Greater Noida, New Delhi, India. Jumlah tersebut merupakan hasil pembelian 32.700 pax dari wisatawan asal India selama pameran berlangsung.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Nia Niscaya saat hadir menyampaikan sambutan di SATTE 2020 di India Jumat (10/1/2020) mengatakan, SATTE merupakan pameran prioritas di mana Indonesia selalu hadir untuk menarik wisatawan asal India dan sekitarnya datang ke Tanah Air.

Wisatawan India, menurut Nia, tertarik dengan Indonesia, terutama Bali. Sebanyak 40 persen wisatawan India berdatangan ke Bali untuk alasan pesta pernikahan dan bulan madu. Mereka menghabiskan waktu setidaknya sepekan.

“Pameran ini merupakan salah satu pameran B2B terbesar di India yang dihadiri oleh lebih dari 1.000 exhibitor dari lebih 50 negara. India merupakan pasar yang potensial dan terbesar di Asia Selatan. Di 2018, rata-rata _spending_ 1.523,63 dolar AS dan Rata-rata lama tinggalnya 6,72 hari,” katanya.

Asdep Pemasaran II Regional III Sigit Witjaksono mengatakan ada kekuatan besar yang akan dikerahkan ke India. Total, ada 45 industri besar yang ikut diboyong ke Negeri Bollywood itu. Mayoritas masih mengedepankan Bali. Alasannya karena tiap tahun, Bali selalu dinobatkan sebagai destinasi terbaik dunia. Gelar itu banyak diberikan Lonely Planet, TripAdvisor, dan brand terkait wisata tingkat dunia lainnya.

“Wisman India menyumbang separuh lebih kunjungan wisman ke Tanah Air. Ke depannya akan dikedepankan strategi promosi Bali Plus atau Beyond Bali dengan menggandeng destinasi prioritas lainnya seperti Lombok, Labuan Bajo, dan Yogyakarta. Tentunya tetap disesuaikan dengan karateristik pasar India,” terang Asdep Pemasaran II Regional III Sigit Witjaksono.

Saat pameran berlangsung, Booth Indonesia yang bertema kapal Phinisi juga dihadiri oleh Kepala Bidang Area I (India) Pupung Thariq Fadhillah, didampingi oleh VITO Mumbai, VITO New Delhi, VITO Singapura, serta didukung oleh Kedutaan Besar Indonesia untuk India, New Delhi.

Indonesia yang tahun ini berpartisipasi sebagai Premium Partner Country menempati pavilion di hall 9 no A30. Di mana paviliun Indonesia diisi oleh 53 industri yang terdiri dari DMC, travel agent, hotel, airlines, travel planner, dan restoran.

Selain itu dilengkapi juga dengan hiburan seperti panggung mini yang diisi oleh penari tradisional Indonesia, barista yang menyuguhkan kopi dari beberapa wilayah Indonesia, pembatik yang memperagakan cara membatik pada para pengunjung, dan fasilitas foto 360 derajat untuk pengunjung.

Bubur Manado: Kuliner Sehat dan Praktis ala Manado

Keberadaan jagung yang begitu melimpah di wilayah Sulawesi bagian utara memengaruhi citarasa ragam kulinernya. Banyak yang sudah tidak asing dengan nama bubur manado. Sama seperti bubur lain yang memiliki rasa pedas dan asin, bedanya, Anda akan menemukan bahan olah unik di dalamnya termasuk jagung. Selain itu, aroma daun kunyit dan kemangi sangat kuat pada semangkuk bubur manado tersebut.

Bubur manado atau yang juga dikenal dengan “tinutuan” diracik dari beras dengan aneka sayuran di dalamnya, seperti jagung, labu kuning, ubi merah, kacang panjang, kangkung, kemangi dan daun gedi. Daun gedi masih satu keluarga dengan kembang sepatu, kapas dan okra dengan ciri khas kandungan lendir yang banyak. 

Selain itu, terkadang, ikan asin atau ikan tongkol dan tahu ditambahkan untuk melengkapi kenikmatan bubur manado. Gizinya sangat kaya sehingga bubur ini cukup untuk memenuhi nutrisi segala usia karena di dalamnya kaya vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin C, zat besi, kalium, serat, betakaroten, kaya antioksidan, magnesium, mangan, rendah koleksterol, protein, fosfor, kalsium, dan lainnnya sesuai bahan pelengkap seperti lauk pauk seperti ikan asin goreng, tahu goreng, perkedel, bawang goreng dan sambal.

Di beberapa warung makan, bubur manado disajikan bersama mie. Bubur manado jenis ini disebut midal dan biasanya dibuat di wilayah Minahasa Selatan. Ada juga yang menghidangkan bubur manado bersama sup kacang merah yang disebut bernebon dan kaki babi. Biasanya bubur manado jenis ini disajikan khusus untuk memperingati hari pengucapan syukur di Manado.

Bubur manado tidak dibuat dengan bumbu yang rumit dan sulit didapat, cukup garam dan merica saja. Cara membuatnya, beras, jagung, ubi dan labu yang telah dipotong dimasukkan bersama ke dalam panci yang berisi 4 gelas air. Masak hingga menjadi bubur. Setelah itu secara terpisah, bawang putih ditumis di atas wajan hingga harum, tambahkan sedikit air lalu tambahkan bubur yang telah dimasak. Aduk rata, terakhir tambahkan garam, merica dan penyedap rasa. Masak sampai mendidih.

Tidak diketahui secara pasti bagaimana asalnya bubur manado mulai merambah di Sulawesi Utara, yang jelas tinutuan mulai banyak diperdagangkan di Kota Manado sejak tahun 1970. Ada yang menyebutkan bahwa bubur manado sudah ada sejak zaman kolonial. Ketika itu masyarakat mengalami kesulitan pangan sehingga bahan makanan apapun yang terdapat di pekarangan diracik begitu saja. Ubi, singkong, jagung, kangkung dan daun gedi yang berada di pekarangan  pun dicampurkan bersama beras, tentunya dengan tambahan kreatifitas sehingga terciptalah makanan yang lezat dan penuh gizi.

Keberadan bubur manado kini mengidentitaskan masyarakat Manado, bahkan kuliner ini dijadikan moto Kota Manado. Tentu, apabila berkunjung ke Manado, Anda dapat memburunya di beberapa sudut kota seperti di sepanjang Kawasan Wakeke, Kecamatan Wenang, Kota Manado. Di beberapa warung makan di Kota Gorontalo, bubur manado pun dihidangkan.

Tenun Flores: Bayang Feminim Wanita FLores

Berapa banyak wanita yang telah menderita
Menderita karena pengorbanannya sendiri
Pengorbanan itu mengakibatkan kesedihan
Pinggulmu sakit dan terasa patah

Usaha seorang wanita Flores dalam meluangkan waktunya berjam-jam duduk sambil menenun adalah hal luar biasa. Semua anggota tubuh, baik tangan, leher, pinggul, tungkai maupun mata harus dikoordinasikan dengan baik dan dibutuhkan konsentrasi untuk melakukannya. Seperti di daerah lain di Nusantara, tenun Flores pun memiliki nilai yang sedemikian tinggi mengikuti alur kerumitan proses menenun itu sendiri. Semakin rumit motif suatu tenun maka semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk membuatnya. Semakin baik hasil tenun maka semakin tinggi nilai artistik yang tertata di dalamnya.

Anda bisa melihat bagaimana proses menenun mendeksripsikan sifat feminim dari seorang wanita. Tidak banyak bicara saat menenun melambangkan feminitas. Bahkan seberapa ahli mereka menenun dijadikan tolak ukur feminitas. Wanita muda yang menggunakan tenun hasil buatannya sendiri menandai bahwa ia telah sepenuhnya menjadi wanita. Selain itu aktivitas menenun, bagi wanita Flores, juga sebuah wujud seberapa tinggi  pertahanan fisik mereka dan simbol dedikasi penuh bagi keluarga. Wanita-wanita di Kabupaten Ende terbiasa mempelajari  tenun semenjak mereka masih remaja namun tidak semua wanita Flores bisa menenun karena ada daerah tertentu yang melarangnya terkait alasan sejarah.

Motif kain tenun di Nusa Tenggara Timur sangat banyak, antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya berbeda-beda. Hasil penelitian Romo Bosco menyimpulkan bahwa terdapat dua kategori besar tenun, yaitu jenis ikat tradisional dan sulam songket.  Jenis ikat menyebar dari Flores bagian tengah mulai dari Kabupaten Ende hingga Kabupaten Flores Timur sampai Lembata, sementara tenun sulam songket banyak dibuat dari Kabupaten Nagekeo sampai Kabupaten Manggarai Barat.

Tenun Sumba Timur misalnya, didominasi motif kuda, rusa, udang, naga, singa, orang-orangan dan pohon tengkorak. Sedangkan tenun Timor Tengah Selatan lebih menonjolkan motif burung, cecak, buaya dan motif kaif. Suku-suku lainnya lebih banyak menggunakan motif bunga atau daun. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa motif tenun Flores merupakan turunan dari motif patola di India, seperti gajah atau burung yang kemudian berkembang dengan ragam variasi.

Meski kini warna kain tenun ikat berasal dari pewarna kimia tetapi masih banyak yang melestarikan pewarna alam seperti dengan mengekstrak mengkudu ataupun nila. Bahkan kain-kain tenun di Alor menggunakan biota laut seperti teripang dan cumi-cumi sebagai pewarna alami tenun. Inovasi ini diwujudkan seiring dengan tren ramah lingkungan yang sedang menggaung di Indonesia. Dengan menghindari pewarnaan kimia, berarti kepeduliaan terhadap lingkungan sudah ditunjukkan. Limbah dari pewarnaan kimia industri tekstil kerap kali mencemari kualitas air sungai sebagai tempat pembuangan. Selain itu Warna dari bahan alami dan benang dari kapas membuat warnanya memang tidak secerah benang modern tetapi justru lebih tahan lama dan menguak warna yang makin lama makin indah.

Pembuatan desain kain tenun ikat di Flores dilakukan dengan mengikat benang-benang lungsi yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan kadang-kadang sampai berbulan-bulan. Seringkali pencelupan dikerjakan satu-persatu untuk setiap bakal kain sarung meskipun terkadang dilakukan sekaligus untuk beberapa buah kain sarung. Tenun Flores dibuat dengan bahan dasar benang dari kapas yang dipilin oleh penenunnya sendiri. Benangnya kasar dan dicelup warna biru indigo. Kain dihiasi dengan ragam hias bentuk geometris aneka warna cerah.

Kain tenun Flores umumnya selain menjadi pakaian penutup juga melengkapi pakaian adat dalam upacara tradisional dan ritual keagamaan. Beberapa daerah di NTT menghasilkan kain-kain tenun yang indah seperti di Manggarai, Ngada, Nage Keo, Ende, hingga sekitar Lio, Sikka, hingga Lembata dan Alor di timur Flores. Setiap daerah memiliki ragam motif, corak dan preferensi warna yang berbeda-beda dalam membuat kain tenun ikat. Keragaman tersebut merupakan bentuk pengejawantahan simbol-simbol yang merepresentasikan etnis, adat, religi, dan hal lainnya dari keseharian masyarakat Flores.

Festival Danau Toba (FDT): “Inspiring Toba”

Festival Danau Toba (FDT) menyuguhkan serangkaian acara bertemakan seni budaya. Kegiatannya akan dipusatkan di pinggiran Danau Toba tepatnya di wilayah Parapat, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Acara ini merupakan bentuk kerja sama antara berbagai pihak, yaitu: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif, Badan Otorita Danau Toba, 8 Kabupaten dikawasan Danau Toba, serta para stakeholder pariwisata dan budaya di Sumatera Utara.

Tahun ini FDT akan mengusung tema “Inspiring Toba” yang memaknakan bagaimana seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat bekerjasama, berinpirasi, membuat ide, buah pikiran, serta gerak hati, dan kreativitas untuk pengembangan pariwisata dikawasan Danau Toba. FDT dimeriahkan serangkaian hiburan musik, seni dan kerajinan, aneka perlombaan dan kompetisi olahraga tradisional, seminar pariwisata, juga kuliner.

Di FDT ada lomba Solubolon, penanaman pohon, kegiatan sosial berupa pembersihan Danau Toba, diskusi kelompok terarah Geopark, lomba lari 10K. Sedangkan kegiatan inti FDT terdiri dari penampilan tari kolosal, hiburan rakyat lokal dan nasional, beragam lomba, fashion show busana etnis, demo kuliner dan lainnya. Diharapakan penyelenggaraan beragam kegiatan dalam tersebut dapat menjadikan FDT sebagai festival yang bercitra kuat dan mampu meningkatkan, melestarikan, sekaligus mensejahterakan masyarakat di kawasan Danau Toba.

Kegiatan Pra-FDT 2019, meliputi:

1. Festival Solu Tradisional di Tobasa

2. Toba Wild Kayaking di Tobasa

3. Penanaman Pohon Kawasan Danau Toba

4. Pembersihan Kawasan Danau Toba

5. Sosialisasi Geopark 

6. Lomba Lari 10 K.

Kegiatan utama FDT 2019, meliputi:

1. Koor Raksasa

2. Tari Kolosal Saoan

3. Tari Kolosal Multi Etnic

4. Pelepasan Balon dan Lampion

5. Hiburan Rakyat Artis Lokal dan Nasional (Joy Tobing, The Boys Trio, dan Artis Lokal lainnya)

6. Lomba Paduan Suara

7. Lomba Solubolon di Parapat

8. Lomba Fotografi

9. Lomba Vocal Group

10. Lomba Ucok Butet

11  Fashion Show Etnic 

12. Pameran UKM

13. Atraksi ‘Seni Melipat Kain Bulang Sulappei’

14. Forum Group Discussion Toba Caldera Geopark yang akan dihadiri oleh 4 Narasumber (Bappenas, Kementrian Pariwisata RI, BODT, dan Badan Pengelola Geopark Nasional Kaldera Toba)

FDT sendiri merupakan acara wisata tahunan yang telah berlangsung sejak 2013. Festival ini dahulu diberi nama Pesta Danau Toba yang telah berlangsung sejak 1982. Pada mulanya Pesta Danau Toba merupakan sebuah event lokal yang diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas keberadaan Danau Toba. Danau ini mempunyai peran penting bagi kehidupan suku batak yang tinggal di pesisir Danau Toba.

Danau Toba merupakan salah satu dari 10 destinasi pariwisata yang menjadi priotitas Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN). Pembangunan 10 destinasi pariwisata ini diharapkan akan mendorong peningkatan arus investasi pariwisata serta kunjungan wisatawan.

Danau Toba merupakan merupakan salah satu keajaiban wisata alam yang menakjubkan dimana merupakan danau terluas di Asia Tenggara dan terdalam di dunia (450 meter). Danau bertipe vulkanik ini merupakan danau terbesar kedua di dunia sesudah Danau Victoria di Afrika. 

Sekitar Danau Toba berupa hutan pinus yang tertata asri dihiasi beberapa air terjun yang memesona. Di tengah Danau Toba terdapat sebuah pulau vulkanik (Pulau Samosir). Kini Danau Toba menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di Indonesia yang begitu indah. Tempat dimana pengunjung dapat melakukan berbagai macam kegiatan untuk menikmati keindahan alam seperti mendaki gunung, berenang, atau berperahu layar. Udaranya bersih dan sejuk harmonis dengan suasana santai masyarakatnya yang ramah.

Digitalisasi Warnai Operasi dan Layanan di 16 Bandara

PT Angkasa Pura II (Persero) bersiap menyambut pelaksanaan Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) pada 19 Desember 2019 hingga 6 Januari 2020. Pada periode high season tersebut jumlah penumpang pesawat di 16 bandara yang dikelola perseroan diperkirakan mencapai 5,59 juta orang dengan pergerakan pesawat hingga 42.379 penerbangan.

President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan jumlah penumpang dan pergerakan pesawat pada periode tersebut meningkat dibandingkan dengan kondisi normal di hari-hari biasa.

“Kami siap menyambut high season pada Periode Angkutan Nataru 2019/2020, dan optimistis pelayanan di seluruh bandara PT Angkasa Pura II dapat terjaga bahkan lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena digitalisasi secara di aspek-aspek operasi dan layanan penuh sudah diterapkan,” ujar Muhammad Awaluddin.

Adapun penerapan digitalisasi penuh di bandara-bandara PT Angkasa Pura II ini fokus pada tiga hal yaitu *People*, *Process*, dan *Facilities* agar Angkutan Nataru berjalan lancar.

Terkait dengan kesiapan *People*, pada Angkutan Nataru ini PT Angkasa Pura II menyiagakan sebanyak 10.240 personil di lapangan, terdiri dari 1.089 personil teknik, lalu 4.564 personil operasi dan 4.587 personil pelayanan.

Sejumlah personil bahkan dilengkapi dengan gadget digital guna mempercepat proses pekerjaan dan koordinasi. Personil dengan gadget digital tersebut dikenal dengan Digital Officer with Digital Devices (DODD), biasa juga disebut Petugas DiLan (Digital Melayani), di antaranya adalah mereka yang bertugas sebagai Aviation Security, Terminal Services dan Safety, Risk & Quality Control.

Di gadget digital tersebut terdapat aplikasi khusus internal PT Angkasa Pura II guna memantau aktivitas operasi dan layanan di lapangan serta untuk berkoordinasi dengan berbagai unit kerja agar pelayanan dan keamanan tetap terjaga.

“Secara berkelanjutan PT Angkasa Pura II meningkatkan kapasitas dan kapabilitas personil, termasuk di antaranya adalah Petugas DiLan, agar pekerjaan bisa selesai lebih cepat. Personil di lapangan adalah ujung tombak dalam menjaga standar pelayanan dan keamanan terlebih di saat musim libur panjang seperti Periode Angkutan Nataru ini,” ujar Muhammad Awaluddin.

Sementara itu terkait dengan *Process*, PT Angkasa Pura II meningkatkan koordinasi dengan seluruh stakeholder lainnya terutama regulator, maskapai, TNI/Polri, Bea dan Cukai, Karantina, Imigrasi, dan institusi lainnya demi menghadirkan pelayanan yang maksimal.

Adapun terkait dengan *Facilities*, saat ini PT Angkasa Pura II telah mengoperasikan Terminal Operation Center (TOC) di bandara-bandara yang dikelola perseroan.

Khusus di Bandara Soekarno-Hatta terdapat 4 TOC yaitu di Terminal 1, Terminal 2, Terminal 3 dan Terminal Kargo lalu juga ditambah dengan adanya Airport Operation Control Center (AOCC).

TOC dan AOCC ini dilengkapi dengan sistem teknologi informasi terkini dan peralatan modern fully digital guna memastikan operasional bandara berjalan lancar meski di tengah menghadapi high season/waktu puncak.

Salah satu dampak positif dari beroperasinya TOC dan AOCC ini adalah tingginya tingkat ketepatan waktu penerbangan (on time performance/OTP), terpenuhinya prosedur operasional, dan sebagainya.

“Seluruh proses operasional dan layanan bandara akan dipantau dan dikontrol melalui TOC dan AOCC, di mana juga melibatkan seluruh instansi yang berkepentingan di bandara. TOC dan AOCC juga merupakan tempat berkolaborasi bagi seluruh stakeholder bandara (Airport, Airline, Airnav dan Authorities) untuk mengambil keputusan secara cepat dengan didukung data-data paling update,” jelas Muhammad Awaluddin.

Muhammad Awaluddin mengatakan melalui fokus pada People, Process, dan Facilities, maka berdampak pada meningkatnya standar pelayanan di bandara termasuk saat musim libur panjang Angkutan Nataru 2019/2020.

Terlebih, PT Angkasa Pura II juga meningkatkan customer experience dengan mengakomodir kebutuhan traveler masa kini seperti menghadirkan layanan berbasis digital yang ada di Airport Digital Lounge atau lebih dikenal dgn iMATE Lounge, Airsport yang merupakan arena bermain game online, hingga coworking space premium APSpace di Terminal 3.

“Kami juga mengakampanyekan Airport Digital Journey Experience ini melalui aplikasi Indonesia Airports App di android dan iOS. Melalui aplikasi tersebut penumpang merasakan kemudahan dan kenyamanan selama pre-journey, in-flight journey dan post journey,” ujar Muhammad Awaluddin.

“Jika customer experience dan operational excellence mampu dijaga di level tertinggi dan terus meningkat, maka PT Angkasa Pura II dipastikan akan dapat memiliki keberlanjutan bisnis atau business continuity yang sangat positif dan terus tumbuh,” jelas Muhammad Awaluddin.

Adapun guna mendukung kelancara Periode Angkutan Nataru 2019/2020 ini, PT Angkasa Pura II juga akan menghentikan pekerjaan sejumlah proyek (project freezing) agar operasional bandara tidak terganggu.

“Pada periode H-5 sampai H+5 Angkutan Nataru 2019/2020, pekerjaan yang dianggap dapat mengganggu operasional bandara seperti overlay runway dan lainnya akan ditunda. Sementara itu, pekerjaan yang bersifat menanggulangi kondisi darurat yang berhubungan langsung dengan keselamatan operasi penerbangan akan tetap berlangsung,” ujar Muhammad Awaluddin.

Tidak lupa, Posko Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) akan dibuka di 16 bandara yang dikelola perseroan. Di posko tersebut tersedia berbagai informasi seperti jadwal penerbangan, informasi cuaca, dan informasi serta asistensi lainnya yang dibutuhkan bagi calon penumpang pesawat.

PT Angkasa Pura II (Persero) saat ini mengelola 16 bandara, yakni Sultan Iskandar Muda (Aceh), Kualanamu (Deli Serdang), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru), Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang), Minangkabau (Padang), Sultan Thaha (Jambi), Depati Amir (Pangkalpinang).

Lalu, Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Soekarno-Hatta (Tangerang), Husein Sastranegara (Bandung), Supadio (Pontianak), Silangit (Siborong-borong), Banyuwangi, Kertajati (Majalengka) dan Tjilik Riwut (Palangkaraya).

Promosikan Pariwisata Nusa Tenggara Barat Lewat “Gemilang NTB”

Gemilang NTB yang dikemas dalam bentuk pameran berupaya mempromosikan kekayaan alam dan budaya Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) di acara yang digelar di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 2-6 Desember 2019.

Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Moh Faozal di Jakarta, Senin (2/12/2019) mengatakan kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama para stakeholder pariwisata di NTB yang sekaligus diharapkan bisa menjadi referensi bagi traveler yang ingin mengisi waktu liburan ke Pulau Lombok.

“Gemilang NTB adalah expo produk-produk unggulan NTB sekaligus promosi pariwisata. Event ini adalah hasil kerja sama Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) dengan Pemerintah Provinsi NTB dan Dekranasda NTB. Serta support dari Kementerian Perindustrian,” papar Faozal.

Dalam Gemilang NTB, akan diberikan juga anugerah untuk Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah sebagai wanita inspiratif versi IPEM.

“Dalam Perhelatan ini, tema yang kami angkat adalah NTB Nuansa Tanpa Batas. Kami melibatkan berbagai industri pariwisata dan UMKM unggulan NTB. Kami menampilkan kain tenun dan batik, fashion, kerajinan tangan, kuliner, serta wisata di NTB,” tuturnya.

Ditambahkan Faozal, Gemilang NTB bisa menjadi referensi bagi wisatawan yang ingin mengisi waktu libur ke Pulau Lombok.

“Kami promosikan destinasi-destinasi unggulan yang ada di Lombok. Ada alam, desa wisata, banyak sekali. Wisatawan yang ingin berkunjung ke Lombok, lebih baik mencari informasi di event ini. Sehingga waktu liburannya bisa maksimal,” tutur Faozal.

Infrastruktur dan Konektivitas Kunci Pengembangan Pariwisata Indonesia

Pembangunan infrastruktur transportasi dan konektivitas menjadi salah satu faktor pendukung untuk pengembangan pariwisata di Indonesia. Terlebih saat ini pemerintah sedang fokus mengembangkan 5 destinasi prioritas yang dikebut pengembangannya hingga akhir 2020.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamen Parekraf) Angela Tanoesoedibjo saat Rapat Kerja Kementerian Perhubungan Tahun 2019 di Jakarta, Selasa (3/12/2019), mengatakan komitmen dan sinergi antar kementerian/lembaga sangat diperlukan untuk membangun pariwisata. Ia mencontohkan pentingnya dukungan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terkait urusan konektivitas baik darat, luat, maupun udara.

“Kami terus bersinergi dan berkoordinasi. Sinergi yang kami jalankan antar kementerian sangat cair untuk pembangunan pariwisata ke depan. Peran Kemenhub sangat penting untuk mengintegrasikan setiap destinasi yang ada di Indonesia, khususnya di 5 destinasi pariwisata super prioritas” katanya.

Menurut dia, percepatan pembangunan pariwisata yang kini menjadi sektor unggulan bukan hanya tanggung jawab dari satu kementerian saja. Namun merupakan tanggung jawab semua sesuai dengan Visi Presiden Joko Widodo dan Wapres KH. Ma’ruf Amin, melalui infrastruktur transportasi, roda ekonomi akan terus bergerak dan memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.

“Presiden Jokowi juga mengatakan, pembangunan infrastruktur harus dihubungkan dengan tempat-tempat wisata, agar kawasan wisata menjadi _trigger_ pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Pada raker yang bertujuan untuk menyinkronkan Visi Presiden dan Wapres dengan program kerja Kementerian Perhubungan ini, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyampaikan pembangunan sektor transportasi akan terfokus pada upaya mendukung pariwisata, kelancaran arus logistik, akses ke daerah Terdepan, Terluar, Terdalam, dan Perbatasan (3TP), serta Ibu Kota Negara Baru (IKN).

Menhub meminta jajarannya untuk fokus dalam perencanaan yang matang dalam menjalankan program-program Kemenhub yang telah diselaraskan dengan visi misi Presiden dan Wapres.

Kemudian, ia juga meminta jajarannya untuk memastikan infrastruktur yang dibangun bermanfaat bagi masyarakat.

“Perencanaan harus matang, jangan hanya asal-asalan, kita harus sinergi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta antara satu subsektor dengan subsektor lainnya, dan mempertimbangkan asas kebermanfaatan masyarakat. Jangan sampai kita telah membangun banyak sarana dan prasarana transportasi, namun masyarakat tidak menerima dampaknya. Sekali lagi, perencanaan dan koordinasi itu mutlak dilakukan,” ujarnya.

Situs Candi Kimpulan: Warisan Peradaban Nusantara Kuno di Tengah Kampus

Situs Candi Kimpulan atau Pustakasala memang unik karena diketemukan kembali di kompleks universitas Islam Yogyakarya (UII Yogyakarta). Anda dapat menemukan candi ini di komplek Perpustakaan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Jalan Kaliurang, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nama kimpulan sendiri berdasarkan nama desa setempat. Sementara nama pustakasala dari bahasa Sansekerta yang berarti perpustakaan. Penamaan tersebut untuk menekankan sejarah penemuan candi di tempat yang semula hendak dibangun perpustakaan. Candi ini pertama kali ditemukan tidak sengaja pada 11 Desember 2009 saat melakukan pembangunan pondasi gedung perpustakaan UII Yogyakarta.

Tidak seperti Candi Prambanan yang merupakan candi kerajaan yang megah serta berukir indah dan mewah, Candi Pustakasala adalah candi sederhana yang dibangun masyarakat desa di pinggiran ibukota kerajaan. Candi ini berukuran kecil dan sederhana ukirannya dengan ruang dalam terdapat arca Ganesha, Nandi, dan Lingga-Yoni.

Candi Kimpulan tergolong unik karena struktur bangunannya merupakan kombinasi batu dan kayu. Arca yang ditemukan juga memiliki desain yang berbeda dengan desain-desain arca Ganesha di candi lain. Candi ini hanya terdiri dari beberapa bujur sangkar landasan candi berpagar serta tangga, juga celah masuk berhias antefiks berukir Kala.

Candi Kimpulan ini tergolong candi yang unik dan baru satu-satunya di Indonesia. Dari segi tata ruang, candi ini memiliki satu candi perwara di depan candi induk dimana umumnya di depan candi induk selalu terdapat 3 candi perwara.

Keberadaan candi bercorak Hindu ini seakan menggerakkan kebesaran jiwa dan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Candi ini diperkirakan dibangun pada rentang waktu abad ke-9 hingga ke-10 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuna.

Keingintahuan Anda terhadap penemuan arkeologis ini jangan sampai membuat upaya pelestariannya terganggu dengan cara merusak atau melakukan hal melanggar hukum seperti perusakan atau pencurian.

Saat ditemukan, candi ini merupakan penemuan arkeologi yang paling menarik di Yogyakarta. Bahkan menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan adanya candi-candi lain yang masih terkubur oleh lahar dan debu vulkanik Gunung Merapi sekitar sekitar seribu tahun yang lalu bersama candi lainnya seperti Candi Sambisari, Candi Morangan, dan Candi Kedulan.

Di candi bercorak Hindu Siwaistik ini terdapat arca ganesha yang berdekatan dengan lingga yoni dan terletak dalam satu candi induk. Ini sangat unik. Ada pula bejana atau gerabah tempayan di bawah lingga yoni yang berfungsi untuk menampung air suci. Lingga-yoni tersebut berukuran 4 x 6 meter berdiri sejajar dengan dua buah lapik (batu sesembahan), arca nandi (sapi), dan sebuah sumur batu berukuran 80 x 80 cm.  Sumur itu sendiri juga menjadi keunikan karena tidak lazim ditemukan dalam candi dan belum diketahui fungsinya.

Kompleks Candi Kimpulan merupakan candi Hindu, terdiri dari atas dua buah candi perwara terbuat dari batu andesit dimana masing-masing menghadap ke timur dan barat. Candi perwara yang menghadap ke barat tidak mempunyai bilik. Denah bangunan candi berbentuk persegi panjang berukuran panjang 6,36 m; lebar 4,11 m; tinggi 1,59 m; tebal dinding 25 cm; tinggi pagar 65 cm di atas bangunan; dan lebar pintu sisi barat 52 cm. Candi ini terdiri atas bagian sepatu 2 lapis batu persegi, bagian tubuh 5 lapis batu persegi, dan bagian langkan 2 lapis (batu persegi dan batu padma). Candi perwara berisi lingga yoni, 2 lapik berornamen, arca Nandi, dan struktur batu menyerupai bak penampung air. Di dalam candi perwara terdapat 8 umpak datar dengan ukuran rata-rata 20 cm. Sementara itu candi yang menghadap ke timur tidak mempunyai bilik. Terdapat lingga yoni, sebuah arca Ganesha, 12 umpak dengan permukaan datar berukuran 20 cm, dan 12 batu bulat berukuran antara 20-24cm.

Situs ini memang masih dalam tahap pemugatan sekaligus pembangunan beberapa sarana di sekitaran kampus. Salah satunya adalah Gedung Perpustakaan UII Yogyakarta yang diberi nama Gedung Mohammad Hatta. Rencananya candi akan berdiri berada di lantai dasar dan berada di depan perpustakaan. Perpustakaan pun akan dilengkapi museum untuk menyimpan berbagai peninggalan sejarah berupa dokumen, gambar, dan beberapa barang arkeologis lainnya.

Beberapa barang arkeologis yang sempat ditemukan di situs ini adalah peripih, seperti mangkuk perunggu, manik-manik dan serpihan besi menyerupai bentuk spatula. Ditemukan pula kotak batu yang berisi lempengan emas dan perak bertuliskan mantera Hindu. Lempengan emas yang ditemukan berbentuk bulat berornamen hiasan sinar, mata uang emas, mata uang perak, serpihan emas dan perak serta manik-manik.

Situs Candi Kimpulan diresmikan pada Senin, 17 Oktober 2011 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Prof Edy Suwandi, dan Ketua Badan Wakaf UII Lutfi Hasan.

Transportasi

Tidaklah sulit mencapai kampus UII Yogyakarta mengingat hampir semua kendaraan umum di kota ini menjadikan kampus Islami tersebut dalam jurusannya. Apabila Anda masih kesulitan menemukannya maka alamat kampus ini berlokasi di Jalan Kaliurang km. 14.5 Sleman, Yogyakarta.  Lokasinya berada di jalan utama menuju daerah wisata Kaliurang tepat di kaki Gunung Merapi.

Angkutan umum yang kami sarankan adalah bus kota yang menuju Kampus UGM atau Terminal Terban. Berikutnya berganti moda dengan kendaraan minibus jurusan Kaliurang hingga tiba di pintu gerbang kampus tersebut.

Apabila Anda datang dari bandara maka dapat menggunakan taksi dengan jarak sekitar 25 km. Meski taksi Bandara akan menentukan tarif tertentu yang telah terstandar tetapi harga tesebut cukup sepadan.

Alternatf lain bagi Anda yang datang dengan kereta api dari dua stasiun di Yogyakarta yaitu Stasiun Tugu untuk kelas bisnis dan eksekutif atau Stasiun Lempuyangan dengan kelas ekonomi. Dari keduanya tersedia taksi untuk menuju Kampus Terpadu UII. Perlu diperhatikan bahwa saat siang hari Anda akan cukup mudah memperoleh taksi resmi tetapi saat malam hari maka relatif sulit dan biasanya Anda akan ditawari taksi tidak resmi. Anda perlu tawar menawar harga dengan sopirnya.