Home Blog Page 18

Kunjungan Wisman ke Indonesia Naik Selama Oktober 2019

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Oktober 2019 naik 4,86 persen yakni dari 1,29 juta menjadi 1,35 juta wisman dibanding jumlah kunjungan bulan yang sama pada tahun lalu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat secara kumulatif dari Januari-Oktober 2019 jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 13,62 juta wisman atau naik 2,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal tersebut menunjukkan kenaikan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia selama Oktober 2019 bahkan kenaikan juga terjadi selama periode Januari–Oktober 2019.

Secara kumulatif Januari sampai Oktober 2019 ada kenaikan, namun jika dibandingkan September 2019, jumlah kunjungan wisman Oktober 2019 memang turun.

Penurunan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia dari bulan sebelumnya, itu dikarenakan di berbagai negara memiliki musim dan kendala yang berbeda dan tren penurunan tersebut juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Dampak penurunan juga, lanjut Guntur, terjadi lantaran faktor bencana alam maupun non-alam seperti, beberapa daerah terjadi isu yang terkait dengan keamanan, kondisi politik Indonesia bahkan menjadi sorotan negara fokus pasar dimana Australia bahkan sudah menerbitkan _travel advice_ bagi warganya terkait kemungkinan diberlakukannya sejumlah peraturan yang dianggap kurang menguntungkan wisatawan.

Bahkan dari hasil kajian dengan menggunakan data sentimen menunjukkan bahwa terkait sejumlah isu di Indonesia, hampir 90 persen dari _crawling_ data media sosial Australia menunjukkan sentimen negatif. Kerusuhan di Wamena misalnya menjadi salah satu perhatian bagi Australia, dimana beberapa warganya tertangkap dan diduga terlibat dalam aksi tersebut.

Lalu tren wisatawan global juga sedang mengalami penurunan terutama dari Eropa, lantaran sedang terjadi perlambatan ekonomi seperti kasus brexit di Inggris, Yellow vaste di Prancis, dan isu integrasi di Spanyol.

Wisatawan Eropa ada yang lebih tertarik ke negara ASEAN lainnya seperti Thailand dan Vietnam karena dianggap lebih murah paket wisatanya.

Meskipun begitu ada beberapa destinasi yang mengalami kenaikan seperti dari pintu Bali dan Lombok. Kenaikan diperkirakan karena faktor kesiapan 3A sudah tersedia dengan baik sehingga memudahkan wisatawan untuk melakukan perjalanan.

Hal tersebut juga, lantaran Bali dan Lombok memiliki letak geografis yang tidak jauh dari Australia, destinasi yang sesuai dengan karakteristik Australia dan memiliki sejumlah penerbangan langsung.

Sedangkan, Jakarta cenderung merupakan kota bisnis dan atraksi di Jakarta belum dikemas sesuai pasar Australia dan kurangnya paket-paket wisata yang dianggap menarik.

Catatan lainnya, kenaikan pada Oktober 2019 dibandingkan 2018 dikarenakan adanya pembukaan rute baru, maskapai Virgin Australia dari Darwin – Denpasar, lalu maskapai Malindo Air Adelaide – Denpasar, dan Sydney – Denpasar. Serta maskapai Air Asia dari Perth menuju Lombok.

“Ada penurunan lantaran tren atau _seasonality_ tiap negara berbeda-beda, ada yang masanya sudah selesai musim liburan ada yang baru akan berlibur. Dan biasanya akan meningkat pada Desember,” katanya.

Lalu kendala juga terjadi bagi wisatawan India, penurunan wisatawan yang mendominasi Bali itu lantaran tidak adanya penerbangan langsung dari India ke Indonesia seperti tahun lalu. Lalu di India juga sedang banyaknya festival keagamaan pada periode Agustus – Oktober 2019 dimulai dari Ganesh Chaturhi dan Diwali.

Sama seperti India, pasar Tiongkok juga mengalami penurunan. Hal itu terjadi banyak _charter flight_ yang batal terbang selama 2019 terutama sejak sekitar 8 bulan. Hampir semua maskapai nasional yang _charter flight_ seperti Citilink, Garuda, dan Sriwijaya mengalami banyak pembatalan dan pengurangan frekuensi sehingga sangat terasa pada penurunannya.

Secara kumulatif (Januari–Oktober 2019), wisman yang datang dari wilayah ASEAN naik persentasenya paling tinggi, yaitu sebesar 17,78 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan wilayah Asia selain ASEAN memiliki persentase penurunan paling besar, yaitu sebesar 10,28 persen.

Sementara menurut kebangsaan, kunjungan wisman yang datang ke Indonesia selama 2019 paling banyak berasal dari wisman berkebangsaan Malaysia sebanyak 2,58 juta kunjungan (18,94 persen), Tiongkok 1,77 juta kunjungan (13,01 persen), Singapura 1,55 juta kunjungan (11,38 persen), Australia 1,15 juta kunjungan (8,42 persen), dan Timor Leste 1,02 ribu kunjungan (7,48 persen).

Kemenparekraf terus berkoordinasi dengan para stakeholder pariwisata untuk mengoptimalisasikan pencapaian target wisman pada sisa akhir tahun. Seperti melakukan joint promotion dengan maskapai, mengundang influencer asal Australia, dan menggelar FGD Penyusunan Paket Wisata Beyond Lombok sebagai Hub Air Asia.

Trans Borneo – The Last Frontier: “Into The Heart of Borneo”

Trans Borneo: “The Last Frontier” is a road adventure covering the Malaysian states of Sabah & Sarawak through Indonesian Province of North Kalimantan (Utara). It starts from Sabah, Malaysia, moving South and eastwards across One of the last frontier in Borneo, from Bakelalan in Sarawak into Malinau, Kalimantan Utara and Kalimantan Timur before recrossing the border back northwards into Sabah. The journey Includes driving through 200 kilometres of rugged roads and island-hopping in Kaltara’s (North Kalimantan) East coast.

With the theme of “Into The Heart Of Borneo”, it starts from Sabah, Malaysia, crossing into Kalimantan Utara and Kalimantan Timur in Indonesia before moving westwards across one of the last frontiers in Borneo, from Malinau to Ba’kelalan in Sarawak. The route cuts through the very heart of Borneo. It is one of the last great 4X4 adventures in Borneo!

This event is a collaboration between Malaysia, Indonesia and Brunei Darussalam supported by the BIMP-EAGA (Brunei Indonesia Malaysia Philippines – East Asia Growth Area) business council, the Malaysian Government, the province of Kalimantan Utara and Kalimantan Timur and Sultanate of Brunei Darussalam. 

Trans Borneo: “The Last Frontier” is promoting culture, history, adventure, agriculture and nature in Borneo Island. The adventure will also take them to islands of Derawan, Sangalaki and Maratua in Kalimantan, Indonesia.

Tanjung Selor: Bandar Perdagangan Bersejarah di Timur Kalimantan

Tanjung Selor merupakan pusat pemerintahan (ibu kota) Provinsi Kalimantan Utara di Kabupaten Bulungan. Kota ini dalam sejarahnya dibangun berseberangan dengan Tanjung Palas dan sejarah mencatatnya sebagai salah satu pusat perdagangan yang ramai di pantai timur Pulau Kalimantan. Letak kota ini berada di utara Kabupaten Berau dan sebelah timur Kecamatan Tanjung Palas (Ibu kota Kesultanan Bulungan) dengan luas wilayah sekira 1.277,81 km².

Tanjung Selor adalah sebuah kota bandar perdagangan di pedalaman yang tenang dan nyaman. Adanya Kota Tanjung Selor dan Kabupaten Bulungan berawal dari Kesultanan Bulungan.

Asal muasal nama Tanjung Selor setidaknya ada tiga versi. Pertama, dahulunya di Tanjung Selor banyak terdapat pohon kelor dan dari pohon kelor itu lahir sebutan Selor. Versi kedua, dahulu ada seorang berkebangsaan Inggris yang berprofesi sebagai seorang pelaut dan masyarakat memanggilnya dengan sebutan tuan sailor kemudian menjadi kata selor. Ketiga, dari kawasan ini yang berbentuk tanjung, terletak di antara dua atau di tengah ilur (tanjung) kemudian lama kelamaan berubah sebutan menjadi Tanjung Selor.

Sejak dahulu masyarakatnya Tanjung Selor sangat beragam dari pelbagai suku seperti tidung, bulungan, dayak, bugis, jawa, dan suku pendatang lainnya. Hal itu dapat ditelusuri dari catatan perjalanan yang dibuat oleh J. Zweger sekitar tahun 1853.

Disebutkan Zweger dalam laporannya bahwa berkembangnya wilayah perdagangan di Tanjung Selor yang berhadapan persis (dipisah Sungai Kayan) dengan Tanjung Palas telah memicu lahirnya kedatangan para pendatang yang juga berprofesi sebagai pedagang dari luar Bulungan, sehingga terbentuklah perkampungan baru di seberang Tanjung Palas, yaitu di Tanjung Selor.

Para pedagang keturunan Arab memulai kedatangan mereka dengan membuat kantong pemukiman di tepi Sungai Kayan yang kemudian diikuti tumbuhnya kantong pemukiman dari pedagang Tidung, Bugis, Jawa, Melayu, Banjar dan Tiongkok. Saat ini Anda dapat melihat langsung selain kampung Arab, ada juga Kampong Dagang dan Tanah Seribu atau dikenal juga Kampung Pasar yang kebanyakan dihuni oleh orang-orang Banjar di Tanjung Selor.

Adanya interaksi antarpedagang masa itu menjadikan adanya saling tukar keahlian terkait teknik membuat perahu dan kapal, navigasi, hingga pertukaran komoditas barang dagang, serta yang paling penting adalah penggunaan bahasa dan tulisan Arab Melayu sebagai linguafranca atau bahasa pengantar dalam berdagang.

Untuk menyambangi Tanjung Selor Anda dapat memanfaatkan penerbangan ke Kota Tarakan dengan pesawat udara kemudian disambung dengan speed boat satu jam perjalanan atau pesawat udara yang berjadwal selama 15 menit. Anda juga dapat langsung terbang dari Balikpapan atau Samarinda menuju Tanjung Selor, karena kota ini telah memiliki Bandar Udara perintis (Bandar Udara Tanjung Harapan) dengan jadwal penerbangan reguler dari Samarinda di Kalimantan Timur.

Musik Sunset Balikpapan 2019: Kahitna Sukses Hibur Ribuan Penonton di Pantai Kilang Minyak

Mengulang dua kali kesuksesan penyelenggaraannya sejak 2017, Musik Sunset Balikpapan kembali hadir tahun ini dalam Volume 3. Digelar pada 1 Desember 2019 acaranya mengambil tempat di Pantai Kilang Mandiri dengan menghadirkan Kahitna, grup musik yang populer sejak tahun 90-an lewat lagu-lagu berlirik cinta dan mampu memanjakan telinga pendengar. Perhelatan konser Musik Sunset Balikpapan 2019 sendiri terselenggara berkat kolaborasi antara Bank BNI, Dinas Pariwisata Kota Balikpapan, dan didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta dipromotori oleh Pandira Live Indonesia.

Sembari menikmati keindahan Marahari terbenam dari Pantai Kilang Minyak Mandiri, penampilan Kahitna menghibur setidaknya lebih dari lima ribu penonton yang hadir. Bahkan, sejak pukul 13.00 mereka sudah menantikan penampilan group musik yang dimotori oleh Yovie Widianto itu. Sembari menunggu penampilan Kahitna di pukul 17.00, penonton disuguhi berbagai tenan kuliner dengan pemandangan Teluk Balikpapan di Pantai Kilang Minyak Mandiri.

Pantai Kilang Minyak sendiri merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Kota Balikpapan yang memiliki pasir putih. Di sinilah tempat terbaik menikmati senja terbenam dan digenapi dengan banyak kapal lalu-lalang membongkar muatannya. Di kawasan ini juga terdapat beberapa distrik kuliner yang menyajikan aneka makanan olahan laut yang nikmat khas Balikpapan.

Dalam penampilan selama 1 jam Kahitna sukses menghibur penonton dengan tembang hits-nya dari berbagai album diantaranya adalah: “Cerita Cinta”, “Cantik”, “Sampai Nanti”, “Permaisuriku”, hingga “Rahasia Cinta”. Sepanjang konsernya, Kahitna mengajak penonton yang tidak hanya anak muda melainkan juga orang tua dari generasi 80-an bernyanyi bersama tembang-tembang cinta yang memikat.

Kahitna sendiri merupakan kelompok musik yang terbentuk tahun 1986 di Bandung. Anggota personelnya meliputi: Yovie Widianto, Bambang Purwono, Hedi Yunus, Carlo Saba, Mario Ginanjar, Dody Isniani, Harry Suhardirman, Budiana Nugraha, dan Andrie Bayuadjie. Lebih dari 30 tahun Kahitna berkarya di industri musik Tanah Air dan selalu menarik perhatian masyarakat dengan mengusung musik bertema cinta dalam liriknya.

Kahitna kerap memadukan unsur musik jazz, pop, fusion, latin dan bahkan etnik ke dalam bentuk ramuan arabsemen musik yang orisinil sekaligus enak didengar. Tidak itu saja, Kahitna menjadi salah satu grup musik yang turut melestarikan dan mempromosikan Bahasa Indonesia lewat lagu, bahkan hingga ke mancanegara. Menurut Yovie Widianto anak muda Indonesia harus bangga dengan Bahasa Indonesia, “Bahasa Indonesia adalah modal industri kreatif kita yang kita harus banggakan,” ungkapnya.

Trans Borneo: “The Last Frontiers”

Sebuah kegiatan petualangan alam Borneo digelar tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Bertajuk Trans Borneo 2019: “The Last Frontiers” berlangsung 27 November – 8 Desember 2019 dengan melibatkan peserta dari 4 negara, terdiri dari 38 warga Malaysia, 1 warga Thailand, 1 warga Italia, dan 1 warga Indonesia.

Trans Borneo “The Last Frontiers” ini melintasi dua negara, yaitu Malaysia dan Indonesia. Penjelajahan mengambil start dari Sabah di Malaysia kemudian melintasi wilayah Sarawak, dan berakhir di Provinsi Kalimantan Utara di Indonesia. Jelajah Trans Borneo melibatkan 15 unit mobil dengan tipe off road dan sebuah sepeda motor yang dikemudikan WN Italia, Tomas Ferrari.

Seluruh peserta Jelajah Trans Borneo sendiri sudah memasuki wilayah Indonesia. Mereka telah mengunjungi wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, kemudian menuju ke Malinau, dan akan menuju kawasan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Selama kegiatan ini, peserta yang didominasi wisatawan mancanegara tersebut melihat langsung keindahan alami Kalimantan dan selama perjalanan rombongan ini singgah di beberapa lokasi. Mereka juga melakukan bakti sosial dan bantuan kesehatan kepada masyarakat.

Untuk memudahkan selama perjelajahan, peserta telah mempersiapkan kelengkapan kendaraan dan fisik serta administrasi lintas negara sehingga tidak ada masalah saat harus melewati perbatasan.

Teluk Balikpapan: Keunikan Ekosistem di Kawasan Ibu Kota Baru Indonesia

Ketika kita menyebut ibu kota Indonesia yang baru maka sebuah kawasan akan menyeruak untuk sering disebut kemudian, yaitu Teluk Balikpapan. Sebuah laut kecil dengan kedalaman cukup yang bersetepi dengan Selat Makassar sekitar barat daya dari Samudera Pasifik. Teluk Balikpapan menjadi perairan yang memisahkan Kota Balikpapan dengan Kabupaten Penajam Paser Utara.

Ekosistem Teluk Balikpapan didominasi kawasan terumbu karang, padang lamun, mangrove, hutan hujan dipterokarpa dan karst, dengan lebih dari 100 spesies mamalia, hampir 300 jenis burung, dan lebih dari 1000 jenis pohon. Ekosistem alami ini telah menjadi penjaga keseimbangan alam di kawasan yang unik tersebut.

Hutan mangrove di Teluk Balikpapan sangat strategis karena menjadi habitat bagi lima persen dari populasi bekantan. Hasil survei Stanislav Lhota sejak 2006 menemukan di Teluk Balikpapan terdapat populasi bekantan mencapai 1.400 ekor dimana sekira 1.000 ekor di pesisir Kabupaten Penajam Paser Utara dan 400 ekor di pesisir Balikpapan.

Kawasan Teluk Balikpapan menjadi benteng terakhir beberapa satwa langka pesisir Kaltim, baik di darat, yakni bekantan atau monyet hidung belalai (Nasalis larvatus) maupun di perairan lautnya yaitu duyung (Dugong dugon) dan pesut mahakam (Orcaella brevirostris) subspesies dari pesut (Irrawaddy dolphin).

Pesut mahakam sendiri adalah satwa langka yang selama ini diketahui hanya hidup di ekosistem air tawar. Populasi satwa langka itu selama ini diketahui hanya terdapat di Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady dimana sekarang menempati urutan tertinggi satwa Indonesia yang terancam punah. Populasi Pesut di Teluk Balikpapan diperkirakan sekitar 60 hingga 140 ekor. Muara Tempadung merupakan habitat yang sangat penting bagi pesut sebagai daerah pencarian ikan dan migrasi mereka.

Jadi, untuk menemui hewan-hewan langka ini Anda tidak perlu harus jauh ke tengah samudera atau menjelayahi jatung rimba belantara untuk menemukan berbagai satwa langka dan unik, namun itu ada di Teluk Balikpapan.

Teluk Balikpapan kini wilayahnya secara administrasi meliputi tiga kabupaten/kota, yaitu: Penajam Paser Utara (80 persen), Balikpapan (17 persen), dan Kutai Kartanegara (3 persen). Saat ini Teluk Balikpapan melingkupi 42 kelurahan dengan luas daerah aliran sungai 211.456 hektare dan perairan 16.000 hektare. Adapun populasinya, diperkirakan sekira 250 ribu jiwa.

Kawasan Ibukota negara nantinya akan mengubah wajah Teluk Balikpapan dengan upaya keseimbangan ekosistem. Pembangunan ibu kota baru di kawasan tersebut rencananya akan dimulai akhir 2020 atau awal 2021. Pembangunan dan pemindahan ibu kota sendiri akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama meliputi pembangunan lahan seluas 6.000 hektare (ha) di Penajam Paser Utara. Di sana akan dibangun distrik pemerintahan yang diharapkan rampung pada 2024 mendatang. Istana Presiden dan masjid akan menjadi bangunan pertama pemerintahan yang akan berdiri di Penajam Paser Utara. Selanjutnya, tahap kedua meliputi pembangunan berbagai sarana pendukung aktivitas ibu kota baru tersebut. Lokasinya di Kabupaten Kutai dengan luas lahan 40 ribu ha. Lahan tersebut juga meliputi kawasan Bukit Soeharto.

Balikpapan: Menikmati Kota yang Nyaman di Pinggir Teluk

Inilah sebuah kota di Pulau Kalimantan yang berkembang begitu pesat, bahkan bisa jadi lebih kuat denyut ekonominya dari kota lain di Pulau Kalimantan. Bahkan, bila dibandingkan dengan Kota Samarinda yang mana menjadi Ibukota Provinsi Kalimantan Timur, Kota Balikpapan lebih bergeliat membangun.

Meski bukanlah ibukota provinsi namun Balikpapan adalah sentra bisnis yang terus berkembang. Kota seluas 503,3 km persegi ini didominasi perbukitan, hanya sekira 12 persen saja wilayahnya yang berupa daerah datar, sisanya adalah aliran sungai dan pesisir pantai. Itulah sebabnya meski berada di pinggir teluk namun kota ini tetap sejuk dengan adanya hutan kota. Setidaknya ada 20 hutan kota dengan luas lebih dari 120,84 hektare tersebar di berbagai wilayah Kota Balikpapan.

Pada April 2015 Kota Balikpapan dinobatkan oleh World Wildlife Fund (WWF) sebagai Kota Paling Dicintai di Dunia (The World’s Most Loveable City). Pada tahun yang sama, kota ini juga tampil sebagai kota paling nyaman dan layak huni di Indonesia berdasarkan survei Indonesian Most Livable City Index versi Ikatan Ahli Perencana Indonesia (IAP) berdasarkan berdasarkan tempat ibadah, air bersih, pangan, fasilitas kesehatan, pendidikan, penataan PKL, juga transportasi.

Geliat ekonomi kota ini didominasi oleh industri minyak dan gas, perdagangan serta jasa. Pengeboran pertama sumur minyak di kota ini dimulai pada 10 Februari 1897 yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Balikpapan. Tahun 1907, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) mendirikan kantor di kota ini yang kemudian diikuti oleh masuknya investasi dari berbagai perusahaan multinasional. Beberapa perusahaan minyak multinasional itu diantaranya adalah: Pertamina, Total Oil Indonesia, Chevron, Halliburton, Schlumberger, dan lainnya. Dengan keberadaan perusahan multinasional tersebut mengakibatkan standar biaya hidup di kota ini terbilang tinggi, bahkan sempat dilabeli sebagai salah satu kota termahal di Indonesia.

Perekonomian Kota Balikpapan yang tumbuh sangat pesat memancing banyak pendatang dan ekspatriat untuk berpenghidupan di kota ini. Saat ini, Balikpapan telah menjadi kota besar yang multi-etnis dan sering dinobatkan sebagai salah satu kota paling layak huni di Indonesia. Kini jumlah penduduk kota ini sekira 706.414 jiwa yang tersebar di 6 kecamatan. Berbagai macam suku hidup berdampingan di sini seperti suku Dayak, Banjar, Bugis, Jawa, Madura, Toraja, Kutai dan lainnya. Bahasa daerah yang sering digunakan disini adalah Bahasa Indonesia tetapi bila Anda memasuki pedalamannya maka bahasa daerahnya yang umum adalah bahasa banjar, bugis, Kutai dan jawa. Meski banyak pendatang di kota ini namun tidak ada yang mendominasi dan semua hidup dengan rukun dan harmonis.

Kota Balikpapan awalnya tumbuh dari sebuah perkampungan nelayan di tepi Selat Makassar pada abad ke-19. Asal usul nama ‘balikpapan’ sendiri berasal dari cerita rakyat suku Pasir Balik dimana mereka adalah adalah keturunan dari pasangan suami istri Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Oleh keturunan pasangan ini, wilayah sepanjang Teluk Balikpapan disebut Kuleng-Papan. Kuleng dalam bahasa Paser artinya Balik, hingga kini disebut sebagai kota Balikpapan. Legenda lain menyebutkan, kisah Putri Petung dari Kerajaan Pasir yang terpaksa dibuang oleh raja, ayahnya sendiri agar tak ditangkap musuh. Putri yang masih balita itu diikat di papan dan dilepas di laut. Karena gelombang, papan tersebut terbalik, dan kemudian putri tersebut ditemukan oleh nelayan dalam keadaan masih terikat di balik papan. Tempat ditemukannya putri ini disebut sebagai ‘balikpapan’.

Transportasi

Balikpapan merupakan gerbang utama menuju ibu kota Indonesia yang baru, dengan keberadaan Pelabuhan Semayang dan Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman; keduanya merupakan yang tersibuk di Kalimatan. Bahkan, pelabuhan dan bandar udara tersbeut berfungsi sebagai hub penghubung berbagai kegiatan ekonomi dan lainnya di kawasan timur Kalimantan.

Pada 2014, Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, setelah bersaing dengan 79 bandara di dunia, masuk peringkat 16 bandara dengan tingkat layanan terbaik di dunia berdasarkan survei Airport Service Quality (ASQ) yang dilakukan oleh Airport Council International (ACI). Selain memiliki koneksi langsung ke mall, konsep bandara ini juga eco airport dan back to nature, Anda bisa melihat lasekap seperti hutan alam pada bagian dinding facade, serta keberadaan ventilasi atap bergelombang yang mirip ombak laut, interiornya megah sehingga pernah dinobatkan sebagai bandara terbaik di Asia Tenggara.

Kuliner

Ada beragam kuliner yang dapat Anda nikmati selama di Balikpapan. Pastikan cicipi beberapa diantaranya. Umumnya kuliner khas Balikpapan terbuat dari bahan olahan laut seperti salah satunya adalah nasi bakar seafood dengan rasa gurih yang lezat dilengkapi udang, ikan, ataupun kepiting.

Makanan khas Balikpapan yang patut dicoba ada bubur gunting dimana proses pembuatan adonannya digunting-gunting sebelum dimasak bersama rebusan kuah santan dan gula merah.

Roti mantau khas Balikpapan nikmat untuk disantap saat menikmati malam di kota ini. Kuliner tersebut dibuat dengan cara digoreng, berbeda dengan roti yang biasa bercitarasa manis, makanan khas Balikpapan satu ini justru disajikan bersama saus balado ataupun saus lada hitam yang gurih dan kerap bersanding bersama daging kambing ataupun sapi.

Ada pula mie hijau dengan campuran sayur mayur yang memberikan warna hijau pada adonan mie, tentu mie satu ini akan terasa berbeda dengan bakmi pada umumnya. Ditambah toping ayam ataupun kepiting, kuliner khas Balikpapan ini wajib masuk daftar makanan yang wajib dicicipi saat Anda pelesir ke Balikpapan.

Ada juga keripik singkong khas Balikpapan ini memiliki tekstur sangat renyah dan rasa gurih. Cicipi juga Amplang yang menyerupai kerupuk, panganan renyah ini terbuat dari bahan dasar ikan seperti ikan tenggiri, gabus ataupun belida dan tepung sagu. Tidak hanya renyah dan gurih, amplang khas Balikpapan juga dibuat dalam berbagai rasa seperti ayam bawang, BBQ, lada hitam, dan berbagai varian rasa.

Bingka Kentang khas Balikpapan memiliki cita rasa asli yang manis yang dibuat dengan berbagai varian rasa mulai dari cokelat, gula merah, hingga pisang dan keju.

Ada onde-onde khas Balikpapan dengan isi ubi ungu, ini berbeda dengan onde-onde biasanya yang menggunakan kacang hijau.

Pisang jepit adalah kuliner khas Balikpapan yang populer yang dibuat dengan proses dibakar dan dijepit dengan kayu hingga matang. Pisang gapit ini disajikan bersama siraman sausmanis yang terbuat dari gula merah, santan, dan potongan buah nangka segar.

Daya Tarik Wisata

Kota ini ada berada di pinggir Teluk Balikpapan sehingga memiliki banyak pantai dengan pemandangan menawan bisa Anda nikmati. Beberapa pantai yang popular di antaranya adalah: Pantai Kemala, Pantai Melawai, Pulau tukung, Pantai Banua Patra, Pantai Lamaru, dan Pantai Manggar Segara Sari, dan Pantai Teritip. Anda juga bisa menikmati pemadangan pantai balik gedung hotel, mall, restoran dan bangunan tinggi lain yang berada di pantai.

Pastikan Anda berkeliling untuk menikmati suasana kota yang bersih dan tertata. Ada beberapa tujuan wisata dapat Anda sambangi seperti Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dan Hutan Mangrove Margomulyo atau wisata pantai ke Pantai Kemala, Pantai Lamaru, dan Pantai Manggar Segara sari. Ada puka Taman Bekapai di pusat kota untuk menikmati suasana malam hari kota ini. Bersama keluarga dapat juga rekreasi ke wisata air Carribean Waterpark atau melihat hewan liar di Penangkaran Buaya Teritip.

Di kota ini juga Anda juga bisa menikmati wisata sejarah seperti Tugu Peringatan Australia, Monumen perjuangan, Monumen meriam belanda dan jepang, Museum Mulawarman, rumah cagar budaya, sumur matilda, dan lainnya.

Apabila Anda berminat berbelanja maka kota ini memilki beberapa mall megah seperti Mall plaza balikpapan, Borneo Bay City, Balikpapan superblok, penta city, dan lainnya.

Tips

Perhatikan agar Anda tidak membuang sampah sembarangan dan mematuhi peraturan yang berlaku. Peraturan daerah (Perda no. 10/2004) tentang kebersihan cukup ketat, membuang sampah tidak pada tempatnya dikenai denda hingga Rp 5 juta atau kurungan 3 bulan. Itulah sebab terbentuk karakter masyarakat kota inj yang peduli pada kebersihan. Begitu pula dalam berlalu-lintas dimana pengendaranya tertib dan sopan.

Kintamani Coffee Festival 2019

Potensi Kopi Kintamani menjadi daya tarik wisatawan mancanegara untuk sekedar datang mencicipi minuman yang berasal dari Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Pemerintah Kabupaten Bangli menggelar Kintamani Coffee Festival (KCF) di anjungan Panorama Penelokan, Kintamani Bangli, guna memperkenalkan dan meningkatkan geowisata dan geoproduk yang ada di kawasan Batur Unesco Global Geopark.

Tenaga Ahli Menteri Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Prof I Gde Pitana saat membuka Kintamani Coffee Festival mengatakan, Kopi merupakan komoditas yang sudah ada ratusan tahun di Bali. Bahkan minum kopi sudah menjadi tradisi yang turun temurun.

“Belakangan ini malah, minum kopi sudah jadi gaya hidup, dan potensi kopi di sini sangat potensial mendatangkan wisatawan hanya untuk sekedar minum Kopi. Kami setiap pameran di luar negeri pun selalu ada coffee corner dan selalu berhasil menarik minat pengunjung,” katanya.

Selain itu, Kintamani Coffee Festival yang diselenggarakan dari tanggal 28 – 29 November 2019 sebagai bentuk untuk menjawab salah satu rekomendasi dari Unesco saat melaksanakan revalidasi tahun 2016, bahwa geoproduk dalam Batur Unesco Global Geopark masih kurang.

Ia juga menjelaskan, ketika berbicara kopi, maka Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar kedua di dunia. Dan ketika berbicara kopi Indonesia, maka di tempat sekarang kita menyelenggarakan festival kopi, merupakan salah satu sentra kopi yang sangat terkenal dengan kualitas kopinya yang sangat luar biasa.

“Dalam catatan saya, kopi Kintamani pertama kali di ekspor ke Amerika tahun 1825. Dari berbagai literatur, kopi Kintamani memiliki tekstur, rasa dan aroma yang sangat khas dan tidak ditemukan di tempat lain. Jadi kopi Kintamani sangat luar biasa,” terangnya.

Menurut dia, festival seperti ini merupakan salah satu wahana untuk mempromosikan produk dan destinasi dimana produk itu berada. Ia meyakini ketika festival dilaksanakan secara terus menerus akan mampu meningkatkan citra dan merek dari sebuah destinasi.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bangli Wayan Adnyana mengatakan tujuan dari penyelenggaraan Kintamani Coffee Festival adalah untuk memperkenalkan bahwa Batur Unesco Global Geopark bukan sekedar bentang alam danau atau gunung saja, tetapi Batur Unesco Global Geopark memiliki kawasan yang sangat luas.

“Kita berharap, kegiatan ini bisa masuk top 100 event pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sehingga bisa berlangsung setiap tahun, serta bisa menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Bangli,“ katanya.

Sektor Ekonomi Kreatif Dinilai Potensial Tingkatkan PDB Signifikan

Sektor ekonomi kreatif dinilai mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) bagi Indonesia secara signifikan. Terlebih ketika hal itu didukung dengan pembangunan industri kreatif yang difokuskan pada produk berorientasi ekspor dan substitusi impor serta diversifikasi produk dan jasa untuk penciptaan nilai tambah.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamen Parekraf) Angela Tanoesoedibjo saat menghadiri Creative Economy Review di Balai Kartini Jakarta, Selasa (26/11/2019) mengatakan pemetaan potensi ekonomi kreatif sangat penting untuk menyusun strategi besar guna mencapai tujuan nasional di sektor ekonomi kreatif.

“Ekonomi kreatif merupakan salah satu sektor yang diharapkan mampu menjadi kekuatan baru ekonomi di masa mendatang. Tentunya bersamaan dengan sektor pariwisata. Dan meningkatkan produk domestik bruto (PDB) bagi Indonesia,” katanya.

Wamen Angela Tanoesoedibjo juga menjelaskan, sektor ekonomi kreatif berbeda dengan sektor lain yang relatif bergantung pada eksploitasi sumber daya alam. Ekonomi kreatif justru bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia.

“Beda dengan bidang lainnya, sektor ekonomi kreatif sangat bertumpu pada SDM. Lainnya sebagian besar bertumpu pada alam. Sektor ekonomi kreatif justru menempatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama,” katanya.

Berdasarkan hasil survei BPS yang dikutip dari Opus Creative Economy Outlook 2019, Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif selalu meningkat setiap tahunnya. Pada 2017, PDB ekonomi kreatif mencapai Rp989 triliun dan diprediksi tembus Rp1.100 triliun di tahun berikutnya.

Pada 2019, bahkan diperkirakan akan mencapai Rp1.211 triliun atau 9,6% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Dengan dilakukannya riset dan bahasan prospek ekonomi kreatif ke depan, diharapkan kontribusi PDB akan terus mengalami peningkatan di tahun-tahun mendatang.

Selain itu, jumlah tenaga kerja sektor ekonomi kreatif yang menjadi salah satu indikator keberhasilan juga terus mengalami kenaikan.

Pada 2016, penyerapan tenaga kerja pada bidang ekonomi kreatif mencapai 16,9 juta orang atau 14.28 persen dari total jumlah tenaga kerja nasional menjadi 17,7 juta orang dengan laju pertumbuhan 4,55 persen pada 2017. Angka tersebut menunjukkan bahwa sifat inklusif ekonomi kreatif yang telah mampu menarik orang dengan berbagai latar, umur, dan gender.

Bali Tuan Rumah Animation Summit 2020 dan 2021

Bali terpilih sebagai tuan rumah Asian Animation Summit pada 2020 dan 2021 sebagai ajang bergengsi untuk menampilkan proyek animasi terkuat di Asia yang bisa mendatangkan investor.

Deputi Akses Permodalan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Fadjar Hutomo di Jakarta, Senin (25/11/2019), mengatakan, terpilihnya Bali sebagai tuan rumah Asian Animation Summit secara resmi setelah Kidscreen dan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menandatangani perjanjian Bali sebagai tuan rumah.

“Kami sangat berterima kasih atas kolaborasi ini. Kami berencana untuk mempromosikan industri animasi Indonesia, secara global, dan momen ini akan menjadi saat yang tepat,” tuturnya.

Dua tahun terakhir, event ini berlangsung di Seoul, Korea Selatan, dan Brisbane, Australia. Sekitar 50 persen dari proyek yang memulai debutnya di Asian Animation Summit, telah masuk ke produksi. Seperti Bluey yang diambil oleh Disney. Selain itu juga Bottersnikes & Gumbles (2012), Kuu Kuu Harajuku (2013), Wonderballs (2012), dan Balloon Barnyard (2014).

Tahun ini, terdapat 25 proyek animasi baru yang mencari mitra dan pendanaan. Proyek-proyek itu datang dari Korea, Malaysia, Australia, Thailand, dan Indonesia.

“Kami berharap dapat menjadikan ajang Asian Animation Summit lebih besar dan menjadi daya tarik bagi calon pesertanya. Kami memiliki bakat animasi, dan kami juga memiliki fasilitas seperti studio yang dapat dikunjungi peserta,” tutur Fadjar.

Fadjar mengatakan pemilihan Bali sebagai tuan rumah sangat tepat. “Bali adalah surga bagi wisatawan dan sudah berkali-kali mendapatkan penghargaan internasional. Bali juga sudah mempunyai pengalaman menjadi tuan rumah MICE tingkat dunia,” katanya.

Lebih dari itu, Fadjar pun yakin Bali bisa memberikan inspirasi kepada para peserta Asian Animation Summit.

“Karena, Bali memiliki segalanya. Keindahan alam, budaya, juga wisata ‘manmade’. Semua tersaji lengkap dan akan memberi inspirasi bagi peserta Asian Animation Summit,” tegasnya.