Home Blog Page 22

Pinisi: Kapal Layar Pengarung Lautan Khas Bugis

Pinisi, inilah adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal Pinisi umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, serta dua di belakang.

Ketika Anda berlayar di lautan Indonesia maka akan bertemu dengan salah kapal tradisional yang luar biasa ini. Kapal Pinisi telah berabad-abad berlayar hingga Malaka, Burma, Vietnam, dan Australia. Anda bisa melihat kapal tradisional tersebut bersandar di pelabuhan Paotere Makassar, di pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta, di dermaga Ujung Surabaya, di tempat pembongkaran kayu dari Kalimantan, bahkan di pelabuhan kecil Labuhan Bajo di Flores. 

Kapal Pinisi umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau di Nusantara. Orang Bugis dan Mandar yang berasal dari Sulawesi Selatan adalah pembuat kapal sekaligus pelayar yang handal. Kapal-kapal pinisi ini telah membawa orang Bugis berlayar di kepulauan Nusantara hingga Jawa, Kalimantan, Sumatra, Papua, dan kepulauan Nusa Tenggara. Orang Bugis tidak hanya dikenal sebagai pembuat kapal yang handal tapi juga sebagai bajak laut yang di takuti.

Abad ke-18 saat Belanda menjajah Nusantara, banyak kaum bangsawan berlayar ke Malaysia dan Kalimantan. Sultan Kutai di Kalimantan Timur serta Johor dan Selangor di Malaysia adalah keturunan Bugis. Daerah pedalaman orang Bugis asli berada di Luwu Teluk Bone. 

Abad ke-13 dan 14 adalah masa berkembangnya Kerajaan Bugis. Salah satu hasil karya sastra terbesar orang Bugis lahir pada masa ini yaitu“I La Galigo”.Karya sastra ini berisi cerita asal muasal orang Bugis dengan tebal lebih dari 6,000 halaman. Termasuk di dalamnya tentang kapal Pinisi yang pertama sekali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading kembali kekampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi terbelah tiga yang terdampar di desa Ara, Tanah Beru dan Lemo-lemo. Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut menjadi perahu yang kemudian dinamakan Pinisi.

Kapal layar Bugis Pinisi beratnya 100-200 ton dan saat ini masih berperan penting sebagai angkutan tradisional dalam perdagangan antar pulau. Abad ke-19 Bugis Perahu pernah digunakan untuk mengangkut barang-barang dari Eropa dan Cina dari Singapura ke Dobo di pulau Aru di Nusatenggara Timur kemudian berhenti di dermaga terpencil di sepanjang jalur. Dari kepulauan Indonesia mereka mengumpulkan bulu-bulu burung surga, kayu cendana, rempah-rempah, emas, dan cabe. Mereka menjual barang-barang tersebut dengan harga yang tinggi di Singapura kepada pedagang Cina dan India.

Saat ini, Kapal layar Bugis Pinisi membawa sejumlah kargo kecil berisi kayu gelondongan, semen, ubin rumah, beras, gula, rokok, hingga sepeda motor untuk di jual di seluruh pulau.

Kapal layar tradisional Bugis Pinisi dilengkapi juga dengan peralatan tempat tinggal di laut untuk para penyelam. Kapal kokoh ini sekarang dilengkapi kabin, dapur, dan kamar mandi, juga peralatan ekspedisi menyelam ke Taman Komodo di Flores dan Taman Nasional Raja Ampat, dekat Sorong di Papua Barat.

Ada dua jenis kapal pinisi yaitu pertama Lamba atau lambo. Yaitu Pinisi modern yang masih bertahan sampai saat ini dan dilengkapi dengan motor diesel (PLM). Yang keduaadalah Palari, yaitu bentuk awal pinisi dengan lunas yang melengkung dan ukurannya lebih kecil dari jenis Lamda.

Sementara itu Kapal layar Bugis pinisi yang berukuran besar yang sekarang ini telah meniru kapal layar Barat abad ke-19. Selain itu juga merupakan versi besarnya dari perahu Bugis terdahulu, dikenal sebagai Perahu Patorni dan Padewakang.

Kapal pinisi yang merupakan salah satu kapal tradisional kebanggaan Indonesia dan memiliki keunikan dalam pembuatannya. Umumnya, seperti kapal-kapal di negara Barat, rangka kapal dibuat lebih dahulu baru dindingnya. Sedangkan kapal pinisi, pembuatannya dimulai dengan dinding dulu baru setelah itu rangkanya.

Kapal layar pinisi dapat Anda ditemukan di pantai selatan Sulawesi Selatan, berpusat di sekitar Bulukumba di Tana Beru. Di sini Anda dapat menyaksikan pembuatan kapal yang mengesankan dengan alat tradisional. 

Konstruksi kapal Pinisia adalah gabungan pengetahuan dan pengalaman tradisional kuno disertai ritual yang ketat yang harus diikuti untuk memastikan keamanan di laut. Para pengrajin perahu ini harus menghitung hari baik untuk memulai pencarian kayu sebagai bahan baku. Biasanya jatuh pada hari ke lima dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 (naparilimai dalle’na) yang artinya rezeki sudah di tangan. Sedangkan angka 7 (natujuangngi dalle’na) berarti selalu dapat rezeki. Setelah dapat hari baik kemudian kepala tukang yang disebut “punggawa” memimpin pencarian. 

Tidak ada rancangan atau catatan tertulis dalam kertas untuk membuat kapal Pinisi. Seorang punggawatelah semua detail rancangan Pinisi hanya di kepala mereka.

Meskipun para pengrajin kapal ini sering disebut sebagai orang Bugis, namun mereka dibagi menjadi empat sub suku. Keempatnya adalah Konjo di bagian selatan Sulawesi Selatan (Ara, Bira dan Tanah Biru), Mandar di Sulawesi Barat sampai bagian utara Makasar, Bugis di wilayah sekitar Wajo bagian timur Teluk Bone, dan Makassar di wilayah sekitar Kota Makasar. Di antara semua itu, Konjo adalah yang paling berpengaruh dalam pembuatan kapal pinisi.

Ekspedisi kapal Pinisi Indonesia yang terkenal adalah Pinisi Nusantara telah berlayar ke Vancouver, Kanada, memakan waktu 62 hari tahun 1986. Tahun 1987, ada lagi ekspedisi perahu Padewakang, “Hati Marige” ke Darwin, Australia, mengikuti rute klasik. Lalu Ekspedisi Ammana Gappa ke Madagaskar, terakhir pelayaran Pinisi Damar Segara ke Jepang.

Kegiatan

Jika kita berkunjung ke kota Makassar, sekitar 5 km perjalanan atau kurang lebih 10 menit dari pelabuhan maka akan Anda temukan sebuah pelabuhan tradisional yaitu Pelabuhan Paotere. Di sinilah Anda bisa jumpai banyak kapal Pinisi.

Di sekitarnya Anda dapat menggunakan becak untuk berkeliling menuju pelabuhan ini. Selama menyusuri jalanan Anda akan melihat kota tua Makasar dekat pelabuhan dan gerbang tol pelabuhan. Di pinggir tolnya akan And temui juga perkampungan nelayan sebelum akhirnya sampai di pelabuhan Paotere.

Di Pelabuhan Paotere Anda akan menikmati pemandangan nelayan membawa hasil tangkapan laut sekaligus kegiatan mereka di pusat niaganya. Dekat pelabuhan ini juga Anda bisa berwisata kuliner makanan khas laut yang diracik dengan bumbu ala Makassar. Karenanya jangan lewatkan mengunjunginya.

Jejak Budaya dan Peradaban di Pasar Tradisional Toraja

Pasar tradisional tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli atau tukar informasi. Lebih dari pada itu, pasar bahkan memiliki peran lain yang juga penting, misalnya sebagai wajah kebudayaan dan jejak peradaban masyarakat di sekitarnya. 

Pasar Bolu dan Pasar Makale adalah dua pasar di Tana Toraja yang mencerminkan budaya dan sekaligus tampilan peradaban masyarakat Toraja. Kedua pasar ini merupakan dua pasar terbesar di Kabupaten Tana Toraja. Sebelum mengenal lebih jauh tentang kedua pasar tersebut, baiknya Anda mengenal dulu sejarah, peran, dan mekanisme pasar tradisional dalam kehidupan masyarakat Toraja.

Sejarah, Peran, dan Mekanisme Pasar di Toraja: Masa Lampau dan Masa Kini 

Masa Lampau

Di masa lampau, budak, senjata api, dan kopi adalah beberapa komoditas utama dalam sistem perdagangan Toraja. Disebut-sebut juga bahwa sejak abad ke-17, Toraja sudah menjadi bagian dari sistem perdagangan global dengan memperjualbelikan budak yang dikirim hingga ke Siam. Aktifitas perdagangan semakin meningkat pada pertengahan abad ke-19, dimana kopi dan senjata api turut menjadi komoditas perdagangannya. Kopi dan budak dikirim keluar Toraja, sementara senjata api dan kain dibawa masuk ke Toraja. Lokasi geografis Toraja yang berada di pegunungan dan sulit diakses rupanya tidak menjadi penghalang kegiataan perdagangan global tersebut. 

Menurut Bigalke (1981) sistem hari pasar bergilir sudah dipraktekkan sejak abad ke-19. Pasar-pasar besar di bagian Utara Toraja pada masa itu terpusat di Pasar Kalambe (sekarang dikenal dengan Pasar Bolu) dan Pasar Rantepao (sekarang dikenal dengan Pasar Pagi Rantepao). Pasar-pasar tersebut hanya buka sekali dalam enam hari, dan buka secara bergiliran. Saat hari pasar berlangsung maka dapat mengundang pengunjung sekira 1500hingga 5000 orang. Sedangkan untuk pasar yang kecil, pengunjung adalah 600 hingga800 pengunjung. Masih menurut Bigalke (1981), pasar-pasar ini turut berperan dalam mengintegrasikan kelompok etnis Tana Toraja yang terpecah-pecah dan berperang satu sama lain. 

Pada awal abad ke-20, saat pemerintahan kolonial menyentuh Toraja, penjualan budak dan senjata api terhenti. Komoditi pasar adalah terdiri dari hasil bumi (kopi, padi, buah, dan sayur-sayuran), produk-produk konsumtif (tembakau, gambir, sirih, dan pinang), dan produk-produk lain seperti rotan, tembikar, kerajinan bambu, kain, dan lain sebagainya. 

Masa Kini

Pasar tradisional Toraja di masa kini telah mengalami perubahan menyangkut sistem regulasi. Pasar-pasar tradisional Toraja sekarang dikelola oleh pemerintahan daerah dan dibagi dalam 5 kelompok. Dari 5 kelompok ini, 4 kelompok besar dikelola langsung oleh pemerintah, sementara satu kelompok yang terdiri dari pasar-pasar kecil dikelola langsung oleh desa-desa setempat. 

Berikut adalah pembagian atau kelas-kelas dari 4 kelompok besar pasar tradisional tersebut di atas. 

Pasar Ternak, yaitu Pasar Bolu di Rantepao dan Pasar Makale di Makale. Kelompok pasar kedua adalah Pasar Umum Kelas I, terdiri dari dua pasar terbesar di Toraja, yaitu Pasar Bolu dan Pasar Makale. Komoditas utama kedua pasar ini berturut-turut adalah hewan ternak kerbau dan babi. Sebagaimana diketahui, kerbau dan babi adalah hewan ternak yang paling penting bagi masyarakat Toraja. Dua hewan ini adalah yang wajib dipenuhi pada setiap upacara adat di Toraja. Selanjutnya, Pasar Umum Kelas IImeliputi pasar-pasar sebagai berikut: Pasar Pagi (Rantepao), Pasar Ge’tengan (Mengkendek), Pasar Salubarani (Mengkendek), Pasar Sangalla, Rembon, Bittuang, dan To’karau (Sessean). Kelompok terakhir adalah Pasar Umum Kelas IIIyang merupakan pasar-pasar lebih kecil, yaitu: Pasar Pindan (Rinding Allo), Buntu (Mengkendek), Sapan (Rinding Allo), Ulusalu, Rantetayo, Pondo’ (Nanggala), Buntao’/ Ledo, Ponding Ao’ (Bittuang). 

Sementara itu, sistem pasar Toraja di masa kini melibatkan 6 pasar dan masih menggunakan sistem bergilir 6 hari sekali, mengikuti jadwal harian pasar. Adapun keenam pasar yang masuk dalam sistem hari pasar ini tidak ditentukan berdasarkan kelas pasar sebagaimana diuraikan di paragraf sebelumnya. Berdasar pengamatan yang dilakukan di tahun 2005, hari pasar di Toraja berturut-turut adalah Makale─Rembon─Rantepao─Ge’tengan─Rantetayo─Sangalla, lalu urutan akan mulai kembali ke Makale. Misal, apabila di minggu ini Pasar Bolu buka di hari Rabu, maka minggu depan pasar akan buka di hari Selasa. Konon sistem pembagian hari pasar ini dicantumkan di kalender yang dicetak dan didistribusikan di Kabupaten Tana Toraja. 

Adapun komoditas utama pada pasar-pasar tradisional Toraja adalah ternak kerbau dan babi, hasil bumi atau bahan pangan (seperti kopi, cokelat, sayur, dan buah-buahan), serta komoditas lainnya yang menunjang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat Toraja. Komoditas-komoditas tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan komoditas yang diperdagangkan sejak awal abad ke-20. 

Pasar Bolu

Terletak di pusat wisata Toraja, Kota Rantepao, Pasar Bolu sudah terkenal sebagai objek wisata yang menarik dan unik untuk dikunjungi. Pasar ternak, demikian pasar ini juga dikenal, merupakan pusat penjualan kerbau dan buka sekali dalam 6 hari (sesuai jadwal hari pasar). Selain kerbau, babi juga dijual di pasar ini, hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Sayur, buah-buahan, kopi, dan komoditi hasil bumi lainnya juga dapat ditemukan di pasar ini.

Pada saat hari pasar, jumlah kerbau yang diperjualbelikan dapat mencapai 500 ekor, apalagi saat akan diadakannya upacara-upacara adat. Selain banyaknya kerbau yang diperjualbelikan, pasar ini pun akan dipenuhi pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan lokal dan mancanegara yang ingin menyaksikan secara dekat kehidupan sebuah pasar ternak besar yang hanya ada di Toraja. Adapun harga kerbau yang diperjualbelikan mulai dari 5 juta rupiah hingga ratusan juta rupiah. Warna dan ukuran tubuh kerbau adalah tolak ukur penentuan harga. Kerbau kecil berwarna hitam akan dihargai sekira 5 juta, kerbau hitam dengan ukuran agak besar berkisar 10─15 juta. Sementara itu, kerbau berwarna belang (Tedong Bonga), yang merupakan salah satu komoditas unggul, dapat dihargai puluhan juta rupiah. Sedangkan kerbau albino yang terbilang langka dapat dihargai lebih mahal lagi hingga mencapai ratusan juta rupiah. 

Pasar Makale

Jika di Pasar Bolu komoditi utamanya adalah kerbau, maka di Pasar Makale komoditi utamanya adalah babi. Pasar ini pun kerap disebut sebagai Pasar Babi. Pasar ini bertempat di blok sekira 50 × 20 meter, yang dibagi dalam tiga bagian: bagian untuk anak babi, babi dewasa, dan daging babi. Jika Anda mengenal istilah kucing dalam karung, maka di Toraja Anda akan melihat babi dalam karung. Babi yang dimasukkan di dalam karung  beras adalah anak-anak babi yang biasanya dibeli untuk dipelihara. Saat ada pembeli yang berminat, maka karung tersebut akan dibuka sedikit untuk diperlihatkan kepada calon pembeli. Sementara untuk babi dewasa, biasanya diikat pada bilah bambu dan diletakkan di tanah atau balai bambu.  

Adapun kisaran harga babi, yaitu: 500─750 ribu untuk seekor anak babi. Sedangkan babi dewasa dapat mencapai kisaran 3─9 juta. Akan tetapi, kabarnya pernah pula ada babi yang dihargai puluhan bahkan ratusan juta rupiah sebab bobot tubuhnya menyaingi bobot tubuh seekor kerbau. Berbeda dengan kerbau, babi hitam justru berharga lebih mahal dibandingkan dengan babi albino atau belang. Pasar babi ini pun hanya ada sekali dalam enam hari. Jika hari biasa, tidak ada babi yang diperjualbelikan. 

Kerbau dan babi adalah simbol status bagi masyarakat Toraja dan merupakan hewan penting bagi kebudayaan masyarakat yang masih menganut ajaran animisme ini. Kerbau adalah syarat yang harus dipenuhi dalam sebuah upacara adat, terutama pemakaman; dipercaya bahwa kerbau yang disembelih akan menjadi kendaraan bagi roh jenazah yang hendak dikuburkan agar cepat sampai ke nirwana. Semakin banyak kerbau yang disembelih pada suatu upacara adat, semakin tinggi pula kedudukan keluarga penyelenggara upacara. Bagi golongan bangsawan, dibutuhkan kerbau sebanyak 24─100 kerbau. Sedangkan bagi golonganmenengah, 8 ekor kerbau dan 50 babi adalah syarat wajib yang harus dipenuhi dalam melaksanakan upacara pemakaman adat (Rambu Solo).

Oleh karena itu, keberadaan pasar ini tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan dan peradaban masyarakat Toraja. Sistem hari pasar pun merupakan sistem warisan leluhur masyarakat Toraja sejak ratusan tahun lalu.

Pasar Bolu: Masyarakat Toraja dalam Rutinitas Jual Beli

Anda bisa saja terkesan pada satu destinasi karena alasan yang sangat sederhana. Mungkin karena Matahari terbitnya, atau cara penduduknya menatap Anda. Alasan yang lebih mainstream, Anda dibuat rindu oleh rasa kulinernya yang tak tergantikan, atau kopi hangat ternikmat yang pernah ada. Akan tetapi,pernahkah terpikat oleh suatu tempat hanya karena cabai?

Mungkin belum, sampai Anda tak sengaja mencicip cabai katokkon asal Toraja yang mirip paprika namun hanya sebesar ibu jari. Di kota ini, cabai merah besar hanya berfungsi sebagai garnish, cabai rawit diakui pedas tapi tidak terlalu, sementara yang berani ambil resiko lebih memilih sambal katokkon. 

Pasar Bolu Toraja pagi itu sudah disesaki oleh penduduk lokal, terlihat juga beberapa wisatawan Barat paruh baya yang mengalungi kamera di lehernya. Pasar-pasar tradisional menjadi bagian hidup terpenting karena di sinilah suatu masyarakat mendaur hidupnya secara umum. Mereka berinteraksi, menjual hasil bumi untuk bertahan hidup, juga membelinya untuk bertahan hidup. Lewat pasar tradisional pula, Anda akan mengigat secara visual sumber daya alam yang dimiliki Toraja, termasuk salah satu cabai terpedas di Indonesia, yaitu katokkon.

Namun ketika sampai di sini, pusat perhatian Anda tidak akan konstan hanya pada katokkon. Ada bumbu-bumbu dapur dan sayur yang tidak biasa ditemui di pasar daerah lain, sebut saja pangi, kluwek Toraja, ataupun daun miana. Di sudut yang lain dijajarkan beragam macam beras seperti beras putih, beras meras merah dan beras hitam yang biasa digunakan untuk membuat ketan.

Uniknya, penjual di sini membawa timbangan barang tapi jarang digunakan sehingga tidak ada satuan yang pasti, khususnya untuk bumbu-bumbu dapur. Saat membeli cabai katokkon misalnya. Mereka mematok harga Rp20 ribu untuk hitungan satu katti, bukan per ons atau per kilo. Katti adalah wadah-wadah seperti gelas, katti biasanya merupakan kemasan sabun cuci yang sudah tidak terpakai lagi untuk digunakan pedagang sebagai satuan ukur.

Setelah melewati blok bumbu-bumbu dapur, teruslah berjalan menelusuri pasar sampai Anda menemukan blok khusus yang menjual daging dan ikan. Di Toraja, sapi tidak dikonsumsi, digantikan oleh daging kerbau ataupun daging babi. Sementara itu di bagian luar pasar, ada pedagang kopi, sirih, dan juga minuman arak khas Toraja yaitu ballo. Sama seperti bumbu-bumbu dapur, ballo tidak dijual per liter melainkan per gayung kecil, gayung besar dan yang paling besar adalah jerigen.

Berkelilinglah terus sampai Anda melihat ibu-ibu yang membawa seekor ayam lalu menjualnya langsung ke pedagang lain, atau, ada juga proses barter barang antara pengunjung dan pedagang di Pasar Bolu. Satu lagi, hal yang tak luput dari Pasar Bolu adalah pemandagan pria-pria yang membawa ayam jantan ke suatu tempat yang tak jauh dari pasar tradisional.

Ternyata pasar terbagi menjadi dua area: pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari dan pasar hewan ternak. Pria-pria itu membawa ayamnya ke blok hewan ternak yang terletak 100-200 meter dari pasar sayur-mayur. Tidak hanya ayam jantan, babi dan kerbau seharga puluhan hingga ratusan juta yang kerap melambangkan prestise orang Toraja dijual di pasar ini. Sementara kerbau-kerbau dikumpulkan dan dijual di sebuah tanah lapang, calon pembeli berkeliling untuk mencari kerbau terbaik, dan sebagian lagi memanfaatkan ketinggian agar lebih leluasa memilih kerbau. Tak jarang juga terlihat pria-pria yang hanya sekadar singgah di sini untuk melihat-lihat kerbau.

Sistem pembayaran yang digunakan adalah uang tunai. Uang-uang itu disimpan oleh para pembeli di tas-tas seadanya, bahkan ada yang menyimpannya di kantong plastik hitam. Pembelipun tidak selalu berpakaian rapi, banyak yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek, atau bahkan sambil membawa sarung

Umumnya, harga kerbau bisa dinegosiasi dan pedagang seringkali membuka harga dengan kata-kata “50 kurang” atau “100 kurang” yang artinya “di bawah Rp50 juta” atau “di bawah Rp100 juta”. Kerbau paling mahal dan primadona di sini adalah kerbau-kerbau albino yang memiliki corak hitam paling variatif di sekujur tubuhnya. .

Begitu cintanya orang Toraja pada kerbau sehingga hewan-hewan ini diikat pada hidungnya, dan disimpulkan pada tali-tali lain yang diletakkan di atas kerbau. Di Pasar Bolu, kerbau-kerbau yang belum laku akan diikat seperti ini. Sepintas, ini terlihat menyakitkan  tapi beginilah cara orang Toraja merawat hewan kesayangan mereka. Jika kerbau diikat di leher,  kepala kerbau tidak terpantau dan hewan tersebut bisa saja mengunyah makanan sembarangan. Sebaliknya, jika diikat di hidung maka kerbau bisa menurut. Lagipula, hidung merupakan tulang rawan sehingga cara mengikat seperti ini tidak menyakitkan.

Di samping itu, pengalaman menarik lain adalah melihat kerbau-kerbau ini dimandikan pemiliknya. Kerbau dimandikan setiap minggu menggunakan sabun pencuci rambut yang juga kerap digunakan untuk manusia. 

Tertarik untuk ke sini? Dahulu, Pasar Bolu hanya digelar setiap Selasa dan Sabtu apabila menuruti tanggal adat Toraja. Namun untuk keperluan pariwisata, pasar ini diminta bupati untuk buka setiap hari. Ada tiga cara jika ingin tau kebudayaan suatu masyarakat, yaitu bertamulah ke rumahnya, pergilah ke upacara adatnya, dan singgahlah sejenak ke pasar tradisionalnya. Di Toraja, wisatawan dianggap tamu terhormat dan keberadaan mereka membawa berkah sehingga ketika melakukan tiga hal di atas, Anda selalu diterima dengan baik. Dengan demikian, Anda juga akan dibuat nyaman saat mengunjungi pasar tradisional ini.

Pa’piong Toraja: Pemanfaatan Ruas-Ruas Bambu untuk Kuliner Tradisional

“Orang Perancis tidak mau makan pa’piong. Kalau mereka belum lihat wujudnya, mereka pikir itu kupu-kupu,” ucap seorang pemandu di Toraja.

Seperti itulah candaan pemandu-pemandu di Toraja siang itu. Dalam bahasa Perancis, papillon (pa’pion) adalah kupu-kupu, tapi di Toraja, ini adalah makanan khas yang dimasak dengan cara yang masih sederhana dan tradisional. Pa’piong kerap kali dipesan dan disantap oleh turis-turis mancanegara yang singgah ke Toraja. Keberadaannya juga tidak sulit ditemukan.

Apakah Anda ingat ‘lemang’ makanan khas Melayu yang dimasak di dalam seruas bambu? Ya, cara pematangan pa’piong persis seperti itu namun isinya bukanlah ketan melainkan daging. Pa’piong umumnya menggunakan daging babi, tapi kini isinya sudah mulai diadaptasi menggunakan ayam kampung, daging kerbau dan ikan mas. 

Jika dahulu disajikan hanya untuk upacara adat, pa’piong kini disantap baik untuk makan siang ataupun makan malam untuk menemani nasi, sup dan lauk-pauk lainnya.

Daging yang telah disiapkan akan dilumuri bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, garam, potongan dan serai untuk menghilangkan bau amis. Kemudian, daging dibungkus daun miana sebelum dimasukkan ke dalam ruas bambu berdiameter 8-10 cm dan dibakar. Tak lupa juga kedua ujung bambu ditutupi oleh daun pisang. 

Pa’piong akan masak dalam satu jam durasi pembakaran, dengan catatan selama pembakaran bambu-bambu tersebut terus diawasi dan dibolak-balik agar matangnya merata. Indikator matangya pa’piong adalah ketika Anda telah melihat permukaan bambu berubah menghitam. Setelah matang, isinya diburai dan diletakkan di piring-piring. Pa’piong ayam yang telah matang akan berwarna kuning kecokelatan seperti halnya semur ayam. Teksturnya dagingnya juga mirip ayam yang digoreng tidak terlalu matang. Akan tetapi, salah satu yang khas dari hidangan ini adalah adanya parutan kelapa yang menjadi penyedap.

Sementara itu, pa’piong ikan direkomendasikan bagi mereka yang tidak suka daging. Cara memasaknya sama saja, yaitu dengan mencampurkan daging dengan bumbu-bumbu kemudian membalutnya dengan daun miana sebelum dimasukkan ke dalam ruas bambu. 

Saat bersantap di restoran-restoran di Toraja, tamu biasanya akan dihidangkan masakan Indonesia dan juga makanan barat, sebut saja sup jagung, sup ayam, aneka seafood, hingga pizza dan spagethi. Disebarluaskannya pa’piong menjadi angin segar yang menghubungkan wisatawan dengan kuliner lokal. Emosional wisatawan begitu kuat sehingga mereka termotivasi untuk mencoba pa’piong lebih dari sekali. Hal inilah yang menyebabkan pa’piong mulai disajikan di restoran-restoran hotel berbintang dan cara memasaknya diadaptasikan kembali. Cara tradisional terhitung lama sehingga dibuatlah cara memanggang menggunakan alumunium foil dan oven. Meskipun cerita di belakangnya berbeda, kenikmatan pa’piong tidak akan luntur.

Umumnya, pa’piong dipesan terlebih dahulu agar ketika tamu datang, mereka bisa langsung menyantapnya tanpa menunggu lama. Pada restoran-restoran dengan dapur terbuka, Anda berkesempatan untuk melihat langsung pembuatan pa’piong itu. Begitupun di Pasar Bolu, di blok-blok khusus yang menjual daging ada suguhan unik cara memasak pa’piong yang masih tradisional. 

Tertarik menyantap pa’piong? Berikut ini adalah beberapa restoran di Rantepao, Toraja Utara, yang memiliki menu tersebut:

Rumah Makan Monika

Jl. Poros Makale-Rantepao No.77, Tallulolo, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan

Cafe Aras

Jl. Andi Mappanyukki No.64, Kel. Malango, Kecamatan Rantepao Malango’, Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan

Mentirotiku

Jl. Simpang Batutumonga, Tikal, Lempo, Sesean Suloara, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Utara, 91853

Tongkonan: Rumah Adat Toraja yang Mengagumkan Penuh Makna

Inilah salah satu bentuk kearifan lokal mengagumkan produk rumah adat di Indonesia. Tongkonan adalah rumah khas masyarakat Tana Toraja di Sulawesi Selatan. Hingga saat ini rumah unik tersebut bersama budaya Tana Toraja lainnya menjadi daya tarik wisata dan terus menerus diminati pelancong.

Tongkonan adalah rumah adat dengan ciri rumah panggung dari kayu dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Atapnya rumah tongkonan dilapisi ijuk hitam dan bentuknya melengkung persis seperti perahu telungkup dengan buritan. Ada juga yang mengatakan bentuknya seperti tanduk kerbau. Sekilas mirip bangunan rumah gadang  di Minangatau Batak.

Ada nuansa unik dari rumah tongkonan yang luar biasa sekaligus bersahaja, perhatikan tumbuhan hijau yang ada di atas atapnya justru memperindah tampilan rumah adat ini.

Semua rumah tongkonan yang berdiri berjejer akan mengarah ke utara. Arah tongkonan yang menghadap ke utara serta ujung atap yang runcing ke atas melambangkan leluhur mereka yang berasal dari utara. Ketika nanti meninggal mereka akan berkumpul bersama arwah leluhurnya di utara.

Berdasarkan penelitian arkeologis, orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Pendatang dari Cina ini kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan. Kata tanaartinya negeri, sedangkan kata torajaberasal dua kata yaitu tau(orang) dan maraya(orang besar atau bangsawan). Kemudian penggabungan kata-kata tesebut bermakna tempat bermukimnya suku Toraja atau berikutnya dikenal sebagai Tana Toraja.

Tongkonanberasal dari kata tongkonyang bermakna menduduki atautempat duduk. Dikatakan sebagai tempat duduk karena dahulu menjadi tempat berkumpulnya bangsawan Toraja yang duduk dalam tongkonan untuk berdiskusi. Rumah adat ini mempunyai fungsi sosial dan budaya yang bertingkat-tingkat di masyarakat. Awalnya merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, sekaligus perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja. 

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual adat yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual mereka. Oleh karena itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur.

Masyarakat Toraja menganggap rumah tongkonansebagai ibu, sedangkan alang sura(lumbung padi) sebagai bapak. Tongkonan berfungsi untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalokyang berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, serta tempat meletakkan sesaji. Ruangan sebelah selatan disebut sumbung, merupakan ruangan untuk kepala keluarga tetapi juga dianggap sebagai sumber penyakit. Ruangan bagian tengah disebut Saliyang berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, dapur, serta tempat meletakkan orang mati. 

Mayat orang mati masyarakat Toraja tidak langsung dikuburkan tetapi disimpan di rumah tongkonan. Agar mayat tidak berbau dan membusuk maka dibalsem dengan ramuan tradisional yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Sebelum upacara penguburan, mayat tersebut dianggap sebagai ‘orang sakit‘ dan akan disimpan dalam peti khusus. Peti mati tradisional Toraja disebut erongyang berbentuk kerbau (laki-laki) dan babi (perempuan). Sementara untuk bangsawan berbentuk rumah adat. Sebelum upacara penguburan, mayat juga terlebih dulu disimpan di alang sura (lumbung padi) selama 3 hari. 

Lumbung padi tersebut tiang-tiangnya dibuat dari batang pohon palem (bangah) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari  yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara. 

Ukiran khas Toraja bermakna hubungan masyarakat Toraja dengan pencipta-Nya, dengan sesama manusia (lolo tau), ternak (lolo patuon), dan tanaman (lolo tananan). Ukiran tersebut digunakan sebagai dekorasi eksterior maupun interior rumah mereka.

Saat Anda melihat rumah adat ini, ada ciri lain yang menonjol yaitu kepala kerbau menempel di depan rumah dan tanduk-tanduk kerbau pada tiang utama di depan setiap rumah. Jumlah tanduk kepala kerbau tersebut berbaris dari atas ke bawah dan menunjukan tingginya derajat keluarga yang mendiami rumah tersebut. Di sisi kiri rumah yang menghadap ke arah barat dipasang rahang kerbau yang pernah di sembelih. Di sisi kanan yang menghadap ke arah timur dipasang rahang babi.     

Ornamen tanduk kerbau di depan tongkonan melambangkan kemampuan ekonomi sang pemilik rumah saat upacara penguburan anggota keluarganya. Setiap upacara adat di Toraja seperti pemakaman akan mengorbankan kerbau dalam jumlah yang banyak. Tanduk kerbau kemudian dipasang pada tongkonan milik keluarga bersangkutan. Semakin banyak tanduk yang terpasang di depan tongkonan maka semakin tinggi pula status sosial keluarga pemilik rumah tongkonan tersebut.

Ornamen rumah tongkonan berupa tanduk kerbau serta empat warna dasar yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih yang mewakili kepercayaan asli Toraja (Aluk To Dolo). Tiap warna yang digunakan melambangkan hal-hal yang berbeda. Warna hitammelambangkan kematian dan kegelapan. Kuningadalah simbol anugerah dan kekuasaan ilahi. Merahadalah warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Dan, putihadalah warna daging dan tulang yang artinya suci. 

Ada beberapa jenis rumah adat togkonan, antara lain  tongkonan layuk(pesio’aluk),  yaitu tempat menyusun aturan-aturan sosial keagamaan. Tongkonan pekaindoran(pekamberan ataukaparengngesan), yaitu berfungsi sebagai tempat pengurus atau pengatur pemerintahan adat. Ada juga batu a’ririyang berfungsi sebagai tongkonan penunjang yang mengatur dan membina persatuan keluarga serta membina warisan.

Tongkonan milik bangsawan Toraja berbeda dengan dari orang umumnya. Yaitu pada bagian dinding, jendela, dan kolom, dihiasi motif ukiran yang halus, detail, dan beragam. Ada ukiran bergambar ayam, babi, dan kerbau, serta diselang-seling sulur mirip batang tanaman. 

Menurut cerita masyarakat setempat bahwa tongkonan pertama itu dibangun oleh Puang Matua atau sang pencipta di surga. Dulu hanya bangsawan yang berhak membangun tongkonan. Selain itu, rumah adat tongkonan tidak dapat dimiliki secara individu tapi diwariskan secara turun-temurun oleh marga suku Toraja.

Rumah tongkonan rata-rata dibangun selama tiga bulan dengan sepuluh pekerja. Kemudian ditambah proses mengecat dan dekorasi satu bulan berikutnya. Setiap bagian tongkonan melambangkan adat dan tradisi masyarakat Toraja. 

Bayangkan bahwa rumah adat ini dibangun dengan konstruksi yang terbuat dari kayu tanpa menggunakan unsur logam sama sekali seperti paku.

Ada kepercayaam, kebanggaan, tradisi kuno, dan peradaban dari setiap detail rumah tongkonan yang dibangun masyarakat Toraja, Jadi tidak bisa sembarangan membangunnya.

Rumah adat tongkonan akan terus dibangun dan didekorasi ulang oleh masyarakat Toraja. Hal itu bukan karena alasan perbaikan tetapi lebih untuk menjaga gengsi dan pengaruh dari kaum bangsawan. Pembangunan kembali rumah tongkonan akan disertai upacara rumit yang melibatkan seluruh warga dan tidak jauh berbeda dengan upacara pemakaman.

Transportasi

Anda dapat menemukan rumah mengagumkan ini di Rantepao, Tana Toraja. Dari Maskassar tersedia bus tujuan Rantepao seperti Litha dan Bintang Timur. Tiketnya seharga Rp80.000,00 hingga Rp100.000,00 per orang.

Bangunan Tradisional Khas Tana Toraja

Seringkali rumah-rumah tradisional dikagumi karena arsitekturnya atau bagaimana anggota keluarga hidup di dalamnya pada saat itu. Jarang terpikirkan bahwa bangunan tersebut menginformasikan lebih jauh tentang sistem sosial hingga struktur kekerabatan pada suatu masyarakat. Tongkonan Toraja adalah salah satu contohnya. Bentuk tongkonan secara kasat mata unikdengan atap menyerupai pelana yang kedua ujungnya melengkung tajam ke atas. Bangunan ini menarik perhatian wisatawan melalui seninya dan cerita-cerita filosofis di setiap motif serta materialnya. 

Mereka yang belum ke Toraja mungkin belum tau, tidak semua bangunan dengan atap pelana seperti itu adalah tongkonan. Perbedaannya sangat kuat dari struktur dan ukuran bangunan. Secara sosial, fungsinya tentu berbeda.

Tongkonan

Tongkonan bukan sekadar tempat tinggal atau penanda prestise bagi orang-orang yang meninggalinya. Lebih dari itu, tongkonan merupakan pemelihara hubungan antara leluhur dengan keturunannya. 

Menurut Ketua Adat di Kelurahan Lembang Tumbang Datu, Kecamatan Sanggala Utara, Kabupaten Tana Toraja, ada lima jenis tongkonan yang berada di seluruh area Toraja: pertamaadalah tongkonanlayukatau tongkonan yang tertua di suatu kampung; keduaadalah tongkonanparengesanyang berfungsi sebagai balai pemerintahan bagi masyarakat; ketigaadalah tongkonan pa’bontuan yang hanya dimiliki oleh orang kaya. 

Ketiga tongkonan tersebut hampir sama bentuk dan jumlah kayu materialnya, hanya ukirannya yang berbeda. Tongkonan yang keempat adalah tongkonan batu a’ririatau tongkonan yang dibangun baru beberapa keturunan, tongkonan ini tidak memiliki fungsi khusus. 

Sementara itu, tongkonan kelima adalah tongkonanpa’rapuanatau tongkonan yang paling baru, dibuat baru melewati satu atau dua generasi.

Alang

Alang sangat berbeda dengan tongkonan walaupun bentuk atapnya mirip. Secara ukuran alang lebih kecil dan fungsinya adalah sebagai lumbung padi. Alang biasanya dibangun berhadap-hadapan dengan tongkonan membentuk ruang halaman pemersatu di tengah atau pangrampak.Sali, lapak yang terletak di bawah bangunan utama sering digunakan untuk menerima tamu, ataupun sekadar duduk santai dan mengobrol dengan keluarga. Tidak semua wilayah di Toraja memiliki bentuk alang yang sama. Alang yang atapnya ditutupi ruas-ruas bambu bisa ditemukan di Kesu’, Buntao’, Tikala’, Tondon, Sa’dan, Ma’kale dan Sanggala. Sementara di Mengkendek, Anda akan menemukan atap alang yang ditutupi oleh ijuk.

Lantang

Lantang bukanlah bangunan permanen. Lantang dibuat hanya ketika orang-orang Toraja berencana mengadakan upacara kematian. Pondok ini dibuat berderet mengelilingi sekitaran rumah duka, jumlahnya bisa puluhan hingga ratusan. Di lantang-lantang ini semua kegiatan dilaksanakan, mulai dari bercengkrama, memasak dan tidur. Saat upacara berlangsung, lantang digunakan untuk menerima tamu. Lantang-lantang ini akan dirombak kembali usai upacara dilakukan dan kayu-kayunya dimanfaatkan sebagai kayu bakar.

Duba-Duba

Struktur atap pelana juga diadopsi di dalam arsitektur keranda khas Toraja, yaitu duba-duba. Ukurannya tentu 2-3 kali lebih kecil dan teras di bagian tegah digunakan untuk meletakka peti jenazah. Keranda hanya boleh digunakan sekali untuk satu jenazah, dimana baik pria dan wanita berpartisipasi untuk mengiringinya ke pemakaman. Duba-duba yang selesai digunakan tidak dibawa kembali ke rumah melainkan disimpan di area tempat jenazah dikuburkan.

Tanjung Bira: Pantai di Rumahnya Pembuat Kapal Pinisi

Angin timur membawa ombak ke tepian dan terpecah di antara karang-karang, menyapu pasir putih yang terhampar di bibir pantai. Tebing-tebing di sekitarnya begitu bermakna bagi masyarakat setempat, mereka percaya bahwa Dewi Sampanena sang pelindung laut bersemayam di puncak tebing tersebut. Sementara itu beberapa meter dari pantai berdiri bentangan lambung kapal setengah jadi. Beberapa pekerja masih menyerut kayu-kayunya dan sebagian lagi tengah memasang pancang. Terik Matahari melengkapi siang itu di Pantai Tanjung Bira. 

Tidak jauh dari situ terlihat pekerja yang telah menyelesaikan perahu kecil. Mereka mendorongnya ke pinggir laut, membantu nahkoda yang tengah mencoba mengendarai perahu dengan baik. Bagi warga Tanjung Bira, adalah suatu kehormatan membawa perahu-perahu ini meninggalkan pantai dan berlayar ke tengah lautan.

Perahu-perahu yang beranjak dari Tanjung Bira tersebar ke beberapa penjuru di Indonesia, sebagian berlayar menuju Flores, sebagian lagi menyambangi Bali dan Jawa, ada pula yang mengarugi laut menuju Kalimantan. Pagi harinya, pantai ini disibukkan dengan nelayan-nelayan yang baru saja pulang mencari ikan. Tangkapan mereka melimpah terdiri dari ikan kakap merah, ikan pari, dan masih banyak lagi.

Pantai Tanjung Bira menjadi primadona bagi wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke Makassar dan sekitarnya. Banyak sekali alasan untuk memuji pantai ini setibanya Anda di sini. Kesan yang sama pun akan dirasakan oleh para penyelam yang tertarik untuk melihat keindahan bawah lautnya.

Jika tidak percaya, menyelamlah dan lihat bagaimana ikan-ikan raksasa berenang mengelilingi tembok-tembok karang yang berada di bawah laut. Barakuda, ikan tuna dan ikan hiu pun tampak secara berkala. Jangakauan pandangbiasanya sekira 20-30 meter dengan suhu 27-30 derajat celcius. Bulan Agustus dan September akan lebih dingin 24-26 derajat celcius namun ini adalah waktu terbaik karena Anda akan melihat ikan besar seperti mola-mola, martil dan manta.

Kegiatan

Pantai Tanjung Bira terkenal akan pantainya yang cantik, eksotis dan berpasir putih. Tujuan utama wisatawan ke sini biasanya untuk melihat kehidupan bawah laut melalui snorkeling dan divingnamun beberapa dari mereka juga hanya sekadar berenang dan berjemur. Tinggallah hingga sore hari maka Anda akan melihat Matahari terbenam yang menakjubkan. Begitu pun dengan pemandangan fajar yang dimilikinya. Pantai Tanjung Bira terkenal sebagai tempat yang menyuguhkan keindahan Matahari terbit dan terbenam sekaligus pada satu titik.

Jika waktu Anda tersisa masih cukup panjang maka jadwalkan menyebrang ke Pulau Kambing dan Pulau Liukang. Kedua pulau ini dapat ditempuh dengan kapal cepat tidak lebih dari 30 menit. Secara kasat mata, keduanya pun sudah bisa terlihat dari bibir Pantai Tanjung Bira. 

“Pulau Kambing”, sebutan yang unik memang, karena awalnya orang Bira datang membawa sejumlah kambing ke sini untuk menghidupi pulau ini. Gradasi hijau-biru warna lautnya membuat Anda bebas melihat ikan-ikan kecil yang berenang di permukaan laut dari kapal. Ini akan membuat Anda tidak sabar untuk snorkeling dan diving.

Bagi Anda yang suka berjemur sambil menatap lepas ke cakrawala, Pulau Liukang adalah tempat yang sempurna. Pulau ini relatif sepi sehingga menyuguhkan atmosfer sebagai pulau pribadi. Bawalah bahan-bahan makanan dan memasak dengan cara tradisional di sini. Namun apabila ingin lebih praktis maka singgah saja ke beberapa warung makan yang ada di Pulau Liukang.

Di Desa Tana Beru Anda dapat melihat langsung pembuatan kapal pinisi. Kapal ini begitu terkenal karena kerap dipesan oleh pembeli dari mancanegara. Satu buah kapal dikerjakan dalam jangka waktu 7-10 bulantergantung ukurannya. Pembuatan kapal ini dilakukan tradisionaldengan mengadopsi teknologi modern dan bahan sesuai pesanan.

Dikenakan tarif untuk memasuki kawasan Tanjung bira. Anak-anak yaitu Rp3 ribu/orang, dewasa Rp10 ribu/orang, sementara wisatawan mancanegara dikenakan Rp20 ribu/orang.

Pecinta wisata budaya disuguhkan tradisi menarik di sebuah kampung bernama Tanah Toa Kajang yang tidak jauh dari Tanjung Bira. Di kampung ini masyarakat masih memegang teguh tradisi lokal yaitu mengenakan pakaian serba hitam, tanpa alas kaki dan mereka tinggal di dalam hutan. 

Berkeliling

Sewalah kapal untuk menuju Pulau Kambing atau Pulau Liukang. Kapal bisa berangkat kapanpun asal cuaca memungkinkan, biaya sewanya sebesar Rp500 ribu.

Transportasi

Tanjung Bira terletak di ujung paling selatan Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. Dari pusat Kota Bulukumba, dibutuhkan waktu sekira 40 menit lagi menuju Tanjung Bira atau 200 km dari Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar ke Bulukumba dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum. Selanjutnya dari Kota Bulukumba ke Tanjung Bira dapat ditempuh dengan menggunakan mikrolet pete-pete. Tarifnya berkisar Rp8-10 ribu. Dari Makassar, total waktu yang diperlukan untuk ke Tanjung Bira adalah 3-3,5 jam.

Akomodasi

Ada baiknya ada mencoba bermalam di Tanjung Bira dan tidak buru-buru mengejar waktu di Makassar. Sisihkan waktu setidaknya satu malam untuk menginap di pinggiran pantai. Ada beberapa penginapan di pantai ini, diantaranyaberikut ini.

Amatoa Resort

Jl. Pasir Putih 6 Tanjung Bira, 

Tlp. 081242965500

Salah satu resor mewah di Tanjung Bira, fasilitasnya yang ikonik adalah kolam renang infinity pool yang langsung mengadap laut. Amatoa Resort didirikan jauh dari keramaian dengan pemandnagan yang sempurna. 

Anda Beach Hotel

Tlp. 081355111666

Anda Beach Hotel terkenal akan resto uniknya yang dibangun menyerupai kapal pinisi. Restoran menyediakan makanan dan minuman dengan harga yang terjangkau. Menu-menu yang ditawarkan antara lain mie goreng, nasi goreng, roti bakar dan omelette.

Hotel Patma Bira

Jl. Kapongkolang, Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan

Tlp. 082190301649

Bira Dive Camp

Email: info@biradivecamp.com

Website: www.biradivecamp.com

Rutepar Guest House

Tlp. 081802091999

Villa Kampoeng Anda

Jl. Kapong Kolang No.6, Tanjung Bira

Kuliner

Kuliner di Bukumba tidak jauh berbeda dengan yang terdapat di Bugis dan Makassar. Ada banyak restoran dan warung yang menyediakan menu seafood di sekitar Tanjung Bira. Hampir setiap guest house di Tanjung Bira menyediakan makanan untuk para tamunya. Para pemilik pun menyiapkan menu yang beragam seperti salad, ayam bumbu bali, aneka kudapan dan tentunya dengan harga yang terjangkau.

Berbelanja

Di sekitar pantai berjajar toko-toko suvenir yang menjajakan perhiasan dan benda-benda unik yang terbuat dari kerang. Cobalah cicipi jagung marning, camilah khas Makassar, dan bawalah sebagai oleh-oleh.

Tips

Waktu berkunjung terbaik adalah pada akhir Maret hingga September, untuk menghindari angin yang kuat saat Anda mengunjungi pulau-pulau di sekitar Tanjung Bira. Disarankan berkunjung pada hari kerja karena akhir pekan di sini sangat ramai, khususnya oleh warga lokal. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan dan tidak meninggalkan sampah sembarangan.

Taman Nasional Taka Bonerate: Keindahan Terumbu Karang Terluas se-Asia Tenggara

Taman Nasional Taka Bonerate adalah kawasan terumbu karang (atol) terluas di Indonesia bahkan se-Asia Tenggara dengan tingkat biodiversitas yang sangat tinggi. Berada di kawasan Coral Triangle Intiative (CTI), kawasan ini merupakan habitat bagi berbagai biota laut yang langka dan dilindungi. Tak berlebihan apabila kekayaan laut di kawasan yang terletak di Kecamatan Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan ini menjadikannya tujuan wisata alam dan bahari yang sangat menarik. 

Selain disebut-sebut sebagai atol terluas se-Asia Tenggara, Taman Nasional Taka Bonerate merupakan kawasan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajalein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Maldives. Luas total taman nasional ini adalah 530.765 hektar, dimana 220.000 hektar merupakan hamparan atol dan laguna dengan sebaran terumbu karang mencapai 500 km². 

Selain atol, taman nasional ini terdiri dari 21 pulau dimana 7 pulau di antaranya dihuni oleh penduduk dari suku Bajo, Bugis, Selayar, Buton dan Flores. Kawasan ini juga menjadi habitat bagi sejumlah spesies burung, mulai dari burung darat, burung pesisir dan burung laut yang bermain-main di banyak bukit pasir.

Air laut yang jernih menawarkan pemandangan berbagai terumbu karang baik di dasar laut, slope, juga  di wallyang berdiri megah di dasar lautan. Keindahannya mengundang para penyelam pemula atau penyelam profesional untuk melihat langsung keindahan bawah laut yang ditawarkan. Ada sekira 242 spesies karang, 526 spesies ikan karang berwarna-warni dan 112 spesies alga makro menghuni kawasan ini.

Para penyelam juga akan bisa berenang dan lebih dekat dengan lumba-lumba, kura-kura, ikan pari, bahkan kadang-kadang hiu atau paus. Dan siap-siaplah terpesona oleh gorgonian fansraksasa, karang hitam, ikan kalajengking, nudibranch, ikan tuna, trevallies,napoleon wrasse, dan masih banyak lagi yang lainnya. Bawah laut taman nasional ini juga bisa menjadi tempat bertemu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu belimbing Pasifik (Lepidochelys olivicea), dan penyu hijau (Chelonia mydas). Dengan segala potensi dan keanekaragaman hayati yang dimiliki, Taka Bonerate dikatakan sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman laut tertinggi di dunia.

Taman nasional ini memiliki lebih dari 50 situs menyelam yang fantastis, di antaranya adalah Pulau Tinabo, Pulau Tinanja, Pulau Kahabia, Belang-Belang, dan Taka Lamungan. Waktu terbaik untuk menyelam adalah antara April sampai pertengahan Mei dan Oktober atau kadang pertengahan November ketika angin Timur berhembus lembut dan tidak mengakibatkan gelombang besar. Angin masih berhembus wajar antara Oktober sampai Mei. Akan tetapi, selama monsoon barat, angin bisa membuat gelombang tinggi hingga dua meter atau lebih. Semua feri akan berhenti beroperasi pada saat gelombang tinggi yang berbahaya tersebut.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi laman resmi berikut: www.tntakabonerate.com.

Kegiatan

Ada banyak kegiatan wisata bahari yang ditawarkan Taman Nasional Taka Bonerate. Karakteristik kawasan berupa pulau-pulau kecil, gugusan atol, dan perairan laut dengan ekosistem pantai adalah keindahan alam yang dapat dinikmati saat mengunjungi kawasan ini. Kegiatan berjemur, menyaksikan Matahari terbit dan tenggelam di sepanjang pantainya yang berpasir putih dan bersih juga menjadi tambahan atraksi wisata penuh kesan di tempat nan memesona ini.

Untuk menikmati keindahan laut serta bawah lautnya yang menyimpan ragam terumbu karang, lamun, dan biota-biota laut lainnya juga dapat dilakukan dengan berbagai pilihan cara (olahraga). Diantaranya berenang, snorkeling, menyelam (scuba diving), berperahu, memancing, serta jogging/trekkingdi sepanjang garis pantai.

Selain wisata bahari, wisata budaya juga menarik dilirik saat mengunjungi kawasan ini. Penduduk setempat yang tinggal sebagian besar di dan di sekitar Pulau Selayar didominasi suku Bugis yang dikenal karena kemampuan mereka membuat kapal pinisi yang melegenda sejak abad ke-16. Anda bisa mengunjungi lokasi pembuatan kapal-kapal hebat yang berhasil berlayar mengarungi lautan. 

Selain suku Bugis, suku Bajau juga mendominasi peradaban masyarakat yang berada di pulau-pulau kecil dalam kawasan Taka Bonerate.  Baik suku Bugis atau Bajau masing-masing memiliki kekhasan budaya yang kental ditandai dengan budaya kemaritiman serta nuansa Islami yang menarik untuk dikenali lebih dekat. Wisata budaya dapat dilakukan di Pulau Tarupa, Pulau Rajuni, dan Pulau Latondu.

Pulau Tinabo, yang berada di jantung Taman Nasional Taka Bonerate, merupakan jantung pengelolaan taman laut ini. Pulau Tinabo jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kehidupan kota dan berada di sana akan membuat Anda merasa di sebuah pulau pribadi yang cantik.  

Di sini Anda juga dapat menikmati beragam kegiatan sebagaimana disebutkan di paragraph sebelumnya, yaitu snorkeling, scuba diving, jalan-jalan santai di pantai pasir putih, berperahu, memancing, atau hanya menyaksikan keindahan Matahari terbit atau tengelam. Terdapat diving centreberikut guideberpengalaman bagi Anda yang ingin menyelami bawah lautnya yang indah. 

Untuk rincian tentang pulau Tinabo, Selayar dan Taka Bonerate, silakan kunjungi laman berikut: selayaronline.com

Akomodasi

Di Pulau Tinabo terdapat Tinabo Dive Resortyang memiliki cottagedan restoran. Mereka juga dapat mengatur perjalanan Anda dan menyiapkan kapal, peralatan menyelam, serta perjalanan Anda dari Makassar atau Selayar ke Tinabo. Tinabo dapat ditempuh 8 jam dengan perahu dari Benteng, di Pulau Selayar.

Untuk informasi dan pemesanan, silakan kunjungi laman: www.tinaboisland.com.

Kapal live aboarddari Makassar atau Bali mengangkut penumpang dalam kenyamanan nan mewah di perahu tradisional phinisi yang telah dilengkapi dengan peralatan modern untuk menjelajahi situs menyelam di Indonesia timur termasuk Taka Bonerate.

Transportasi

Untuk sampai ke Selayar dan Taka Bonerate, Anda harus mengambil penerbangan ke Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan. Karena Makassar adalah hub udara untuk kawasan Timur Indonesia, hampir semua operator domestik di Tanah Air menjadwalkan penerbangan ke Makassar.

Perjalanan dari Makassar dilanjutkan ke Benteng, kota utama di Kabupaten Kepulauan Selayar. Ada beberapa pilihan transportasi dari Makassar ke Benteng, yaitu berikut ini.

Pesawat Terbang

Ada 2 pesawat yang beroperasi dari Bandara Sultan Hasanuddin (Makassar) menuju Bandara H. Aeropala (Selayar). Lama penerbangan adalah sekira 45 menit.

Aviastar Airlines (DHC-6) terbang setiap Sabtu pukul 07.05 WITA. Tarif pesawat sekira Rp210.000,- dan belum termasuk Airport Tax. Agen tiket Aviastar di Bandara H. Aroepala Selayar: Rostina HP (085 395 759 311). Agen tiket Aviastar di Makassar: Devi HP (081 355 750 076).

Merpati Airlines (MA-60) terbang tiap Senin dan Rabu pukul 08.00 WITA dengan harga mulai Rp450.000,- Rp632.000,-. Pemesanan tiket dapat dilakukan secara online.

Penerbangan SMAC charter juga tersedia di Makassar, beroperasi ke Selayar dua atau tiga kali seminggu pada hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Penerbangan ini memakan waktu 40 menit. Untuk informasi panggilan Kantor SMAC di Selayar, Telp.: +62 414 21361 atau +62 81355222282.

Bus Umum

Dari Bandara Sultan Hasanuddin (Makassar) menuju terminal Bus Mallengkeri (Makassar) menggunakan taksi dengan biaya Rp100.000,-. Bus reguler menuju Benteng (Selayar) berangkat pukul 08.00 WITA ke pelabuhan Bira (Bulukumba) dengan tiket Rp. 100.000/orang untuk bus ber AC. Waktu tempuh kurang lebih 5 jam termasuk istirahat (makan siang). Dari Pelabuhan Bira perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang menggunakan Kapal Ferry selama 2 jam ke Pelabuhan Pamatata (Selayar) kemudian dilanjutkan menuju Kota Benteng dengan kisaran waktu 1,5 –2 jam.

Dari Kota Benteng,perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Pattumbukan menggunakan mobil sewaan dengan lama perjalanan 1,5 jam. Dari sana, menggunakan kapal kayu jolloro menuju Pulau Tinabo dengan waktu tempuh sekitar 4–5 jam atau menggunakan kapal cepat (speed boat) dengan waktu tempuh sekitar 1,5 –2 jam.

Tips

  • Kunjungan terbaik pada April hingga Juni dan Oktober s/d Desember setiap tahunnya.
  • Jika menyelam sebaiknya didampingi pramuwisata berpengalaman. 
  • Hendaknya tidak mengusik biota laut. Kenali dan hindari hewan laut yang berbahaya karena bisa atau gigitannya. 
  • Hendaknya menjaga lingkungan dengan tidak melakukan kegiatan yang dapat merusak keindahan dan keanekaragaman jenis biota laut dan ekosistemnya, seperti menginjak karang, membuang sampah di lautan, dan menangkap spesies yang dilindungi.
  • Setiap pengunjung wajib membayar tiket masuk ke kawasan taman nasional. Terdapat tarif yang berbeda untuk tiap tujuan/kegiatan kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Taka Bonerate, seperti pengunjung, kapal, pengambilan gambar atau foto, kegiatan olahraga, penelitian. Masing-masing kegiatan atau tujuan kunjungan ke Taka Bonerate dikenai tarif yang berbeda. Untuk info tarif tiket yang dimaksud dapat diakses di situs resmi Taman Nasional Taka Bonerate di sini.            

Taman Nasional Bantimurung Bulusaurung: The Kingdom of Butterfly

Nama Bantimurung mulai mneyeruak setelah naturalis berkebangsaan Inggris, Alfred Russel Wallace, menjelajah flora dan fauna di sini pada 1857. Ia berhasil mengumpulkan cukup banyak koleksi spesies flora dan fauna di Maros dan hasil penelitiannya diterbitkan ke dalam jurnal perjalanan berjudul “The Malay Archipelago“. Sejak itu pula keanekaragaman hayati di Nusantara, terutama Sulawesi, menarik perhatian naturalis dari seluruh Eropa dan bahkan dunia. 

Pesona kekayaan kupu-kupu di Bantimurung membuat Wallace menyebut kawasan ini sebagai “The Kingdom of Butterfly“. Dalam bukunya Wallace menggambarkan betapa menakjubkan fenomena kupu-kupu di tempat tersebut, terutama di sekitar sisi kolam air terjun Bantimurung. Kupu-kupu ini berterbangan membentuk awan dengan aneka warna.

Begitu besar dampak hasil penelitian Wallace sehingga saat masih di bawah pemerintahan Belanda, kawasan Bantimurung dijadikan konservasi. Kemudian setelah Indonesia merdeka, Pemerintah Indonesia menunjuk kawasan ini sebagai Taman Wisata Alam Bantimurung di bawah Kementerian Pertanian pada 1981 yang pada akhirnya diubah menjadi Taman Nasional Bantimurung Bulusaurung di bawah Kementerian Kehutanan. 

Penangkaran dikembangkan dari tahun ke tahun. Pada 2010, penangkaran mulai ditujukan untuk program pengawetan jenis kupu-kupu tertentu, wahana rekreasi dan pendidikan. Pembangunan penangkaran ini dilengkapi dengan shelter, toilet, pagar dan gerbang masuk. Seiring pengembangan penangkaran kupu-kupu, konservasi pun dilakukan melalui kegiatan identifikasi jenis kupu-kupu serta penertiban keamanannya mengingat masih banyak orang-orang yang memanfaatkan kupu-kupu sebagai cenderamata.

Kawasan ini tidak hanya dikenal memiliki 250 spesies kupu-kupunya namun juga fenomena karst yang unik dan disebut-sebut sebagai kawasan karst terbesar di dunia setelah yang ada di Tiongkok. Di sana terdapat lebih dari 80 gua alam dan gua prasejarah yang tersebar di sepanjang Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Pada kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, terdapat dua lokasi ekosistem karst yang saling terpisah, yaitu di wilayah Maros-Pangkep pada bagian barat, dan di ujung Utara yakni di wilayah Mallawa. Para ahli geologi membedakan kedua kelompok karst ini, yakni yang pertama dikenal dengan kelompok Pangkajene dan yang kedua disebut kelompok pegunungan bagian Timur. Kedua lokasi ini merupakan wilayah penyebaran vegetasi bukit karst (vegetasi bukit kapur) dan lainnya merupakan areal penyebaran vegetasi hutan dataran rendah.

Geomorfologi karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung berbentuk karst menara yang merupakan satu-satunya di Indonesia dan berbeda dengan tempat-tempat lain karena pada umumnya karst berbentuk kerucut atau peralihan antara karst menara dan kerucut. Seperti pada umumnya kawasan karst, ekosistem karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki sangat banyak gua dengan ornamen stalagtit dan stalagmit serta ornamen endokarst lainnya.

Tidak berhenti sampai di situ, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki setidaknya 683 jenis tumbuhan yang terdiri dari 14 family kelas monocotyledonaedan 86 family kelas dicotyledonae. Selain itu terdapat 90 jenis Anggrek alam, dan 5 jenis yang dilindungi, yaitu Ebony (Diospyros celebica), Palem (Livistona chinensis, Livistona sp.), Anggrek (Ascocentrum miniatumdan Phalaenopsis amboinensis).

Kegiatan

Kawasan Karst Maros-Pangkep memiliki luas 40.000 Ha dan ini menjadi surga bagi petualang serta mereka yang mencintai panjat tebing. Deretan tebing-tebing karst, koridor karst, gua horizontal dan vertikal tengah menunggu untuk ditaklukkan.

Satukan jadwal perjalanan dengan menjelajahi pegunungan karst Rammang-Rammang yang merupakan habitat bagi tarsius, juga mengunjungi air terjun setinggi 15 meter yang difavoritkan oleh para wisatawan. Anda dapat mandi merasakan segarnya air yang turun dari bukit-bukit. Warna air sangat jernih bak kristal sepanjang tahun,  menciptakan lansekap yang cantik walaupun hanya sekadar menikmatinya dari kejauhan. Suara percikan airnya pun menenangkan. Apabila tidak puas, taman nasional ini menawarkan Anda kegiatan fun tubing selama berjam-jam.

Luangkan waktu untuk mempelajari perkembangan konservasi kupu-kupu di Museum Kupu-kupu yang berada tepat di sebelah kanan pintu masuk. Di sini Anda akan mengetahui spesies kupu-kupu yang sudah langka dan bahkan hampir punah. Apabila waktu seharian tidak cukup untuk mengeksplor tempat ini, Anda bisa membawa tenda dan membangunnya di camping ground yang sudah disediakan.

Harga tiket masuk di Taman Nasional Bantimurung adalah Rp15 ribu untuk wisatawan nusantara dan Rp20 ribu untuk wisatawan mancanegara. Museum kupu-kupu memiliki tarif tersendiri yakni Rp20 ribu. Jika berminat menjelajahi gua-gua, Anda harus membawa pemandu yang telah disediakan oleh taman nasional dengan tarif Rp50 ribu/pemandu.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Jl. Poros Maros – Bone Km 12. PO BOX 4747, Makassar

Telp./Fax. +62-4113880139

Website : http://tn-babul.org/

E-mail :tnbabul@tnbabul.org

Transportasi

Angkutan umum lokal yang disebut pete-peteakan membawa Anda ke sekitar wilayah di Makassar, termasuk Maros. Dari Terminal Daya, carilah pete-pete tujuan Pangkajene dan turun di Pasar Maros, kemudian dilanjutkan dengan pete-pete ke arah Bantimurung. Waktu yang diperlukan dari Makassar ke Bantimurung sekira 1 jam. Alternatif lain Anda bisa menggunakan taksi atau menyewa mobil.

Akomodasi

Di Maros terdapat guest houseyang dikelola Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP), tepatnya beralamat di Jl. Makmur Dg. Sitakka No.129, Maros. 

Bantimurung tidak mau kalah menyiapkan villa dengan pemandangan yang menarik berupa aliran langsung dari air terjun. Penginapan ini juga memiliki fasilitas kolam renang. Alternatif lain seperti yang kerap dipilih wisatawan adalah menginap di Kota Makassar dengan pilihan hotel yang sangat beragam.

Kuliner

Usai menjelajahi Taman Nasional Bantimurung Bulusaurung, Anda tidak harus tergesa-gesa pulang ke Makassar untuk mencari makanan enak. Tepat di sepanjang Jalan Topas dimana alun-alun Kota Maros berada, terdapat pusat kuliner yang resmi dibuka pada 2010 silam. Tempat ini buka sejak pukul 17.00 hingga tengah malam. Nikmati beragam makanan tradisional mulai dari nasi ayam, sate, soto, bakso, hingga kuliner-kuliner khas Makassar. 

Selayar: Pantai Indah di Ujung Sulawesi Selatan

Terletak di ujung Provinsi Sulawesi Selatan, pulau tenang dan terisolasi ini bernama Pulau Selayar. Di sanalah akan Anda dapati pulau dengan hamparan pasir putih luas dan perairan nan jernih. Meskipun masih didominasi oleh hutan tadah hujan, Selayar menawarkan banyak pantai berpasir putih. 

Pulau Selayar memiliki panjang 80 kilometer dan merupakan pintu gerbang menuju ke keindahan Taman Nasional Taka Bonerate. Di bawah lautnya tersimpan warna-warni terumbu karang, spons raksasa, hingga beraneka ragamjenis ikan seperti duyung, tuna, penyu dan pari manta. Selayar terdiridari21 pulau dan atol, dimana Taka Bonerate merupakan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kepulauan Marshall dan Maladewa.

Kota terbesar di Selayar adalah Benteng yang ramai dengan sepeda motor dan becak. Pusat kotanya masih menyisakan sebuah penjara tua peninggalan Belanda dari tahun 1890 yang masih kokoh berdiri. Pusat kota atau sering disebut alun-alun itu merupakan pusat berbagai kegiatan perayaan seni, budaya, dan hiburan di Selayar. 

Pulau Selayar sebenarnya sudah terkenal sejak berabad lamanya, Manuskrip Jawa kuno,yaituNagaraKrtagamamenyebutkan padaabad ke-14terdapatsebuah kerajaanyang berkuasadiSelayar.Kerajaan pra-Islamtersebuttampaknyatelah menjadipusat perdagangandandikunjungi pedagangdari China, Filipinadan Thailand. Bukti keberadaan kerajaan di Pulau Selayar tersebut diperkuat bukti-bukti yang ditemukan  berbagai artefakdi sekitar pulau.Salah satu penemuan yang paling penting adalahGendang Dongson yang merupakan gendang terbesar di dunia dan menurut penelitian sudah berusia sekira 2.000 tahun. Gedang ini kemungkinan berasal dari zaman perunggu. Artefak yang ditemukan lainnya adalah seperti porselen Cina dan porselen Sawankholok(Thailand). Menurut penelitian bahwa kemungkinan pengaruh Islam mulai masuk Selayar pada abad ke-16 yang dibawa oleh pengikut Sulatan Ternate dari Maluku Utara. 

Pada abad ke-16 kekuasaan atas Pulau Selayar diperebutkan berbagai pihak karena produk katunnya yang menjadi favorit di Nusantara. Perebutan kekuasaan atas Selayar ketika itu akhirnya dimenangkan Belanda dan kemudian memonopoli perdagangan kapas serta memaksa rakyat Selayar untuk mengirimkan kapas hanya ke Fort Rotterdam di Makasaar saja. Akan tetapi, dengan hadirnya kain modern membuat popularitas kapas menyusut dan masyarakat Selayar pun dipaksa untuk kembali hidupdari produkkelapa. 

Kegiatan

Surga tropisterpencilini menawarkan sejumlahpantai berpasir putih yang indah. Pantai Baloiya membentang sekira 3 kilometer. Dari pantai tersebut Anda bisa menyaksikan tarsius dan celeng yang sedang bermain di antara dedaunan lebat di dalam hutan. 

SelayarDiverResortmenawarkancottagedan fasilitasbagi penyelam. Pantai lainnyaadalahPantaiPinang, sekira80menit dariBentengdan PantaiJe’neiyaatau sekitar 60menitdari kotaBenteng.

Selainmenyelam dan snorkelingdi antaraterumbu karangyang berwarna-warni dan pesona bawah lautTaka Bonerate, PulauSelayarjuga menawarkan sejumlahatraksi yang luar biasauntuk dikunjungi. Informasi lebih lanjut lihatTaman Nasional Taka Bonerate.

Gendang Dongsonmerupakan daya tarik utama di pulau ini. Digali padaabad ke-17, Gendang Dongson yang ada di pulau ini merupakan yang terbesar sekaligus terindah dari Zaman Perunggu. Artefak inidiperkirakansudah berusiasekira2.000tahundan pertama kali ditemukandiPapalahoia, yaitu merupakandaerah kekuasaan sebuah kerajaan pra-sejarah dari abad ke-14.Gendangtersebutsekarang disimpan di MuseumTunggaldiBontobangun, lokasinyasekira 3kilometerselatan Benteng. 

GendangDongsondikatakanterbesardi duniakarena memiliki tinggi95cmberdiameter115cm. Di bagian atasgendang terdapat gambar bintang besar dengan16penjurudan4gambar katakpada sisi gendang. Sisi-sisinyamemiliki empatpeganganyang saling berpasangan. Di bagian bawahgendang terdapat gambargajah, burung danpohon kelapa, sementara di bagian pusatnyabermotifabstrakdan bagian atasnyamenggambarkanburung merak.

SelainGendang Dongson, MuseumTunggal juga menyimpansisa-sisakapalkuno.Adakepalanaga(dragon) setinggi 110cm, memilikisayap, kepala danekorsepanjang 150cmyang didisain dalam gayaMajapahit. Ada jugaanjunganyang merupakan alat dimanakapten kapalmemberiperintahkepada awaknya. Sebuahprasasti Arab dari abad ke-16menyebutkan: “Sultan Abd al-Malik, Tuban”. Tubanadalahsebuah pelabuhan diJawa Timuryang merupakanpelabuhan utamapada masaKerajaanMajapahit.

Tidak jauh dari lokasi museum terdapat Benteng Gantarang. Gantarang dahulu merupakan sebuah kerajaan pra-Islam yang membangun benteng pertahanan di pulau ini untuk menahan serangan dari Ternate dan Buton. 

Transportasi

Untuk bisa sampai ke Pulau Selayar, Anda bisa melakukan perjalanan dari Makassar ke Kota Tanjung Bira. Berikutnya melanjutkan perjalanan ke Selayar menggunakan kapal ferry sekira dua jam. Perlu diingat, jika laut dalam keadaan pasang maka kapal tidak akan melakukan pelayaran ke Selayar. Tersedia bus AC dari Makassar yang biasanya berangkat pukul 9 pagi dan tiba di Benteng sekira 07.30 malam. 

Alternatif lain, Anda bisa terbang menggunakan pesawat bebadan kecil yaitu SMAC dari Makassar menuju Selayar. SMAC terbang tiga kali seminggu yaitu pada Selasa, Kamis dan Jumat. Lama perjalanan dengan pesawat ini sekira 40 menit. Kantor SMAC diSelayar: +62 414 21361,  atau +62 81355222282. Bandar udara Selayar Airport: +62 414 2700099, atau +62 85242016932.

Kuliner

Menu utama di Pulau Selayar adalah nasi santan yang dimasak menggunakan santan kelapa. Kemudian ada ikan bakar baronang yang dioleh dengan bumbu cabai keriting, cabai rawit, garam, penyedap rasa, gula pasir, dan asam yang berasal dari belimbing. Nasi santan dapat dijumpai hampir di setia sudut Pulau Selayar salah satunya di Pasar lama BentengJalanAroeppala, RA. Kartini, dan Jalan Syarif Al Qadri.Menu seafood  seperti cumi bakar, udang, ikan bakarjuga menjadi kuliner adalan di Selayar. 

 
Akomodasi

Berikut ini sejumlah resor pantai di Pulau Selayar yang bisa Anda kunjungi.

Selayar Island Resort

Pantai Baloyia di Jalan Baloiya, km 10 dari Benteng
Resor ini menawarkan beberapa bungalow yang menghadap langsung ke pantai dan menyediakan 50 lokasi menyelam terbaik.

Website: www.selayarislandresort.com

Selayar Eco Resort

Pantai Pinang, Selayar

Website : www.selayar-eco-resort.sitew.fr/English.B.htm

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Pulau Selayar, Anda bisa membuka website resmi Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Selayar di www.selayartourism.com. Di dalamnya dapat Anda peroleh informasi mengenai akomodasi dan restoran. Staff dari dinas tersebut juga dapat membantu Anda mendapatkan pemandu atau mengatur perjalanan Anda.