Home Blog Page 21

Kupang: Kuliner Khas Jawa Timur

Bukan hanya nama sebuah kota, ‘kupang’ ternyata juga adalah nama jenis makanan khas Jawa Timur yang populer di Surabaya dan Sidoarjo. Kupang adalah kuliner tradisional yang sukar ditemukan di daerah lain selain Jawa Timur dan itu pun hanya ada di beberapa kota saja. Pasalnya, kupang hanya hidup di aliran sungai berlumpur yang masih cukup bersih tanpa pencemaran.

Kupang merupakan sejenis kerang sungai atau tiram yang hidup di lumpur. Ukurannya kecil sekali hingga sukar membayangkan bila binatang air ini memiliki tempurung kerang seperti yang kita tahu pada umumnya. Duduk di sebuah restoran sambil menunggu pesanan rujak cingur atau rawon, rekan perjalanan Anda yang berasal dari Jawa Timur pasti akan menyebutkan kupang sebagai buruan kuliner berikutnya.

Dahulu saat aliran Sungai Mas atau Kalimas di Surabaya masih bersih, kupang banyak ditemukan dan jadi makanan warga lokal. Bahkan, kuliner ini termasuk sajian untuk tamu. Di Sidoarjo sebelum lumpur semakin menimbun dari Porong, sungai di daerah ini pun terkenal memproduksi kupang yang subur. Saat ini hanya beberapa daerah di Pasuruan dan daerah timur Jawa Timur masih bisa menjaga habitat kupang di beberapa sungainya.

Nama latin dari kupang atau kerang putih ini ialah Corbula faba. Hidupnya berkoloni di lumpur berair asin. Bila dikumpulkan dan direbus lalu diaduk saat panas maka daging kupang memisahkan diri dari cangkangnya lalu mengapung di atas permukaan air rebusan dan tinggal disaring. Air rebusan biasa digunakan untuk kaldu atau kuah lontong kupang. Pastinya, rasa lontong kupang akan membuat cerita tersendiri dan sebuah ide untuk direkomendasikan pada kawan yang berkunjung ke Jawa Timur, khususnya Surabaya.

Memang jarang sekali nama kupang tertulis di salah satu nama menu makanan di restoran yang ada. Itu karena biasanya kupang dijual di warung nasi atau istilah Jawa Timurnya adalah ngemperan. Jangan salah, rasa kupang sangat gurih dan nikmat walau restoran tak menjualnya.

Penyajian kupang biasanya ditambakan lentho yaitu campuran singkong parut, kacang tolo, kelapa parut dan bumbu berupa bawang putih, ditambah pula ketumbar, garam, serta gula). Kadang kupang lontong juga dipadukan dengan dengan sate kerangnya. Perlu diperhatikan bahwa kadang kuliner ini dapat berdampak bagi mereka yang alergi tetapi sebuah es kelapa muda dapat menetralisir racun dari kerang kupang.

Untuk mencicipi kelezatan kuliner kupang terutama yang berupa lontong kupang maka bisa Anda kunjungi Bursa kupang Sidoarjo, Pantai Ria Kenjeran, Pujasera Kartika Jalan Diponegoro Surabaya. Ada pula di Dapur Nusantara ITC Mega Grosir Surabaya dan yang terbaru di Cafe dan Pujasera Arum Manis, Jalan Mayjend Sungkono Surabaya Selatan.

Kupang lontong biasanya dijual dengan harga antara Rp3.000,- hingga Rp5000,- per porsi. Untuk sate kerang sendiri harganya adalah Rp600,- per tusuk. Es kelapa muda dijual Rp9000,- per buah. Jangan lupa juga mencicipi krupuk kedelainya seharga Rp500,- per buah. 

Rumah Adat Using Banyuwangi: Ikatan Batin Suku Using

Ikatan batin suku using dengan tanah kelahirannya begitu kuat. Mereka enggan meninggalkan rumah peninggalan nenek moyang meskipun karir maupun status sosial mereka sudah sukses. Hukuman ‘kwalat’ dari Sang Pencipta dipercaya akan turun apabila mereka tidak mengindahkan norma sosial yang sudah diwariskan turun-temurun.

Di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, hubungan tersebut tertata pada rumah adat yang mereka sebut sebagai rumah using. Sudah lebih dari lima generasi rumah-rumah ini tetap lestari. Ratusan tahun yang lalu ketika warga using belum mengenal Pancasila ataupun mendalami agama, pola kehidupan dan kepercayaannya mengalir dalam arsitektur-arsitektur rumah using. Jangan samakan rumah adat Banyuwangi dengan bangunan-bangunan tradisional khas Joglo maupun Jepara, karena rumah using dibangun dari kearifan lokal tersendiri berdasarkan filosofi yang lahir di tengah budaya warga Banyuwangi.

Atap merupakan bagian rumah yang paling mencolok karena inilah simbol utama pola kehidupan suku using. Rumah dibagi menjadi tiga jenis, yakni yang beratap dua (crocogan), beratap tiga (tikel/baresan) dan beratap empat (tikelbalung). Crocogan dengan perlambang dua atap mengisyaratkan dua insan yang baru saja melalui pernikahan, baresan yang disimbolkan dengan tiga atap mewujudkan rumah tangga yang sudah langgeng dan memiliki anak cucu, sementara itu tikelbalung mengartikan bahwa rumah tangga tidak selamanya lurus karena masalah selalu datang.

Ditinjau dari ruangannya, bangunan dibagi menjadi tiga ruang, yakni bale (serambi), jerumah (ruang tengah) dan pawon (dapur). Di halaman sekitar rumah sering dipasang kiling (kitiran) sebagai media hiburan atau hiasan. Di halaman ini pula, pada saat-saat santai, orang using seringkali menyeruput kopi bersama dengan kerabat atau tetangga sehingga budaya minum kopi sangat kuat di antara mereka.

Pembangunan rumah using juga diatur berdasarkan orientasi kosmologis, yaitu utara-selatan yang juga berkaitan dengan penanggalan Jawa. Rumah yang dibangun pada saat Wage maka akan menghadap ke selatan, sementara pembuatan di hari Pahing akan mengharuskan rumah menghadap ke utara.

Anda masih bisa menjumpai rumah adat using yang berfungsi dengan baik di Desa Wisata Using, yaitu desa wisata buatan yang dirancang menyerupai perkampungan using. Namun di Desa Kemiren, Anda bisa melihat rumah using asli yang masih difungsikan sebagai tempat tinggal. Posisi Desa Kemiren sangat strategis, satu jalur dengan rute ke kawasan wisatan Kawah Ijen.

Kayu dengan kualitas tinggi  merupakan rahasia rumah using masih berdiri kuat dan tahan dari segala cuaca, bahkan daya tahannya melebihi batu bata. Kayu yang digunakan adalah kayu bendo, kayu lokal dari hutan-hutan yang hanya ada di Banyuwangi. Seperti rumah-rumah woloan yang diperjual-belikan dengan cara bongkar pasang di daerah Tomohon, Sulawesi Utara, rumah using pun bersifat knocked-down atau tidak permanen. Rumah ini bisa dipindah dan dipasang kembali dengan sistem bongkar pasang.

Museum Angkut: Menilik Aneka Alat Transportasi

Inilah salah satu museum unik yang dihadirkan di kota wisata Batu, Jawa Timur. Dikatakan unik karena museum ini menghadirkan beraneka jenis alat transportasi dari masa ke masa serta dari berbagai negara, mulai dari cikar, sepeda, becak, mobil, sepeda, motor, bajaj, angkutan umum, perahu layar, helikopter, hingga pesawat. Secara khusus museum ini menampilkan ratusan mobil yang bisa jadi sulit Anda lihat lagi saat ini.

Museum yang nama lengkapnya Museum Angkut + Movie Star Studio ini resmi dibuka pada 9 Maret 2014 dan berdiri di atas tanah seluas 3,7 hektare (ha). Ada 10 zona yang membagi museum ini sesuai negara asal pembuat kendaraan yang terkoleksi. Museum Angkut dibangun untuk menghargai para pencipta berbagai jenis angkutan di dunia. Itu karena dunia angkutan (transportasi) telah membawa perubahan sangat berarti bagi kehidupan manusia.

10 zona di museum ini yang diperkirakan  butuh lebih dari 3 jam untuk menelusuri dan menikmatinya. Zona tersebut adalah: zona Edukasi, zona Jerman, zona Batavia, zona Inggris, zona Gangster and Broadway, zona Las Vegas, zona Italia, zona Hollywood, zona Prancis, dan Pasar Apung Nusantara. 

Selain itu, ada pula Movie Star Studio yang berisi informasi mengenai film di Indonesia maupun Hollywood. Khusus di zona Hollywood, Anda akan dimanjakan dengan suasana ala film Hollywood lengkap dengan mobil dan motor pabrikan Amerika seperti Harley Davidson. Hadir pula sejumlah patung aktris dan aktor terkenal.

Di museum ini ada tersimpan secara khusus mobil dan helikopter yang pernah digunakan presiden RI, mobil listrik yang rusak dan sempat dikendarai Dahlan Iskan, bahkan mobil Bentley yang pernah dinaiki oleh Ratu Elizabeth. Semua koleksi kendaraan di Museum Angkur berasal dari pembelian, perakitan, hibah, hingga peminjaman dari pihak lain.

Museum Angkut+ Movie Star Studio 

Telp. +62-341 595007

Kegiatan

Pastinya di sini Anda dapat berpuas diri mengamati beraneka jenis kendaraan dan dapat berfoto berlatarnya. Mengamati dan meresapi berbagai kendaraan yang memiliki kesan dan sejarahnya tentu istimewa seperti melihat langsung dan berfoto dengan kendaraan presiden RI atau yang pernah dinaiki Ratu Elizabeth.

Berbagai kegiatan yang menyangkut dunia angkutan bisa diselenggarakan disini, seperti pameran, 

launching produk otomotif, event komunitas, lelang, Kontes Modifikasi, CSR bidang angkutan, dan lain lain.

Kuliner

Di zona Pasar Apung Nusantara menyediakan ragam kuliner sekaligus toko cenderamata. Beberapa makanan yang dapat Anda cicipi seperti gudeg, sate madura, nasi timbal, dan menu makanan khas lainnya.

Transportasi

Untuk menuju Museum Angkut Anda dapat menempuhnya dengan perjalanan sekira 50 menit dari Kota Malang. Museum ini berlokasi di Jalan Terusan Sultan Agung No. 2, Kota Wisata Batu, Jawa Timur.

Akomodasi

Tips

Perhatikan jam masuk museum, yaitu berikut ini.

Hari biasa pukul 12.00 – 20.00  dengan harga tiket masuknya:

Senin – Kamis             : Rp50.000,-

Jumat – Minggu          : Rp75.000,-

Dengna tiket tersebut Anda bebas menikmati semua atraksi yang ada di dalamnya.

Untuk harga tiket terusan Museum Angkut + Movie Star Studio + D’Topeng Kingdom adalah:

Senin – Kamis             : Rp60.000,-

Jumat – Minggu          : Rp85.000,-

Anda yang membawa kamera akan dikenakan biaya tambahan Rp30.000,- per kamera. Sangat disarankan membawa kamera karena pastinya Anda tidak akan berhenti untuk mengabadikan beragam koleksi menarik di dalamnya.

Museum angkut buka dari jam 10.00 hingga 17.00 WIB. Apabila Anda ingin berfoto secara khusus maka pada sore hari akan lebih tepat karena semua ruangan koleksi dihiasi cahaya lampu yang cukup.

Sumenep: Kekayaan Warisan Keraton di Pulau Madura

Memasuki kota Sumenep maka Anda akan merasakan suasana sangat berbeda dengan kota lainnya di Madura. Logat dan tutur bahasa serta cara berpakaiannya berbeda dengan masyarakat Madura pada umumnya. Logat mereka sama seperti logat bahasa Jawa (kromo inggil) yang santun. Cara berpakaian masyarakatnya pun berbeda dengan daerah lain di Madura.

Sumenep merupakan Kabupaten di Jawa Timur yang berada di ujung Timur Pulau Madura dan merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah Pulau Madura. Kota ini cukup tua, bahkan sebelum Majapahit berdiri, Sumenep sudah berdiri. Sejarah bahkan mencatat, saat itu Arya Wiraraja (Adipati Sumenep) pernah membantu Raden Wijaya yang akan mendirikan Majapahit untuk mendapat sejengkal tanah di Desa Tarik. Karena sungkan dengan Arya Wiraraja maka Raja Kediri saat itu akhirnya memenuhi permintaan tersebut. 

Sumenep dikatakan sebagai benteng budaya Madura, hal ini bisa kita lihat dari sisa-sisa kebesaran kerajinan Sumenep yang berjejak pada sejumlah bangunan-bangunan kuno dan kerajinan rakyat, salah satunya adalah Batik Tulis Sumenep. Semua peninggalan kerajaan ini dapat Anda nikmati di Museum dan Keraton Sumenep.

Untuk informasi geografis bagi Anda, letak Kabupaten Sumenep berada di ujung Pulau Madura, yaitu 113° 32’54” – 116° 16′ 48″ Bujur Timur dan 4° 55′ – 7° 24′ Lintang Selatan ibu kotanya ialah Kota Sumenep. Sumenep atau dalam bahasa Madura disebut Songènèb adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini memiliki luas 2.093,457573 km² dengan populasi ±1 juta jiwa. Di Utara berbatasan dengan Laut Jawa, di Selatan ada Selat Madura, di Barat dengan Kabupaten Pamekasan, dan di Timur ada  Laut Jawa dan Laut Flores. 

Bagian daratannya seluas 1.146,927065 km2 terbagi atas 18 kecamatan, yaitu Ambunten, Batang-Batang, Batu Putih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Guluk-Guluk, Kalianget, Lenteng, Manding, Pasongsongan, Pragaan, Rubaru, Saronggi, Batuan, dan Sumenep Kota. Sementara itu bagian kepulauan luasnya 946,530508 km2 yang terbagi atas 9 kecamatan, yaitu  Arkasa, Gayam, Giligenteng, Masalembu, Nonggunong, Raas, Sapeken, Talango, dan Kangean. Jumlah pulau di Kabupaten Sumenep sebanyak 126 pulau. Pulau yang berpenghuni sebanyak 48 pulau, tidak berpenghuni 78 pulau, yang telah diberi nama 104 pulau, serta yang belum diberi nama ada 22 pulau.

Deretan Kepulauan Kangean di timur Pulau Madura ibarat gadis berbanjar yang menari. Selain itu masih ada lagi Pulau Sapudi, Raas, Puteran, Genteng, Gili Iyang, dan Pulau Raja. Kawasan kepulauan ini disebut juga sebagai objek wisata Island Resort. Objek wisata itu menawarkan birunya laut yang jernih, lekuk pantai dan terumbu karang yang sudah mati menjadi batuan, serta kesunyian yang menenangkan. Semua itu bisa Anda nikmati dengan biaya relatif murah. 

Madura dikenal memiliki gambaran masyarakat bertemperamen keras, memiliki budaya karapan sapi dan carok yaitu perkelahian dengan senjata clurit antarlelaki hingga tewas. Keadaan tanah tandus dan udara panas itu mengesankan Madura sebagai pulau yang tak punya pepohonan hijau dan panorama alam yang elok dipandang mata. Nah, anggapan tersebut tidak seutuhnya benar. Pulau terbesar di Provinsi Jawa Timur ini memang tandus dan panas. Namun, ini tak berarti Pulau Madura tidak memiliki potensi wisata yang mempesona. Bila tak percaya maka cobalah datang ke daerah paling timur ”Pulau Garam’‘, yaitu Kabupaten Sumenep dan dapatkan pengalaman mengesankan di sini.

Masyarakat kabupaten Sumenep sangat ramah karena adanya pengaruh budaya kalem keraton Jawa yang dianut masyarakat terutama para bangsawan dan abdi dalem Keraton Kota Sumenep. Kabupaten Sumenep pada masa kolonial dikuasai oleh keluarga keadipatian Madura, yaitu keluarga Cakraningrat.

Kegiatan 

Berwisata di Sumenep setidaknya perlu lebih dari sehari. Sebab untuk menikmati keindahannya Anda harus menyusuri laut menuju deretan kepulauan ini. Setelah lelah naik kapal menyusuri kepulauan maka Anda bisa beristirahat di sejumlah penginapan dan hotel di Kota Sumenep. Kemudian melanjutkan berwisata darat, yakni Masjid Agung, Keraton Sumenep, situs Asta Tinggi, Pantai Slopeng, Pantai Lombang, serta beberapa pulau indah sekitarnya yang sangat menawan. Pilihan jalur berwisata bergantung Anda apakah akan memulai berwisata dari darat atau memulai dari laut.

Berwisata di darat maka wajib mengunjungi Keraton Sumenep yang terletak di pusat kota  sekitar alun-alun Kabupaten Sumenep. Keraton Sumenep dikenal dengan sebutan “Potre Koneng” atau Putri Kuning yaitu merujuk kepada seorang permaisuri Keraton Sumenep, Ratu Ayu Tirto Negoro yang memiliki kulit kuning bersih yang berasal dari negeri Cina. Bahkan untuk menghormati sang permaisuri maka atap keraton diberi warna kuning cerah. Bangunan ini didirikan pada paruh kedua abad ke-18 atas prakarsa Raja Sumenep, yaitu Penembahan Sumolo atau  Tumenggung Arya Nata Kusuma. Diarsiteki seorang China bernama  Liaw Piau Ngo yang memadukan gaya arsitektur Eropa, China, dan Jawa.

Dengan mengunjungi keraton ini,  Anda dapat  melihat langsung hasil akuturasi budaya Jawa, Eropa, dan Cina yang membentuk bangunan Keraton Sumenep. Pada bangunan Keraton Sumenep, pengunjung dapat melihat nuansa keraton Jawa dengan pilar-pilar dan lekuk ornamennya yang bergaya  Eropa serta rangkaian atap yang menyerupai kelenteng Cina. Komposisi bangunan pada Keraton  Sumenep tidak berbeda dengan keraton-keraton di Jawa, misalnya sama-sama  memiliki pendopo yang cukup luas untuk menerima tamu, ruang peristirahatan  raja, serta lokasi pemandian untuk permaisuri dan putri-putri raja.

Sebelum memasuki keraton, Anda akan disambut gapura dengan nama “Labang Mesem”. Dalam bahasa Indonesia  “labang” berarti pintu, dan “mesem” adalah senyum. Gapura ini melambangkan keramahan keraton terhadap para tamu yang berkunjung. Di sisi kanan keraton,  terdapat “Kantor Koneng”, yaitu ruang kerja raja Sumenep yang sekarang difungsikan sebagai museum. Ruangan ini berisi koleksi peralatan rumah tangga  keraton. Di luar keraton, Anda juga dapat mengunjungi Masjid Jamik Sumenep yang di bangun satu masa dengan keraton ini juga. Masjid ini termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun tahun 1779 M sampai 1787 M oleh Panembahan Sumolo dari Kraton Sumenep.

Kalianget dapat menjadi wisata kota tua. Keunikan itu terlihat dari bangunan tua yang masih utuh dan arsitekturnya belum ada perubahan seperti zaman Belanda tempo dulu. Dari deretan bangunan tua tersebut juga terdapat Taman Merdeka dan mercusuar kecil peninggalan Belanda yang saat ini dijadikan lapangan upacara. Bahkan, pelabuhan Kalianget yang menghubungkan Sumenep dengan jangkar serta pulau-pulau kecil juga bagian dari keindahan alam di sekitar Kalianget.

Menjelajah kepulauan di sekitar Kalianget tidaklah sulit. Karena puluhan kapal angkutan penumpang bisa mengantarkan Anda ke sana setiap saat. Kapal dan perahu tersebut bisa Anda temukan di Pelabuhan Kalianget, sekitar 12 km arah timur Kota Sumenep. Kapal feri dari Kalianget menuju Pulau Sapudi dan Kangean dalam sehari ada sekitar 4 kapal yang beroperasi pulang pergi. Sekali naik tarifnya Rp5.000,00 per orang. Namun, jika Anda akan mendatangi beberapa kepulauan di sana maka mereka bisa menyewa kapal sendiri. Tentunya tarif menyewa kapal tersebut cukup besar, sekitar Rp1.00.000,00 sekali layar. Kebanyakan pengunjung lebih memilih naik kapal feri. Selain murah biayanya juga dapat bercengkrama dengan warga kepulauan dan menjadi pengalaman dalam perkenalan baru. 

Dari Pelabuhan Kalianget, pulau-pulau yang menjadi tujuan berwisata hanya cukup ditempuh 4 jam pergi-pulang. Anda hanya sekadar menginjakkan kaki di pulau-pulau tersebut tetapi dapat melihat aktivitas warga kepulauan, panorama alam, dan mencari buah tangan. Yang unik dan menarik, buah tangan dari Pulau Kangean adalah ukiran kayu jati dan ayam bekisar. 

Tujuannya wisata bahari setelah dari Kalianget adalah Anda menyebrang ke Pulau Talango, sebuah pulau kecil di sebelah tenggara kota Sumenep. Jika berkunjung ke Pulau Talango maka Anda harus menyempatkan diri ziarah ke makam Sayyid Yusuf yang terletak di Kecamatan Talango suatu kepulauan ± 11 km ke arah timur dari kota Sumenep dan menyeberang dari Kecamatan Kalianget  sekitar 10 menit. Menurut cerita rakyat, Sayyid Yusuf adalah seorang ulama yang berasal dari Arab yang ketika itu secara gaib jenazahnya terapung diliputi sinar melintas di depan perahu Sultan Abdurrahman yang akan melakukan perjalanan ke pulau Bali. Kemudian dihadapannya jatuh daun sukun yang bertuliskan dengan jelas nama jenazah tersebut yaitu “Sayyid Yusuf dari Mekkah”. Sultan Abdurrahman kemudian menguburkan janazah tersebut. Asta ini banyak dikunjungi peziarah dari Jawa Timur dan Jawa Barat, kerena konon doa mereka ditempat ini banyak dikabulkan. Di sebelah utara Asta Sayyid Yusuf terdapat pohon nangger yang sangat besar seperti memayungi kuburan tersebut. Pohon nangger ini berasal dari tongkat Sultan Abdurrahman yang ditancapkan setelah menguburkan jenazah Sayyid Yusuf.

Khusus untuk objek wisata pantai di Madura yang sering didatangi pengunjung adalah Pantai Lombang dan Pantai Slopeng.  Pantai Lombang terletak di Desa Lombang, Kecamatan Batang-batang, sekitar 30 kilometer arah selatan Kota Sumenep. Di sepanjang perjalanan dari Sumenep menuju Lombang, Anda akan disapa oleh gugusan gunung kapur dan tanah merah yang tandus. Memiliki hamparan pasir putih sepanjang 12 kilometer. Pada pinggiran hamparan pasir berhiaskan tumbuhan pohon cemara udang  sebagai tanaman yang hanya ada di Indonesia dan Cina, sehingga membuat teduh dan nyaman pantai itu. Semua objek wisata di Sumenep ini terbilang masih alami dan belum mendapat sentuhan optimal sebagai tempat wisata.

Pantai Slopeng adalah pantai dengan hamparan gunung pasir putih yang mengelilingi sisi pantai sepanjang hampir 6 km. Bila anda suka memancing ikan di laut maka kawasan pantai ini sangat cocok untuk memancing karena areal lautnya kaya akan beragam jenis ikan.

Pulau Gililabak terletak di sebelah tenggara Pelabuhan Kalianget, di antara Pulau Giligenting dan Pulau Puteran. Perjalanan menuju pulau ini bisa ditempuh sekitar satu jam, dengan memakai perahu motor melewati sela-sela bagan penangkapan ikan. Taman laut ini juga sering dijadikan tempat olahraga bahari seperti snorkling dan scuba diving. 

Taman Laut Pulau Mamburit adalah taman laut yang beragam dan masih asli. Di tempat ini, Anda yang berhobi menyelam bisa sepuasnya menikmati keindahan dasar laut. Dengan dukungan angin yang cukup kuat dari Laut Jawa membuat pantai ini dipergunakan wind surfing nasional maupun internasional.

Berbelanja 

Di Sumenep Anda tidak akan menemukan taxi ataupun angkutan umum sebab angkutan umum yang tersedia hanya berupa mobil bak terbuka yang biasanya digunakan untuk mengangkut sapi, sembako dan komoditas lainnya. Oleh karena itu berkeliling sambil berjalan kaki di pagi dan sore hari dapat menjadi pilihan yang tepat sambil melebur bersama penduduknya yang ramah.

Batik tulis Sumenep dapat menjadi oleh-oleh yang menarik. Keberadaan Batik Tulis Sumenep sudah ada sejak lama sama halnya dengan beberapa tempat yang menjadi pusat kerajinan batik tradisional seperti di pulau Jawa, Cirebon, Garut, Solo dan Yogyakarta, Pekalongan, Pacitan juga Palembang dan Jambi. Batik Tulis Sumenep ini mempunyai ciri khas yaitu motif Ayam dan warna merah yang menjadi ciri khas batik Madura pada umumnya. Sedangkan untuk bahan pewarnanya terdiri dari 2 macam yaitu pewarna sintesis dan bahan pewarna alami seperti dari mohani akasia daun jati dan lain-lain. Adapun harga sangat bervariasi dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan tergantung pada pengerjaannya dan kain yang digunakan. Sentra Batik Tulis yang cukup terkenal di Sumenep berada di Desa Pekandangan Barat yaitu 18 km dari pusat kota.

Selain itu Anda juga dapat mengujungi tempat penjual cemilan khas Sumenep, yaitu Rumah Makan Kartini di Jalan Diponegoro yang menjual beragam oleh-oleh yang rasanya berkualitas dan terjangkau. Jika Anda ingin lebih berpetualang kuliner maka dapat mengeksploitasi langsung ke Pasar Anom Sumenep, di sana banyak sekali makanan dan barang-barang yang dapat dijadikan buah tangan khas Sumenep.

Jangan lupakan berbelanja oleh-oleh makanan saat Anda berkeliling di Sumenep. Beragam makanan dan souvenir cantik dapat menjadi pilihan yang akan membahagiakan orang yang menanti cerita wisata Anda dari Madura. Berikut ini Kami pilihkan beberapa pilihan tempat untuk Anda berbelanja di Sumenep.

Toko Camelan Madura II

Jl. Agus Salim – Kepanjin – Sumenep

Toko Kue Ravin

Jl. Adipoday – Kolor – Sumenep

R.M 17 Agustus

Jl. Jenderal Sudirman 34 Pajagalan – Sumenep

Telp. : 0328-662255

Toko Camelan Madura I

Jl. Diponegoro – Karangduak – Sumenep

Di Pulau Kangean bila Anda pecinta ayam maka dapat membeli ayam bekisar. Jenis ayam ini adalah hasil penyilangan antara ayam hutan (jantan) dan ayam kampung (betina). Jenis hasil penyilangan memiliki keturunan yang menarik. Tubuhnya lebih besar dari ukuran ayam kampung dan warna kulit hitam kebiru-biruan, malah kadang kemerah-merahan. Di bulu pada lehernya terdapat lurik warna hijau berpadu kekuning-kuningan dan sangat eksotik. Keelokan fauna inilah yang kemudian mendorongnya ditetapkan sebagai maskot Pemerintah Provinsi Jatim. Harga seekor ayam bekisar di Kangean mulai dari Rp25.000,00 Namun bila ayam itu sudah berada di Surabaya, harganya bisa mencapai Rp 100.000,00. 

Akomodasi 

Ada banyak penginapan yang dapat Anda pilih setibanya di Sumenep dimana pilihan itu saling berdekatan dan tidak terlalu jauh lokasinya. Sedapat mungkin Anda dapat berkeliling dulu untuk memilih salah satunya. Di dekat terminal, ada Safari Jaya dengan tarif mulai Rp50.000,00 dengan fasilitas sederhana. Hotel yang cukup bagus yaitu Utami Sumekar yang ada di tengah kota, dan Family Nur yang letaknya mungkin 200 meter dari RSUD Saiful Anwar. Pilihan jenis home stay harganya yang tidak terlalu mahal, mulai dari Rp90.000,/malam maka Anda sudah mendapatkan kelas VVIP. Di sekitarnya ada resto yang cukup memudahkan Anda untuk sarapan pagi. Tepat di depan hotel juga ada masjid yang cukup besar dan nyaman.

Family Nur Home Stay

Jln. Sultan Abdur Rahman No. 01 Sumenep

Telp. : 0328-668979

Hotel C.1

Jl. Sultan Abdurrahman Sumenep

Telp. : (0328) 674368

Hotel Garuda

Jln. Trunojoyo No. 280 Sumenep

Telp. : (0328) 665543

Hotel Safari

Jln. Trunojoyo No. 90 Sumenep

Telp. : (0328) 662989

Hotel Utami Sumekar

Jln. Trunojoyo No. 53 Sumenep

Telp. : (0328) 672221

Hotel Wijaya I

Jln. Trunojoyo No. 47 Sumenep

Telp. : (0328) 662433

Hotel Wijaya II

Jln. KH. Wachid Hasyim No. 3 Sumenep

Telp. : (0328) 662532

Losmen Baitul Kamul

Jln. Gersik Putih – Kalianget

Telp. : 0328-663099

Wisma Sumekar

Jln. Trunojoyo No. 53 Sumenep

Telp. : 0328-662502

Kuliner 

Wisata kuliner di Sumenep cukup beragam tetapi belum banyak dikenal. Orang umumnya mengetahui makanan khas Madura itu hanya sate dan soto. Semisal saja nasi jagung dengan kuah maronggi dan lodeh, sebenarnya merupakan makanan khas Madura tetapi belum terlalu populer. 

Ada tiga sentra makanan kaki lima di pusat kota Sumenep, yaitu di sebelah barat Hotel Wijaya, depan perpustakaan, dan di Taman Bunga. Makanan di dominasi oleh nasi goreng, ikan laut, serta ayam atau burung dara. Namun yang perlu dicatat, mungkin Anda perlu bertanya tentang besar ikan laut yang akan Anda beli karena ternyata besarnya mungkin cukup untuk makan bertiga.

Ada juga pusat camilan Sumenep di Depan Toko El Malik Sumenep yang menjual keripik tekai, keripik singkong, krupuk ikan prenduan, lorjuk, tripang, krupuk paru, petis ikan madura. Di sana banyak dijual beragam kripik dan krupuk, mulai dari kripik tekai (sejenis umbi rumput teki yang rasanya lebih enak dibandingkan melinjo), kripik singkong rasa gadung, krupuk ikan prenduan, kepeng (sejenis opak dari singkong), tripang, lorjuk, kerupuk paru, petis ikan Madura, dan sebagainya.

Selagi di Sumenep maka sempatkanlah untuk mencicipi beragam makanan khas Madura. Berikut ini beberapa referensi tempat makan untuk Anda mencicipi makanan khas Madura.

DEPOT AYAM BUMBU

Jln. Trunojoyo Sumenep

Telp. : 0328-662934

DEPOT BIRU

Jln. KH. Wahid Hasyim – Sumenep

Telp. : 0328-661528

DEPOT MAWAR

Jln. KH. Mansyur no. 55 Pangarangan – Sumenep

Telp. : 0328-662178

DEPOT SEHAT

Jln. Trunojoyo – Kolor – Sumenep

Telp. : 0328-667555

DEPOT WIWIK

Jln. Kartini – Kepanjen – Sumenep

Telp. : 

MASAKAN PADANG

Jln. Trunojoyo Sumenep

Telp. : 0328-661797

R.M PECEL MADIUN

Jln. Jenderal Sudirman – Kepanjin – Sumenep

R.M. 17 AGUSTUS

Jln. Jendral Sudirman no. 34 Pajagalan – Sumenep

Telp. : 0328-662255

R.M. ANUGERAH

Jln. Jendral Sudirman no. 32 Pajagalan – Sumenep

Telp. : 0328-662950, 662792

R.M. HARAPAN

Jln. Cempaka no. 03 Pajagalan – Sumenep

Telp. : 0328-662678

R.M. KARTINI

Jln. Diponegoro no. 83 Bangselok – Sumenep

Telp. : 0328-662431

R.M. PADANG BIMBA JAYA

Jln. Trunojoyo no. 20B – Sumenep

R.M. PECEL BLITAR

Jln. Haperkus – Kepanjin – Sumenep

R.M. PRIMARASA

Jln. Jaksa Agung Suprapto no. 16 Sumenep

Telp. : 0328-662715

R.M. SAFARI JAYA

Jln. Trunojoyo Sumenep

Telp. : 0328-662989

R.M. SRIKANDI

Jln. Trunojoyo Sumenep

R.M. WIJAYA I

Jln. Trunojoyo no. 45 Sumenep

Telp. : 0328-662433

R.M. WIJAYA II

Jln. KH. Wahid Hasyim no. 3 – Sumenep

Telp. : 0328-662532

WAROENG MALANG

Jln. Mustika no. 248 Bangselok – Sumenep

Telp. : 81331637503

Transportasi 

Untuk menuju kota Sumenep Anda   dapat menggunakan jalur darat melalui jembatan Suramadu dari Surabaya langsung menuju Madura. Perjalanan dari Pelabuhan Kamal ke kota Sumenep dapat  ditempuh dengan bus maupun minibus dengan lama perjalanan sekitar 3 jam. 

Sarana Perhubungan Darat yang ada di Kabupaten Sumenep terbilang baik dengan jembatan dengan panjang keseluruhan 1.538 m dan berjumlah 227 buah. Kondisi aspal sepanjang 1.600,43 km, kerikil berbatu sepanjang 59,1 km dan tanah sepanjang 49,4 km.

Melalui jalur laut ada pelabuhan yang bisa disandari kapal sebanyak 11 buah yang berlokasi di Kec. kalianget, Kec. Masalembu, Kec. Sapeken, Kec. Gayam, Kec. Nonggunong, Kec. Arjasa, dan Kec. Raas. Perjalanan laut Surabaya-Sumenep harus menyeberangi pantai utara Jawa melewati Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya  menuju Pelabuhan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Madura dengan memanfaatkan jasa  kapal feri. Lama perjalanan kurang lebih setengah jam. Pelabuhan ini terletak di ujung barat pulau Madura,  sedangkan letak Keraton Sumenep berada di ujung timur pulau yang berjarak sekitar 90 km dari Pelabuhan Kamal.

Untuk jalur udara ada lapangan udara perintis sebanyak 1 unit yang berlokasi di Kecamatan Sumenep. Bandara Khusus sebanyak 2 unit yang berlokasi di Kecamatan Sapeken yang awalnya pernah digunakan oleh Pertamina.

Tips

Anda  yang berkunjung ke Keraton Sumenep dapat memperoleh keterangan tambahan mengenai sejarah dan perkembangan keraton dari  pengelola keraton yang dapat bertindak sebagai pemandu untuk Anda berkeliling. Jika memerlukan menginap maka  di sekitar museum terdapat beragam penginapan berupa hotel.

Jasa travel perjalanan yang dapat Anda jadikan referensi adalah berikut ini.

  • Pit Travel: Jln. Letnan Ramli no. 16 – Sumenep & jln. Kedungdoro 174 – Surabaya, 0328-662693
  • Karina Express dan Travel: JLm. Trunojoyo 244 Kolor – Sumenep & Terminal Arya Wiraraja – Sumenep,  031-3710980, 3722912, 531
  • Tomo Travel: Desa Pajagaln – Sumenep, 0328-661410, 031-5677531
  • Bakir Travel: Desa Marengan-Sumenep, 0328-667143
  • Syamsul Travel: Jln. Trunojoyo – Kolor – Sumenep, 0328-664865, 08123269027
  • Fadli Travel: Jln. Manikam – Bangselok – Sumenep, 0328-661845, 031-5479643
  • Fajar Travel: Perum Batu Kencana – Sumenep, 0328-664329
  • Fathor Travel: Desa Marengan-Sumenep, 0328-665974
  • Opini Travel: Desa Pamolokan – sumenep, 0328-661303

Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kab Sumenep

Jl. Dr. Soetomo No. 5 Sumenep ( 0328 ) 667148 Fax. 672617

Situs Trowulan dan Museum Purbakala Trowulan: Warisan Kebesaran Kerajaan Majapahit

Inilah saatnya Anda membangkitkan rekaan imajinasi tentang kehidupan dari sebuah kerajaan terbesar di Indonesia lebih dari 700 tahun yang lalu. Ya, inilah situs Kerajaan Majapahit dari masa abad  XIII – XV Masehi. Berlokasi di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur sebagai tempat dimana Anda dapat mengenang kebesarannya dan tidak lagi menganggap bahwa kita hanya tahu dari buku sejarah atau pelajaran saat sekolah dahulu. 

Trowulan adalah satu-satunya situs kota di Indonesia yang luasnya mencapai 11 x 9 km 99 km² dan menyimpan ratusan ribu peninggalan arkeologis, baik yang sudah ditemukan maupun yang masih terkubur. Berwisata ke tempat ini bukan sekedar liburan, namun Anda juga bisa menapaki sejarah besar dari sebuah kerajaan yang menjadi inspirasi Bangsa Indonesia tentang “Persatuan Nusantara“. Selain itu Anda akan mengetahui bagaimana tingkat peradaban di Trowulan di masa Majapahit, mulai dari sistem pemerintahan, perdagangan, hubungan luar negeri, teknologi, arsitektur, pertanian, hingga seni kerajinan.

Kerajaan Majapahit berdiri 1293 M setelah runtuhnya Kerajaan Singosari. Didirikan oleh Raden Wijaya, awalnya berpusat di daerah Hutan Tarik yang banyak terdapat Pohon Maja yang buahnya pahit, oleh karena itu dinamakan Majapahit. Raden Wijaya sendiri adalah menantu Raja Singosari yaitu Kertanegara dari garis keturunan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari. Dia menjadi raja pertama Majapahit hingga 1309 M. 

Kebesaran Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Mahapatih Gajah Mada yang mengikrarkan Sumpah Palapa untuk mempersatukan Nusantara. Majapahit berhasil merangkai jejaring perniagaan lokal dan regional dengan komoditi beras dan hasil bumi yang ditukar dengan rempah-rempah, keramik, dan tekstil. Mata uang yang digunakan adalah uang gobog dan uang ma dari emas atau perak, uniknya mata uang Cina dari Dinasti Tang, Song, Ming, dan Qing berlaku juga di Majapahit. Dalam kehidupan beragama terjadi penyatuan agama Siwa dengan Budha, selain berkembang agama Karesian dan Islam. Hal ini menunjukan Majapahit sebagai negara multikultur dan masyarakatnya hidup damai dengan berbagai aliran kepercayaan secara harmonis. Majapahit mengalami pasang surut akibat perebutan tahta di kalangan keluarga raja hingga akhirnya mengalami keruntuhanya abad XV M.

Bangunan keraton Majapahit diperkirakan seperti rumah bertingkat dengan atap dari kayu tipis, tembok dari bata, lantainya dari anyaman tikar pandan atau rotan. Sementara rumah penduduk umumnya dari atap jerami. Situs-situs di Trowulan telah dipugar untuk menjaga keindahannya. Situs Trowulan ini ramai pengunjung terutama hari Sabtu-Minggu dan liburan sekolah. Setiap harinya rata-rata 50-an orang pada hari-hari biasa dan rata-rata 170-an orang pada hari liburan dan liburan sekolah.

Situs Trowulan sendiri pertama kali muncul dalam literatur berjudul “History of Java I” yang ditulis Sir Stamford Raffles tahun 1817. Raffles mengatakan bahwa nama Trowulan berasal dari Trang Wulan atau Terang Bulan. Saat ditemukan seluruh situs ini tertutup hutan jati yang cukup lebat, sehingga dia tidak terlihat sebagai sebuah kota klasik.

Situs kota kota klasik Trowulan dibagi beberapa segmen yang memperlihatkan perannya dimasa lalu. Dibangun dengan pola ruang kanal air diduga ada hubungannya dengan konsep mandala yang digunakan sebagai acuan dan dasar pembagian kosmologis kota ini. Kolam Segaran membuktikan hal tersebut tak ubahnya bagai telaga di tengah kota. Berdasarkan sketsa rekonstruksi Kota Majapahit dan foto udara memperlihatkan kota lama ini memiliki sistem kanal pengairan untuk drainase dan pasokan air yang dibuat dalam garis lurus memanjang barat laut-tenggara dan timur laut-barat daya.

Kegiatan 

Untuk menikmati situs kota purbakala ini mungkin Anda membutuhkan waktu lebih dari sehari. Ada banyak situs yang dapat Anda kunjungi seperti Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Brahu, Candi Kedaton, Gapura Wringin Lawang, Kolam Segaran, Pendopo Mojopahit yaitu Petilasan Gajahmada, Museum Trowulan, Makam Putri Cempa yaitu permaisuri Raja Majapahit terakhir, Brawijaya. Ada juga Makam Troloyo yaitu makam Syeikh Jumadil Qubro, kakeknya para Wali Songo, ini juga membuktikan adanya komunitas Muslim di dalam kota kerajaan Majapahit. Ada juga makam Panjang yang menunjukkan adanya penghuni Trowulan sebelum era Majapahit.

Ikon Trowulan yang patut Anda kunjungi adalah Candi Brahu dan Candi Tikus. Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Candi Brahu merupakan lokasi Ngaben atau pembakaran mayat di masa Kerajaan Majapahit. Sementara Candi Tikus merupakan bangunan petirtaan yang memiliki puluhan pancuran. Disebut Candi Tikus karena sewaktu ditemukan menjadi sarang tikus. Candi ini ditemukan bentuknya sebagai tempat pemandian putri kerajaan yang disebut dinuk (kesayangan). Candi dengan kedalaman 80 hingga 100 cm di bawah permukaan tanah itu berbentuk bujur sangkar 22,5 meter x 22,5 meter yang bentuk candinya mirip Gunung Mahameru di India. Tidak jauh dari Candi Tikus, ada  Candi Bajang Ratu. Candi ini mirip seperti Gapura Wringin Lawang, tapi Candi Bajang Ratu tampak indah dengan paduan taman bunga warna-warni seluas 11.500 meter persegi dengan jalan masuk yang cukup luas, candi ini juga memiliki atap yang fungsinya sebagai Pintu Gerbang. Candi Bajang Ratu merupakan tempat penobatan Jayanegara sebagai ratu saat masih kecil. 

Mampirlah ke kolam Segaran Majapahit, panjangnya 375 m dan lebar 125 meter, dan tinggi dindingnya 3,16 meter. Kolam yang sampai saat ini masih dialiri air tersebut tak ubahnya telaga di tengah kota. Kolam (balong) kuno seluas 6,5 Ha ini ditemukan pertama kali oleh Maclain Pont tahun 1926. Semasa Kerajaan Majapahit kolam ini juga difungsikan sebagai tempat rekreasi dan menjamu tamu dari luar negeri. Fungsi utamanya sebagai waduk dan penambah kesejukan udara kota. Dugaan sebagai waduk ini diperkuat dengan ditemukannya saluran pembuangan air yang berhubungan dengan Kolam Bulat (Balong Bunder) di Selatan serta Kolam Panjang (Balong Dowo) tepat di depan Museum Trowulan. Sayangnya kedua balong itu sudah tak berfungsi karena pendangkalan. Menurut cerita rakyat pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, apabila perjamuan tamu telah usai, maka peralatan perjamuan seperti piring, sendok, ataupun mangkok yang terbuat dari emas dibuang di kolam untuk menunjukkan betapa kayanya Kerajaan Majapahit. Namun, di dasar kolam telah lebih dahulu dipasang jaring, sehingga saat tamu sudah pergi, peralatan-peralatan tersebut diambil kembali untuk digunakan. 

Sempatkan juga mengunjungi situs Wringin Lawang dan duduk di pelatarannya yang asri. Gapura berbentuk simetris dan dibangun dari batu merah ini diduga merupakan bagian dari tembok keliling kota. Temuan arkeologis yang ditemukan di sekitar situs berupa sumur kuno menguatkan dugaan bahwa wilayah ini dulunya merupakan kawasan permukiman. Suasana di sekitarnya adalah hamparan rumput luas dengan hembusan angin yang sejuk. Tempat ini dipercaya sebagai pintu gerbangnya Majapahit karena dulunya terdapat gapura.

Candi Kedaton yang terletak di dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto, merupakan situs yang masih misteri. Sampai sekarang arkeolog belum menemukan format dari Situs Kedaton yang juga memiliki sumur upas. Namun, beberapa bentuk bangunan situs itu diperkirakan berbentuk empat bangunan yang merupakan bentuk candi dengan sumur upas, makam Islam, mulut gua, tempat semedi (pertapaan), dan lorong rahasia. Penggalian situs Kedaton yang dilakukan sejak 1996 dan belum selesai hingga sekarang, karena para arkeolog masih mencari keterkaitan dari empat bentuk bangunan yang ada. Penggalian sudah mencapai kedalaman 80 cm di bawah permukaan tanah, diduga merupakan lorong rahasia yang menghubungkan kerajaan Majapahit dengan kerajaan lainnya. 

Tidak jauh dari Situs Kedaton di Desa Sentonorejo tersebut terdapat Pendopo Majapahit itu diyakini merupakan pusat kerajaan Majapahit dengan luasnya yang mencapai besaran kilometer, terbentang ke barat, timur, selatan dan utara dari pendopo. Di belakang pendopo, ada batu miring yang merupakan tempat Gajahmada membaca ikrar “Sumpah Palapa“, kemudian di belakangnya merupakan tempat pertapaan dan makam Raden Wijaya. Di Pendopo Agung setiap tanggal 1 Suro menjadi pusat penyelenggaraan Prosesi Grebeg Suro yang rangkaian kegiatannya meliputi kirab pusaka, pentas seni rakyat dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Museum Trowulan

Untuk menyatukan informasi dari semua situs purbalaka yang amat luas ini dalam satu tempat maka  Anda wajib mengunjungi Museum Trowulan yang jaraknya tak jauh dari situs kolam Segaran. Di sini Anda dapat memperoleh semua gambaran kejayaan Majapahit yang tersajikan secara lebih utuh dan sistematis. Anda dapat melihat berbagai benda-benda purbakala berupa koleksi seperti benda-benda terakota, keramik, logam, dan batu, alatalat produksi, alat rumah tangga, hingga arsitektur. 

Museum Purbakala Trowulan didirikan oleh Kanjeng Adipati Ario Kromojoyo Adinegoro bersama Ir. Henry Maclaine Pont tahun 1942 hingga 1926 dengan tujuan untuk menampung artefak hasil penelitian arkeologi di sekitar Trowulan. Di sini disediakan fasilitas musholla, cafetaria dan toko souvenir.

Saat ini, museum yang juga dikenal sebagai Balai Penyelamat arca memiliki koleksi berbagai temuan di wilayah Jawa Timur. Untuk memudahkan pengunjung, benda-benda koleksi ini telah dilengkapi dengan keterangan singkat dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Secara garis besar ruang museum terbagi dua. Yaitu pertama, Ruang Pamer, digunakan untuk memamerkan artefak berukuran relatif kecil, seperti mata uang, senjata, prasati, alat musik dan peralatan rumah tangga. Kedua, adalah Pendopo, digunakan sebagai tempat pamer artefak berukuran relatif berat, seperti arca, relief, kala, yoni dan lain-lain

Di Museum Trowulan Anda dapat mengamati beragam koleksi langka nan indah yang menggambarkan peradaban maju Kerajaan Majapahit. Kemampuan para perajin logam dari emas, perak, kuningan, perunggu, tembaga, dan besi pada masa itu telah mencapai tingkatan tinggi. Bahkan, lonceng dari logam untuk gantungan di leher sapi pun ditatah dengan cita rasa seni yang indah. 

Akomodasi 

Beberapa hotel yang dapat dijadikan referensi adalah berikut ini.

  • Hotel Grand Trawas

Jalan Trawas,Mojokerto

Telp : 0361 9 600 600

  • Merdeka Hotel 

Jl Residen Pamuji 73

Mojokerto 61311 

  • Puri Indah Hotel 

Jl Raya By Pass

Mojokerto 61363 

  • Sekar Putih Hotel 

Jl By Pass 1

Mojokerto 61363 

  • Slamet Hotel 

Jl Panglima Sudirman 51

Mojokerto  61313 

  • Surya Kertajaya Hotel 

Jl By Pass Km 50

Mojokerto 61363 

  • Sativa Sanggraloka

Jl. Raya Pacet Km. 3, Mojokerto East Java

  • Surya Mojopahit Hotel 

Jl Pahlawan 40

Mojokerto 61321 

  • Wisma Tenera Hotel 

Jl HOS Cokroaminoto 1

Mojokerto 61313 

Berbelanja

Saat ini, talenta masyarakat Trowulan dalam seni kerajinan logam, batu, maupun terakota tetap terpelihara. Perajin logam, khususnya kuningan, dapat Anda temui di sepanjang Dusun Kedungwulun, Desa Bejijong. Aneka cendera mata, dari tingkat kesulitan yang mudah sampai sangat rumit, tersedia di sini dengan harga yang terjangkau untuk Anda beli sebagai oleh-oleh. Anda juga dapat meninjau langsung proses pembuatannya yang meliputi pembuatan model dari lilin, pencetakan, pembakaran, pengecoran, penuangan, penghalusan, hingga pewarnaan. Sebuah proses yang panjang dan rumit, membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan cita rasa seni yang tinggi. 

Jangan lupa membeli batik khas Mojokerto yang memiliki simbol Surya Majapahit berupa lingkaran yang melambangkan sinar matahari bercampur dengan motif  “merica bolong”, ”beras tumpah”, dan motif-motif primitif lainnya. 

Kuliner 

Anda dapat temukan rumah makan berjejer di depan Kolam Segaran. Menunya, tentu saja khas Mojokerto seperti ikan wader, nasi panas, lalapan, sambal tomat, dan sebutir kelapa muda. 

Kuliner yang khas di Trowulan adalah Sambel Wader, yaitu iwak wader (ikan kecil yang ada di sungai) digoreng dan disajikan bersama sambal dan lalapan. Selain itu tentu juga ada kuliner Jawa Timur lain seperti Soto Dhok dan Rawon. Harganya cukup murah kurang dari Rp10.000,00.

Transportasi 

Lokasinya berada di sebuah dataran yang merupakan ujung dari kaki tiga gunung yakni Gunung Penanggungan, Welirang, dan Anjasmoro. Tepatnya di sekitar delta Sungai Berantas, sekitar 10 Km barat daya Kota Mojokerto, atau sekitar 60 km barat daya Surabaya. Situs ini dapat dicapai dengan kendaraan pribadi maupun kendaaran umum dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dari Kota Mojokerto.

Anda dapat naik bus dari Surabaya hingga terminal Mojokerto atau langsung turun di Trowulan. Kemudian dari terminal Mojokerto naik angkutan kota ke Trowulan, setelah itu bisa naik ojek menuju ke beberapa candi yang berjarak sekitar 2-3 kilometer itu.

Anda juga dapat menggunakan kereta api dari Jogja menuju Mojokerto sekitar 6 jam. Sesampainya di Stasiun Mojokerto Anda menuju Terminal Bus Kertajaya Mojokerto. Dari sana naik becak dengan tarif Rp15.000,00 atau berjalan kaki sekitar 45 menit. Di terminal busnya pasti melewati Jalan Raya Trowulan. Cukup membayar Rp2.500,00 per orang untuk tujuan Trowulan sekitar 15 menit atau 12 km dari kota Mojokerto.

Untuk menuju Museum Trowulan ada di wilayah Dusun Trowulan Desa Trowulan Kecamatan Trowulan. Anda dapat mencapainya menggunakan semua transportasi melalui jalan raya Trowulan atau jalan kecamatan tidak jauh dari kolam Segaran.

Tips

  • Berkeliling di situs kota purbakala ini disarankan Anda menggunakan ojek atau mobil sewaan karena di sekitarnya tidak ada angkutan umum.
  • Cuaca cukup panas karenanya siapkan air minum dan pakaian yang menyerap keringat.
  • Di situs ini ada beberapa buku tentang sejarah Majapahit yang dijual untuk Anda beli. Atau dapat pula Anda menyewa pemandu proffesional yang disediakan pihak museum.
  • Museum Purbakala Mojokerto

Jl. Jend. A. Yani No 14, Mojokerto

  • Museum Purbakala Trowulan 

Jl. Raya Trowulan 13, Mojokerto, Phone: (0321) 61362

Pantai Tanjung Papuma: Pesona Pantai Putih Malikan

Nama Pantai Tanjung Papuma sudah tidak asing lagi di Jawa Timur. Destinasi ini memesona lantaran terdiri dari pantai yang indah dipadu dengan hutan lindung yang masih terjaga keasliannya. Begitu memukau lansekap Pantai Tanjung Papuma sehingga peminat fotografi tergoda untuk mengabadikannya lewat lensa kamera.

Letak Pantai Tanjung Papuma di Desa Suberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Nama “Papuma” yang diberikan oleh Pehutani merupakan singkatan dari Pasir Putih Malikan. Sebutan Malikan diambil dari bahasa Jawa yang artinya molak-malik atau bergulung-gulung dalam Bahasa Indonesia. Lantaran Papuma termasuk dalam gugusan Pantai Selatan, tentu saja Anda akan melihat ombak bergulung-gulung tersebut di sini.

Sebelum menjumpai garis cakrawala yang terbentang jauh di ujung lautan, Anda akan melewati hutan jati yang masih menyimpan ragam flora dan fauna. Nikmatilah sejuknya suasana di sini sambil berjalan kaki. Apabila sudah tiba di bibir Pantai Tanjung Papuma, Anda akan melihat pemandangan pantai dengan air laut hijau kebiru-biruan, dan tentunya dihiasi oleh pasir putih.

Istimewanya, pantai ini memiliki bebatuan karang besar yang menyerupai pulau-pulau karang. Terdapat tujuh karang besar yang masing-masing diberi nama: Pulau Narada, Pulau Nusa Barong, Pulau Batara Guru, Pulau Kresna, Pulau Kajang dan Pulau Kodok. Enam dari tujuh batu tersebut memiliki nama sesuai dengan bentuknya, ada yang menyerupai kodok raksasa dan mirip topi Dewa Narada.

Di saat ombak pasang maka pulau-pulau ini akan menghempaskan air menciptakan panorama spektakuler dan juga bunyi-bunyian yang khas. Anda bisa berdiri di atas batu karang saat ombak tengah surut namun berhati-hatilah karena batu karang memiliki bentuk yang kasar dan tajam. Saat air surut ikan-ikan di sekitar karang juga akan terlihat.

Dua buah batu karang yang menjadi ikon Papuma adalah Pulau Kajang dan Pulau Narada. Jika mengamati foto lansekap Pantai Tanjung Papuma maka dengan mudah Anda akan mengenali kedua pulau tersebut. Selain itu, kedua batu ini juga menjadi tempat paling favorit untuk berfoto-foto ria karena bentuknya memang sangat khas.

Kegiatan

Di sekitar pantai terdapat pelelangan ikan. Anda bisa membelinya untuk dibakar dan disantap bersama teman-teman maupun keluarga di pinggir pantai, sambil menyeruput nikmatnya es kelapa muda khas Papuma. Kunjungi titik sunrise sekaligus sunset yang disebut Siti Inggil, ataupun melakukan aktivitas menarik lainnya seperti berjemur, memancing, snorkeling, hingga rock climbing. 

Pantai Tanjung Papuma mendukung petualangan berlibur Anda dengan menyediakan camping ground, outboud, flying fox dan ATV Rider. Khusus bagi keluarga yang membawa anak-anak tersedia children playground. Ada tiga lokasi camping yang dimiliki Papuma, yaitu Serut Camping Ground, Gebang Camping ground dan Keben Camping ground. Masing-masing lokasi camping ground mencirikan jenis vegetasi yang dominan melingkupi lokasi camping ground tersebut.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai paket-paket outbound dan camping di Pantai Tanjung Papuma, silahkan mengakses situs www.tanjungpapuma.com.

Transportasi

Dari pusat kota Jember, perjalanan membutuhkan waktu sekira 45 menit atau 5-6 jam dari Surabaya. Ada banyak bus yang beroperasi dari Surabaya menuju Jember. Sesampainya di Jember, Anda harus menggunakan jasa ojek atau menyewa kendaraan sendiri. Berhati-hatilah saat berkendara menuju lokasi karena Anda akan menjumpai beberapa monyet hutan. Perjalanan ke Papuma tidak sulit karena terdapat banyak papan informasi di pinggir jalan yang memandu ke Anda ke pantai tersebut.

Akomodasi

Terdapat beberapa vila yang dikelola oleh Perhutani dengan fasilitas kamar ber-AC, kamar mandi dalam, tv dan beranda. Tarif berkisar Rp300-400 ribu per malam. Alternatif lain adalah menginap di Kota Jember, beberapa hotel yang bisa menjadi pilihan Anda adalah berikut ini.

Aston Jember Hotel

Jalan Bandeng Kaliwates, Jember

Tlp. 0331-423888

Panorama Hotel Jember

Jalan Kyai Haji Agus Salim No.28

Tlp. 0331-333666

Hotel Istana Jember

Jalan Diponegoro, Jember

Tlp. 0331-482555

Hotel Bandung Permai

Jalan Hayam Wuruk No.38

Tlp. 0331-412222

Hotel Royal

Jalan Karimata No.50 Kav-2

Tlp. 0331-326677          

Kuliner

Selain panorama pantai dan hutan, temukan keunikan Papuma lainnya berupa gurita di antara bebatuan karang. Hewan laut lunak berkaki delapan ini bisa diburu dengan umpan berupa kepiting tiruan. Gurita sangat lezat diolah menjadi gurita bakar. Apabila Anda tak sempat memburunya langsung, warung-warung di sekitar pantai menyediakan kuliner gurita bakar.

Menginap di pusat Kota Jember berarti Anda lebih banyak berkesempatan menyicipi makanan-makanan khas. Cicipi makanan yang bernama suwar suwir, terbuat dari tape lalu dicampur dengan buah sirsak. Panganan ini sudah dibuat sejak zaman Penjajahan Belanda. 

Pecinta bakso wajib menyicipi bakso kabut di Jalan Rasamala Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa. Jika pada umumnya bakso berisi daging dan telur. Bakso kabut berbeda karena campuran telur justru berada di bagian luar bakso, sementara bagian dalamnya berisi daging sapi.

Makanan khas Sidoarjo, lontong kupang ataupun rujak cingur khas Surabaya dengan mudah didapatkan di sini. Dengan mudah Anda dapat menemukan ragam kuliner di sepanjang alun-alun Kota Jember. Warung-warung makanan menyediakan tempat lesehan yang nyaman didampingi suasana Kota Jember.

Berbelanja

Jember terkenal dengan tapenya yang diolah menjadi suwar-suwir, Anda bisa membeli makanan tersebut di toko oleh-oleh yang terletak di sekitar Kota Jember. Pusat oleh-oleh terdapat di Jalan Gajah Mada, jalurnya searah dengan jalan kembali ke Surabaya. Anda juga akan menemukan bermacam kaos dengan desain yang unik dan menarik.

Pantai Pulau Merah: Pantai Kuta Bali Memiliki Saingan

Satu lagi tujuan selancar berkelas dunia tersaji di Banyuwangi, bukan G-land (Plengkung) tetapi ini bernama Pantai Pulau Merah. Pantai ini memiliki kelebihan dibandingkan G-land yaitu tidak memiliki banyak batu karang seperti di Plengkung sehingga pantai Pulau Merah lebih aman bagi peselancar termasuk pemula. Pantai ini memiliki ciri khas lain yaitu adanya sebuah bukit setinggi 200 meter di hadapan pantai yang mirip seperti pantai di Brazil.

Pantai Pulau Merah mirip Pantai Kuta di Bali namun ombaknya lebih bergulung (hingga setinggi dua meter dan panjang 300 meter) dimana itu memungkinkan peselancar melakukan manuver dengan teknik tubes. Ombak di Pantai Pulau merah dipastikan bisa menjadi tujuan peselancar pemula, amatir mauun  profesional karena memiliki ketingian rata-rata dua meter. Hal ini berbeda dengan Pantai Plengkung atau G-Land yang hanya lebih banyak dinikmati peselancar profesional.

Nama Pulau Merah sebelumnya adalah Pantai Ringin Pitu. Pergantian namanya menjadi Pulau Merah didasari dua versi. Ada yang mengatakan karena warna tanah dan pasirnya yang kemerahan dari pulau setinggi 200 meter itu. Sebagian lagi menyebutkan, konon dari Pulau Merah yang ada di hadapan pantainya (sekira 100 meter) itu dahulunya pernah terpancar cahaya merah sehingga warga sekitar menamainya Pulau Merah.

Daya tarik lain dari pantai ini adalah lokasinya yang berdekatan dengan desa nelayan Pancer. Anda dapat pula memanfaatkan rumah warga untuk menginap, merasakan keramahan dan kesahajaan nelayan akan menjadi pengalaman berbeda dari biasanya.

Kegiatan

Di Pantai Pulau Merah jelas yang utama adalah bermain selancar namun bagi orang lokal atau wisatawan domestik, pantai ini kerap menjadi tujuan rekreasi keluarga. Di beberapa tempat sudut bukitnya sering pula terlihat peminat olahraga paralayang beraksi. 

Apabila Anda berminat bermain selancar maka dapat menyewa papanya seharian penuh dengan ongkos Rp25.000,- hingga Rp50.000,-.

Bermain air dan pasir bersama kawan atau keluarga akan cukup menggembirakan Anda. Anda dpaat pula bermain bola, voli, atau cukup berjalan-jalan menyusuri pantai.

Bersantai sembari membaca buku di pantai ini pun cukup menyenangkan. Anda dapat menyewa kursi empuk untuk merebahkan tubuh lalu membiarkan mata terlelap disapu angin sepoi yang sejuk dan suara musik koleksi favorit di handphone.

Berkeliling

Saat Anda berkeliling sekitar Pantai Pulau Merah maka dapat mengarahkan tujuan ke Pura Tawang Alun. Pura umat Hindu ini telah lama berdiri sejak 1980 dan sering dikunjungi umat Hindu dari Bromo dan Bali. Saat tsunami terjadi tahun 1994, pura ini terkena dampaknya sehingga tembok luar pura hancur namun bagian dalam pura (palinggih padmasana) tidak mengalami kerusakan berarti. Saat itu ombak raksasa setinggi 13 meter menyapu rumah-rumah warga beserta bangunan lainnya di kawasan termasuk pura ini.

Apabila Anda sering kali melihat warga sekitar berjalan atau berkendara dengan mengenakan pakaian khusus berwarna hijau terang maka mereka itu adalah pekerja tambang emas. Sebuah perusahaan tambang mengelola sumber daya di sekitar pantai ini. Warga sekitar lebih banyak tidak menerima beroperasinya pertambangan di wilayah ini karena dianggap limbahnya mengotori laut.

Akomodasi

Bagi Anda yang ingin menghabiskan waktu lebih lama di Pantai Pulau Merah maka dapat memanfaatkan jasa penginapan warga di sekitar sini. Tarif sewa per malamnya rata-rata Rp100.000,-. Pilihan lain Anda dapat memilih hotel di Banyuwangi di antaranya adalah berikut ini.

Manyar Hotel 

Jalan Gatoto Subroto 110

0333-510172

Kalibaru Cottege

Jalan Raya Jember, Kalibaru

0333-8973333

Watu Dodol

Jalan Raya Situbondo Km 14

0333-510048

Ketapang Indah

Jalan Gatot Subroto

0333-422280

Berlian Abadi

Jalan Yos Sudarso 165

0333-427688

Ikhtiar Surya

Jalan Gajah Mada 9

0333-421063

Ijen Resort and Villas

Jalan Randu Agung

0333-429000

Agung Jaya Mahkota

Jalan Raya Jember 55

0333-845346

Margo Utomo Argo Resort

Jalan Lapangan 10, Kalibaru

0333-897700

Margo Utomo Hill View

Jalan Raya Putri Gunung 3, Kalibaru

0333-897420

Surya

Jalan Yos Sudarso 2, Jajag

0333-396126

Kumala

Jalan Ahmad Yani 21

0333-423287

Blambangan

Jalan Dr. Wahid Sudirohusodo

0333-421598

Tanjung Sari

Jalan Mawar 8-10

0333-421786

Mahkota Plengkung 

Jalan Yos Sudarso

0333-416586

Kuliner

DI sekitar arah masuk pantai ini ada banyak penjual makanan yang dijajakan warga sekitar. Itu karena memang Pantai Pulau merah berada dekat dengan pemukiman warga namun demikian kebersihan di sekitarnya cukup terjaga dengan baik.

Tentu saja piihan kuliner akan lebih banyak Anda temukan di Banyuwangi. Rujak Soto adalah kuliner khas Banyuwangi yang paling terkenal. Alternatif sajian khas daerah ini yang bisa Anda cicipi adlaah pecel rawon, pecel kare, dan rujak bakso. Temukan makanan bercita rasa khas Jawa Timur tersebut di tempat-tempat berikut.

Melaties

Jalan Raya Situbondo KM 12

033-510042

Pondok Wina

Jalan Basuki Rakhmad 

0333-412344

Wina Mac Joe

Jalan Basuki Rakhmad

0333-424824

Mitra

Jalan Japten Piere Tandean 21

0333-421151

Bik Atik

Jalan Ahmad Yani 83

0333-423165

Mahkota Plengkung

Jalan Yos Sudarso

0333-658641

Sariwangi

Jalan Basuki Rachmad 130

0816593454

Nikmat

Jalan Basuki Rachmad 59

0333-424650

Rumah Makan Bajak Laut

Jalan Ahmad Yani 65

0333-420099

Lesehan Gajah Mada

Jalan Gajah Mada-Mojopanggung

0333-413648

Depot Glenmore

Jalan Raya Jember, Glen,ore

0333-821281

Rumah Makan Bu Jamilah

Jalan Wahid Hasyim 4, Genteng

0333-845209

Transportasi

Pantai Pulau Merah yang termasuk bagian dari rangkaian pantai di selatan Jawa Timur bisa ditempuh dalam waktu tiga jam menggunakan kendaraan roda empat atau sepeda motor dari Kota Banyuwangi atau sekira 60 km. Lokasinya berada dekat dengan pemukiman penduduk di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Akses jalan ke tempat ini terbilang mulus sehingga menjadikannya tujuan wisata warga Banyuwangi. Manfaatkan jasa kendaraan sewaan dari Bandara  Belimbingsari untuk memudahkan perjalanan Anda karena memang tidak banyak kendaraan umum ke arah pantai ini.

Apabila Anda memanfaatkan angkutan umum dari Banyuwangi bisa menggunakan ada bisminto atau Ujang Jaya jurusan Pesanggaran. Berikutnya turun di Pasar Pesanggaran dan lanjutkan dengan ojek ke Pulau Merah. Dari arah Jember, Anda dapat turun di Terminal Jajag kemudian ganti naik bus ke Pesanggaran. 

Tips

Dalam setahun, Mei hingga Desember adalah waktu terbaik untuk menikmati keindahan Pantai Pulau Merah. Saat itu pun cuaca terbilang ideal untuk berselancar. Meski Anda tidak bisa berselancar maka menyaksikan para surfer beraksi sudah cukup menghibur. Antara Januari hingga April kondisi ombak belum ideal kegiatan surfing namun keindahan pantai ini sudah lebih dari cukup untuk memuaskan rasa haus akan pantai indah.

Anda dapat menyewa papan selancar bila sudah meneguhkan diri ingin mencoba atraksi menunggang ombak. Akan tetapi bila belum cukup berani dapat menikmati senja yang memawan dengan langit merah turun melalui sederetan bukit di sebelah barat pantai.

Tana Toa Kajang: Pewaris Bumi Penjaga Hutan Bulukumba

Suku Kajang hidup dengan cara tradisi ketat, dimana saat Anda menyambangi desa ini maka tidak akan menemukan satu rumah pun yang berdinding tembok. Di dalam setiap rumah tidak ada perabotan rumah tangga. Tidak ada kursi ataupun kasur. Mereka juga tidak menggunakan peralatan elektronik. Mereka menganggap, modernitas dapat menjauhkan suku Kajang dengan alam dan para leluhur.

Inilah salah satu suku yang berhasil mempertahankan tradisinya dengan baik di Pulau Sulawesi. Mendiami salah satu desa di pedalaman Kabupaten Bulukumba, di Provinsi Sulawesi Selatan, suku Kajang adalah daya tarik yang sulit dilewatkan saat Anda menyambangi “Bumi Pembuat Pinisi” (baca; Bulukumba).

Suku Kajang mendiami wilayah Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasinya sekira 200 km arah timur kota Makassar dan 56 km dari pusat Kota Bulukumba. Luasan wilayah Desa Tana Toa sekira 331,17 hektar dan terbagi menjadi dua, yaitu suku Kajang luar dan Kajang dalam. Masyarakat Kajang luar, tersebar dan menetap di tujuh dusun. Sementara masyarakat Kajang dalam tinggal  di satu dusun yaitu Benteng. Di dusun Benteng inilah, masyarakat Kajang secara keseluruhan melakukan segala ritual dan aktivitas yang  berkaitan dengan adat istiadat. Meski suku ini terbagi kedalam dua kelompok, akan tetapi tidak ada perbedaan diantara mereka. Semuanya berpegang teguh terhadap ajaran leluhur.

Dinamai Tana Toa, karena desa tua ini dihuni sekumpulan warga adat Kajang yang percaya bahwa tanah mereka merupakan daerah tertua dan pertama kali diciptakan Tuhan di muka Bumi sehingga mereka patut menjaganya sebagai tanah warisan leluhur. Masyarakat Tana Toa percaya bahwa Bumi ini adalah warisan nenek moyang yang berkualitas dan seimbang. Oleh karena itu, anak cucunya harus mendapatkan warisan tersebut dengan kualitas yang sama persis. Saat ini diperkirakan luasan hutan adat mereka sekira 317,4 hektar.

Masyarakat adat Kajang Bulukumba memegang teguh ajaran leluhur yang mereka sebut pasang ri kajang atau berarti pesan di kajang. Ajaran pasang itulah yang dinilai ampuh melestarikan hutan mereka dari kerusakan. Pemimpin adat mereka yang disebut ammatoa akan memimpin warganya melindungi hutan yang mereka bagi tiga, yaitu: hutan keramat (hutan karamaka), hutan perbatasan (hutan batasayya) serta hutan rakyat (hutan laura).

Setiap akhir tahun, masyarakat adat suku kajang melakukan ritual andingingi yang berarti mendinginkan alam. Ini merupakan salah satu bentuk kesyukuran mereka atas kemurahan alam dengan cara mendinginkannya. Waktu tersebut adalah saatnya alam untuk diistirahatkan setelah dikelolah dan dinikmati hasilnya selama satu tahun.

Masyarakat Tana Toa Kajang selalu mengenakan sarung hitam (lipa’ le’leng) yang dibuat dengan proses alamiah dan ditenun dari tangan-tangan terampil perempuan Kajang. Pakaian serba hitam tersebut bermakna kebersahajaan, kesederhanaan, kesamaan atau kesetaraan seluruh masyarakatnya. Pakaian hitam juga dimaksudkan agar mereka selalu ingat kematian atau dunia akhir. Makna kesetaraan tidak hanya dapat dilihat dari cara mereka berpakaian, akan tetapi juga dari bentuk bangunan rumah yang ada di kawasan ini. Semua bentuk, ukuran serta warnanya seragam, beratap rumbia serta berdinding papan. Kecuali rumah Ammatoa yang dindingnya menggunakan bambu dan di sekitarnya semua pemukiman Warga menghadap kearah kiblat. 

Kearifan lokal suku ini didapatkan dari alam sekitar. Masyarakat adat Kajang mempunyai struktur kelembagaan dimana semua individu yang mendapat posisi dalam struktur tersebut, melaksanakan dengan konsisten dan bertanggung jawab. Pemimpin mereka disebut Ammatoa. Ketika Ammatoa meninggal, maka pemimpin adat berikutnya akan dipilih setelah tiga tahun lamanya. Para calon Ammatoa dikumpulkan, seekor kerbau atau ayam yang sudah diberi mantra akan dilepas ke dalam hutan. Bila kerbau atau ayam tersebut memasuki sebuah rumah penduduk, maka pemilik rumah itulah yang akan menjadi Ammatowa seumur hidupnya.

Masyarakat Desa Tana toa, tidak pernah merasakan bangku pendidikan secara formal melainkan pelajaran terbaik mereka adalah dari alam sekitar. Oleh karena itu, sulit ditemukan warga di kawasan ini yang mampu berbahasa Indonesia. Dalam kesehariannya, masyarakat adat Kajang menggunakan bahasa Konjo. Dalam hal perkawinan, masyarakat Tana Toa harus kawin dengan sesama masyarakat kawasan tersebut. Jika tidak, dia harus meninggalkan kawasan adat.

Tips

Anda yang datang ke sini harus mengikuti aturan adat. Tidak boleh menggunakan kendaraan modern, hanya boleh menunggangi kuda atau berjalan kaki. Anda pun harus mengikuti khas kain adat hitam.

Perhatikan bahwa bagi suku Kajang, hutan adalah warisan leluhur yang amat mereka jaga sehingga siapapun dilarang melakukan tindakan yang merusak. Apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan adat dengan merusak hutan maka akan dikenakan denda Rp1.200.000  di tambah sehelai kain putih serta mengembalikan barang yang telah diambil dari daerah tersebut.

Seorang Amatoa akan menentukan wilayah tebang hutan semisal untuk rumah atau kelengkapan bersama. Sebelum melakukan penebangan pohon, orang tersebut diwajibkan melakukan penanaman sebagai penggantinya. Ketika sudah tumbuh subur, penebangan baru akan dilakukan dengan menggunakan alat tradisional serta mengangkatnya secara gotong royong keluar dari areal hutan.

Suku Kajang terkenal dengan hukum adatnya yang sangat kental dan masih berlaku hingga sekarang. Terkait pencurian atau barang yang hilang, suku Kajang menerapkan dua ritual, yaitu: tunu panroli dan tunu passau. Tunu panroli yaitu mencari pelaku pencurian dengan cara setiap warga memegang linggis yang membara setelah dibakar. Masyarakat yang tidak bersalah, tidak akan merasakan panasnya linggis tersebut tetapi apabila sang pencuri melarikan diri maka dilakukanlah tunu passau yaitu ammatoa membakar kemenyan sambil membaca mantra yang dikirimkan kepada pelaku agar jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia secara tidak wajar.

Tana Toraja: Menyelami Budaya Khas Austronesia

Tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata paling popular di Provinsi Sulawesi Selatan. Di sini Anda menikmati kebudayaan khas Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dengan budaya khas Austronesia asli. Cicipilah nuansa lain kebudayaan yang unik dan berbeda, mulai dari rumah adat Tongkonan, upacara pemakaman Rambu Solo, Pekuburan Gua Londa, Pekuburan Batu Lemo, atau Pekuburan Bayi Kambira.

Menurut mitos yang  diceritakan dari generasi ke generasi, nenek moyang asli orang Toraja turun langsung dari surga dengan cara mengunakan tangga,di mana tangga ini berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (satu-satunya Tuhan).

NamaTorajapertama kalidiberikanolehsukuBugisSidenrengyangmenyebutpenduduk yang tinggal di daerah ini sebagai “Riaja” (orangyang mendiamidaerah pegunungan).SementararakyatLuwumenyebut mereka, “Riajang” (orang-orang yang mendiamidaerah barat). Versilainmengatakanbahwa Toraja dari kata’Toraya‘ (Tau: orang, dan raya atau maraya:besar), gabungan dua kata ini memberi arti “orang-orang hebat” atau “manusia mulia“. Berikutnya istilah yang lebih sering dipakai adalah sebutan Toraja, kata “tana” sendiri berarti daerah. Penduduk  dan wilayah Toraja pun akhirnya dikenal dengan Tana Toraja. 

Masyarakat Torajamenganut”aluk” atau adatyang merupakan kepercayaan, aturan, danritualtradisional ketat yang ditentukanolehnenek moyangnya. Meskipunsaat inimayoritas masyarakat Torajabanyak yang memeluk agamaProtestanatauKatoliktetapi tradisi-tradisileluhurdanupacararitual masih terusdipraktekkan.

Masyarakat Toraja membuat pemisahan yang jelas antara upacara dan ritual yang terkait dengan kehidupan dan kematian. Hal ini karena ritual-ritual tersebut berterkaitan dengan musim tanam dan panen. Masyarakat Toraja sendiri mengolah sawahnya dengan menanami padi jenis gogo yang tinggi batangnya. Di sepanjang jalan akan Anda temui padi dijemur dimana batangnya diikat dan ditumpuk ke atas. Padi dengan tangkainya tersebut disimpan di lumbung khusus yang dihiasi dengan tanduk kerbau pada bagian depan serta rahang kerbau di bagian sampingnya.

Tana Toraja memiliki dua jenis upacara adat yang populer yaitu Rambu Solo dan Rambu Tuka. Rambu Solo adalah upacara pemakaman, sedangkan Rambu Tuka adalah upacara  atas rumah adat yang baru direnovasi. 

Khusus Rambu Solo, masyarakat Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini maka arwah orang yang meninggal tersebut akan memberikan kemalangan kepada orang-orang yang ditinggalkanya. Orang yang meninggal hanya dianggap seperti orang sakit, karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup dengan menyediakan makanan, minuman, rokok, sirih, atau beragam sesajian lainnya. Upacara pemakaman Rambu Solokadalah rangkaian kegiatan yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun selama berbulan-bulan. Sementara menunggu upacara siap, tubuh orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur atau tongkonan.Puncak upacara Rambu Solok bisanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Saat itu orang Toraja yang merantau di seluruh Indonesia akan pulang kampung untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini. Kedatangan orang Toraja tersebut diikuti pula dengan kunjungan wisatawan manca negara.

Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo) ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya untuk sampai menuju nirwana. Bagi kalangan dari bangsawan yang meninggal maka mereka memotong kerbau yang jumlahnya 24 hingga 100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong). Satu di antaranya bahkan kerbau belang yang terkenal mahal harganya.Upacara pemotongan ini merupakan salah satu atraksi yang khas Tana Toraja dengan menebas leher kerbau menggunakan sebilah parang dalam sekali ayunan lalu kerbau pun langsung terkapar.

Masyarakat Toraja hidup dalam komunitas kecil dimana anak-anak yang sudah menikah meninggalkan orang tua mereka dan memulai hidup baru di tempat lain. Meski anak mengikuti garis keturunan ayah dan ibunya tetapi mereka semua merupakan satu keluarga besar yang tinggal di satu rumah leluhur (tongkonan). Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonansangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja. Oleh karena itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur.

Tanah Toraja sendiri kini terbagi dalam dua wilayah Kabupaten, yaitu Tana Toraja dengan ibu kota Makale dan Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao. Berikut ini beberapa objek menarik yang dapat memberi Anda kesan saat berkunjung ke Tana Toraja.

Tongkonan Pallawa, berada sekitar 12 Km ke arah utara dari Rantepau. Tongkonan adalah sebuah rumah besar dengan atap berbentuk pelana menyerupai tanduk kerbau yang mengarah ke depan. Bentuk rumah ini berbeda dengan rumah Minangkabaudi Sumatra Barat yang memiliki atap berbentuk pelana dan unjungnya yang memanjang. Atap Tongkonan terbuat dari daun kelapa sedangkan sisi rumah dihiasi ukiran. Pada bagian depan biasanya terdapat sejumlah tanduk kerbau. Ada nuansa unik rumah Tongkonan yang luar biasa sekaligus bersahaja, perhatikan tumbuhan hijau yang ada di atas atapnya justru memperindah tampilan rumah khas ini. Tongkonan akan terus dibangun dan didekorasi ulang bukan karena alasan perbaikan, tetapi lebih untuk menjaga gengsi dan pengaruh dari kaum bangsawan yang berkuasa di daerah tersebut. Pembangunan kembali rumah tongkonan tentu saja akan disertai dengan upacara rumit yang melibatkan seluruh warga dan tidak jauh berbeda dengan upacara pemakaman. Saat itu para kerabat membawa babi dan kerbau yang merupakan salah satu persyaratan dalam membangun sebuah menara. Tongkonan mirip dengan yang digunakan untuk pemakaman, bedanya adalah adanya pilar bambu yang mengarah ke langit, sedangkan untuk pemakaman pilarnya ditanam di tanah.

Ke’te Kesu, terletak sekitar 4 km dari tenggara Rantepau. Sebuah tempat yang begitu memesona berupa rumah leluhur atau tongkonan, lumbung padi, dan bangunan megalith di sekitarnya. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-taudalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Tulang-belulang tampak mendominasi pemandangan juga puntung rokok tampak berjejal-jejal di sekitar tulang belulang tersebut.

Pekuburan Batu Lemo, tempat ini dianggap masyarakat Tana Toraja sebagai rumah para arwah. Di sini Anda dapat melihat mayat yang disimpan di tengah bebatuan yang curam. Ada puluhan makam unik yang berjejer di dinding batu  dilengkapi patung berupa manusia lengkap dengan diberi pakaian layaknya manusia yang masih hidup. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan melalui upacara Ma Nene. 

Pekuburan Gua Londa, berada sekitar 5 km ke arah selatan dari Rantepau. Merupakan bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Anda dapat melihatnya di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dan peti-peti mayat tersebut diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. 

Batu Tumonga, di sini Anda dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengahnya. Batu menhir ini memiliki ketinggian sekitar 2-3 meter. Dari sini Anda pun dapat melihat keindahan Rantepau dan lembah sekitarnya karena berada di daerah Sensean dengan ketinggai 1300 mdpl.

Alat musik tradisional Toraja,adalah suling bambu yang disebut Pa’suling. Suling berlubang enam ini dimainkan dalam tarian Ma’bondensan. Alat ini dimainkan bersama sekelompok pria yang menari bertelanjang dada dan berkuku jari panjang. Alat musik lainnya yang digunakaan adalah Pa’pelleyang dibuat dari daun palem dan dimainkan saat panen dan upacara pembukaan rumah.

Tarian Toraja, dapat Anda lihat biasanya saat upacara penguburan. Tarian ini untuk menunjukkan rasa duka cita sekaligus menghormati dan menyemangati arwah. Sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang malam untuk menghormati almarhum (Ma’badong). Kemudian di hari kedua pemakaman, tarian prajurit Ma’randingditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa hidupnya. Anda akan melihat beberapa pria menari dengan pedang, prisai besar dari kulit kerbau, helm tanduk kerbau, dan berbagai hiasan ornamen lainnya. Tarian Ma’randing mengawali prosesi ketika jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman. Selama upacara, para perempuan dewasa melakukan tarian Ma’katia sambil bernyanyi dan mengenakan kostum baju berbulu. Tarian Ma’akatia bertujuan untuk mengingatkan orang pada kemurahan hati dan kesetiaan yang meninggal. Setelah penyembelihan kerbau dan babi, ada tarian dimana sekelompok anak lelaki dan perempuan bertepuk tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma’dondan. Ada juga tarian Ma’bugiyang dilakukan untuk merayakan Pengucapan Syukur dan tarian Ma’gandangiyang ditampilkan saat menumbuk beras. Tarian Manimbongdilakukan pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma’dandanoleh wanita. Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian yang disebut Ma’buahanya bisa dilakukan 12 tahun sekali yaitu saat pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci.

Suvenir Toraja: Merawat Seni Budaya yang Diwariskan Nenek Moyang

Dahulu sebelum mengenal tulisan, nenek moyang merawat falsafah hidup dan poros kepercayaan mereka lewat simbol-simbol yang diukir pada banyak medium. Apa yang akan Anda lihat di Toraja akan demikian adanya, sama dengan budaya tua lainnya di berbagai titik seperti Minahasa, Flores, maupun Lombok. Mereka menata nilai-nilai tidak pada serentet tulisan tentang undang-undang ataupun tata krama, melainkan menggambar pada arsitek bangunan, peti mati, kain, batu, dinding-dinding gua dan masih banyak lagi. 

Manusia yang sudah terbiasa mencatat apapun dengan huruf kapital akan melihat ini sebagai sesuatu yang membutuhkan banyak energi dan kompleksatau bahkan di luar akal sehat. Oleh karenanya, ide-ide tentang simbol tersebut digambarkan kembali lewat barang-barang yang bermafaat seperti suvenir. Agar kelak, semangat hidup dan seni budaya yang diregenerasikan nenek moyang tidak pernah hati.

Wisatawan yang melihat langsung Tongkonan Toraja biasanya akan terkagum-kagum pada tiga hal,yaitu:arsitektur, cerita di balik aksesoris rumah, dan bagaimana rumah-rumah itu diukir sedemikian rumit. Saat Anda berkunjung ke Toraja, perhatikan bahwa motif-motif yang tertata rapi pada material rumah dikemas kembali pada suvenir-suvenir tertentu. Motif umumnya membentuk garis geometris yang berulang-ulang, sebagian lagi disimbolkan melalui hewan dan kebesaran tata surya. Ini membuktikan bahwa orang Toraja pernah menjadi bagian dari penganut animisme.

Ada kurang lebih 130 motif dan simbol yang dimiliki tapi yang kerap digambarkan tidak sebanyak itu. Pa’ barre allo merupakan simbol yang paling sering Anda lihat. Ini adalah perlambang Matahari terbit, bentuknya menyerupai Matahari dilengkapi garis-garis yang menyimbolkan pancaran cahaya. Matahari diartikan sebagai kemuliaan dan sumber kehidupan manusia. Kemudian, simbol dominan yang kedua adalah pa’manuk londong atau ayam jantan. Makna sosiologis ayam jantan tidak hanya satu, bisa berupa pemimpin yang arif dan bijaksana, keadilan serta keberanian.

Kerbau, hewan yang dimuliakan oleh sistem kekerabatan di Toraja juga kerap diukirkan, pa’tedong namanya. Bagi orang Toraja, kerbau adalah hewan yang paling tinggi nilai dan statusnya sehingga hewan ini dijadikan indikator kekayaan seseorang. 

Di samping itu, selain Matahari, orang Toraja juga senang menggambarkan pa’doti langi’ atau bintang yang bersinar di atas langit sebagai perlambang kepintaran.

Lain lagi dengan motif pa’barana’ yang berupa ukiran menyerupai ranting dan daun beringin. Seperti halnya sifat pohon berkanopi besar tersebut, beringin dipandang orang Toraja sebagai sesuatu yang menyejukkan dan memberi keamanan. 

Sementara itu, motif pa’tedong tumuru yang menyerupai tandung kerbau melingkar juga sering digunakan. Tumuru artinya berjalan tanpa menghiraukan keadaan sekeliling.

Sejumlah toko suvenir di banyak titik di Toraja akan memperlihatkan keindahan suvenir berukir motif-motif di atas. Tanpa mengurangi nilai sakral, pembuatannya tetap mengikuti pakem-pakem bentuk motif dan ilustrasi yang telah diwariskan nenek moyang. Tidak ada perubahan bentuk atau kreasi yang terlalu berlebihan. Hanya saja, ukurannya diperkecil mengikuti material yang akan ditatahkan. 

Seorang perajin di Desa Kete Kesu telah meghasilkan banyak karya, mulai dari hiasan dinding, tatakan gelas, kotak tisu, tempat pensil dan gantungan kunci. Hal yang paling menarik di sini adalah konsistensi pewarnaan yang masih menggunakan cara lama, sesuai dengan nilai estetika yang dipertahankan pada rumah-rumah Tongkonan. Lupakan cat-cat kimia dengan warna-warna mencolok karena Tongkonan masih diwarnai dengan pewarna alami, begitupun suvenir-suvenir ini.  

Pada dasarnya, ukiran di Tongkonan hanya terdiri dari empat warna premier yaitu hitam, putih, cokelat agak jingga, dan kuning. Hitam dihasilkan dari warna arang, cokelat agak jingga diekstrak dari warna tanah liat, sementara kuning juga diambil dari tanah liat namun dengan campuran air yang lebih banyak.

Dengan demikian, ketika membeli suvenir-suvenir yang mengemas dengan apik budaya suku Toraja, berarti Anda telah mengagumi budaya setempat dan memberi semangat kepada perajin untuk terus merawat nilai-nilai luhur yang diregerenasikan nenek moyang.