Home Blog Page 3

Kopi Bajawa: Citarasa yang Kuat dari Ngada

Diantara beragam rasa kopi yang terkemuka di Indonesia, kopi dari Pulau Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki aroma dan rasa yang berbeda. Pecinta kopi mengatakan bahwa kopi Flores memiliki aroma manis, kayu dan bunga-bunga. Karakter ini disebabkan profil geologi dari Flores yang memiliki banyak gunung api. Bahan vulkanik yang dikeluarkan membuat tanah menjadi subur. Oleh karena itu, sangat ideal untuk menaman kopi organik. Tanah di sekitar Bajawa memang begitu subur dan hangat cocok untuk tanaman kopi.

Kopi khas dari Flores salah satu yang terbaik adalah dari Bajawa. Bahkan, nama Bajawa bisa jadi lebih tersohor berkat kontribusi kopinya. Popularitas kopi bajawa sebagai minuman paling nikmat diakui penduduk setempat dan juga wisatawan yang berkunjung Flores.

Bajawa sendiri merupakan ibu kota Kabupaten Ngada. Kata bajawa berasal dari bha yang artinya ’lembah’ dan jawa yang artinya ’sejahtera’. Bhajawa memang dimaknai sebagai lembah kesejahteraan karena tanah subur yang berada di lembah serta diapit gunung dan bukit.

Kopi yang ditanam di wilayah pegunungan antara kota Ruteng ke Bajawa adalah kopi jenis arabika. Di sana Anda akan melewati tanaman kopi yang ditanam di hampir semua kebun dan setelah panen Anda akan melihat biji kopi kering tersebar di bawah sinar Matahari, bahkan penjemuran kopi tersebut mengambil setengah pinggir jalan. Panen biasanya berlangsung antara Mei hingga Juli. Disini kopi diproses sesuai dengan standar produksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kopi bajawa arabika dari Flores telah menerima penghargaan pada 2009 dalam “Kontes Kopi Spesial Indonesia” yang diselenggarakan Asosiasi Industri dan Eksportir Kopi Indonesia. Kontes tersebut mengakui rasa kopi bajawa adalah yang paling unik diantara berbagai kopi Indonesia, dimana dianggap memiliki rasa madu yang manis.

Dalam indikasi geografis, kopi bajawa bernama Arabica Flores Bajawa (AFB). Keunggulan kopi bajawa adalah mudah tumbuh, cepat berproduksi, usia produksi sampai 20 tahun, kapasitas produksi 4-5 kg gelondong merah per pohon, dan digemari. Itulah sebabnya, kopi bajawa memiliki harga jual yang relatif tinggi dan stabil.

Pembeli di berbagai pameran di luar negeri juga terus memuji Kopi Flores karena proses pertanian berkelanjutan yang diikuti oleh petani di sini. Kopi ditanam dan tumbuh tanpa bahan kimia sejak penduduk setempat percaya dalam mengembangkan pertanian organik.

Selain Kopi Bajawa, Pulau Flores juga dikenal dengan kopi robusta manggarai yang didistribusikan ke hotel, restoran, kafe dan supermarket tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Amerika Serikat, Jerman, Belanda, negara-negara Eropa lainnya, dan Jepang.

Robusta Manggarai tumbuh di dataran tinggi Manggarai, di bagian barat Pulau Flores, khususnya di sekitar desa Wae Rebo. Kopi di tempat tersebut adalah sumber pendapatan utama bagi desa tersebut dan telah ditanam sejak masa Hindia Belanda.

Pantai Koka: Citra Keaslian Alam Sikka

Memperhatikan rumah-rumah di sepanjang jalan dari Maumere ke Paga akhirnya mengundang kesan bahwa masyarakat Flores, khususnya Sikka, seperti mengoleksi bongkahan batu yang disusun rapih menjadi taman batu di halaman rumah mereka. Inikah makna keaslian yang sengaja dinampakkan kepada orang yang jauh terbang menyinggahi pulau tua ini? Bila memang setua itu, seperti apakah rupa pantainya?

Meliuk-liuk sepanjang 42 kilometer dari Kota Maumere menuju arah barat di jalur Lintas Flores Selatan, sebuah kecamatan bernama Paga memberikan sedikit jeda dengan jalannya yang lurus dan lebih banyak ditanami pohon kelapa, jambu mete, ketapang, dan pohon lainnya yang hijau ketimbang susunan bebatuan. Namun kenyataannya, Paga masih terus memesona tamunya dengan sebuah pantai yang terkenal dari kabar burung yang berseliweran dari petualang ke petualang lain. Pantai Koka di Desa Wolowiro disebut-sebut sebagai tempat dimana alam memanjakan mata dan batin manusia.

Bila menggambarkan sebuah tempat nan indah yang masih perawan namun sempat disinggahi tamu Eropa khususnya dari Belanda di tahun 90-an maka Pantai Koka adalah ilustrasi terbaik. Perkebunan teh yang dibina pengusaha Belanda zaman dulu selalu memiliki pesona yang abadi dan pantainya memiliki pesona yang sama dengan warna alami yang bisa menenangkan jiwa ialah Pantai Koka.

Tak banyak orang mengenal apalagi mengunjungi pantai berpasir halus dan putih keemasan ini. Keindahannya seolah tersembunyi dari keramaian dunia. Beberapa nelayan biasanya berteduh di bawah pohon di antara dua pantai yang melengkung seperti tersenyum satu sama lain. Dua pantai ini sama indahnya dan sama keasliannya. Bisa dibayangkan, nikmatnya ikan bakar segar dari laut disantap di bawah rindangnya pohon yang menjadi payung kebersamaan.

Beberapa wanita dari kampung setempat nampak berjalan membawa berbagai barang di atas kepalanya seolah menampilkan atraksi akrobat gratis. Dalam bahasa daerah Sikka mereka bersapaan dan mereka pun berkemampuan memberikan senyuman paling ramah pada pengunjung pantai yang juga mencoba melempar senyum sapa. Semua ini akan ditemukan selama perjalanan kaki dari tepi jalan raya beraspal halus hingga ke bibir pantai yang jaraknya kira-kira 2 kilometer dan ditempuh selama 30 menit atau sedikit lebih lama karena jalan cadas berbatu.

Tak lama setelah itu, sebuah pantai di tepi kanan seolah memaksa kaki berlari meraih airnya yang jernih tak tergambarkan. Pantai ini tepat bagi mereka yang gemar menyusuri pasir halus dan bersih. Di sisi lain tak jauh dari pantai ini, sebuah bibir pantai lain tersungging menyambut pengunjung, tepat dijadikan gambaran khayalan yang menjadi kenyataan. Dua bukit batu membatasi ujung bibir pantai satu dengan yang lainnya. Airnya yang biru bening seolah tatapan mata yang menyambut hangat, persis sehangat airnya saat kelelahan diserahkan seutuhnya pada keramahan alam mengobati kepanatan ragawi.

Tak salah seorang pendeta bernama Theodorus Yoseph Visser SVD membina jalan sejauh 2 kilometer dari Wolowiro ke Pantai Koka sehingga kini akhirnya menunggu waktu untuk diminati petualang merebahkan kekagumannya di atas pasir pantai yang halus bersih. Seorang berkebangsaan Belanda sempat tinggal di Watuneso, Lio Timur di Ende dan menyebarkan semerbak harum nama Pantai Koka di Eropa. Sejak itulah pantai ini menjadi primadona yang ternyata masih tak berubah keasliannya.

Tips

Tetap bawa minuman dan makanan yang cukup untuk dapat bertahan di kawasan pantai alami ini karena tidak ada satu pun fasiltas yang dibangun atau diadakan oleh pemerintah maupun masyarakatnya sendiri.

Desa Candirejo: Simbol Budaya dan Tradisi Jawa

Ketika Anda berkunjung ke Candi Borobudur, bukan keindahan Candi Borobudur saja yang bisa dinikmati, ternyata tidak jauh dari candi tersebut terdapat sebuah desa wisata yang sangat menarik dan patut untuk dikunjungi, desa tersebut adalah Desa Wisata Candirejo. Desa ini masih sangat setia mempertahankan keasliannya baik tradisi di dalamnya maupun lingkungan di sekitarnya. Bagi Anda yang terbiasa hidup di perkotaan dan mendamba suasana pedesaan maka cobalah datang dan tinggal di desa ini untuk beberapa hari, dijamin Anda tidak akan kecewa.

Desa Candirejo terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, sekira 3 km arah Timur Candi Borobudur. Desa ini berbatasan dengan Desa Pulutan di sebelah timur. Di sebelah utara dengan Desa Kesongo, Tuntang, dan Semarang. Di sebelah barat dengan Rawa Pening, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Jombor, Tuntang, dan Semarang.

Desa Candirejo merupakan desa kecil yang letaknya berdekatan dengan Candi Borobudur. Desa yang memiliki pemandangan indah, subur, dan warga yang ramah ini  dijadikan desa wisata lewat NRM-LCE Project (Natural Resources Management for Local Community Empowerment Project) melalui Yayasan PATRA-PALA, masyarakat setempat dan pemerintah daerah kabupaten Magelang. Saat itu dukungan dananya datang dari hibah Japan International Corporation Agency (IICA). Desa ini diresmikan menjadi desa wisata tahun 2003 dengan luas sekira 350 hektar, meliputi pemukiman seluas 100 hektar dan lahan pertanian sekira 250 hektar.

Desa Candirejo dapat dikatakan merupakan simbol dari budaya Jawa. Berbagai daya tarik dan kegiatan wisata dapat dilakukan di sini. Mulai dari wisata alam, kesenian, kerajinan, kuliner, jalan-jalan, budaya, sejarah dan minat khusus. Anda dapat menemukan banyak atraksi dan tradisi lokal di desa ini seperti Nyadran, Sedekah Bumi, kesenian lokal seperti jathilan, kubrosiswo dan industri rumah tangga berupa kerajinan bambu dan pandan. Di desa ini juga ada situs budaya antara lain Watu Kendil, Toyo Asin, Watu Tumbak, Tempuran Kali Progo, dan Pabelan.

Kata candirejo berasal dari kata candighra namun seiring waktu penyebutan berubah menjadi candirga; candirja dan akhirnya menjadi candirejo hingga saat ini. Arti kata candi sendiri berarti batu dan rejo berarti subur. Candirejo diartikan sebagai wilayah yang banyak batu-batu tetapi subur.

Berkunjung ke desa wisata ini akan memberikan pengalaman tersendiri bagi Anda. Temukan berbagai kegiatan dan pemandangan menarik di desa ini. Desa Candirejo sangat cocok bagi Anda pendamba kehangatan dan kedamain yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Di desa ini Anda bisa berinteraksi langsung dengan warganya dengan melakukan berbagai kegiatan keseharian. Jadi secara tidak langsung Anda mempelajari kebudayaan dan cara hidup di desa ini.

Berikut ini beberapa kegiatan dan hal menarik yang bisa Anda temui dan lakukan di Desa Candirejo.

Nyadran, Upacara adat yang dilakukan setahun sekali, pada bulan Ruwah (kalender Jawa), dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Upacara ini merupakan bentuk ucapan syukur yang dilaksanakan dalam bentuk doa. Biasanya upacara ini dilakukan di Gunung Mijil dan dipimpin seorang juru kunci Gunung Mijil. Upacara besar lainnya adalah Saparan dan Perti Desa (Bersih Desa/Sedekah Bumi). Upacara ini adalah wujud syukur atas panen yang telah berlalu, sekaligus permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar keselamatan senantiasa dilimpahkan dan hasil pertanian semakin meningkat.

Jathilan merupakan kesenian tradisonal yang berasal dari sejarah Desa Candirejo yang dijadikan sebagai persinggahan pengikut Pangeran Diponegoro saat kolonialisme Belanda tahun 1825. Tarian ini menggambarkan latihan perang pasukan berkuda Pangeran Diponegoro. Musik pengiring kesenian ini adalah karawitan. Tarian lainnya adalah Tari gatholoco atau wulangsunu yang dipentaskan secara berpasangan. Kesenian lain adalah kubrosiswo dan juga wayang kulit.

Kerajinan rumah tangga yang patut Anda coba dan kunjungi adalah kerajinan pandanberupa produk kerajinan tas, kuda jathilan kecil, dan produk lain yang telah diproduksi dalam jumlah terbatas dan dipasarkan di pasar desa, dan pasar cinderamata di Taman Candi Borobudur. Ada juga kerajinan bambu yang dijadikan perabot rumah tangga, peralatan dapur, pagar rumah dan penyangga. Masyarakat desa ini juga menjual berbagai kerajinan bambu ini kepada pengunjung yang datang.

Anda juga dapat berkeliling desa dengan naik andong atau berjalan kaki. Mencoba merasakan bertani, belajar membatik, memainkan musik gamelan, dan menyaksikan keindahan Matahari Terbit dari Bukit Manoreh, atau melihat Watu Kendil yaitu sebuah batu yang mirip kendil dan konon berasal dari letusan Gunung Merapi ratusan tahun silam.

Di sini ada juga Tuk Banyu asin yaitu sumber mata air yang airnya berasa asin padahal letaknya jauh dari laut. Ada juga Tempuran yaitu pertemuan tiga sungai yang membelah Desa Candirejo ini, yaitu Sungai Progo, Sungai Belan dan Sungai Sileng.

Untuk wisata sejarah Anda bisa mengunjungi situs-situs budaya yang ada di sekitaran desa ini seperti Watu Kendil, Toyo Asin, Watu Tumbak, Tempuran Kali Progo, dan Pabelan.

Desa wisata Candirejo menawarkan beberapa paket wisata seperti: tamasya keliling desa, wisata Bukit Menoreh, sistem pertanian desa, aktivitas sungai, pendidikan lingkungan, dan mempelajari kehidupan masyarakat setempat termasuk kesenian tradisionalnya.

Desa Candirejo dapat dicapai melalui Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Jarak Semarang ke Desa Candirejo sekira 90 km. Dari Bandar Udara Ahmad Yani Semarang berikutnya Anda dapat menggunakan taksi untuk mencapai Desa Candirejo. Apabila menggunakan bus maka tersedia rute Semarang-Magelang. Dari Magelang menuju Desa Candirejo dapat memakai jasa angkutan umum atau ojek.

Dari Solo ke Desa Candirejo berjarak sekira 100 km dan dapat menggunakan taksi yang berangkat dari Bandar Udara Adi Sumarmo Solo. Pilihan lain adalah menggunakan bus yang berangkat dari Terminal Tirtonadi ke Terminal Umbulharjo. Dari Terminal Umbulharjo, tersedia bus yang mengantar ke Terminal Borobudur. Berikutnya dari Terminal Borobudur tersedia angkutan umum, ojek, dan andong untuk menuju Desa Candirejo.

Dari Yogyakarta ke desa Candirejo berjarak sekira 40 km. Berikutnya manfaatkan taksi atau bus  dari Terminal Umbulharjo menuju Terminal Borobudur.

Tips

Desa Candirejo memang dirancang menjadi desa wisata dan pastinya memiliki akomodasi yang layak untuk ditinggali. Bagi Anda yang ingin menghabiskan waktu di desa ini untuk beberapa saat maka tidak perlu khawatir karena tersedia pondok penginapan yang diusahakan sendiri oleh masyarakat Desa Candirejo. Beberapa pondok penginapan yang ada di Desa Candirejo, yaitu: Alamanda (Bapak Utoyo), Amarilis (Bapak Agus Sutanto), Bunga Bakung (Bapak Suramidi), Bunga Matahari (Bapak Endro Suwarto), Cempak (Bapak Suhadi), Ceplok Piring (Handi Kuswanto), Edelweiss (Bapak Maduk Sasono), Kembang Setaman (Bapak Tatak Sariawan), Kenanga (Bapak Harjiyanto), Lavender (Bapak Murwanto), Lily Ibu Susana (Mawar Ibu Genduk Tusiarno) Melati (Bapak Alpandi), Nusa Indah (Bapak Tribianto), Rafflesia (Bapak Budi), Sakura (Bapak Sareh Heryanto), Seruni (Bapak Teguh), Soka (Bapak Darsono), Tapak Dara (Bapak Digdo Wijono), Wijaya Kusuma  (Bapak Sumidi).

Apabila Anda membutuhkan informasi terkait Desa Wisata Candirejo ini maka dapat menghubungi pihak berikut. Termasuk apabila mengharapkan pemesanan awal untuk penginapan.

Koperasi Desa Wisata Candirejo

Sangen, Candirejo, Borobudur, Magelang

Jawa Tengah 56553

Telp: +62 293 788608;  +62 8175414855 (Ian); +62 81328808520 (Tatag)

Anda bisa mendapatkan berbagai kerajinan yang terbuat dari daun pandan dan bambu di desa ini. Rupa-rupa kerajinan rumahan di desa ini antara lain: berbagai bentuk tas, hiasan dinding, tatakan gelas, lukisan bambu, perabot rumah tangga, berbagai macam asesoris, dan masih lagi sebagainya. Selain itu, Anda dapat melihat dan belajar langsung di tempat pembuatanya. Pilihan lain Anda juga bisa membeli oleh-oleh dan cendramata di Pasar Desa.

Untuk urusan kuliner, Anda tidak perlu kawatir, Karena di Desa Candireja Anda akan dimanjakan dengan makanan tradisional atau makanan khas Jawa. Pengelola pondok penginapan tempat Anda tinggal akan dengan senang hati menyediakan makanan tradisional tersebut seperti gudeg yang terbuat dari nangka muda dengan bumbu tradisional dipadankan dengan telur, ayam, dan kerupuk kulit sapi. Ada juga sega pecel yang terbuat dari bermacam-macam sayuran dengan siraman kuah kacang kental sebagai bumbu utama dan sate kikil terbuat dari kulit sapi. Cicipi juga lumpia, tahu gimbal dan babat gongso.

Tenun Ikat Sumba: Selembar Karya Penuh Makna

Tenun ikat Sumba begitu kaya motif menyimbolkan ragam makna dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Selembar kain tenun Sumba penuh makna terkait relasi masyarakat dengan kehidupan mereka saat kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Itulah sebab mengapa banyak peminat kain tenun tradisional mancanegara mengagumi keindahan kain Sumba. Kain Sumba mulai menarik perhatian masyarakat Eropa sejak akhir abad ke-19 karena memiliki ragam hias dengan desain tegas, kaya warna, dan mudah dikenali.

Karya seni kriya khas Nusantara dari Pulau Sumba tidak sekadar indah namun sarat makna. Itu karena selembar kainnya tercipta lewat proses panjang dan diikat budaya leluhur yang di-dewa-kan menurut aturan adat dan kepercayaan ‘Marapu’ orang Sumba. Tenun ikat Sumba sendiri merupakan warisan budaya turun-temurun antargenerasi. Anda dapat menjumpainya langsung di masyarakat adat Sumba dimana menggambarkan status dan kelas sosial seseorang dalam simbol kuda, ayam, gong, dan lainnya.

Masyarakat Sumba awalnya mencipta tenun ikat sebagai satu perlengkapan penting dalam acara adat istiadat, seperti pernikahan ataupun upacara penobatan raja. Kini selain dikenakan dalam kehidupan sehari-hari, kain tenun ikat Sumba juga menjadi bagian dalam berbagai upacara adat seperti pemakaman adat merapu untuk membungkus jenazah. Bagi bangsawan, kain yang dibutuhkan sekitar 100 lembar, sedangkan untuk warga biasa, kain yang dibutuhkan 10-15 lembar.

Proses pembuatan kain Sumba memakan waktu cukup lama, tergantung kerumitan motifnya. Harga kain Sumba juga dibedakan menurut jenis pewarna yang digunakan. Untuk kain Sumba yang menggunakan pewarna sintetis, dikerjakan selama 5-6 bulan, harganya Rp 500.000-Rp 1 juta. Sementara kain Sumba yang menggunakan pewarna alami, dikerjakan selama 8 bulan-2 tahun, harganya jauh lebih mahal dari kain Sumba dengan pewarna sintetis. Salah satu kain Sumba yang memiliki tingkat kesulitan tinggi adalah kain Sumba yang motifnya mirip kain patola dari India.

Proses pembuatan kain Sumba melalui beberapa tahapan, yaitu pembuatan corak, pewarnaan, kemudian menenun. Umumnya, bahan pewarna alami diperolah dari tumbuhan yang ada di Sumba. Pewarnaan dilakukan rata-rata 3-4 kali dan maksimal 6 kali. Zat pewarna biru (kawaru) dibuat dari daun woru atau nila atau tarum (Indigo tinctoria). Adapun zat pewarna merah diperoleh dari akar kombu atau pohon mengkudu (Morinda citrifolia). Zat pewarna hitam diperoleh dari penggunaan lumpur.

Corak warna dan motif Tenun ikat berbeda-beda di setiap suku-suku di pulau Sumba yang dibuat dengan cara tenun manual. Umumnya corak kain Sumba dikelompokkan dalam tiga bagian, yakni: figuratif yang merupakan representasi dari bentuk manusia dan binatang, skematis yang menyerupai rangkaian bagan, cenderung geometris, serta bentuk corak pengaruh luar asing seperti salib, corak patola (India), dan naga (China).

Alat tenun tradisional untuk mencipta sehelai tenun ikat sumba terbuat dari kayu dan bambu. Beberapa bagian alat tersebut memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Berikut rinciannya.

  • B’edo untuk penahan tulang belakang yang mengencangkan tenunan,
  • Beibmaba untuk mengatur kelonggaran kain,
  • Klooro b’endo untuk menghubungkan antara b’edo dan beibmaba,
  • Kwehek untuk untuk menahan kain yang telah di tenun,
  • Hab’elung untuk menggulung benang yang dimasukan dalam kain lalu dirapikan oleh malira,
  • Wunongo untuk membuat motif dalam kain,
  • Ombol untuk mengisi benang yang di tenun,
  • Rad’a untuk gandengan ombol sebagai penahan,
  • Talanda untuk tumpuan kaki,
  • B’eijongu untuk penahan,
  • Gloglabba untuk memintal, dan
  • Nokko untuk menekan kain.

Membuat kain tenun ikat awalnya merupakan kebiasaan wanita Sumba sejak ratusan tahun lalu. Orang Sumba saat melamar seorang pengantin wanita maka dari pihak laki-laki membawa kuda, sementara pihak wanita itu menyiapkan kain. Hingga kini, wanita Sumba membuat kerajinan ini untuk dipakai sendiri ataupun dijual ke orang lain. Tenun ikat juga telah menjadi bahan untuk aneka kerajinan, seperti tas, selendang, serta baju.

Karena manfaat ekonomi dari kain Sumba yang semakin menguat. Pembuatan kain Sumba tidak sekadar menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Sumba tetapi telah menjadi sumber ekonomi bagi masyarakatnya. Oleh karena itu, sekarang banyak pula kaum lelaki yang terlibat dalam pembuatan kain Sumba.

Saat ini, tenun khas Sumba juga telah di daftarkan UNESCO sebagai kekayaan Indonesia. Banyak kain Sumba menjadi koleksi sejumlah museum dan kolektor di luar negeri. Salah satunya di Museum Basel, Swiss yang memiliki koleksi 5.000 lembar kain tradisional Indonesia dan 2.000 di antaranya merupakan kain Sumba. Kain tenun Sumba, juga banyak dimiliki sejumlah kolektor dan museum di Belanda, Australia, hingga Amerika Serikat.

Di Pulau Sumba, sentra kain tenun ikat Sumba dapat dijumpai di sejumlah pesisir utara dan timur laut, seperti di Kanatang, Kambera, Rindi, Umalulu, dan Mangili. Sementara di Sumba Barat, terdapat di Kodi, yang tepatnya berada di Sumba bagian barat daya.

Solo Surakarta: Menjejak Sejarah Budaya Jawa Kuno

Inilah kota yang penuh nuansa sejarah dan budaya, diwarisi tradisi Jawa yang dibanggakan warganya. Sebuah tempat yang akan membuat Anda terkesima dengan beragam atraksi warisan budaya Jawa kuno. Paling tidak beberapa hari perlu disisihkan untuk menikmati semua sajian wisata yang mengagumkan. Dari menjelajahi kota sambil melihat keraton, mengunjungi pasar tadisional, berbelanja batik dan kerajinan yang berkualitas, melihat atraksi tarian yang anggun, wayang kulit, kuliner yang lezat, dan tentunya merasakan keramahan orang-orangnya.

Bila Anda menyandingkan Solo dengan Yogyakarta maka tampak seolah adanya “emulasi” dan “kontes” kultural antara Surakarta dan Yogyakarta. Tidaklah mengherankan kemudian melahirkan apa yang dikenal sebagai “gaya Surakarta” dan “gaya Yogyakarta” baik itu dalam busana, tarian, wayang, pengolahan batik, gamelan, dan bentuk budaya lainnya.

Kota Solo atau disebut juga Surakarta adalah kota kuno yang dibangun Paku Buwana II. Riwayat kota ini tidak bisa lepas dari sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang merupakan penerus Kerajaan Mataram Islam. Surakarta dikenal sebagai salah satu pusat dan inti dari kebudayaan Jawa kuno karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 telah mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, makanan, pakaian, arsitektur, dan beragam hasil budaya indah lainnya. 

Masyarakat Solo pandai memelihara budaya lokalnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila bahasa Jawa dari Solo digunakan sebagai standar bahasa Jawa nasional. Tarian daerah Bedhaya dan Srimpi masih dilestarikan di Keraton Solo. Batik terkenal yang berasal dari Solo yaitu Batik Keris dan Batik Danarhadi. Penduduk Solo memang bangga dengan batik, bahkan label kota Solo selain ‘Solo, The Spirit of Java‘ juga dikenal julukan “The City of Batik”. Biasanya wisatawan yang berlibur ke Jogja juga akan singgah di Solo, atau sebaliknya.

Solo dikenal sebagai kota yang tidak pernah tidur, selalu ada sesuatu yang menarik dapat Anda temukan di Solo. Dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang biasa didatangi oleh wisatawan dari kota-kota besar. Selain menyungguhkan pemandangan kota dan kraton Kasunanan, Solo juga menawarkan wisata alam di sekitarnya, antara lain Tawangmangu di timur kota Solo dan kawasan wisata Selo di barat kota Solo. Di Solo juga terdapat sebuah museum batik yang terlengkap di Indonesia yaitu House of Danar Hadi

Di kota Solo Anda dapat mengunjungi 2 keraton Jawa, yaitu Sunan Surakarta dan Pangeran Mangkunegaraan. Berkelilinglah di kota tua ini dengan naik kereta kuda (andong) atau becak sambil melihat bangunan tua dan labirin di sepanjang dinding istana yang bercat putih.

Keraton Kasunanan Surakarta memiliki luas sekitar 500 x 700 meter yang dikelilingi oleh dinding pertahanan (benteng) yang disebutBaluarti. Dinding tersebut mengelilingi keraton setinggi 3 – 5 meter, tebalnya sekitar 1 meter, dengan bentuk persegi panjang. Karaton Kasunanan atau disebut Keraton Surakarta Hadiningratdibangun tahun 1745 oleh Raja Paku Buwono ke II. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa.Istana indah ini dirancang Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono Isekaligus juga menjadi arsitek Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. 

Keraton Surakarta dibangun secara bertahap tahun 1744-1745 dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dari awalnya. Pembangunan dan restorasi besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono Xyang bertahta  pada tahun 1893-1939. Kawasan keraton dilengkapi berbagai fasilitas bagi wisatawan, seperti pemandu wisata, peminjaman pakaian khas Jawa, brosur wisata, serta toilet. Untuk keperluan salat, wisatawan dapat memanfaatkan Masjid Agung Surakarta yang terletak tidak jauh di depan keraton.

Secara umum pembagian keraton meliputi di antaranya: Kompleks Alun-alun Lor di Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sitihinggil Lor di Utara, Kompleks Kamandungan Lor di Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedhaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Srimanganti Kidul di Selatan dan Kemandungan Kidul di Selatan, serta Kompleks Sitihinggil Kidul dan Alun-alun Kidul. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kemandungan Lor di Utara sampai Kemandungan Kidul di Selatan. Kedua kompleks Sitihinggil dan Alun-alun tidak dilingkungi tembok pertahanan ini.Di halaman istana didominasi sebuah menara bernama Panggung Sanggabuwono. Sebuah menara misterius berdiri sebagai tempat bertemunya Raja dengan Kanjeng Ratu Kidul,penguasa Laut Selatan. Tidak ada tempat lain di Indonesia dimana dapat Anda temukan sebuah monumen seperti ini yang terasa penuh martabat dankedamaiansebagai warisan kerajaan klasik Jawa.

Akomodasi

Ada berbagai macam pilihan akomodasi yang tersedia di Solo. Hotel bertaraf internasionalyang tersediadisini yiatu Novotel dan Ibis. Hotel Indah Palace adalah hotel bintang tiga yang terletak ditengah kota.

Berikut ini daftar hotel lainnya yang dapat Anda jadikan referensi.

BINTANG 4 **** 

  • HOTEL NOVOTEL : Jl. Slamet Riyadi No 272 Solo. Telp(0271)724666 Fax(0271)724666 
  • THE SUNAN HOTEL : Jl. Ahmad Yani No 40 Solo. Telp(0271)731312 Fax(0271)738677 

BINTANG3 *** 

  • HOTEL RIYADI PALACE : Jl. Slamet Riyadi No 335 Solo. Telp(0271)713300 Fax(0271)721552 
  • HOTEL SOLO INN : Jl. Slamet Riyadi No 366, Solo. Telp(0271)716075 Fax(0271)716076 
  • HOTEL AGAS INTERNATIONAL : Jl.Dr. Muwardi No. 44 Solo. Telp (0271)714888 Fax(0271)720747 
  • HOTEL INDAH PALACE : Jl. Veteran No 284 Solo. Telp(0271)711011 Fax(0271)724368 
  • HOTEL DANA : Jl. Slamet Riyadi No 286 Solo. Telp (0271)7118989 Fax(0271)713880 
  • HOTEL GRAND SETIA KAWAN BARU : Jl.Ahmad Yani No 290 Solo. (0271)718989 Fax(0271)715243 
  • HOTEL ASIA : Jl. Monginsidi No 01 Solo. Telp(0271)661166 Fax(0271)646418 
  • HOTEL IBIS : Jl. Slamet Riyadi No 272 Solo. Telp(0271)724555 Fax(0271)724666 

HOTEL BINTANG 2 ** 

  • HOTEL PRAMESTHI : Jl. A. Yani 101 Kartasura, Solo. Telp(0271)782277 Fax(0271)784245 
  • HOTEL KUSUMA KARTIKA SARI : Jl. Ir. Sutami. No 63 Solo. Telp(0271)656861 Fax(0271)656862 
  • HOTEL DIAMOND : Jl. Slamet Riyadi No 392 Solo. Telp (0271)726232 Fax(0271)715343 
  • HOTEL GRAND ORCHID : Jl. Gajah Mada No 29 Solo. Telp(0271)731888 Fax(0271)712233 
  • HOTEL GRAND SOBA : Jl. Raya Langenharjo Dlopo Blok GE 30-31 Solo Baru, Sukoharjo. Telp(0271)626698 
  • HOTEL BINTANG : Jl. Ir. Sutami No 104 Solo. Telp(0271)648737 Fax(0271)646418 

HOTEL BINTANG1 * 

  • HOTEL SANASHTRI : Jl. Sutawijaya No.45 Solo. Telp(0271)718308 Fax(0271)715807 
  • HOTEL INDAH JAYA : Jl. Hasanudin No 116 -118 Solo. Telp(0271)717445 Fax(0271)715444 
  • HOTEL GRAHA INDAH BARU : Jl. Dr. Setiabudi NBo 39 Solo. Telp(0271)714755 
  • HOTEL WISATA INDAH : Jl. Slamet Riyadi No 173 Solo. Telp(0271)646770, 643753 
  • HOTEL KOMAJAYA KOMARATIH : Jl. Lawu Kav 150-151 Tawangmangu Telp.(0271)697125 Fax(0271)697205 

HOTEL MELATI 

  • HOTEL BARON INDAH : Jl. Dr. Rajiman No 374 Solo. (0271)729071 Fax(0271)732090 
  • HOTEL TRIHADI : Jl. Monginsidi No 97 Solo. Telp(0271)637557 
  • HOTEL ARINI : Jl. Slamet Riyadi No 361 Solo. Telp(0271)716525 
  • HOTEL MANDALA WISATA : Jl. Perintis Kemerdekaan No 12 Solo. Telp(0271)722467 Fax(0271)742006 
  • HOTEL GRIYA KENCANA : Jl. Latar Ireng No 22 Solo Telp(0271)722467 Fax(0271)742935 
  • HOTEL MAWAR INDRIA : Jl. Monginsidi No 125 Solo. Telp(0271)632810 Fax(0271)652389 
  • HOTEL SUKA MAREM : Jl. dr. Sutomo No 11 Solo. Telp(0271)714887 
  • DE SOLO BOUTIQUE HOTEL : Jl. Dr. Sutomo No 08 Solo. Telp(0271)714887 
  • HOTEL ATINA GRAHA : Jl. Bangka No 30 Solo. Telp(0271)654549 
  • HOTEL TIARA PUSPITA BARU: Jl. Dr. Rajiman No 404 Solo. Telp(0271)729805 
  • HOTEL PRASASTI : Jl. Letjen Suprapto No 81 Solo. Telp(0271)723990 
  • HOTEL WISMA BRANI : Jl. Setiyaki I/VII Solo. Telp(0271)714177

Kuliner

Makanan adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat Solo, jadi wisata kuliner Anda akan terpuaskan di kota ini.Di kota ini juga tidak sulit untuk Anda mencari rumah makan yang menyajikan menu masakan khas Solo maupun menu makanan internasional.

Solo terkenal dengan banyaknya jajanan kuliner tradisional yang lezat. Beberapa makanan khas Surakarta di antaranya: nasi liwet, nasi timlo, nasi gudegyang sedikit berbeda dengan gudeg Yogyakartacabuk rambak, serabi Notosuman, intip, bakpia balong, dan roti mandarin. Ada juga Ayam bakar yang dipanggang disajikan dengan lalapan atau sayuran mentah. Peceldengan sayuran yang dimasak di atas nasi dengan saus kacang pedas.

Untuk minuman khas Solo ada wedang asleyaitu minuman hangat dengan nasi ketan sertakelapa muda utuh sebagai minuman menyegarkan.

Berikut ini beberapa tempat kuliner yang dapat Anda kunjungi di Solo.

  • Tengkleng Pasar Klewer, tepat di gapura Pasar klewer. Ini menu wajib bagi fans kuliner terutama bagi penikmat kambing, sebaiknya jangan datang terlalu siang karena pasti sudah habis.
  • Nasi liwet Bu Wongso Lemu, terletak di Keprabon Kulon Solo dan sudah berdiri sejak 1950.
  • Cabuk Rambak, terletak di Pasar Besar Pintu Timur, Dasaran, berjualan pukul 7.00-12.00.
  • RM Timlo Sastro, terletak di Jl. Pasar Gede Timur 1-2, Balong, Solo Telp. 0271654820; Jl. Pasar Gede Timur 1-2 Balong; Jl. Dr Supomo Solo
  • Gudeg Cakar Bu Kasnoatau Gudeg Margoyudan, terletak di jalan Wolter Monginsidi depan GKJ Margoyudan. 
  • Serabi NotosumanJl.Prof.M.Yamin No.52, Notosuman, berjualan pukul 06.00-18.00
  • Warung Bebek Goreng Pak Slamet,terletak di Jalan Sedahromo Lor RT 01 RW 07 Kartosuro.
  • Dawet Selasih Bu Watik, terletak si Pasar Gede
  • Roti Mandarin, Toko Orion, di  Jl.Urp Sumohardjo No.92, Mesen, berjualan pukul 09.00-21.00

Berkeliling

Angkutan umum dalam kota yang dapat Anda temukan di Solo adalah bus kota, angkot, taksi, becak, dan andong. Cara santai untuk berkeliling kota Solo adalah dengan becak. Bersepeda juga dapat menjadi pilihan yang baik dengan menyewanya dari kantor wisata di kota.

Penyewaan mobil tersedia di beberapa hotel besar di Solo. Untuk pengalaman yang mengesankan mengapa tidak menggunakan cara tradisonal yaitu menyewa kereta kuda atau andong.

Berbelanja

Batik Solo memiliki ciri pengolahan yang khas yaitu warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogya yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman. Beberapa usaha batik terkenal di Solo adalah Batik Keris dan Batik Danarhadi. Pusat perdagangan batik di kota ini berada di Pasar Klewer. Selain itu di kecamatan Laweyan juga terdapat Kampung Batik Laweyan.

Jangan lewatkan untuk berbelanja di Pasar Klewer yang terletak di jalan Dr. Rajiman di Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon. Anda dapat berjalan kaki menuju Pasar Klewer yang berjarak sekitar 200 meter dari Keraton Surakarta. Di pasar ini ini terdapat bursa textil dan batik terbesar di Kota Solo dan sekitarnya bahkan terkenal di seluruh Indonesia. Selain pribumi juga ada orang keturunan Arab dan India Muslim yang menjadi penjualnya. Di antara lorong-lorongnya terdapat beragam baju batik, katun tenun, sutra, serta banyak yang lainnya.

Pasar Triwindu adalah pasar loak namun sangat ramai. Temukan di sinidari topeng tua, wayang, alat musik dan koin.  Bahkan jika Anda tidak ingin berbelanja namun kunjungilah pasar ini untuk melihat barang yang unik dan aneh dijual.

Pasar Gede adalah pasar utama di Solo yang menjual beragam barang dagangan dari desa seperti sayuran, buah-buahan, beras, kopi, ikan kering, pakaian, banyak lagi yang lainnya.Gunakan keterampilan Anda dalam tawar-menawar di sini.

Ada juga pasar burung di Pasar Depok, yang menjual bermacam-macam jenis burung dari Beo, ayam, merpati, kenari, burung hantu, dan elang.

Batik Danar Hadi SOLO 

• Jl. Dr. Rajiman 164 – Telp. (0271) 644 126

• Jl. Slamet Riyadi 261, Wuryaningratan – Telp. (0271) 713 140

• Jl. Gatot Subroto 5 – Telp. (0271) 635 743

GALERI BATIK KUNO DANAR HADI

Jl. Slamet Riyadi 261 – Telp. (0271) 714 326

Transportasi

Surakarta memiliki bandara udara internasional Adisumarmo terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar dan Boyolali. Bandara ini terhubung ke Jakarta, Kuala Lumpur, dan Singapura. Dari Jakarta waktu tempuh kurang lebih 50 menit. Beberapa operator penerbangan yang melayani rute dari atau ke kota Solo antara lain Garuda Indonesia, Citilink Air, Batik dan Lion Air.

Kereta api secara teratur beroperasi antara Solo dan Jakarta dengan perjalanan memakan waktu antara 11-12 jam. Stasiun kereta api utama bernama Stasiun Solo Balapan yang merupakan stasiun untuk pemberangkatan kereta api kelas Bisnis dan Eksekutif dan terletak berdekatan dengan terminal bus Tirtonadi, suatu hal yang jarang dijumpai di Indonesia.

Untuk bus malam perjalanan dari Jakarta ke Solo memakan waktu sekitar 12 jam.

Dari Yogya, Anda dapat melakukan perjalanan ke Solo dengan minibus sekitar 1 jam. Bus tersedia juga dengan harga yang lebih murah.

Kota Solo merupakan kota perlintasan Yogyakarta-Surabaya. Dari Yogyakarta, Solo terletak sekitar 65 km arah Timur, sementara dari Surabaya, Kota Solo terletak sekitar 285 kilometer arah Barat. Dari kota besar lainnya, yaitu dari Semarang, Solo terletak sekitar 100 kilometer arah Tenggara. Untuk menuju Kota Solo, Anda dapat memanfaatkan transportasi udara dan mendarat di Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo, atau menggunakan jasa bus dan kereta menuju Terminal Tirtonadi dan Stasiun Balapan Solo. Dari Bandara, terminal, maupun stasiun, Anda dapat memanfaatkan bus kota, angkot, taksi, maupun andong untuk menuju ke pusat kota mengunjungi Keraton Surakarta.

Tips

  • Anda yang ingin menikmati keindahan keraton diwajibkan mematuhi berbagai peraturan, seperti tidak memakai topi, kacamata hitam, celana pendek, sandal, serta jaket. Bagi Anda yang memakai celana pendek, dapat meminjam kain bawahan untuk digunakan selama mengelilingi kawasan keraton.
  • Terdapat beberapa agen wisata yang dapat mambantu Anda menikmati wisata di kota ini.
  • Yogya tours
  • JavaAdventure
  • Jogjakarta Tour
  • Java Overland Tours

Pulau Kanawa: Pengikat Petualangan di Flores

Jauh jalur ditempuh di Pulau Flores yang merentang sepanjang lebih dari 300 kilometer, selayaknya telah menguntai puluhan kenangan berpetualang yang tak terlupakan. Seperti setumpuk perhiasan yang terkumpul dari Maumere hingga Labuan Bajo, menyimpannya harus di dalam sebuah keranjang yang sama berharganya. Mengunjungi Pulau Kanawa seolah menyiapkan keranjang berharga yang akan membuat semua petualangan di Pulau Flores menjadi sebuah kesempurnaan.

Terletak sekitar 15 kilometer dari Labuan Bajo, Pulau Kanawa menyendiri dalam luasnya lautan di sekeliling Taman Nasional Komodo sehingga luas pulaunya yang 32 hektar seperti tak begitu berarti. Akan tetapi, tetap saja bukit batu yang ditumbuhi belukar dan rumput kering di musim kemarau ini bagaikan dialek Italia yang menggoda. Birunya laut yang dibatasi warna hijau kebiruan di bibir pantainya menyeret rasa penasaran seolah gravitasi bumi.

Pulau Kanawa awalnya dibina oleh seorang warga Labuan Bajo, pulau ini diserahkan pengelolaannya pada orang Italia yang mengembangkan 14 bungalow di kaki bukit batu yang menerawang ke arah pantai. Sebuah dermaga kayu cukup untuk melabuhkan beberapa perahu kecil menjulurkan sambutannya hingga tepi karang dan tebing bawah laut. Biru bercampur hijau tepat mengulas kaki gazebo di ujung dermaga. Tak salah lagi, terumbu karang seluas areal yang melingkari pulau itu tumbuh subur, berbinar mengundang mereka yang mendekat.

Setelah menyinggahi Pulau Rinca dan Komodo yang membuka cakrawala pengetahuan fauna Indonesia, setengah lingkaran jam tak perlu dihabiskan terlalu cepat hingga terbenam Matahari di Labuan Bajo. Pulau Kanawa dengan kemewahan langit, pantai, dan terumbu karangnya adalah perhiasan sebelum pergi pulang. Bersoleklah dengan pengalaman satu lagi di jernihnya air dan warna-warni ikan yang bermain di antara bunga laut, terumbu karang, dan bukit pasir di bawah laut.

Bila jatuh hati pada pandangan pertama saat menatap Kanawa, singgahlah untuk menanyakan kemungkinan  bermalam di salah satu bungalow-nya karena itu adalah ide yang paling baik. Di bangun di antara bibir pantai yang jernih dan bukit menjulang, bungalow tersebut dilengkapi tempat tidur nyaman, berkelambu putih dan tempat tidur ayunan yang diapit dua pohon rindang, siap mengakomodir keinginan Anda untuk berlabuh.

Di Pulau Kanawa saat menjelang sore, air lautnya surut dimana Anda dapat mengambil bintang laut dan kepiting kecil yang ada di pesisir pantai. Kejadian ini adalah hal rutin terjadi saat air laut surut.

Kursi beanbag disusun seperti bioskop di pantai, lengkap dengan peneduh alami menghadap langit menguning saat sunset. Beach café bernama Starfish dan satu lagi di bibir pantai bernama KB’s bar memutar lagu penuh semangat, mengingatkan setiap pengunjung untuk tetap ceria. Perahu dari Labuan Bajo selalu datang pada jam yang telah ditetapkan dan juga berangkat dari pulau ini pada jadwal yang dipatuhi. Pengunjung yang bermalam di sini tak perlu lagi membayar ongkos perahu yang melaut 45 menit dari Kanawa ke Labuan Bajo karena telah termasuk tarif bermalam.

Penyelamkah Anda? Bergegaslah untuk menemui manta ray, hiu paus, dan mola-mola diantara jadwal pertemuan lain dengan parrot fish yang memiliki bejolan besar di kepalanya. Kuda laut pigmi dan beraneka ragam nudibranch adalah hal lain yang mudah ditemukan di sini beserta penyelam lainnya yang selalu bertukar pengalaman sambil menyeruput minuman dingin di Starfish café.

Transportasi

Pulau Kanawa dapat dijangkau dengan perahu bermesin dari  Labuan Bajo. Lama perjalanan sekitar 40 menit. Kapal tersebut berangkat pukul 12.00. Pilihan lain Anda dapat menggunakan speed boat dengan biaya Rp60.000,-.

Jambu Mete Flores: Mencicipi Kacang Mete Kelas Dunia di Wolowaru

Musim panen jambu mete di Pulau Flores seolah sebuah pesta yang baru saja selesai. Permukaan tanah ditutupi ribuan jambu mete jatuh di atasnya tak sempat ditampung petani yang kewalahan memanennya. Flores tak hanya mahsyur karena kakao, kemiri, kopra, kayu manis, mangga, atau kelapa, karena jambu mete pun tumbuh subur di atas tanahnya yang kerontang ditingalkan hujan selama 10 bulan.

Di berbagai desa sepanjang jalan lintas Flores nampak jelas pohon ini menjadi bagian dari tanaman penghasil sekaligus pelindung yang tumbuh di halaman rumah. Lihatlah di atas tanah yang tak jauh dari pohonnya, buah jambu mete bertaburan seolah tak lagi mampu dimanfaatkan karena begitu melimpah.

Morfologi pulau Flores yang unik telah menjadikan hujan hanya singgah selama 2 bulan saja dalam setahun. Mungkin justru karena karakter tanahnya sehingga kacang mete yang merupakan biji yang menyembul dari buah jambunya terasa lebih kering dan renyah. Ada rasa seperti kerupuk gurih yang terus ingin dihaluskan di dalam mulut.

Semua itu bisa didapatkan menjadi makanan berselera setelah melalui proses pengolahan kacang mete di Wolowaru, sekitar 65 kilometer dari Kota Ende. Desa ini mungkin tidak lebih populer dari Moni yang hanya terpisah jarak sekitar 30 kilometer ke arah bukit yang menanjak. Tapi di desa ini, kacang mete menemukan tempat persinggahannya sebelum dieksport ke berbagai kota di Indonesia, bahkan ke luar negeri.

Kualitas kacang mete dari Wolowaru sungguh tak usah dipertanyakan lagi. Jenis kacangnya sudah tepilih dari pengelompokan kacang organik dan non-organik. Biji jambu mete yang diolah hanya yang jatuh dari pohon. Terlihat bahwa proses seleksi bahan bakunya pun dibantu oleh alam.

Badan sertifikasi yang datang dari Eropas etiap tahunnya akan tahu pasti mana yang jatuh dari pohon dan mana yang dipetik. Pemetikan sudah pasti menyalahi proses seleksi. Semua ini adalah proses ketat karena pasar Eropa menuntut kualitas prima.

Masyarakat Eropa seperti Jerman, Swiss, Belgia, dan Perancis, serta Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan Australia mengakui bahwa kacang mete Flores adalah produk terbaik, jauh lebih baik dari Afrika dan India.

Harga bahan baku kacang mete organik yang baik tentu lebih tinggi dari non-organik. Satu kilo kacang mete organik olahan yang sudah dikemas dibumbui dan siap maka harganya jauh lebih tinggi di pasaran. Sebagai gambaran, per kilo paket kacang mete siap makan bisa mencapai Rp140.000,-.

Seorang warga dari Jawa Timur bernama Cahyo melihat peluang ini dan ia merintis usaha pengolahan kacang mete di Wolowaru. Dengan menampung kacang mete dari pemasok seluruh pulau Flores, terutama dari perkebunan jambu mete di Ile Padung, Larantuka, Cahyo memanfaatkan lahan yang tidak terlalu luas sebagai industri rumah tangganya. Kacang mete yang masih terbalut kulitnya yang keras dijemur di lantai berpermukaan semen tempat memarkirkan motor dan menyimpan pot-pot bunga. Dari tepi jalan, tempat ini hampir tak nampak karena dibentengi warung kelontong dan rumah makan bernama Warung Jawa Timur.

Sebuah ruangan berjendela ram kawat di belakang warung dipadati karung berisi kacang mete yang sudah kering dan siap dipecah kulitnya. Berjejal dengan karung, meja menghadap dinding tembok dipadati hampir selusin pekerja yang bekerja berdasarkan tugas masing-masing. Di antara mereka ada yang mengayunkan tuas pemecah kulit kacang mete dan yang lain bertugas membersihkan kacang yang sudah dikuliti.

Proses pembelahan kacang, pemilahan, serta pembersihan melalui beberapa tahap. Dari pembersihan awal hingga finishing, seolah membuat benda kecil yang sangat berharga. Sarung tangan plastik dan penutup mulut dikenakan pegawainya sehingga pasti tidak ada kontaminasi dalam mengemasnya. Asyiknya, pengunjung bisa melihat semua proses ini termasuk mengikuti uji rasa atau cashewnut tasting.

Proses ini memang panjang karena sudah ditetapkan oleh badan inspeksi dan sertifikasi dari Swiss yang khusus memeriksa pengolahan kacang mete yang disebut IMO (International Marketecotologi). Setiap tahun, badan ini datang dan memeriksa semua proses termasuk bahan dasar dan fasilitas.

Selain Wolowaru mendapat sertifikat IMO, perkebunan di Ilepadung, Larantuka pun bersertifikasi sejak 2005. Bila keterlibatan badan khusus sudah ada dalam bagian proses pengolahan maka tak perlu ragu bahwa kacang mete Flores, khususnya pengolahan di Wolowaru adalah makanan yang sudah pasti bermutu tinggi.

Faktanya, kacang mete memang mengandung beberapa komponen nutrisi yang sangat berguna bagi tubuh. Mengkonsumsi kacang mete membantu meningkatkan daya tahan tubuh karena terdapat 33% angka kecukupan gizi (AKG) pada olemen zinc. Selain itu, kacang mete dapat mengurangi perasaan depresi karena ada asam amino tryptophan yang dapat mengatasi rasa sedih dan meningkatkan sensasi semangat. Kacang mete juga dapat melindungi penuaan kulit serta mengurangi resiko gigi berlubang.

Secara ekonomi, usaha pengolahan kacang mete ini telah menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi sumber pendapatan rumah tangga bahkan daerah. Tak pelak, sebuah organisasi pembangunan masyarakat lokal turut serta membantu usaha ini guna meningkatkan perekonomian masyarakat di Flores pada umumnya.

Wologai: Wisata Arsitektur Khas Ende

Pagi hari masih belum habis dan anak-anak sekolah dasar di Dusun Wologai masih bermain disela waktu istirahatnya. Melihat selusin tamu dari Eropa, mereka berhamburan langsung menyalami tamu-tamu yang juga berbinar gembira bak selebriti. Suasana yang biasanya hening, tiba-tiba berbalik semarak. Gambaran hiasan kehidupan dusun tradisional menyambut tamu dengan tak berbalut kepura-puraan.

Walau di tepi jalan raya, desa tradisional masyarakat Lio yang bernama Wologai tak terusik suara kendaraan yang berlalu karena memang Flores hingga kini masih menjanjikan sebuah untaian destinasi yang belum banyak disentuh wisatawan. Tak mengherankan, anak-anak begitu senang saat melihat wisatawan menghampiri mereka dengan rasa ingin tahu. Senyuman dari tamu dan anak-anak dusun terjalin dalam tanya jawab singkat yang diawali kata, HaLlo Mister’, bahkan kepada seorang ibu asal Belanda di antaragroup tour tesebut.

Terletak di Desa Wologai Tengah, Kecamatan Detusoko, adalah Dusun Wologai telah mengalami berbagai pergantian desa yang nenek moyangnya berasal dari Gunung Lepembusu. Sekitar 20 lebih desa dilalui dan dibina dari awalnya di Lepembusu hingga sampai di Wologai. Tradisi yang dibawa nenek moyangnya masih ketat dijalankan dengan sekitar 25 hingga 30 upacara adat tradisional yang berurutan harus dijalankan. Semuanya harus dilaksanakan dan tidak bisa dilewatkan atau sesuatu yang buruk dipercaya akan terjadi.

Dusun Wologai masih mempertahankan gaya arsitektur tradisional masyarakat Lio, lengkap dengan altar batu dan rumah utama tempat menyimpan ajimat dan benda pusaka lainnya. Di satu sisi pelataran altar batu, nampak sebongkah batu berpagar bambu pelindung dan penanda. Menurut Papa Alo (salah satu tetua di Wologai), batu itulah yang pertama kali ada dan memiliki kekuatan magis. Seorang pun tak berhak menyentuh batu itu kecuali orang-orang tertentu yang ditetapkan keputusan adat.

Berada di dusun sederhana ini memberikan sensasi seperti membuka majalah arsitektur. Beberapa orang menikmati interior sebuah bangunan dalam berbagai gaya arsitektur dan sebagian lain karena pengalamannya bisa berada di dalam  halaman-nya. Tak hanya sensasi arsitektural yang dirasakan pengunjung, karena setelah menyadari berada di tengah desa ini ada perasaan bahwa pengunjung seakan dibingkai mesin waktu dan ditarik ke masa dua atau tiga abad lalu.

Di sini, pengunjung dapat melihat bagaimana masyarakat Lio mengatur dirinya dalam struktur kemasyarakatan berpola matrilineal dimana garis keturunan dari ibu memegang peranan penting dalam pengaturan keluarga hingga masyarakat. Namun demikian, mereka bukanlah kelompok masyarakat yang matriarki atau kekuasaan yang dipegang oleh garis keturunan langsung seorang perempuan. Kaum pria di Wologaimasih memegang peranan kepemimpinan dalam keluarga dan masyarakat.

Di Wologai, sebuah rumah dinamakan rumah utama ibu dan hanya perempuan saja yang berada di dalamnya, sebagai simbolosme masyarakat matrilineal. Di dalamnya, setiap ruangan memiliki nama ruangan masing-masing dan namanya diambil dari nama anggota tubuh perempuan, seperti penyusuan dan rahim.

Bagi mereka, gunung merupakan tempat yang paling sakral, dimana gunung adalah tempat para leluhur berasal dan kembali. Tak setiap desa bahkan rumah memiliki arti dan makna yang mendalam sehingga berkunjung ke Wologai seperti masuk ke halaman-halaman yang penuh cerita.

Wologai dapat ditempuh menggunakan kendaraan umum dari Ende sekitar 36 km atau dari Moni yang jaraknya hanya 16 km. Bila sampai di Wologai, cobalah untuk mendapatkan uraian penjelasan singkat dari Papa Alo, salah satu tetua di Wologai.

Toapekong Tua di Hotel Biliton: Meniti Jejak Timah di Belitung

Lebih dari seratus tahun waktu telah bergulir bersama Toapekong ini. Menjadi bagian yang tersisa dari rumah besar seorang Kapiten China pada abad ke-19 dan merupakan rumah abu atau pemujaan leluhur marga Ho (Hokkien) atau He (Mandarin). Pada salah satu inskripsinya, tertulis ‘lujang tang’ yang artinya Hall of Luijang. Luijang adalah nama daerah Tiongkok kuno (kini di propinsi Anhui) yang merupakan daerah asal marga Ho. Kini Toapekong di Hotel Biliton merupakan salah satu cagar budaya penting yang dapat Anda nikmati di Kota Tanjung Pandan, Belitung. 

Berawal dari penemuan timah yang pertama oleh pionir-pionir Belanda di tahun 1851. Setahun kemudian timah sudah di tambang secara terorganisir di Belitung, disusul dengan berdirinya NV Billiton Maatschappij di tahun 1860. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di pertambangan, di datangkanlah kuli-kuli Cina yang diperoleh dari kuli paksa di Singapura atau pun dibawa langsung dari negeri Cina. Mereka kemudian di sebut Singke’ (xinke) – kuli pendatang baru – yang sebagian besar berasal dari suku Hakka, di samping Hokkien, Tio Chu, Kwong Fu dan lain-lain.

Keberhasilan pertambangan timah mendorong orang-orang China lainya untuk datang ke Belitung dengan kemauan sendiri. Diantara mereka ada yang menjadi petani, pedagang, bahkan saudagar kaya. Pada tahun 1866, lebih dari dua ribu orang Cina sudah tinggal di Belitung dan jumlah ini terus bertambah hingga menjelang kemedekaan.

Di Belitung, orang-orang Cina dikepalai oleh seorang Kapiten yang diangkat oleh pemerintah kolonial untuk mengatur segala hal yang berhubungan dengan masyarakat  Cina, di dalam maupun di luar tambang. Seorang Kapiten haruslah seorang Cina kaya yang berpengaruh dan mempunyai garis kekerabatan dengan Mayor atau Kapitan Cina sebelumnya. Ia juga harus mempunyai pengetahuan luas tentang wilayah dan masyarakat di daerah yang dipimpinnya. Mempunyai hak monopoli atas perdagangan candu dan perdagangan berbagai barang kebutuhan kuli di pertambangan.

Ho A Jun atau kapiten Ho adalah seorang keturunan marga Ho yang menjadi Kapiten Cina pertama dan terlama di Belitung (1852-1895). Pada pertengahan abad ke-19, Ho A Jun membangun lokasi kediamannya di lokasi strategis di kawasan pemukiman Cina. Sebuah rumah yang disangga pilar-pilar kokoh, dengan sebuah Toapekong besar di dalamnya. Dari tempat inilah Kapiten Ho memimpin masyarakat Cina Belitung. Sedangkan kantor pusat Billiton Maatschappij berada tepat di timur laut rumah Ho A Jun, -kini disebut Jam Gede.

Pada akhir abad ke 19, setelah berakhirnya kepemimpinan Kapiten Ho, rumah kediamannya dijadikan gedung societeit, tempat hiburan kaum elit Cina dan pejabat Billiton maatschappij. Tahun 1924, Billiton Mij menjadi NV Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton (NV GMB) setelah sahamnya juga di miliki pemerintah. Pada periode ini, societeit tetap di pertahankan sebagai tempat hiburan kaum elit.

Tahun 1956, NV GMB dinasionalisasikan menjadi Perusahaan Negara Tambang Timah Belitung (PN TTB). Gedung societeit kemudian menjadi Wisma Ria (I), yang fungsinya tidak jauh berubah yaitu sebagai tempat hiburan pejabat elit perusahaan timah Belitung. Tahun 1970-an, fasad bangunan Ho A Jun diubah, tetapi toapekong tetap dipertahankan. Awal tahun 1990-an, perusahaan timah Belitung direstrukturisasi  Kantor Pusat dan Wisma Ria (I) kemudian menjadi asset pemerintah daerah dan sempat di fungsikan sebagai perkantoran.

Kini bekas rumah Ho A Jun telah jauh berubah. Jejak sang Kapiten mungkin hanya tertinggal pada pilar-pilar bangunan dan Toapekong besar yang kini menjadi bagian kecil dari Billiton Hotel & Klub. Ingatan dan pengetahuan tentang Kapiten Ho – bahkan bagi masyarakat Cina sendiri, mungkin hanya samar-samar. Namun kelestariannya menjadi bukti tak terbantah bahwa sejarah Belitung tak lepas dari kesuksesan penambangan timah, yang pada awalnya diraih dengan cucuran keringat kuli-kuli Cina di bawah kepemimpinan Kapiten Ho A Jun.

Sebagai asset budaya tak ternilai, Toapekong ini merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang dilindungi pemerintah berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Di dalamnya tersirat keragaman dan kerukunan antar agama dan antar etnis di Belitung, yang tetap berlansung hingga kini.Suatu kearifan sejarah yang patut di lestarikan.

Morotai Berbenah jadi Wisata Kelas Dunia

Pulau Morotai di Kepulauan Halmahera, Maluku Utara terus mempersiapkan diri sebagai salah satu dari 10 Destinasi Prioritas Pariwisata Indonesia. Salah satu persiapan tersebut adalah dengan meningkatkan aksesibilitas udara, laut, dan darat, untuk mempermudah wisman yang akan datang berkunjung ke Morotai.

Sejak 2014, lewat PP No 50 tahun 2014, Pemerintah menetapkan Pulau Morotai sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata. Akan ada pembangunan di lahan seluas 1.101,76 hektar  yang dikerjakan PT Jababeka Morotai. Pemerintah akan mengucurkan investasi Rp 6,8 triliun untuk membangun infrastruktur, salah satunya bandara.

Arah untuk menjadikan Morotai sebagai destinasi wisata kelas dunia akan didukung dengan bandara sepanjang 3.000 meter. Runway di bandara Morotai jumlahnya mencapai tujuh buah dan ke depan akan ada peluasan ruang tunggu penumpang, penambahan listrik, AC, SDM dan imigrasi. Saat ini baru maskapai Wings Air yang mengoperasikan pesawat ATR-72 berkapasitas 70 kursi dengan durasi tujuh kali sepekan. Sementara itu, Citilink mendaratkan pesawat berbadan besar yang membuat Morotai kembali terbuka.

Bandara Morotai tengah dipersiapkan menjadi bandara internasional maka dilakukan peningkatan bandara dari sisi udara dan darat. Critical issue-nya ada penerbangan regular ke Morotai. Sejak 2016 sudah ada satu kali penerbangan per minggu dari Ternate dan kini jadwal penerbangan menjadi dua kali per hari, dari Ternate dan Manado menuju Morotai.

Masih peningkatan akses udara, menurut detail engineering design perluasan bandara Morotai 1.840 meter persegi sudah selesai. Sedangkan untuk akses darat, program jalan lingkar luar Morotai yang sebagian kecil terputus belum diaspal, saat ini dalam tahap perencanaan.

Selain itu, paling lambat tahun 2019 Morotai sudah mempunyai international chain hotel, di samping amenitas lainnya yang bekerjasama dengan sejumlah pihak terkait. Amenitas adalah prasarana umum (listrik, air/limbah, telekomunikasi), fasilitas umum (perbankan, rumah sakit, polisi pariwisata, toilet, parker), dan fasilitas pariwisata (akomodasi, restoran, TIS, papan informasi & souvenir).

Demi mempercepat pembangunan amenitas, usulan addendum KEK seluas 640 ha di Tanjung Dehegila untuk pariwisata juga sudah diajukan. Begitupun dengan rencana investasi Rp20 Triliun dari Wanda Group akan segera dimatangkan.

Pulau Morotai sangat strategis, berada di antara jalur pelayaran Asia dan Australia dan juga sebagai gerbang di Pasifik yang berdekatan dengan negara-negara penting di kawasan Asia Pasifik. Pulau ini di utara diapit di antara Jepang – Korea – Taiwan – Philipina – Tiongkok. Di barat, ada Singapura dan negara-negara ASEAN. Di selatan, ada Australia – New Zealand. Sementara itu, di timur, ada Republik Kep Palau serta negara-negara kepulauan di Pasifik.

Selain wisata bahari, Pulau Morotai memiliki potensi wisata sejarah karena dahulu pernah menjadi lokasi pertempuran dalam Perang Dunia II antara Sekutu dengan Jepang. Hingga saat ini di wilayah perairan Morotai masih tersimpan sisa kapal perang seperti di Pulau Dodola, Pulau Kolorai, dan Mitita yang menjadi spot diving menarik. Setidaknya ada 24 pulau kecil yang akan dikembangkan dan 19 di antaranya adalah lokasi diving. Ada juga daya tarik wisata budaya di Pulau Zum Zum, Tugu Trikora dan Desa Gotalamo.

Pemerintah juga mengembangkan desa wisata di Morotai guna menjaga tradisi dan kebudayaan luhur masyarakat setempat agar tidak tergerus dengan meningkatnya jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Morotai. Dari aspek lingkungan juga tengah diperhatikan pemerintah. Industri perkapalan yang dibangun dijamin tidak membahayakan lingkungan akibat pembuangan polutan.

Saat ini PT Morotai Jababeka selaku pengembang kawasan Morotai tengah bekerja sama dengan Taiwan untuk mengembangkan industri pertanian, perikanan, dan perdagangan. Jababeka akan menggelontorkan dana mencapai Rp 6,8 triliun dimana sumber selain internal juga dari investor. Jababeka juga ikut mengundang pengusaha-pengusaha Taiwan untuk berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur pariwisata bernilai triliunan rupiah.

Kepala Perwakilan Perdagangan dan Ekonomi Taipei di Indonesia (TETO), Andrew Hsia mengatakan bahwa pihaknya akan terus menindaklanjuti kesepakatan pengembangan Pulau Morotai dengan berbagai pihak di Indonesia.

“Perusahaan-perusahaan Taiwan siap membantu mengembangkan budi daya ikan, pertanian, turisme dan industri perbankan. Saya perkirakan, orang akan pindah dari mana-mana ke Morotai untuk bekerja di bidang perikanan, eko-turisme dan infrastruktur,” terangnya.

PT Morotai Jababeka akan membangun amenitas dan atraksi di areal seluas 1.200 hektare (ha) yang sudah berstatus KEK–Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata itu. Pengembangan bisnis di kawasan tersebut akan dilakukan secara bertahap.

Tahap awal, Jababeka akan membangun 10.000 rumah dengan sasaran kelas menengah, dan hotel yang terdiri dari 10.000 kamar. Selanjutnya, perusahaan tersebut akan membangun tempat pariwisata, sekolah untuk mensupplay SDM di sana.