Home Blog Page 2

Hutan Rimba Orang Sunda: Terkoyaknya Pola Pikir Benteng Pelindung Alam

Waktu pun berjalan begitu cepatnya ketika Jalan Raya Pos Anyer Panarukan berhasil dibina mengorbankan lebatnya hutan demi menyokong hegemoni ekonomi penguasa yang semakin menguat saja. Koloni perkebunan secara menggebu membangun budayanya sendiri di perbukitan dan dataran tinggi. Berdiri rapuh dari lahan yang dulunya adalah kesatuan organik dan kosmologik manusia Jawa.

Kita bukan akan bicara hijaunya kondisi Pulau Jawa 800 tahun dulu melainkan cukup 300 tahun yang lalu saat Gustaaf Willem van Imhoff, gubernur Hindia Belanda tahun 1745 mengutarakan bahwa Pulau Jawa saat itu masih diselimuti hutan belantara menghijau rimbun. Secara perlahan hingga akhir abad ke-19 hutan-hutan tersebut habis digerus cepat oleh hegemoni produk industri perkebunan seperti teh, karet, kina, kopi dan jati.

Akibat itulah kemudian orang di Pulau Jawa benar-benar telah kehilangan mayoritas hutan mereka. Abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18, hutan di Jawa diperkirakan masih sekitar 9 juta hektare namun dengan cepat hingga akhir tahun 1980-an, tutupan hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektare atau 7 persen dari luas total Pulau Jawa.

Terbinanya Jalan Anyer Panarukan yang menghubungkan pesisir utara Pulau Jawa memberi andil hilangnya tutupan hutan Pulau Jawa. Wilayah-wilayah yang dilalui jalur pos yang sejatinya untuk militer dan angkut hasil bumi itu mengubah wajah Pulau Jawa yang dulunya manusia air (sungai dan laut) menjadi manusia daratan karena jalan-jalan lebih banyak tercipta melahirkan desa-desa baru yang kemudian menjadi kota besar di masa depannya. Pintu-pintu rumah yang menghadap bibir sungai mulai tergantikan pintu-pintu yang menganga ke hadapan jalan raya.

Sebenarnya hingga akhir abad ke-19 hutan rimba masih menyisakan kisahnya. Percayakah Anda ada cerita bahwa awal abad ke-20 di beberapa tempat di Batavia (Jakarta) orang Belanda dan pribumi itu masih bahu-membahu memburu buaya besar di rawa dan sungai mereka. Pun terjadi di dataran tinggi Parahyangan (Bandung) orang Eropa ditemani orang lokal gemar berburu badak di padang ilalang luas, di rawa tengah hutan, atau di sekitar danau-danau yang tersisa. Badak di Bandung kini sudah punah tak bersisa kecuali patung badak putih di pelataran Balai Kota Bandung atau datanglah ke museum di Kebun Raya Bogor, di sana ada badak terakhir dari Bandung yang berhasil diawetkan. Badak penghuni hutan orang Sunda pun ikut punah belakangan di banyak hutan di Jawa Barat seperti di Hutan Cipatujah, Hutan Sancang, Hutan Cikepuh, dan Hutan Bojonglarang.

Sungguh ironi sebenarnya karena kita kehilangan bukan saja satu spesies hewan dengan dibabatnya hutan tetapi juga beragam jenis hewan yang hidup di dalamnya terancam punah karena tempat hidup dan lingkaran rantai makanan mereka terkoyak keseimbanganya. Kini, cerita itu hanya jadi endapan bawah sadar dan hanya menyisakan pola pikir hutan dari masyarakatnya.

Sekarang hutan di Jawa bagian barat hanya jadi tanda budaya dalam tingkah laku maupun tradisi lisan masyarakatnya. Coba Anda tengok apa yang meresapi cara berpikir orang pedesaan di Jawa bagian barat itu kebanyakan bukan cara berpikir orang kota tetapi pola pikir orang pedesaan itu adalah pola pikir hutan. Alam telah mengambil saham besar membentuk dan menyusun pola masyarakat pedesaan untuk menjaga hutan dan hidup berdampingan dengannya.

Apalagi desa tertutup seperti Badui di Banten atau Kampung Naga di Garut dimana hutan rimba telah menjadi bagian dari kehidupan kampung mereka yang jumlah warganya dibatasi. Hutan di Jawa bagian barat memang menjadi penyangga utama lingkungan. Hutan-hutan itu juga menjadi sumber cerita rakyat yang tercatat dalam dongeng, kepercayaan lokal, babasan, dan paribasa.

Dalam tradisi peladang Sunda ada pepatah “Mipit kudu amit, ngala kudu bebeja” yang artinya bahwa saat memetik itu harusnya yang perlu dipetik saja (jangan mengambil yang masih kecil atau yang baru tumbuh), mengambil pun harus memberitahu. Pepatah kearifan lokal ini bukan sekadar pesan moral melainkan bagaimana bersikap kepada alam. Ketika memanfaatkan alam, tanaman atau pun sumber dayanya maka harus memerhatikan keseimbangan ekologis dan keberlanjutan dan kelestariannya.

Masyarakat Sunda pun mengenal istilah hutan larangan yaitu hutan sakral yang bukan sembarangan untuk dijejaki apalagi dibabat untuk perkebunan. Bahkan, mereka dilarang berbicara dan bertingkah sembarangan di hutan larangan atau mendapat celaka nantinya. Di hutan larangan pula raja Padjadjaran itu ngahiang-lenyap dalam hutan rimba atau pun menjelma menjadi harimau putih yang magis.

Konsep hutan larangan dalam masyarakat sunda memberikan pesan bahwa alam itu diyakini harus dijaga sepenuhnya. Konsep hutan sebagai huluwotan (sumber mata air) dan tempatnya tinggal makhluk ghaib adalah strategi pencegahan dari nenek moyang agar orang sekarang tidak merusak alam.

Orang peladang Sunda itu sejatinya memang membudidayakan alam namun di saat bersamaan mereka menyisakan alam murni yang bertahan dengan caranya sendiri. Mereka mempertahankan hutan rimba seperti hutan larangan untuk aliran hidup jasmaniah dan rohaniah. Bila hutan larangan itu dibabat habis maka tidak ada manfaatnya sama sekali. Hujan tidak akan turun dan air jernih bagi kehidupan tidak akan mengalir. Apabila mereka membabat kayu di hutan larangan maka tidak pula membuat kaya malah alih-alih mendatangkan bencana.

Pola pikir hutan orang peladang Sunda secara murni adalah benteng pelindung alam, utamanya hutan. Kebanyakan orang peladang Sunda itu ‘tertutup’ dan diikat oleh hutan mereka. Hutan menjadi bagian dari hidupnya. Tritangtu orang Sunda menjabarkan bahwa mereka sebagai manusia itu terikat karena kesatuan organik dan kosmologik antara tempat hunian dan ladang dengan kuburan-patilasan leluhur dan hutan rimba di bukit-bukit. Pola pikir ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang masih ada di Bali dengan Tri Hita Karana.

Alam sejatinya perlu dihidupi dengan harmonis oleh manusia untuk kemaslahatan bersama. Alam akan memberi bagian terbaiknya bagi manusia bila diperlakukan seharusnya. Kini manusia modern itu tidak takut dengan berbagai pamali (larangan) dan akibatnya alam pun dirusak. Apa yang melindungi hutan yang tersisa di Jawa itu saat ini mungkin hanya nurani kita saja.

Bertemu Kawan Baru di Kwatisore

Ketika tanah dan laut berpadu lalu tubuh Anda tercelup dalam fantasi yang menggugah maka pertemuan dan interaksi dengan ikan terbesar di muka bumi ini akan menjadi pengalaman yang amat spesial. Rasakan sendiri secara langsung sensasi menyelam bersama hiu paus di Kwatisore, Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Di biru kobalt laut Papua yang jernih dan bersih akan Anda dapatkan pengalaman takan terlupakan seumur hidup karena ikan raksasa tersebut telah menjadi penyingkapan besar dalam dekade ini.

Hiu paus (Rhincodon typus) tercatat sebagai ikan terbesar di muka Bumi saat ini. Bayangkan bobotnya bisa mencapai 21 ton, panjangnya hingga 14 meter serta umurnya sampai 150 tahun. Hewan menakjubkan ini terlihat pada masa tertentu di beberapa negara saja, yaitu mulai dari Afrika Selatan, Filipina, Australia, dan Indonesia. Mereka berpindah-pindah dengan bermigrasi untuk mencari tempat makan dan bertelur. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa hewan yang sejatinya ramah namun penuh misteri ini dapat ditemui sepanjang tahun di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih di Papua Barat dan Papua. Di sinilah Anda dapat berenang dan bermain gelembung bersama mereka, bagaimana berani mencoba?

Memang kini saatnya Anda mengalihkan perhatian atau melabelkan wisata menyelam di Papua hanya pada Raja Ampat saja, mengapa? Itu karena sebenarnya Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) adalah taman nasional dengan  perairan terluas di Indonesia dan memiliki kekayaan biota laut dalam takaran lebih dari cukup. Kawasan nan indah ini membentang dari Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua Barat, hingga Kabupaten Nabire di Provinsi Papua. Perairan yang luas dan dilindungi itu semakin istimewa karena berjodoh dengan keberadaan hiu paus yang berukuran besar sekaligus menakjubkan.

Hiu paus (Rhincodon typus) dinamai masyarakat Papua Barat sebagai gurano bintang dan oleh masyarakat Nabire di Provinsi Papua disebut hiniota nibre. Hewan raksasa itu sempat mendapat anggapan sebagai pembawa sial apabila nelayan melihatnya di perairan sehingga biasa disebut Sang Hantu. Akan tetapi, kini anggapan itu sirna karena nelayan di Kwatisore telah lama bersahabat dengannya, bahkan ibaratnya kini menjadi hewan peliharaan yang hidup di alam bebas. Ingin tahu jelasnya bagaimana?

Di Desa Kwatisore, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, hiu paus ini bersahabat dengan nelayan setempat. Mereka muncul berkelompok setiap hari di sekitar bagan nelayan (perahu sejenis keramba terapung dengan jaring penangkap ikan di bawahnya) dengan kemunculan selama berjam-jam. Hiu paus itu rupanya tertarik dengan sekumpulan ikan puri (sejenis ikan teri) yang tertangkap dalam jaring terapung di bawah bagan dan juga menanti ikan mati yang dilemparkan nelayan. Mereka biasanya mendekati bagan secara berkelompok hingga enam ekor. Padahal sifat hewan ini sebenarnya penyendiri, pemakan plankton, dan seringnya berada di bawah permukaan laut hingga kedalaman ratusan meter. Perlu diketahui bahwa di Australia, wisatawan harus menunggu saat musim panas untuk melihat hiu paus dan itu pun perlu digiring terlebih dahulu agar bisa ditonton.

Bagan nelayan di Kwatisore adalah sebuah perahu terapung berukuran 18 x 18 meter yang dikonversi menjadi lokasi penangkap ikan puri berbentuk persegi dengan bagian bawahnya terpasang jaring. Papan kayu dipasang menghubungkan antar sudut dan dideretkan banyak lampu untuk penerang saat malam agar ikan puri mendekat dan masuk dalam jaring. Jumlah bagan di perairan ini cukup banyak lebih dari sepuluh dan keberadaannya perlu terdaftar di Dinas Kelautan dan Perikanan.

Di Kwatisore, hiu paus sudah terbiasa diberi makan ikan puri dan sering berinteraksi dengan penyelam. Saat penyelam mendekatinya maka ikan raksasa ini akan dengan santainya berenang bersama. Tidak seperti hiu lain yang memiliki gigi tajam, hiu paus memiliki gigi halus di ujung mulut bagian dalamnya. Caranya makan adalah menyedot air laut sembari menjaring plankton dan ikan kecil yang masuk bersama air ke mulutnya.

Biasanya sesaat sebelum dan sesudah Bulan Purnama, hiu paus tidak muncul karena nelayan tidak dapat menangkap ikan puri akibat terangnya cahaya Bulan sehingga lampu-lampu pada bagan tersebut kurang menarik lagi bagi ikan puri. Puncak penangkapan ikan puri di kawasan ini berlangsung antara Desember dan Januari.

Sudah jadi ketentuan setiap operator diving akan membayar ikan puri yang disediakan nelayan dengan membelinya seharga 1 juta untuk sehari agar penyelam dapat melihat langsung secara lebih dekat. Anda dapat juga memberi makan hiu paus ini langsung dari atas bagan. Kegemarannya memakan ikan puri  ketimbang plankton di Kwatisore jelas adalah hal yang unik dan luar biasa.

Atraksi menarik ini sebenarnya tidak sengaja dimulai sejak tahun 2000 bersamaan saat nelayan setempat membangun bagan di tengah laut. Saat itu, hiu paus pun mulai berdatangan menyambangi bagan karena tertarik dengan ikan puri yang tertangkap di jaring bawah bagan tersebut. Ikan puri di dalam jaring kemudian sering didatangi dan dihisap hiu paus. Sebenarnya tidak ada ikan yang berhasil ia makan kecuali pada jaring yang bolong. Seringnya hiu paus menghisap ikan puri dalam jaring justru membuat sebagian ikan di dalam jaring mati lalu dibuang nelayan ke laut. Kebiasaan membuang ikan puri inilah yang membuat hiu paus sering berada di sekitar bagan dan seolah menjadi hewan peliharaan. Saat itu pula masyarakat setempat menyadari bahwa ikan raksasa ini sebenarnya tidak berbahaya.

Banyak misteri dari kehidupan hiu paus yang belum terkuak. Christoph Rohner, peneliti dari Universitas Queensland, mengemukakan bahwa ternyata ukuran tubuh hiu paus dapat mencapai 20 meter. Hal itu berdasarkan cara pengukuran terbaru dengan laser yang ditempatkan 50 cm dari kamera pada hiu yang sedang bergerak. Metode ini menghasilkan ukuran yang akurat daripada metode photogrammetery sebelumnya. Selain itu, hewan yang diperkirakan ada sejak 60 juta tahun lalu itu rupanya memasuki usia subur pada usia 30 tahun. Reproduksinya relatif lambat dibandingkan dengan ikan lain yang ada di muka bumi. Mengacu pada International Union for the Conservation of Nature dan Resources, jelas hewan ini tergolong dilindungi. Oleh karena itu, keberadaannya yang sepanjang tahun dapat dilihat di Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) adalah sebuah fenomena sekaligus daya tarik wisata bahari yang unik di dunia.

Catatan TNTC hingga 2012 ada sekira 40 ekor hiu paus yang hidup di kawasan teluk ini. Mereka selalu ada sepanjang tahun dan sering ditemukan berkelompok. Penemuan hiu paus yang terbesar memiliki panjangnya sekira 14 meter dan berbobot 15 ton. Saat ini, perlindungan hanya mengacu bahwa hiu paus adalah satwa yang rentan. Status perlindungan hiu paus ini perlu ditingkatkan sebagai satwa dilindungi seperti dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. Jangan sampai terlambat dan keadaan berbalik seperti tahun 2005 saat hiu terancam karena perburuan siripnya. Lalu keberadaan hiu paus ini di Taman Nasional Teluk Cendrawasih bisa jadi hanya tinggal cerita saja dan penyesalan anak cucu. Tidak ada seorang pun tahu apa lagi yang dapat ditemukan dari penyingkapan di Teluk Cendrawasih. Indonesia layak bangga pada masyarakat Papua di Teluk Cendrawasih yang bekerja sama dengan para peneliti dan aktivis lingkungan untuk menjaga keberadaan ikan terbesar di muka bumi ini.

Bermainlah ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih, tepatnya ke Kwatisore. Di sini Anda dapat menyelam atau snorkeling sembari berinteraksi dan bermain bersama  hiu paus yang jinak. Anda yang belum berminat mencemplung maka bisa memberi makan hewan ini dari atas bagan. Hiu paus adalah alasan kuat mengapa berwisata ke bagian timur Indonesia dapat menjadi begitu spesial. Sepulangnya bertemu hiu paus yang luar biasa itu dipastikan benak Anda dipenuhi rasa terpesona. Jadi, ada pilihan lain berwisata bahari di Papua selain ke Raja Ampat bukan!

Untuk datang ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih, waktu yang bersahabat adalah antara Mei dan Oktober meskipun hiu paus dapat ditemui di sini sepanjang tahun. Tersedia penerbangan dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar menuju Biak, berikutnya menggunakan pesawat Susi Air ke Manokwari atau Nabire. Tersedia juga  penerbangan dari Jayapura ke Biak. Anda yang datang dari Jakarta dan Makassar dapat memanfaatkan penerbangan dengan Batavia ke Manokwari. Dari Manokwari ke TNTC dapat melanjutkan perjalanan menggunakan kapal laut sejauh 95 km. Maskapai Lion menyediakan penerbangan dari Jakarta langsung ke Nabire. Sementara dari Nabire ke TNTC menggunakan perahu motor sejauh 38 km atau sekira 3 jam.

Apabila Anda berminat atau bermimpi melakukan live aboard dengan kapal phinisi maka tersedia operator diving live aboard (LOB) yang melayani jasa penjelajahan di Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Operator diving live aboard dapat ditemui di Bali, Raja Ampat,  dan Sorong. Bagaimana pun juga perjalanan dengan cara live aboard adalah yang paling logis untuk menjelajahi banyak titik menyelam secara sekaligus di TNTC yang sulit dijangkau, tersebar, dan jauh dari daratan. Pilihlah operator yang tepat sesuai kebutuhan Anda. Pihak operator akan mengatur segala kebutuhan Anda selama tinggal berhari-hari di atas kapal. Mereka juga akan mengarahkan pada banyak titik menyelam, mengatur perlengkapan, mengecek arus, menunggu dan memandu Anda selama penyelaman, hingga melayani kebutuhan makanan. (Him | Traverse.id)

Suku Bajo: Kisah Manusia Perahu di Sulawesi

Suku Bajo lahir dan hidup di laut, mereka memiliki ketangguhan untuk mengarungi lautan sebagai bagian dari sejarah dan jati dirinya. Meski saat ini banyak yang tinggal di darat tetapi ketergantungan suku ini terhadap laut belumlah hilang. Anak-anak mereka berteman dan bermain dengan laut, mereka hidup dan dihidupi  dengan lingkungan laut. Meresap dan melekat dalam keseharian mereka tentang adat-tradisi serta kearifan lokal untuk mengelola ekosistem laut di bagian manapun di Nusantara ini, bahkan hingga negeri tetangga!

Apabila Anda berkesempatan mengunjungi Wakatobi, Togean, atau Komodo maka besar kemungkinan akan melihat deretan rumah apung atau perkampungan yang berdiri di atas permukaan laut dangkal sekitar kepulauan tersebut. Itulah perkampungan Suku Bajo yang terkenal sebagai pengarung lautan Nusantara.

Suku Bajo adalah satu dari sekian banyak suku di Nusantara dengan kearifan lokal yang mengagumkan untuk hidup berdampingan dengan ekosistem laut. Saatnya kali ini Anda benar-benar berinteraksi dengan dan mendengar kisah mereka saat mengarungi lautan luas yang membentang tanpa gentar hati.

Meski kini mereka hidup menetap di rumah-rumah sederhana tetapi tetap tidak terpisahkan dari laut. Kemungkinan besar karena alasan inilah mereka membangun rumah di tepian pantai atau di atas permukaan laut yang dangkal. Tampak pancang-pancang terbuat dari kayu menjadi semacam pondasi yang memisahkan dan menjaga rumah-rumah mereka dari terjangan air laut saat pasang. Beratapkan rumbia, berdinding kayu dengan luas yang tidak seberapa, rumah-rumah tersebut biasanya dihuni satu keluarga bahkan lebih. Nampak pula perahu-perahu kayu sederhana terparkir di sekitaran pelataran rumah yang halamannya adalah air laut.

Mata pencaharian utama Suku Bajo adalah mencari ikan dengan cara yang masih terbilang tradisional, seperti memancing, memanah, dan menjaring ikan. Ikan-ikan tersebut nantinya dijual kepada penduduk sekitar pesisir atau pulau terdekat. Kehidupan Suku Bajo memang masih terbilang sangat sederhana. Mendirikan pemukiman tetap pun mungkin tak terpikir oleh mereka apabila tidak dihimbau oleh Pemerintah setempat.

Dengan membangun rumah dan pemukiman di sekitar pulau, akses terhadap kebutuhan pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak suku ini diharapkan lebih terjamin. Meskipun begitu, kepala keluarga biasanya tetap menghabiskan sebagian besar waktunya di laut lepas, mengingat laut adalah ladang mata pencaharian mereka. Ibu rumah tangga suku Bajo selain mengurus rumah tangga juga membantu suami dengan cara mengolah hasil tangkapan ikan atau menenun. Saat melintasi perkampungan yang sederhana ini nampak hamparan ikan hasil tangkapan yang dijemur di sekitar rumah.

Beberapa Suku Bajo bahkan sudah mengenal teknik budidaya produk laut tertentu, misalnya lobster, ikan kerapu, udang, dan lain sebagainya. Mereka menyebut tempat budidaya sebagai tambak terapung yang biasanya terletak tak jauh dari pemukiman. Sebagian kecil masyarakat Suku Bajo bahkan sudah membuat rumah permanen dengan menggunakan semen dan berjendela kaca. Anak-anak Suku Bajo juga sudah banyak yang bersekolah, bahkan ada yang sampai perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran mereka tentang pentingnya pendidikan sudah mulai terbangun.

Suku Bajo yang mendapat sebutan sea nomads atau manusia perahu karena sejak zaman dahulu mereka adalah petualang laut sejati yang hidup sepenuhnya di atas perahu sederhana. Mereka berlayar berpindah-pindah dari wilayah perairan yang satu dan lainnya. Perahu adalah rumah sekaligus sarana mereka mencari ikan di luas lautan yang ibaratnya adalah ladang bagi mereka. Ikan-ikan yang mereka tangkap akan dijual kepada penduduk di sekitar pesisir pantai atau pulau. Inilah asal mula mereka disebut sebagai manusia perahu atau sea nomads. Kini mereka banyak bermukim di pulau-pulau sekitar Pulau Sulawesi, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Persebaran suku Bajo di beberapa daerah di Nusantara tentunya terjadi karena cara hidup mereka yang berpindah-pindah dan berlayar dengan perahu.

Suku bajo tersebar di banyak tempat di Nusantara bahkan hingga ke negara tetangga termasuk Filipina dan Thailand. Satu kesamaan darinya adalah di tempat berbeda tersebut mereka menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa  ibu suku Bajo. Dari segi bahasa yang digunakan suku Bajo saat ini pun ada kesamaan dengan bahasa Tagalog, Filipina.

Selain hidup di sekitar Taman Nasional Kepulauan Togean, masyarakat Suku Bajo tersebar di hampir setiap provinsi di Sulawesi. Di Sulawesi Selatan, pemukiman suku Bajo terpusat di Kelurahan Bajoe, Kabupaten Bone. Orang Bajo di wilayah ini tinggal di kawasan sepanjang pesisir teluk Bone sejak ratusan tahun silam. Di Sulawesi Tengah, masyarakat Suku Bajo menempati Pulau Siatu, Pulau Bomba, Pulau Kuling Kenari, Pulau Tumbu Lawa, dan lainnya. Di Gorontalo, Suku Bajo bermukin di sepanjang pesisir Teluk Tomini, yaitu di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato dan di Tanjung Bajo, Kabupaten Bualemo.

Di Sulawesi Tenggara, dapat Anda temui juga suku Bajo berdiam di pesisir Konawe dan Kolaka. Bahkan suku Bajo di Desa Bangko, Kecamatan Baginti, Pulau Muna, sudah ada sejak abad ke-16. Tersebar juga hunian suku Bajo di Pulau Kabaena, Pulau Wolio, Pulau Buton, Kepulauan Wakatobi (Kaledupa, Binongko, Kapotta dan Tomea).

Suku Bajo juga menetap di Nusa Tenggara Timur, dari Kabupaten Manggarai Barat hingga Flores Timur. Salah satu nama kota sebagai tempat singgah ke Taman Nasional Komodo bernama Labuhan Bajo dan itu diambil dari nama suku Bajo. Orang Bajo juga banyak dijumpai di kawasan sekitar Pulau Komodo dan Rinca. Pemukiman suku Bajo bahkan sampai di Lembata yakni di wilayah Balauring, Wairiang, Waijarang, Lalaba dan Lewoleba. Jauh ke arah timur hingga Timor Barat mereka ada yang menetap di Pulau Adonara (Meko, Sagu dan Waiwerang), Pulau Solor, Alor, dan Timor. Mereka bermukim disana sejak ratusan tahun silam dan hidup rukun dengan penduduk setempat.

Di kawasan Nusa Tenggara Barat, Suku Bajo membangun pemukiman di Pulau Medang. Suku Bajo juga bermukim di Pulau Lombok, menghuni sebuah kampung di Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur. Sedangkan di Pulau Sumbawa, mereka dapat dijumpai di Pulau Moyo dan sekitarnya serta kawasan Bima di timur Sumbawa.

Di Pulau Madura, Jawa Timur, tepatnya di Kepulauan Kangean, Sumenep berdiam juga suku Bajo. Ada pula di Pulau Sapeken, Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, Paliat, dan pulau-pulau sekitarnya. Mereka tinggal bersama dengan suku Madura dan Bugis.

Sekarang ini, seiiring meningkatnya jumlah Suku Bajo yang mendirikan rumah di tepian pantai dan mulai menetap, dikabarkan bahwa jumlah Suku Bajo yang menggantungkan hidupnya di perahu-perahu kayu sudah mulai berkurang.  Meski demikian, mereka tetap tidak terpisahkan dari laut.

Keberadaan Suku Bajo telah mengundang banyak kalangan untuk mengenal lebih jauh asal usul, pola hidup, adat, seni, dan budaya tradisional suku ini. Sineas muda Indonesia, Kamila Andini, bahkan membuat film yang mengangkat kehidupan Suku Bajo dengan setting alam Wakatobi. “The Mirror Never Lies” adalah judul film tersebut dan berhasil menyabet penghargaan sebagai film terpuji versi Festival Film Bandung (FFB) pada Mei 2012. Film ini pun mengantarkan Kamila Andini dinobatkan sebagai sutradara terbaik FFB. Tentunya, keberadaan dan keunikan Suku Bajo menambah keragaman suku dan budaya Indonesia yang terkenal multibudaya dan multietnis.  

Lovina: Harmoni Manusia dengan Alam

Di Lovina, Anda dipandu bercakap dengan alam dan masyarakatnya, tentang sejauh mana keduanya saling menjaga. Ada pelajaran berharga tentang kontribusi masyarakat Lovina yang begitu besar terhadap kehidupan bahari dimana hasilnya bisa kita nikmati hingga hari ini. Mereka tidak hanya bertanggung jawab atas kelestarian lumba-lumba, terumbu karang, atau biota laut apapun di sepanjang perairan Gerokgak hingga Tejakula tetapi lebih dari itu, yakni merekalah tangan-tangan pertama yang memperkenalkannya kepada Anda.

Di bibir Pantai Lovina, dini hari pukul 06.00 WITA. Satu, dua, perahu jukung mulai didorong ke tengah untuk menyusur Laut Bali yang masih tenang. Hari ini akan sedikit berbeda sepertinya, diawali oleh Matahari yang muncul berwarna merah muda-keunguan dan menggelapkan bukit-bukit di sekitarnya. Selang 30 menit kemudian perahu-perahu jukung bertambah banyak. Sepuluh, dua puluh, hingga berjumlah ratusan jukung yang tersebar di seluruh penjuru mata angin sejauh pandangan dilepaskan. Benar bahwa ini akhir pekan tapi alasan mutlak bagi penumpang jukung untuk rela bangun sepagi itu bukanlah sekadar melihat Matahari terbit, melainkan lumba-lumba. 

“Lumba-lumba di sini senang kita kunjungi, kalau tidak senang, dia pasti sudah pergi sejak lama,” ucap seorang bli pengendara jukung. Hal yang sama akan diutarakan oleh para nelayan atau awak perahu. Jika Anda bertanya kepada mereka tentang kapan lumba-lumba tidak muncul. Mereka pasti akan berpikir sebentar lalu menjawab; “hampir tidak pernah”.

Obrolan menarik tentang kelestarian lingkungan bersama masyarakat pegiat bahari di sana membuat seolah waktu serasa terhenti. Komitmen mereka terhadap kelestarian alam mengacu pada Ajaran Tri Hita Karana. Ajaran tersebut mengajak untuk terus menjaga keselarasan dan hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, antara manusia dengan sesama, serta antara manusia dengan lingkungannya. Nilai-nilai luhur ini kemudian tertata dengan baik pada perilaku masyarakat yang begitu bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan. 

Rasa salut terhadap Lovina belum cukup sampai di situ. Bagaimana pemandu wisata bahari menjaga ketertaturan mereka juga sangat menginspirasi. Mereka sepakat untuk menyatukan diri dalam satu organisasi, yaitu Catur Karya Bakti Segara, dimana para pemandu tidak hanya saling belajar dan berbagi untuk menjaga kelestarian lingkungan sendiri, namun juga menjalin persahabatan sehingga persaingan di antara mereka mengendur.

Usai melihat segenap cerita dan gambar menarik dari Lovina, maka tidak sulit untuk memilah-milah belasan brosur tentang destinasi di Bali yang memang menggiurkan. Mari sejenak lupakan tentang meriahnya kehidupan malam di Kuta, ataupun hangatnya Matahari di Sanur. Di Lovina, rasa ingin menikmati hiburan mainstream sejenak terkubur. 

Lovina benar-benar menawarkan sebuah pengalaman yang mahal, yaitu menyaksikan perilaku unik lumba-lumba secara langsung di laut lepas. Mereka di permukaan air melakukan traveling, membentuk kelompok untuk mencari mangsa dan pergerakan migrasi, serta berkomunikasi dengan sesama lumba-lumba. Jika Anda terheran-heran mengapa  lumba-lumba selalu membuat gerakan dan formasi yang teratur, ini karena ada pemimpin lumba-lumba yang mengarahkan kelompoknya menuju tempat tertentu.

Bangunlah pagi-pagi untuk menikmati ini karena hewan cerdas tersebut lebih banyak muncul di pagi hari pukul 07.00-11 WITA, dengan pergerakan dari arah timur laut menuju barat daya. Pada saat sinar Matahari mencapai kecerahan maksimum maka kelompok lumba-lumba kembali ke perairan yang lebih dalam, mengikuti pergerakan mangsanya.

Dengan kaki katak dan snorkel, mulailah berpetualang melihat sekilas keadaan bawah air di Lovina. Terumbu karang yang masih sehat bisa ditemukan di sini, sekelilingnya pun dipenuhi ikan-ikan hias dengan warna-warna yang indah. Banyak yang belum tau bahwa karang-karang ini pernah rusak namun dengan segenap upaya, kelompok Pemandu Wisata Bahari dan kelompok Nelayan di sekitar kawasan Lovina menerapkan sistem konservasi untuk menjaga kelestarian ekosistem laut yang menjadi harapan hidup mereka.

Di samping menyaksikan atraksi natural lumba-lumba. Pantai-pantai berpasir cokelat hingga kehitaman bisa Anda susuri, atau pergilah ke Desa Kalibukbuk agar dengan masyarakat lebih akrab lagi. Dari situ Anda akan belajar bahwa keadaan pemukiman dan pantai seakan menjadi refleksi komitmen warga untuk menjaga Lovina. Ini juga terlihat saat menelusuri jalan-jalan besar dimana saluran drainase dan sungai terjaga kebersihannya. Begitupun dengan jalanan umum, serta tempat pembuangan sampah yang tersedia dimana-mana. Jika Anda teliti, meskipun pasir-pasir di Lovina tidak seputih pasir di Uluwatu, meskipun air lautnya tidak sejernih di Nusa Penida, tapi tidak terlihat adanya pencemaran lingkungan di sini.

Tips

  • Keberadaan populasi lumba-lumba di Lovina sangat bergantung pada perubahan arus dan arah angin. Hewan tersebut dapat diamati setiap hari, namun jumlah terbanyak biasanya terdapat pada bulan Februari-Maret, atau Juli-Agustus. Pada bulan-bulan tersebut angin dan arus berasal dari arah Barat Laut sehingga ikan-ikan kecil yang merupakan makanan lumba-lumba jumlahnya melimpah.
  • Prioritaskan pilihan hotel di pinggir laut agar Anda mudah menjangkau titik start tour dolphins. Akan lebih baik apabila pihak hotel juga menyediakan jasa untuk mengorganisir tour dolphins.
  • Kabupaten Buleleng relatif sepi pada malam hari sehingga Anda disarankan menyewa kendaraan pribadi agar lebih mudah melakukan mobilitas, mencari makan ataupun berbelanja.

Transportasi

Lovina terletak sekira 9 km di sebelah barat Kota Singaraja. Kondisi jalan dari Denpasar atau Kuta ke Lovina sudah cukup baik, karena letaknya berada dekat dengan jalan utama provinsi. Untuk menuju ke Lovina, ada beberapa cara yaituberikut ini.

Dari Bandara Ngurah Rai

  • Menggunakan taksi-taksi dari Bandara, tarifnya sekira Rp350 ribu untuk satu mobil dengan lama perjalanan kurang lebih 3 jam.
  • Menggunakan Bus Trans Sarbagita rute Bandara-Mengwi, turun di Terminal Mengwi, kemudian menaiki angkot Mengwi-Ubung turun di Terminal Ubung. Dari Ubung, bisa melanjutkan dengan bus Ubung-Singaraja-Lovina.

Dari Pelabuhan Benoa

  • Menggunakan taksi/ojek dari Pelabuhan Benoa ke Terminal Ubung, kemudian menaiki bis Ubung-Singaraja-Lovina turun di Pantai Lovina.

Dari Pelabuhan Gilimanuk

  • Menaiki bus/travel Gilimanuk-Singaraja kemudian turun di Pantai Lovina

Dari Pelabuhan Padangbai

  • Menaiki bis/angkot Padangbai-Ubung turun di Terminal Ubung, kemudian dilanjutkan dengan bus Ubung-Singaraja-Lovina turun di Pantai Lovina.

Berkeliling

Setidaknya ada 6 destinasi utama yang dibanggakanoleh Buleleng, termasuk di Lovina. Pemerintah Kabupaten membaginya ke dalam tiga zona yaitu timur, tengah dan barat. 

Timur

Desa Les

Nelayan Desa Les mayoritas mencari ikan hias untuk menghidupi keluarga mereka sejak kurang lebih 30 tahun lalu. Awalnya alat yang digunakan berupa jaring, lalu beralih menggunakan potas atau bius untuk meningkatkan kemampuan mencari ikan seiring banyaknya permintaan ikan hias. Namun karena potas terbukti menyebabkan 70 persen terumbu karang di Desa Les rusak, akhirnya mereka mempelajari cara tangkap ikan yang ramah lingkungan.

Desa Les patut menjadi inspirasi dan dikenang kearifannya karena menaungi masyarakat-masyarakat yang menghargai alam. Kini desa wisata ini merupakan tempat menyelam yang menarik. Terumbu karang yang dahulu rusak sekarang telah tumbuh menjadi barisan hard dan soft coral yang indah, ikan-ikan yang cantik pun kembali berdatangan untuk menghiasi alam bawah lautnya.

Tengah

Desa Kerobokan

Desa Kerobokan terdapat di Kecamatan Sawan, hanya 7 kilometer dari Singaraja. Salah satu yang bisa Anda nikmati di sini adalah kemilau pasir hitam di Pantai Kerobokan yang berbatasan langsung dengan petak persawahan warga sekitar, sehingga baik lanskap pantai dan persawahan bisa Anda nikmati sekaligus. 

Barat

Desa Pemuteran

Pemuteran merupakan desa dengan potensi wisata yang menarik dan menyenangkan. Desa Pemuteran terletak di pesisir barat Pulau Bali atau sekira 55 km arah barat kota Singaraja dan 30 km dari Gilimanuk. Letaknya berada di antara gugusan perbukitan dan hamparan laut sehingga membuat tempat ini begitu indah dan tenang, jauh dari keramaian.

Hal menarik dari Pemuteran adalah terumbu karang di kawasan ini dipelihara dan dikonservasi secara profesional. Masyarakat lokal di kawasan ini sudah memiliki kesadaran tinggi tentang pentingnya menjaga kekayaan alam di desa mereka.

Akomodasi

Ada penginapan di Lovina yang menyediakan atraksi lumba-lumba yang sudah terlatih yaitu Bali Melka Lumba-Lumba Hotel Resor. Tersedia juga banyak penginapan mulai dari penginapan melati hingga hotel mewah, berikut ini beberapa diantaranya:

Zen Resort Bali

Jl. Umeanyar, Desa Ume Anyar, Seririt, Buleleng, Singaraja

Tlp. (0362) 93578

Sander Homestay

Anturan, Buleleng, 81152

Tlp. (0362) 41035

Pulestis Beach Hotel

Jl. Raya Singaraja Seririt Lovina Beach Kalibubuk, Singaraja, 81151

Tlp. (0362) 41035

Hotel My Lovina

Jl. Singaraja-Gilimanuk, Anturan, Buleleng, 81152

Tlp. (0362) 3435884

Bali Lovina Beach Hotel

Pantai Lovina, Singaraja

Tlp. (0362) 41285

Sunari Beach Resort

Jl. Raya Lovina, Desa Kalibukbuk, Singaraja, 81151

Tlp. (0362) 41775

Chonos Hotel

Jl. Raya Singaraja, Seririt, 80571

Tlp. (0362) 41569

Ju’Blu Hotel

Jl. Mawar, Kalibukbuk, Sukasada, Buleleng, 81151

Tlp. (0362) 3391529

Villa Teman

Jl. Palem Kalibukbuk, Lovina, 81152

Tlp. (0362) 3435650

Boutique Hotel Rambutan

Jl. Mawar, Desa Kalibukbuk, Lovina, Buleleng, 81151

Tlp. (0362) 41388

Tepe Villa Lux Appartments

Jl. Mawar, Anturan, Buleleng, 81152

Tlp.  0818-0548-7830

Kuliner

Masyarakat pesisir Lovina kreatif dalam menciptakan kuliner khasnya. Masih dipengaruhi oleh pohon-pohon khas pesisir seperti kelapa muda, ada rujak yeh yang terdiri dari air kelapa setengah tua dengan rasa asin, manis, serta rasa lengkuas. Rujak yeh merupakan ekstrak dari kelapa muda dan air pembuatan lawar. Minuman ini kerap digunakan untuk menetralisir perut dan mulut setelah mengonsumsi hidangan berlemak seperti daging babi. Selain itu, ada minuman es kopyor, minuman es rujak, es tuak manis dan minuman-minuman segar lainnya.

Sudah lumrah bahwa makanan laut merupakan sajian utama restoran-restoran di pesisir, Anda akan menemukannya di sepanjang Lovina. Berikut ini beberapa referensinya.

Secret Garden Restaurant

Jl. Pura Dalem, Lovina, Singaraja

Tlp. 0887-3321-007

Buda Bakery & Resto

Jl. Damai Singaraja, Singaraja, 81151

Tlp. (0362) 42106

Warung Jegeg

Hotel Bali Jegeg, Jl. Raya Lovina, Bali

Tlp. 0813-3799-6096

Spice Beach Club Bali

Pantai Lovina, Jl. Singaraja, Seririt No.224, Kaliasem, 81152

Tlp. 0851-0001-2666

Akar Cafe Lovina

Jl. Binaria, Lovina, Bali

Tlp. (0362) 343536

Berbelanja

Pusat oleh-oleh Krisna juga terdapat di Jalan Seririt, Temukus, Singaraja. Krisna memiliki koleksi buah tangan yang lengkap mulai dari t-shirt motif khas Bali, suvenir, hingga makanan. Lokasinya mudah diakses, memiliki lahan parkir yang luas, serta  disekitarnya terdapat restoran-restoran, mushola dan akomodasi lainnya.

Wajah Bandung yang Flamboyan adalah Wajah Wolff Schoemaker

Seberapa dalam Anda mengenal Bandung maka wajah yang terpancar sejatinya itu adalah karya seorang arsitek bernama Wolff Schoemaker.

Seorang pakar arsitektur asal Belanda, H.P. Berlage ketika berkeliling di kota ini mengutarakan bahwa “Bandung sejatinya adalah kotanya Schoemaker bersaudara”. Itu tidaklah berlebihan karena memang Wolff Schoemaker dan kakaknya, yaitu Richard Leonard Arnold (R.L.A.) Schoemaker begitu terpandang dalam dunia arsitektur Hindia Belanda dengan banyak melahirkan karya monumental di beberapa kota terutamanya paling banyak adalah di Bandung.

Memiliki nama lengkap Prof. Ir. Kemal Charles Proper Schoemaker (1882-1949) merupakan arsitek yang melahirkan banyak karya indah dan megah di negeri ini terutama di rumah peristirahatan terakhirnya, yaitu Bandung. Schoemaker merancang banyak gedung di Bandung ketika kota ini bersolek hingga memikat banyak orang Eropa di Hindia Belanda ini untuk berplesir ke Kota Kembang. Jadilah Bandung dengan karya arsitertur Wolff Schoemaker sebagai kota berwajah Eropa dengan citarasa yang megah.

Karya-karya Wolff Schoemaker memiliki kualitas desain arsitektural megah memukau dan memberi manfaat besar karena terus digunakan meski sebagian di antaranya telah berubah fungsi. Bukan hanya mencipta gedung indah sarat fungsi tetapi juga berhasil menancapkan karyanya sebagai penanda fisik penting di Kota Bandung.

Wolff Schoemaker pun telah berjasa bersama Thomas Karsten dan Henry McLaine Pont dalam banyak karya tulis dari hasil penelitian terkait kebudayaan Nusantara, termasuk arsitektur tradisional candi Nusantara. Karya Schoemaker telah membentuk kesatuan pandangan arsitektur yang memerhatikan potensi dan budaya setempat dimana itu tampak pada karyanya.

Perhatikan lekuk detail karya Schoemaker yang tidak murni Eropa itu berbaur menyatu dengan pengaruh lokal menjadi karya baru yang indah mulai dari gedung pertemuan, hotel, gedung kantor, gedung komersial, masjid, gereja, rumah tinggal, penjara, hingga laboratorium penelitian. Tak pelak, karya Schoemaker itu telah melewati zamannya memberi arti akan keberadaan dari mana ia berasal dan dimana ia berkarya saat itu.

Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika tidak jauh dari Alun Alun Kota Bandung adalah salah satu karya Schoemaker yang menyejarah. Gedung ini bukan saja indah tetapi sekaligus amat penting dalam menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di tahun 1955. Gedung Merdeka meski pada abad ke-19 mulanya digunakan sebagai gedung Societeit Concordia yaitu tempat perkumpulan orang-orang terkemuka Eropa namun Schoemaker telah berjasa merombaknya tahun 1930 dari idiom klasik ke alam nuansa arsitektur modern. Begitu pentingnya gedung bersejarah ini bagi Indonesia dan negara di Asia dan Afrika maka hingga kini tidak ada sedikit pun perubahan berarti dilakukan terhadapnya.

Untitled

Karya lain yang membuat jalinan simpul erat karya Schoemaker di kawasan Alun Alun Bandung adalah hadirnya Hotel Preanger. Meski sudah ada sejak tahun 1920 namun bangunannya yang sekarang merupakan hasil renovasi tahun 1929 oleh Schoemaker dibantu muridnya, Ir. Soekarno yang kemudian menghadirkan hotel paling eksotik pada masa kolonial di Jalur Anyer Panarukan yang melalui pusat Kota Bandung saat itu. Hotel Preanger tampil dengan motif geometrik yang secara dekoratif mengisi pada bidang dan pertemuan elemen bangunannya. Karya ini kemudian menjadi identitas tersendiri dengan sebutan Art Decorative (Art Deco). Hotel Preanger mengingatkan orang pada langgam seni dekoratif Frank Lloyd Wright awal 1920-an, terutama karya Imperial Hotel di Tokyo (1915-1925). Bisa dimungkinkan Schoemaker terimbas pengaruh maraknya langgam serupa di kota-kota Eropa tahun 1920-an karena ia pun pernah merancang dua bangunan komersial di Surabaya serupa, yaitu Kolonial Bank yang berlokasi Jalan Jembatan Merah dan Java Store di Jalan Tunjungan.

Ada gedung lain karya Wolff Schoemaker di Bandung yang memukau terhimpit di antara empat jalan, yakni Jalan Banda, Jalan Menado, Jalan Blitar, dan Jalan Sunda. Gedung itu bernama Jaarbeurs de Bandung. Awalnya gedung yang dibangun tahun 1920 itu diperuntukkan demi keperluan pameran hasil industri organisasi pengusaha industri bernama Vereniging Nederland Indische Jaarbeurs de Bandung. Gedung dengan gaya modern tersebut kini masih indah bertahan meski berganti fungsi menjadi salah satu Markas besar Kodam III Siliwangi. Bila Anda perhatikan, gedung ini memiliki ciri berupa elemen dekoratif klasik tiga buah patung pria di bagian pintu masuk dan bangunan utama paling depan dekat gapura masih utuh sedari awal berdirinya. Bangunan gedung ini memiliki desain dan tata letak dengan menghadirkan banyak ventilasi untuk memasukkan cahaya dan udara alami yang tertata sangat baik.

Amati pula karya Wolff Schoemaker berupa masjid di Bandung, yaitu Masjid Cipaganti di Jalan Cipaganti. Bangunan masjid dari tahun 1933 ini memadukan unsur Jawa dengan Eropa. Unsur seni bangunan Jawa tampil dalam penggunaan atap tajug tumpang dua, empat saka guru di tengah ruang shalat, serta detail ornamen berupa bunga maupun sulur-suluran. Sementara nuansa Eropa hadir pada pemakaian kuda-kuda segi tiga penyangga atap dan penataan massa bangunan pada lahan ‘tusuk sate’ antara Jalan Cipaganti dengan Jalan Sastra. Pola penataan bangunan seperti ini menjadikan masjid tersebut tampak paling menarik jika dilihat dari Jalan Sastra karena terbingkai deretan pepohonan sekaligus menunjukan Eropasentris yang merasuk dalam tata letak bangunan masjid di Jawa.

Seakan ingin menghadirkan keharmonisan religi yang heterogen, Wolff Schoemaker meletakan bangunan gereja tidak jauh dari Masjid Cipaganti, yaitu keberadaan Gereja Bethel yang menghadap Sythof Park Pieter (Taman Merdeka). Bangunan gereja ini lagi-lagi mengambil bentuk atap tajug Jawa serta sentral Palladian dengan menara sudut. Pintu utama gereja ini mengambil inspirasi gothik atau bisa pula mengingatkan bentuk Gereja Romanesk.

Apabila Anda pernah menyambangi Observatorium Bosscha (Bosscha Sterrenwacht) di Lembang, Bandung maka perlu tahu bahwa gedung tersebut juga dirancang Wolff Schoemaker. Bangunan yang berfungsi sebagai tempat peneropongan bintang itu merupakan yang tertua di Indonesia bahkan Asia. Bentuknya yang unik dan dapat terbuka atapnya memang sejak awal difungsikan untuk kepentingan pengembangan ilmu astronomi oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV). Hingga kini fungsi bangunan ini selain menjadi rujukan astronomi di Indonesia juga kerap menjadi tujuan edukasi wisata di Bandung.

Karya lain dari Wolff Schoemaker yang paling indah adalah dua villa di Bandung, yakni Villa Merah dan Villa Isola. Villa Merah berlokasi di Jalan Tamansari dan merupakan rumah tinggal pertama Schoemaker. Bangunannya sangat menonjol memadukan seni bangunan Eropa dengan Indonesia yang beriklim tropis panas dan lembab. Material bangunannya dipaparkan terbuka sehingga warna merah mendominasi hampir seluruh bangunan kecuali atap yang menjulang dan menjadikan vila ini begitu unik karena tanpa padanan.

Sementara itu, Villa Isola merupakan bangunan megah bergaya arsitektur modern yang dianggap berhasil menyatukan bangunan dengan lingkungannya. Tidak itu saja, hunian yang dibangun tahun 1933 ini merupakan contoh perpaduan serasi antara seni bangunan corak Barat dan Nusantara. Tata letak bangunan indah ini mengikuti sumbu utara-selatan dengan taman memanjang menuju arah Gunung Tangkuban Perahu. Kesatuan bangunannya adalah bentuk geometri yang meliuk-liuk plastis dengan ornamen garis-garis moulding dengan memanfaatkan efek gelap-terang sinar Matahari. Berada di Bandung Utara, bangunan di dataran tinggi ini menyajikan pemandangan ke utara yakni Gunung Tangkuban Perahu dan ke selatan ke arah Kota Bandung. Hebatnya adalah pemandangan tersebut dapat dinikmati dari berbagai sudut seperti ruang tidur, keluarga, makan, dan terutama teras atau balkon. Villa Isola yang berlokasi di Jalan Setiabudi itu kini menjadi gedung rektorat Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Villa Isola merupakan salah satu karya puncak Wolff Schoemaker karena perancangannya banyak disebut banyak arsitek cocok dengan jiwanya yang penuh romantisme dan petualangan. Villa Isola juga merupakan salah satu karya arsitektur modern gaya Art Deco yang berhasil di dunia.

Selain gedung pertemuan, hotel, kantor, dan villa, Wolff Schoemaker juga merancang desain bangunan Penjara Sukamiskin. Bangunan penjara yang dibangun tahun 1918 ini mulai digunakan sejak 1924 dan berlokasi di Jalan Cicaheum-Ujung Berung. Bangunan arsitekturnya adalah modern dua lantai dengan kapasitas 547 penghuni. Sekilas, penjara ini mirip dengan Alcatraz di tengah Teluk San Fransisco, California, Amerika Serikat. Komplek Penjara Sukamiskin berdiri di atas lahan seluas 6 hektare, meliputi empat hektare untuk perkantoran dan kamar hunian yang terbagi atas empat blok, yakni, barat, timur, utara, dan selatan. Cerita tersendiri bagi Schoemaker dan kontraktornya, yaitu Lim A Goh, bahwa keduanya sempat dipenjarakan di situ saat masa Pendudukan Jepang.

Semua gedung karya Wolff Schoemaker telah tercatat sebagai warisan cagar budaya di Bandung saat ini. Peruntukannya memang telah beralih fungsi namun keindahan dan jiwa karya yang ingin ditampilkan sang perancang flamboyan itu tetap melekat erat bersama tumbuhnya Bandung sebagai kota metropolitan. Saat ini gedung-gedung tersebut selain menjadi tempat tujuan wisata sejarah dan juga menarik minat fotografer untuk menjadikannya latar foto pernikahan atau pemotretan model.

Seorang Muslim yang Flamboyan

Saat ini memang tidak mudah memperoleh informasi sejarah tentang sosok Wolff Schoemaker selain jejak karya arsitektur di Bandung. Hal utama penyebabnya adalah hilangnya data-data tersebut pada masa Pendudukan Jepang dan berlanjut Agresi Militer Belanda I dan II. Sejumlah informasi terkait sosok Wolff Schoemaker mungkin bisa diperoleh dari buku “Tropical Modernity; The Life & Work of C.P. Wolff Schoemaker” karya C.J. van Dullemen. Sang penulis menuturkan bahwa informasi terkait Wolff Schoemaker itu banyaknya mengandalkan ingatan dari mantan mahasiswa, dosen, dan professor saat aktif mengajar di Technische Hoogeschool (ITB).

Wolff Schoemaker lahir dengan nama lengkap Charles Prosper Wolff Schoemaker di Banyubiru, Semarang, Jawa Tengah, pada 25 Juli 1882. Ia awalnya menjalani pendidikan Akademi Militer di Belanda hingga lulus dengan pangkat letnan zeni militer namun sekembalinya di Hindia Belanda tahun 1905, Wolff Schoemaker justru bekerja sebagai arsitek militer untuk Pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1911 ia keluar dari dinas militer dan dua tahun kemudian bekerja sebagai insinyur teknik pada Dienst Burgerlijk Openbare Werken (Dinas Pekerjaan Umum Batavia). Saat menjabat sebagai direktur di Gemeentewerken Batavia diketahui ia menjadi seorang Muslim.

Wolff Schoemaker sempat menjadi guru Soekarno kala belajar di Technische Hogeschool. Wolff Schoemaker yang seorang Muslim bahkan menyarankan mantan muridnya itu dimana kemudian menjadi presiden pertama Indonesia agar mengarahkan republik yang baru berdiri tersebut menjadi Kesultanan Indonesia Islamiyah. Itu karena dalam pandangan Schoemaker sistem demokrasi dari Barat tidak tepat untuk dijalankan di Nusantara. Beberapa pandangannya mengenai Islam sempat dituangkannya melalui tulisan yang diterbitkan tahun 1937 dalam koleksi essay berjudul “Cultuur Islam”.

Mengenal sosok Wolff Schoemaker sangat menarik hingga pada pilihannya menjadi seorang Muslim. Nama ‘Kemal’ yang dilekatkan padanya disebut beberapa kalangan adalah gelar yang diberikan rekan-rekan sesama Muslim saat ia memilih mengkonversi agamanya menjadi Islam. Wolff Schoemaker adalah seorang Muslim yang aktif dalam kegiatan Islam, diantaranya menjabat wakil ketua kelompok Western Islamic Association di Bandung dan bergabung dalam organisasi Persatoean Oemmat Islam setelah masa Perang Kemerdekaan.

Tahun 1938 Wolff Schoemaker mendapatkan tugas untuk menggantikan kakaknya, Richard Schoemaker, sebagai pengajar di Techincal University di Delft. Dalam perjalanan menuju Belanda itu Wolff berkesempatan untuk mampir dan tinggal di Kairo, Mesir. Setelah berada di Belanda, tahun 1938 Wolff Schoemaker memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Akhir tahun 1939 Wolff kembali ke Bandung dan melanjutkan tugasnya sebagai professor di Technische Hoogeschool (ITB).

Sebagai pengajar senior, Wolff Schoemaker disegani mahasiswa Indonesia karena ketegasannya sementara di kalangan mahasiswa Belanda dan orang Eropa mereka masih tidak dapat memahami pilihan Wolff Schoemaker berpindah agama menjadi Islam. Wolff Schoemaker menyatakan bahwa karakter humanis dan toleran dalam Islam memberikan peluang bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Itulah yang membuat Wolff Schoemaker merasa cocok dengan pilihannya. Wolff Schoemaker merupakan figur yang sangat terbuka terhadap ilmu pengetahuan dengan karakter unik meski tidak mudah dipahami lingkungannya saat itu. Tidak mudah pula untuk dapat berteman dengannya karena menilainya sebagai seorang temperamental namun sekaligus flamboyan.

Fakta unik tentang Wolff Schoemaker adalah meski kegiatannya sebagai Muslim cukup menonjol namun dari empat kali pernikahannya ia tidak pernah menikahi wanita Muslim. Anehnya juga sebagai seorang Muslim saat ia wafat pada usia 66 tahun (22 Mei 1949) ia oleh keluarganya dimakamkan di TPU Kristen Ereveld Pandu Bandung. Prof. Ir. Kemal Charles Proper Schoemaker memang hidup dari masa Pemerintahan Hindia Belanda namun ia hampir sepenuhnya mencintai negeri ini dan kota yang dibinanya, yaitu Bandung. Bukan hanya karena ia menjadi Muslim dan mendukung pergerakan kemerdekaan tetapi juga karena ia memang peranakan Indo-Belanda.

Hal yang perlu menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung terhadap arsitek sarat jasa ini adalah mengapa ia tidak memperoleh penghargaan sama sekali meski hanya menjadi nama jalan di kota tersebut. Padahal jelas berkat karya Wolff Schoemaker Bandung memiliki banyak ikon gedung dan bangunan yang mampu menjadi penanda fisik kota yang mendunia.

Bau Nyale: Pencarian Wujud Putri Menuju Pasola

Lima hari setelah purnama ke-10 pananggalan kalender Suku Sasak menandakan sebuah kejadian besar yang berulang tiap tahunnya. Seorang rato atau pemimpin kepercayaan animisme Marapu akan mengukur hari pasti datangnya kejadian yang dinantikan. Bau Nyale atau ‘mencari cacing laut’ yang berwarna warni adalah saat yang ditunggu suku sasak untuk bergerombol mencari nyale yang menggulung menepi ke bibir pantai .

Kata bau dalam bahasa Lombok berarti menangkap dan nyale adalah sejenis cacing laut yang muncul dipermukaan hanya beberapa kali dalam setahun. Bau Nyale adalah upacara meriah dimana suku sasak berramai-ramai menangkap nyale di sepanjang pesisir pantai. Suku Sasak sendiri adalah kelompok etnis dominan yang mendiami Pulau Lombok.

Dengan kemegahan pakaian tradisionalnya, para Rato sepakat akan satu hari yang telah dihitung, dengan berdiri di atas batu nisan menghadap bulan yang merona penuh. Warga yang mendapat kabar segera melakukan ritual sebelum hari besar yang ditunggu datang. Biasanya ayam dimasak dan ketupat dibuat. Bila darah masih terlihat pada usus ayam atau warna coklat kemerahan nampak pada ketupat, maka sesuatu kejadian pilu akan berlangsung saat Pasola, pesta rakyat Pulau Sumba berbentuk permainan di atas kuda dan melempar lembing sebagai tanda syukur atas panen berlimpah.

Walau Bau Nyale dan Pasola memiliki perbedaan cerita legenda, keduanya menyatu dalam satu titik dimana pesta nyale dilangsungkan untuk menyambut pasola. Nyale adalah cacing laut beraneka warna dan ditangkap untuk diolah menjadi masakan khas. Menikmati nyale adalah pertanda kemakmuran, sedangkan menolaknya dapat berakibat bencana. Setidaknya para penganut Marapu sangat yakin akan hal itu.

Legenda mengatakan bahwa dahulu kala, Putri Mandalika dari Lombok yang cantik rupawan menolak pinangan beberapa pangeran, dan akhirnya memilih untuk mengorbankan dirinya ke laut agar kecantikannya dapat dinikmati bukan saja oleh para pengeran, tapi juga para penduduk yang selalu memuja dan memujinya. Saat terbenam dalam gelombang laut, Putri Mandalika berubah wujud menjadi apa yang sekarang dikenal dengan nyale, dan terjadi pada hari yang sama.

Bagi warga Lombok, nyale bukan hanya cacing biasa tetapi dianggap sebagai makhluk suci yang membawa kesejahteraan bagi mereka yang menghormatinya atau kemalangan bagi mereka yang mengabaikannya. Keyakinan ini didasarkan pada legenda Putri Mandalika. Legenda mengatakan bahwa pada masa lalu, hiduplah seorang putri cantik bernama Mandalika. Cerita tentang kecantikannya terkabar samapi ke setiap sudut pulau sehingga banyak pangeran jatuh cinta padanya dan sangat ingin menikahnya. Untuk mendapatkannya, mereka menciptakan suatu pergolakan di seluruh pulau. Melihat kejadian ini, sang putri sedih dan merindukan perdamaian di tanahnya. Untuk mengakhiri kekacauan itu, Putri Mandalika menenggelamkan dirinya ke laut. Saat pengikutnya mencoba untuk menemukan tubuhnya, mereka hanya menemukan cacing laut yang berlimpah yang saat ini dikenal sebagai nyale. Dengan demikian, nyale diyakini sebagai reinkarnasi Putri Mandalika. Oleh karena itu nyale yang muncul setiap tahun di pantai dianggap sebagai putri cantik yang mengunjungi bangsanya.

Bau Nyale merupakan peristiwa yang paling penting bagi masyarakat suku Sasak. Mulai dari penduduk desa, pemerintah setempat, serta wisatawan akan berduyun-duyun ke pantai melebur menjadi bagian dari tradisi kuno ini. Inilah kesempatan untuk merasakan budaya eksotis dengan latar belakang pandangan pulau yang indah dan magis, Bau Nyale sangat layak untuk dikunjungi. Selain di Pulau Lombok, upacara Nyale ini juga dikenal di Pulau Sumba, dimana upacara tersebut diikuti oleh tradisi perang lembing berkuda, yaitu Pasola.

Di gugusan pulau Nusa Tenggara, Bau Nyale dan Pasola adalah kombinasi dari dua acara budaya yang tak berbanding, selain keajaiban Komodo yang fenomenal dan juga keheningan air di danau Kelimutu, danau tiga kawah yang menampilkan tiga warna berbeda pada penikmatnya. Menjadikan Nusa Tenggara sebagai tujuan wisata adalah satu hal yang tak akan disesali walau cerita di balik legenda ini begitu dramatis. Lebarkan peta Nusa Tenggara dan mulailah susun agenda perjalanan berpetualang Anda berikutnya.

Merentang Tenun Flores di Desa Doka

Di balik gunung, segumpalan kabut merajalela hingga ke bawah lembahnya, menaungi sebuah desa yang bertekad bertahan meskipun zaman coba menggerusnya dengan berbagai cara. Di sinilah salah satu tenunan tradisional khas Flores dibentuk helai demi helai benang, dicelup dengan warna alami dari alam, dirangkai dengan buah tangan-tangan terampil yang memukau, hampir saja keelokannya sebanding dengan kejutan alam Flores yang megah itu.

Desa Doka adalah desa yang sanggup  membenamkan kesan mendalam bagi Anda. Tangan-tangan terampil wanita Desa Doka begitu lihai dan memukau menenun dan menari. Keahlian menenun di desa ini terbilang istimewa karena hampir 100% alami dan tradisional. Keahlian yang dimiliki para wanita di desa ini begitu luar biasa, profesor sekalipun belum tentu dapat menghasilkan karya secantik lembaran tenunan khas Flores. Setidaknya ada lebih dari 20 tahapan selama hampir sebulan agar sebuah kain tenunan Flores dapat memanjakan mata dan diapresiasi peminatnya dengan transaksi jual beli.

Kemampuan menenun di Desa Doka telah dibina dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka belajar di sekolah adat kuno sebagai sebuah tradisi turun-temurun. Sebuah kearifan lokal yang tidak disembunyikan tetapi dipertontonkan sebagai sebuah atraksi yang menarik.

Mereka melakukan semua aktivitas merangkai sehelai kain tenunan secara tradisional. Benar-benar tradisional, mulai dari memetik kapas, memintalnya menjadi benang, hingga proses pewarnaan menggunakan daun nila, akar mengkudu, dan kulit batang nangka sebagai pewarna alami. Tidak sedikit pun cairan kimia ikut andil di sini alih-alih menimbulkan pencemaran lingkungan. Mereka bersahabat dengan alam dan tak ingin mengotori Bumi.

Wanita muda hingga dewasa apalagi yang tua, mereka handal memisahkan kapas dari bijinya dengan menggunakan alat bernama keho. Setelah kapas terpisah, kemudian benang di pintal untuk menghasilkan serat benang. Benang-benang yang telah jadi berikutnya digulung menggunakan seler. Hasil gulungan benang tersebut menjadi bahan dasar tenun untuk menghasilkan motif  ikat.

Berikutnya benang halus diberi warna dari olahan bahan-bahan alami. Untuk memperoleh warna hijau dari tanaman nila, kuning dari hepang, coklat dari kayu-kayu kering, dan merah dari akar mengkudu. Bahan-bahan tersebut ditumbuk halus kemudian dicampurkan air. Benang pun direndam sekitar 1 jam agar warna terkesan luntur alami. Benang yang beraneka warna akan direntangkan pada kayu yang disebut hani.

Setidaknya ada 11 warna tercipta dari bahan alami yang ramah lingkungan. Warna dari bahan alami dan benang dari kapas membuat warnanya memang tidak secerah benang modern tetapi justru lebih tahan lama dan menguak warna yang makin lama makin indah.

Berikutnya proses penunan menggunakan alat tenun tradisional dengan satu jalur benang. Di Flores, ada banyak jenis mesin untuk menciptakan motif yang lebih rumit. Itulah mengapa harga sehelai tenunan Flores tidaklah murah.

Kain tenun biasa dipakai wanita Flores sebagai pelengkap busana, selain sebagai selendang atau sarung. Anak perempuan Flores yang beranjak remaja tidak boleh telanjang lagi. Wanita Flores yang beranjak dewasa ditandai dengan datang bulan dan mereka diwajibkan mengenakan kain serta memanjangkan rambutnya agar dapat dikonde.

Adat Flores mengarahkan para ibu dan anak wanitanya ikut melestarikan kain tenunan Flores. Meski mereka tidak hanya membuat untuk dijual tetapi tradisi Flores mengajarkan tiap keluarga harus memiliki kain tenun yang digunakan baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun acara adat. Para wanita yang menenun di Desa Doka bukan sekadar memproduksi sehelai kain yang dapat dijual tetapi secara tradisional mereka melestarikan budaya bangsa dan kearifan lokalnya. Bertahan dari gerusan zaman yang kadang tanpa ampun.

Taman Nasional Danau Sentarum: Hutan di Atas Air

Sebuah danau yang menjadi sumber air Sungai Kapuas menjulur sepanjang 1.143 kilometer dan mengambang di antara gunung-gungung menjulang setinggi 750 meter. Menempuhnya harus menyusuri sungai sejauh 700 kilometer dari Pontianak dan beberapa riam memaksa Anda untuk mendorong longboat melaju membelah air Kapuas kecoklatan. Mengunjungi danau ini adalah pembuktian kecerdasan naturalistik Anda demi menyatukan rasa ingin tahu terhadap Kalimantan dalam satu keranjang petualangan.

Luas membentang di Kalimantan Barat, Taman Nasional Danau Sentarum memiliki fungsi amat vital bagi kehidupan di sepanjang jalur sungai yang mengalir darinya menjadikannya diakui sebagai salah satu situs Ramsar, yaitu sebuah perjanjian internasional untuk melindungi daerah konservasi air terpenting dunia.

Sebelum tahun 1999, status taman nasional ini belum lahir. Bahkan kelahirannya harus melalui proses panjang hingga tahun 2006, barulah operasionalisasi taman nasional ini betul-betul berjalan. Danau Sentarum menjadi destinasi wisata internasional dimana keindahannya mewarnai foto-foto perjalanan para petualang dunia.

Saat pasang, kedalamannya mencapai 6 hingga 8 meter, airnya menjadi coklat kemerahan akibat bahan asam tannin dari pohon dan daun yang membusuk di dalam air. Fungsinya sungguh banyak, bagi kehidupan flora dan fauna, juga bagi manusia. Saat surut, danau ini hanya menyisakan beberapa titik air sebagai sumber hidup bagi mahluk-mahluk yang bersembunyi di balik semak belukar taman nasional ini. Kapuas pun tak selamanya besar saat danau ini tak menyisakan tabungan airnya. Maka penting sekali menjaga kelestarian danau ini bagi keberlangsungan mahluk hidup di danau, di ujung sungai, dan segala sesuatu diantaranya.

Beberapa endemik, yakni satwa dan tumbuhan khas dari daerah ini, tersebut dalam catatan ilmuwan seperti tembesu atau tengkawang (Shorea beccariana), jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), meranti (Shorea sp), keruing (Dipterocarpus sp), dan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri). Penduduk yang tinggal di sekitar danau terhitung sebanyak 20 desa dan mengakomodir sekitar 20.000 penduduk yang sudah terbiasa dengan obat-obatan alami seperti ambong-ambong (Blumea balsamifera), akar ara (Ficus sp), asam kandis (Garnia sp), asam tekala (Alpinia sp), aur-aur (Aneilema scaberrimun), bangelai (Zingiber pupureum), bawang gilang (Eleutherine americana), gambir (Uncaria gambir), kayu lawang (Cinnamomum sp), kunyit kuning (Curcuma domestica), kunyit putih (C. Zedoaria) nilam (Pogostemon cablin), dan pasak bumi (Eurycoma longifolia).

Selain itu, bila Anda  cukup beruntung, beberapa satwa unik dapat ditemui seperti siamang (Hylobates muelleri), keluarga kera seperti bekantan (Nasalis larvatus), orangutans (Pongo pygmaeus), long-tailed monkey (Macaca fascicularis), tupai (Callosciurus notatus, C. Prevostii), tupai besar (Ratufa affinis), beruang madu (Helarctos malayanus), dan macan pohon (Neofelis nebulosa). Beberapa jenis burung cantik seperti bekakak (Halcyon capensis), enggang gading (Rhinoplax vigil), rangkong (Buceros rhinoceros), elang kepala putih (Haliastur Indus), dan burung Raja Udang (Alcedo meninting), adalah tuan rumah yang mewakili 230-an species burung, 143 species mamalia, dan 23 spesies endemik dari Kalimantan, termasuk ikan arowanaasia dan ikan badut loach botia. Sekitar 26 jenis reptil pun ditemukan di taman nasional ini termasuk false gavial dan buaya estuarine.

Siapkanlah perbekalan petualangan Anda  yang selama ini hanya dipajang. Pesan paket dari sekarang atau ajaklah beberapa teman untuk menemani liburan Anda  ke Kalimantan Barat dan taman nasionalnya yang belum banyak disentuh. Tak hanya sekedar alamnya yang menawan, budayanya pun akan mengajak Anda  untuk hidup sementara di dunia dongeng tentang Kalimantan yang menantang.

Aktivitas

Waktu terbaik untuk mengunjungi taman nasional ini ialah di bulan Juni hingga September. Datanglah ke Bukit Lanjak dan Nanga Kenelang untuk mendapatkan spot terbaik saatmengamati burung-burung endemik, bersampan, dan juga mengambil gambar terhebat. Para petualang birdwatching paling sering mendatangai tempat ini. Bila Anda  ingin melihat laboratorium penelitian, datanglah ke Bukit Tekenang.

6kilometer dari pusat kecamatan Lanjak, rumah betang atau rumah panjang suku Dayak dapat ditemukan. Bergabunglah bersama mereka untuk menikmati kehidupan bersama 100 orang di tengah-tengah alam yang hangat. Dayak Iban menjadikan daerah ini kediamannya, dan juga Sungai Sedik sebagai tempat perburuannya. Suku Tembaloh hidup di sebelah timur danau dan suku Kantu di sebelah barat danau yang juga memiliki gaya hidup yang hampir sama.

Transportasi

Dari Pontianak, kendaraan roda empat dapat menjadi alternatifmenuju taman nasional ini dengan melalui Sintang hingga ke Semitau. Perjalanan darat ini memakan waktu kira-kira 11 jam. Bila melalui sungai, perjalanan menyusuri sungai akan menempuh waktu selama 7 jam dengan menggunakan perahu bandongdari Siantang ke Semitau. Dari Semitau, perahu adalah satu-satunya cara menuju Lanjak dimana Anda  dapat menjumpai danau yang dilindungi ini.

Bila Anda  ingin lebih cepat, perjalanan menggunakan pesawat terbang dapat ditempuh selama 2 jam dari Pontianak menuju Putussibau. Dari Putussibau, perahu bandong kembali akan membawa Anda  selama 7 jam ke Nanga Suhaid.

Putussibau merupakan kota terdekat dari taman nasional ini. Jarak yang sebenarnya dari Pontianak menuju Putussibau ialah 846 kilometer melalui darat, atau sekitar 814 kilometer melalui sungai. Di Putussibau, Anda  masih dapat menemukan jejak-jejak peradaban modern dimana penginapan,bank, dan toko makanan masih mudah didapatkan.

Akomodasi

Anda sebaiknya sudah menduga bila bermalam di Taman Nasional Danau Sentarum bisa begitu ekstrim. Kemungkinan terbesar ialah Anda  harus tidur di atas kapal bandong, sekaligus memasak, dan makan segala sesuatu yang Anda  siapkan. Pengalaman ini tentu tak akan dapat Anda lupakan dan inilah petualangan yang sebenarnya.

Bila tidur di atas perahu terdengar tidak begitu ramah bagi Anda , cobalah untuk mengunjungi salah satu rumah di desa-desa yang terdekat dari tempat Anda. Sewalah kamar untuk Anda  menginap dan pengalaman ini pun akan menjadi salah satu pengalaman yang terbaik bagi Anda.

Putussibau pun menawarkan beberapa tempat menginap walau tak banyak. Diantaranya berikut ini.

  • Aman Sentosa Hotel di Jl. Diponegoro no. 14 Phone: +62 567 21691
  • Marisa Hotel di Jl. Melati  no. 3, Phone: +62 567 21125
  • Harapan Kita Guesthouse di Jl. Sembatan Pelita no. 3 Phone: +62 567 21157
  • Uncak Lestari Guesthouse di Jl. Lintas Selatan, Phone +62 567  21822

Tips

  • Bank hanya terdapat di Putussibau, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Jl. DI Panjaitan (Phone: +62 567 21020, 21177, 21866, atau 21007) dan Bank Kalbar di Jl. Merdeka (Phone: +62 567 21123, 21171, or 21585). ATM tidak dapat Anda temukansejauh ini di daerah taman nasional. Maka rencanakanlah perjalanan Anda dengan baik.
  • Paket perjalanan yang menjual petualangan di Kalimatan ialah:
  • Extreme Borneo:  http://www.extremeborneo.com/ 
  • Borneo Tour Gigant at http://www.borneotourgigant.com/

Alor = Alam Lestari Orang Ramah

Terhimpit di antara rimbunnya gugusan pulau di ujung timur Flores, Pulau Alor adalah impian bagi penyelam bawah laut dan para petualang dari berbagai negara. Pulau ini mampu membuai para petualang dan pelancong hingga terlena sampai batas akhir, bahkan bagi mereka yang datang lebih dari sekali ke sini. Bisa jadi ini adalah tujuan wisata Indonesia di masa depan!

Alor adalah sebuah pulau di gugusan bagian timur Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Telah tersohor jauh-jauh hari sebelumnya oleh mereka para penjelajah dan penikmat keindahan bawah laut. Ya, Alor memang digadang-gadang sebanding dengan keindahan taman bawah laut di Karibia, benarkah itu? Atau bahkan lebih?

Keindahan bawah laut Alor telah disaksikan langsung oleh banyak penyelam dari berbagai negara mulai dari Amerika, Australia, Austria, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Kanada, Selandia Baru, hingga beberapa negara di Asia. Di perairan sekitar Alor setidaknya ada lebih dari 60 titik menyelam dengan 20 di antaranya berkualitas terbaik di dunia. Titik-titik menyelam tersebut tersebar mulai dari Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, Pulau Buaya, Pulau Kepa, Pulau Ternate, Pulau Pantar, dan Pulau Pura. Sederetan daftar nama titik-titik meyelam di Alor itu dapat membuat bingung dan bertanya-tanya ada apa di bawahnya? Mengapa begitu banyak?

Perpaduan laut Indonesia yang hangat dengan Laut Australia yang dingin telah menjadikan Alor sebagai tempat pertemuan biota laut yang unik sekaligus megah. Saat menyelam di Alor, bahkan mereka yang tergolong para profesional saja tetap berdecak kagum. Bagaimana tidak, di sini mereka dapat menyelam bersama sunfish dan menemukannya lebih dari sekali. Ini jelas diasumsikan ada banyak sunfish atau mola-mola menetap di perairan Alor. Lupakan Seaworld, menyaksikan cara hidup mereka langsung di alamnya adalah sangat luar biasa.

Adalah Magnus Mattsson, salah satu fotografer bawah laut pertama yang telah mengindentifikasikan secara pasti ada lebih dari 50 ekor sunfish di perairan Alor. Bahkan ia pernah menyelam dan bersnorkling sembari bermain bersama sunfish hampir setengah jam lamanya. Berenang bersama sunfish atau bahkan sekelompok orca liar pastinya adalah impian bagi para penyelam dimanapun. Binatang besar ini sering ditemukan di perairan Alor dan sangat luar biasa untuk menyelam bersama mereka demi sebuah kenangan yang tak terlupakan.

Jangan kaget juga apabila melihat lumba-lumba (Delphinidae) melompat kesana-kemari seakan menyambut dan mengajak Anda untuk terjun menyelam bersama. Makhluk yang menakjubkan itu dapat dilihat setiap hari dari atas perahu dan fantastis mereka sesekali mengeluarkan semburan air ke permukaan. Apabila Anda beruntung bisa saja menyaksikan langsung saat sekelompok paus orca (Orcinus orca) bekerja sama untuk memburu lumba-lumba ini. Biasanya mereka melintas antara Oktober hingga November, saat dimana arus laut bersahabat bagi penyelam.

Ada banyak tebing dan jurang di taman bawah laut Alor seakan tak terlukiskan kata-kata. Tersusun seperti rak buku dimana setiap bagian dihuni oleh beragam biota dan karang yang mengagumkan. Semua yang pernah melihatnya secara langsung pasti lebih menyarankan untuk menyaksikannya sendiri lalu bercerita hingga kehabisan kata-kata.

Kepa Alor

Salah seorang yang berjasa mengenalkan surga bawah air yang memesona ini adalah Kal Muller. Ia telah menuliskan bagaimana keindahan bawah laut Alor dan menyebutnya sebagai taman laut kelas dunia. Dalam dua bukunya yang berjudul “Underwater Indonesia” dan “East of Bali”, Karl Muller mengungkapkan bahwa Alor memiliki air laut yang bersih, biota laut yang beraneka ragam, dan banyak titik selam yang dapat dinikmati bahkan saat malam hari. Ia seakan mengekspos habis-habisan sehingga membukakan mata dunia untuk berbondong-bondong menuju keajaiban bawah laut Alor.

Untuk menuju Alor, khususnya Anda yang datang dari wilayah barat Indonesia, ada penerbangan dari Jakarta ke Bandara El Tari, Kupang. Berikutnya lanjutkan penerbangan ke Bandara Mali di Kota Kalabahi, yaitu ibu kota Kabupaten Alor. Rute penerbangannya masih sangat terbatas beberapa maskapai saja, salah satunya yang setiap hari tersedia adalah maskapai Trans Nusa.

Kegiatan penjelajahan taman bawah air di Alor dapat dimulai dari Pelabuhan Kalabahi dan beberapa dermaga sekitarnya. Operator diving akan mengatur semua perlengkapan, makanan, tujuan, dan transportasi ke berbagai titik menyelam di sekitar Alor, termasuk apabila Anda berminat melakukan penyelaman malam hari. Jangan heran pula apabila di pulau ini rata-rata operator diving adalah orang asing yang fasih berbahasa Indonesia serta telah lama tinggal di Alor dan sekitarnya.

Budaya Moko dan Al-Quran Berusia 800 tahun di Pulau Alor

Alor memang bukan pulau besar seperti Flores tetapi cukup mencengangkan di sini telah ditemukan peninggalan sejarah yang luar biasa, yaitu moko dalam jumlah yang amat banyak. Museum 1.000 Moko di Kalabahi Alor bahkan berambisi melewati angka 1.000 koleksi moko. Adalah cukup menjadi tanda tanya bahwa moko di Alor tidak dibuat oleh masyarakat asli Alor karena budaya moko sejatinya berasal dari kebudayaan perunggu Dongson di Vietnam Utara.

Orang Alor sendiri percaya bahwa moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi. Moko memiliki peranan penting bagi masyarakat Alor, yaitu kepemilikan terhadap jumlah dan jenis moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang. Di beberapa suku tradisional di Pulau Alor moko digunakan sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Selain sebagai alat musik tradisional, Moko juga berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor. Hal inilah yang kemudian menyebabkan inflasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda sehingga membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko di Pulau Alor.

Saat ini, moko berfungsi sebagai peralatan belis atau mas kawin serta simbol status sosial. Dalam adat dan istiadat pernikahan masyarakat Alor, moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon isterinya. Moko dipercaya dapat mengikat pernikahan.

Selain moko, Pulau Alor ternyata secara mengejutkan menyimpan sebuah Al-Quran yang berusia 800 tahun. Kitab suci umat Islam tersebut hingga saat ini adalah yang tertua bukan saja di Indonesia tetapi di Asia Tenggara. Terbuat dari bahan kulit kayu dan pewarna alam, Al-Quran ini masih utuh kelengkapan ayat dan suratnya. Tahun 1982, sempat terjadi kebakaran di perkampungan Muslim ini termasuk rumah tempat disimpannya Al-Quran tua tersebut. Untungnya Al-Quran itu selamat dan tidak rusak padahal disimpan dalam kotak kayu yang mudah terbakar. Al-Quran tua ini pada April 2011 pernah sekali dibawa keluar dari Pulau Alor untuk dipamerkan dalam Festival Legu Gam, Ternate, melalui Kesultanan Ternate.

Anda dapat melihat Al-Quran tersebut di Desa Alor Besar yang disimpan oleh Nurdin Gogo, yaitu generasi ke-15 keturunan Iang Gogo, penyebar agama Islam yang datang dari Ternate. Iang Gogo membawa Al-Quran dari kulit kayu ke wilayah ini sekaligus berperan sebagai guru agama Islam. Ia hidup pada masa Sultan Baabullah (1570-1583) tetapi Al Quran tua tersebut diperkirakan sudah ada sebelumnya.

Agama Islam sendiri bukanlah agama mayoritas di Alor tetapi keberadaan Al-Quran tua ini sangatlah berarti bagi masyarakat Kabupaten Alor. Hal itu menunjukan bagaimana kerukunan hidup beragama begitu terjalin harmonis, persis seperti watak masyarakat Alor yang ramah. Bahkan kiranya tidak keliru apabila orang-orang memanjangkan kata Alor yang singkat sebagai: Alam Lestari dan Orang Ramah. Kunjungi Pulau Alor dan buktikan sendiri!

Tana Toraja: Negerinya Orang Mati yang Hidup

Terlindung aman di luar gunung tinggi dan tebing batu granit, inilah tempat dimana  masyarakat Toraja tinggal, di sebuah lembah subur dengan terasering sawah menghijau dan perkebunan kopi yang subur. Inilah salah satu tempat terindah di Indonesia yang menyimpan daya magis dalam kultur extravaganza Tana Toraja serta bebatuan megalitik Lore Lindu.

Pesonanya terkuak ketika tengkorak-tengkorak manusia menunjukan kemisteriusannya kepada Anda juga puluhan kerbau dan babi yang pasrah disembelih untuk upacara kematian demi sebuah ritus ‘Orang Mati yang Hidup’ .

Di sinilah Anda dapat melihat situs makam pahat di Lemo, makam goa purba di Londa, menhir di Rante Karassik, dan perkampungan Kete Kesu unik. Semuanya terpeliharanya dalam bingkai adat budaya karena masyarakatnya sangat menghormati leluhur dengan tetap menjaga eksistensi pekuburannya.

Tahun 2004, berkat kekayaan budayanya, Tana Toraja dimasukkan dalam daftar sementara warisan budaya dunia oleh UNESCO (Inscription World Heritage-C1038). Menyambut hal ini masyarakat Toraja menggelar upacara Pesta Toraja (Toraja Fiesta) di pasar seni Rantepoa, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Acara tersebut menyuguhkan serangkaian tarian dan atraksi dari 15 kecamatan di Tana Toraja. Toraja Fiesta adalah salah satu perwujudan Rambu Tuka’, ungkapan kegembiraan 

Ketika Anda pergi ke dataran tinggi Tanah Toraja maka bersiaplah terpesona keindahan alamnya yang menakjubkan. Di saat yang sama ada daya tarik dari masyarakatnya telah mempertahankan kepercayaan dan tradisi mereka dalam siklus kehidupan yang kekal dan kematian di Bumi. 

Jalan dari Makassar ke Toraja sepanjang pantai sekitar 130 km kemudian berakhir di  pegunungan. Setelah masuk ke Tana Toraja di pasar Mebali maka Anda akan memasuki pemandangan luar biasa berupa batu granit abu-abu dan pegunungan biru. Keindahan ini sempurna dalam balutan kontras tumbuhan hijau. 

Di sini, bangsawan Toraja diyakini keturunan dewa yang turun dengan tangga surgawi untuk tinggal di Bumi dengan alamnya yang indah ini.

Untuk menjaga kekuatan tanah dan rakyatnya, masyarakat Toraja percaya bahwa tanah ini harus dipertahankan melalui ritual untuk merayakan mereka hidup dan yang telah mati, melekat saat musim taman. Di Toraja kehidupan secara ketat dipisahkan dari upacara kematian.

Toraja terkenal dengan upacara kematian yang dapat berlangsung selama berhari-hari melibatkan seluruh penduduk desa. Tidak hanya pada saat berkabung tetapi juga untuk acara hiburan dan persaudaraan komunitas yang ada.

Upacara kematian, diadakan setelah musim panen selesai. Biasanya antara bulan Juli dan September. Sementara upacara kehidupan digelar saat musim tanam di bulan Oktober. Saat itu penguburan tidak di lakukan dengan segera tetapi ditunda selama beberapa bulan bahkan kadang bertahun-tahun, disimpan di rumah khusus hingga waktu yang tepat dan tersedianya dana.

Anda yang datang ke Toraja tertarik pada keunikan budaya juga pada ritualnya. Berpusat pada upacara penguburan dan kuburannya. Sementara yang lainnya memilih untuk melakukan trekkingke pedesaan sekitar Toraja yang hampir tak tersentuh. Mencumbu desa-desa terpencil atau berarung jeram di Sungai Sa’dan.

Ibu kota Toraja adalah Makale tetapi pengunjung biasanya pergi ke kota Rantepao, sebuah jantung Tana Toraja.

 

Kegiatan

Berkelilinglah ke Londa, Lemo dan Tampang Allo dimana Anda dapat melihat pemakaman yang telah terkenal ke dunia internasional. Sebuah pemakaman di dinding berbatu dan gua-gua yang dipenuhi peti mati dan tulang-belulang manusia. Anda tidak perlu takut untuk masuk ke dalam asal tidak sekali-sekali Anda ada keinginan untuk mengambil tulang belulang mereka.

Datanglah di bulan Juni, Juli, atau Desember untuk menjadi saksi penyembelihan puluhan kerbau dan babi secara kolosal oleh para penjagal. Anda akan melihat bagaimana unik dan sakralnya adat-istiadat di tempat ini.  Kerbau bagi masyarakat Toraja merupakan hewan kurban saat upacara kematian, di samping babi. Menurut kepercayaan, arwah kerbau menjadi sarana transportasi bagi arwah yang meninggal untuk menuju puya, tempat peristirahatan yang terletak di selatan tempat tinggal manusia.

Upacara adat kematian Rambu Solo’ adalah upacara kematian  dimana keluarga yang ditinggalkan membuat pesta sebagai tanda penghormatan kepada yang meninggal. Pesta ini mulai berlangsung satu malam bahkan hingga 7 malam dengan menyembelih berpuluh-puluh ekor kerbau dan babi bergantung strata sosial masyarakat Toraja.

Untuk melihat tempat tinggal orang Toraja, kunjungilah Desa Ke’te Kesu’, Anda akan menemukan deretan Tongkonan dihias dengan indahnya dan lumbung padi. Tongkonan adalah rumah khas Toraja dengan atap mirip pelana atau mengingatkan kita pada tanduk kerbau. Atapnya terbuat dari bambu yang dibelah dan disusun bertumpuk, namun saat ini banyak juga yang menggunakan seng. Tongkonan memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata emas, perunggu, besi dan kuningan. Dinding rumah tradisional ini dihiasi pola abstrak dan geometris dengan warna hitam alami, merah, dan putih. Ke’te Kesu juga dikenal dengan ukiran bambu dan kerajinan tradisional.


Di  Lemo terdapat kuburan yang menggantung di dinding khusus bagi bangsawan. Kawasan pekuburan batu ini disebut Lemo karena gua batu terbesarnya berbentuk bundar, menyerupai buah jeruk, dan liang-liang kuburannya seakan membentuk bintik-bintik pada buah jeruk tersebut. Konon, kuburan yang tertua di Lemo ini adalah kuburan seorang tetua adat bernama Songgi Patalo yang berumur 500 tahun.

Di  Suaya ada makam keluarga raja, sedangkan di dekat Sangala ada kuburan pohon bayi. Kepercayaan Toraja kuno meyakini bahwa bayi dan anak-anak yang mati harus dikubur di sebuah pohon, dimana pohon akan tumbuh di sekitar mayat.


Kunjungi juga Palawa, yaitu pusat tenun Toraja dan desa adat untuk melihat rumah tradisonal Tongkonan dan kawasan penguburan sekaligus tempat untuk melakukan upacara dan festival

Lanjutkan perjalanan Anda ke Batu Tumonga di lereng Gunung Sesean sekitar 25 km dari Rantepao. Di sini Anda akan menemukan panorama terasering sawah yang indah hijau berkilauan tersebar bersama batu-batu megalitik besar. Sejumlah batu-batu ini telah berubah menjadi kuburan gua. 

Sa’ dan sampai ke ‘Barana’ adalah pusat  anyaman tradisional, berada di Sesean sekitar 16 km sebelah utara Rantepao. Daerah ini dikenal memilki tenun ikat tradisional khas Toraja.

Akomodasi

Anda yang ingin tinggal di pusat kota tersedia beragam hotel besar maupun kecil yang dapat dipesan melalui agen perjalanan.

Apabila Anda memiliki jiwa petualang mengapa tidak untuk mencoba menginap di rumah pedesaan.

Berikut ini sejumlah daftar hotel-hotel di Tanah Toraja.

  • Hotel  Heritage Toraja dan Toraja Prince Hotel adalah hotel bintang tiga di  Rantepao. Lihat cari hotel
  • Hotel Misilian Toraja Hotel di Jalan Jurusan Makele, Rantepao
  • Hotel Marante Toraja di Jalan Jurusan Palopo, Rantepao
  • Hotel Marannu di Jalan Pongtiku 116-118, Makale, Tanah Toraja
  • Hotel Indra Toraja di Jalan Landrorundun 63, Rantepao.
  • Bungalow Sallebayu dan Restoran Bonoran-Ke’te’/Kesu-Rantepao, Tanah Toraja. Mengoperasikan 8 bungalow dengan pendingin ruangan dan fasilitas lainnya. 

Kuliner

Ada banyak restoran di tempat wisata dan warung di sepanjang jalan. Lebih baik bawalah makanan sendiri ketika berpergian. Apabila Anda datang bersama agen perjalanan maka akan dibawa ke restauran atau makanan bungkus di bus. 

Menu khas makanan Toraja  yang dapat Anda cicipi adalah pakpiong ayam, sayur  daun ubi yang di tumbuk, sate keong, puding labu dan banyak menu khas lainnya yang khas dengan menggunakan media alas daun pisang.

Pa’piong yaitu masakan tradisional Toraja yang dimasukkan ke dalam bambu berisi daging babi, daging kerbau, daging ikan mas. Namun, dagingnya tidak dicampur satu dengan yang lain tetapi dicampur dengan sayur dan bumbu. Sayurnya (utan bulunangko)atau sayur mayana yang kadang menggunakan buah nangka muda atau batang pisang. Bumbu sayur dicampur dengan garam, jahe, daun bawang dan cabe. Kadang juga daging babi, daging ayam, ikan mas atau daging kerbau ditambahkan darahnya dicampur baik daging yang sudah di potong kecil, sayur, dan bumbu. Setelah semuanya tercampur rata, lalu dimasukkan ke dalam tabung-tabung bambu muda yang sudah dipotong sepanjang ruasnya. Selanjutnya, bambu ditutup remasan daun pisang lalu dibakar langsung di atas perapian dengan kayu yang agak sulit terbakar dibentangkan melintang dan kedua ujungnya ditopang untuk menyandarkan bambu tersebut.

Tak lengkap jika Anda berkunjung ke Tana Toraja tanpa menikmati kopi toraja. Kopi toraja Ada adalah satu minuman yang dicari oleh setiap orang yang berkunjung ke Toraja. Kopi Toraja sangat terkenal dan telah mendunia di kalangan pecinta kopi. Kopi Toraja merupakan jenis kopi arabika (Cofeea arabica) yang dapat tumbuh dengan baik di ketinggian 700 – 1.700 m dpl, dengan suhu rata-rata 16 – 20 °C beriklim kering selama 3 bulan per tahun berturut-turut. 

Berbelanja

Ada banyak toko souvenir di Rantepao di mana Anda dapat membeli barang khas Tanah Toraja seperti pakaian, tas, dompet, dan kerajinan lainya. 

Di Rantepao, Anda dapat mengunjungi pasar tradisional  Bolu dan mendapatkan biji kopi Toraja berkualitas tinggi seperti Robusta dan Arabika. Di sini Anda juga dapat menemukan kalung manik-manik antik nan cantik.Pada saat pasar mingguan  upayakanlah untuk  melihat transaksi kerbau dan babi yang sedang dilelang.Kerbau atau tedongdan babi, banyak diperjualbelikan bahkan bisa mencapai lebih dari 500 ekor kerbau dan babi dijual di pasar ini.

Di Lemo Anda dapar membeli berbagai cenderamata untuk oleh-oleh seperti kaos bergambar tongkonan, kain tenun khas Tana Toraja, peralatan rumah tangga dari kayu dengan ukiran khas Tana Toraja, dan  masih banyak lagi.

Di beberapa di pasar tradisional setempat dapat Anda temukan buah-buahan  seperti tamarella atau terong belanda dan ikan mas.

Berkeliling

Bemo yang merupakan alat transportasi setempat dan cara terbaik untuk berkeliling. Di samping itu Anda juga dapat menyewa kendaraan minibus atau jeep dengan atau tanpa supir untuk untuk menikmati perjalanan berkeliling pedesaan.

Transportasi

Untuk sampai ke Tana Toraja Anda harus terbang ke Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, ibu kota provinsi Sulawesi Selatan sekaligus menjadipusat aktivitas di Indonesia Timur. Ada banyak maskapai penerbangan terbang ke dan dari Makassar baik dari Jakarta, Bali, Manado, dan kota-kota lain. (Lihat: Penerbangan ke Makassar)

Dari Bandara Hasanuddin, terdapat dua pilihan transportasi yang dapat membawa Anda ke Tana Toraja yaitu menggunakan pesawat kecil berkapasitas 24 orang atau menyewa mobil melalui jalan darat. Menggunakan pesawat, Anda akan sampai di Bandara Pong Tiku, terletak di Rantetayo, Tana Toraja, dalam waktu 45 menit, sedangkan jika menempuh jalan darat, baru 8 jam kemudian Anda tiba di Tana Toraja. Pesawat ke Tana Toraja hanya terbang dua kali dalam seminggu, yaitu pada hari Selasa dan Jumat. Ada banyak bus ke Rantepao dari Makassar setiap hari. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 8 jam, termasuk untuk berhenti makan. Tiket harus dibeli di kota dan berangkat dari terminal bus DAYA sekitar 20 menit perjalanan dengan menggunakan Bemo. Jadwal keberangkatannya yaitu pagi hari (pukul 7:00), tengah hari (pukul 13:00) dan malam hari (pukul 19:00).

Beberapa perusahaan di Rantepao mengoperasikan bus ke Makassar. Jumlah bus setiap hari tergantung jumlah penumpangnya.Akan lebih baik dan mudah untuk Anda meminta bantuan agen perjalanan berpengalaman dalam  menyusun dan mengurus perjalanan ke Toraja.

Tips

  • Anda yang berkunjung ke tempat ini diharapkan berpakaian adat serta menghargai aturan adat istiadat masyarakat Toraja. 
  • Perhatikan kepala Anda saat masuk ke rumah tradisional Tongkonan karena lorong-lorongnya yang rendah. Anda dapat membawa hadiah untuk mereka seperti rokok ketika memasuki Tongkonan.
  • Sebagian jalan tidak diaspal jadi gunakan mobil yang tepat, bahkan ketika cuaca baik antara bulan Mei dan Oktober.
  • Enrekang, Makale di Dataran Tinggi Toraja dikelilingi tebing batu vulkanik yang menakjubkan. Jangan lewatkan untuk mengambil gambarnya.