Home Blog Page 9

Bambu Sorume: Alat Musik khas Suku Mekongga

Di negeri ini bambu lebih luas dari sekadar jenis tanaman. Itu karena bambu mampu difungsikan untuk beragam keperluan, mulai dari mendekorasi ruangan, untuk bahan pakaian, alat rumah tangga, untuk bahan kerajinan dan bahkan dapat dinikmati sebagai kuliner. Di beberapa daerah di Indonesia, bambu juga  diolah menjadi alat musik bersuara merdu. Sebut saja angklung dari Jawa Barat atau calung dari Jawa Tengah.

Tidak hanya membudaya di Pulau Jawa dan Sumatera, keberadaan bambu pun begitu vital di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Warganya kerap memainkan hingga 40 bilah bambu sebagai alat musik tiup. Lima nada sekaligus yakni bass, tenor satu, tenor dua, suling dan kendang mampu dihasilkan. Tanpa vokal, alat musik yang disebut bambu sorume ini akan menghibur masyarakat setempat.

Nama sorume sendiri diambil dari sebutan untuk wilayah Kolaka. Alat musik ini diyakini sudah lahir sejak zaman penjajahan Belanda, Suku Mekongga lah pencetusnya. Dahulu, suku asli di Kabupaten Kolaka itu memiliki mata pencaharian bertani. Saat menghabiskan hari-hari di ladang, mereka menyisakan waktu untuk bermain alat musik. Alih-alih, suara bambu tersebut juga mampu mengusir hama.

Begitu sederhana Suku Mekongga memanfaatkan bambu sebagai instrumen. Bambu kering diambil begitu saja dan dilubangi hingga menjadi suling, ketika itu Suku Mekongga belum mengetahui aspek organologis dan cara untuk menghasilkan nada tertentu.

Sejak 1924, bambu sorume berkembang menjadi alat musik wajib bagi siswa laki-laki di sekolah rakyat. Dengan cara itulah kesenian tersebut dipertahankan eksistensinya agar tidak pudar. Salah satu sekolah yang kini masih melestarikannya adalah SDN 2 Sabilambo. Akan tetapi, bambu sorume yang dimainkan siswa di sana berbeda karena instrumen hanya dibuat dalam tiga nada: bass, tenor dan suling dengan nada do, la, mi.

Dewasa ini dalam sebuah pertunjukkan, bambu sorume telah dimodifikasi dengan instrumen lain seperti piano, organ dan saxophone. Perpaduan alat musik itu  biasanya membawakan lagu daerah, pop atau dangdut.

 

 

 

Triton: Alat Musik Tiup Kerang Khas Papua Barat

Musik dan tarian telah menjadi budaya yang mampu mendeskripsikan masyarakat di Papua Barat. Orang di sana memiliki jiwa seni tinggi dan senang menari diiringi alunan musik tradisional. Siapapun yang mendengarnya maka akan turut merasakan riuh semangatnya. Di Papua Barat, setiap suku memang memiliki tarian yang dibawakan di waktu tertentu seperti untuk menyambut tamu, pesta panen, dan lainnya.

Walau jenis alat musik tradisional Papua yang masih sering digunakan tidak sebanyak dimasa dahulu namun seperangkat tarian dan latar musik khasnya masih terus diwariskan dari generasi ke generasi. Baik di rimbunan hutan hingga pesisir pantai dimainkan harmonisasi dari gabungan musik petik, pukul hingga tiup sekalipun. Mereka memiliki tifa, ukulele, falun, pikon dan triton. Kesatuan alat musik akan mengalunkan lagu yang enak didengar dan mampu membuat pendengarnya tekagum dengan musik Papua yang khas. 

Umumnya alat musik tiup terbuat dari bambu berbentuk silinder dengan lubang-lubang kecil. Akan tetapi, di Papua Barat, terdapat alat musik triton yang berupa kerang besar kosong. Mungkin tampak seperti hiasan saja namun sebenarnya ada keistimewaan di balik benda ini. Triton hampir digunakan di seluruh wilayah Papua dan Papua Barat, terutama di daerah pesisir seperti Kepulauan Raja Ampat, Kaimana, Biak, Teluk Wondama, Yapen, Waropen dan Nabire. 

Awalnya triton hanya digunakan sebagai sarana komunikasi atau sebagai alat panggil. Biasanya digunakan orang tua untuk memanggil anaknya ataupun digunakan kepala suku untuk memanggil warganya. Warga setempat meyakini bahwa triton dapat melantunkan nada-nada indah, kini pun penggunaannya beralih sebagai sarana hiburan dan alat musik tradisional.

Nama lain dari triton adalah tabura, jika beruntung warga setempat dapat menemukannya di pantai. Mereka kerap memainkan triton untuk mengiringi tarian tradisional. Semuanya bisa menghasilkan suara yang bagus asal terus-menerus berlatih pernapasan. Untuk memainkannya, mulut dikembungkan dan diusahakan menutup lubang kerang kecil yang ada pada triton. Apabila dapat melakukannya dengan sempurna maka suara triton akan sangat merdu terdengar. 

Danau Kaolin: Lansekap Cantik untuk Objek Foto yang Apik

Dini hari saat Matahari baru menampakkan diri, danau ini sedang terlihat cantik-cantiknya. Awan di langit perlahan memunculkan pendaran warna jingga mengantarkan bulatan Sang Surya tepat di pelupuk mata Anda. Hamparan putih tanah kaolin yang ditambang akan membentuk cekungan-cekungan menganga. Begitu kontras karena airnya berwarna hijau toska berkilauan mengisi cekungan layaknya langit sedang bercermin di Bumi.

Belitung tidak semata tentang pantainya yang menawan, ada keistimewaan lain yang tak kalah rupawan. Danau Kaolin, sebuah tempat yang kerap diabadikan fotografer untuk menciptakan potret lansekap menarik dari warna danau yang unik. Dari atas pesawat saat hendak mendarat, danau ini pun sudah terlihat dari ketinggian. Anda akan mudah mengenali karena warnanya yang kontras.

Danau Kaolin terletak di Jalan Murai sekitar 10 km dari Bandara HAS Hananjoedin, Tanjung Pandan. Kaolin ditambang untuk dijadikan kertas, keramik, porselin, pasta gigi, kosmetik,  logam, pupuk, hingga karet. Akan tetapi, aktivitas penambangan di danau ini sudah tidak aktif lagi.

Sekilas memang tampak seperti Kawah Putih Ciwidey di Jawa Barat tetapi danau ini tidak bau belerang karena tidak terbentuk dari kawah yang masih aktif, airnya pun tidak panas dan aman sehingga warga masih sering menggunakannya untuk mandi. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa mandi di dalam Danau Kaolin dapat membuat kulit menjadi halus dan lembut. Akan tetapi, demi keamanan saat ini kegiatan tersebut sepenuhnya dilarang.

Keadaan sekeliling Danau Kaolin terus berubah dari waktu ke waktu. Wisatawan dahulu bisa turun dan mendekati Danau Kaolin melalui tangga-tangga buatan. Akan tetapi, sekarang danau ini tidak bisa dihampiri lagi oleh sembarang orang karena sebatang tangga itu sudah ditimbun pasir oleh penambang. Meskipun demikian, danau masih bisa dinikmati dari kejauhan dan tetap menghasilkan foto yang apik.

Menangkap panorama Matahari terbit adalah aktivitas yang difavoritkan fotografer jika mengunjungi tempat ini. Tidak seperti titik sunrise pada umumnya, Danau Kaolin tidak akan mengajak Anda berlelah-lelah trekking untuk mendapatkan foto yang istimewa.

Tidak ada fasilitas umum di sekitar danau. Bagi yang tidak hobi fotografi, biasanya mereka hanya menikmati danau sambil berfoto bersama. Sore hari juga merupakan waktu yang tepat untuk menikmatinya karena cuaca panas bisa terhindar. Perlu diketahui bahwa Danau Kaolin tidak dipenuhi oleh pepohonan sehingga panas Matahari tidak bisa tersaring.

Karena jaraknya dekat dari bandara, Anda yang tidak mengejar Matahari terbit dapat menuju Danau Kaolin setelah tiba di Tanjung Pandan ataupun sebelum Anda kembali pulang. Ada rental yang menyewakan mobil seharga Rp500-700 ribu per hari untuk berkeliling satu per satu menyambangi keelokan Bumi Laskar Pelangi.

Suku Tengger Bromo: “Hindu Lama-Penguasa Tengger yang Budiman”

Suku tengger adalah warga asli yang mendiami kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, di Jawa Timur. Masyarakat Tengger sejak awal merupakan penganut Hindu yang taat dan sedikit berbeda dengan yang ada di Bali. Mereka adalah pemeluk agama Hindu lama dan tidak seperti pemeluk Hindu umumnya. Hingga kini mereka meyakini sebagai keturunan langsung dari pengikut setia Kerajaan Majapahit.


Suku Tengger di Bormo dikenal sangat berpegang teguh pada adat dan istiadat Hindu lama yang menjadi pedoman hidup mereka. Keberadaan suku ini juga sangat dihormati oleh penduduk sekitar karena menerapkan hidup sederhana dan jujur. Mata pencaharian mereka sebagian besar adalah petani dan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari adalah bahasa Jawa Kuno. Mereka tidak memiliki kasta bahasa, sangat berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai umumnya memiliki tingkatan bahasa.

Tingkat pertumbuhan penduduk suku Tengger yang berdiam di kawasan pegunungan Tengger ini tergolong rendah. Meskipun keberadaan mereka terpusat di sekitar kawasan tersebut tetapi persebarannya kini telah mencapai sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang.

Dari namanya asal-usul kata tengger berasal gabungan dua kata, yaitu teng dan ger. Keduanya merupakan akhiran kata dari dua nama, yaitu Roro An-teng dan Joko Se-ger. Hal itu terkait Legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Menurut penuturan masyarakat setempat, diyakini bahwa mereka adalah keturunan Roro Anteng, yaitu seorang putri dari raja Majapahit dan Joko Seger, yaitu putera seorang brahmana. Asal mula nama suku Tengger diambil dari nama belakang Rara Anteng dan Jaka Seger. Keduanya membangun pemukiman dan memerintah di kawasan Tengger ini kemudian menamakannya sebagai Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger atau artinya “Penguasa Tengger yang Budiman”.

Disebutkan bahwa Rara Anteng adalah wanita yang sangat cantik sehingga banyak pria berebut memperistrinya. Akan tetapi, Rara Anteng sendiri jatuh hati pada seorang putra brahma bernama Joko Seger. Hubungan mereka terhalang oleh seorang penjahat sakti bernama Kyai Bima dan ingin menjadikan Rara Anteng sebagai istri. Rara Anteng menolak pinangan Kyai Bima dengan isyarat mengharap dibuatkan lautan pasir di atas gunung dalam waktu satu malam. Tidak dikira ternyata Kyai Bima menyanggupinya kemudian berupaya membuat lautan pasir menggunakan tempurung (batok) dan untuk mengairi lautan pasir tersebut dibuatlah sumur raksasa. Melihat Kyai Bima hampir berhasil, Roro Anteng kemudian bergesgas menggagalkannya dengan cara menumbuk padi sekeras mungkin agar ayam berkokok dan burung berkicau sebagai pertanda pagi hari telah tiba. Hal itu ternyata membuat Kyai Bima terkecoh dan menyerah sehingga meninggalkan pekerjaannya. Sisa-sisa pekerjaan Kyai Bima terlantar di kawasan ini, yaitu: hamparan lautan pasir di bawah Gunung Bromo yang disebut Segara Wedhi, sebuah bukit berbentuk seperti tempurung di selatan Gunung Bromo yang disebut Gunung Batok, serta gundukan tanah yang tersebar di kawasan Tengger, meliputi: Gunung Pundak-Lembu, Gunung Ringgit, Gunung Lingga. Gunung Gendera, dan lainnya.

Suku Tengger di Gunung Bromo rutin mengadakan beberapa upacara adat dan yang terbesar adalah Hari Raya Yadnya Kasada atau Upacara Kasodo. Saat perayaan hari besar suku Tengger ini Gunung Bromo bukan hanya dikunjungi umat Hindu Tengger dari berbagai penjuru Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tetapi umat Hindu dari Bali yang merasa mereka adalah keturunan dari Kerajaan Majapahit. Tidak hanya itu, saat upacara ini berlangsung, Pura Luhur Poten Bromo yang berada di antara Gunung Batok dan Gunung Bromo akan dikunjungi oleh banyak wisatawan dari berbagai negara dan penjuru Tanah Air.

Selain upacara Yadnya Kasada, ada juga Hari Raya Karo dan Unan-Unan. Berhubungan dengan siklus kehidupan warga suku Tengger juga diadakan ritual adat yaitu: saat kelahiran (upacara sayut, cuplak puser, tugel kuncung), menikah (upacara walagara), kematian (entas-entas, dan lainnya), upacara adat berhubungan siklus pertanian, mendirikan rumah, dan juga terkait adanya gejala alam seperti leliwet dan barikan.

Apabila Anda ingin bertemu dan berinteraksi langsung dengan warga suku Tengger maka persebaran utama mereka ada di sekitar Gunung Bromo dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Untuk menuju lokasi ini maka Anda dapat melalui Kota Surabaya atau Kota Malang menggunakan mobil sewaan atau kendaraan umum. Anda dapat menginap di salah satu hotel di kawasan ini untuk memastikan melihat Matahari terbit yang menakjubkan di Bromo.

Semana Santa: Seminggu Penuh Pekan Suci Paskah di Larantuka

Kota Larantuka di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur setahun sekali akan begitu riuh didatangi puluhan ribu peziarah dari berbagai daerah dalam bahkan luar negeri. Mereka berbondong-bondong mengikuti perayaan Semana Santa selama seminggu penuh masa Pekan Suci Paskah.

Perayaan yang mengadaptasi budaya Portugis ini merupakan ritual yang masih dilakukan di Larantuka sejak 5 abad lalu. Makna perayaannya menempatkan pusat ritual kepada Yesus dan Bunda Maria, Ibu Yesus, sebagai wanita berkabung (Mater Dolorosa) karena menyaksikan penderitaan Anaknya sebelum dan saat disalibkan. 

Perayaan Semana Santa dimulai dari hari Rabu Trewa atau Rabu terbelenggu. Pada hari itu, umat dan peziarah akan berkumpul berdoa untuk mengenang Yesus yang dikhianati Yudas Iskariot, muridNya.

Sejak pagi ibu-ibu melakukan pengajian, yakni menyanyikan nyanyian ratapan Mazmur dalam bahasa Latin di kapel. Saat jam 3 sore, secara beruntun umat dan peziarah mengetukan bunyi-bunyian yang sambung menyambung sampai ke seluruh daerah Larantuka, menandakan saat memasuki masa berkabung. Setelah itu, tidak diperkenankan bunyi-bunyian maupun melakukan pekerjaan apapun. Di hari tersebut, Larantuka berubah menjadi kota perkabungan suci. 

Sepanjang hari sebelum sore di hari Kamis Putih, umat peziarah berdoa dan bergantian melakukan penyembahan “cium Tuan” di sejumlah situs rohani, diantaranya di kapel Tuan Ma (Bunda Maria), kapel Tuan Ana (Tuhan Yesus), dan kapel Tuan Meninu (patung kanak Yesus) dan patung Tuan Bediri (patung Yesus sedang berdiri dengan ayam jantan di kanannya); sebagai wujud permohonan doa kepada Tuhan Yesus melalui perantara Bunda Maria. 

Aktivitas di hari Kamis Putih juga berpusat di kapela Tuan Ma (Bunda Maria), memandikan dan membalutkan kain berkabung berupa mantel beludru hitam, ungu atau biru. Kemudian dilanjutkan pembukaan peti patung Tuan Ana di kapel Tuan Ana. 

Sore harinya, ada tradisi pemasangangan “tikam turo”, yaitu pancang atau tiang lilin di kanan kiri jalan rute perarakan Jumat Agung oleh “mardomu” yaitu seorang atau keluarga yang mengajukan diri sesuai nazar agungnya melayani Tuhan, sesuai kebutuhan untuk keperluan prosesi; pada kegiatan ini umat juga akan membantu mardomu. 

Perayaan Ekaristi berlangsung saat malam hari, mengenang perjamuan terakhir Yesus dengan muridNya, pembasuhan kaki para murid, dan juga pembacaan kisah penangkapan Yesus sampai menunggu diadili.

Puncak Acara dilakukan saat Hari Raya Wafat Isa Almasih atau Jumat Agung. Diawali perarakan bahari membawa patung Tuan Meninu, yaitu melawan arus laut Selat Gonzalo dan menahtakannya di Pohon Sirih. Saat siang hari, dilakukan perarakan mengenang sengsara dan wafat Yesus dengan mengarak Tuan Ma, Tuan Ana, dan Tuan Meninu keliling kota menuju Katedral Larantuka. 

Saat perarakan sambil melantukan pujian, terdapat delapan pemberhentian yang disebut dengan armida. Armida mewakili kedelapan situs rohani sebagai simbol kehidupan Yesus, sejak dikandungan Maria hingga wafatnya di dunia. 

Pagi hari saat Sabtu Suci, ketiga patung dikembalikan ke kapel masing-masing. Mulai saat itu, masa berkabung sudah lewat dan persiapam memasuki masa perayaan Kebangkitan Yesus Kristus. 

Larantuka dikenal dengan nama Reinha Rosari yang dalam bahasa Portugis berarti Kota Ratu atau Kota Maria, diambil dari sejarah penampakan Tuan Ma dan menjadi pelindung serta pemimpin di kota kecil nan bersahaja ini. Kisah ini pun menjadikan Larantuka sebagai salah satu pusat berkembangnya Katolik di Indonesia.

Dengan demikian, perayaan Semana Santa yang berasal dari tradisi akulturasi Portugis dan penduduk lokal, menjadi daya tarik bagi umat Katolik di seluruh Tanah Air bahkan wisatawan mancanegara. 

Sebenarnya tradisi ini masih ada dilakukan di beberapa bagian daerah dunia. Hanya saja, Larantuka termasuk kota yang sangat aktif melakukan prosesi ini sampai saat ini.

Adanya tradisi Semana Santa menjadikan kota Larantuka yang memiliki nilai budaya rohani yang tinggi, dan menyampaikan pesan damai, keramahan yang hangat dari penduduk Larantuka kepada pendatang. Di samping perayaan Semana Santa, wisatawan dan peziarah akan disuguhkan panoraman alam yang menakjubkan di Larantuka. 

Untuk menuju Larantuka, dari Bali atau Kupang, Anda bisa melanjutkan penerbangan ke Bandara Wai Oti di Maumere. Kemudian lanjutkan dengan menempuh sekira 3 jam perjalanan.

Candi Singosari: Tiruan Gunung Meru yang Berpuncak di Kaliasa

Candi Singosari awalnya disebut dalam sebuah laporan kepurbakalaan tahun 1803 oleh Nicolaus Engelhard, seorang Gubernur Pantai Timur Laut Jawa. Ia melaporkan tentang reruntuhan candi di daerah dataran tandus di Malang. Tahun 1901 Komisi Arkeologi Belanda melakukan pennelitian ulang dan penggalian. Berikutnya 1934 Departemen Survey Arkeologi Hindia Belanda Timur merestorasi bangunan ini hingga selesainya tahun 1937. Anda dapat melihat goresan tanda penyelesaian pemugaran ini pada batu kaki candi di sudut barat daya. Saat ini banyak arca-arca dari reruntuhan Candi Singosari disimpan di Museum Leiden Belanda.

Tidak banyak jejak sejarah yang dapat Anda lihat dari kejayaan Kerajaan Singosari yang pernah berkuasa abad ke-13 di Jawa Timur. Salah satu yang tersisa adalah sebuah candi yang belum selesai dibangun dan dua patung raksasa penjaga di depan istana. Candi Singosari disebut masyarakat setempat sebagai Candi Cungkup. Awalnya sempat dinamakan Candi Renggo, Candi Menara, dan Candi Cella. Untuk sebutan yang terakhir karena candi ini memiliki celah sebanyak 4 buah di bagian tubuh candi. Hingga kini nama yang lebih dikenal adalah Candi Singosari karena letaknya di Singosari.

Banyak yang menganggap bahwa Candi Singosari adalah makam Raja Kertanegara sebagai raja terakhir Singosari. Akan tetapi, pendapat ini diragukan banyak ahli, lebih dimungkinkan Candi Singosari merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa karena sistem mandala yang berkonsep candi Hindu dan sekaligus sebagai media pengubah dari  air biasa menjadi air suci (amerta).

Ada informasi yang mencukupi dapat diketahui tentang Singosari dari teks Jawa kuno abad ke-14 yaitu “Pararaton” atau kitab raja. Candi Singosari yang dibangun tahun 1304 ini umumnya dihiasi dari bawah hingga atasnya. Bila Anda perhatikan hiasan tersebut tidak seluruhnya terselesaikan sehingga ada dugaan candi ini dalam proses pembangunan yang belum selesai kemudian ditinggalkan. Dimungkinkan akibat adanya peperangan yaitu serangan Kerajaan Gelang-Gelang pimpinan Jayakatwang tahun 1292 hingga menghancurkan Kerajaan Singosari, sering disebut juga masa kehancuran Singosari atau pralaya.

Kerajaan Singosari didirikan tahun 1222 oleh seorang rakyat biasa bernama Ken Arok, yang berhasil menikahi putri cantik Ken Dedes dari Janggala setelah membunuh suaminya. Ken Arok kemudian menyerang Kediri dan berhasil menyatukan dua wilayah terbelah yang pernah dipisahkan oleh Raja Airlangga tahun 1049 sebagai warisan untuk kedua putranya.

Singosari kemudian berhasil mengembangkan pertanian yang subur di sepanjang aliran sungai Brantas, serta perdagangan laut yang menguntungkan di sepanjang Laut Jawa. Pada 1275 dan 1291 Raja Singosari yaitu Kertanegara menyerang kerajaan maritim Sriwijaya di Sumatera Selatan dan kemudian mengontrol perdagangan laut di laut Jawa dan Sumatera.

Dalam masa kejayaannya, Singosari begitu kuat, bahkan Kaisar Mongol Kubilai Khan yang perkasa menganggap penting mengirim armada dan utusan khusus ke kerajaan Singosari untuk menuntut Raja Kertanegara secara pribadi  untuk memberikan loyalitas kepada Mongol. Sebagai jawabannya, ternyata Raja Kertanegara memotong telinga salah satu utusan tersebut sebagai pesan kepada Kubilai Khan bahwa Singosari tidak akan tunduk.

Kemudian Kertanegara dibunuh oleh salah seorang raja bawahannya yaitu Jayakatwang tahun 1293. Ketika armada perang dikirim oleh Kubilai Khan tiba di Jawa, mereka tidak mengetahui bahwa rupanya Raja Kertanegara sudah tiada. Menantu Kertanegara, Raden Wijaya, berhasil membujuk armada Kublai Khan untuk membunuh Jayakatwang, tetapi kemudian justru berbalik mengusir armada Mongol dari Jawa.

Raden Wijaya selanjutnya mendirikan kerajaan Majapahit tahun 1294 di utara Singosari yaitu di Porong. Maka berlangsunglah sebuah masa keemasan bagi sebuah kerajaan bernama Majapahit yang kekuasaannya mencakup Indonesia saat ini dan bahkan hingga ke Malaysia dan Thailand.

Kegiatan

Sisa-sisa candi Singosari yang belum selesai dibangun itu dapat Anda lihat di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. Candi ini terbuat dari batu andesit dengan bangunan yang menghadap ke barat. Di halaman depan terdapat kumpulan patung, sementara di bawah terdapat dua patung besar wali yang dikenal sebagai Dwarapala.

Candi Singosari  terdiri dari 4 bagian utama.

  1. Bagian bawah berupa persegi empat yang dinamakan batur candi atau teras.
  2. Kaki candi yang tinggi sekaligus sebagai ruangan tempat arca.
  3. Tubuh candi yang langsing dengan empat relung di masing-masing sisinya.
  4. Atap atau puncak yang menjulang makin mengecil di puncaknya.

Dalam  agama Hindu, kaki candi (bhurloka) merupakan gambaran dari kaki gunung atau alam manusia, badan candi (bwahloka) sebagai lereng gunung atau alam langit, dan atap candi (swahloka) sebagai puncak gunung atau alam khayangan-surgawi. Puncaknya ini berbentuk limas dengan atap pejal berbentuk kubus, begitu pula keempat puncak lain yang mengelilinginya sudah runtuh. Apa yang akan Anda saksikan saat ini adalah sebuah candi yang terkesan ramping menjulang bagian atasnya dan gamuk di bagian bawahnya.

Candi Singosari merupakan tiruan Gunung Meru yang berpuncak di Kaliasa dan dikelilingi empat puncak yaitu Gunung Mandara, Gunung Gandhamana, Gunung Vipula, dan Gunung Supasrsya. Anehnya di Jawa antara Gunung Meru dan Gunung Mandara tidaklah dibedakan, Gunung Meru itu gunung Mandara dan Gunung Mandara ya Gunung Meru.

Candi Singosari juga merupakan simbolisasi konsep Samodramanthana yaitu pengadukan lautan susu dengan menggunakan Gunung Mandara sebagai antan hingga keluarlah air suci atau amerta. Selain itu Candi Singosari juga merupakan simbolisasi dari Lingga dan Yoni dimana terlihat dari terasnya yang memilki cerat pada sisi yoni dan candinya sebagai lingga.

Awalnya sejak 1803-1939 Candi Singosari merupakan komplek percandian yang luas dengan 7 buah reruntuhan candi hingga terakhir yang selamat hanya 1 yaitu Candi Singosari ini. Saat Anda mengunjungi sisi halaman candi maka akan nampak sisa-sisa reruntuhan dan arca yang sebenarnya itu salah satu dari 7 reruntuhan candi sebelumnya. Saat ini di Candi Singosari dirawat dan dijaga oleh 3 orang staf dari Suaka Purbakala Jawa Timur yang diambil dari penduduk setempat.

Candi lain yang dibangun selama era Singosari adalah Candi Jago dibangun tahun 1268 di desa Tumpang, 6 km selatan kota Singosari sekarang. Candi ini didedikasikan untuk raja Singosari ke 4 Visnusardahana, sedangkan Candi Kidal, 11 km di sepanjang jalan yang sama, dibangun tahun 1260 dihiasi yang burung Garuda.  Candi Kidal didedikasikan untuk raja Singosari ke 2, Anusapati. Sebuah patung asli dari raja Kertanegara masih berdiri di pusat kota Surabaya, yang dikenal sebagai Joko Dolog, atau Anak laki-laki Gemuk.

Candi Jawi yang indah, dengan latar belakang gunung Penanggungan dibangun pada masa pemerintahan Singosari. Hal ini diyakini sebagai candi pemakaman dari kelima raja terakhir. Dibangun abad ke-13 dan didedikasikan untuk dewa dewa Hindu Siwa dengan Sang Buddha. Candi Jawi terletak 40 km. selatan Surabaya, Prigen di jalan ke Tretes.

Transportasi

Candi Singosari terletak di Jalan Kertanegara Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dari Kota Malang maka Anda dapat mencapainya sejauh kurang lebih 10 km ke arah utara. Sementara dari Surabaya kurang lebih berjarak 88 km ke arah selatan

Untuk menuju Singosari dapat ditempuh dengan mobil atau taksi baik dari Malang maupun dari Surabaya atau Tretes. Taksi dan mobil dapat dengan mudah diperoleh di kota-kota tersebut. Sebagai kota tersibuk kedua di Indonesia, Surabaya dilayani oleh maskapai penerbangan domestik dan internasional.

Borobudur: Puzzle Raksasa Sarat Cerita

Bertengger di Selatan Bukit Menoreh, candi ini begitu istimewa bukan hanya karena ukurannya namun juga karena teknik penyusunan batu, kualitas dan kuantitas reliefnya, pemilihan cerita yang termuat di dalamnya, bahkan hingga arca-arcanya. Sekira 2 juta balok batu vulkanik dipahat sedemikian rupa pada candi ini saling mengunci satu dengan yang lain menjadikannya begitu megah ibarat puzzle raksasa sarat cerita. Ada sekira 2.672 panel relief melekat pada dindingnya yang jika dibentangkan maka panjangnya mencapai 6 km.

Candi Borobudur berada di puncak sebuah bukit menghadap ke sawah subur, di antara Bukit Dagi dan sebuah bukit kecil lainnya. Sekira dua kilometer di timur terdapat Sungai Progo dan Sungai Elo. Diperkirakan kawasan candi ini awalnya adalah sebuah danau purba. Dulu, kawasan tersebut merupakan muara dari berbagai aliran sungai. Karena tertimbun endapan lahar kemudian menjadi dataran.

Candi ini cakupan wilayahnya sangat besar, yakni 123 x 123 m². Bayangkan dari luasan tersebut candi ini memamerkan sekira 504 patung Buddha, 72 stupa terawang dan 1 stupa induk. Dinding candinya meliputi 2.672 panel relief yang apabila disusun berjajar maka panjangnya mencapai 6 km. Sebenarnya masih ada 160 panel yang sengaja ditimbun di bagian paling bawah, berisi adegan Sutra Karmawibhangga (hukum sebab-akibat). Penimbunan bagian bawah tersebut diduga untuk menguatkan bagian pondasi yang sejak awal ditemukan sudah sangat rusak.

Ansambel reliefnya tersebut merupakan yang paling lengkap di dunia dan tak tertandingi nilai seninya serta setiap adegannya adalah mahakarya yang utuh. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya. Cerita dimulai dari sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbangnya.

Arsitektur dan bangunan batu candi ini pun sungguh tiada bandingannya karena strukturnya ibarat sebuah kesatuan deretan lego yang saling mengukuhkan dan  dibuat bersamaan tanpa semen sedikitpun. Luas bangunan Candi Borobudur mencapai 15.129 m²  yang tersusun dari 55.000 m³ batu, terdiri dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 x 10 x 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan mencapai 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton.

Dengan luasan dan isi volumenya yang besar dan luar bisa itu membuat Borobudur menjadi monumen Buddha terbesar di dunia. UNESCO pun telah mengakui sekaligus memuji Candi Borobudur sebagai salah satu monumen Budha terbesar di dunia.

Candi Borobudur memiliki 10 tingkat, dimana tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Sedangkan tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir. Bagian paling atas di tingkat ke-10 terdapat stupa besar berdiameter 9,90 m, dengan tinggi 7 meter.

Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad sejak masa Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Bangunan raksasa ini baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani dengan angka tahun selesainya 746 Saka atau 824 Masehi. Usia pembangunannya tersebut diperkirakan 300 tahun sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 400 tahun sebelum katedral-katedral agung di Eropa. Candi ini beraksitektur Gupta yang mencerminkan pengaruh India.

Masa pembangunan candi ini diperkirakan selama 75 tahun di bawah pimpinan arsitek Gunadarma. Bahan pembangunnya adalah sekira 60.000 meter kubik batuan vulkanik dari Sungai Elo dan Progo yang terletak sekitar 2 km sebelah timur candi. Saat itu sistem metrik belum dikenal dan satuan panjang yang digunakan untuk membangun Candi Borobudur adalah tala yang dihitung dengan cara merentangkan ibu jari dan jari tengah atau mengukur panjang rambut dari dahi hingga dasar dagu.

Sejak pertengahan abad ke-9 hingga awal abad ke-11, Candi Borobudur menjadi tempat peziarah umat Budha dari China, India, Tibet, dan Kamboja. Candi Borobudur menjadi salah satu jejak sejarah paling penting dalam perkembangan peradaban manusia. Kemegahan dan keagungan arsitektur Candi Borobudur merupakan harta karun dunia yang mengagumkan dan tak ternilai harganya.

Diperkirakan awalnya candi ini sebagai tempat pemujaan. J.G. de Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur. Sebagian sejarawan juga ada yang menyatakan bahwa nama Borobudur ini berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Vihara Buddha Uhr” yang artinya  “Biara Buddha di Bukit”.

Keberadaan Borobudur sebelum tahun 1814 tertimbun material Gunung Merapi. Adalah Sir Thomas Stanford Raffles memerintahkan situs tersebut dibersihkan dan dipelajari secara menyeluruh. Candi Borobudur tetap kuat meski selama sepuluh abad tak terpelihara. Dari waktu ke waktu candi raksasa ini menarik minat peneliti di masa Pemerintahan Hindia Belanda hingga proyek restorasi Borobudur secara besar-besaran dimulai dari tahun 1905 sampai tahun 1910. Restorasi kedua untuk menyelamatkan Borobudur dilanjutkan sejak 1913 sampai 1983. Tahun 1970-an Pemerintah Indonesia dan UNESCO bekerja sama untuk mengembalikan keagungan Borobudur. Perbaikan yang dilakukan memakan waktu delapan tahun sampai dengan selesai dan saat ini Borobudur adalah salah satu keajaiban dan harta Indonesia dan dunia yang amat berharga.

Kegiatan

Jelajahilah keseluruhan relief di Borobudur yang mencerminkan ajaran Budha Mahayana dimana semakin ke atas semakin menyimbolkan tingkat kesempurnaan. Bagian paling bawah atau Kamadhatu menggambarkan perilaku penuh angkara murka dan hawa nafsu yang menyebabkan seseorang masuk neraka jahanam. Bagian tengah meliputi empat tingkat dinamakan Rapadhatu, tempat manusia dibebaskan dari nafsu dan hal-hal duniawi. Sementara bagian teratas termasuk tiga teras melingkar yang mengarah ke pusat kubah disebut Arupadhatu atau tempat para dewa bersemayam (nirwana).

Sebenarnya ada relief Karmawibhangga yang tertimbun di tanah dan menggambarkan perbuatan mansia yang mengikuti hawa nafsunya, seperti bergosip, membunuh, menyiksa, dan memerkosa. Bahkan ada juga adegan-adegan seks dalam berbagai posisi. Sejumlah pendapat menyebutkan bahwa relief tersebut ditimbun karena dianggap kurang pantas dipertontonkan tetapi ada pula yang berpendapat penutupan ini semata-mata demi kestabilan posisi candi agar tidak amblas.

Tahun 1885, arkeolog JW Yzerman sempat mendokumentasikan dan merekam relief ini kemudian dibukukan tahun 1931. Buku aslinya kini ada di Museum Nasional, Jakarta. Sedangkan klise aslinya disimpan di Museum Tropen, Amsterdam mengingat statusnya milik Pemerintah Belanda sementara Pemerintah Indonesia memiliki replika seluruh foto tersebut.

Sekitar tahun 1890-1891, bagian yang tertutup itu dibuka seluruhnya oleh fotografer Kasiyan Chepas untuk dipotret satu per satu. Batu bervolume 13000 meter kubik ini diangkat, lalu dikembalikan lagi ke posisi semula.  Hingga hari ini, bagian itu ditimbun tanah sehingga tidak bisa dilihat. Ada tiga panel di bagian tenggara candi yang terbuka diduga karena proses penutupan kembali yang tak sempurna.

Bila Anda telah mencapai puncak candi maka beristirahatlah dan nikmati pemandangan indahnya. Di bagian atas Borobudur Anda akan menemukan ruang kosong yang merupakan simbol  kesempurnaan. Selama Anda di bagian puncaknya, nikmatilah pemandangan gunung yang hijau dan lebat di sekitarnya, dan rasakanlah hembusan angin yang lembut. Anda bebas untuk mengambil sebanyak mungkin objek foto indah yang Anda inginkan.

Kepercayaan masyarakat lokal menyebutkan bahwa jika Anda telah berada di puncak candi dan memiliki satu keinginan sungguh-sungguh, lalu tangan Anda menjangkau dan menyentuh sosok Sang Buddha di dalamnya, maka permintaan Anda akan terwujud.

Anda dapat mencatat beberapa cerita menarik dari ukiran dari relief candi ini karena ada banyak cerita menarik di dalamnya. Pastikan pemandu wisata Anda menceritakan rentetan cerita yang terdapat dalam ukiran  batu. Jika Anda seorang penulis atau penyair mungkin ada cerita yang dapat menginspirasi Anda.

Hal menarik lainnya dari Borobudur adalah bukit Manoreh di selatan. Jika Anda melihatnya dengan seksama nampak garis kontur bukit-bukit berbentuk seperti orang tidur seolah Borobudur tampak berdiri tegak di samping “orang tidur”.

Candi Borobudur memiliki 100 talang air berbentuk makara (patung ikan berkepala gajah) sebagai saluran air sekaligus untuk menambah keindahan candi. Dahulu, air hujan yang mengalir melalui makara akan terlihat seperti air mancur.

Museum Samudera Raksa akan memberitahu Anda tentang sejarah perdagangan Indonesia dan Afrika di zaman kuno dan bagaimana upaya modern untuk menciptakan kembali rute perjalanan ini.

Di Museum Karmawibhangga tersedia sumber informasi lengkap tentang tempat megah ini.

Saat Anda berwisata ke Candi Borobudur, kali ini mengapa tidak untuk mengejar keindahan Matahari terbitnya.

Tips

  • Sewalah pemandu wisata resmi untuk mendapatkan informasi yang lebih baik. Anda dapat menyewa pemandu wisata resmi berpengalaman dengan harga Rp50.000,- Jangan sampai melewatkan pengalaman mengunjungi candi besar ini tanpa belajar tentang sejarah dan pesan penting yang ditangkap pada relief candi.
  • Anda bisa mengelilingi kompleks Taman Wisata Candi Borobudur menggunakan kereta mini atau yang biasa dikenal dengan nama kereta kelinci. Kendaraan ini biasanya menjadi favorit anak-anak. Tarif kereta kelinci: Rp5.000,00 per orang sekali putaran.
  • Festival Waisak diselenggarakan sekali setahun bulan Mei saat purnama. Saat itu banyak peziarah dan pengunjung berdatangan untuk merayakan kelahiran, kematian, dan pencerahan Buddha.
  • Apabila Anda datang dalam rombongan maka seewalah Andong. Andong dapat dijumpai dengan mudah di terminal maupun pasar Borobudur. Andong wisata juga ada di dalam kompleks candi dan bisa digunakan untuk berkeliling mengitari candi. Tarif andong keliling desa: Rp75.000,00 dengan rute: Dusun Klipoh – Desa Tanjungsari – Dusun Jowahan – Desa Wanurejo). Tarif andong keliling candi: Rp30.000,00 untuk 4 orang sekali putaran.
  • Kenakan pakaian sopan ringan dan nyaman saat mengunnjungi candi ini.
  • Apabila Anda membawa anak-anak, jangan menginjak area rumput hijau besar sekitar lokasi Borobudur.
  • Selama musim panas, Anda sebaiknya memakai topi atau payung yang disewa di sekitar lokasi.
  • Penyewaan sepeda tersebar di berbagai tempat seperti hotel-hotel tempat Anda menginap maupun di kawasan taman Candi Borobudur. Dengan bersepeda maka Anda dapat menyusuri kawasan Borobudur yang masih asri dan memiliki udara yang segar menggunakan sepeda akan menjadi pilihan yang menyenangkan. Tarif sewa sepeda onthel: Rp 20.000 / 10 jam. Tarif sewa sepeda biasa: Rp 25.000 / 10 jam. Tarif sewa sepeda di areal candi: Rp 10.000. Tarif sewa sepeda tandem di areal candi: Rp 15.000.
  • Anda dapat menyewa motor selama di Borobudur karena akan mempermudah dan memperluas ruang gerak. Anda bisa berkeliling ke tempat-tempat yang jauh semisal Bukit Punthuk Setumbu atau Puncak Suroloyo. Tarif sewa sepeda motor: Rp 50.000 – Rp 70.000 per 12 jam.
  • Anda dapat menghubungi agen perjalanan untuk mengorganisir kebutuhan dan mendapatkan tur yang menarik, seperti Campa Tour (081263679350).

Kopi Flores: Cita Rasa Lokal yang Mendunia

Banyak pecinta kopi yang berkomentar bahwa kopi Flores memiliki aroma cokelat manis, kayu dan bunga-bungaan yang khas. Karakter ini dipengaruhi oleh kondisi Pulau Flores yang memiliki banyak gunung api. Daerah ansodol tersebut menciptakan wilayah yang subur dan ideal untuk penanaman kopi organik. Kemudian jadilah kopi-kopi terbaik yang kini dinikmati oleh warga lokal, turis-turis yang singgah di Flores, hingga penikmati kopi di seluruh dunia.

Perkebunan kopi di Flores umumnya ditanami jenis arabika yang dapat Anda lihat di daerah Ruteng hingga Bajawa. Bahkan di Ruteng, Anda akan menjumpai pohon kopi di hampir setiap halaman rumah, bahkan saat panen, warga menggunakan bagian badan jalan untuk menjemur biji kopi. Sementara di Bajawa, lokasi yang menjadi pusat penanaman kopi adalah di lereng Gunung Inerie. Tanah di sekitar gunung ini sangat subur dan bersuhu panas. Periode panen biasanya berlangsung pada Mei hingga Juli dan akan diolah berdasarkan standar produksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kopi arabika Bajawa pernah memenangkan penghargaan “The Indonesian Speciality Coffee Contest” yang diadakan oleh Association of Indonesia Coffee Exporters and Industries (AICE) pada tahun 2009. Kontes ini melombakan cita rasa yang khas dari berbagai kopi di Indonesia, kopi arabika Bajawa dinilai memiliki cita rasa khas madu.

Dalam berbagai kesempatan pameran internasional, kopi arabika Bajawa juga kerap dipuji oleh buyer dari mancanegara karena sistem pertanian berkelanjutan yang diterapkan petani. Kopi ditanam dan dikembangkan tanpa pupuk kimiawi karena kearifan lokal setempat mengembangkan sistem pertanian organik. Meskipun cara tradisional tersebut masih diterapkan, para petani dapat menuai hasil yang maksimal.

Pemerintah Indonesia  menetapkan Indikasi Geografis (IG) untuk daerah Bajawa. Hal ini kemudian membuat kopi Bajawa layak disebut sebagai kopi single origin, sehingga harga jualnya lebih tinggi dibandingkan kopi yang berasal dari banyak daerah yang dicampur lalu dijual ke pasaran.

Selain kopi arabika Bajawa, Flores juga tersohor akan kopi robusta Manggarai yang telah masuk ke hotel, rumah makan, supermarket dan kafe di lintas negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Jepang dan Eropa. Kopi robusta Manggarai banyak tersebar di dataran tinggi Manggarai, Wae Rebo adalah salah satu desa yang mengandalkan perkebunan kopi sebagai mata pencaharian pokok.  Perkebunan kopi di Manggarai sudah dijalankan sejak zaman kolonial Belanda. Raja-raja di Flores pada zaman penjajahan juga mempunyai peran penting dalam memperkenalkan kopi robusta Manggarai kepada setiap tamu yang datang ke daerah tersebut.

Kain Tenun Ikat Flores yang Bernilai Seni Tinggi

Kain tenun ikat khas Flores adalah satu dari sekian banyak produk budaya tradisional khas Indonesia yang dibuat secara tradisional namun bernilai seni tinggi dan indah. Proses pembuatan produk warisan budaya khas pulau di bagian timur Indonesia ini melewati sejumlah proses yang memakan waktu hingga berbulan-bulan. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran untuk menghasilkan sehelai kain tenun ikat dimana hampir semua proses pembuatan kain ikat tersebut dilakukan secara tradisional dan manual serta menuntut ketekunan dan kesabaran tinggi.


Setidaknya ada lebih dari 20 tahapan selama hampir sebulan agar sebuah kain tenunan Flores dapat memanjakan mata dan diapresiasi peminatnya dengan transaksi jual beli. Proses pembuatan tenun ikat khas Flores diawali dengan memisahkan kapas dari biji, memintal kapas tersebut menjadi benang, proses pewarnaan, mengikat motif, dan terakhir baru mulai menenun. Ada alat khusus yang digunakan untuk memisahkan kapas dari bijinya termasuk untuk menggulung benang yang sudah dipintal.

Dalam mewarnai benang, pengrajin tenun ikat tradisional masih menggunakan pewarna tradisional yang didapatkan dari alam. Misalnya dengan menggunakan beberapa jenis tumbuhan, seperti daun dan akar mengkudu (warna merah), daun nira (warna biru), kayu pohon hepang, kunyit (warna kuning), loba, kulit pohon mangga, kulit pohon cokelat, serbuk kayu mahoni tarum, zopha, kemiri, dan masih banyak lagi. Pewarnaan dapat dilakukan berulang-ulang guna menghasilkan warna yang khas.  Setidaknya ada 11 warna tercipta dari bahan alami yang ramah lingkungan. Warna dari bahan alami dan benang dari kapas membuat warnanya memang tidak secerah benang modern tetapi justru lebih tahan lama dan menguak warna yang makin lama makin indah.

Beberapa daerah di Flores merupakan sentra penghasil kain tenun ikat, di antaranya adalah Maumere, Sikka, Ende, Manggarai, Ngada, Nage Keo, Lio, dan Lembata di bagian timur Flores. Setiap daerah atau etnis memiliki ragam motif, corak dan preferensi warna yang berbeda-beda dalam membuat kain tenun ikat. Keragaman tersebut merupakan bentuk pengejawantahan simbol-simbol yang merepresentasikan etnis, adat, religi, dan hal lainnya dari keseharian masyarakat Flores.

Kain tenun khas daerah Sikka misalnya, biasanya selalu menggunakan warna gelap seperti hitam, coklat, biru, dan biru-hitam. Untuk motifnya, terdapat beberapa jenis yang khas, yaitu motif okukirei yang berdasarkan kisah tentang nenek moyang sub-etnis Sikka yang dulunya adalah pelaut ulung. Figur nelayan, sampan, udang, atau kepiting menjadi ciri khas bagi kain jenis motif ini. Terdapat pula jenis motif mawarani yang dihiasi dengan corak bunga mawar. Konon, motif ini merupakan motif khas yang khusus diperuntukkan bagi putri-putri Kerajaan Sikka. Motif ini kini menjadi favorit kaum perempuan.

Sementara itu, tenunan di daerah Ende banyak menggunakan warna cokelat dan merah serta memadukannya dengan ragam hias motif bergaya Eropa. Hal ini karena letak strategis Ende di pesisir selatan Flores yang memungkinkan orang-orang Ende zaman dahulu mudah berhubungan dengan bangsa pendatang, seperti orang Eropa. Ciri khas lain motif kain tenun ikat Ende adalah penggunaan hanya satu jenis motif pada bidang di tengah-tengah kain.

Di kalangan sub-etnis Lio, terdapat motif yang langka yang disebut omembulu telu (tiga emas). Menurut kepercayaan masyarakat lokal, kain tenun motif ini dapat membuat pemiliknya menjadi kaya raya. Lio merupakan salah satu daerah yang menonjol dalam hal pembuatan kain tenun ikat karena terbilang halus dan rumit. Jenis motif kain tenun ikat Lio mendapat pengaruh dari kain patola India yang dibawa oleh pedagang dari Portugis di abad ke-16 sebagai komoditi barter dengan rempah-rempah. Kain tenun ikat dengan motif patola bernilai tinggi sebab biasanya diperuntukkan bagi raja-raja, pejabat, dan tokoh adat atau pendiri kampung. Mengingat kain ini sangat istimewa dan berharga, bahkan ikut dikuburkan saat seorang raja, pejabat atau bangsawan tersebut meninggal dunia.

Motif yang menjadi khas kain Lio adalah motif ceplok serupa jelamprang pada batik lalu dihiasi dengan motif dahan dan daun. Ciri khas motif tenun ikat Lio yang lain adalah bentuk geometris, manusia, biawak, dan lainnya yang biasanya berukuran kecil dan disusun membentuk jalur-jalur berwarna merah atau biru di atas dasar kain yang berwarna gelap. Kain tenun ikat khas Manggarai dan Ngada cenderung menggunakan warna-warna terang seperti hijau, merah, putih, atau kuning (emas). Diperkirakan kecenderungan terhadap pemilihan warna cerah ini mendapat pengaruh dari tenun ikat Sumba dan Sumbawa.

Pada zaman dahulu, tenun ikat yang sejak lama telah digunakan sebagai pakaian sehari-hari masyarakat setempat sebagai simbol status, kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan bagi pemakainya. Belakangan simbol-simbol ini semakin memudar apalagi kini kain tenun ikat juga menjadi komoditi khas Flores yang diperdagangkan secara luas.

Kain tenun ikat sendiri biasa dipakai masyarakat berbagai suku di Flores sebagai pelengkap busana, selain sebagai selendang atau sarung. Anak perempuan Flores yang beranjak remaja tidak boleh telanjang lagi. Wanita Flores yang beranjak dewasa ditandai dengan datang bulan dan mereka diwajibkan mengenakan kain serta memanjangkan rambutnya agar dapat dikonde. Saat mereka hendak menikah maka haruslah mampu membuat kain ikatnya sendiri untuk keperluan pernikahan atau untuk diberikan kepada calon mempelai pria—sebagaimana aturan adat dahulu kala. Seiring perkembangan zaman, sepertinya budaya menenun sendiri kain ikat sudah mulai pudar. Remaja dan generasi muda yang mampu menenun kain ikat tradisional tak sebanyak dahulu. Hal ini tentu menjadi salah satu tantangan bagi keberlangsungan produksi kain tenun ikat.

Terlebih lagi perkembangan zaman yang serba modern dan dinamis mendorong manusia untuk menikmati karya dan produk instan dengan cara yang instan pula. Mesin-mesin dibuat untuk memberi kemudahan produksi dan peningkatan produktifitas (baca: kuantitas). Semua dilakukan serba cepat, praktis, dan mengandalkan mesin. Di satu sisi hal ini mengindikasikan kemajuan teknologi modern dalam hal (diantaranya) kemajuan dalam penemuan mesin, produktivitas, nilai ekonomis, pendapatan, kuantitas, dan lainnya. Tetapi di sisi lain, proses menghasilkan karya atau produk secara instan dalam jumlah banyak ini membuat nilai sebuah produk menjadi biasa saja dan mainstream.

Terlepas dari hal tersebut, untungnya belakangan ini pamor produk atau karya kerajinan tangan (handmade) berhasil mendapatkan gengsi tersendiri bagi sebagian kalangan masyarakat perkotaan; terutama mereka yang menghargai produk seni dan budaya tradisional. Kain tenun ikat tidak dibuat menggunakan mesin yang dapat menghasilkan banyak barang sekaligus dan seragam. Karenanya, saat Anda membeli selembar kain ikat, dapat saja itulah satu-satunya yang ada di dunia. Tak ada barang hasil karya tangan yang persis sama. Terlebih lagi, kain tenun ikat dan barang handmade lainnya dibuat dengan mengandalkan beberapa indera manusia yang tentunya tidak dimiliki sebuah mesin. Indera yang dibantu akal pikiran mampu menghasilkan potensi dan kreasi yang tak terbatas dalam menghasilkan sebuah karya bernilai seni tinggi.

Anda dapat menemukan tenunan indah khas Flores di Desa Doka. Kain ikat yang diproduksi masyarakat desa ini termasuk yang terbaik karena memiliki ciri khas tersendiri dengan harga juga beragam. Warga desa akan dengan senang hati mempertunjukkan cara pembuatannya kain tenun ikat menawan ini. Apabila Anda ingin datang berkelompok maka itu lebih baik dan sebelumnya hubungilah Bapak Cletus Lopez selaku pimpinan Sangar Doka Tawa Tana di nomor +62 81372290368. Desa Doka dapat Anda tempuh dengan kendaraan menyusuri Jalan utama dari Maumere menuju Waiara. Bertanyalah kepada penduduk sekitar arah jalan ke selatan menuju Desa Doka. Apabila Anda menjelajahi kawasan Maumere dengan kendaraan umum maka angkot berwarna oranye akan menandai perjalanan menuju Desa Doka.

Gurindam Dua Belas: Karya Sastra Bapak Bahasa Indonesia

Pulau Penyegat yang berada tepat di seberang Tanjung Pinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau, memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia. Di pulau ini pada 1847, Raja Ali Haji yang terkenal sebagai Bapak Bahasa Melayu Indonesia, menciptakan Gurindam Dua Belas sebagai mas kawin yang diberikan kepada Engku Putri Hamidah yang tinggal di Pulau Penyegat.

Raja Ali Haji pada masanya merupakan penyair dan sejarawan yang sangat dihargai. Namanya tidak hanya tersohor di Provinsi Kepulauan Riau namun juga di sebagian besar wilayah Indonesia. Bagi masyarakat lokal Malaysia, khususnya bagi yang tinggal di wilayah Malaka, ia adalah pahlawan yang sangat dihargai.

Kini makam Raja Ali Haji berada di dalam kompleks pemakaman Engku Putri Raja Hamidah. Karya sastra Gurindam Dua Belas dapat Anda lihat dengan jelas karena terletak di sepanjang dinding bangunan makam.

Gurindam sendiri adalah bentuk puisi lama yang termasuk karya sastra klasik. Tiap bait terdiri dari 2 kalimat dengan rima yang sama dan merupakan kesatuan yang utuh. Baris pertama biasanya dikenal sebagai syarat (protasis), sedangkan baris kedua berisikan jawab (apodosis) yang menyatakan keterangan atau penjelasan dari baris pertama tadi.

Gurindam biasanya kental sekali dengan nuansa keislaman karena memang berisikan nasehat untuk masyarakat luas, khususnya masyarakat Melayu. Hal ini berdiri karena mayoritas masyarakat Melayu, terutama yang tinggal di Kepulauan Riau dan memeluk agama Islam.

Sesuai dengan namanya, Gurindam Dua Belas terdiri dari 12 pasal dan dikategorikan sebagai Syi’r al-Irsyadi atau puisi didaktik karena berisikan petunjuk menuju hidup yang diridhai oleh Allah SWT. Selain itu terdapat juga syari’at, tarekat, hakikat dan makrifat. Gurindam Dua Belas diterbitkan pada 1854 dalam Tijdschrft van het Bataviaasch Genootschap No. II, Batavia, dengan huruf Arab dan diterjemahkan dalam Bahasa Belanda oleh Elisa Netscher.

Berikut ini adalah bunyi dari keduabelas pasal Gurindam Dua Belas.

Gurindam Pasal Ke-1

Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang yang makrifat.

Barang siapa mengenal ALLAH, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barangsiapa mengenal dunia, itulah ia barang yang terpedaya.

Barangsiapa mengenal akhirat, tahulah ia dunia mudarat.

Gurindam Pasal Ke-2

Barangsiapa tiada mengenal yang tersebu , tahulah ia makna takut.

Barangsiapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua termasa.

Barangsiapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barangsiapa meninggalkan zakat, tiadalah hartanya beroleh berkat.

Barangsiapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam Pasal Ke-3

Apabila terpelihara mata, sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping, kabar jahat tiadalah damping.

Apabila terpelihara lidah, niscaya dapat daripadanya faedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan, daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh, keluarlah fiil yang yang tiada senonoh.

Anggota tengah hendaklah ingat, di situlah banyak orang yang hilang semangat.

Hendaklah peliharakan kaki, daripada berjalan yang membawa rugi.

Gurindam Pasal Ke-4

Hati itu kerjanya di dalam tubuh, jikalau lalim segala anggota pun rubuh.

Apabila dengki sudah bertanah, datanglah daripadanya beberapa anak panah.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir, di situlah banyak orang tergelincir.

Pekerjaan marah janganlah dibela, nanti hilang akal di kepala.

Jika sedikitpun berbuat bohong, boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.

Tanda orang yang amat celaka, aib dirinya tiada ia sangka.

Bakhil jangan diberi singgah, itulah perampok yang amat gagah.

Barangsiapa yang sudah besar, janganlah kelakuannya membuat kasar.

Barangsiapa perkataan kotor, mulutnya itu umpama ketur.

Dimana tahu salah diri, jika tidak orang lain yang berperi.

Pekerjaan takabur jangan di rapih, sebelum mati didapat juga sapih.

Gurindam Pasal Ke-5

Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu.

Jika hendak mengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam Pasal Ke-6

Cahari olehmu akan sahabat, yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru, yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan istri, yang boleh dia menyerahkan diri.

Cahari olehmu akan kawan, pilih segala orang setiawan.

Cahari olehmu akan abdi, yang ada baik sedikit budi.

Gurindal Pasal Ke-7

Apabila banyak berkata-kata, di situlah jalan masuk dusta.

Apabila banyak berlebih-lebihan suka, itulah tanda hampirkan duka.

Apabila kita kurang siasat, itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

Apa bila anak tidak dilatih, jika besar bapaknya letih.

Apabila banyak mencela orang, itulah tanda dirinya kurang.

Apabila orang yang banyak tidur, sia-sia sajalah umur.

Apabila mendengar akan kabar, menerimanya itu hendaklah sabar.

Apabila mendengar akan aduan, membicarakannya itu hendaklah cemburuan.

Apabila perkataan yang lemah lembut, lekaslah segala orang mengikut.

Apabila perkataan yang amat kasar, lekaslah orang sekalian gusar.

Apabila pekerjaan yang amat benar, tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam Pasal Ke-8

Barang siapa khianat akan dirinya, apalagi kepada lainnya.

Kepada dirinya ia aniaya, orang itu jangan engkau percaya.

Lidah yang suka membenarkan dirinya, daripada yang lain dapat kesalahannya.

Dari pada memuji diri hendaklah sabar, biar daripada orang datangnya kabar.

Orang yang suka menampakkan jasa, setengah daripada syarik mengaku kuasa.

Kejahatan diri sembunyikan, kebajikan diri diamankan.

Keaiban orang jangan dibuka, keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam Pasal Ke-9

Tahu pekerjaan tak baik,tetapi dikerjakan,bukannya manusia yaitulah syaitan.

Kejahatan seorang perempuan tua,itulah iblis punya penggawa.

Kepada segala hamba-hamba raja,di situlah syaitan tempatnya manja.

Kebanyakan orang yang muda-muda,di situlah syaitan tempat berkuda.

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,di situlah syaitan punya jamuan.

Adapun orang tua yang hemat,syaitan tak suka membuat sahabat.

Jika orang muda kuat berguru,dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam Pasal Ke-10

Dengan bapa jangan durhaka, supaya Allah tidak murka.

Dengan Ibu hendaklah hormat, supaya badan dapat selamat.

Dengan anak janganlah lalai, supaya boleh naik ketengah balai.

Dengan istri dan gundik janganlah alpa, supaya kemaluan jangan menerpa.

Dengan kawan hendaklah adil, supaya tangannya jadi kafil.

Gurindam Pasal Ke-11

Hendaklah berjasa, kepada yang sebangsa.

Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela.

Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.

Hendak marah, dahulukan hajat. Hendak dimalui, jangan melalui.

Hendak ramai, murahkan perangai.

Gurindam Pasal Ke-12

Raja mufakat dengan menteri, seperti kebun berpagarkan duri.

Betul hati kepada raja, tanda jadi sebarang kerja.

Hukum adil atas rakyat, tanda raja beroleh anayat.

Kasihkan orang yang berilmu, tanda rahmat atas dirimu.

Hormat akan orang pandai, tanda mengenal kasa dan cindai.

Ingatkan dirinya mati, itulah asal berbuat bakti.

Akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta.