Home Blog Page 10

Kya Kya Kembang Jepun: Meriah Malam di Surabaya

Saat kaki Anda tertambat di Kota Pahlawan maka berkunjung ke Kya-Kya Kembang Jepun di dekat Jembatan Merah adalah sebuah keharusan. Kawasan ini akan menyambut yang datang dengan sebuah gerbang merah cantik khas Tionghoa. Adalah sebuah keberuntungan apabila Anda dapat menyaksikan pementasan budaya berkualitas disuguhkan di sini.

Di siang hari jalur ini ramai dengan hiruk pikuk perniagaan khas kawasan pecinan. Kendaraan takhenti melalui jajaran toko-toko dan perkantoran yang bangunannya bernuansa ruko gaya Tionghoa. Gapura naga yang fenomenal ukurannya tak akan luput dari pandangan para pejalan kaki. Tulisan di gapura itu begitu mudah diingat yaitu terpampang 2 kata: “Kya Kya”.

Sejatinya Kya-Kya hanyalah sebuah jalan raya yang sibuk di pagi hari namun kemudian menjelma menjadi pusat jajanan saat sore hingga malamnya. Kawasan dengan jalan sepanjang 730 meter dan lebar 20 meter ini mampu menampung 200 pedagang. Tersedia di sini setidaknya 2.000 kursi dengan 500 meja makan. Menikmati pengamen dengan suguhan suguhan musik keroncong atau musik klasik Tiongkok adalah hal yang sangat notalgia sekali. Acara tematik kadang digelar di sini seperti Festival Bulan Purnama, Shanghai Night, Dancing on the Street, Agoestoesan Tjap Kya-kya Kembang Djepoen, serta Mystical Night.

Dalam Bahasa Hokkien, kya kya artinya jalan-jalan. Dahulu, jauh sebelum kawasan ini diresmikan sebagai kawasan wisata kuliner di Surabaya, Kya Kya belum dikenal. Kawasan ini lebih termasyur dengan sebutan Jalan Kembang Jepun. Pada masa pendudukan Jepang, banyak prajurit Jepang menyinggahi kawasan ini untuk bertemu gadis-gadis lokal yang sering dijuluki ‘kembang’. Kata Jepun sendiri adalah sebutan lain dari Jepang. Sejak itulah jalur ini disebut Jalan Kembang Jepun.

Jalan Kembang Jepun pada masa pemerintahan Hindia Belandadinamakan Handelstraat yang berasal dari dua kata yaitu: handel berarti perdagangan dan straatberarti jalan. Kawasan ini kemudian tumbuh sangat dinamis. Sejarah mencatat bahwa di kawasan inilah Pemerintah Hindia Belanda pernah membagi-bagi daerah sesuai struktur penduduk. Jalan Kembang Jepun sebagai pembatas, Pecinan ditempatkan di sebelah selatan Kalimas yaitu sungai yang mengalir di dekat jalan ini. Sedangkan perkampungan Arab dan Melayu yang sudahhidup di daerah ini berabad-abad lamanya ditempatkan di sebelah utara Kalimas. Disebelah barat, Eropa Kecil pun ditempatkan yang menjadikan kawasan Jalan Kembang Jepun seolah perkampungan internasional dari asal mulanya.

Pemerintah Daerah beserta badan legislatif bertekad mengembalikan keramaian jalur ini demi kepentingan citra kota serta kepariwisataan daerah. Pemerintah setempat menata kawasan yang sempat menjadi daerah yang tak aman saat malamhari. Dari berbagai studi kelayakan dan juga perbandingan dengan destinasi wisata internasional lainnya maka tahun 2003 tepatnya di hari jadi Kota Surabaya ke-710 pada 31Mei maka Kya Kya ditetapkan sebagai kawasan wisata jalan-jalan dan tiap malamnya hadir berbagai kemeriahan. Di sini pengunjung dapat menikmati 200 jenis gerobak makanan dengan beragam cita rasa.

Pengelola kawasan Kya Kya mengadakan sajian budaya beraneka warna, mulai dari live musik bernuansa musik jazz, pop, dangdut, gambus, hingga pentas musik tradisional Arab,Cina, Jawa. Ada pula tarian berbagai pilihan etnis yang memperkaya Kya Kya Kembang Jepun sebagai salah satu pilihan tujuan wisata malam hari di KotaPahlawan, Surabaya.

Tips

  • Makanan dan minuman yang tersaji di kawasan ini cukup beragam, mulai dari yang khas Surabaya hingga khas China. Perhatikan jenis makanan bagi Anda seorang Muslim. Memang dominan makanan di sini bernuansa masakan Tiongkok seperti Pangsit Mie dan lainnya. Salah satu restoran tertua dan patut Anda kunjungi adalah Restoran Kiet Wan Kie.
  • Pastikan Anda mengunjungi beberapa tempat menarik sekitar kawasan ini, yaitu: Jembatan Merah, pecinan, sertakawasan wisata religi Ampel.

Canon Canon EOS 1DX Mark II: “Jawara Terbaik”

Canon akhirnya merilis keluarnya salah satu kamera profesional terbaiknya di Indonesia, yaitu Canon EOS 1DX Mark II. Ini merupakan jajaran kamera seri terbaik dan teratas yang pernah diproduksi pabrikan asal Jepang tersebut. Kehadirannya sendiri pertama kali muncul pada pameran fotografi terbesar CP+ di Yokoyama, Jepang. Kamera ini disebut-sebut sebagai jawaban atas peluncuran Nikon D5 di akhir bulan Januari 2016.

Canon EOS 1DX Mark II memiliki spesifikasi papan atas dan dirancang demi memenuhi tuntutan fotografer profesional, terutama yang menuntut kecepatan, performa dan ketahanan kamera. Para fotojurnalis termasuk tukang foto olahraga dan beragam peristiwa penting lainnya adalah konsumen utama kamera ini.

EOS 1DX Mark II memiliki spesifikasi tinggi. Kamera Canon itu diperkuat sensor full frame 20 megapiksel (MP). Kamera ini dibekali burst rate 14 fps dengan autofokus dan 16 fps tanpa autofokus. Canon telah menyematkan ISO 100- 51.200 dan bisa diperluas hingga 409.600.

EOS 1DX Mark II bisa digunakan untuk membikin video 4K dengan resolusi 60 fps dan 1080p di 120 fps. LCD yang ada di belakang kamera itu berukuran 3,2 inci dengan 1,62 juta titik piksel serta dibekali dengan prosesor Dual DIGIC 6+. Canon EOS 1DX Mark II juga telah mumpuni untuk melakukan perekaman video beresolusi Full HD 1080p dengan framerate mencapai 120 frame per detik.

Kamera ini jauh lebih cepat saat dioperasikan dengan dilengkapi pemroses gambar DIGIC 6+. Saat Anda memotret beruntun, kamera mampu menyimpan sampai dengan 170 foto kualitas RAW sebelum melambat. Dua slot CompactFlash dan (satu slot CFast 2.0 – opsional) yang tersedia menjamin anda tidak akan pernah kehilangan foto akibat kerusakan kartu memori karena kamera ini bisa menulis satu foto ke dua kartu sekaligus.

Canon EOS 1DX Mark II rupanya juga mengusung sistem auto focus (AF) dengan total 61 titik fokus yang mencakup 41 titik focus silang atau cross type. Dibandingkan generasi sebelumnya, cakupan area fokus yang disuguhkan kamera ini pun juga lebih luas, yakni mengalami peningkatan lebar 24 persen. Layar LCD belakang berukuran 3.2 inci dengan 1,62 juta titik.

Seperti pendahulunya, Canon 1D X menggunakan bodi magnesium alloy yang sepenuhnya disegel sehingga tahan cuaca, dan memiliki shutter yang akan berlangsung selama kurang lebih 400.000 siklus. Tubuh kamera ini terbuat dari magnesium alloy dan sanggup menahan cipratan air serta debu layaknya kamera profesional.

Kamera ini dapat dipesan melalui PT Datascrip dengan harga USD $6000 (body only) atau dibundel dengan kartu 64GB CFast dan reader untuk USD $6300.

Ini spesifikasi Kamera Canon 1D X Mark II

  • 2 megapixel full-frame CMOS sensor
  • 2inch touch-screen, 1.62m dots (touch-screen only active in live view or movie shooting)
  • Intelligent optical Viewfinder II, 100% field of view, electronic overlay, 0.76x magnification
  • Dual DIGIC 6+ processors
  • 61 point AF system with 41 cross type points
  • AI Servo AF III +, focuses down to -3EV
  • Supports f/8 AF with all 61 points with extenders and telephoto lenses
  • 360K RGB+IR metering sensor
  • Flicker Detection for artificial lighting
  • Minimal Mirror Vibration Mirror Drive System
  • 14fps continuous shooting with AF/AE Tracking (RAW)
  • 16fps continuous shooting in Live View (Mirror lock up, AF locked first frame)
  • Unlimited JPEGs or 170 RAW images with CFast 2.0
  • ISO100 to 51200, expands to ISO50 up to ISO409600
  • Built in GPS, Geotag information, Logging function
  • CFast 2.0 / CompactFlash (UDMA7 Type I) slots
  • USB 3.0, built in Ethernet
  • 1210 shot battery life
  • Video
  • 4K video up to 60/50p, 4096×2160, approx. 800MBps, 30, 25, 24p approx. 500MBps
  • 8mp photos extractable in-camera from 4K footage
  • 4K records internally to CFast 2.0, in DCI 4K standard: 4096×2160 (17:9)
  • Dual Pixel CMOS AF technology (covers 80% of sensor area)
  • Movie Servo Auto Focus, can select focus point with touch-screen
  • FullHD video up to 120/100fps
  • ISO100 to ISO204800 available depending on mode
  • Clean HDMI output at Full HD resolution, 4.2.2 8-bit colour sampling
  • Mono microphone built in
  • Mic / Headphone sockets

 

Makan Bedulang: Menikmati Kuliner Belitung dalam Kebersamaan

Kebersamaan etnis melayu di Belitung digambarkan melalui sistem sosialnya yang lekat secara tradisi. Sumber daya alam yang tersedia diolah menjadi makanan-makanan lezat dan menyantapnya pun dilakukan secara bersama. Tradisi ini disebut dengan bedulang, secara harfiah diartikan sebagai “makan menggunakan dulang”.

Dulang bagi masyarakat Belitung adalah sebidang nampan besar berbentuk bundar. Mulanya yang digunakan adalah dulang kayu, dulang seng yang hingga kini masih dipakai baru diperkenalkan pada 1950. Diperkirakan munculnya tradisi makan bedulang berkaitan dengan masuknya tradisi Islam ke tanah Belitung.

Prosesi makan bersama akan melibatkan empat orang yang mengelilingi dulang. Mereka duduk bersila untuk menikmati dulang dengan tata cara tertentu. Bukan hanya menjadi bagian upacara adat seperti syukuran kelahiran, pernikahan, ataupun sunatan, bedulang juga merupakan sarana komunikasi informal antar anggota keluarga. Secara tidak langsung, orang tua mengajarkan etika kepada anak-anaknya melalui prosesi makan bersama.

Seperangkat dulang terdiri dari lauk-pauk khas Belitung yang disediakan di dalam piring-piring kecil, semua piring diletakkan di dalam nampan dulang. Dulang ditutup dengan tudung saji yang disebut mentudong. Nasi disajikan terpisah, demikian pula dengan air minum, buah-buahan, dan panganan pencuci mulut. Untuk membersihkan tangan disediakan kobokan dan serbet yang dilipat empat.

Uniknya, tamu yang hendak santap bedulang tidak serta-merta melayani diri sendiri. Ada seseorang yang disebut “mak panggong” untuk membantu pelaksanaan makan bedulang. Mak panggong tidak sendirian dalam memasak, menata bedulang, menuangkan air minum, menyiapkan kue, dan piranti lainnya. Ia berkoordinasi dengan empat petugas yang disebut tukang rage, tukang perikse, tukang isi aik dan tukang angkat dulang. Biasanya petugas-petugas ini adalah tuan rumah yang dilatih sebaik mungkin untuk memberi suguhan kepada tamunya.

Lantas kuliner apa saja yang bisa dinikmati? Umumnya bedulang disesuaikan dengan kemampuan tuan rumah dan ketersediaan bahan makanan di suatu wilayah. Kuliner pesisir akan berbeda dengan kuliner pedalaman namun tetap diracik dengan citarasa khas Belitung. Beberapa menu khas yang bisa dinikmati adalah: gangan darat yaitu sup daging ayam atau daging sapi, serati atau cumi yang dimasak dengan ketumbar, sate ikan, sambal, dan kuliner khas lainnya.

Setelah mak panggong selesai membawa seluruh keperluan bedulang ke hadapan tamu, kini giliran tamu yang melakukan etika bedulang. Tamu paling muda bertugas mengambil piring dan memberikannya pada tamu yang lebih tua. Umur tidak hanya patokkan satu-satunya untuk menentukan ini, status sosial pun menjadi ukuran. Sebelum makan tangan terlebih dahulu dicuci. Lalu lauk pauk baru bisa diambil dan tentunya dengan cara yang tertib. Makanan yang sudah diambil harus dihabiskan agar tidak mubazir, sedangkan makanan yang masih ada di dalam bedulang tidak boleh dikotori agar dapat dikembalikan ke dapur.

Makan bedulang menggambarkan kebersamaan, toleransi, menghargai yang lebih tua, rasa syukur dan persatuan. Duduk bersila dinilai menjadi posisi duduk yang paling baik, menyehatkan dan sempurna saat makan bedulang. Dalam tradisi ini, terjadi transfer kearifan lokal, pengetahuan dan keterampilan dari generasi ke generasi.

Bedulang kini tidak hanya bisa dinikmati oleh warga asli Belitung. Seiring dengan meningkatnya pariwisata di Bumi Laskar Pelangi ini, bedulang bisa dicicipi  wisatawan di Rumah Adat Belitung namun tetap mentaati peraturan yang ada. Satu bedulang hanya bisa dinikmati oleh empat orang, serta hanya tersedia untuk makan siang dan makan malam.

Untuk menyicipinya, Anda bisa melakukan reservasi terlebih dahulu dengan menghubungi pihak berikut.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung

Jalan Depati Gegedek No.17, Tanjung Pandan, Belitung

Tlp. 0719-21398/21036

 

 

 

Kecubung: Kilau Batu Mulia Khas Pangkalan Bun

Kilau batu kecubung memancarkan pesona yang bisa membuat kolektor batu jatuh cinta. Batu tampak bening, namun beberapa jenis batu memiliki serat-serat rambut di dalamnya sehingga menghasilkan keindahan tersendiri. Permata cantik ini berasal dari Kalimantan, salah satu daerah asalnya adalah Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.

Konon ketika melingkarkan kecubung pada jari, aura si pemakai akan keluar dan gairah hidupnya akan meningkat. Batu pun dipercaya dapat meningkatkan keberuntungan sehingga banyak pebisnis yang memakainya demi kesuksesan dan memperkuat relasi. Dahulu raja dan anggota keluarganya kerap menggunakan kecubung sebagai perhiasan, inilah mengapa permata tersebut sangat bernilai keberadaannya.

Umumnya batu kecubung berwarna ungu, merah muda, hitam dan putih. Saat dilihat seksama dengan senter, kecubung yang asli akan memperlihatkan serat-serat atau atau butiran. Berdasarkan rupanya inilah kecubung dibedakan menjadi beberapa jenis, yang paling mahal adalah kecubung platina. Permukaannya memang bening namun jika dilihat dengan seksama, terdapat butiran warna-warni di dalamnya. Tekstur di dalam batu pun terlihat halus tanpa cacat. Di sini, cacat berarti batu masih memiliki noda-noda sehingga tidak terlihat benar-benar jernih.

Bongkahan batu kecubung yang didapat dari penambang, direndam terlebih dahulu agar kandungan yang terdapat di dalam batu terlihat. Dari sini bisa dinilai apakah batu tersebut termasuk kecubung standar ataupun kecubung langka.

Usai direndam, batu terlebih dahulu dipotong-potong dengan mesin oleh perajin. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan, baik untuk dijadikan batu cincin ataupun liontin. Jika potongan batu sudah dihasilkan maka tahapan berikutnya adalah digosok menggunakan ampelas. Pada proses inilah kepiawaian perajin sangat diperlukan. Butuh bertahun-tahun pengalaman untuk menggosok kecubung dengan sempurna. Kecubung yang sudah jadi teksturnya sangat halus dan bercahaya, isi di dalam batu pun dapat terlihat jelas.

Ampelas yang digunakan juga berbeda-beda, memiliki nomor sesuai dengan fungsinya baik digunakan untuk memperhalus kecubung yang masih kasar, ataupun menyempurnakan kecubung yang sudah halus. Dalam proses penggosokkan, perajin dibantu dengan alat tambahan yakni stick kayu yang direkatkan pada kecubung.  Tahap ini dilakukan selama kurang lebih satu jam, tergantung ukuran dari batu kecubung. Perajin yang sudah mahir mampu menghasilkan batu kecubung siap jual hingga 20 buah per harinya.

Penggosokkan pada ampelas ternyata bukan proses yang terakhir. Masih ada tahap penyempurnaan yakni menggosok batu pada sebilah bambu agar semakin halus. Setelah itu, baru lah kecubung siap dijual atau dirangkai lagi menjadi ragam perhiasan, seperti kalung, gelang, bahkan tasbih.

Jika berkunjung ke Pangkalan Bun, Anda bisa singgah di Toko Souvenir Istana Kecubung di Jalan Pangeran Antasari Ruko Kodim No. 7 Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Anda bisa mendapatkan sebuah batu kecubung standar dengan harga mulai dari Rp60 ribu, hingga kecubung platina yang langka dengan harga Rp9,5 juta.

Rumah Budaya Sumba di Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba

Pulau Sumba menawarkan tujuan wisata lengkap bagi Anda para petualang dan peminat budaya. Di pulau ini dari bagian timur hingga baratnya dapat Anda temukan serentetan rumah adat beratap alang-alang, kubur batu, hingga kampung adat tradisional lengkap dengan perangkat budayanya. Bukan itu saja, Sumba juga menawarkan bahan kajian bagi para peneliti budaya.

Untuk mendapatkan informasi lengkap tentang kebudayaan di Pulau Sumba maka Anda perlu menyambangi Sumba Cultural Research and Conservation Institute atau Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba di Kalembu Nga’bangga, Weetebula, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba dibuka pada 22 Oktober 2011 dan selain menjadi museum dan pusat penelitian budaya Sumba, lokasinya juga kerap menjadi tempat pementasan seni, diskusi budaya, dan toko untuk mendapatkan beragam cenderamata khas Pulau Sumba.

Rumah budaya ini didirikan atas usaha dan inisiasi Pater Robert Ramone yang merupakan seorang pastor dari CSsR (Conggregatio Sanctisimi Redemptoris). Ia telah mengupayakan pendiriannya sejak 2004 dan baru terealisasi pada 2010. Rumah budaya ini dibangun dengan dana sumbangan berbagai pihak dan lebih melandaskan pada kekuatan fisik, kekuatan intelektual, dan juga kekuatan jiwa dari orang-orang yang peduli budaya Sumba.

Pater Robert berharap rumah budaya ini menjadi ruang bagi pengunjung untuk mengenal, mencintai dan memahami Sumba. Rumah budaya ini, kata Pastor Robert, bukan untuk melestarikan Marapu (agama asli orang Sumba), melainkan juga menjadi jembatan memahami budaya Sumba.

Rumah  budaya ini berdiri di atas lahan seluas tiga hektar dengan dua bangunan kembar bercorak rumah adat Sumba yang menjadi gedung utamanya. Bangunan pertama di kiri adalah untuk kantor dan tempat tinggal, sementara yang satunya di kanan berupa galeri dan toko cenderamata. Di dalam museum atau galeri dapat Anda lihat beragam peninggalan tradisi Sumba. Beberapa diantaranya adalah totem, menhir, perhiasan, peralatan masak, dan juga foto-foto karya Pater Robert Ramone.

Di bagian tengah antara kedua gedung tersebut ada lahan pelataran yang dijadikan lahan panggung untuk pentas seni dan budaya. Pelataran tersebut diberi inisial lantainya berupa huruf C yang berasal dari bahasa Latin, yaitu: ‘cor’ artinya ‘hati’. Dalam tradisi Sumba, pada posisi huruf C itu berdiri pohon yang menandakan sahnya kampung. Huruf C itu juga berarti center atau culture. Ketika Anda berdiri persis di situ lalu menghadap depan (jalur masuk kendaraan) maka harapan semua yang datang akan membawa cinta, pergi, lalu datang lagi juga dengan membawa cinta.

Pater Robert Ramone sendiri telah lama dikenal warga Sumba selain sebagia pastor juga sebagai dokumentator budaya Sumba. Selama menjelajah Pulau Sumba, ia mendokumentasikan apa yang diamatinya dengan kamera sehingga menghasilkan ragam dokumentasi foto terkait budaya Sumba. Ia ingin mengingatkan semua orang bahwa hidup tidak akan ada nilainya tanpa tradisi. Suatu tradisi harus ada karena kesadaran diri kemudian kehidupan manusia tidak bisa berangkat dari titik nol karena tradisi menjadi kesadaran kolektif, yaitu kesadaran manusia tentang dirinya.

Oleh karena itu, bagi Pater Robert Ramone penting untuk orang Sumba mengenal sejarahnya. Apabila seseorang tidak kenal sumber identitasnya maka akan lupa diri dan seorang yang mengabaikan tempat tumbuh dan berkembang maka mudah lupa daratan. Atas upaya Pater melestarikan budaya Sumba tersebut ia mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan, diantaranya Akademikus Award NTT, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan dari Persatuan Bisnis Indonesia.

Sumba Cultural Research and Conservation Institute (Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba)

Kalembu Nga’bangga, Weetebula 87254, Sumba Barat Daya, NTT

www.sumbaculture.org

081339362164

081328494184

ramone_cssr@yahoo.com

Untuk informasi transportasi, akomodasi, dan kuliner di Pulau Sumba lihat laman berikut.

Membangun Wisata di Tepian Selatan Indonesia: Natuna sebagai Destinasi Berkelas Dunia

Ancaman konflik di Laut China Selatan terhadap kedaulatan Indonesia merupakan isu yang kompleks dan multidimensional, melibatkan aspek geopolitik, ekonomi, dan keamanan. Konflik di Laut China Selatan memiliki dampak serius terhadap keamanan maritim dan ekonomi Indonesia. Peningkatan anggaran pertahanan, ketidakpastian perdagangan, dan ancaman terhadap stabilitas politik adalah beberapa dampak yang teridentifikasi. Selain itu, isu-isu seperti terorisme, perompakan, dan penangkapan ikan ilegal juga menjadi tantangan tambahan bagi keamanan maritim Indonesia.

Meskipun Indonesia bukan pihak yang terlibat langsung dalam sengketa teritorial di Laut China Selatan, implikasi dari konflik ini sangat signifikan bagi stabilitas dan kepentingan nasional Indonesia. China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan melalui sembilan garis putus-putus dimana itu tumpang tindih dengan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di sekitar Kepulauan Natuna. Aktivitas militer China, termasuk pembangunan infrastruktur dan patroli militer juga telah meningkatkan ketegangan di wilayah ini dan mengancam kedaulatan Indonesia. 

Aktivitas militer China di sekitar Natuna dan klaim sepihaknya mengancam kedaulatan maritim Indonesia dan dapat mempengaruhi stabilitas regional secara keseluruhan. Tentunya reaksi Pemerintah Indonesia adalah meningkatkan kemampuan militernya, termasuk pengadaan kapal perang canggih dan peningkatan patroli di wilayah yang disengketakan. Namun demikian, upaya tersebut bukan solusi tunggal dan permanen namun perlu diikuti dengan kebijakan diplomatik dan kerjasama internasional yang kuat sebagai langkah-langkah penting yang harus terus diperkuat untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas di wilayah ini.

Strategi diplomasi Indonesia untuk menyelesaikan sengketa di Laut China Selatan telah melibatkan pendekatan multifaset yang mencakup kombinasi dari diplomasi pertahanan, kerjasama regional dan internasional, penegakan hukum internasional, diplomasi maritim, peningkatan kapasitas pertahanan, dan peran sebagai mediator. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga kedaulatan Indonesia, memastikan stabilitas regional, dan menyelesaikan sengketa secara damai.

Secara bersamaan semua langkah tersebut tentunya harus tetap diikuti dengan meningkatkan kapasitas pertahanan dan keamanan maritimnya untuk melindungi kedaulatan wilayah. Ini termasuk pengadaan kapal perang canggih, peningkatan patroli di wilayah yang disengketakan, dan koordinasi antar institusi terkait seperti TNI AL, BAKAMLA, dan POLAIR.

Selain pendekatan multifaset dalam menghadapi ancaman konflik di Laut China Selatan, Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun ketahanan nasional di Selatan wilayahnya dengan citra sebagai destinasi wisata berkelas dunia. Mengapa demikian? Itu karena Natuna memiliki potensi sebagai kawasan geopark yang memukau, baik itu lansekap alam, laut, juga budaya dan manusianya.

Membangun Natuna sebagai Etalase Depan yang Memikat Wisatawan Dunia

Potensi terbesar pariwisata di Natuna ada pada keindahan alamnya yang meliputi ekowisata, wisata bahari, dan geopark. Natuna memiliki berbagai destinasi ekowisata yang menarik, seperti hutan mangrove, hewan kekah, dan kebun buah-buahan. Ekowisata ini tidak hanya menawarkan keindahan alam tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan dan keberlanjutan. Pun demikian pada wisata bahari di natuna merupakan salah satu daya tarik utama. Ada banyak pantai yang indah, seperti Pantai Tanjung, Pantai Batu Kasah, dan Pulau Senua, semua menawarkan pemandangan yang memukau dan berbagai aktivitas seperti snorkeling, menyelam, dan kapal layar. 

Pariwisata berkelanjutan yang berkualitas dapat membantu membangun ekonomi lokal di Pulau Natuna melalui peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja, pengembangan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat lokal, diversifikasi ekonomi, promosi budaya dan kearifan lokal, peningkatan investasi, dan pengembangan ekowisata. Dengan strategi yang tepat dan kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, pariwisata dapat menjadi pilar penting dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan di Natuna.

Natuna telah diusulkan sebagai Geopark Nasional, yang mencakup berbagai situs geologi yang unik seperti Alif Stone Park dan Batu Sindu. Geopark ini tidak hanya menarik wisatawan tetapi juga berpotensi untuk diakui secara internasional, yang dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.

Natuna juga memiliki potensi besar untuk pengembangan ekowisata yang dapat menarik wisatawan yang peduli terhadap lingkungan. Pengembangan ekowisata dapat menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam yang ada, seperti geopark, terumbu karang, dan hutan mangrove, sambil terus memastikan kelestarian lingkungannya.

Pariwisata memainkan peran penting dalam upaya mempertahankan Pulau Natuna sebagai wilayah kedaulatan Indonesia. Untuk mendukung pariwisata, pemerintah daerah dan pusat harus terus membangun infrastruktur seperti bandara, pelabuhan, jalan, dan fasilitas pendukung lainnya di Pulau Natuna. Pembangunan infrastruktur ini tidak hanya meningkatkan aksesibilitas wisatawan tetapi juga memperkuat kehadiran Indonesia di wilayah tersebut.

Pariwisata dapat menarik investasi dari sektor swasta, baik domestik maupun internasional. Investasi ini dapat digunakan untuk mengembangkan fasilitas pariwisata, meningkatkan kualitas layanan, dan memperluas kapasitas akomodasi. Pemerintah daerah juga memberikan insentif pajak bagi investor di sektor pariwisata untuk mendorong lebih banyak investasi. Investasi dalam infrastruktur pariwisata, seperti pembangunan resor, bandara, pelabuhan, dan jalan, tidak hanya meningkatkan aksesibilitas bagi wisatawan tetapi juga memperbaiki kualitas hidup masyarakat lokal. Infrastruktur yang lebih baik dapat mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dengan memfasilitasi perdagangan dan mobilitas. 

Pengembangan pariwisata di Pulau Natuna dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui lapangan kerja dan peluang usaha. Peningkatan kesejahteraan ini dapat mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya mempertahankan wilayah Natuna sebagai bagian dari Indonesia. Selain itu, pariwisata berbasis komunitas juga dapat memberdayakan masyarakat lokal dengan melibatkan mereka dalam pengelolaan dan operasional destinasi wisata. Program pelatihan dan sertifikasi untuk pemandu wisata dan pengelola homestay, misalnya, dapat meningkatkan keterampilan dan kapasitas masyarakat lokal, sehingga mereka dapat berpartisipasi aktif dalam industri pariwisata.

Pariwisata dapat menjadi sumber pendapatan alternatif yang penting bagi Natuna yang selama ini bergantung pada sektor perikanan dan migas. Diversifikasi ekonomi melalui pariwisata dapat mengurangi ketergantungan pada satu sektor ekonomi dan meningkatkan ketahanan ekonomi daerah terhadap fluktuasi pasar global. Pariwisata natuna memiliki potensi besar untuk membantu membangun ekonomi lokal melalui berbagai cara. Pariwisata dapat meningkatkan pendapatan lokal dengan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pariwisata dan sektor terkait seperti perhotelan, restoran, transportasi, dan pemandu wisata. Pembangunan resor dan fasilitas pariwisata lainnya di Natuna telah menciptakan peluang kerja bagi masyarakat setempat, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka.

Pengembangan pariwisata di Pulau Natuna mendorong peningkatan kehadiran sipil di wilayah tersebut. Pemerintah perlu mendukung nelayan lokal dengan kapal yang lebih modern dan mengembangkan industri pariwisata seperti homestay dan kuliner. Kehadiran penduduk sipil yang kuat dapat memperkuat klaim Indonesia atas wilayah Natuna. Dengan demikian, pariwisata memiliki peran strategis dalam mempertahankan Pulau Natuna sebagai wilayah kedaulatan Indonesia melalui peningkatan kehadiran sipil, pembangunan infrastruktur, penguatan keamanan maritim, promosi dan diplomasi, kerjasama regional dan internasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pariwisata tentunya juga dapat mempromosikan budaya dan kearifan lokal Natuna, seperti melalui wisata budaya dan ekowisata. Ini tidak hanya menarik wisatawan tetapi juga membantu melestarikan warisan budaya dan tradisi lokal. Misalnya, kegiatan ‘Kekah Watching’ dan promosi kuliner khas Natuna dapat menjadi daya tarik wisata yang unik. Pengembangan pariwisata di Pulau Natuna mempromosikan keindahan alam dan budaya Indonesia kepada wisatawan mancanegara. Ini dapat meningkatkan citra positif Indonesia dan memperkuat klaim kedaulatan atas wilayah tersebut melalui diplomasi pariwisata.

Pada akhirnya, peningkatan aktivitas pariwisata di Pulau Natuna dengan sendirinya akan mendorong penguatan keamanan maritim di wilayah tersebut. Upaya pemerintah dalam patroli maritim dan pengawasan nantinya akan beralih untuk menjamin keamanan wisatawan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Bahkan negara sekitar akan ikut terdorong membangun kerjasama regional dan internasional untuk memperkuat solidaritas regional dan mendukung Indonesia mempertahankan Pulau Natuna karena telah menjadi tujuan wisata dunia. (@himsaifanah)

Pemerintah Kembangkan Desa Wisata: “Indonesia Maju dari Desa Wisata”

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) akan memperkuat kolaborasi dengan bersinergi program bersama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (KemendesPDTT) dalam upaya mengembangkan desa wisata di Indonesia sehingga dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Sesuai RPJMN 2020 – 2024, Kemenparekraf/Baparekraf menargetkan sebanyak 244 desa wisata tersertifikasi menjadi desa wisata mandiri hingga 2024.

“Dari 244 desa wisata, sebanyak 150 desa wisata berada di 5 Destinasi Super Prioritas dan akan kita perlebar. Sesuai arahan Presiden, desa wisata ini jadi platform yang akan kita gaspol di tahun 2021. Kolaborasi bersama KemendesPDTT tentu menjadi sangat penting, dan diharapkan adanya kesepakatan terkait daftar 244 desa wisata untuk program pendampingan desa wisata,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, saat audiensi dengan Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (18/1/2021).

Mendampingi Menparekraf dalam audiensi tersebut, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur, Hari Santosa Sungkari, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Wisnu Bawa Tarunajaya, dan Deputi Bidang Kebijakan Strategis, Kurleni Ukar.

Menparekraf menjelaskan, Kemenparekraf dan KemendesPDTT sebelumnya telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman di tahun 2016. Sehingga perlu dikaji kembali untuk diperbaharui mengingat situasi saat ini yang sangat dinamis, ataupun melihat mana saja yang memungkinkan untuk ditingkatkan menjadi perjanjian kerja sama.

Desa wisata atau rural tourism, dikatakan Sandiaga, telah menjadi tren pariwisata dunia. Pengalaman liburan otentik di tengah lingkungan yang santai dan sehat, menarik semakin banyak wisatawan.

Di eropa, 15 persen dari total kapasitas amenitas berada di desa-desa wisata yang berkelanjutan berupa homestay. Begitu juga dengan serapan tenaga kerja, desa wisata memiliki potensi yang besar. Di Inggris, desa wisata menyumbang 12 persen lapangan kerja.

Indonesia dengan jumlah desa yang mencapai lebih dari 74 ribu, ditambah dengan kekayaan budaya serta ekonomi kreatif, tentu memiliki peluang besar dalam menghadirkan desa wisata.

“Kita ingin program-program bersinergi untuk desa wisata, membuka lapangan kerja seluas-luasnya dan memajukan kesejahteraan umum. Kita mulai Indonesia Maju dari desa wisata,” kata Menparekraf.

Sementara Wamenparekraf Angela Tanosoedibjo, mengatakan, Kemenparekraf/Baparekraf secara umum mengklasifikasikan desa wisata menjadi tiga kategori. Pertama adalah rintisan, yakni desa wisata yang memiliki potensi namun masih terdapat keterbatasan terhadap sarana dan prasarana sehingga belum atau masih sedikit wisatawan yang berkunjung.

Sangat diperlukan pendampingan dari pihak-pihak terkait.Kemudian desa wisata maju dan berkembang, yakni desa wisata yang sudah ada kunjungan wisatawan dari luar daerah maupun wisatawan mancanegara dan memiliki sarana prasarana dan fasilitas pariwisata yang sudah berkembang. Masyarakatnya pun sudah memiliki kesadaran akan wisata dan mampu mengelola usaha pariwisata melalui pokdarwis/kelompok kerja lokal.

Kemudian mandiri, yakni desa wisata yang sudah mampu melakukan inovasi masyarakat dalam pengembangan potensi desa menjadi unit kewirausahaan mandiri. Desa wisata tersebut juga sudah dikenal mancanegara dan menerapkan konsep keberlanjutan yang diakui dunia.

“Dalam pendampingan dan pengembangannya dibutuhkan kerja sama program. Seperti Kemendes yang bisa mendorong infrastruktur, dan Kemenparekraf dalam hal pengembangan sumber daya manusia dan sarana prasarana. Membantu fasilitasi untuk masuk ke platform digital/marketplace sehingga mendorong mereka dalam memperbesar akses terhadap masyarakat dan potensi customer,” kata Angela.

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi, menyambut baik sinergi yang akan diperkuat dengan Kemenparekraf/Baparekraf. Desa wisata menjadi salah satu program unggulan KemendesPDTT bersama dengan Desa Digital.

KemendesPDTT saat ini sedang melakukan penyusunan rencana kerja, dimana desa wisata menjadi hal yang utama untuk dikembangkan. Tidak hanya desa wisata di 5 destinasi super prioritas, namun juga di daerah-daerah lain.

“Pembangunan pariwisata juga jangan hanya menjadikan warga desa atau masyarakat sebagai penonton, namun harus dapat melibatkan masyarakat. Sinergi dan kolaborasi sangat penting, karena kita percaya pariwisata akan menjadi leading sector yang bisa membawa Indonesia lebih gemilang dan maju. Pariwisata harus menghadirkan kemakmuran untuk warga desa,” kata Budi Arie Setiadi.

Candi Ijo: Senja Memikat Candi di atas Bukit Padas

Pola keletakan Candi Ijo mirip dengan pemujaan tradisi megalitik dimana halaman teras teratas merupakan tempat yang paling suci, dipagari delapan lingga patok yang masing-masing memencar ke empat arah mata angin.

Candi ini berada di lereng Bukit Padas tepat di depan Gunung Ijo yang puncaknya tertutup oleh pepohonan. Dari atas sini terlihat jelas panorama wilayah Gunung Kidul beserta areal persawahan, lembah Sungai Opak dan Bandara Adisucipto sehingga menghasilkan paduan lansekap menawan.

Berdasarkan peninggalan dari panteon Hindu hingga lingga-yoni, bisa dipastikan bahwa Kompleks Candi Ijo merupakan bangunan suci untuk pemujaan agama Hindu. Reliefnya memiliki banyak kesamaan dengan yang terdapat pada candi lain di perbukitan Ratu Boko.

Terdapat total 17 bangunan yang terletak di atas 11 halaman berbentuk teras berundak yang memanjang dari arah barat ke timur. Bangunan candi induk memiliki tinggi sekira 9,20 meter dengan keliling fondasi 18,40 meter persegi, serta dilengkapi dengan tangga di sisi barat. Bangunan ini diperkiran didahului oleh teras atau gerbang yang disimpulkan dari adanya lubang-lubang untuk fondasi di teras-teras terdepan, namun tembok dari teras atau gerbang tersebut kini sudah runtuh. Meskipun demikian Anda masih dapat menikmati ukiran-ukiran relief yag indah di bagian tubuh candi. Relief berupa untaian bunga-bunga, angin beliung, pertapa, hingga singa.

Seluruh candi telah direstorasi namun bangunan dasarnya tetaplah konstruksi asli. Pelataran kompleks kini meliputi empat candi yaitu satu candi utama, tiga candi sekunder dan struktur lain yang belum teridentifikasi. Candi Ijo pertama kali ditemukan oleh H.E Dorrepal pada 1886.

Sebelum hari berangsur gelap dan lampu-lampu menerangi setiap sudut jalan di Yogyakarta, tujuan terakhir dari perjalanan Anda adalah menikmati senja yang perlahan tenggelam di pelupuk garis horizon. Pantai bukanlah satu-satunya titik di Yogyakarta yang menyimpan pemandangan ini. Di Kompleks Candi Ijo, Anda akan diajak melihat Matahari terbenam dari ketinggian 400 m dpl dengan candi-candi sebagai latarnya.

Berjalan ke arah timur tangga maka Anda akan menemukan ceruk yang disebut lingga, ini adalah pusat lokasi dari kawasan suci tersebut. Arca Siwa dan Ganesa ditemukan di candi utama, begitu pun dengan arca Wisnu dan Narasimha. Arca lain yang diidentifikasi sebagai Parwati juga ditemukan dekat dengan candi namun sekarang sudah dipindahkan ke Museum Prambanan. Pada bagian pintu masuk candi induk terdapat ukiran Kala Makara yang berupa mulit raksasa berbadan naga, ukiran ini miripseperti yang tampak pada pintu masuk Candi Borobudur.

Tepat di depan candi induk terdapat tiga buah candi sekunder dengan ukuran yang lebih kecil, semuanya dibangun sejajar menghadap ke arah timur. Candi paling utara dan paling selatan memiliki konstruksi fondasi yang mirip, berukuran 5,11 meter x 5,11 meter. Batasan ranah suci ini ditandai dengan adanya tembok-tembok di sekitar candi.

Tips

  • Candi Ijo berada di perbukitan yang sama dengan Candi Ratu Boko, tepatnya di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Jaraknya sekira 28  kilometer dari Kota Yogyakarta. Anda dapat menggunakan bus Trans Jogja dengan mengambil rute ke arah Sleman atau Candi Prambanan, kemudian dilanjutkan dengan ojek ataupun taksi ke arah selatan. Candi Ijo berada tepat di jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta dengan Piyungan. Setelah berjalan sekira 15 menit maka Anda akan menemukan Candi Ijo. Apabila menggunakan kendaraan pribadi, Anda bisa memarkirnya tepat di dekat pelataran Kompleks Candi Ijo.
  • Untuk akomodasi Anda bisa menginap di Kota Yogyakarta kemudian mengambil tur candi ke Sleman ataupun menginap langsung di Sleman.
  • Tidak jauh dari kompleks candi terdapat Tebing Breksi yang merupakan area penambangan batu karst. Banyak wisatawan yang mengunjunginya karena tempat ini menawarkan pemandangan yang cukup unik. Dari puncak Tebing Breksi, Anda pun dapat melihat Candi Prambanan, Candi Ratu Boko dan Candi Barong sekaligus.
  • Mengasyikkan bila Anda mulai menyusun rencana perjalanan khusus dengan tujuan candi-candi di Yogyakarta. Buatlah daftar candi mana saja yang menarik untuk kunjungi dalam sehari penuh. Biasanya tur candi akan berakhir di Candi Ratu Boko atau di Candi Ijo dengan panorama Matahari terbenam spektakuler. Inilah yang membuat Candi Ijo begitu ramai pengunjung, terutama akhir pekan.
  • Sebelum menghabiskan hari di Candi Ijo, Anda ditawarkan melihat perkampungan unik yang dihuni oleh rumah-rumah dengan atap berbentuk setengah lingkaran. Sekira 15 menit berkendara, Anda akan tiba di desa dengan nama Dome Telletubbies ini. Rumah tersebut merupakan pemukiman korban gempa tahun 2006. Total bangunan ada 80 buah, 71 merupakan hunian warga dan 6 buah rumah lainnya adalah fasilitas bersama seperti MCK, masjid dan aula. Di kawasan ini disediakan rental sepeda agar Anda bisa berkeliling kampung dan menemukan titik-titik menarik. Untuk mendapat penjelasan yang lebih akurat, Anda bisa menyewa pramuwisata dengan tarif mulai dari Rp50 ribu.

Baparekraf for Startup (BEKUP) Kembangkan Startup Lokal Berdaya Saing

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mendorong ekosistem startup di tanah air dengan meluncurkan program Baparekraf for Startup (BEKUP) sebagai upaya pengembangan stratup lokal agar semakin berdaya saing tinggi.

Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Josua Simanjuntak, saat Kick Off Road To Baparekraf For Startup 2020 di Jakarta, Selasa (7/7/2020) menjelaskan, melalui program BEKUP, Kemenparekraf ingin membuka kesempatan lebar bagi para pelaku usaha, serta mendorong terciptanya inovasi digital dan kemampuan adaptasi startup lokal untuk meningkatkan kualitas wirausaha.

“Lewat teknologi digital, kita harapkan akan ada akselerasi bisnis yang membuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dapat pulih dengan lebih cepat. Selain itu, dengan adanya kesempatan yang ditawarkan oleh program ini, para pelaku usaha diharapkan bisa fokus dan berinovasi untuk menjadi solusi dalam menanggulangi dampak pandemi COVID-19,” kata Josua.

Josua menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki 5 startupterbaik yakni Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, Ovo, dan Gojek yang tercatat telah menjadi decacorn. Berkaca dari dampak ekonomi yang besar dari 5 startup tersebut, pemerintah ingin menumbuhkan startup-startup yang mereplikasi startup unicorn dan decacorn yang ada.

“Jangan sampai Indonesia hanya jadi pasar, besarnya populasi Indonesia besar pula market. Meskipun penetrasi internet kita rendah di angka 64 persen tetapi jumlah pengguna internet adalah terbesar di Asia Tenggara yaitu 175 juta,”ujarnya.

Kemenparekraf berharap setelah adanya program ini, startup dapat berinovasi dan menggunakan teknologi agar berdampak positif. Untuk selanjutnya dapat memberikan terobosan bagi masyarakat agar bisa bangkit di masa pandemi ini.

“Kami ingin menjaring startup digital Indonesia yang berkualitas dan dapat bersaing dengan kompetitif dan bisa memberikan dampak positif terhadap ekonomi kita,” kata Josua.

Dalam “Kick Off Road To Baparekraf For Startup 2020” hadir Presiden Coworking Indonesia Faye Alund, Co Founder Tiket.com Gaery Undarsa, dan Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Baparekraf Muhammad Neil El Himam.

Sementara itu, Presiden Coworking Indonesia, Faye Alund, menambahkan bahwa program ini dapat menjadi wadah bagi para startup untuk berkarya dan mengembangkan inovasi secara kompetitif yang menjawab kebutuhan perekonomian Tanah Air.

“Kami di komunitas Coworking Indonesia percaya bahwa pertumbuhan kewirausahaan dan ekonomi Indonesia dapat dibangun lewat kolaborasi, dan pandemi bukanlah alasan untuk menghalangi hal tersebut,” kata Faye.

Pendaftaran BEKUP batch pertama tahun 2020 akan dibuka di Jakarta pada 20 Juli 2020. Lalu, akan diikuti oleh batch kedua di Surabaya pada 29 Juli 2020, ketiga di Bali pada 7 Agustus 2020, keempat di Medan pada 20 Agustus 2020, dan kelima di Makassar pada 1 September 2020.

Lebih dari 500 startup ditargetkan untuk dapat berpartisipasi dalam program BEKUP 2020. Setelah melalui proses seleksi, startup ini akan dibina untuk kemudian dipilih sebanyak 40 startup terbaik yang akan masuk ke tahap inkubasi dengan mentor-mentor berkompeten dalam industri startup digital Indonesia.

Menumbuk Kacang Kenari di Pulau Makian

Kembali ke masa lalu saat empat kesultanan di Maluku Utara saling berbagi keuntungan dari apa yang disodorkan oleh alam. Rempah-rempah adalah hasil bumi yang dibagi di antaranya dan memberi saham terbesar untuk menguatkan hegemoni empat kesultanan, yaitu: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Adalah pohon kenari yang tumbuh melimpah di sebuah pulau bernama Makian atau orang Maluku menyebutnya sebagai Pulau Kenari.

Pulau Makian di Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, memiliki luas yang tidak seberapa besar. Lebarnya sekira 10 km dengan jalanan yang sudah teralas sepanjang 36 km. Di pulau ini terpancang Gunung Kiebesi (Kie Besi)setinggi 1.357 meter dengan lebar kawahnya 1.5 kilometer. Ada sekira 200 kepala keluarga yang mendiami pulau ini dengan infrastruktur yang mencukupi termasuk sekolah dari SD hingga SMU. Warganya pulau ini mayoritas peladang kebun, yaitu pohon kenari dan kelapa dan itu sudah berabad lamanya.

Pulau Makian sendiri sebenarnya merupakan rumah pertama Kesultanan Bacan sebelum pindah ke Pulau Lelei dan akhirnya ke Pulau Bacan. Sebuah eksodus sebuah kesultanan dan warganya dilakukan demi mitigasi terkait aktivitas gunung api di pulau ini yang beberapa kali memuntahkan isinya, yaitu tahun 1550, 1646, 1760, 1861, dan juga termasuk tahun 1975 yang membuat semua warganya pindah namun kembali lagi ke pulau tersebut tahun 1988 karena ikatan tanah leluhur dan keberadaan pohon kenari kesayangan mereka.

Di Pulau Makian, kenari ada di mana-mana memenuhi hijau dan rimbunnya pulau tersebut. Pohon kenari sendiri masuk ke dalam suku Burseraceae dimana jenis ini dapat tumbuh menjulang setinggi 20-60 meter dengan diameter pohonnya belum tentu cukup untuk dipeluk oleh satu orang. Bahkan, pohon kenari yang ada di pulau ini banyak yang berusia di atas 100 tahun. Buah kenari sendiri memiliki ukuran 3-6 cm dengan cangkang luar lunak berwarna hitam, bagian cangkang dalamnya berkulit amat keras berwarna coklat kekuningan, serta biji intinya yang berwarna putih begitu gurih saat langsung disantap.

Warga Pulau Makian akan memanen pohon kenari antara bulan Maret hingga Agustus. Terkadang tidak perlu memanjat pohonnya untuk memetik buahnya tetapi cukup menunggu kenari tua yang terjatuh ke tanah. Besar dan melimpahnya hasil kacang kenari di Pulau Makian telah membuatnya disebut sebagai Pulau Kenari dan nama ini lebih lazim dikenal oleh banyak orang. Ya, bila kita mengenal Pulau Banda sebagai penghasil pala maka Pulau Makian adalah penghasil kacang kenari terbesar di negeri ini.

Kacang kenari atau canary nut (Canarium indicum-Canarium vulgare) yang dibudidayakan di Pulau Makian memiliki ukuran lebih besar empat kali dari ukuran lazimnya yang ada, bahkan bila dibandingkan dengan yang ditanam di Vanutu. Kacang kenari sendiri oleh warga empat kesultanan sejak dahulu dijadikan bahan makanan terutama kue, semisal halua kenari dan bagea kenari. Seringnya pula kacang kenari dimanfaatkan untuk pembuat minyak atau getahnya untuk kesehatan dan wewangian. Kayu dari pohon kenari pun dapat digunakan untuk membuat perabotan rumah.

Saat ini penelitian terhadap manfaat mengonsumsi kacang kenari terus menyeruak dikemukakan peneliti kesehatan dan gizi. Beberapa yang penting adalah sangat baik untuk kesehatan jantung dan kesehatan otak. Bahkan, banyak yang menyebut bahwa kenari sebagai makanannya otak. Tidak itu saja, dengan mengkonsumsi kacang kenari, secara alamiah maka seseorang juga telah melindungi tubuhnya dari pengaruh buruk polutan.

Selain itu, kacang kenari juga bisa menurunkan kolesterol jahat dan membantu kualitas tidur  karena kandungan melatonin yang ada di dalamnya baik untuk menciptakan rasa kantuk. Seorang peneliti bernama Prof Wendie Robbins dari Fielding School of Public Health dari UCLA baru-baru ini mengutarakan bahwa mengonsumsi kacang kenari setiap hari akan membantu perbaikan signifikan kesehatan  vitalitas dan sperma laki-laki.

Apabila Anda berminat menyambangi Pulau Kenari maka datanglah ke Ternate untuk kemudian lanjutkan perjalanan dengan naik perahu selama 1,5 jam perjalanan. Warga di sana amat ramah dengan pengunjung dan bahkan mereka akan menunjukkan pada Anda pohon kenari lalu memetiknya langsung di tempat. Batu besar pun akan dijadikan alas untuk menumbuk kacang kenari yang berlapis dua dan bagian kulit yang terakhir itu amatlah keras. Perlu keahlian dan pembiasaan membuka cangkang sekeras batok kelapa itu, dua atau empat kalau tumbukan beruntun tepat sasaran bisa membukakan hidangan biji putih kenari. Makanlah langsung dan rasakan gurihnya sehingga membuat Anda ingin dan ingin lagi memakannya.

Bukan hanya kacang kenari, Pulau Makian juga menyediakan buah kelapa yang nikmat rasanya. Sungguh berbeda dan Anda wajib mencicipinya. Rasa air kelapa di Pulau Makian terasa manis sekaligus asam, itu sebuah perpaduan yang cukup lezat melegakan tenggorokan selepas melahap butir demi butir kacang kenari. Di Pulau Makian begitu banyak kambing berkeliaran yang dengan sabar menunggu Anda membuang buah kelapa yang telah diminum airnya itu, jadi mengapa tidak berbagilah belahan ya dengan mereka.