Home Blog Page 8

Wayang Kulit: Mahakarya Seni Bertutur Nusantara

Wayang kulit selama berabad-abad telah menjadi salah satu kebudayaan Nusantara yang memikat dan amat khas. Istilah wayang berasal dari bahasa jawa yang berarti bayang jika disadur ke Bahasa Indonesia. Ada juga yang menyebut bahwa kata wayang berasal dari kata Ma Hyang, artinya menuju ilahi.

Wayang kulit terbuat dari kulit kerbau yang ditatah secara hati-hati untuk mendapatkan detail ukiran  sempurna. Biasanya ada beberapa perajin yang ikut campur tangan untuk membuat satu wayang kulit. Masing-masing dari mereka terlibat dalam proses yang berbeda.

Ada dua jenis kulit kerbau yang digunakan yaitu kulit mentah tanpa proses kimiawi maupun kulit split yang dibuat melaui proses kimiawi. Sebagian besar kulit diperoleh dari daerah Magetan di Jawa Timur, Sukoharjo, Solo dan Magelang di Jawa Tengah, serta Segoroyoso di Yogyakarta.

Tahap pertama pembuatan berupa pengolahan kulit dengan cara merendamnya selama satu hari agar lunak. Kulit kemudian dijemur di bawah terik Matahari sampai benar-benar kering, kemudian dikerok untuk membersihkan rambut dan sisa-sisa daging. Setelah itu, kulit dilapisi pewarna dasar untuk menutup pori-pori dan mulai disketsa untuk membuat kombinasi wayang yang indah dalam terawangan cahaya.

Tahap selanjutnya ditatah sesuai karakter wayang. Ada yang ditatah datar, melengkung, namun banyak juga yang memerlukan putaran sehingga proses ini terbilang rumit dan butuh kesabaran yang luar biasa. Sebagian besar waktu pembuatan wayang disita pada proses penatahan. Wayang kemudian diwarnai, jika bentuk sudah sempurna dilengkapi penyangga yang terbuat dari tanduk kerbau.

Terkadang perajin juga membuat wayang-wayang istimewa dengan tambahan emas maupun perunggu. Untuk melihat proses pembuatannya secara keseluruhan, Anda bisa mengunjungi Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

Wayang kulit terkenal di Pulau Jawa dan Bali. Tidak lengkap rasanya jika mengunjungi kedua tempat itu tanpamenyaksikan pertunjukan wayang kulit yang semalam suntuk akan menghibur Anda dengan kisah-kisah Ramayana dan Mahabrata.

Cerita yang disajikan melibatkan dilema moral dan etika yang dihadapi oleh karakter dalam perjalanan mereka melewati hidup, cinta dan perang. Dengan iringan musik gamelan, dalang akan memainkan wayang secara lihai meniru suara wanita dan pria serta mempresentasikan karakter antagonis dan pro-antagonis. Penonton pun setia menyaksikan sampai akhir untuk memperoleh kisah-kisah inspiratif, filosofis dan sarat akan pesan.

Secara tradisional, pertunjukan wayang kulit dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari depan dalang dan dari bayangan saja. Namun dewasa ini, pertunjukan seni wayang kulit sudah diatur sedemikian rupa untuk ditonton dari sisi dalang.

Alangkah luhurnya pelajaran yang diberikan seni wayang untuk mengejar hidup yang mulia. Atas alasan ini, UNESCO pada 7 November 2003 mengakui keindahan seni wayang kulit dan mencatatnya sebagai mahakarya yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Disamping wayang kulit, Indonesia juga memiliki wayang orang atau wayang wong serta wayang golek yang terbuat dari kayu dan terkenal di daerah Jawa Barat.

Kubur Batu Sumba: Lestarinya Budaya Megalitik Nusantara

Ketika kendaraan yang Anda tumpangi menyusuri jalanan Pulau Sumba, selain lansekap alamnya yang memukau, ada hal yang bisa membuat Anda tertegun yaitu tentang betapa banyak kubur batu terpampang. Anda dapat melihatnya di sembarang tempat seperti di pinggir jalan, di depan halaman rumah warga, di depan kantor pemerintahan, di lapang terbuka, hingga di perbukitan atau di pesisir pantai

Kubur batu merupakan warisan budaya megalitik di Tanah Sumba yang masih bertahan hingga sekarang bersama lestarinya agama adat Marapu yang kukuh dipegang warga setempat. Kubur batu atau batu kubur dalam istilah arkeologi disebut dolmen biasanya berbentuk bejana (kabang) maupun watu pawesi. Dalam budaya prasejarah, kubur batu merupakan budaya megalitik muda yang berkembang di Nusantara menjelang tarikh Masehi. Keberadaannya yang masih lestari di Pulau Sumba merupakan keunikan tersendiri karena mampu bertahan sejak masa prasejarah tanpa banyak mengalami perubahan.

Kubur batu berkembang di Pulau Sumba sekira 4.500 tahun lalu. Kubur batu di sini senantiasa dibuat besar dan megah, selain sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur juga sebagai cerminan status pemiliknya. Oleh karenanya, bagi masyarakat Sumba, kubur batu merupakan warisan leluhur yang terus dipelihara dan dipertahankan.

Kubur batu megalitik di Sumba umumnya berukuran 4 x 2 meter, beratnya sampai puluhan ton, disangga empat tiang batu, menaungi jenazah yang dikubur di tanah dalam posisi duduk meringkuk dilapis puluhan kain adat dan ditutup semen. Di atas kubur batu dibuat penji (tugu batu) dengan beragam ornamen hewan seperti kerbau, buaya, kura-kura, atau harimau yang melambangkan raja, ayam atau babi yang menunjukkan kepemimpinan, dan udang yang melambangkan kehidupan hanya berganti bentuk dunia.

Para peneliti budaya dan arkeolog meyakinkan bahwa kubur batu di Sumba merupakan satu-satunya pola hias yang mewakili tradisi pra-sejarah yang masih hidup (living megalithic culture). Tempat-tempat serupa seperti Toraja, Nias, Sabu, Flores, dan lainnya juga memiliki tradisi megalitik sezaman tetapi tidak ada yang disertai dihiasi arca dan relief indah seperti yang ditemukan di Sumba.

Pola Hias bangunan megalitik di Sumba umumnya berupa pahatan tiga dimensi berbentuk arca serta pahatan dua dimensi berbentuk relief. Pola hias tersebut sangat variatif dimana dipengaruhi zaman, kepercayaan religius dan status pemiliknya. Ragam relief tersebut pun kian kreatif dari masa ke masa berupa sulur, huruf ‘S’, atau lingkaran memusat warisan zaman pra sejarah. Ada pula yang menggambarkan tokoh manusia, binatang, serta pola geometris dari masa yang lebih muda.

Apabila Anda bertanya pada tetua adat di banyak kampung adat di Sumba maka mereka akan menjelaskan tentang makna dari relief indah tersebut. Ada yang terkait sifat kehalusan dan kebijaksanaan seorang bangsawan yang biasanya dipahat dengan simbol hewan atau benda alam seperti bulan dan bintang. Ada juga sifat keagungan dan kebesarannya yang disimbolkan dengan benda-benda seperti tombak, parang, pedang, serta bermacam ragam perhiasan. Ada pula berupa hiasan hewan piaraan yang menjadi sumber inspirasi seperti kakatua, kerbau, anjing, kuda, ikan, kadal, dan buaya.

Kubur batu di Sumba merupakan kubur primer yang dipakai secara komunal oleh suami istri dan cucu-cucunya. Jenazah anak kandung tidak dapat dikuburkan bersama jenazah orangtuanya karena pandangan bahwa semasa hidup seorang anak yang telah dewasa dan menikah tidak boleh tinggal sekamar dengan orangtuanya sehingga setelah meninggal juga tidak boleh dikubur dalam kubur batu (odi) yang sama. Sementara jenazah cucu boleh disatukan  dengan kubur kakek-neneknya.

Budaya megalitik di Pulau Sumba bukan hanya terlihat jelas dari kubur batu melainkan juga diresapi secara nyata dari agama adat yang mereka anut, yaitu Marapu. Kepercayaan asli orang Sumba ini bertumpu pada pemujaan arwah nenek moyang serta meyakini roh-roh leluhur sebagai penghubung antara mereka yang masih hidup dan Sang Pencipta. Oleh karena itu, orang Sumba tidak pernah bisa jauh dari kerabat yang telah meninggal dan untuk menjaga kedekatan itu mereka mendirikan batu kubur tepat di depan rumahnya. Rumah adat dan batu kubur merupakan satu paket adat budaya Sumba yang tidak terpisahkan, rumah sebagai tempat tinggal yang masih hidup dan batu kubur sebagai tempat tinggal yang telah telah meninggal.

Ada beberapa jenis kubur batu yang dapat Anda temukan di Sumba, yaitu: pertama, watu pawa’I berupa kubur batu besar berbentuk meja batu (dolmen) yang ditopang beberapa batu bulat sebagai penyangga berjumlah 4 atau hingga lebih. Kubur batu ini adalah untuk para raja dan golongan bangsawan. Akan tetapi, jenis ini tidak selalu menjadi kuburan karena ada juga yang dibangun hanya sebagai monumen agung dan berfungsi sebagai kuburan biasanya dilengkapi batu kubur berukuran lebih kecil, persis di bawah watu pawai. Kedua, watu Kuoba adalah batu utuh yang dipahat membentuk peti dengan lempengan batu lebar sebagai penutup. Batu jenis ini ada yang berhias ada pula yang tidak. Pola reliefnya lebih sederhana dan terletak pada bagian peti batu. Jenis ini umumnya dipakai sebagai kuburan golongan menengah dan keluarganya. Ketiga, koro watu merupakan kubur batu dengan 6 lempengan batu yang disusun menjadi peti batu dimana bagian pertama sebagai dasar, kedua sebagai penutup dan empat bagian lainnya diletakkan pada masing-masing sisi. Jenis ini biasanya langsung diletakkan di atas tanah tanpa perlengkapan lainnya. Keempat, kurukata merupakan varian lain dari koro watu dengan dua lempeng penutup bagian atas yang ditumpuk jadi satu. Kelima, watumanyoba yaitu kubur batu sederhana dengan lempengan batu tanpa kaki yang langsung diletakkan di tanah. Bentuknya ada yang berupa lempengan segi empat, persegi panjang, bulat telur, dan lainnya. Jenis ini umumnya digunakan sebagai kuburan bagi pelayan sehingga sering kali ditemukan bersisian dengan kuburan para raja. Keenam, kaduwatu berupa kubur batu tegak lurus (penji) yang berhiaskan beragam ukiran dan merupakan pasangan batu kubur lain, terutama dari jenis Watu Pawa’i. Jenis ini biasanya berfungsi sebagai pernanda arah kepala atau kaki mayat sekaligus sebagai simbol bangsawan.

Selain bentuknya yang beragam, kubur batu di Sumba juga memiliki keunikan pada ukurannya yang sangat beraneka ragam. Ukuran batu kubur batu tersebut berceritra tentang banyak hal seperti status kebangsawanan dan kekayaan pemiliknya. Itu karena tidak semua orang Sumba mampu mendirikan batu kubur besar dimana pengerjaannya membutuhkan waktu, biaya dan tenaga. Dalam upacara kubur batu perlu menyertakan puluhan ekor hewan kurban, seperti ayam, anjing, babi, sapi, dan kerbau selama menjalankan ritual adat, mulai dari pemotongan batu kubur, penarikan batu kubur hingga pengerjaan batu kubur. Jumlah hewan kurban tersebut berkisar 50 ekor. Hal yang menarik juga adalah bila ukuran kubur batu tersebut besar dan berat sehingga butuh banyak orang menggotongnya agar tiba di kampung atau tujuan diamnya.

Untuk menemukan kubur batu di Sumba pastinya sangat mudah karena dapat ditemukan di setiap sudut tempat di berbagai belahan kampung. Akan tetapi, apabila Anda berhasrat menemukan yang terbesar di Pulau Sumba maka datanglah ke Kampung Wailolung, Desa Anajiaka, Kecamatan U.R. Nggay Barat. Jaraknya sekira 2 km dari Kota Waibakul. Kuburan tersebut adalah peristirahatan terakhir Umbu Tipuk Marissi yang merupakan Bupati Pertama Pulau Sumba.

Pilihan lain, coba datanglah ke Kampung Gallu Bakul di Desa Malinjak, Kecamatan Katiku Tana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah. Kubur batu di sana merupakan kubur batu terberat di Pulau Sumba dengan berat mencapai lebih dari 80 ton. Kubur batu tersebut disimpan sejak tahun 1983 sebagai tempat persemayam Umbu Sawola dan keluarganya.

Di Kampung Uma Bara, Desa Watu Hadangu, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, sekira 67 km dari Waingapu ada kubur batu megalitik di sejumlah kampung adat, seperti Kampung Raja Prailiu, sekira 3 km dari Waingapu. Kampung adat dengan kubur batu di sana cukup popular sebagai tempat tujuan wisata di Pulau Sumba.

Kuala Kencana: Kota di Rimba Belantara Papua

Kuala Kencana adalah kota pertama di Indonesia yang menggunakan underground utilitiesu ntuk saluran kabel listrik, komunikasi, distribusi air bersih, dan pengolahan limbah yang terpusat. Tersedia water treatment plant mandiri dengan standar air bersih yang tinggi sehingga air kran (tap water) yang ada di rumah-rumah sudah aman untuk langsung diminum (potable). 


Kuala Kencana adalah sebuah kota mandiri sekira 45 menit dari Timika. Kota yang begitu rapi dan tertata cantik. Jalanan mulus dan lebar dengan berbagai fasilitas pendukung untuk aktivitas warganya. Kuala Kencana berada di dataran rendah bagian tengah-Selatan Papua. 

Walaupun dekat dengan Timika, suasana Kuala Kencana jauh berbeda. Tata ruang Kuala Kencana terencana dengan rapi termasuk memelihara keasrian hutan yang masih ditinggali binatang endemik Papua. Di kiri-kanan jalannya masih terhampar luas hutan hujan tropis subur.

Kuala Kencana yang secara administratif termasuk distrik di Kabupaten Mimika dapat dikatakan sebagai kota maju dan modern. Kota ini dibangun dan dikelola sepenuhnya oleh PT Freeport Indonesia (PTFI), sebuah perusahaan tambang terkemuka di Indonesia. Kawasan Kuala Kencana dekat dengan Bandara Internasional Mozes Kilangin dan Pelabuhan Amamapare sebagai jalur distribusi barang tambang.

Bagi warga Freeport, Kuala Kencana juga dikenal dengan sebutan lowland atau wilayah kerja dataran rendah. Hal itu dikaitkan dengan adanya dataran tinggi bernama Grasberg di Papua Tengah. Untuk menunjang aktivitas tambangnya, PTFI membangun distrik Tembagapura di dataran tinggi (highland) dekat Tambang Grasberg dan Distrik Kuala Kencana di dataran rendah (lowland) yang dekat dengan pusat pemerintahan Timika.

Kota Kuala Kencana sangat bersih, terawat, dan teratur. Tidak ada sampah yang berserakan di pinggir jalan. Rambu-rambu lalu lintas terpasang jelas di banyak tempat, segala petunjuk disajikan dwibahasa dalam Bahasa Indonesia diikuti bahasa Inggris di bawahnya. Tempat parkir disediakan khusus termasuk untuk sepeda lengkap dengan besi pengamannya.

Perilaku mengemudi di Kuala Kencana sangat taat aturan dan santun. Mereka akan mendahulukan pejalan kaki dan sepeda serta kendaraan yang masuk dari arah kanan apabila berpapasan di persimpangan. Bahkan, seringkali pengemudi akan menghentikan laju kendaraannya saat mendahulukan kendaraan lain. Umumnya warga mengemudi di bawah batas kecepatan maksimal yang telah ditentukan, menggunakan sabuk pengaman, dan parkir tertib di garis parkir yang telah ditentukan. 

Perumahan di kota ini dibangun rapi dan teratur, tanpa pagar dan halamannya dihiasi taman dengan halaman rumput luas, hijau dan terawat, serta di setiap komplek dilengkapi playground. Tidak ada tiang jalur kabel listrik atau kabel telepon yang terlihat di lingkungan ini karena semuanya tertanam rapi di dalam tanah. Jarak antarrumah lapang dengan halaman rumput cukup luas. Selain rumah (landed housing), ada juga beberapa blok apartemen dan barak bergaya Barat dengan standar serupa.

Selain gedung perkantoran PT Freeport Indonesia (PTFI) dan komplek perumahan karyawan. Ada pula perbagai jenis lapangan mulai dari sepak bola, badminton indoor, futsal indoor, kolam renang, hingga golf. Ada alun-alun (The Plaza), gereja, masjid, aula, shopping center lengkap dengan supermarket (Hero), salon (Rudy Hadisuwarno), perpustakaan, serta layanan perbankan (CIMB Niaga dan Mandiri). Ada juga beberapa restoran ala barat dan oriental dengan standar terjaga. Untuk klinik dan medical services dikelola oleh International SOS dan sekolah internasional YPJ. 

Fasilitas di Kuala Kencana terbilang lengkap namun semua fasilitas tersebut hanya dapat dinikmati karyawan dan keluarganya. Misalnya untuk berbelanja di Hero Supermarket setempat, kasir hanya dapat melayani transaksi dengan terlebih dahulu memindai (scan) barcode yang terdapat pada kartu khusus yang disebut Universal ID PTFI. Kartu ini biasanya hanya dimiliki karyawan dan keluarganya/tamu. Setiap kendaraan yang akan masuk ke Kuala Kencana mungkin harus melewati pemeriksaan ketat dan menyeluruh dari petugas keamanan di checkpointperbatasan Timika-Kuala Kencana.

Kuala Kencana memang merupakan kawasan terbatas yang dikelola oleh PTFI dan bukan tujuan wisata. Apabila Anda berkesempatan mendapatkan izin untuk memasukinya atau memiliki kenalan dari penguninya maka dapat memberikan pengalaman yang menarik.

Benteng Belgica: Benteng VOC Terbesar di Nusantara

Kepulauan Banda pada masanya adalah pusat rempah-rempah dunia. Keunggulannya tak tertandingi sebagai penghasil lada dan pala juga posisinya strategis di tengah Kepulauan Maluku. Dari sinilah perdagangan rempah-rempah dunia bermula sebagai komoditas bernilai tinggi dan sangat dibutuhkan di Eropa hingga mereka pun akhirnya berdatangan ke jantung pusat rempah dunia tersebut kemudian bernafsu menguasainya.

Abad ke-17, Belanda lewat kongsi dagang Hindia Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendirikan beberapa benteng yang tersebar di Kepulauan Banda. Tujuannya tidak lain adalah sebagia gudang rempah-rempah yang kemudian secara pasti berkembang menjadi gudang senjata, penjara dan barak militer.

Salah satu benteng yang paling penting perannya di Kepulauan Banda adalah Benteng Belgica. Benteng pertahanan ini awalnya dibangun oleh Portugis kemudian diperbesar pada masa Hindia Belanda tahun 1611 oleh Gubernur Jenderal Pieter Both. Posisinya bertengger di bukit tertinggi di Banda Neira dan menjadi benteng yang terbesar dan terluas yang pernah dibangun oleh Belanda di Indonesia. 

Benteng Belgica berdiri sekira 30 meter dari permukaan laut dan tepat menghadap pelabuhan sekaligus Pulau Gunung Api dan Pulau Banda Besar. Di atas perbukitan Tabaleku di sebelah barat daya Pulau Naira inilah VOC mengontrol lalu-lintas kapal di Kepulauan Banda.

Bangunannya berbentuk persegi lima namun apabila dilihat dari semua penjuru hanya akan terlihat 4 buah sisi tetapi bila dilihat dari atas nampak seperti bintang persegi. Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya (dulu) harus menggunakan tangga hidrolik. Di bagian tengah benteng terdapat ruang terbuka untuk tahanan. Ada pula dua buah sumur yang menghubungkan benteng dengan pelabuhan dan Benteng Nassau yang berada di tepi pantai.

Benteng Belgica mengalami beberapa kali pembangunan. Diperbesar tahun 1622 oleh J.P. Coen. Kemudian, tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar. Benteng Belgica menjadi markas militer Belanda hingga tahun 1860. 

Seperti benteng-benteng lainnya yang dibangun Belanda di berbagai lokasi di Nusantara, Benteng Belgica berhasil mengambil peran penting sebagai gudang senjata, penjara dan barak militer. Benteng Belgica mengawali hegemoni Belanda di Nusantara sebelum berikutnya pusat pemerintahan dipindahkan ke Batavia di Pulau Jawa.

Inspiring Lake Toba Festival

This is the largest lake in Southeast Asia and one of the deepest lakes in the world. This enormous crater lake consists of an island almost the size of Singapore in its center. At over 1,145 square km, and a depth of 450 meters, Lake Toba is actually more like an ocean. Therefore, the Lake placed as the largest lake in Southeast Asia and the second largest in the world after Lake Victoria in Africa. Lake Toba is also includes the deepest lake in the world, which is approximately 450 meters.

It formed by a gigantic volcanic eruption some 70,000 years ago, it is probably the largest resurgent caldera on Earth. Pulau Samosir or Samosir Island, The island in the middle, was joined to the caldera wall by a narrow isthmus, which was cut through to enable boats to pass; a road bridge crosses the cutting. Samosir island is the cultural centre of the Batak tribe, the indigenous from North Sumatra.

Lake Toba is also home to two ethnic groups of Tomok and Simanindo. Located on the island of Samosir, the traditional village is protected by surrounding barriers of earthen ramparts with bamboo fencing and trees. The village also dwells many unique and authentic traditional houses, especially from Tomok, which consists of a row of massive wooden houses with striking saddle-shaped thatch roofs made of sugar palm fiber (called ijuk).

Batak tribe is widely known for its festive culture. Among others, Tor-Tor Dance is considered to be the most elegant one. This traditional dance is usually performed in celebrations such as harvest time or a wedding ceremony. However, according to history, Tor-Tor Dance is used in a ritual to invoke spirit and ‘walk’ them into the stone statues, which erected as a symbol of the ancestors.

Also, there is a wooden puppet called Sigale-gale, which has become a tourist attraction in Samosir Island because of the mystical value within the myth and belief surrounding the puppet itself. The locals believed that Sigale-gale can wail and dance by itself without music. Some also said that Sigale-gale can only be placed in a coffin. This statue is also commonly used in family death ceremonies in the Samosir area because Sigale-gale dance is believed by local residents to deliver the spirit of the deceased to the afterlife.

Mie Celor: “Spagethi” ala Pelembang

Jangan pernah berhenti mengeksplor kuliner di Palembang karena warganya pun tidak pernah berhenti berkreasi menciptakan masakan-masakan terunik yang pernah lezat puaskan cita rasa Anda. Meskipun satu minggu berada di sini, Anda akan disuguhi oleh menu sarapan yang tidak pernah sama. Setelah pempek, burgo, ataupun laksan, kini giliran mencicipi mie unik khas Bumi Sriwijaya ini yaitu mie celor.

Kuah bertekstur krim dengan warna merah muda pucat merupakan daya tarik pertama yang memikat mata Anda. Kuah khas ini dibuat dari tepung terigu yang dicampur dengan kaldu udang dan ebi sehingga warna merah muda menguat pada tampilannya. Kaldu udang tersebut biasanya dihasilkan melalui rebusan kulit udang beserta santan kental. Itulah mengapa kuah mie celor akan terasa gurih namun memiliki sentuhan rasa santan di dalamnya.

Saat digigit, tekstur mie nya pun unik. Agak kaku seperti mie setengah matang karena proses pembuatan mie ini pun memang tidak direbus. Mie cukup dicelup-celupkan saja ke dalam air panas, orang Palembang kerap menyebutnya dengan “dicelor”. Kemudian dari situlah nama “mie celor” berasal.

Sebagian warung-warung makan di Palembang membuat mie ini homemade, tapi Anda juga bisa menggunakan mie basah yang mudah ditemukan di pasar agar lebih praktis. Bentuk mie yang digunakan berbeda dengan mie telur biasa. Warnanya juga kuning namun ukurannya lebih besar, mirip dengan mie yang digunakan untuk membuat spagethi. Dengan tambahan kuah unik yang mirip dengan saus krim, mie celor pun sekilas mirip dengan hidangan spagethi cream sauce.

Sebagai pelengkap, hidangan ini juga ditambahkan dengan tauge, irisan telur rebus dan taburan bawang goreng. Ada pilihan sambal hijau apabila Anda menginginkan citarasa pedas. Jangan melewatkan mie celor selagi panas karena kenikmatannya akan lebih terasa.

Mie celor kaya akan karbohidrat dan sangat mengenyangkan, terlebih karena kuahnya pun mengandung larutan tepung terigu. Anda cukup memesan setengah porsi apabila berencana menyicipi makanan lain agar tidak terlalu kenyang. Jika ingin membawanya pulang maka mintalah mie dengan kuahnya dibungkus terpisah.

Di Palembang, ada banyak warung-warung makan yang menawarkan mie celor sebagai salah satu menunya, ataupun satu-satunya menu di sana. Berikut ini beberapa diantaranya.

Mie Celor 26 Aslo H.M Syafei Z

Jl. Merdeka, Talang Semut, Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan

Tlp. 0813 6889 0101

Tintin Mie Celor

Jl. Kapten Marzuki Np.520, 20 ilir III, Ilir Timur I, Kota Palembang, Sumatera Selatan

Tlp. (0711) 353544

Mie Celor 26 Ilir Hj. Latifah

Jl. Mujahidin No.353 E, Kota Palembang, Sumatera Selatan

Tlp. 0815 0392 2266

Mie Celor Cita Rasa

Jl. Kebumen Darat, 16 Ilir, Ilir Timur, Kota Palembang, Sumatera Selatan

Tlp. 0821 8576 4400

Komodo: Keajaiban Hayati Indonesia

Siapa tidak pernah mendengar nama hewan khas Indonesia ini, komodo (Varanus komodoensis)?

Komodo merupakan biawak besar yang tinggal di pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Hewan ini diperkirakan bisa berumur 50 tahun di alam bebas dan termasuk spesies langka yang hampir punah. Aktivitas alam berupa bencana, kerusakan habitat, kebakaran, dan berkurangnya mangsa adalah beberapa hal yang mengancam habitat dan kehidupan reptil raksasa ini.

Komodo adalah kerabat dekat dari dinosaurus. Hal ini dilihat dari ditemukannya fosil-fosil dari jenis dinosaurus tertentu yang menunjukkan kemiripan struktur tubuh dengan komodo. Komodo sering disebut keturunan dinosaurus karena memiliki tubuh dan cakar yang mirip dengan dinosaurus. Dinosaurus sudah lama punah tetapi komodo sampai sekarang masih ada. Oleh karena itu, komodo disebut sebagai Dinosaurus terakhir di dunia.

Komodo pertama kali didokumentasikan seorang Eropa pada 1910. Nama “Naga” atau “Dragon” disematkan pada nama komodo hingga saat ini bermula ketika Pieter Antonie Ouwens, Direktur Museum Zoologi di Buitenzorg (Museum Zoologi Bogor), menerbitkan sebuah jurnal dengan penyebutan komodo dragon di dalamnya setelah menerima foto dan kulit reptil ini. Dalam laporan tersebut menyatakan bahwa habitat asli komodo hanya dapat ditemukan di Indonesia tepatnya di beberapa pulau kecil di sebelah barat Pulau Flores. Karena keunikan dan kelangkaannya, Taman Nasional Komodo yang menjadi rumah terakhir komodo telah dinyatakan sebagai A World Heritage Site dan Man and Biosphere Reserve oleh UNESCO pada 1986.

Terlepas dari ketenaran komodo di dunia internasional, mungkin tak banyak orang tahu bahwa komodo betina dapat berkembaang biak meski tanpa dibuahi oleh sang jantan. Fenomena ini hanyalah satu dari sekian banyak fakta menarik lainnya dari hewan karnivora yang terbilang langka dan terancam punah tersebut.

Fakta bahwa komodo dapat bereproduksi tanpa pembuahan sudah terbukti dari sejumlah temuan kasus dan penelitian. Pada awal tahun 2006, seekor komodo di Kebun Binatang London yang bernama Sungai mampu bertelur meski telah dipisahkan dari jantan selama 2 tahun. Temuan kasus selanjutnya tercatat pada 20 Desember 2006 di Kebun Binatang Chester, Inggris. Dilaporkan bahwa seekor komodo betina bernama Flora, juga menghasilkan telur meski tanpa pembuahan oleh jantan (fertilisasi) sebanyak 11 telur, 7 di antaranya berhasil menetas.

Tiga telur yang tidak menetas diteliti Universitas Liverpool di Inggris melalui tes genetika. Hasil penelitian membuktikan bahwa seekor komodo bernama Flora tidak memiliki kontak fisik dengan komodo jantan. Temuan mengejutkan ini mendorong peneliti tersebut untuk melakukan penelitian serupa pada telur komodo bernama Sungai. Hasil penelitian menunjukkan hal yang sama.

Terakhir adalah temuan kasus di Kebun Binatang Sedgwick County di Wichita, Kansas pada 31 Januari 2008.  Kebun binatang ini menjadi kebun binatang pertama yang berhasil mendokumentasikan proses reproduksi unik komodo. Hanya terdapat 2 komodo betina di kebun binatang tersebut dan satu diantaranya menghasilkan 17 butir telur pada tangal 19-20 Mei 2007. Akan tetapi, dari belasan telur hanya dua telur saja yang ditetaskan dengan alasan ketersediaan ruang di kebun binatang tersebut.

Istilah ilmiah untuk kasus ini disebut dengan parthenogenesis, yaitu terjadi karena komodo betina memiliki sistem penentuan seks kromosomal ZW dan bukan sistem penentuan seks XY sebagaimana dimiliki manusia. Adaptasi semacam ini dapat saja menguntungkan bagi proses perkembangbiakan namun dapat mengurangi keragaman genetika.

Sekali bertelur, seekor betina komodo dapat menghasilkan telur sekira 15 hingga 30 butir telur. Dibutuhkan waktu sekira 7–8 bulan bagi betina untuk mengerami dan melindungi telur-telurnya hingga menetas, biasanya di sekitar bulan April. Musim kawin komodo terjadi antara bulan Mei dan Agustus. Bayi komodo berukuran sekira 30 cm saja dan akan menghabiskan tahun-tahun pertamanya di atas pohon agar aman dari predator. Predator bayi komodo tidak hanya hewan-hewan karnivora lainnya tetapi bahkan dari komodo dewasa juga gemar memangsa bayi komodo. Komodo membutuhkan tiga sampai lima tahun untuk menjadi dewasa dan masa hidup mereka dapat mencapai lebih dari 50 tahun.

Komodo dewasa dapat memiliki berat hingga sekira 135 kilogram dan panjang sekira 2-3 meter. Panjang ekor komodo yang merupakan jenis kadal terbesar di dunia ini hampir sama dengan panjang tubuhnya. Ukuran tubuh yang besar pada komodo ini dikenal dengan nama gigantisme pulau. Gigantisme pulau adalah suatu fenomena biologi dimana terjadi kecenderungan meraksasanya tubuh hewan tertentu yang hidup di pulau kecil akibat tidak adanya mamalia karnivora lain di pulau tersebut. Selain itu, laju metabolisme komodo yang lambat juga menjadi penyebab gigantisme pada komodo. Karena ukuran tubuhnya yang besar tersebut, komodo menduduki posisi tertinggi dalam rantai makanan di habitat alaminya, yaitu sebagai predator puncak yang mendominasi ekosistem.

Sebagai hewan karnivora, makanan utama komodo tentunya adalah daging atau bangkai daging hewan lainnya seperti mamalia kecil, burung dan telurnya, monyet, babi hutan, rusa, kambing, bahkaan kuda dan kerbau. Komodo juga kanibal dan gemar memangsa daging bayi komodo atau komodo yang bertubuh lebih kecil. Saat mengincar mangsa, komodo dapat saja terlihat pasif dan mengendap-endap tetapi hal itu hanyalah kamuflase karena hewan bergigi tajam sejumlah 60 buah ini dapat tiba-tiba mengejar dan menyerang mangsanya. Kecepatan komodo luar biasa, terutama saat mengejar mangsa, yaitu mencapai lebih dari 20 km per jam. Komodo memburu mangsanya dengan merasakan gerakan, oleh karenanya jangan berlari saat berada dekat dengan komodo.

Gigitan komodo yang memiliki gigi sepanjang sekira 2.5 cm mungkin tak mampu melumpuhkan mangsanya saat itu juga. Akan tetapi, air liur (saliva) komodo dipercaya dan terbukti mengandung sejumlah bakteri berbahaya. Bakteri ini akan mengakibatkan infeksi yang dapat melumpuhkan korban gigitan dalam waktu sekira seminggu. Komodo hanya tinggal mengintai mangsanya tersebut dan kemudian memakannya saat lemah dan lengah. Uniknya, komodo yang digigit oleh komodo lain tidak akan mengalami efek beracun dari bakteri pada liur lawan. Tampaknya mereka memiliki sistem kekebalan tersendiri sehingga senjata mereka tidak akan pernah mengkhianati sesama jenisnya.

Penciuman komodo yang menyukai tinggal di tempat dan suhu panas ini dapat mendeteksi mangsa atau daging meski dari jarak lebih dari 5 kilometer. Reptil purba ini makan dengan cara mencabik potongan besar daging dan menelannya bulat-bulat bahkan hanya dalam sekali telan. Seekor komodo dapat menyantap mangsa yang besarnya mencapai 80% bobot tubuhnya sendiri dalam sekali telan. Hal ini karena komodo memiliki rahang yang dapat dikembangkan, tengkorak yang lentur, dan lambung yang elastis.

Proses menelan mangsa ini bagaimanana pun juga membutuhkan waktu yang cukup lama, sekira 15-20 menit dengan bantuan air liurnya. Untuk membantu menghindari tercekik saat menelan, komodo bernapas melalui sebuah saluran kecil di bawah lidahnya yang berhubungan langsung dengan paru-paru.

Sebagai hewan yang laju metabolismenya lamban, komodo dapat bertahan hidup dengan hanya makan sekali sebulan atau 12 kali setahun. Selesai makan, komodo harus bersegera mempercepat proses pencernaan karena apabila makanan tersebut membusuk maka akan meracuni tubuhnya sendiri. Setelah makanan tercerna, komodo biasanya akan memuntahkan tanduk, rambut, dan gigi mangsanya yang ia telan bulat-bulat dalam bentuk gumpalan-gumpalan bercampur lendir berbau busuk.

The Beauty of Lake Kaolin Belitung


Kaolin is a rock mass which is then composed of clay material that has a low iron content, and is generally white or slightly whitish. It is a soft white clay that is excavated from the ground. But this lake is not formed naturally. It was formed because in the past, the place was used as a mining site. Because the hole was deep, about 2-10 meters, the place was filled with water and eventually became a beautiful  lake.

When the landscape of Lake Kaolin is caught in the lens of your camera, it will look like an oasis in the middle of a barren desert. The contrast of white soil and rocks around the lake and the blue-white color (tosca) of Kaolin Lake water really spoil your eyes and your camera.

Dinar dan Dirham Kesultanan Ternate: Bagian dari Universalisasi dan Globalisasi Mata Uang Dunia

Kesultanan Ternate merupakan salah satu kerajaan paling berpengaruh di Indonesia Timur. Pada masa kejayaannya di paruh abad ke-16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militer, wilayahnya membentang luas meliputi Maluku,Sulawesi Utara, Sulawesi Timur, Sulawesi Tengah, bagian selatan Kepulauan Filipina, bahkan mencapai Kepulauan Marshall di Pasifik. Pengaruhnya pun meresap hingga berbagai bidang kehidupan seperti dalam sistem pemerintahan, perdagangan, militer, transportasi laut, hingga ragam jenis kuliner.

Khusus dalam sistem perdagangan, sebagai sebuah kerajaan bercorak Islam, Kesultanan Ternate dahulu menggunakan sistem nilai tukar dirham dan dinar. Koin emas dan perak waktu itu menjadi mata uang yang digunakan rakyat Ternate. Sejarah pun mencatat bagaimana rakyat Ternate menolak menggunakan uang kertas yang dipaksakan VOC dan Hindia Belanda. Di bawah kepemimpinan Sultan Mudafar Syah II, Kesultanan Ternate pernah berhasrat kembali menggunakan emas dan perak sebagai nilai tukar ekonomi di wilayah kesultanannya.

Saat itu, Sultan Mudafar Syah II mengutarakan jaminan bahwa masyarakat yang membeli dirham dan dinar tidak akan merugi. Itu karena nilai tukarnya stabil, berbeda dengan Dolar Amerika yang fluktuatif. Selain itu, nilai tukar emas dan perak tidak pernah terimbas inflasi. Penerapan sistem ini dianggap mampu memperbaiki sistem moneter Indonesia. Kesultanan Ternate pernah pula diundang Organisasi Islam Dunia untuk membahas universalisasi dan globalisasi penerapan nilai tukar dirham dan dinar dengan slogan “Satu umat, satu mata uang”.

Penggunaan uang dinar dan dirham tidak mengandung riba yang dilarang Islam. Hal itu karena penggunaan emas dan perak sebagai alat tukar tidak ada sistem bagi hasil maupun pungutan dari nasabah. Nasbah cukup membeli emas untuk disimpan dan bila dijual kembali, kapanpun, maka nilai emas dan perak tetap tersesuaikan (bertambah) misalnya setahun, enam bulan, tiga bulan atau 10 tahun. Harapannya dengan nilai tukar ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Ternate dan kabupaten/kota lain di Maluku Utara (Malut). 

Ketika Festival Legu Gamdigelar pada April 2013 untuk memeriahkan ulang tahun Sultan Mudafar Syah II ke-78, secara resmi dinar dan dirham Ternate diedarkan kepada masyarakat luas beriringan dengan peluncuran tabungan jenis dinar dan dirham. Kepemilikan terhadap 1 dinar (emas) senilai Rp2.500.000,- dan 1 dirham (perak) seharga Rp70.000,-. Masyarakaat dapat membeli atau menjualnya kembali kepada Kesultanan Ternate dengan nilai tukar yang berlaku saat itu. 

Sebelumnya, sejak 2012, Kesultanan Ternate sudah menerapkan penarikan zakat menggunakan dinar dan dirham. Kesultanan tidak memanfaatkan dana masyarakat dari pembelian dirham dan dinar itu untuk kepentingan kesultanan tetapi dikembalikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Kesultanan Ternate. 

Dirham dan dinar yang diedarkan Kesultanan Ternate mengikuti standar dan berada di bawah payung World Islamic Mint (WIM). WIM adalah badan otonom yang peran dan tugasnya menetapkan standar, nilai tukar, mengatur pencetakan, serta menjamin mutu takaran dan timbangan dirham dan dinar yang beredar di masyarakat. Pecahan dinar dan dirham WIN, yaitu untuk dinar berupa koin emas seberat 4,25 gram 22 karat (91,70%) tersedia dalam pecahan ½, 1 dan 2 dinar. Untuk dirham atau perak murni seberat 2,975 gram tersedia pecahan ½, 1, 2, dan 5 dirham.

Kesultanan Ternate sebenarnya bukan satu-satunya kesultanan yang menerapkan nilai tukar ini, melainkan juga di beberapa kesultanan di Nusantara dan di negara lain sudah menjalankannya. Jadi, penerapannya bersamaan dengan yang dilakukan beberapa kesultanan lain di Nusantara, yaitu: Kesultanan Kelantan (Malaysia), Kesultanan Kasepuhan(Cirebon),Kesultanan Bintan Darul Masyhur (Kepulauan Riau), dan Kesultanan Sulu (Filipina). 

Masing-masing kesultanan mencetak koin-koin yang diotorisasi World Islamic Mint (WIM) dengan seragam, yaitu pada satu sisi identitas World Islamic Mint (WIM) dan sisi lainnya menurut versi kesultanan masing-masing. Model tersebut digunakan juga di berbagai belahan dunia lain termasuk di Uni Eropa dengan bank sentral nasional yang menerbitkannya. Semua koin dirham dan dinar tersebut memiliki nilai tukar yang sama dan ditetapkan WIM Asia yang berpusat di Kuala Lumpur.

Demi mendukung universalisasi dan globalisasi, telah dibentuk konsolidasi jaringan pengguna dinar-dirham secara global dalam wadah JAWARA (Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar Dirham Nusantara). JAWARA telah ada di beberapa negara seperti di Indonesia, Tumasik Trade Network (TTN) di Singapura, dan Muamalah Madinah (Koperasi) di Malaysia. Berikutnya  negara-negara lain mengikuti langkah ini di Inggris, Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan beberapa negara lainnya. 

Untuk pembelian mata uang dinar dan dirham di berbagai negera yang masih belum terkordinir kini mulai dikonsolidasi dalam suatu jaringan global bernama Dinarshop. Peminatnya dapat mengetahui dan bertransaksi melalui website www.dinarshops.comdimana pengguna dirham dan dinar di Asia Tenggara dapat berhubungan dengan yang ada di Amerika, Eropa, dan Jepang, serta Afrika. Jaringan Dinarshops juga akan disertai fasilitas penyimpanan dan sistem pembayaran melalui Wadiah Nusantara. 

Meski jaringan dinar dan dirham masih baru, terus tumbuh, dan relatif belum massif tetapi penerapannya di beberapa kesultanan di Nusantara termasuk di Kesultanan Ternate menjadi cikal bakal jaringan global dinar dan dirham dunia. Di Indonesia sendiri wakala (pusat distribusi Dinar Emas Islam dan Dirham Perak Islam) ada di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Depok, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Solo, Makssar, Medan, Batam, Bintan, hingga Soroako. Peminatnya mulai dari masyarakat umum, organisasi massa Islam, bahkan juga dari kalangan non Muslim. 

Penggunaan dinar dan dirham sendiri dijamin konstutusi Republik Indonesia untuk digunakan dalam jaringan pedagang, penyelenggaraan pasar-pasar terbuka, lembaga pengumpul infak dan sedekah, serta para amil dan penarik zakat mal. Untuk memperoleh dinar dan dirham dapat mengunjungi wakala-wakala (pusat distribusi Dinar Emas Islam dan Dirham Perak Islam) terdekat yang terdaftar di www.wakalanusantara.com. Lembaga tersebut melayani transaksi sehari-hari melalui penukaran dengan uang kertas sebagai hasil jual-beli atau upah atas hasil kerja dan jasa di masyarakat sendiri. Koin berstandar WIM hanya diedarkan oleh jaringan wakala di bawah koordinasi Wakala Induk Nusantara (WIN).

Camp Leakey: Kisah Sebuah Rumah bagi Orangutan yang Terancam Punah

Apabila Anda ingin menjadi saksi kehidupan orangutan yang terancam punah di habitat asli mereka maka Kalimantan tentu akan muncul di kepala Anda. Ya, Kalimantan atau Borneo kabarnya merupakan habitat bagi tiga perempat jumlah total orangutan di dunia; jumlah yang besar jika tidak mengingat bahwa ¾ itu pun terancam punah karena populasinya kian berkurang.

Adalah Camp Leakey, sebuah pusat penelitian yang kemudian memperlengkapi fungsinya menjadi pusat rehabilitasi orangutan sekaligus penyelamatannya. Lokasi camp ini tepat di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Camp Leakey sudah berdiri sejak 1971 dan hingga kini masih bertahan. Dapat dikatakan Camp Leakey adalah rumah rehabilitasi (bagi primata) yang paling lama di kawasan tersebut.

Sejak berdiri 41 tahun yang lalu, keberadaan Camp Leakey telah memberikan kontribusi besar bagi keberadaan dan kelangsungan hidup orangutan khususnya dan dunia ilmu pengetahuan umumnya. Hingga kini Camp Leakey masih merupakan pusat penelitian yang aktif mendukung usaha penelitian belasan ilmuwan dan mahasiswa baik dari Indonesia maupun Amerika Utara. Keragaman dan kekayaaan hutan tropis Kalimantan telah mengundang berbagai ilmuwan untuk menelitinya. Proyek penelitian pun beragam, mulai dari mempelajari ekologi dan prilaku orangutan, monyet, ekologi sungai, dan lainnya.

Keberadaan Camp Leakey juga telah membuat dunia internasional mengenal primata yang satu ini. Menyadarkan betapa terancamnya hidup mereka sehingga manusia di belahan dunia manapun perlu turut menjaga dan melestarikannya. Pembalakan liar, kebakaran, dan alih fungsi hutan sebagai kawasan perkebunan komersil (misalnya sawit) jelas-jelas mengancam habitat alami orangutan. Belum lagi perburuan orangutan untuk dijual sebagai hewan peliharaan adalah tantangan yang lain lagi.

Untuk itulah peran Camp Leakey terasa sangat berarti. Sebab, camp ini menjadi semacam rumah bagi orangutan liar dan orangutan yang pernah ditangkap. Di sini hewan tersebut mendapat tempat rehabilitasi sebelum dilepas ke hutan liar.

Pelepasan orangutan pun tidak di sembarang hutan. Mereka dilepaskan masih di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting dan di Suaka Margasatwa Sungai Lamandau, juga di beberapa kawasan lainnya. Kawasan-kawasan hutan tersebut termasuk hutan yang dilindungi pemerintah dan karenanya dijaga dari aksi-aksi pemanfaatan hutan yang berlebihan serta tidak bertanggung jawab, seperti perburuan satwa, pembalakan liar, dan lainnya. Status hutan lindung ini diharapkan menjadi tempat yang aman bagi orangutan dimana sekaligus merupakan paru-paru Bumi.

Masyarakat atau wisatawan berkesempatan mengunjungi kawasan Camp Leakey dan melihat dari dekat kehidupan orangutan dengan didampingi oleh guide lokal. Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari polisi hutan (check-in). Wisatawan atau pengunjung dapat melihat orangutan pada jarak yang aman dan hendaknya tidak mengganggu ilmuwan yang sedang beraktivitas di kamp tersebut.

Daya tarik utama dari Camp Leakey adalah tempat memberi makan orangutan (feeding platform). Di tempat tersebut, makanan disediakan oleh para staf dan ditaruh di atas balai-balai bambu bagi orangutan liar dan orangutan yang pernah ditangkap. Hal itu membuat orangutan tidak kekurangan makanan saat musim sedang tidak bersahabat atau tidak menyediakan cukup makanan.

Selain tempat tersebut di atas, Anda dapat juga mengunjungi sebuah bangunan yang mendokumentasikan upaya dan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Dr. Biruté Mary Galdikas selama lebih dari 40 tahun. Dr. Biruté Mary Galdikas adalah presiden bagi Orangutan Foundation International (OFI), sebuah yayasan yang ia gagas bersama koleganya untuk menunjang kegiatan dan keberadaaan Camp Leakey.

Dr. Biruté Mary Galdikas adalah seorang ilmuwan dari California yang memiliki ketertarikan besar dalam meneliti kehidupan orangutan. Tahun 1966, setelah ia mendapatkan gelar masternya di bidang antropologi di University of California at Los Angeles (UCLA), Dr. Galdikas menemuai Dr. Louis Leakey dan menyampaikan ketertarikannya tersebut. Leakey adalah juga mentor bagi Jane Goodall and Dian Fossey, para ilmuwan yang terkenal karena meneliti simpanse dan gorila gunung. Pada awalnya, Dr. Leakey tidak tertarik membantu Dr. Galdikas namun berkat keseriusan Dr. Galdikas dalam meyakinkan Dr. Leakey atas niatnya, tiga tahun kemudian mereka berhasil mendapatkan dana bagi penelitiannya. Nama kamp atau pusat penelitian tersebut pun diambil dari nama belakang sang mentor yang merupakan paleo-anthropologist legendaris, yaitu Leakey.

Tepatnya tahun 1971, Dr. Galdikas bersama dengan Rod Brindamour menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju hutan rimba Kalimantan untuk memulai penelitian di Tanjung Puting, khususnya mendokumentasikan prilaku dan ekologi orangutan. Proses dan hasil penelitian tersebut telah menggerakkannya untuk melakukan usaha pelestarian orangutan dari ancaman kepunahan. Camp Leakey pun didirikan; dulu hanya berupa dua gubuk di tengah hutan yang minim fasilitas. Tidak ada telepon, jalan yang memadai, listrik, dan lain sebagainya saat itu. Akan tetapi kini, Camp Leakey adalah sebuah bangunan permanen yang terbuat dari kayu dan merupakan tempat yang didesain sebagai pusat para peneliti, staf, mahasiswa, dan polisi hutan (jagawana).

Dr. Galdikas adalah orang yang paling berpengaruh di dunia dalam hal pelestarian orangutan. Atas kepeduliannya tersebut, ia telah mendapatkan sejumlah penghargaan baik nasional dan internasional. Dari pemerintah Indonesia, ia mendapatkan Kalpataru, sebuah penghargaan tertinggi bagi pahlawan lingkungan dan alam Indonesia. Selain itu, ia juga mendapat penghargaan Tyler Prize for Environmental Achievement, Gold Medal for Conservation, Chester Zoological Society (UK), PETA Humanitarian Award, United Nations Global 500 Award, dan sejumlah penghargaan penting lainnya.

Anda dapat menghubungi agen wisata berikut ini guna mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai tur di Camp Leakey, termasuk info penerbangan, biaya, dan trip arrangement.

Adventure Indonesia – Borneo
Mr. Yatno
Jl. H.M. Idris, RT 06 no. 477
Kumai Hulu, Pangkalanbun, Kalimantan Tengah

Adventure Indonesia – Jakarta
Wisma 31 Building, 3rd Floor,
Kemang Raya Street No.31
Jakarta 12730, Indonesia
Phone: 62-21-718-2250 or 62-21-718-2256
Fax: 62-21-718-0438
E-mail: advindo@cbn.net.id

Adventure Indonesia – Bali
Ruko Wana Segara No. 12A
Jl. Wana Segara, Kuta – BALI
Phone: 62-361-750971, 750964;
Fax: 62-361-750964
E-mail: bali@adventureindonesia.com

Adventure Indonesia – Papua
Jl. Trikora No.2, PO Box. 152
Wamena 99511 – Irian Jaya Papua
E-mail: wamena@adventureindonesia.com