Batang demi batang pakis bruta dipilin dengan sangat hati-hati, disilangkan dari satu sisi ke sisi lain sehingga membentuk jalinan yang rapi. Dengan sabar seorang pria begitu fokus melakukannya, setengah jam kemudian jadilah sebuah gelang siap pakai yang sederhana.
Pemandangan seperti ini akan didapat jika Anda mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting, habitat orangutan di Kecamatan Kumai, Kabupaten Pangakalan Bun, Provinsi Kalimantan Tengah. Sungai Sekonyer memang luar biasa menenangkan, diisi dengan suara gemericik air dan kicauan burung yang beterbangan kesana kemari. Dalam perjalanan selama beberapa jam menyusuri Sungai Sekonyer, para awak kapal akan mengisi waktunya dengan membuat gelang bruta.
Tentu gelang bruta tidak dibuat untuk diri mereka sendiri. Ini adalah hadiah bagi wisatawan yang sudah singgah menyaksikan kehidupan alam liar di Taman Nasional Tanjung Puting. Saat menikmati tur, hari-hari Anda akan dihabiskan di klotok dan banyak bertanya dengan pemandu ataupun awak klotok. Di sinilah kebersamaan mulai terbangun sehingga seutas gelang bruta akan melingkar di tangan Anda.
Gelang memiliki warna cokelat tua tapi sesekali Anda akan melihat para awak klotok menggunakan gelang berwarna hitam. Ini akan terjadi pada setiap gelang bruta, semakin lama digunakan maka warna gelang semakin berangsur gelap.
Hal istimewa lain dari gelang bruta adalah jalinan yang dimilikinya. Papua juga mempunyai gelang tradisional yang dibuat dari batang-batang piohon, namun dipilin memanjang sehingga butuh pengait agar bisa melingkar di tangan. Berbeda dengan bruta, masyarakat setempat dengan lihai memilinnya melingkar dan tidak putus. Gelang ini juga lentur sehingga mampu melewati telapak tangan sebesar apapun.
Tanaman pakis bruta sebagai bahan baku umumnya tersedia di kawasan hutan-hutan di Kalimantan. Batang pohon ini sangat kuat dan dan warnanya tidak mudah luntur meskipun sudah digunakan hingga tiga tahun. Dahulu masyarakat Dayak Pasir Panjang kerap menggunakannya untuk mengikat mandau, senjata tradisional mereka. Namun melihat karakter tanaman yang begitu unik, perlahan pakis bruta dialih fungsikan sebagai perhiasan etnik.
Untuk membuatnya butuh keahlian khusus. Anda harus belajar selama beberapa minggu agar bisa membuat gelang bruta hanya dalam waktu 20 menit. Akan tetapi, jika sudah pandai, Anda bisa membentuk batang bruta menjadi banyak ragam hias, seperti kalung, cincin, bahkan hiasan kepala.
Karena membuat benda tersebut sudah membudaya ke seluruh wilayah Kalimantan, kini rumah-rumah membuka usaha kerajinan gelang bruta untuk dijadikan oleh-oleh secara massal. Selain di atas klotok, Anda bisa menemukan gelang bruta di toko cenderamata di sekitar Pangkalan Bun. Gelang yang dijual di toko lebih bervariasi warnanya, ada yang dikombinasikan dengan rotan putih agar lebih cantik. Harganya sekira Rp15 ribu per buah.
Berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting akan lebih lengkap jika Anda memiliki sebuah gelang bruta, atau beberapa untuk dijadikan oleh-oleh. Namun demikian, gelang akan lebih bermakna jika dibuatkan langsung oleh warga setempat sebagai simbol terima kasih dan juga kenang-kenangan.
Suku Dayak Tidung diyakini sebagai salah satu dari 406 Suku Dayak yang tersebar di Pulau Kalimantan. Penggunaan kata “Dayak” pada suku tersebut berangsur hilang sehingga kini lebih akrab dengan nama Suku Tidung. Kalimantan Utara merupakan tanah asal dari suku ini, meliputi Kota Tarakan, Kab. Malinau, Kab. Bulungan, Kab. Nunukan, Kab. Tana Tidung, Kab. Berau dan Kab. Kutai Kartanegara. Keberadaan Suku Tidung pun menyebar hingga ke beberapa daerah di Malaysia seperti Kota Tawau, Kota Sandakan dan Kota Lahad Datu.
Mulanya Suku Tidung berdiri sebagai Kerajaan Tidung pada 1076, namun akhirnya punah karena adanya politik adu domba oleh pihak Belanda. Mayoritas Suku Tidung beragama Islam sehingga lebih dikategorikan sebagai suku yang berhukum adat Melayu, seperti Suku Banjar, Suku Kutai dan Suku Pasir.
Salah satu pusaka budaya yang dimiliki Tidung adalah rumah adat yang disebut Rumah Baloy. Bentuk Rumah Baloy lebih modern karena hasil pengembangan arsitektur Rumah Panjang (Rumah Betang). Rumah dibangun menghadap ke utara, namun pintu utamanya melawan arah menghadap ke selatan. Seluruh badan rumah dibuat menggunakan kayu ulin, kayu dari Kalimantan yang sangat kuat dan tahan terhadap suhu, kelembaban serta air laut.
Ruangan pada Rumah Baloy sering disebut ambir. Terdapat empat ambir pada satu rumah yang digunakan untuk fungsi yang berbeda-beda, yaitu: alat kait atau ambir kiri untuk menerima pengaduan masalah adat atau perkara lain, lamin bantong atau ambir tengah untuk memutuskan perkara hasil sidang, ulat kemagot atau ambir kanan sebagai tempat beristirahat setelah berdamai, dan lambir dalom sebagai singgasana Kepala Adat tidung.
Bagian belakang Rumah Baloy tidak dibiarkan kosong, dibuat lah kolam besar dan sebuah bangunan di tengah-tengahnya yang disebut lubung kilong. Bangunan digunakan untuk menampilkan kesenian Suku Tidung, seperti tari japen. Tidak jauh dari lubung kilong didirikan lagi satu bangunan besar yang digunakan untuk acara pelantikan, bangunan ini disebut lubung intamu.
Anda bisa mengunjungi Rumah Baloy di daerah Juwata, Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara. Rumah ini dibangun pada 4 April 2004 dan diresmikan oleh Yurnalis Ngayoh, Gubernur Kalimantan Timur, karena ketika itu Provinsi Kalimantan Utara masih menjadi bagian dari Kalimantan Timur. Baloy Mayo Djamaloel Qiram sebutannya, dibangun di atas lahan seluas 2,5 ha dari dana pribadi Kepala Adat Besar Dayak Tidung, Mochtar Basry Idris.
Pengunjung tidak akan ketinggalan informasi karena disediakan pemandu yang akan memberi penjelasan mengenai Rumah Baloy dan Suku Tidung. Selain bangunan utama dan bangunan di tengah kolam, Anda juga dapat melihat 11 bangunan lain di sekitar rumah adat. Hampiri lah perahu tradisional Suku Tidung yang ditambatkan di kolam untuk mengabadikan gambarnya, dan jangan lewatkan membeli souvenir khas Tidung yang disediakan di Rumah Baloy ini.
Budaya Sumba adalah budaya patriarki yang sangat kuat dengan sistem budayanya didominasi laki-laki. Salah satu bentuknya adalah pelaksanaan kawin tangkap yang kini tradisi tersebut telah melenceng dari prosedur adatnya. Padahal, dalam pelaksanaannya dahulu tidak bisa sembarangan dan terkait dengan ajaran Marapu, yaitu agama leluhur masyarakat Sumba.
Dahulu kawin tangkap dalam adat budaya Sumba merupakan tahap awal dari proses peminangan perempuan. Proses penyelesaian kawin tangkap atau pitti rambang (di Sumba Tengah disebut yappa maradda) dilakukan melalui tahapan pencarian, tutup malu, ketuk pintu, tikar adat, agama (bagi mereka yang beragama lain diluar kepercayaan Marapu) hingga tahapan akhir. Kawin tangkap merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat pedalaman Sumba seperti di Kodi dan Wawewa.
Dalam tradisi lama masyarakat Sumba, kawin tangkap biasanya dilakukan oleh keluarga mempelai pria yang terhalang belis atau mahar tinggi dari pihak perempuan. Kawin tangkap merupakan kategori perkawinan tanpa peminangan yang terjadi karena belum ada kesepakatan keluarga mengenai jumlah belis atau mas kawin. Tradisi ini unik, karena menyangkut nama baik kedua keluarga, apalagi dengan latar keluarga berada.
Dalam tradisi aslinya, kawin tangkap sebenarnya sudah direncanakan dan disetujui terlebih dahulu oleh kedua belah pihak. Selain itu, perempuan yang ditangkap biasanya masih memiliki relasi kekerabatan dengan pihak laki-laki. Relasi itu pula yang akhirnya membuat praktik kawin tangkap sulit ditentang oleh keluarga korban. Dalam hal ini, calon mempelai laki-laki akan ‘menangkap’ calon mempelai perempuannya untuk kemudian dilamar dan dinikahi. Prosesnya pun melibatkan simbol-simbol adat, seperti kuda yang diikat atau emas di bawah bantal sebagai simbol bahwa prosesi adat tersebut tengah dilaksanakan.
Perempuan yang akan ditangkap sudah mempersiapkan diri dengan berdandan dan mengenakan pakaian adat lengkap. Dengan pakaian adat pula, calon mempelai pria akan menunggang kuda dan menangkap mempelai perempuannya di lokasi yang telah disepakati bersama. Setelah ditangkap, pihak orang tua laki-laki akan memberikan satu ekor kuda dan sebuah parang Sumba sebagai permintaan maaf dan mengabarkan bahwa anak perempuannya telah berada di rumah pihak laki-laki. Proses resmi peminangan baru resmi dimulai setelah calon mempelai perempuan setuju untuk menikah, yang kemudian disusul penyerahan belis (mahar perkawinan).
Sayangnya, kini banyak prosesi kawin tangkap ini disertai dengan paksaan, intimidasi, dan kekerasan terhadap perempuan. Dengan mengatasnamakan adat atau tradisi, pelaku merasa berhak menculik dan membawa paksa perempuan-perempuan Sumba di mana pun dan kapan pun mereka mau, padahal itu telah melenceng dari adat sebenarnya. Melencengnya praktik kawin tangkap ini bisa kita lihat mulai dari hilangnya kesepakatan sebelum dilangsungkannya prosesi tersebut, bahkan dalam beberapa kasus pelaku membawa senjata layaknya penculikan sungguhan.
Dalam praktik kawin tangkap yang melenceng, pelaku merasa mempunyai kebebasan untuk memaksa perempuan menikah dengannya sesederhana karena ia laki-laki dan agresif merupakan sifat laki-laki yang bisa dimaklumi masyarakat. Selama bertahun-tahun, praktik adat tersebut telah bergeser menjadi pertunjukan kejantanan dan kekayaan bagi laki-laki Sumba. Praktik kawin tangkap ditopang oleh budaya patriarki yang kental, kemiskinan, serta tidak meratanya pembangunan. Karena itu, ujar perempuan yang lahir di Sumba.
Kekerasan kawin tangkap merupakan bukti bahwa perempuan tidak bebas untuk menjalani kehidupan sendiri dan menentukan pilihan atas masa depan mereka sendiri. Kawin tangkap terbukti memposisikan perempuan seperti barang atau objek negosiasi dan bukan subjek (manusia) yang dihargai dan didengarkan pendapat dan keinginannya dalam bagian dari budaya Sumba yang dipraktikkan oleh masyarakat secara berulang.
Setidaknya ada dua aspek yang membuat tradisi kawin tangkap ini beralih menjadi penyerangan dan kekerasan berbasis gender. Pertama, aspek pemaksaan dan tidak adanya persetujuan dari korban. Kedua, penggunaan senjata dan intimidasi yang dapat membahayakan fisik, mental, dan seksual korban. Praktik ini tidak sejalan dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia, karena setiap manusia termasuk perempuan berhak atas rasa aman serta hak untuk bebas dari ancaman kekerasan.
Praktik kawin tangkap membuat perempuan Suku Sumba selalu berhati-hati saat keluar rumah pada masa acara tertentu yang memanfaatkan momen ini pada suatu acara adat karena pada saat itulah masyarakat berkumpul dan saling bertemu) yang terjadi pada bulan Oktober yang ditetapkan untuk melarikan perempuan untuk dijadikan istri dengan jalan pintas seorang perempuan idaman dengan cara menculiknya dan perbuatan tersebut dianggap sangat lazim sehingga tidak tampak aneh.
Dalam praktik kawin tangkap Sumba ada dua jenis yaitu kawin tangkap (tadoro) dimana kawin tangkap ini dilakukan untuk mempermudah pembelisan atau mahar dan praktik kawin tangkap ini sudah atas persetujuan kedua keluarga yaitu keluarga perempuan dan laki-laki serta perempuan dan laki-laki yang bersangkutan. Sedangkan praktik kawin tangkap (padeta) ini adalah jenis kawin tangkap yang dilakukan secara paksa dan korbannya adalah perempuan. Perempuan itu akan dikawin tangkapkan ketika apa yang menjadi kesepakatan pertama dingkari oleh perempuan, misalnya laki-laki dan perempuan awalnya sudah saling cinta serta laki-laki melakukan pelamaran dan memberikan belis/mahar namun seiring berjalannya waktu perempuan tersebut memiliki pria idaman lain maka akan ditangkap secara paksa oleh laki-laki yang sudah melakukan lamaran karena merasa dipermalukan.
Banyaknya kasus kawin tangkap yang terjadi di Sumba menunjukkan adanya reduksi makna pada tradisi ini. Faktor yang paling berpengaruh dalam kejadian kawin tangkap yaitu karena ekonomi terkait hutang, strata sosial, pendidikan, dan maupun kepercayaan. Praktiknya masih terus berlangsung karena ada persetujuan dari pihak orang tua perempuan dan pihak laki-laki maupun atas dasar keinginan pihak laki-laki tanpa sepengetahuan pihak perempuan. Akan tetapi, terjadi penyimpangan terkait kesepakatan yang menjadi esensi dari kawin tangkap ini, dimana hal itu dihilangkan oleh kepentingan kelompok laki-laki yang mengatasnamakan budaya untuk mengambil perempuan secara paksa. Tindakan semacan ini justru merendahkan martabat perempuan. Kebebasan perempuan sebagai seorang pribadi yang mampu berpikir, menimbang dan menentukan hidupnya, dipaksa tunduk pada keinginan kelompok tertentu yang mendominasi dalam budaya.
Ironisnya, korban kawin tangkap ini tidak hanya menyasar kalangan perempuan dewasa, namun juga anak-anak. Artinya, kawin tangkap di Sumba ini juga mendorong meningkatnya angka perkawinan anak di Indonesia. Praktik di luar nalar sehat semacam ini harus diakhiri karena merendahkan martabat perempuan. Apalagi sasarannya banyak anak perempuan di bawah umur. Akan tetapi, karena bergesekan dengan tradisi, kadang kasus tersebut tidak berujung pada keadilan secara hukum. Norma dalam praktik kawin tangkap yang berkembang dan berlindung dibalik klaim budaya demi menghindari tindakan hukum yang melanggar hak asasi manusia yang dijalankan dalam nilai agama, sopan santun, dan kesusilaan di kehidupan masyarakat.
Penyimpangan praktik kawin tangkap tersebut melanggar berlapis hak asasi manusia dalam Konvensi Penghapusan Diskriminasi pada Perempuan (CEDAW) yang telah diratifikasi melalui UU RI No.7 Tahun 1984. Dalam perspektif hukum, kawin tangkap, tradisi suku Sumba ini merupakan kejahatan manusia yang dilakukan secara paksa dan mengakibatkan terjadinya tindakan kekerasan seksual. Praktik budaya ini juga disebut sangat merugikan hak konstitusional seorang perempuan dan tentunya melanggar HAM. Kawin tangkap ini juga dipastikan melanggar hukum yang berlaku sebagai kasus penculikan dan dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan Pasal 328 KUHP dengan pidana paling lama dua belas tahun. Tindakan ini juga tidak sesuai dengan syarat perkawinan UU RI No 1 Tahun 1974 pasal 6 ayat 1 dimana perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.
Batik merupakan ikon penting budaya Indonesia sekaligus kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial, budaya,dan adat masyarakat sehari-hari. Di masa lalu perempuan Jawa menjadikan keterampilan membatik sebagai sumber mata pencaharian mereka. Dapat dikatakan batik Indonesia sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit dan masa penyebaran Islam di Indonesia.
Batik solo sendiri merupakan batik yang banyak diminati oleh masyarakat modern saat ini, karena corak dan warnanya yang unik dan beragam. Di Solo dikenal dua macam kain yang sudah tidak asing lagi di telinga,yaitu batik dan lurik. Batik yang berasal dari sekitar Solo dan Yogya dikenal dengan batik kesultanan. Biasanya warna yang digunakan adalah warna biru yang melabangkan bumi, coklat yang menlambangkan api,dan putihyangmelambangkan udara dan air.
Batik solo menggunakan warna sogan(kombinasi warna coklat muda, coklat tua, coklat kekuningan, coklat kehitaman,dan coklat kemerahan). Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya baik dalam proses batik cap maupun dalam proses batik tulis. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.Kekhasan batik solo sudah terkenal di seluruh Indonesia dan mancanegara,bahkan sudah menjadi produk eksport andalan.
Jika Anda ingin membeli batik di Solo, cobalah pergi ke Pasar Klewer yang dipenuhi oleh penjual batik. Anda bisa mendapatkan batik setengah harga di sini dari yang ada di toko-toko. Warna dan corak batik di sini sangat beragam dan unik.Jadi ingatlahuntuk tetap fokus pada warna dan corak yang Anda mau. Jika Anda ingin berbelanja di pasar ini,lebih baik Anda datang lebih awal di pagi hari karena suhu di sini panas dan siangnya penuh sesak olehpembeli.
Kota Solo memang merupakan salah satu tempat wisata belanja kain batik terkenal di Indonesia. Di sini banyak sekali terdapat sentra kain batik.Sentrayang tersohor antara lain di Pasar Klewer, kawasan Kampung Batik Laweyan, kawasan Kampung Wisata Batik Kauman,dan Pusat Grosir Solo (PGS).Kemampuan tawar menawar sangat deperlukan disini. Harga akan tergantung dengan kualitas kain, proses, detail, kulitas pencelupan,dan cacat pada kain.
Tips
Sebelum Anda memutuskan untuk membeli batik yang Anda inginkan, lebih baik Anda memeriksa kondisi kain terlebih dahulu sehingga Anda yakin dengan kualitas batik yang Anda beli.
Kepandaian menawar harga penting saat Anda memburu batik di pasar batik tradisional.
Anda perlu lebih cermat dan teliti apabila ingin membeli batik yang berkulitas tinggi seperti batik tulis. Orang masih mengenal batik dari sisi motif atau design batik saja padahal khusus batik tulis merupakan sebuah proses seni bernilai tinggi dari sebuah kain putih yang ditulis melalui niba(malam/lilin) mengikuti pola gambar dengan cara menulis (nitik). Untuk mengetahui dengan jelas apakah sehelai kain batik (model batik/baju batik) termasuk jenis batik tulis atau bukan {seperti batik kombinasi (kombinasi batik cap dan batik tulis); batik cap; batik printing; atau batik cabut (kombinasi batik printing dan batik tulis)} maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Batik tulis asli biasanya memiliki aroma yang khas, karena kain batik ini “disoga” atau diwarnai dengan bahan pewarna alami kulit kayu, seperti kayu tingi (warna hitam), kayu teger (warna kuning), kayu jambal (warna coklat), daun tom dan akarnya (warna biru).
Batik tulis biasanya pada setiap gambar dan motifnya tidak sama persis atau asimetris. Ada bagian yang terlalu kecil dan ada bagian yang terlalu besar. “Cecek-cecek” dan “isinen” dalam tiap gambar juga tidak sama besar-kecilnya.
Batik tulis selalu dibatik terusan, artinya sesudah dibatik “ngengrengan” dibatik lagi di belakang kain agar motif kelihatan lebih jelas. Mori yang dipakai biasanya lebih berat dibanding mori untuk jenis batik lainnya. Semakin kecil-kecil dan rumit motifnya, biasanya batik itu semakin halus.
Jailolo is a small port that serves Halmahera’s northwestern coastal villages. It is located on the island’s west coast approximately 20 km north of Ternate. From the city of Ternate, Jailolo can be reached using the sea route, through Port Dufa-Dufa crossings in the east of Ternate.
Jailolo is a sub-district in West Halmahera regency, in North Maluku. Before the arrival of Europeans was the most important political power on Halmahera. It is thought that the sultanate had a measure of influence and autonomy as a combined Portuguese and Ternatean force overran in it 1551. It was then under the control of the Dutch and Ternateans for two centuries.
The sparsely populated island encompasses an area of 17,000 square kilometers. Its exquisite nature continues to inspire the festival each year. The Muslim and Christian population participate in a joyous and harmonious local festivity that has developed into an international event.
Jailolo stratovolcano is in the center of a volcanic complex forming a peninsula west of Jailolo Bay on the western coast of Halmahera Island. Jailolo stratovolcano has not erupted in historic times, but there are young lava flows on the eastern flank.
Setiap wanita ingin tampil cantik saat duduk di pelaminan. Riasan wajah dan segenap busana pengantin belum cukup apabila tidak dibarengi kecantikan yang terpancar dari dalam. Masyarakat Betawi sejak lama menggunakan spa tradisional untuk menyempurnakan diri saat hari pernikahan.
Rangkaian spa tradisional ini terdiri dari lulur hingga proses siraman bunga yang disertai doa-doa. Adapula yang dilengkapi dengan tradisi minum jamu pengantin dan memapak daun-daunan. Tidak hanya untuk pengantin, Suku Betawi juga menggunakan tangas untuk perawatan kewanitaan. Selain itu, ada perawatan untuk ibu pasca melahirkan, bayi, dan perawatan masa tua.
Berikut ini beberapa bentuk kearifan lokal suku Betawi untuk perawatan tubuh.
Mengencangkan otot organ kewanitaan
Tangas adalah mandi uap, berfungsi untuk mengembalikan elastisitas vagina, meningkatkan libido dan memperbaiki rahim. Pertama-tama, seluruh tubuh diurut dengan minyak, serta dilulur dengan bahan-bahan yang terdiri dari tepung kulit telur, temugiring, laos merah dan jahe yang dihaluskan. Setelah itu ditangas dengan ramuan akar wangi, daun jeruk purut, daun jeruk, daun kemuning, daun sereh, daun mangkokan, daun delima, jahe, dan daun secang yang direbus bersama-sama. Uap hasil rebusan diarahkan ke tubuh dan vagina, agar uap terarah maka alat bantu berupa tikar pandan digunakan untuk membungkus tubuh.
Tangas juga sering dilakukan oleh calon pengantin, biasanya mulai dari 1 bulan sebelum hari pernikahan. Pengantin wanita yang sering ditangas akan terlihat perbedaannya. Tubuh akan harum dan keringat pun berkurang sehingga tidak perlu menggunakan riasan yang tebal saat menikah. Filosofi Betawi yang terdapat di sini, cahaya tubuh dipancarkan melalui mandi rempah-rempah, bukan berasal dari riasan wajah.
Membersihkan dan mengharumkan kulit
Remaja Betawi terbiasa membersihkan kulitnya dengan melulurkan tumbuh-tumbuhan. Tanaman yang digunakan adalah daun kemuning, harumnya dapat melekat di tubuh dan membuat kulit senantiasa halus. Hingga kini, resep kemuning pun banyak digunakan untuk lulur dalam kemasan. Ada juga ramuan daun beluntas yang digunakan untuk mengharumkan ketiak.
Tradisi mengunyah sirih yang dilakukan oleh nenek-nenek, ternyata juga diterapkan oleh orang Betawi untuk menjaga kesehatan, termasuk remaja. Hanya saja bahan yang digunakan meliputi ketumbar, kemangi, daun miana, urat akar dan beluntas. Seluruh rempah tersebut dihancurkan kemudian dikunyah, air yang keluar dari kunyahan itu dapat ditelan dan berfungsi untuk menyehatkan tubuh.
Perawatan pasca melahirkan
Perawatan yang satu ini disebut dengan mapas, ibu yang baru saja melahirkan, bagian perutnya dilumuri dengan laos dan jahe kemudian dibebatkan gurita selama tiga bulan. Untuk asupan makanan, ibu diberikan sayur bening atau air kacang hijau tanpa santan, dianjurkan juga mengonsumsi jamu ketumbar.
Perawatan bayi
Bibir bayi dioleskan madu usai dimandikan dan dipakaikan bedong. Perawatan ini dilakukan selama tiga bulan. Agar alisnya lebat, bayi melewati proses yang disebut didadah. Alis diolesi dengan ramuan cabe muda dan kemiri.
Perawatan masa tua
Masyarakat Betawi juga menyediakan ramuan khusus untuk perawatan masa tua, diantaranya meminum jamu dilep untuk meredakan sakit kepala, mengonsumsi jamu ketumbar terus-menerus dan meminum jamu delima putih untuk mengatasi keputihan.
Untuk mendapatkan perawatan tangas, Anda bisa mengunjungi Gaya Spa di Jalan Wolter Monginsidi No.25 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Juga di Hermitage Hotel di Jalan Cilacap, Menteng, Jakarta Pusat.
Berwisata di Yogyakarta berarti siap untuk dimanjakan dengan kuliner yang beragam. Ini adalah salah satu pesona yang dimiliki provinsi ini sehingga tak henti-hentinya wisatawan berdatangan. Orang Jawa memang penyuka masakan manis, mereka mengolah masakan dipadu dengan rempah-rempah termasuk gula dan kecap. Tapi ada satu hidangan yang membedakan Yogyakarta dengan wilayah lain di Pulau Jawa, yaitu gudeg.
Meskipun gudeg bisa ditemukan di beberapa kota di Jawa Tengah namun kuliner ini lahir dan tetap menjadi primadona di Yogyakarta. Bahan utama untuk membuat gudeg adalah nangka muda mentah, masyarakat setempat menyebutnya dengan gori. Dalam proses pembuatan, nangka muda parut direbus bersama gula aren dan santan di atas api kecil selama beberapa jam. Rasanya akan lebih lezat jika dimasak di atas kayu bakar. Bersama rebusan tersebut ditambahkan bumbu lain seperti bawang putih, bawang merah, kemiri, ketumbar, lengkuas, daun salam dan daun jati sehingga kuah menjadi berwarna cokelat kemerahan. Keseluruhan campuran rempah akan membuat kuah didominasi rasa manis.
Pembuatan gudeg membutuhkan kesabaran karena prosesnya yang begitu lama dengan total 7-8 jam. Hampir setiap tahap pembuatan membutuhkan waktu dan harus seteliti mungkin agar rasanya tidak meleset. Oleh karenanya, seseorang membutuhkan waktu luang seharian penuh untuk membuat gudeg. Pembuatan gudeg secara tidak langsung menggambarkan pribadi masyarakat Jawa yang tenang, sabar dan teliti.
Gudeg nikmat disantap dengan nasi dan didampingi lauk lain seperti sambal goreng krecek, opor ayam, telur pindang, tahu serta tempe bacem. Sambal goreng krecek juga merupakan kuliner unik karena menggunakan bahan utama kulit sapi goreng yang dimasak dengan sambal dan kacang.
Secara umum, Anda akan menemukan dua jenis gudeg, yaitu: gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg basah disiram dengan areh atau kuah santan. Gudeg kering pun menggunakan areh namun dimasak lebih lama lagi sehingga areh menyerap dan gudeg menjadi kering. Akan tetapi, jika Anda ingin membawa gudeg sebagai oleh-oleh, gudeg kering merupakan pilihan yang tepat karena mampu bertahan lebih lama sekira 24 jam.
Sementara itu, apabila menjelajah Kota Solo, mungkin Anda juga akan menemukan gudeg namun gudeg di sini agak berbeda selain karena disiram lebih banyak santan, gudeg solo juga tidak ditambahkan daun jati sehingga warnanya lebih pucat.
Gudeg terdapat di seluruh wilayah Yogyakarta, namun tempat yang paling populer adalah di daerah Wijilan yang terletak tak jauh dari Istana Keraton Yogyakarta, Anda dapat menggunakan becak untuk sampai ke sini. Selain itu, ada lebih dari 17 restoran yang menjual gudeg dengan bermacam rasa, sebut saja Pusat Gudeg Barek yang terletak dengan Universitas Gadjah Mada. Di sini, Anda juga akan menemukan tenda-tenda makanan kaki lima yang menjual hidangan legendaris ini.
Berikut ini beberapa restoran gudeg yang paling populer di Yogyakarta.
Bali tidak hanya memesona lewat alam dan budaya namun juga sajian citarasa kulinernya yang menggugah. Masakan Bali dikenal paling rumit di dunia karena membutuhkan bahan-bahan segar, bermacam rempah sehingga menghasilkan rasa yang kompleks, serta komitmen dalam persiapan dan proses memasaknya.
Di antara daerah-daerah lain di Indonesia, Bali memiliki identitas sendiri dan berbeda karena pengaruh dari agama Hindu. Hal inilah yang menyebabkan masakan Bali pun berbeda dengan ragam kuliner Nusantara lainnya. Terkait dengan penyelenggaraan upacara keagamaan, masyarakat Bali membutuhkan hidangan khusus sebagai persembahan untuk para dewa dan dikonsumsi secara bersama-sama selama perayaan.
Secara mendasar penduduk setempat terbiasa menghidangkan makanan dengan basa gede atau bumbu Bali yang pedas sehingga rasa masakan menjadi unik. Bumbu merupakan hasil racikan dari bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, ketumbar, kemiri, cabai, serai dan ebi. Basa gede sedikit mirip dengan pasta kari dari Thailand, bumbu dasar ini pun dapat diaplikasikan untuk berbagai jenis makanan.
Uniknya, tak ada satu pun penyedap rasa yang ditambahkan. Basa gede murni memadukan rempah-rempah yang dapat menggoda lidah masyarakat lokal, wisatawan dari seluruh Indonesia, hingga turis mancanegara. Bahan bumbu dan makanan diperoleh dari daerah setempat, serta dipilih secara spesifik demi mencapai rasa tertentu.
Berikut ini adalah beberapa hidangan khas Pulau Bali.
Ayam atau Bebek Betutu
Betutu merupakan teknik tradisional Bali yang digunakan untuk menciptakan ayam goreng yang berbeda. Secara tradisional ayam atau bebek dimasak dengan cara diungkep selama 24 jam bersama rempah-rempah, lalu dipanggang sambil dialasi dengan daun pisang. Prosesnya yang begitu rumit menghasilkan ayam dengan daging lembut
Babi Guling
Kelezatan babi guling menjadi favorit wisatawan mancanegara sepanjang waktu. Sebelum dipanggang, perut babi diisi dengan bumbu yang terdiri dari kunir, kencur, cengkeh, jahe, bawang merah dan bawang putih, pala, kemiri, ketumbar, daun salam serta daun belimbing. Ada juga yang menyertakan sayur-sayuran seperti daun singkong. Hasil bakaran akan membuat kulit babi renyah dan lembut dagingnya. Hidangan ini pada awalnya hanya melengkapi upacara keagamaan, namun sekarang babi guling tersedia di banyak warung dan restoran di Bali.
Sate Lilit
Umumnya sate-sate di Indonesia menggunakan batang bambu untuk menusuk daging ayam atau kambing. Berbeda dengan sate lilit. Kuliner ini menggunakan batang serai untuk sebagai tusuk sate, bahan yang digunakan pun daging ikan yang sebelumnya diramu dengan basa gede. Jika sate pada umumnya disiram kembali dengan saus kacang, sate lilit tidak. Disajikan polos begitu saja namun tetap nikmat karena perpaduan bumbu yang sudah kaya rasa.
Lawar
Ini adalah salah satu hidangan bersejarah di Bali. Lawar merupakan hasil cincangan dari rempah tradisional seperti kelapa parut, kacang hijau, nangka muda rebus, daun singkong, dan terkadang daging. Semuanya kemudian diramu lagi dengan bermacam bumbu sehingga menghasilkan rasa pedas asin. Istimewanya, penduduk setempat secara tradisional menyajikan lawar dengan daging mentah sehingga warna merah mendominasi. Terkadang mereka juga menciptakan lawar vegetarian yang kini lebih popular di kalangan wisatawan.
Salah satu suku bangsa tertua di Pulau Sumatera ada di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Suku Rejang namanya dan mereka memiliki tiga dialek bahasa yang cukup tua. Perbedaan dialek tersebut dikarenakan faktor geografis, faktor sosial, dan faktor psikologis. Uniknya, mereka tidak hanya hidup dengan bahasa yang berbeda antarsuku lainnya namun juga aksara yang berbeda. Aksara Kaganga namanya.
Asal muasal Kaganga diyakini sebagai turunan aksara Palawa yang berkembang sejak abad ke-12 dan 13. Media yang digunakan untuk menulis Kaganga adalah bilah-bilah bambu yang disebut gelumpai, rotan, kulit kayu, tanduk, batu, dan juga kertas. Isi naskah Kaganga antara lain hukum adat, pengobatan, doa, mantra, kisah kejadian, silsilah atau tembo, rejung, perambak bujang dan gadis, serta cerita rakyat.
Cara menulis Kaganga dari arah kiri ke kanan, lalu dari sudut kiri bawah ke kanan atas kecuali untuk huruf yang memiliki garis tegak lurus. Garis tersebut berukuran setengah dari tinggi huruf. Bentuk aksara berupa garis dan siku yang terdiri dari 28 grafem dan begitu melekat dengan vokal A, bunyinya: ka, ga, nga, ta, da, pa, ba, ma, sa, nya, ya, wa, ha, a, ra, mba, nda, dan masih banyak lagi. Jadi ketika menulis kata yang membutuhkan awalan E,I,O dan U, Anda harus tetap menggunakan huruf A dengan merubah bunyinya.
Suku Rejang memiliki tiga dialek bahasa antaarsuku dengan perbedaannya mencolok satu dengan yang lain. 3 dialek tersebut, yaitu: dialek rejang curup, dialek rejang kepahiang, dan dialek rejang lebong.
Beberapa ahli bahasa mengklaim bahwa ada hubungan antara aksara ini dengan hieroglif Mesir dan bahasa ibrani. Istilah Kaganga sendiri dicetuskan oleh Mervyn A. Jaspan, antropolog Inggris yang menerbitkan buku Folk Literture of South Sumatera. Menurutnya, kaganga merupakan kerabat beberapa aksara yang tersebar di Sumatera sebelah selatan. Istilah asli yang digunakan oleh masyarakat di Sumatra sebelah selatan adalah Surat Ulu dan diperkirakan pernah digunakan oleh Kerajaan Sriwijaya.
Salah satu Surat Ulu yang ditemukan di Desa Padang Bulan, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, berisikan strategi perang melawan Belanda. Inilah sebabnya mengapa pewaris surat kerap menganggapnya sebagai benda pusaka. Untuk membukanya saja harus menyembelih ayam atau kambing.
Walaupun penggunaan Kaganga sudah terhenti pada abad ke-20, sampai saat ini aksara tersebut terus dilestarikan, dijadikan mata pelajaran muatan lokal bagi sekolah-sekolah dasar di kabupaten tersebut. Pengajarnya sendiri merupakan guru-guru asli Suku Rejang. Mempelajari Kaganga lebih mudah daripada aksara Jawa karena grafemnya tidak memilki pasangan.
Banten merupakan provinsi di Pulau Jawa yang memiliki budaya unik. Salah satu budaya yang paling terkenal adalah seni debus. Debus merupakan seni bela diri tradisional yang dijiwai dengan kekuatan gaib. Atraksi ini membutuhkan perpaduan kekuatan dalam, seni bela diri dan kemampuan membawakan tari tradisional. Pelaku debus disebut dengan jawara.
Anda harus mengumpulkan keberanian untuk menyaksikan debus karena jawara akan menampilkan aksi-aksi ekstrem, seperti menyayat bagian tubuh dengan golok tajam, berguling di pecahan kaca, menggoreng telur di atas kepala, menyiram tubuh dengan air keras, menginjak bara api, ataupun menusuk wajah dengan kawat. Atraksi mereka sangat mengagumkan karena itu semua dilakukan tanpa meninggalkan cedera sedikit pun. Tak ada rasa sakit, luka, apalagi cecerah darah namun tentunya debus hanya bisa dilakukan oleh orang-orang berpengalaman.
Seni bela diri yang luar biasa ini telah berkembang pada abad ke-16 saat pemerintahan sultan pertama Banten, Sultan Maulana Hasanudin (1532-1570). Selama masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada abad ke-17, debus digunakan sebagai metode untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda.
Sebagai bagian dari upaya untuk memotivasi pejuang, Sultan Ageng Tirtayasa memberikan pelatihan dan ilmu kekebalan melalui pembelajaran ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat tersebut mengalir di dalam tubuh kemudian mampu memperkuat jantung sehingga tubuh menjadi kebal. Dengan demikian, debus bisa dikatakan sebagai hasil perjuangan rakyat Banten dalam melawan Belanda yang didasarkan pada ajaran Islam. Hingga kini sebelum atraksi debus dimulai, jawara akan melantunan sholawat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad Saww.
Sejarah juga mengatakan bahwa selama periode Sultan Maulana Hasanuddin memerintah, debus dipertunjukan di Masjid Agung Banten dengan sebutan tiam. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang syekh yang sekaligus bertanggungjawab atas kelancaran dan keamanan acara.
Istilah debus sendiri muncul dari bahasa arab yang disebut dablus, artinya tombak besi yang tajam. Inilah senjata yang diyakini digunakan dalam debus. Meskipun seni bela diri seperti ini dapat ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, serta di Singkawang Kalimantan Barat namun atraksi yang paling dihormati dan ditakuti adalah debus milik Banten.
Debus kerap kali dibawa hingga ke mancanegara seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Malaysia, Belanda dan Spanyol. Seni ini sangat berpotensi membawa pariwisata Banten ke ranah nasional maupun internasional.