Seni di Toraja memainkan peran penting dalam struktur sosial masyarakatnya. Karena kekuatan emosi dari benda, khususnya benda-benda seni, mewujudkan hirarki sosial. Peringkat status merupakan pusat dari struktur sosial dan ini dicerminkan dalam dua hal, yakni rumah adat tongkonan dan tau-tau. Orang Toraja percaya bahwa jiwa dari orang yang meninggal tetap hidup di dalam tau-tau yang menjadi simbol roh sang almarhum untuk melanjutkan kehidupan di alam berikutnya sesudah kematian.
Tau-tau merupakan replika atau tiruan dari orang Toraja yang sudah meninggal. Biasanya boneka kayu ini diletakkan sekitar tempat jenasah yang dimakamkan. Tau-tau merupakan elemen unik dan artistik dari identitas budaya di Toraja karena diukir menyerupai orang yang meninggal. Melalui patung inilah interaksi antara orang hidup dengan orang mati akan langgeng karena tau-tau merupakan persekutuan diantara keduanya.
Tau-tau berasal dari kata tau yang berarti orang atau manusia, dan disertai pengulangan kata tau yang bermakna menyerupai. Secara harafiah tau-tau berarti orang-orangan. Tau-tau bukan melambangkan badan atau raga almarhum melainkan simbol roh atau spirit sang almarhum yang tidak ikut mati tetapi melanjutkan kehidupan lain di alam berikutnya sesudah kematian (Poyo).
Dalam kepercayaan orang Toraja (Aluk Todolo) bahwa seseorang yang telah meninggal dunia akan menuju ke suatu tempat berkumpulnya semua roh (Poyo). Akan tetapi, tidak semua roh akan sampai di Poyo kecuali yang menjalankan upacara adat sesuai status sosialnya semasa hidupnya. Nah, tau-tau yang dibuat dalam prosesi upacara adat harus menggunakan bahan yang sesuai dengan status sosial orang yang meninggal. Apabila tidak maka roh orang tersebut tidak sampai di dunia arwah atau rohnya akan tersesat. Oleh karena itu, kesempurnaan upacara adat Toraja dan penyediaan tau-tau sangatlah penting dan harus di jalankan sesuai ketentuan karena sangat berpengaruh bagi roh orang yang meninggal.
Boneka tau-tau dibuat dari bilah bambu (strata status sosial terendah), kayu cendana-randu (strata status sosial menengah), dan kayu nangka (strata sosial paling tinggi/bangsawan). Khusus bagian bola mata dibuat menggunakan tulang atau tanduk kerbau. Pembuatan tau-tau merupakan tanggung jawab keluarga almarhum dan dibuat hanya bagi mereka yang memiliki golongan ningrat sehingga keberadaannya penting dalam menyimbolkan status aristokrat.
Tau-tau tidak sembarangan dibuat karena harus melewati setiap tahap pengukiran yang didasari oleh ritual religi, termasuk saat penebangan pohon. Saat membuat tau-tau, perajin pun wajib bekerja dekat dengan mayat. Ketika proses pemakaman dimulai, boneka ini akan dibalut dengan pakaian. Biasanya tau-tau laki-laki dilengkapi sarung dan yang wanita mengenakan kebaya. Tau-tau juga dilengkapi hiasan kepala, sebuah tas yang diisi dengan perak dan perabot yang terbuat dari bambu, perhiasan emas, pisau yang disakralkan, atau semua benda pusaka yang berkaitan dengan kaum bangsawan dan dewa.
Saat ritual selesai, tau-tau ditempatkan di bukit-bukit sehingga secara visual memperlihatkan bagaimana masyarakat yang masih hidup tetap berhubungan dengan mereka yang sudah pergi ke alam baka. Orang Toraja percaya bahwa jiwa dari orang yang meninggal tersebut tetap hidup di dalam tubuh tau-tau.
Di Lemo, Toraja masyarakat dari keturunan keluarga yang membuat tau-tau memberikan keamanan ketat pada balkon di tebing-tebing agar benda tersebut tidak dicuri. Balkon diberi jendela yang dikunci pada malam hari atau ketika tidak ada orang-orang di sekitarnya.
Berbeda dengan candi-candi di Jawa bahkan di Indonesia yang menghadap ke arah Matahari terbit maka pintu masuk candi ini menghadap ke arah barat laut. Candi Mendut disebut candi bertuah karena banyak pasangan yang belum dikaruniai anak datang ke sini memohon kepada Dewi Kesuburan.
Mendut adalah candi istimewa meski ukurannya tidak sebesar Borobudur tetapi jelas berumur lebih tua. Mendut disebut candi bertuah karena banyak pasangan yang belum dikaruniai anak datang ke sini memohon kepada Dewi Kesuburan. Hal ini dikaitkan dengan adanya reliefHariti. Di Candi Mendut, Hariti digambarkan sedang duduk sambil memangku anak dan di sekelilingnya beberapa anak sedang bermain. Menurut cerita, Hariti adalah raksasa yang gemar memakan anak kecil tetapi kemudian bertemu Sang Buddha dan ia pun bertobat serta berubah manjadi pelindung anak-anak. Berikutnya bahkan Haritidikenal sebagai Dewi Kesuburan.
Berlokasi di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, candi bercorak Buddha ini dibangun oleh Raja Indra dari wangsa Syailendra dan lokasinya berada di posisi paling timur garis lurus utara ke selatan dari tiga rangkaian percandian di kawasan Mungkid, yaitu Borobudur, Pawon, dan Mendut. Sampai saat ini Candi Mendut seringkali dipergunakan untuk perayaan upacara Waisak setiap Mei saat malam bulan purnama. Candi ini banyak dikunjungi para peziarah dari Indonesia dan bahkan mancanegara.
Para ahli belum dapat memastikan kapan waktu persis pendirian Candi Mendut (catatan sementara pada tahun 824 Masehi). Candi Mendut mempunyai banyak ragam hias atau relief yang masih jelas terlihat, mulai dari kaki, tubuh, hingga atapnya yang mengisahkan beberapa relief cerita personifikasi hewan dengan pesan moral tertentu. Relief bagian belakang candi merupakan relief terbesar pada candi ini yang menggambarkan Buddha Avalokitesvara.
Hiasan yang terdapat pada Candi Mendut cukup unik yaitu terukir berselang-seling berupa makhluk-makhluk kahyangan, yaitu dewata Gandarwa dan Apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda. Pada kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan Jataka.
Beberapa relief lainnya mengandung cerita moral dengan tokoh-tokoh binatang sebagai pemerannya seperti cerita “Brahmana dan Kepiting”, “Angsa dan Kura-kura”, “Dua Burung Betet yang Berbeda”, dan “Dharmabuddhi dan Dustabuddhi”. Dalam relief “Brahmana dan Kepeting”, menceritakan kisah seorang brahmana yang menyelamatkan seekor kepiting dan kemudian kepiting itu membalas budi dengan menyelamatkan brahmana dari gangguan gagak dan ular.
Dalam relief “Angsa dan Kura-kura”, menceritakan seekor kura-kura yang diterbangkan dua ekor angsa ke danau. Karena emosi dalam menangapi ejekan orang maka kura-kura melepaskan gigitannya sehingga jatuh ke tanah dan akhirnya mati. Dalam relief “Dua Burung Betet yang Berbeda”, menceritakan dua burung betet yang sangat berbeda karakter karena yang satu dibesarkan oleh seorang brahmana dan satunya lagi oleh seorang penyamun. Dalam relief “Dharmabuddhi dan Dustabuddhi”, menceritakan dua orang sahabat berbeda tabiat, yaitu Dustabuddhi dan Dharmabuddhi. Dustabuddhi menuduh Dharmabuddhi melakukan perbuatan tercela namun akhirnya Dustabudhi yang jahat dijatuhi hukuman.
Bangunan candi sendiri terbuat dari batu andesit dengan luas keseluruhan 13,7×13,7 m2 dan menjulang setinggi 26,4 meter dengan stupa kecil sebanyak 48 buah pada bagian atasnya. Akan tetapi, puncak atap sudah tidak tersisa sehingga tidak diketahui lagi bentuk aslinya. Atap candinya sendiri terdiri dari tiga kubus yang disusun mengerucut mirip atap candi di Dieng dan Gedongsanga.
Candi Mendut awalnya diketemukan arkeolog Belanda bernama J.G. de Casparis tahun 1836. Berikutnya pada 1897 hingga 1904 dilakukan perbaikan pada bagian kaki dan tubuh candi. Tahun 1908 hingga 1925 kembali diperbaiki oleh Theodoor van Erp hingga puncak candi ini dapat disusun kembali bersama sejumlah stupa.
Kegiatan
Saat Anda memasuki kawasan candi yang dipagari ini maka akan melihat kaki candi yang dihiasi sebuah relief kahyangan yang menggambarkan seorang laki-laki sedang duduk dikelilingi bunga dan daun-daunan yang distilir. Ada juga relief seekor kera sedang duduk di atas punggung buaya yang dihiasi bunga-bunga di sekitarnya. Apabila diperhatikan lebih dekat pada dinding candi ini di sebelah luarnya terdapat relief Dewi Tara yang sedang duduk bersemedi di bawah pohon kalpataru dan relief Sang Budha yang sedang berdiri di antara pilar-pilar dan berlindung di bawah payung. Di sudut selatan candi ini, tepat di halaman sampingnya bongkahan reruntuhan candi ini yang sedang diidentifikasi untuk direkonstruksi.
Pintu masuk candi ini dihiasi relief kalpataru, sebuah pohon pengharapan dengan enam unsurnya yang meliputi hewan pengapit, jambangan bunga, untaian manik-manik, payung, dan burung. Apabila Anda memasuki dalam ruangan candi maka akan melihat relief Hariti, yaitu raksasa yang sering memangsa anak kecil tetapi telah disadarkan kebaikan dari Resi Gautama (Buddha) sehingga menjadi raksasa yang baik bahkan berikutnya Hariti sering mendapat sebutan sebagai Dewi Kesuburan.
Perhatikan juga dinding bagian selatan dimana akan Anda temukan relief Yaksa Atavaka, yaitu mirip Hariti tetapi raksasa ini suka memakan orang. Dalam ceritnaya ia juga disadarkan menjadi pengikut Budha dan menjadi raksasa yang baik. Karena Dewi Kesuburan itulah barangkali yang mendorong beberapa pasangan yang belum diberi momongan sering ziarah ke Candi Mendut. Selain itu, relief Yaksa Atavaka di candi ini digambarkan sedang duduk di atas singgasana dan di bawahnya terdapat pundi-pundi berisi uang dikelilingi anak-anak. Berikutnya Yaksa ini sering disebut dengan Kuvera atau Dewa Kekayaan.
Apabila Anda mengarahkan perhatian pada sayap tangga candi maka akan ditemukan relief unik berupa kura-kura yang sedang diterbangkan oleh dua ekor angsa dengan menggunakan tongkat yang dicengkram pada bagian ujungnya dan kura-kura menggigit bagian tengah tongkat tersebut. Diceritakan dalam runut gambarnya bahwa saat terbang banyak orang yang melihat mencemoohnya sehingga kura-kura pun melepaskan gigitannya lalu jatuh ke tanah dan mati. Ada cerita menarik lainnya dari relief yang terukir di sayap tangga yaitu kisah seorang Brahmana yang menyelamatkan seekor ketam dari gangguan burung dan ular.
Di bagian dalam bangunan candi sendiri terdapat ruangan yang berisi altar dengan tiga arca Buddha yang masih dalam kondisi baik. Ketiga arca tersebut adalah Bodhisattva Vajravani, Budha Sakyamuni dalam posisi duduk bersila dengan tangan memutar roda dharma, dan Bodhisattva Avalokitesvara dalam posisi sedang memegang bunga teratai yang diletakkan di atas telapak tangannya. Di depan arca-arca tersebut dipasang pagar besi untuk menghindari interaksi pengunjung secara langsung.
Di Candi Mendut sering dilakukan ritual meditasi dengan cara mendengarkan alunan musik serta nyanyian. Pesertanya tidak harus beragama Buddha, siapa pun dipersilakan mengikuti ritual ini yang rutin digelar setiap malam pukul 19.00 – 20.00 WIB.
Candi Mendut juga rutin dipergunakan untuk perayaan upacara Waisak setiap Mei (pada malam bulan purnama). Biasanya para biksu melakukan persembahyangan penyucian air berkah di depan altar Candi Mendut. Air berkah tersebut dibawa dengan 70 kendi dari Umbul Jumprit Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, dan diangkut menggunakan mobil hias hingga tiba di pelataran Candi Mendut. Air berkah itu merupakan simbol ketenteraman kehidupan manusia dan dianggap pemeluk Buddha memiliki banyak berkah. Mereka akan membawa pulang air tersebut ke rumah masing-masing setelah selesai menjalani rangkaian perayaan Trisuci Waisak. Selain air berkah, para biksu dan umat juga membawa api dharma dari sumber api alam dari Gunung Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Tips
Kesehariannya candi ini terbuka untuk pengunjung Senin – Minggu, pukul 07:00 – 18:00
Berlokasi sekira 3 km arah timur dari Candi Borobudur atau 1,5 km ke arah utara dari Candi Pawon. Akses menuju candi ini sangatlah mudah saat Anda akan menuju ke Candi Borobudur dapat melewatinya. Petunjuk papan nama candi juga sangat jelas sehingga memudahkan untuk menemukannya. Lokasi candi ini berada persis di samping jalan dan dibatasi pagar besi bercat hijau. Cukup dari jalan raya saja Anda sudah bisa menikmati keindahan candi ini. Candi Mendut merupakan candi yang tidak terlalu besar dan pengunjungnya juga tidak terlalu banyak. Anda bisa lebih merasa nyaman di lokasi ini apalagi dengan pepohonan rindang di sekitarnya.
Selepas mengunjungi Candi Mendut, arahkan langkah Anda persis ke sebelah candi ini. Ada sebuah vihara Buddha di situ. Vihara ini awalnya adalah sebuah biara Katholik yang kemudian tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat tahun 1950-an. Berikutnya tanah-tanah rakyat ini dibeli yayasan Buddha dengan bantuan dana dari Pemerintah Jepang untuk dibangun vihara dimana terdapat asrama, tempat ibadah, taman, dan beberapa patung Buddha.
Kunjungi juga Babadan, yaitu tempat untuk memantau aktivitas Gunung Merapi yang berjarak sekitar 4 km dari puncaknya. Di sini tersedia pos pengamatan Gunung Merapi. Sepanjang perjalanan menuju Babadan, Anda akan melewati sawah yang hijau, air jernih, dan udara yang sejuk.
Jelas disayangkan apabila kunjungan Anda ke Candi Mendut tidak dilanjutkan dengan mengelilingi berbagai tujuan wisata menarik dan bersejarah di kawasan ini. Candi Borobudur pastinya wajib masuk daftar kunjungan Anda selain Candi prambanan.
Ketep adalah tujuan wisata serupa Babadan tetapi untuk sudut pandang pada beberapa gunung sekligus. Di Ketep tersedia gardu pandang untuk melihat keindahan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, dan Gunung Sindoro. Kawasan ini memiliki hawa sejuk dan segar. Tersedia juga pemutaran film di Volcano Theater yang menggambarkan proses erupsi Gunung Merapi.
Kopi sudah menjadi minuman wajib bagi banyak kalangan. Meski tidak perlu diminum setiap hari namun jelasnya mudah ditemukan di banyak tempat. Akan tetapi, tahukah Anda dari mana asal kopi itu membudaya hingga menyebar ke berbagai negeri dan melahirkan ragam penyajiannya hingga saat ini?
Sebuah litelatur sejarah berjudul “Umdat Al-Safwa” atau “Argumen Penggunaan Kopi” yang ditulis oleh Abd-Al-Qadir Al-Jaziri menjadi acuan tertua (hingga kini) untuk memahami dari mana budaya kopi menyebar. Dalam buku yang rampung ditulis Al-Jaziri tahun 1587 itu memaparkan bahwa awal budaya minum kopi dibawa dan dipopularkan masyarakat Yaman yang membawanya dari Ethiopia di Afrika. Akan tetapi, ada pula yang menyebut bahwa budaya minum kopi sudah dimulai 1.000 SM oleh sebuah suku bernama Galla yang ada di Afrika Timur.
Dipastikan bahwa awalnya tanaman kopi hanya ada di Afrika dan orang Ethiopia menanam biji-bijian asli kopi di dataran tinggi mereka. Barulah berikutnya pedagang Arab menyebarluaskannya dengan membawa biji kopi tersebut hingga ke Afrika Utara dan ditanam massal di sana. Dari Afrika Utara biji kopi pun meluas penanamannya hingga ke Asia, terutama itu adalah Nusantara, negeri kita!
Orang Ethiopia sendiri diperkirakan telah mengonsumsi kopi sejak 800 SM dimana mereka mencampurnya dengan lemak hewan dan anggur demi memenuhi kebutuhan protein dan energi tubuh. Sejak abad ke-5 M minuman kopi sudah menyebar di pelosok Ethopia.
Sementara itu, orang Yaman dari kalangan kaum sufi adalah kelompok orang yang mengawali mengonsumsi kopi dari Ethiopia yang mereka sebut sebagai al-Qahwa. Para sufi ini mengkonsumsi kopi demi sebagai stimulan agar mereka tetap terjaga selama berzikir dan beribadah malam hari. Salah satu derah di Yaman yang menjadi awal penyebaran kopi adalah Mocha (Mukha) dimana dari nama daerah itu pula kemudian melahirkan sebuah nama sajian kopi terkenal.
Berikutnya, kopi pun membudaya di Kairo, Mesir abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-16. Saat itu. Lagi-lagi diawali siswa asal Yaman yang menimba ilmu di Al-Azhar membawa kopi dan mengkonsumsinya untuk meningkatkan stamina saat belajar hingga tengah malam. Seakan ditakdirkan menjadi minuman banyak orang budaya minum kopi pun menyebar di Mesir hingga menjadi kebiasaan warganya. Kedai kopi dan penjualnya dengan mudah ditemukan di berbagai sudut Kota Kairo.
Dari Mesir, budaya minum kopi kemudian menyebar hingga ke Turki yang saat itu menjadi pintu gerbang ke Eropa. Orang Turki mengenal kopi sejak abad ke-15 dan dengan cepat warganya jatuh cinta pada minuman ini. Raja mereka, Sultan Suleiman (1543) diperkenalkan pada kopi oleh Gubernur Ottoman Yaman, yaitu Özdemir Pasha. Tidak lama setelah perkenalan dengan minuman ini kemudian kopi menjadi bagian penting setiap perjamuan di istana, bahkan ada jabatan ketua pembuat kopi dalam daftar pejabat pengadilan yang tugasnya meracik kopi dengan resep rahasia kerajaan.
Cara penyajian kopi di Turki memang berbeda saat itu dimana biji kopi disangrai dan dididihkan dalam wadah khusus hingga ampasnya mengental. Budaya minum kopi di pusat kekhalifaan Islam tersebut diamati musafir asal Inggris, yaitu Charles Mac Farlane. Ia menyebutkan bahwa orang Turki itu tidak bisa hidup tanpa kopi. Orang Turki gemar berbincang di pinggir jalan sembari meminum kopi dan itu telah menjadi gaya hidup mereka hingga memengaruhi bahasanya.
Dari pusat kekhalifahan Islam di Turki itulah kemudian budaya minum kopi menyebar ke Eropa. Era kekhalifahan memainkan peran penting dalam mentransfer ide-ide baru kepada masyarakat Eropa. Saat itu budaya Muslim memengaruhi banyak bidang kehidupan terkait sains dan teknologi, seni dan sastra, juga termasuk kulinernya dalam hal ini budaya minum kopi yang amat kuat dari Turki.
Dari masa kekhalifahan Islam di Turki-lah kemudian para pelancong, peziarah, dan pedagang dari banyak wilayah di Timur Tengah, Afrika Utara, Kaukasus, Balkan, dan utamanya Yaman membawa kopi melanglangbuana ke berbagai belahan dunia hingga Eropa, Amerika, bahkan hingga ke Timur Jauh (Nusantara) dan akhirnya mendunia hingga saat ini.
Ketertarikan banyak bangsa di Eropa terhadap gaya hidup orang Turki pada abad ke-17 menjadi awal kegemaran mereka pada minuman kopi. Termasuk salah satunya adalah Pasqua Rosee yang pernah bekerja pada pedagang kopi di Turki sehingga ‘khatam’ tentang seluk-beluk kopi. Rosee kemudian membuka kedai kopi di tepi Lombard-Street dan seakan tinggal menunggu waktu mewabah, tahun 1700 telah ada 500 kedai kopi di Kota London. Masyarakat Inggris telah tertular kebiasaan orang Turki yang gemar duduk di kedai kopi.
Bukan hanya di Inggris, kota lain di Eropa pun terjangkit wabah minum kopi yang ibarat candu. Sebut saja kota-kota seperti Venesia, Marseilles, Amsterdam, dan Wina tidak bisa mengelak ketika warganya menantikan kiriman kopi dari Yaman yang harganya melonjak tajam saat itu.
Percaya atau tidak bahwa kopi sempat menjadi acaman bagi Kerajaan Inggris. Itu karena orang-orang yang minum kopi di kedai-kedai kopi mereka membaca koran, berdebat soal politik dan membicarakan isu kesenjangan sosial. Akibatnya, kedai-kedai kopi di Inggris pun ramai-ramai mendaftarkan diri secara hukum bahwa tempat mereka bukan sumber pemberontakan warga terhadap kerajaan.
Di Venesia, Italia, para pedagangnya menjalin hubungan dagang dengan Afrika Utara, Mesir, dan Timur Tengah begitu tertarik pada cita rasa kopi karena dianggap cocok dengan lidah orang Italia. Mereka pun menilai kopi sebagai bahan minuman bernilai ekonomi tinggi. Tidak lama dari Venesia, kopi kemudian menyebar ke Turin, Genoa, Milan, Florence, dan Roma.
Seperti juga di Inggris yang sempat ditolak penguasa, begitu juga di Italia dimana barang impor dari negeri Muslim tersebut sempat dicibir lembaga agama setempat. Paus Klemens VIII (1536-1605) awalnya melarang mengonsumsi kopi namun setelah mencicipi sang paus pun membolehkan, bahkan memberkatinya. Tak pelak, itulah jalan pengiya-an untuk kopi mendapatkan rumah terbaiknya di Eropa. Dari Italia kita tahu kemudian lahir ragam penyajian kopi yang digemari saat ini dan negara itu pun dilabeli sebagai penikmat kopi, bukan sekadar peminum kopi.
Kopi Menjadi Temannya Sejarah Nusantara
Di negeri kita, kopi adalah komoditas yang lahir seiring sejarah penjajahan dan tanam paksa. Keberadaan kopi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan berperan dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat di beberapa daerah. Kopi awalnya dibawa ke Nusantara oleh seorang Komandan Pasukan Belanda, yaitu Adrian Van Ommen dari Malabar, India tahun 1696. Tujuannya kopi tersebut untuk ditanam untuk komoditas jual di sebuah lahan partikelir Kedaung yang sekarang dinamai Pondok Kopi (sekitaran Jakarta Timur). Jenis kopi arabika yang ditanam tersebut sayangnya gagal panen karena banjir.
Berikutnya bibit kopi pun dibawa untuk ditanam di daerah dataran tinggi, yaitu di Priangan (Jawa Barat), berikutnya dari wilayah inilah akhirnya kopi menyebar ke berbagai daerah di Nusantara seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan hingga Flores. Secara perlahan dengan dukungan kesuburan tanah maka Nusantara pun menjadi perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia.
Selama masa penjajahan, kopi menjadi komoditas andalan Pemerintah Hindia Belanda yang diawali oleh VOC dengan mengekspornya tahun 1711. Dalam kurun waktu 10 tahun produksi kopi meningkat sampai 60 ton per tahun. VOC pun memonopoli perdagangan kopi sejak 1725 hingga 1780. Pada masa itu kopi java sangat terkenal di Eropa yang saat itu untuk menyebut minum kopi adalah dikatakan ‘secangkir java’.
Hingga pertengahan abad ke-19 kopi java menjadi kopi terbaik di dunia hingga kemudian tahun 1875 menurun akibat serangan penyakit karat daun. Hanya beberapa daerah yang mampu bertahan dari serangan hama ini terutama daerah di ketinggian 1.000 m dpl. Sisa tanaman kopi arabika masih dijumpai seperti di Dataran Tinggi Ijen (Jawa Timur), Tanah Tinggi Toraja ( Sulawesi Selatan), kawasan Bukit Barisan (Sumatera) seperti Mandhailing, Lintong dan Sidikalang di Sumatera Utara, serta dan dataran tinggi Gayo di Aceh.
Pemerintah Hindia Belanda sempat pula mengembangkan jenis kopi jenis robusta tahun 1900 yang ternyata tahan hama karat daun dan pemeliharaannya ringan, bahkan hasilnya justru jauh lebih tinggi. Perlahan jenis kopi ini pun menggeser kopi arabika yang ditanam di daerah dengan ketinggian di bawah 1000 m dpl dan mulai menyebar ke seluruh daerah di Jawa, Sumatera hingga Indonesia Timur.
Selain jenis arabica dan robusta, Pemerintah Hindia Belanda juga mengembangkan kopi jenis liberika ke Indonesia tahun 1875. Akan tetapi, sayangnya jenis ini mudah diserang penyakit karat daun dan juga kurang disukai pasar karena rasanya asam. Sisa tanaman liberica saat ini masih dapat dijumpai di daerah Jambi, Jawa Tengah, dan Kalimantan.
Sekarang, hanya ada beberapa perkebunan kopi milik negara (PTPN) yang bertahan sebagai warisan dari Pemerintah Hindia Belanda dan atau para pengusaha Eropa, seperti di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara perkebunan swasta yang juga diwarisi dari pihak yang sama dapat kita temukan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian kecil di Pulau Sumatera.
Indonesia tidak hanya dianugerahi kekayaan alam yang menakjubkan namun juga memiliki suguhan unik. Dibanding dengan negara lain, Indonesia dikenal memiliki beragam jenis kopi terbaik di dunia. Salah satunya adalah kopi luwak yang dianggap memiliki kualitas terbaik dan salah satu kopi termahal di dunia. Menemukan tempat terbaik menikmati “black beauty” (nama lain kopi kuwak malabar) adalah di perkebunan yang terletak di kaki Pegunungan Malabar, di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Terletak hanya sekitar 40 km di sebelah selatan Bandung, Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, Kecamatan Pangaleran terkenal dengan suasananya yang segar dan sejuk. Lokasinya terletak di 1,500 m di atas permukaan laut, wilayah ini juga cocok digunakan untuk pertanian dan berbagai perkebunan untuk teh, kina, dan tentu saja kopi. Di antara perbukitan Pegunungan Malabar, sekelompok petani memanfaatkan Kelompok Pengelolaan Hasil Hutan dan menghasilkan Kopi Luwak sebagai produk utama mereka.
Perkebunan kopi menggunakan sepertiga dari total 150 hektar hutan untuk menumbuhkan kopi. Bisa dikatakan bahwa perkebunan ini menghasilkan Kopi Arabika terbaik ketiga di negeri ini. Banyak yang percaya bahwa tanah dimana kopi ditanam memengaruhi kualitas. Semakin tinggi ketinggian, semakin jarang pohon kopi ditemukan namun kualitas semakin tinggi daripada di tempat yang lebih rendah. Kopi juga harus dipetik dalam waktu yang tepat ketika sudah matang yang ditandai dengan warna kemerahan. Unsur-unsur lain yang berpengaruh pada kualitas kopi adalah cahaya. Pohon kopi membutuhkan pohon lain yang lebih tinggi sebagai tempat berlindung dimana pohon kopi hanya dapat tumbuh dengan baik jika mendapatkan 40% cahaya langsung.
Seperti yang telah banyak diketahui, yang membuat Kopi Luwak spesial adalah keterlibatan luwak dalam proses produksi. Kopi mengalami proses fermentasi melalui sistem pencernaan luwak. Hal ini diyakini menjadi alasan mengapa kopi memiliki rasa yang benar-benar lezat, karena luwak hanya mengonsumsi biji kopi dengan kualitas terbaik.
Untuk membuat Kopi Luwak dengan kualitas terbaik, kondisi luwak juga menjadi prioritas utama. Tidak mengherankan bahwa Penangkaran Luwak Malabar menerima penghargaan sebagai Pusat Kopi Luwak Terbersih di Indonesia pada tahun 2011. Di sini, luwak diberi kandang yang cukup luas sekitar 2,5 x 2,5 m. Selain kopi, luwak juga diberikan diet alami dari berbagai macam buah – buahan segar seperti pisang, apel, pepaya dan lainnya. Ada lebih dari 100 luwak disini yang menghasilkan sekitar 50 ton kopi per tahun.
Pada prosesnya, kopi dikumpulkan dan ditumbuk untuk memisahkan biji dengan kulit luar. Selanjutnya, kopi akan dipilih untuk dipisahkan berdasarkan kualitasnya. Biji kopi selanjutnya akan dipanggang menggunakan mesin pemanggang kopi. Dalam proses ini, suhu juga memengaruhi kopi semakin panas proses pemanggangan maka semakin tinggi tingkat keasaman pada kopi.
90% produksi kopi pada wilayah perkebunan ini diekspor ke luar negeri. Namun di Pusat Wisata dan Kuliner Kopi Malabar Anda dapat menikmati seduhan Kopi Luwak tepat dimana biji kopi ditanam dan dikonsumsi oleh luwak.
Dengan pegunungan yang menjulang tinggi dan bukit-bukit hijau yang luas sebagai latar belakang ditambah dengan sejuknya udara dan suasana yang tenang, menyesap kesegaran Kopi Luwak disini akan mengartikan apa arti lezat yang sebenarnya. Sebelum disajikan kepada pelanggan, kopi diseduh dan didiamkan beberapa menit lalu ampasnya dibuang. Hal ini diyakini sebagai cara untuk menambahkan cita rasa kopi. Secangkir Kopi Luwak dihargai Rp 29.000, jauh dari harga yang akan Anda dapatkan untuk kopi sejenis di beberapa negara di luar negeri.
Kecamatan Pangalengan terletak di 40 km sebelah selatan Bandung, Ibu Kota provinsi Jawa Barat. Untuk menuju wilayah tersebut cara terbaik adalahh menyewa mobil dengan sopirnya yang telah hafal wilayah tersebut. Dari pusat Kota Bandung Anda dapat melewati jalan tol dan keluar BuahBatu atau Mochammad Toha. Dari pintu keluar Mochamad Toha ambil jalur kanan lalu lurus menuju Dayeuh Kolot, sementara dari BuahBatu keluar ambil kanan menuju Baleendah, Kedua rute tersebut menuju Pameuengpeuk dan Anda dapat melanjutkan menuju Banjaran, Cimaung, sebelum ke Pangalengan. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 1,5 jam.
Orangutan memang unik, mereka adalah hewan setengah penyendiri namun berjiwa sosial. Orangutan jantan dewasa diketahui yang paling penyendiri, partisipasi mereka kepada kelompok hanya sebagai pasangan seksual bagi orangutan betina dewasa ataupun yang masih remaja. Si jantan dewasa tidak berperan langsung membesarkan anak-anak mereka. Betina-lah yang mengambil peran itu selama bertahun-tahun mengabiskan waktu dengan anaknya.
Jantan yang hampir dewasa biasanya lebih mengakrabkan diri dengan betina, terutama dengan betina remaja namun pada umumnya tidak terlalu agresif terhadap pejantan lain. Betina remaja biasanya berkumpul bersama-sama, terutama apabila umur mereka tidak saling terlampau jauh. Kompetisi para pejantan untuk mendapatkan akses ke betina adalah faktor adaptasi utama yang harus dikuasai orangutan. Jantan dewasa biasanya menggunakan kantung di daerah laring mereka untuk menghasilkan suara panjang yang terdengar seperti suara gemuruh keras, bahkan suara mereka bisa terdengar hingga hampir sejauh satu mil.
Suara orangutan jantan itu tampaknya memainkan peran penting untuk memukul mundur saingannya dalam memperebutkan betina yang reseptif secara seksual. Orangutan jantan dewasa biasanya tidak toleran satu sama lain dan mereka lebih memilih menghindar.
Perkelahian kerap terjadi apabila kedua jantan berhadapan langsung dengan seekor betina yang reseptif seksual. Mereka bisa berkelahi selama beberapa menit hingga satu jam lebih. Jantan mungkin akan terluka parah selama perkelahian, termasuk kehilangan jari, luka di wajah dan kepala, kehilangan mata dan masih banyak lagi. Orangutan betina jarang menunjukan kekerasan sehingga mereka tidak mengalami cidera-cidera seperti itu.
Ditinjau dari siklus hidupnya, orangutan menghabiskan waktu lebih lama untuk banyak hal lebih dari mamalia manapun. Mereka membutuhkan waktu terlama untuk tumbuh dan bereproduksi. Siklus menstruasi betina mencapai 29-32 hari dengan masa menstruasi tiga sampai empat hari. Masa kehamilan berlangsung sekitar delapan setengah bulan. Biasanya mereka hanya melahirkan satu ekor bayi dengan berat 1,5 kg, ada periwistiwa kelahiran bayi kembar namun sangat langka. Dalam 40 tahun pengamatan di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), baru ditemukan satu kasus kelahiran bayi kembar. Itu pun tidak sempurna karena satu bayi tidak bisa bertahan hidup terkait kondisinya yang sangat lemah.
Orangutan liar biasanya aktif secara seksual sekitar 12 tahun, namun mereka baru mendapatkan keturunan pertama pada rentan usia 15-16 tahun. Di TNTP, betina liar melahirkan rata-rata setiap 7,7 tahun sekali. Orangutan yang masih bayi tinggal di dekat ibu mereka dalam waktu yang lama. Dua tahun pertama sangat tergantung pada ibu untuk mendapatkan makanan. Sementara induk bergelantungan di antara pepohonan, bayi menyusui pada ibunya. Uniknya, mereka juga menggunakan pohon bercabang untuk melindungi diri dari hujan dan Matahari, terkadang mereka memetik daun yang besar untuk diletakkan di atas kepala.
Bayi orangutan menyusui hingga di usia 5 tahun, bahkan ada yang hingga 8 tahun. Ketika orangutan masih merasa tidak bisa lepas dari ibu, mereka akan tetap bepergian, makan, dan beristirahat di pohon-pohon bersama ibu mereka hingga usia 10 tahun. Setelah mandiri, mereka akan menjelajah hutan sendiri dengan dewasa lainnya, namun yang betina masih sering mengunjungi ibu mereka hingga usia 15-16 tahun. Studi menunjukan bahwa orangutan di Kalimantan tumbuh lebih cepat daripada orangutan di Sumatera dan mungkin lebih cepat mandiri.
Kekerabatan berkepanjangan seperti antara ibu dan anak orangutan jarang terjadi pada mamalia, mungkin hanya manusia yang memiliki hubungan intensif seperti ini. Ahli primata percaya bahwa orangutan memiliki masa kecil yang panjang karena mereka perlu banyak belajar untuk berhasil hidup mandiri. Orangutan muda belajar segalanya dari ibu mereka, termasuk menentukan mana makanan yang harus dimakan, bagaimana untuk memakannya, juga bagaimana membangun sarang tidur yang tepat. Sang ibu juga akan melindungi orangutan muda dari predator seperti macan tutul dan ular di Kalimantan, ataupun harimau di Sumatera.
Kebiasaan orangutan hidup di hutan atau arboreal menunjukan bahwa mereka adalah hewan arboreal terbesar di planet ini. Sebagian besar hidup mereka dihabiskan di pohon dengan bergelantungan dari cabang ke cabang namun jantan di Kalimantan sesekali terlihat berjalan di tanah di antara pepohonan. Di TNTP, jantan dewasa bisa melakukan perjalanan lebih dari dua mil di tanah dalam sehari. Sementara yang betina tinggal di dekat ibu mereka, orangutan jantan bermigrasi jarak jauh dari jangkauan ibu mereka.
Hampir setiap orangutan membangun sarang tidur baru dari cabang, biasanya 15 sampai 100 kaki di atas pohon. Terkadang mereka membuat sarang tengah hari untuk tidur siang dan juga kembal menggunakan sarang lama, kemudian ditambahkan sedikit dengan cabang baru.
Orangutan pun memiliki kognitif yang tinggi dibandingkan kera besar lainnya. Tingkat intelejensia orangutan terlihat pada bagaimana mereka memanifestasikan dirinya dalam penggunaan alat dan pembuatan alat sederhana di alam liar. Orangutan telah diamati membuat alat sederhana untuk menggaruk diri sendiri, bahkan menggantungkan daun besar di atas tubuh mereka seperti poncho. Mereka juga menggunakan cabang selama mencari serangga untuk makan, mencari madu, melindugi diri dari serangga yang menyengat, serta menangkap ikan atau buah yang di luar jangkauan. Di Sumatera, orangutan liar menggunakan alat untuk mengekstrak buah yang sulit dikupas.
Banyak orang yang mengira bahwa budaya unik hanya dimiliki oleh manusia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah menemukan semakin banyak bukti bahwa tradisi pembelajaran sosial juga ditemukan pada hewan. Di tahun 2003, sekelompok peneliti termasuk Dr.Carel van Schaik dan Presiden OFI yaitu Dr. Birute Mary Galdikas, menjelaskan berlusin-lusin perilaku yang dimiliki orangutan namun tidak ada pada hewan lainnya. Menurut laporan yang ditulis di jurnal science, kebiasaan orangutan dipelajari dari anggota kelompok lain dan diwariskan dari generasi ke genarasi. Di Kalimantan misalnya, orangutan menggenggam daun sebagai serbet untuk menyeka dagu mereka, sementara orangutan di Sumatera menggunakan daun untuk melindungi tangan ketika mengambil buah yang berduri.
Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Kelompok Pelindung Rimba Rafflesia (KP2R) berjaga di dalam tenda-tenda sederhana yang terletak di pinggiran Jalan Curup-Lubuk Linggau Km 46. Tenda dibangun membelakangi Hutan Lindung Liku 9, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu. Mereka secara bergantian waspada selama 24 jam untuk menjaga Rafflesia arnoldii yang sedang mekar dari ancaman lingkungan sekitar.
Hutan Lindung Liku 9 merupakan hutan hujan yang paling terjangkau untuk melihat Rafflesia mekar. Letaknya tepat di pinggir jalan namun Anda harus melewati jalan setapak lagi sekira 30 meter untuk melihat Rafflesia.
Meskipun tidak mengeluarkan bau sama sekali, Rafflesia sudah mengharumkan nama Provinsi Bengkulu sejak 1818. Puspa ini ditemukan oleh Dr. Joseph Arnold dalam sebuah ekspedisi koloni Inggris yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles. Itulah sebabnya mengapa dua orang tersebut merangkai nama Rafflesia arnoldii. Bunga ini pertama kali terlihat di dekat Sungai Manna, Kecamatan Lubuk Tapi, Kabupaten Bengkulu Selatan. Hingga kini dapat ditemukan di 17 titik di wilayah Provinsi Bengkulu. Terdapat juga di Provinsi Jambi hingga daratan Malaysia namun di kedua tempat tersebut jarang dihuni oleh Rafflesia yang mekar.
Tidak ada musim tertentu kapan Rafflesia mekar, kuncupnya bisa mengembang kapanpun namun sekira 7-10 hari kemudian akan menjadi busuk seperti daun-daun kering. Dekat dari Rafflesia, biasanya terdapat calon bunga yang disebut bongkol. Warnanya hitam dan akan berubah menjadi cokelat pucat ketika membesar, bongkol dapat diprediksi waktu mekarnya berdasarkan ukuran. Bisa seminggu kemudian, tiga bulan, enam bulan, atau bahkan satu tahun.
Begitu sulitnya menemukan Rafflesia mekar sehingga keberadaannya sangat berharga. Ketika mekar, anggota KP2R setempat dengan sigap memotong bilah-bilah bambu untuk membuat pagar sederhana di sekitar bunga. Bongkol pun dipagari, tangkai dan dahan pohon yang berjatuhan disingkirkan agar Rafflesia dapat mekar dengan sempurna.
Saat itu juga warga di sekitar Bengkulu akan mengunjungi dan mengabadikan gambarnya, tapi manusia tidak boleh menyentuhkan karena dapat mengakibatkan bercak-bercak hitam pada bunga. Keistimewaan lain dari Rafflesia adalah ukurannya yang sangat besar melebihi diameter bunga pada umumnya. Rata-rata diameter bunga raksasa ini adalah 60-80 sentimeter, namun Hutan Lindung Liku 9 pernah menghidupi Rafflesia dengan ukuran diameter 1,20 sentimeter. Ini adalah bunga terbesar yang pernah ada di dunia.
Rafflesia merupakan bunga yang memiliki pohon inang, keberadaan pohon bisa dipastikan tidak jauh dari tempat bunga ini mekar. Akar pohon inang merambat di dalam tanah, kemudian menumbuhkan bongkol calon Rafflesia di atas permukaan tanah.
Memang agak sulit membedakan pohon inang Rafflesia dengan pohon lain. Tak heran jika pohon inang sering menjadi korban penebangan sehingga Rafflesia tidak bisa tumbuh lagi. Permukaan batang pohon terasa lapuk, namun keras di dalam. Daun-daunnya berbentuk seperti jari tangan mirip dengan daun singkong namun lebih pendek.
Warna Rafflesia arnoldii umumnya merah tua, lalu berangsur gelap ketika hendak membusuk. Bunga ini dihiasi lima buah mahkota luar dan lima buah mahkota dalam. Di tengahnya terdapat organ reproduksi berupa serbuk sari dan putik. Rafflesia arnoldii tidak memiliki daun sehingga tidak mampu melakukan fotosintesis sendiri dan mengambil nutrisi dari pohon inangnya.
Rafflesia Arnoldii bukanlah satu-satunya jenis Rafflesia yang terdapat di Bengkulu, Anda dapat menemukan tiga jenis lainnya, yaitu: Rafflesia gadutensis yang terdapat di sisi barat Pegunungan Bukit Barisan Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara, Rafflesia hasseltii yang ditemukan di Kabupaten Lebong dan memiliki warna merah putih pada kelopaknya, lalu ada Rafflesia bengkuluensis yang warnanya merah pucat dan tersebar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Berkunjung ke Palu bersiaplah dimanjakan dengan kuliner gurih bercitarasa asam dan asin. Sebagian besar masyarakat Palu merupakan suku Kaili, ada juga suku Bugis sehingga masakan yang dijumpai di sini tidak berbeda jauh dengan kuliner Makassar, sebut saja sop saudara dan palumara.
Aneka kue dan kudapan yang dimiliki Palu pun tak kalah menggoda. Cocok dinikmati sehabis makan atau sekadar mendampingi teh dan kopi. Lebih nikmat jika Anda menyantapnya di pinggiran Teluk Palu yang indah. Apa saja yang bisa Anda cicipi di sana? berikut ini ulasannya.
Kaledo
Kaledo singkatan dari kaki lembu donggala yang awalnya merupakan makanan khas dari Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Kelezatan makanan ini terkenal hingga ke daerah-daerah tetangga sehingga kini bisa ditemukan banyak rumah makan yang menjual kaledo di Palu. Kaledo mirip dengan sop buntut, berkuah bening dengan rasa asam dan agak pedas hasil perpaduan asam, cabe rawit dan garam. Anda akan ketagihan karena dagingnya pun sangat lembut saat dikunyah.
Ikan kuah asam
Selain di Manado dan Makassar, ikan kuah asam juga banyak dihidangkan di Palu. Ini adalah sup ikan yang istimewa karena menggunakan kakap merah dipadu dengan rempah seperti serai, jahe, lengkuas, kemangi, cabai merah, bawang merah, bawang putih, kemangi dan daun jeruk. Jika sup ikan umumnya menggunakan kunyit, tidak dengan kuliner yang satu ini.
Uta kelo
Daun kelor yang tumbuh liar di belakang rumah-rumah warga Palu ternyata dapat disulap menjadi sup yang nikmat dan sehat. Uta kelo sebutannya, dalam Bahasa Indonesia berarti sayur kelor. Kuahnya didominasi warna putih karena campuran santan, juga berisi campuran melinjo dan terung. Jika suka Anda bisa menambahkan irisan pisang kepok. Uta kelo adalah salah satu menu favorit berbuka puasa masyarakat Kota Palu pada saat puasa Ramadhan.
Penja
Kumpulan ikan kecil diolah sedemikan rupa menjadi sambal penja atau nike sebagai teman kue putu. Banyak yang menduga bahwa itu ikan teri tapi ini adalah ikan penja khas Sulawesi atau sering juga disebut ikan seribu. Ikan ini bisa ditemukan di muara sungai dalam jumlah yang banyak.
Lalampa
Inilah oleh-oleh yang wajib dibawa ketika Anda bertandang ke Palu. Lalampa sejenis lemper namun ukurannya lebih kecil. Untuk membuatnya dibutuhkan beras ketan yang diaron bersama santan dan kemudian dibungkus daun pisang. Istimewanya, lalampa diisi dengan abon ikan atau suwiran daging ikan cakalang.
Suara mesin tenun terdengar dari sebuah rumah sederhana di Desa Watusampu, Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu. Di dalam ruangan sederhana beralaskan tanah dan bertembok kayu, ibu-ibu setempat menghabiskan kesehariannya di sini untuk menenun.
Mereka membuat tenun donggala, kain khas Sulawesi Tengah yang motifnya didominasi oleh bunga-bunga seperti mawar, anyelir, kumbaja, bunga subi dan masih banyak lagi. Kain yang dihasilkan biasanya berwarna tua, mayoritas seperti hitam, cokelat, merah tua, biru tua, dan hijau tua. Dewasa ini tenun donggala cocok dijadikan busana formal maupun semi formal, ada juga yang sudah dibuat dengan warna-warna cerah seperti kuning dan merah muda untuk menyasar segmentasi yang lebih luas.
Masyarakat Sulawesi Tengah biasanya menggunakan tenun donggala sebagai sarung ketika upacara adat. Uniknya, mereka tak hanya membebat satu helai kain melainkan dua buah. Walaupun panjangnya bisa mencapai 4 meter, tenun donggala yang asli hanya memiliki lebar 60 sentimeter karena keterbatasan lebar dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Inilah yang menyebabkan mereka memerlukan dua buah tenun untuk membuat sarung yang sempurna.
Proses pembuatan tenun donggala tidak jauh berbeda dengan pembuatan tenun ikat lainnya. Benang terlebih dahulu dipintal, kemudian dibidang untuk membentuk pola sebelum masuk ke proses pencelupan warna. Untuk mendapatkan warna yang berbeda-beda, benang diikat dengan tali rafia.
Dahulu cara tradisional tidak menggunakan tali rafia namun menggunakan tumbuhan yang disebut daun bomba. Inilah sebabnya mengapa kain tradisional ini sering juga disebut dengan tenun bomba. Penamaan tenun donggala diadopsi dari nama Kabupaten Donggala, daerah awal tenun ini berasal. Akan tetapi, kini sentra kerajinan dan toko-toko yang menjual tenun donggala dapat ditemui di sekitar Kota Palu, bahkan banyak juga yang didistribusikan ke pulau Jawa terutama Surabaya.
Sehelai tenun donggala rampung dalam waktu sebulan hingga dua bulan tergantung tingkat kesulitan motif dan panjang kain. Kain yang memiliki panjang 2,5 meter dihargai Rp400 ribu, biasanya ada pelengkap berupa selendang dengan harga Rp150 ribu. Kualitas tenun donggala yang asli dijamin sangat prima, awet dan warnanya tidak mudah luntur apabila perawatannya baik.
Sangat disarankan untuk tidak mencuci tenun donggala, Anda bisa menggunakan dry clean sebagai peggantinya. Zaman dahulu, nenek moyang Donggala menggunakan cara yang benar-benar tradisional untuk membersihkan kain itu. Mereka juga memanfaatkan bahan-bahan yang terdapat di alam untuk merapikan tenun donggala. Caranya cukup mengangin-anginkan tenun, jika ingin kain terlihat rapi maka mereka menggunakan dua buah batu dan dua buah kayu. Bagian atas kain diikat pada sebilah kayu, begitupun dengan bagian bawah. Hanya saja ada tambahan batu di kanan dan kiri kayu bagian bawah sebagai pemberat. Dengan demikian kain tertarik-tarik dan rapi secara alami.
Pesona Wonogiri jatuh di setiap helaian kain batiknya. Jika dilihat seksama, ada corak serat kayu yang selalu tertera di Batik Wonogiri. Ciri khas ini disebut dengan ‘remukan‘ dan asli berasal dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Pemerintah daerah memomulerkannya dengan nama batik wonogiren.
Selain remukan, ada tiga hal lagi yang mencirikan batik wonogiren, yaitu corak bledak, dasaran jene berwarna kuning kecokelatan, dan sekaran atau lukisan bunga. Dewasa ini, perajin batik wonogiren menyesuaikan selera pasar dengan menyisipkan motif-motif modern seperti binatang namun tetap disertai dengan remukan. Ada juga batik-batik yang dihiasi motif jambu mete yang merupakan komoditi unggulan dari Wonogiri.
Remukan dimodifikasi dengan teknik yang tergolong unik. Caranya, malam yang digunakan untuk membuat pola batik dikeringkan kemudian dipecahkan sehingga warna akan meresap pada retakan malam yang telah terbentuk. Remukan yang terdapat pada seluruh bagian kain akan menambah kesan artistik dan tradisional.
Jika Anda ingin menyaksikan langsung pembuatan Batik Wonogiren, silahkan kunjungi Kecamatan Tirtomoyo di Kabupaten Wonogiri. Temui ibu Sri Lestari yang telah mewarisi keahlian membatik dari keluarganya yang setia melestarikan kain tradisional. Rumahnya dijadikan sentra batik. Mulai dari kain katun polos, kain batik setengah jadi, hingga batik yang sudah jadi pakaian pun bisa ditemukan di sini.
Di daerah Wonogiri saat ini ada 3 keluarga yang melestarikan Batik Wonogiren namun bisa dibilang yang paling besar adalah yang dikelola oleh Sri Lestari.
Perajin yang ia gaji tinggal di sekitar Tirtomoyo tetapi ada juga yang berasal dari kecamatan lain di Kabupaten Wonogiri. Mereka tidak mengerjakan proses batik secara keseluruhan di sentra batik. Pembatikan dengan malam biasa dilakukan di rumah masing-masing kemudian diserahkan ke sentra saat malam Kliwon untuk dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
Batik yang diproduksi sebagian besar merupakan batik tulis dengan harga dimulai dari Rp300 ribu. Ada juga yang dikombinasikan dengan batik cap, harganya sekira Rp150 ribu. Pemasaran Batik Wonogiri sudah menjamah wilayah Jakarta, Solo, Bali dan Yogkarta. Sentra batik milik Sri Lestari sendiri juga pernah hadir di pameran Inacraft.
Rahasia kecantikan alami putri keraton terletak pada kearifan lokal Nusantara melalui jamu-jamuan yang digunakan untuk merawat tubuh luar dan dalam. Sudah menjadi tradisi turun-temurun bagi masyarakat Jawa bahwa rempah, bunga dan akar-akaran mampu memberikan manfaat bagi kesehatan manusia baik itu pada bayi, remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga lansia.
Spa modern yang dikenali saat ini merupakan perawatan asal Belgia dengan ciri penggunaan media berupa air. Prosesnya dipadukan dengan sesi pemijatan tubuh, serta suasana tenang yang dihasilkan dari aromaterapi dan atmosfer interior ruangan. Sebenarnya apa yang disebut spa itu sudah menjadi cara perawatan kesehatan dan kecantikan masyarakat Nusantara sejak masa Hindu-Buddha. Nenek moyang kita telah mengaplikasikan perawatan kecantikan dan kesehatan tersebut sebagai bentuk kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun baik warga biasa maupun tentunya keluarga kerajaan saat itu. Hal ini bisa dilihat dari bukti nyata yang terukir pada relief Candi Borobudur.
Spa tradisional versi Jawa menggunakan air yang dicampurkan dengan dedaunan dan bunga untuk berendam. Bahan yang digunakan biasanya melati, mawar, kamboja, cempaka, akar wangi, kunyit, daun secang, daun sirih, daun sereh, jahe dan kulit kayu manis. Jauh lebih sederhana, ada juga yang menggunakan kucuran air dari pancuran karena terbukti menghasilkan efek relaksasi. Beberapa metode bahkan menggunakan uap hasil rebusan rempah dan air untuk mengharumkan tubuh, organ intim wanita, hingga rambut. Metode ini disebut dengan ratus. Bahan yang digunakan berupa ekstrak kulit kayu cendana, akar wangi, kenanga, melati dan kayu manis.
Moorati Soedibyo, cucu dari Raja Surakarta Susuhunan Paku Buwono X, adalah wanita yang berkomitmen membawa resep perawatan dari balik tembok keraton ke dunia luar. Ia ingin mempercantik seluruh wanita Indonesia bahkan seluruh wanita di dunia. Di bawah garapannya, Taman Sari Royal Heritage Spa menyajikan banyak pilihan perawatan kecantikan Jawa dengan bahan dasar jamu. Anda akan dimanjakan penuh di ruang spa yang sangat bernuansa Jawa, lengkap dengan ornamen kayu berukir etnik dan harumnya aromaterapi
Sebelum memulai perawatan, Anda akan dijemput terapis berseragam batik dan berhias rambut cepol ala Jawa. Terapis merupakan tenaga profesional yang sudah berpengalaman dan dilengkapi sertifikasi sesuai dengan standar empiris. Pada ritual penjemputan, terapis membawakan wadah berisi tujuh kacang-kacangan yang melambangkan tujuh hari dalam kehidupan manusia, serta tiga hio sebagai simbol trilogi kehidupan: pencipta, pemelihara dan penghancur. Menurut kearifan masyarakat Jawa, ada dua jenis makanan pokok yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu polo gumantung (makanan yang tumbuh menggantung) dan polo kependem (makanan yang tumbuh terpendam di dalam tanah). Tujuh kacang-kacangan yang terdapat pada ritual itulah yang disebut sebagai polo gumantung.
Masuk ke ruang spa, Anda akan merasakan ketenangan alunan instrumen musik tradisional Jawa. Perawatan dimulai dari mencuci kaki dengan bunga tujuh rupa, diantaranya bunga kenanga, mawar putih dan mawar merah. Air yang digunakan pun diberi larutan garam spa dan esensial lemon grass atau sereh untuk menciptakan efek rileks.
Tahap perawatan lain disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Ada tahap pemijatan tubuh dengan pijatan Jawa yang dikenal dengan istilah plirit, yaitu pijatan yang dihasilkan oleh tekanan ibu jari. Minyak pijat diramu dari minyak astiri, sari kedelai dan aromaterapi sesuai pilihan. Teknik pijat sudah teruji khasiatnya untuk meregangkan otot-otot yang tegang, melancarkan sirkulasi darah, mengurangi nyeri, mengurangi ketegangan dan meningkatkan elastisitas otot, serta mempercepat pembuangan toksin tubuh.
Setiap perawatan akan diberikan variasi pijatan yang berbeda. Untuk bayi misalnya, pijatan hanya berupa usapan lembut. Sementara untuk perawatan post menopause, pijatan mengarah ke area pinggang. Taman Sari Royal Heritage Spa bahkan memiliki perawatan kerok koin yang dikenal ampun untuk menyembuhkan masuk angin. Kerok koin merupakan teknik penyembuhan yang aman karena memberi tekanan hanya pada ruas-ruas tertentu, ini tidak akan membuat kulit Anda iritasi.
Untuk mempercantik kulit, Anda bisa menikmati perawatan lulur kuning yang mampu menghaluskan kulit, membuat kulit cerah dan mengangkat sel-sel kulit mati. Bahan yang digunakan adalah tepung beras, kunyit, temugiring, kayu manis, pandan wangi dan temulawak. Semua rempah yang digunakan untuk perawatan merupakan tumbuhan asli dari Indonesia dimana sejak abad ke-15 sudah diburu oleh bangsa Eropa karena khasiatnya.
Spa disempurnakan dengan menyeruput minuman herbal yang juga diracik dari jamu. Terdapat teh jahe atau teh kunyit asam yang memiliki bermacam manfaat kesehatan, seperti meredakan nyeri perut dan mual, melancarkan pernapasan dan membantu kelancaran sirkulasi darah.
Tidak hanya wanita, pria pun meminatinya untuk alasan kesehatan. Wisatawan mancanegara juga sering berkunjung ke sini, mayoritas dari mereka berasal dari negara-negara Asia seperti Malaysia, Jepang, Singapura, Taiwan dan Korea. Untuk informasi selengkapnya, Anda bisa mengunjungi situs http://www.tamansariroyalheritagespa.com atau alamat di Jalan K.H. Wahid Hasyim 133 Jakarta Pusat.