Home Blog Page 20

Ragam Kuliner Khas Dayak di Kalimantan Barat

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasa sambal yang terbuat dari durian? Bagaimana pula rasa emping yang terbuat dari beras ketan? Ada satu lagi makanan khas Dayak yaitu kerupuk basah, pernahkah Anda mencicipnya? Semua makanan tersebut adalah beberapa dari sekian banyak makanan khas masyarakat suku Dayak di Kalimantan Barat. Saat menyambangi tujuan wisata di provinsi ini, wajiblah kiranya Anda memburu kuliner lezat tersebut.

Sambal durian atau yang biasa disebut tempoyak adalah salah satu kekayaan kuliner Nusantara yang dikenal di Kalimantan dan Sumatera. Bahkan, nyatanya tidak semua kawasan di kedua pulau tersebut mengenal jenis makanan tersebut. Sebagian besar orang mungkinakan terheran-heran tentang bagaimana buah durian yang baunya menyengat dan manis itu dapat menjadi makanan yang diolah sebagai teman makan nasi. 

Tempoyak tidak dibuat dari durian matang yang biasa dimakan. Tempoyak dibuat dari durian yang sudah difermentasi kemudian dicampur dengan bumbu atau rempah-rempah seperti umumnya pembuatan sambal kemudian dimasak dengan cara digoreng. Oleh karenanya, bau durian yang menyengat mungkin tidak akan lagi tercium, meski demikian rasanya unik dan lezat.

Pembuatan tempoyak diawali dengan memilih durian yang matang kemudian dagingnya dipisahkan dari bijinya,dibubuhi garam atau ditambahkan juga cabe rawit sebagai katalisator proses fermentasi. Durian tersebut lalu di simpan di wadah tertutup dalam suhu ruangan selama kurang lebih 3 hingga 5 hari. 

Setelah difermentasi, tempoyak siap dimasakdengan dengan cara seperti memasak sambal goreng. Bawang merah, cabe merah, dan garam secukupnya dihaluskan lalu ditumis dengan minyak panas sampai harum. Berikutnya ditambahkan irisan tomat sesuai selera dan gula pasir sebagai penambah rasa gurih.  Dapat pula disisipkan teri basah. Langkah terakhir adalah memasukkan durian yang sudah asam kemudian diaduk hingga rata dan harum, biasanyaakan berwarna kecoklatan. 

Tempoyak dapat dimakan sebagai teman nasi seperti halnya sambal. Selain itu, tempoyak juga dapat dijadikan bumbu dasar masakan lain, misalnya ikan bakar tempoyak, daun singkong masak tempoyak, gulai tempoyak ikan tenggiri, pepes ikan tempoyak, dan lainnya.

Makanan yang disebut emping oleh masyarakat Dayak tidaklah sama dengan emping yang dikenal umumnya. Emping khas Dayak atau yang disebut pam tidak terbuat dari melinjo melainkan dari padi ketanyang belum matang atau oleh suku Dayak Seberuang di sebut pulut matak (padi ketan mentah). Proses pembuatannya pun terbilang unik dan rasanya tentu jauh berbeda dari emping melinjo. 

Proses pembuatan pam biasanya dilakukan beramai-ramai oleh suatu keluarga besar. Padi ketan mentah yang menjadi bahan baku utama dipilih dengan ketelitian dan keahlian khusus. Padi ketan ini tidak boleh terlalu muda atau terlalu tua. Padi ketan pilihan tersebut kemudian melewati tahapan yang dinamakan ngikis atau ngaus, yaitu proses memisahkan padi ketan dari tangkainya dengan cara merautkan atau menggosokkan bambu yang sudah dibentuk sedemikian rupa untuk memudahkan melepaskan padi dari tangkainya. 

Butir padi ketan tersebut kemudian dimasak di kuali besar tanpa dicampur apa-apa. Proses ini dikenal oleh suku Dayak sebagai ngrendang. Pada tahap tersebutpadi ketan dimasak sekira 30 menit dan harus pas matangnya, tidak boleh terlalu matang atau mentah. Padi ketan kemudian didinginkan lalu ditumbuk di lesung atau alu agar terpisah dari kulitnya. Setelah semua padi ketan lepas dari kulitnya maka tahap selanjutnya adalah ditampi agar pambebas dari serbuk kulit padi.

Pamyang sudah siap disantap akan lebih nikmat jika dicampur dengan kelapa parut dan gula merah. Rasa pamyang enak dan empuk ini biasanya hanya dimakan satu tahun sekali, yaitu pada saat musim panen tiba. Pam juga menjadi semacam syarat adat yang harus dipenuhi sebelum mulai memanen padi. Panen padi merupakan momen yang penting bagi masyarakat Dayak yang mata pencahariannya adalah berladang. Mereka bahkan memiliki upacara khusus, yaitu Gawai Dayak yang dilangsungkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Jubata (Tuhan) atas panen yang melimpah. 

Saat mendengar kerupuk basah, jangan membayangkannya sebagai kerupuk yang disiram kuah atau air. Dalam hal bentuk fisik dan rasa, kerupuk basah ini serupa dengan pempek. Bahannya pun tak jauh berbeda dengan bahan dasar pempek, yaitu ikan dan tepung maizena. Makanan khas yang hanya dapat ditemui di Kapuas Hulu Kalimantan Barat ini biasanya dibuat dari ikan air tawar (khususnya belida) yang banyak terdapat di Danau Sentarum. 

Cara pembuatan kerupuk basah tak berbeda jauh dengan pembuatan pempek. Ikan belida pertama-tama dipisahkan dari tulangnya, dihaluskan, kemudian dicampur dengan bumbu (lada, bawang putih, dan garam), lalu ditambahkan tepung kanji. Adonan diberi air panas dan dicampur hingga halus lalu dibentuk silinder dan direbus di air yang sudah mendidih. Berbeda dengan pempek yang disajikan bersama-sama dengan kuah, kerupuk basah biasanya disajikan bersama sambal. Rasanya enak dengan aroma ikan yang kuat. 

Lanjak: Potensi Wisata Kota Perbatasan di Kalimantan Barat

Bagi Anda yang gemar berpetualang di alam liar maka menjelajahi pesona dan kekayaan hutan tropis tentu menarik untuk dimasukkan ke dalam agenda wisata berikutnya. Nah, untuk dapat menjelajahi dan menikmati kekayaan taman nasional di berbagai daerah di Nusantara maka Anda tentu perlu memikirkan tempat menginap dan beristirahat selama penjelajahan tersebut. Untuk itulah, keberadaan kota yang menjadi gerbang wisata ke suatu destinasi utama didaerah sangatlah penting perannya.

Sebut saja Lanjak, ibukota Kecamatan Batang Luparini adalah salah satu wilayah di Kapuas Hulu yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kota ini menjadi gerbang untuk memasuki pesona dan keindahan Taman Nasional Danau Sentarum, di Kalimantan Barat. Di Lanjak terdapat kantor manajemen Danau Sentarum, tempat wisatawan membayar dan mendapatkan izin untuk dapat memasuki kawasan taman nasional tersebut, selain melaui Semitau. 

Kota Lanjak letaknya strategisyaitu Utara berbatasan langsung dengan Malaysia (Serawak). Kota inimulai dikelola dan diarahkan sebagai kota wisata karena memiliki keunggulan dan potensi wisata. Bukit Lanjak atau Genting Lanjak misalnya, adalah salah satu bukit tertinggi di Lanjak yang terkenal sebagai tempat terbaik melihat pemandangan Danau Sentarum dari atas, selain Bukit Tekenang. 

Ada pula Danau Luar,danau ini adalah pintu perbatasan menuju Sungai Kapuas yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Kalimantan Barat dan sekitarnya. Selain sebagai sumber kehidupan, Sungai Kapuas jugamenjadiakses masyarakat untukdistribusi barang dan jalur transportasi.

Budaya masyarakat yang menghuni Lanjak juga dapat menjadi daya tarik lain di daerah ini. Umumnya penduduk asli Kecamatan Batang Lupar terdiri dari Suku Dayak baik sub suku Iban dan subsuku Embaloh. Kedua Sub Suku ini hingga kini masih memegang teguh adat-istiadatnya dengan tetap melaksanakan upacara-upacara atau ritual adat. Contohnya Gawai Dayak yang rutin dilaksanakan setiap Bulan Juni. 

Kegiatan

Lanjak sudah mulai dikembangkan sebagai kota wisata mengingat potensi yang dimilikinya juga sebagai gerbang untuk memasuki kawasan ekowisata utama di Kalimantan Barat, yaitu Taman Nasional Danau Sentarum.  Setibanya di Lanjak ada banyak destinasi wisata yang siap untuk dikunjungi karena letaknya yang memang tidak terlalu jauh dari Lanjak. 

Apabila ingin melihat keindahan air terjun dan berenang di kolam yang menampung aliran air terjun tersebut, menyambangi Sungai Sedik tentu tak boleh dilewatkan. Sungai Sedik mengalir mengikuti kontur perbukitan sebelum memasuki kawasan Genting Lanjak. Gemiricik airnya bahkan terdengardari jalan yang melaluinya. Pemandangan di sungai yang jernih dan alami ini cukup eksotis. Di bagian hulu Sungai Sedik, terdapat air terjun yang dikelilingi hijau hutan tropis. Kejernihan, kesegaran, serta melimpahnya air di kolamnya akan mengundang siapa saja untuk berenang.

Sempatkan pula untuk mengunjungi Pulau Melayu. Terdapat wisata legenda di kawasan yang dipercaya sebagai tempat bertuah. Sebuah pesanggrahan dan sebuah cungkup batu di kawasan ini dipercayai penduduk lokal sebagai Putri Melayu. Konon, bagi siapa saja yang datang ke tempat ini dan memohon sesuatu, niscaya permintaannya akan terkabul. Menurut legenda,  Putri Melayu sendiri adalah seorang putri yang melarikan diri ke Pulau Melayu saat terjadi peperangan antarsuku di Tanah Borneo. 

Apabila ingin menyaksikan sejenak kehidupan masyarakat adat Dayak Iban, mampirlah ke Rumah Panjang Sungai Pelaik. Suku Dayak Iban dan kebanyakan suku tradisonal lainnya di Kalimantan masih hidup dengan cara tradisional dan masih menjaga adat-istiadatnya. Suku Dayak biasanya tinggal di rumah panjang yang dihuni oleh beberapa keluarga sekaligus. Tentu menarik mengenal lebih dekat kehidupan suku yang menambah keragaman budaya Indonesia. 

Belum puas menjelajahi Taman Nasional Danau Sentarun? Mengunjungi Taman Nasional Betung Kerihun mungkin dapat jadi pilihan wisata Anda selanjutnya. Taman nasional ini terletak di Kota Putussibau, yaitusekira 123 meter dari Lanjak. 

Akomodasi

Sebagai kota wisata, sudah banyak ditemukan hotel kelas melati di Kota Lanjak. Selain menginap di hotel, Anda juga dapat menginap di rumah-rumah penduduk yang memang sengaja disewakan untuk wisatawan. 

Bagi Anda yang ingin merasakan menginap di atas kapal bandong setelah atau sambil menjelajahi Taman Nasional Danau Sentarum maka ini pun dapat menjadi pilihan. Di kapal ini memang memungkinkan untuk menginap, memasak, dan kegiatan keseharian lainnya. 

Mengingat lokasi Kota Lanjak lumayan terpencil dan kehidupan masyarakatnya yang relatif masih tradisional, keberadaan hotel mewah nyaris tidak ada. Akan tetapi, bukankah ini merupakan suatu petualangan sendiri untukmencicipihidup sejenakdekat dengan alam liar.

Kuliner

Menu utama sebagian besar masyarakat Kalimantan yang menggantungkan hidupnya di alam, danau, dan sungai adalah ikan air tawar. Selain disajikan sebagai menu utama, makanan khas olahan ikan juga hadir dalam bentuk makanan ringan. 

Ikan air tawar tersebut biasanya didapat dari Danau Sentarum atau Sungai Kapuas yang memang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Kalimantan Barat. 

Transportasi

Kota Lanjak berjarak sekira 900 kilometer dari Pontianak, ibukota Kalimantan Barat. Untuk mencapainya dari Pontianak Anda dapat menumpang bus selama kurang lebih 16 jam atau selama sekira2 jam menggunakan pesawatmenuju Putussibau.

Jarak Putussibau ke Lanjak sekira 123 km. Dari Putussibau, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan minibus jurusan Badau atau Lanjak sekira5 jam.  Dari Lanjak, apabila Anda ingin ke Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum maka Anda dapat menumpang speedboat  sekira2 Jam.

Tips

Kasawan di sekitar Taman Nasional Danau Sentarum dan sekitarnya, termasuk Lanjak masih terbilang terpencil dan tradisional. Jadi, siapkan diri Anda untuk menginap di kawasan yang kemungkinan besar minim fasilitas. Sebagian besar masyarakat adat masih menggantungkan hidupnya pada alam dan sungai.Kegiatan mandi dan mencuci masih dilakukan di sungai yang mengalir di belakang atau di dekat rumah mereka. Mungkin ini akan juga menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Anda untuk hidup sejenak ala masyarakat setempat.

Bawalah krim anti nyamuk mengingat nyamuk di kawasan ini dapat menganggu aktivitas Anda. 

Pilihlah pakaian dan sepatu yang nyaman untuk menjelajahi alam. Jangan lupa membawa pakaian ganti, kalau-kalau saatpenjelajahan Anda menemukan sungai atau danau untuk berenang. 

Kecamatan Batang lupar yang ibukotanya di Kota Lanjak merupakan salah satu kecamatan di perbatasan Indonesia-Malaysia. Tak perlu heran apabila banyak barang-barang yang ada di kawasan ini berasal dari Malaysia.

Rumah Betang di Sungai Kapuas: Kearifan Lokal Suku Dayak

Jika Anda sedang melancong di Sungai Kapuas maka Anda akan melewati rumah panjang suku Dayak. Kepulan asap yang lambat laun hilang dibalik rindangnya dedaunan hutan tropis Borneo menunjukan sebuah kehidupan yang bergeliat di dalam hutan tersebut. Pucuk-pucuk daun hijau menyentuh atap rumah panjang suku Dayak yang unik. Di dalam rumah para ibu baru saja menyiapkan air kelapa untuk makan besar yang harumnya sangat mengundang air liur. 

         “Rumah Betang adalah jantung dari struktur sosial kehidupan suku Dayak.”

Rumah panjang suku Dayak terdiri lebih dari 50 ruangan dengan banyak dapur, menjadikan rumah tersebut menjadi salah satu rumah terpanjang yang pernah dibangun. Meskipun rumah panjang ini terlihat bobrok dan sebagain besar dibangun berabad-abad lalu, namun kondisinya masih sangat kokoh karena dibagun dengan kayu ulin (kayu besi) yang terkenal kuat.

Suku Dayak merupakan suku asli Kalimantan, pulau besar yang dikenal juga dengan nama Borneo. Suku Dayak di Kalimantan menghuni dataran tinggi, pedalaman hutan, dan di sepanjang pinggiran sungai pulau ini. Dahulu mereka ditakuti karena kehandalannya berburu di hutan, suku dayak saat ini hidup makmur dengan bertani, menghasilkan produk hutan, menenun, atau mengukir kayu.Sungaisangat berperan penting bagikehidupan masyarakatyang tinggal di pinggiran sungai karena berfungsi sebagai penyediaanmakanandanminuman. Selain itu tentu sajasebagaipenghubung ke dunialuar. 

“Rumah Betang merupakan cerminan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari suku Dayak.”

Rumah panjang suku Dayak merupakan tempat tinggal yang dihuni oleh beberapa keluarga, dimana seluruh keluarga inti berdiam. Rumah panjang ini, dikenal dengan betangatau laminyang umumnya terletak di pinggiran sungai dan dibangun di atas tiang yang kokoh agar terhindar dari banjir musiman. 

Rumah betangini biasanya dibangun di atas tiang setinggi 5 sampai 8 meter, sedangkan untuk masuk ke dalam rumah menggunakan tangka(tangga). Karena tangganya yang kurang kokoh maka Anda harus berhati-hati ketika menaikinya. Saat ini keberadaan rumah panjang mulai menghilang dan tidak dihuni karena masyarakat memilih untuk tinggal di rumah yang lebih kecil dari pada tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh beberapa keluarga besar.

Rumah panjang dihuni oleh sejumlah kelurga besar. Contohnnya seperti rumah panjang di Putussibau, daerah dataran tinggi sungai kapuas, rumah panjang disini memiliki 54 bilik yang dihuni oleh beberapa keluarga. Namun ada satu beranda yang digunakan sebagai tempat pertemuan, ritual, upacara, pertunjukan budaya, dan juga aktivitas umum lainnya. Setiap harinya, para wanita terlihat sibuk menenun dan para pria sibuk memahat kayu. Rumah panjang bukan hanya merupakan tempat perlindungan namun juga merupakan tempat terciptanya keharmonisan, kedekatan dan kebersamaan yang berkelanjutan diantara sesama penghuni rumah panjang. Di desa Saham, sekitar 158 km dari Pontianak, rumah disini memiliki panjang 186 meter dan lebar 6 meter, dihuni oleh tidak kurang dari 269 orang.

Di dalam rumah panjang ini, setiap keluarga diberikan tugas untuk mengurus keamanan bersama, masing-masing harus terlibat dalam upacara dan ritual. Di rumah ini juga ada pembagian kerja, tetapi lebih ditekankan pada kerja sama. Namun demikian, perbedaan masih ada antara bangsawan dan rakyat jelata. Pemimpin diposisikan di tengah rumah, sedangkan kasta terendah diposisikan di dekat pintu masuk.

Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat bersama, baik dari masalah kriminal atau berbagi makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang. 

Di rumah tradisional inilah Anda akan merasakan kebersamaan dan persaudaraan suku Dayak. Apabila salah satu anggota keluarga ada yang meninggal dunia maka masa berkabung mutlak diberlakukan selama satu minggu bagi semua penghuninya. Saat itu mereka tidak menggunakan perhiasan, tidak berisik, tidak minum tuak dan dilarang menghidupkan peralatan elektronik.

Rumah panjang atau betang tersebar di berbagai tempat, seperti di di Kabupaten Sunge Uluk Apalin, Melapi, Semangkok, Sungai Utik, dan di Kabupaten Bukung. Semuanya berada di Kapuas Hulu atau di dataran tinggi Kapuas. Rumah panjang ini  sudah menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia. 

Kegiatan

Kegiatan menikmati salah satu warisan budaya ini adalah mendapatkan pengalaman lain melalui belajar, menyatu bersama suku adat, dan menyerap kearifan lokal budayanya. Rumah tradisional dapat menjadi sarana pembelajaran untuk memahami unsur-unsur dan nilai atau falsafah hidup dari suku tertentu.

“Di rumah betang Anda akan membaca latar belakang, filosofi dan nilai-nilai terdalam yang hendak diteruskan kepada generasi muda suku Dayak.”

Susurilah bantaran Sungai Kapuas dan Sungai Embaloh di bagian hulu maka Anda akan melihat bangunan-bangunan panjang yang berjejer di tepian sungai dimana merupakan pemukiman suku Dayak. Model bangunan ini menyerupai gedung sekolah, panjang dan terdiri dari bilik-bilik atau kamar. Mencermati bangunan-bangunan yang tertua akan dijumpai tiang-tiang yang cukup panjang mencapai 10-15 meter dari permukaan tanah. Tiang-tiang bangunan dibuat dari gelondongan kayu tebelian atau kayu besi yang tidak mudah lapuk dan tahan lama hingga ratusan tahun. 

Bangunannya terdiri dari 3 ruangan. Ruangan pertama disebut ruaiatau pandopoyang tidak disekat oleh dinding-dinding papan. Ini merupakan ruang publik atau halaman bersama untuk bermain, bercengkerama, mengadakan rapat, diskusi, atau melangsungkan upacara adat. Rungan kedua adalah bilik-bilik setiap kepala keluarga yang sudah dibatasi dinding papan.

Bangunan tersebut dibuat meninggi dari permukaan tanah dengan satu-satunya tangga dan pintu masuk. Model bangunan tinggi ini dirancang untuk menghindari banjir dan binatang buas serta ancaman serangan dari suku lain. 

“Suku Dayak Mereka harus tinggal di dalam bilik-bilik dari sebuah rumah panjang agar lebih mudah terorganisir jika ada kegiatan bersama atau ketika ada ancaman dari luar.” 

Apabila Anda amati model arsitektur rumahbetangmaka Anda dapat mencoba bertanya-tanya makna setiap model bangunannya, nilai kebudayaan suku-suku yang empunya bangunan tersebut akan terkuak. 

Hal yang menonjol dari kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan  warga yang menghuninya. Anda akan mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai berbagai perbedaan etnik, agama, ataupun latar belakang sosial.

Kantor Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan telah menetapkan lima unit rumah betang di Kabupaten Kapuas Hulu sebagai cagar budaya. Rumah betang cagar budaya itu berada di Dusun Sunge Uluk Apalin, Desa Nyagau, Kecamatan Embaloh Hilir, di Melapi, Kecamatan Putussibau, di Semangkok, Kecamatan Kedamin, serta di Sungai Utik dan Bukung, Kecamatan Embaloh Hulu.

Rumah betang di Dusun Sunge Uluk Apalin merupakan salah satu rumah adat Suku Dayak tertua di Kalimantan Barat. Interiornya relatif asli, baik bentuk maupun bahan bangunannya. Rumah betang yang didirikan 65 tahun silam mencakup 54 ruang kamar dengan panjang 286 meter, tiang panggung dari kayu ulin berdiameter di atas 50 sentimeter dan berketinggian rata-rata delapan meter. Letaknya yang relatif dekat dari Kota Putussibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu, sekitar satu jam perjalanan darat, membuat rumah betang di Uluk Apalin cukup ramai dikunjungi wisatawan. Anda akan disambut ramah, tidak dipungut bayaran dan cukup mengisi buku tamu.

Selama berkunjung, Anda akan disapa penghuni yang kebanyakan orang tua dengan sikap sopan dan bersahabat. Anda juga mungkin akan disuguhi minum tuak tradisional dari beras ketan dan makan sirih sebagai bentuk ritual menghargai budaya masyarakat lokal.

Jika Anda belum memiliki kesempatan untuk mengunjungi rumah panjang, sebuah replika rumah panjang telah dibangun bagi pengunjung di pusat kota Pontianak, tepatnya di Jalan MT Haryono. Berdiri di dalam dan di bawah rumah ini, Anda bisa membayangkan bagaimana luar biasanya jika Anda tinggal di dalam rumah panjang bersama-sama beberapa keluarga dan ternak yang tinggal di bawah rumahnya. Menyaksikan replika rumah panjang, menyusuri Sungai Kapuas dan merasakan keramahan yang tulus dari suku Dayak adalah pengalaman yang luar biasa patut Anda coba.

Akomodasi

Lihat panduan akomodasi di Pontianak.

Kuliner

Lihat panduan kuliner di Pontianak.

Ada makanan China berupa Mie Tiaw Pontianak menjadi salah satu kuliner khas Pontianak. Temukan Mie Tiaw Apollo di Jalan Patimura dan Mie Tiaw 72 di. Jl. Antasari. Ada beragam pilihan dari mie tiaw goring atau mie tiaw siram, keduanya sama-sama nikmat karena mie tiaw ini dilengkapi dengan daging sapi, jeroan, telor, daun sawi dan toge.

Saat Anda berkunjung ke Pontianak, sempatkanlah menikmati salah satu jajanan kuliner andalannya yaitu pisang goreng pontianak. Makanan ini menjadi icon wisata kuliner di sana dengan Keistimewaan adanya tepungkremesanmembungkus pisang goreng sehingga akan terasa sangat renyah saat di kunyah. Tepung keremesnya tidak terlalu banyak dengan bentuk asli pisang masih terlihat. Bahan dasarnya berupa pisang kepok dilapisi tepung terigu, telur, dan kapur, serta berbentuk kipas. Pisangnya digoreng matang dan dapat tahan hingga seharian juga dapat tahan disimpan hingga 4 hari. Jadi cocok untuk dijadikan oleh-oleh bila Anda berkunjung ke Pontianak. Pisang goreng ini akan terasa lebih nikmat jika ditambah rasa coklat, susu, pandan, durian, blueberry, strawberry, kacang, nangka, mocca, keju dan lain-lain.

Berbelanja

Lihat panduan berbelanja di Pontianak.

Tips

Ketika Andasedang berperahu menujuTaman Nasional DanauSentarumatauTaman Nasional Betung Kerihun, Andapastiberhentidisalah satu rumah panjangyang ada disalah satutepi sungai. Rumah panjang yang ada di sini tidak dapat ditemukan di tempat lain di Kalimantan, karena rumah panjang di sini dapatmencapaipanjanghampir250meterataubahkanlebih.

Untuk perjalanan ke pedalaman Kalimantan, kami sarankan Anda menggunakan jasa agen perjalanan. Anda bisa klik “Cari Agen Perjalanan”. Paket termasuk transportasi, akomodasi dan makan malam. Sejumlah agen perjalanan juga menawarkan makan malam ditemani pentas budaya di dalam rumah panjang bersama suku Dayak. 

Untuk informasi lebih mengenai budaya hidup suku Dayak, silakan kunjungwww.upperkapuas.blogspot.com

Atau Anda bisa mencari informsi lanjutan di http://disbudpar.kalbarprov.go.id/wisata-kuliner.html

Festival Danau Sentarum 2019: Merayakan Pesta Rakyat di “Bumi Uncak Kapuas”

Festival Danau Sentarum 2019 kembali hadir memasuki tahun ke-8. Kali ini acaranya digelar pada 25-27 Oktober 2019 dan dibuka di Kecamatan Batang Lupar (Lanjak) oleh Bupati Kapuas Hulu Abang Muhammad Nasir SH. Hadir pula dalam pembukaan perwakilan Kementerian Pariwisata, yaitu Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional II, Fahmizal.

“Festival Danau Sentarum itu merupakan komitmen Kapuas Hulu dalam mengembangkan potensi pariwisata untuk menarik perhatian wisatawan Malaysia di perbatasan,” ungkap Bupati Kapuas Hulu, A.M Nasir saat membuka Festival Danau Sentarum. Bupati berharap kepada masyarakat, untuk bisa manfaatkan festival danau Sentarum. Tentunya tidak merugikan para tamu wisata yang datang ke daerah Kabupaten Kapuas Hulu. “Layani tamu wisatawan lokal dan Asing dengan sebaik mungkin,” ungkapnya.

Dalam festival ini dihadirkan semua potensi di sekitar kawasan Danau Sentarum. Masyarakat memamerkan hasil kriya khas suku dayak setempat, kuliner, serta madu yang berasal dari hutan sekitar Danau Sentarum. Masyarakat Kapuas Hulu Kalimantan Barat meramaikan acara ini dimana tiga suku besar di daerah itu akan menggelar ritual adat, yaitu: Suku Tamambaloh, Iban dan suku Melayu.

Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional II, Kementerian Pariwisata, Fahmizal mengutarakan sejak tahun 2013-2018 rata-rata pertumbuhan wisatawan asing masuk ke Kapuas Hulu sekitar 70 persen lebih peningkatan. “Artinya memberikan dampak positif sehingga festival ini menjadi destinasi utama,” ucapnya.

Menurutnya, mengapa Pemerintah Pusat terus mendorong, karena masyarakat mendapatkan efek perputaran ekonomi baik bagi masyarakat itu sendiri. Danau Sentarum berada dalam kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia sudah lama dikenal surga kecil dengan keunikan alam dan masyarakat di sekitarnya yang hidup dengan kearifan lokal adat istiadat serta seni budaya yang begitu memikat.

“Kapuas Hulu menjadi muka Indonesia, cermin budaya karena dekat dengan negara Malaysia. Adanya kegiatan diharapkan dapat wisatawan masuk ke Kapuas Hulu dan bisa menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya di Kecamatan Batang Lupar, Jumat (25/10/2019).

Festival Danau Sentarum 2019 menampilkan beragam acara menarik, di antaranya kontes ikan arwana super red yang sudah dilaksanakan beberapa waktu lalu, sentarum expo atau pameran produk masyarakat, karnaval budaya, pentas seni budaya dan hiburan rakyat, etnik musik festival, pangkak gasing dan sumpit, motocross fun cross trobos, serta gerakan minum 2000 cawan madu. Berikut rangkaian acaranya.
Danau Sentarum Cruise (25-27 Oktober 2019)

  1. Pentas Seni & Hiburan Rakyat (25-27 Oktober 2019)
  2. Karnaval Budaya (25 Oktober 2019)
  3. Pameran Produk Masyarakat (25-27 Oktober 2019)
  4. Lomba Olahraga Tradisional (25-27 Oktober 2019)
  5. Arwana Band (25 Oktober 2019)
  6. Perahu Bidar Tradisional (25-27 Oktober 2019)
  7. Cross Trobos (25 Oktober 2019)
  8. Festival Minum Madu (25 Oktober 2019)

Bersepeda di Jantung Borneo III (5-7 Desember 2019)
Melalui festival tersebut diharapkan menjadi ajang mempromosikan pariwisata di “Bumi Uncak Kapuas” sehingga kunjungan wisatawan terus meningkat dan spada akhirnya bisa membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kegiatan atraksi seni budaya di daerah perbatasan dipandang dapat meningkatkan kunjungan wisman perbatasan yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap total kunjungan wisman secara nasional yang tahun ini.

Danau Sentarum menyimpan kekayaan alam yang mungkin tidak dimiliki oleh daerah lain di dunia. Danau ini merupakan danau musiman dimana sebagian besar wilayahnya tergenang air hanya selama 10 bulan saja. Pada waktu kering, beberapa wilayah danau bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan darat. Danau Sentarum setidaknya memiliki lebih dari 675 jenis tumbuh-tumbuhan, 265 jenis ikan, 310 jenis burung, 515 jenis mamalia, delapan jenis kura-kura air tawar dan lima jenis labi-labi serta ada tiga jenis buaya dalam danau itu.

Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum terletak di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, danau seluas 130 ribu hektare ini memasok hampir setengah dari air Sungai Kapuas. Danau Sentarum masuk dalam wilayah Taman Nasional Danau Sentarum dimana di dalam kawasan danaunya terdapat pemukiman penduduk Suku Melayu dan Dayak Iban yang turun temurun hidup dan memelihara kawasan ini.

Danau Sentarum memiliki luas sekira 127.000 hektare dengan 78 pulau kecil dan yang lebih dikenal di antaranya Pulau Melayu dan Pulau Sepandan. Dari sekian banyak bukit yang mengelilingi Danau Sentarum juga terdapat satu bukit yang kerap menjadi tujuan wisatawan yaitu Bukit Tekenang. Dari puncak bukit itu hamparan air dan pulau kecil terlihat jelas. Saat Anda menelusuri perairan Danau Sentarum Anda dapat melihat pulau-pulau kecil yang terisolasi oleh air danau yang membentuk seperti jalur-jalur sungai yang kadang ditumbuhi tumbuhan air yang lebat.

Rumah Betang: Warisan Leluhur Suku Dayak

Seekor biawak monitor berdarah dingin terbirit-birit meloncat ke Sungai Kapuas yang airnya coklat kemerahan. Suara perahu motor telah mengejutkan waktu santainya berjemur di tepi rumpun hutan kecil. Perjalan menyusuri Sungai Kapuas dihentikan kepulan asap membumbung, menembus genting sebuah rumah khas Suku Dayak, Rumah Betang. Perahu semakin dekat dan rumah yang sudah nampak tua itu bagai dapur umum berbentuk gerbong kereta api.

Rupanya sudah menjadi kebiasaan bagi penghuni rumah betang untuk memasak makanan secara bersama-sama. Di satu rumah, jumlah kepala keluarga dapat mencapai lima puluh. Artinya paling tidak ada lima puluh kamar dalam satu rumah dan bisa saja masing-masing memiliki dapur. Gaya hidup komunal ini sudah berlangsung ratusan tahun, setua rumah yang mereka huni. Kebiasaan ini kokoh dipertahankan, sekokoh kayu besi yang menjadi tiang-tiang penyangga rumah betang.

Suku Dayak hidup sedianya di pedalaman hutan pulau Kalimantan, di tepian sungai-sungainya yang besar. Cara hidupnya sederhana dan erat dengan kearifan lokal yang sangat alami. Kesaktiannya bukan sembarang dongeng, karena mereka dikenal sebagai pemburu yang mahir. Namun sekarang, walau tetap menjaga keahliannya berburu, gaya hidup itu sudah berubah menjadi gaya hidup agraris, beternak, dan membuat kain tenun nan cantik. 

“…pergi ke hutan, melestarikan gejolak adrenalin, berburu binatang liar.”

Hutan dan sungai adalah dua tempat yang dekat dalam kehidupan mereka. Sudah biasa mereka memanfaatkan air yang melimpah di sungai hutan tropis Kalimantan. Tak jarang mereka menangkap ikan untuk dimakan bersama. Beberapa di antara mereka masih membiasakan diri pergi ke hutan, melestarikan gejolak adrenalin, berburu binatang liar.

Menaiki tangga yang disebut tangka, penghubung tanah dengan lantai rumah betang, sudah biasa bagi penghuninya, tapi hal yang merontokkan nyali bagi pengunjung pertama ke rumah betang. Lebarnya tak jauh lebih dari lebar dua telapak kaki disandingkan. Walau dikikis agar menjadi pijakan yang tidak licin dan nyaman, kelalaian bisa berarti kunjungan ke rumah dukun atau tukang obat. Namun biasanya sepasang kayu pegangan tangan disediakan agar siapapun dengan kehati-hatian dapat melangkah naik.

“..berpetualanglah ke pedalaman Kalimantan dan jangan melulu  merasakan hal nyaman serba pelayanan.”

Walau kebiasaan hidup bersama ini nampak sudah nyaman, pilihan hidup dalam rumah-rumah kecil yang penuh privasi semakin disukai dan mengancam keberadaan peninggalan nenek moyang Suku Dayak di Kalimantan ini. Jarang menemukan rumah betang saat ini. Mendapatkan rumah betang yang masih berdenyut dengan nafas dan pola kebiasaan masyarakatnya sungguh sebuah penemuan berharga.

“Mendapatkan rumah betang yang berdenyut dengan nafas dan pola kebiasaan masyarakatnya sungguh sebuah penemuan berharga.”

Di Putussibau, misalnya, terdapat 54 ruang keluarga yang disebut bilik, berjajar rukun di bawah satu atap dekat Sungai Kapuas. Di tengahnya, ruang besar digunakan untuk berkumpul, melakukan upacara adat, dan kegiatan bersama lainnya, serta teras di luar tempat duduk-duduk. Penting bagi masyarakat untuk mempertahankan keberadaan ruang ini dimana interaksi sosial secara formal dan informal tetap berlangsung.

Di Desa Saham, sekitar 158 kilometer dari Pontianak, terdapat rumah betang dengan panjang 186 meter dan lebar 6 meter, di dalamnya terdapat 269 jiwa. Tiap penghuni memiliki peran masing-masing, dan terpenting ialah keamanan rumah dan peran dalam upacara adat. Jadi, kebersamaan tetap dijaga, walau pembagian kelas pun nampak diterapkan antara orang penting dan orang awam, dimana orang awan ditempatkan di ruang dekat pintu masuk, sementara orang penting di bagian tengah rumah betang. 

Rumah betang yang masih asli tersebar di beberapa titik di Kalimantan Barat dan provinsi lain. Di Kalimantan Barat pengunjung dapat melihatnya di Kecamatan Sunge Uluk Apalin di Melapi. Dapat juga pengunjung pergi ke Sungai Utik dan di Bukung, daerah Kapuas Hulu. Di sinilah warisan arsitektur nenek moyang selain candi dan kompleks kerajaan dapat ditemukan.

Bila tempat-tempat tersebut terlalu jauh bagi anda, datanglah ke replika rumah betang di kota Pontianak, di Jalan M.T. Haryono. Bayangkan rumah tersebut dipenuhi lima puluh kepala keluarga dan kekokohan rumah tersebut yang menjulang tinggi, lima meter di atas tanah. Lukisan di bawah lantai yang penuh warna kuning dan merah khas Suku Dayak sungguh berharga untuk diabadikan. Pengalaman tentunya tak terbandingkan bila Anda bisa datang di rumah betang yang asli. Berkenalan dengan beberapa penghuninya, menempatkan Anda sebagai petualang kebudayaan yang luar biasa ini.

”..sesekali rasakan pengalaman lain dengan belajar, menyatu bersama suku adat, lalu menyerap kearifan lokal budaya Nusantara.”   

Madu Danau Sentarum: “Si Manis dari Uncak Kapuas”

Bersama alam suku Dayak Iban membina dan dibina alam Sentarum. Istilah konservasi yang kita kenali sekarang sejatinya adalah bagian dari kehidupam keseharian mereka yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, saat Anda menyambangi kemegahan alam Sentarum maka pastikan untuk mencicipi atau membawa pulang madu dari “Bumi Uncak Kapuas”.

Meski tinggal di wilayah yang dekat perairan, warga desa sekitar Danau Sentarum tidak hanya mencari ikan sebagai sumber mata pencaharian penduduk tetapi juga madu hutan berkualitas tinggi dan memiliki aroma khas. Madu sentarum yang dipanen dan dirawat secara organik tersebut telah menerima tanda sertifikasi bukan hanya di Indonesia tetapi juga dari Jerman.

Sertifikasi Biocert sebagai lembaga inspeksi dan sertifikasi organik dan ecososial menjadikan madu Danau Sentarum sebagai madu yang memiliki kualitas terbaik dan berorientasi kepada konservasi. Cagar Biosfer akan menciptakan nilai tambah dari produk yang dihasilkan oleh masyarakat Kapuas Hulu terutama hasil hutan. Di dunia internasional masyarakat memberikan apresiasi kepada wilayah yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer dunia sehungga akan memberi nilai tambah kepada produk yang dihasilkan.

Ada tradisi unik para periau atau petani madu untuk memanen madu di Danau Sentarum. Saat akan mengambil madu dari sarang di atas pohon, mereka menyanyikan syair timang untuk meminta izin kepada para lebah. Selain itu, proses panen madu hutan ini dilakukan tepat tengah hari antara pukul 11.00 hingga 13.00, saat Matahari sedang terik-teriknya.

Asosiasi Periau Danau Sentarum menjual hasil madunya hingga 20 ton per tahun.  Hal ini disebabkan karena kondisi hutan di sekitar danau yang masih sangat terjaga sehingga lebah madu betah dan menghasilkan banyak madu untuk para petani.

Apabila Anda berminat menyaksikan langsung proses panen madu hutan sentarum maka dapat mengunjungi perkampungan yang ada di sana, salah satunya Semangit di Kecamatan Selimbau. Desa Semangit bisa ditempuh menggunakan speedboat dari Lanjak, ibukota Kecamatan Batang Lupar yang berjarak tempuh sekitar 3 jam dari Kota Putussibau, ibukota Kabupaten Kapuas Hulu. Di Desa Semangit Anda dapat menghubungi Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) yang merupakan lembaga yang menaungi kelompok petani madu di sana.

West Java Paragliding World Championship And Culture Festival

Pemerintah Kabupaten Sumedang, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, FASI Paralayang, Kementerian Pariwisata, komunitas, serta masyarakat lokal bekerja sama menggelar perhelatan West Java Paragliding World Championship And Culture Festival. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 22-28 Oktober 2019 di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. World Championship And Culture Festival 2019 ini adalah kejuaraan yang baru pertama kali digelar dan akan diikuti sekitar 160 pilot dari 20 negara.

Sumedang adalah daerah yang memiliki tempat yang sangat baik untuk olahraga udara, khususnya paralayang. Tidak hanya untuk kompetisi di level ‘accuracy’ dan ‘cross country’, tetapi juga bagus untuk ‘fun fly’ atau terbang gembira, khususnya di atas Bendungan Jatigede. Kegiatan ini diharapkan kejuaraan Paralayang itu sebagai salah satu upaya guna menjadikan Kab. Sumedang sebagai destinasi wisata kelas dunia. Sekaligus juga mengakselerasi pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Jatigede. Kejuaraan Paralayang ini diharapkan menjadikan Kab. Sumedang sebagai destinasi wisata kelas dunia, juga mengakselerasi pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Jatigede.

Kegiatan olahraga yang dipadukan dengan pariwisata dipandang mampu memberikan dampak yang besar karena tidak hanya mempromosikan destinasi lokal saja namun juga kegiatan olahraga yang bisa dilakukan di kawasan tersebut. Wisata olahraga adalah cara efektif untuk mendatangkan wisatawan mancanegara dan menguntungkan secara ekonomi. Para atlet biasanya tidak datang sendiri, mereka membawa tim, keluarga, dan pendukung. Sport tourism juga akan memperpanjang masa tinggal atlet karena umumnya mereka membutuhkan masa adaptasi terhadap alam di Indonesia sehingga mereka memutuskan datang lebih awal sebelum masa kompetisi dimulai.

West Java Paragliding World Championship 2019 sendiri akan melombakan dua kelas, yaitu Paragliding Accuracy World Cup (Pre-PGAWC 2019) dan Paragliding Cross Country World Cup (Pre-PWC 2019). Lalu, diakhiri dengan Paragliding Festival (Fun Fly dan Festival Budaya).

Pada kelas accuracy (dengan lisensi dunia dari Organisasi Kejuaraan Dunia Paralayang Accuracy/ PGAWC), akan berlangsung di Kampung Toga, Sumedang, pada 22-25 Oktober 2019. Untuk kelas cross country (dengan lisensi dunia dari Organisasi Kejuaraan Dunia Paralayang Cross Country/Pre-PWC 2019), akan berlangsung di Batu Dua, Sumedang, pada 22-26 Oktober 2019 diikuti sekitar 160 pilot.

Untuk Fun Fly dan Festival Budaya dengan linsensi dunia dari Museum Rekor Indonesia (MURI), akan berlangsung di Jatigede, Sumedang pada 27-28 Oktober 2019. Fun fly ini akan dilakukan penciptaan Rekor Muri untuk Rekor Dunia Terbang Bersama yang diikuti sekitar 160 pilot. Acara ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni dan budaya, festival kuliner, serta lomba fotografi dan videografi.

Sementara itu, Sumedang sendiri merupakan sebuah kabupaten yang lokasinya 45 km Timur Laut Kota Bandung. Sebagian besar wilayah Sumedang adalah pegunungan, kecuali di sebagian kecil wilayah Utara berupa dataran rendah. Gunung Tampomas (1.684 m dpl) berada di Utara Sumedang. Sumedang mempunyai ciri khas sebagai kota kuno khas di Pulau Jawa, yaitu terdapat alun-alun sebagai pusat kota yang dikelilingi Masjid Agung, rumah penjara, dan kantor pemerintahan. Di tengah alun-alun terdapat bangunan yang bernama Lingga, tugu peringatan yang dibangun tahun 1922 sekaligus menjadi ikon Kabupaten Sumedang.

Rusa Sambar Lamandau: Menengok Rusa Terbesar di Negeri Kita

Ketika Anda menyambangi Nanga Bulik, ibu kota Kabupaten Lamandau di Provinsi Kalimantan Tengah maka kiranya perlu sempatkan waktu menengok tempat penangkaran rusa sambar yang berada di tengah kota, tepatnya di belakang Kantor Bupati Lamandau. Di sini setidaknya ada 30 ekor rusa di lokasi penangkaran yang dikelola oleh Pemerintah setempat melalui Dinas Pertanian dan Perikanan dengan berkordinasi dengan pihak BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam). Ada petugas khusus di penangkaran yang selain merawat rusa untuk menyiapkan makanan maupun membersihkan tempat penangkaran juga dapat membantu memberikan informasi.

Rusa sambar atau dalam bahasa ilmiah (latin) disebut Cervus unicolor merupakan rusa terbesar di Indonesia. Ciri khas rusa sambar adalah tubuh yang besar dengan warna bulu kecoklatan dan cenderung berwarna coklat ke abu-abuan atau ke merah-merahan, warna gelap sepanjang bagian atas tubuhnya. Rusa ini dapat tumbuh setinggi 102-160 cm dengan panjang tubuh sekira 150 cm. Berat maksimalnya hingga 549 kg pada usia 25 tahun. Berat rusa dewasa sekira 80-90 kg (betina) dan 90-125 kg (jantan). Rusa sambar menjadi rusa paling besar diantara empat jenis rusa yang hidup di Indonesia, yaitu: rusa bawean (Axis kuhlii), rusa timor (Cervus timorensis), rusa sambar (Cervus unicolor), dan kijang (Muntiacus muntjak).

Tanduk rusa sambar tergolong panjang bisa mencapai hingga tinggi 1 meter. Tanduk rusa hanya dimiliki oleh rusa jantan yang tumbuh pada umur sekitar 14 bulan. Tanduk pertama hanya berbentuk lurus dan baru bercabang pada masa pertumbuhan tanduk berikutnya. Tanduk akan lepas pada umur 10-12 bulan setelah tumbuh, selanjutnya akan tumbuh kembali.

Rusa sambar merupakan binatang diurnal yang beraktivitas siang hari. Mereka hidup berkelompok dan mendiami daerah hutan tropis maupun subtropis hingga ketinggian mencapai 2000 m dpl. Rusa sambar umumnya berhabitat di hutan dan bergantung pada tanaman semak atau rerumputan. Hewan mamalia ini makanan utamanya rumput, daun, dan buah-buahan pokok hutan. Umumnya rusa sambar tidak memiliki musim kawin yang spesifik, biasanya berkisar antara bulan Juli sampai September. Rusa betina akan bunting selama 7-8 bulan. Anak akan bersembunyi selama 1-2 minggu, kemudian bergabung dengan kelompok.

Rusa sambar sendiri terdiri sedikitnya 13 subspesies dimana subspesies rusa sambar yang asli berasal dari Indonesia dan menjadi rusa terbesar di Indonesia adalah Cervus unicolor. Supspesies ini selain terdapat di Indonesia (Sumatera dan Kalimantan) terdapat juga memiliki daerah penyebaran yang sangat luas di Asia,  meliputi yaitu: Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, China, India, Indonesia (Sumatera), Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. 

Di Indonesia, rusa sambar, sebagaimana 3 jenis rusa lainnya yang dimiliki Indonesia termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999. Status konservasi rusa sambar oleh IUCN Redlist dikategorikan dalam “Vulnerable” (VU; Resiko Rendah) sejak tahun 1996 meskipun sebelumnya pernah mendapatkan status “Endangered” (EN; Terancam Punah) dikarenakan hewan ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Tak hanya daging dan tanduknya, kulit rusa juga bernilai tinggi dan dimanfaatkan untuk industri penyamakan. Tingkat permintaan masyarakat cukup tinggi dari hasil perburuan liar rusa sambar.

Babukung Mask Festival

Babukung Traditional Mask Festival was held October 11-13, 2019 at in Nanga Bulik, the capital city of Lamandau District, Central Kalimantan. Babukung Mask Festival has been going four years now, and draws a crowd of 6,000 over the three days of the festival. Hundreds of bukungs wearing various shapes and colorful luha will be in parade during this cultural festival.

Bukung is someone who is wearing a mask, called luha in Dayak Tomun language, worn during Tiwah Ceremony. The ritual is a symbol of joy and togetherness where bukung dancers will dance to distinctive beats and sounds made using bamboo sticks as a means of comforting the grieving family. 

Luha is the pride of the Dayak Tomun people.  It is used to cure a grieving heart. Local storyteller told about a village chief’s family that was in deep grief at the loss of a son. In an effort to help, the villagers made masks resembling a ghost and an animal. They then lined up at the funeral ceremony wearing this Luha Mask and acting out funny animal behaviour. The grieving family started to laugh. The laughing brought the family out of their grief enough to ‘let go’ of their son, which meant he could go to his final resting place. Dayak Tomun people call this the Babukung dance and it serves another purpose, a greater moral of the story. With masks on, members carry donations for the family such us rice, pig, chicken and tuak (rice wine). The idea is so the grieving family will not notice who’s actually giving the donation.”

These masks are linked with Dayak animist beliefs and some masks hold magical powers. Some are an embodiment of the ancestral spirits, some enable communication with ancestors, and some ward off evil spirits from a home, a person or crops. Ceremonial masks have specific functions, such as capturing souls at funerals. In the old days, masks also were used to intimidate enemies.

The Luha Mask is an integral part of the Dayak Tomun funeral ceremony. The mask itself is carved by master craftsmen from pulai, a tropical timber. Only natural dyes obtained from materials found in the forest are used to decorate the mask. The red colour is from the kesumba fruit, and the black is from charcoal. The pure white colour is from chalk. There are 15 different categories of mask used: bird, dragon, crocodile, bat, hornbill, peacock, dog, devil, butterfly and the white face mask called sadap, which represents a Dutchman with a long nose.

Menikmati Ragam Topeng di Festival Babukung 2019

Warga Lamandau memiliki tradisi menghibur keluarga yang berduka dengan tarian topeng dan memberikan sejumlah bantuan. Bagi mereka menolong orang yang memerlukan adalah suatu hal yang tidak perlu dipamerkan, itulah wujud keikhlasan semata. Karena mengenakan topeng maka keluarga yang menerima bantuan pun tidak akan mengetahui siapa sosok orang yang memberikan pertolongan sehingga tidak perlu merasa berhutang budi.

Tradisi ini bukan hanya menarik untuk disaksikan tetapi juga sarat pesan moral. Festival Babukung dapat Anda saksikan di Alun-Alun Nanga Bulik dan Bundaran Rusa, di Nanga Bulik, ibu kota Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah. Acaranya digelar pada 11 – 13 Oktober 2019. Festival ini sudah dihelat sejak 2014 namun sebagai sebuah tradisi jelas jauh lebih lama lagi.

Awalnya tradisi babukung merupakan ritual adat dari suku Dayak Tomun. Penarinya yang disebut bukung mengenakan topeng karakter hewan tertentu yang disebut luha. Topeng (luha) sendiri diukir pengrajin ahli dari kayu tropis (pulai) kemudian dihiasi pewarna alami dari hutan, yaitu merah dari buah kesumba, hitam dari arang, dan putih murni dari kapur.

Topeng suku Dayak Tomun berkaitan dengan kepercayaan animisme yang diyakini memiliki kekuatan magis dan perwujudan roh leluhur. Bahkan, topeng tersebut awalnya dijadikan sarana untuk berkomunikasi dengan leluhur, menangkal roh jahat atau sihir, serta memiliki fungsi khusus menangkap jiwa di pemakaman. Di masa lalu, topeng suku Dayak Tomun juga digunakan untuk mengintimidasi musuh. 

Kini berbeda, ritual babukung bertransformasi menjadi simbol kebahagiaan dan kebersamaan dimana para bukung akan menari dengan irama dan suara khas yang dibuat menggunakan tongkat bambu sebagai sarana untuk menghibur keluarga yang berduka. Para bukung akan datang dari desa tentangga untuk menghibur warga yang berduka karena kematian anggota keluarga. Selain menari diiringi tetabuhan musik tradisional, mereka juga menyerahkan sejumlah bantuan. Penggunaan topeng saat memberikan hadiah kedukaan dilakukan agar keluarga yang menerima tidak mengetahui siapa orang memberikan bantuan sehingga tidak perlu merasa berhutang budi.

Pemerintah Kabupaten Lamandau mengharapkan daya tarik kegiatan babukung menjadi event unggulan pariwisata Kabupaten Lamandau. Bahkan, sekarang kegiatan ini telah masuk dalam 100 Calendar of Event Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Pada Festival Babukung tahun 2015 kegiatannya menampilkan lebih dari 1000 bukung dan berhasil memecahkan rekor penampilan tari topeng tradisional terbanyak dan tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI).

Festival Topeng Babukung sendiri digelar bergiliran dari delapan kabupaten di Lamandau dengan diundi. Tergantung keberuntungan, setiap komunitas diberi topeng khusus. Mereka kemudian bekerja mengukir topeng, membuat kostum dan berlatih menari untuk tampil di festival. Ratusan bukung berbagai bentuk dan warna-warni akan diarak saat festival budaya ini. Ada 15 kategori topeng yang digunakan, yaitu: burung, naga, buaya, kelelawar, burung enggang, merak, anjing, setan, kupu-kupu, dan topeng putih yang disebut sadap sebagai representasi orang Belanda dengan hidung panjang.

Selama tiga hari festival Anda akan melihat beraneka tarian tradisional suku Dayak yang memukau. Selain itu, di Festival Babukung 2019 juga akan dilaksanakan beberapa ritual adat khas Dayak Tomun, yaitu ritual adat penyambutan tamu, ritual adat pembuka dan penutup acara Babukung, serta ritual adat pemberian gelar kehormatan bagi tokoh daerah.

Festival Babukung tahun 2019 juga menjadi wahana untuk memperkenalkan kerajinan yang berorientasi pada kreativitas masyarakat. Dalam hal ini peran pemerintah memberikan bimbingan dan akses permodalan bagi pelaku ekonomi kreatif akan dilakukan, mengingat Kabupaten Lamandau begitu kaya dengan nilai-nilai seni dan budaya. Diharapkan Festival Babukung 2019 dapat memajukan sektor pariwisata, mengangkat ekonomi kreatif, menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya, menghargai keragaman yg ada di tengah masyarakat dan memperkenalkan keindahan alam Kabupaten Lamandau.

Pembukaan Festival Babukung 2019 sendiri pada Jumat 11 Oktober 2019 menghadirkan Karnaval Topeng yang meriah diikuti 1.350 meliputi 27 kelompok perwakilan dari 8 kecamatan se-Kabupaten Lamandau, 5 kabupaten dan kota, 6 kerukunan suku di Lamandau, serta 8 organisasi. Lima kabupaten yang ikut berpartisipasi adalah Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, dan juga Kota Palangka Raya yang mengutus dua tim dalam kegiatan tersebut.

Sebelum pelepasan karnaval topeng dilepas oleh Bupati Lamandau, Hendra Lesmana terlebih dahulu dilaksanakan acara adat Nota Garung Pantan, dan ritual adat Maumpan Bukung. Ritual Nota Garung Pantan bertujuan untuk membuang, menghalau, melepaskan segala bentuk rintangan yang dapat menghambat setiap recana kegiatan. Sementara ritual Maumpan Bukung dilaksanakan sebelum penari Bukung pertama muncul. Maumpan adalah ritual memberi makan yang mengandung makna spiritual menurut kepercayaan Kaharingan untuk menghormati roh yang ada dalam setiap penari topeng. Ada delapan karakter bukung yang akan ditampilkan, yaitu: bukung naga, bukung tingang, bukung pangua, bukung bamba, bukung kompadi, bukung lalawar, dan bukung hundang.

Selama 3 hari perhelatannya, Festival Babukung 2019 menawarkan beraneka rangkaian acara yang menarik. Pada hari pertama, pengunjung akan disuguhi acara pembuka karnaval topeng melintas pusat kota Nanga Bulik, dengan target peserta sebanyak 32 tim dan setiap tim beranggotakan minimal 50 orang pejalan kaki. Pada malam hari di area Bundaran Rusa Nanga Bulik akan digelar pameran produk UMKM serta pentas musik etnik yang menghadirkan musisi-musisi berbakat baik dari Kabupaten Lamandau maupun dari kabupaten tetangga.

Pada hari kedua, ada pengenalan unsur seni babukung melalui lomba mewarnai topeng tingkat anak-anak TK atau Anda dapat belajar bagaimana berlatih gerakan tarian babukung orisinil pada workshop tari yang diselenggarakan terpusat di Bundaran Rusa pula. Pada malam harinya, 10 sanggar tari dari kecamatan se-kabupaten Lamandau dan kabupaten tetangga akan meramaikan panggung dengan pagelaran tari topeng, dilengkapi penampilan istimewa band Bellacoustic Indonesia asal Palangkaraya. Bagi pecinta olahraga pemacu adrenaline, di Desa Wisata Lopus diselenggarakanrekreasi bertajuk Babukung Adventure Trail yang dimotori oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lamandau.

Pada hari ketiga, berbagai suguhan workshop dan ritual adat tetap akan menjadi kegiatan menarik untuk diikuti. Ada penampilan bintang tamu musisi V1mast yang baru saja menjalani tur musik ke Austarlia dan Eropa memperkenalkan kekayaan musik Indonesia, serta dirangkai penampilan biduan Iva Lola pelantun lagu dangdut hits “Tak Mau Pulang Maunya Digoyang“.

Penyelenggaraan Festival Babukung diharapkan dapat membawa peningkatan terhadap aspek ekonomi bagi masyarakat. Terutama dengan meningkatkan tingkat hunian di penginapan serta sarana untuk lebih dikenalnya kuliner khas Lamandau. Terlebih kegiatan Festival Babukung 2019, bertepatan dengan Wonderful Sail To Indonesia dimana wisatawan yang sudah masuk ke Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, juga banyak yang datang ke Lamandau untuk menyaksikan festival tersebut.