Home Blog Page 5

Sensasi Naik Ular Besi dari Jakarta ke Bandung Wisata Sejarah Jalur Kereta Api Batavia-Parahyangan

Pertengahan abad 19, Bandung masih berupa desa terpencil di pedalaman Parahyangan namun sangat berharga karena menjadi penghasil kina dan teh. Jalur Batavia-Parahyangan tidaklah mudah karena sangat berkelok dan begitu sulit ditempuh apalagi dengan jalur kereta api. Akan tetapi, Pemerintah Hindia Belanda terlanjur jatuh hati pada kota ini sehingga kemudian membangun jalur kereta api Batavia-Parahyangan pada 16 Mei 1884. Berikutnya, dari sekadar kota persinggahan Bandung kemudian jadi kota tujuan wisata bahkan tempat tinggal.

Rute kereta Jakarta-Bandung merupakan jalur indah yang dengan segudang cerita dan sejarah. Rute lintasan Jakarta-Bandung sepanjang 151 km dibangun pada 10 April 1869 dan masih beroperasi hingga sekarang dengan masa tempuh 2 jam 45 menit. Saat itu kereta api memakai lokomotif uap C28 dengan kecepatan maksimal 90 kilometer per jam.

Dari kereta, Anda dapat merasakan udara sejuk nan nyaman sambil duduk di sebelah jendela dan mengamati lintasan kereta. Nikmatilah lanskap indah berbukit dan hijaunya pepohonan terutama saat kereta api ini memasuki wilayah Cikampek, Karawang, dan Bandung.  Ada hamparan sawah menguning atau nan hijau sangat menyejukan mata.

Selama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, Anda juga dapat menikmati pemandangan bangunan tua di Stasiun Transmisi Cikampek, Stasiun Lemah Abang, Stasiun Cikampek, dan Stasiun Karawang. Bangunan stasiun tersebut rata-rata dibangun akhir abad ke-19.

Zaman Hindia Belanda, lokasi Lemahabang, Karawang, dan Cikampek pernah menjadi lokasi perlindungan para pejuang kemerdekaan setelah sebelumnya direbut dari Hindia Belanda. Saat itu jalur ini digunakan sebagai jalur angkutan logistik pangan dan perang. Sekarang fungsinya beralih untuk angkutan batu bara ke sejumlah industri di Karawang, Bekasi, dan Cikampek.

“Pada masa itu jalur Batavia-Bandung menjadi favorit warga Belanda. Mevrouw, meneer, Noni, dan tuan  asal Belanda juga warga Eropa lainnya sangat menikmati suguhan pemandangan indah dan hawa sejuk yang dilewati kereta api lokomotif uap C28.”

Atraksi paling mengesankan adalah saat kereta melewati jembatan tua yang dibangun perusahaan kereta api masa Hindia Belanda yaitu Staatspoorweg Maatschappij (SS). Saat melintasi Purwakarta sampai Padalarang, Anda dapat memperhatikan 3 jembatan baja di Ciganea, Cisomang, dan Cikubang.

Jembatan Ciganea dan Cisomang memiliki panjang 223 meter setinggi 72 meter. Sementara jembatan Cikubang panjangnya 300 meter, ditunjang empat pilar baja seberat 122 ton, total berat bajanya adalah 394,5 ton. Anda pun akan melintasi Sungai Cikubang yang indah.

Semua jembatan tersebut dibangun tenaga ahli Belanda tahun 1869 dan tetap dipelihara hingga saat ini terutama pada bagian penghubung antara rangka baja utama.

Awalnya jembatan pendukung jalur kereta api yang dibangun pemerintah Hindia Belanda saat itu mencapai 400 unit. Semuanya dibangun di sepanjang jalur Jakarta-Bandung, lintas Cikampek dan Sukabumi. Akan tetapi yang paling menakjubkan untuk Anda lihat ada di tiga tempat yaitu di Ciganea, Cisomang, dan Cikubang.

Saat Anda melewati jalur kereta di jembatan tanpa pagar di atas jurang maka akan merasakan tubuh terasa melayang. Akan tetapi, Anda sebaiknya tidak membuka pintu jendela, apalagi pintu gerbong karena terpaan angin cukup kencang di ketinggian tersebut. Cukup amati dari jendela bagaimana sensasi jantung berdebar dan pemandangan jurang berpadu hamparan sawah dan sungai.

Pemerintah Hindia Belanda mengoperasikan kereta api Vlugge Vier dengan kecepatan maksimal 90 km/jam.  Kereta ekspres tersebut sungguh elit di zamannya. Kereta api Vlugge Vier adalah cikal bakal kereta api Parahyangan yang beroperasi sejak awal 1970-an kemudian dilanjutkan  KA Argo Gede. Setelah Tol Cipularang beroperasi, akhirnya perjalanan “Vlugge Vier” pun tersisihkan.

Satu lagi sensasi yang akan Anda rasakan dalam rute kereta api Bandung-Jakarta, lintas Cikampek dan Karawang, yaitu melewati Terowongan Sasaksaat. Terowongan ini berada di antara Purwakarta dan Padalarang serta merupakan lokasi yang banyak diperbincangkan karena menyimpan kisah mistis dan misteri masyarakat setempat.

Terowongan Sasaksaat memiliki panjang 950 meter menerobos Bukit Cidepong dengan dinding cukup tebal hingga konon sulit dihancurkan para pejuang kemerdekaan saat itu untuk menghentikan logistik tentara Hindia Belanda. Terowongan Sasaksaat dibangun dengan ketelitian sangat tinggi karena berada di tanah perbukitan. Saat dibangun tahun 1902 hingga 1904, terowongan ini telah menelan korban pekerja rodi yang cukup banyak dimana  jenazah mereka dikuburkan di sekitar terowongan tersebut. Karena itu pulalah penduduk Kampung Cipicung, Desa Sumurbandung, Kabupaten Bandung sering mengidentikannya dengan nuansa mistis dimana setiap tanggal 17 Agustus selalu diberi sesajen berupa seekor domba untuk menolak bala. Saat kereta melintasi desa ini maka Anda pun akan melihat banyak domba dan kambing berkeliaran di rerumputan.

Sesampainya Anda di Bandung maka jangan hentikan wisata sejarah kereta api ini. Lanjutkanlah dahulu ke ke kantor pusat PT KAI di Jalan Perintis Kemerdekaan, tidak jauh dari Jalan Braga. Anda dapat melihat gedung tua berarsitektur art deco dimana pintu dan jendelanya terbuat dari besi baja. Apabila berkenan mengapa tidak mengunjungi gudang suku cadang kereta di Jalan Cikudapateuh. Gudang ini masih aktif menyimpan beragam suku cadang kereta api dan terus diupayakan menjadi museum.

 

Jelajah Sungai Musi: Menyusuri Masa Lalu Palembang

Begitu rumitnya pembuktian sejarah Kerajaan Sriwijaya namun Sungai Musi tetap memperlihatkan kesederhanaannya yang mudah dicerna dari masa ke masa. Airnya mengalir dibesarkan sebagai Batang Hari Sembilan atau 9 sungai besar, yaitu Musi itu sendiri, Sungai Komering, Rawas, Leko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Ogan. Sungai ini seibarat pantai yang memanjang, tempat berlabuhnya kegiatan ekonomi juga penenang batin pengendur raga.

Peradaban manusia di sepanjang zaman tak pernah terpisahkan dari aliran sungai sebagai sumber air untuk kehidupan. Beberapa kekuasaan termahsur di dunia dibina di tepian sungai besar. Seibarat Sungai Nil di Mesir dengan sejarah peradabannya yang panjang, Sungai Musi pun merupakan salah satu pusat peradaban Asia di Pulau Sumatera dengan jejak besar Kerajaan Sriwijaya seperti tergurat dalam hikayat Tiongkok dan guratan bebagai prasasti.

Musi yang melintas di di Palembang dilekati dengan Jembatan Ampera yang legendaris. Sungai ini pun menyandang predikat sungai terpanjang di Pulau Sumatera, yaitu sekitar 750 kilometer. Jarak tersebut hampir sama antara jarak Kota Bandung di Jawa Barat dengan Kota Malang di Jawa Timur.

Berawal dari hulunya di Kepahiang, Bengkulu, Sungai Musi mengalir jauh melalui Sumatera Selatan dan membelah Palembang menjadi Seberang Ilir di sebelah utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sungai ini membentuk delta dan distributari di daerah Kota Sungsang.

Bagi Palembang, sungai ini adalah pantai yang memanjang, tempat berlabuhnya kegiatan perekonomian juga penenang ketegangan usai pekerjaan. Airnya yang bergelombang dapat mengembalikan kesegaran jiwa, dan ketegangan raga mengendur di depan keagungannya. Kegiatan rekreasi sudah biasa dipusatkan di tepiannya, mulai dari tempat duduk-duduk, hingga café-café dan restoran. Lebih menyenangkan lagi, ditepian sungai ini tersedia perahu jelajah yang menghadirkan pandangan orang lalu saat mengarungi Musi.

Berikut ini beberapa perahu dengan paket perjalanan menjelajahi Sungai Musi.

  • KM Putri Kembang Dadar dengan rute: Benteng Kuto Besak – Ki Marogan – Musi Dua – Pulau Kamaro – Sungai Lais – Bagus Kuning.
  • KM Sigentar Alam dengan rute Benteng Kuto Besak – Ki  Marogan – Musi Dua – Pulau Kamaro – Lawang Kidul
  • Bis Air Belido, Perahu Naga, dan Sapta Pesona dengan rute: Benteng Kuto Besak – Kampung Kapitan – Ki Marogan – Lawang Kidul – Pulau Kamaro – Bagus Kuning
  • Benteng Kuto Besak – Kampung Kapiten – Ki Marogan – 10 Ulu – Pulau Kamaro
  • Ketek melayani rute: Benteng Kuto Besak – Kampung Kapiten – Ki Marogan – 10 Ulu – Pulau Kamaro
  • Speedboat melayani rute: Benteng Kuto Besak – Jaka Baring – Musi Dua – Sungai Lais

 

Suku Bajo: Kisah Manusia Perahu Di Negeri Bahari

Suku Bajo yang mendapat sebutan sea nomads atau manusia perahu karena sejak zaman dahulu mereka adalah petualang laut sejati yang hidup sepenuhnya di atas perahu sederhana. Mereka berlayar berpindah-pindah dari wilayah perairan yang satu dan lainnya. Perahu adalah rumah sekaligus sarana mereka mencari ikan di luas lautan yang ibaratnya adalah ladang bagi mereka. Ikan-ikan yang mereka tangkap akan dijual kepada penduduk di sekitar pesisir pantai atau pulau. Inilah asal mula mereka disebut sebagai manusia perahu atau sea nomads. Kini mereka banyak bermukim di pulau-pulau sekitar Pulau Sulawesi, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Persebaran suku Bajo di beberapa daerah di Nusantara tentunya terjadi karena cara hidup mereka yang berpindah-pindah dan berlayar dengan perahu.

Pancang-pancang terbuat dari kayu menjadi semacam pondasi yang memisahkan dan menjaga rumah-rumah mereka dari terjangan air laut saat pasang. Beratapkan rumbia, berdinding kayu dengan luas yang tidak seberapa, rumah-rumah tersebut biasanya dihuni satu keluarga bahkan lebih. Nampak pula perahu-perahu kayu sederhana terparkir di sekitaran pelataran rumah yang halamannya adalah air laut.

Di berbagai tempat di negeri ini saya temui mereka. Di Wakatobi, Togean, Gorontalo Bunaken, Derawan, Madura, hingga ke Pulau Komodo dan Riung 17 di Flores. Mereka adalah suku yang tinggal di berbagai pulau kecil dengan deretan rumah apung di atas permukaan laut dangkal sekitar kepulauan tersebut. Meski kini sudah banyak diantara mereka hidup menetap di rumah-rumah sederhana tetapi tetap tidak terpisahkan dari laut. Kemungkinan besar karena alasan inilah mereka membangun rumah di tepian pantai atau di atas permukaan laut yang dangkal.

Mata pencaharian utama suku Bajo adalah mencari ikan dengan cara tradisional, seperti memancing, memanah, dan menjaring ikan. Ikan-ikan tersebut dijual kepada penduduk sekitar pesisir atau pulau terdekat. Kehidupan Suku Bajo memang masih terbilang sederhana. Mendirikan pemukiman tetap pun mungkin tak terpikir oleh mereka apabila tidak dihimbau oleh Pemerintah setempat. Dengan membangun rumah dan pemukiman di sekitar pulau, akses terhadap pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak suku ini diharapkan lebih terjamin.

Meskipun begitu, kepala keluarga biasanya tetap menghabiskan sebagian besar waktunya di laut lepas, mengingat laut adalah ladang mata pencaharian mereka. Ibu rumah tangga suku Bajo selain mengurus rumah tangga juga membantu suami dengan cara mengolah hasil tangkapan ikan atau menenun. Saat melintasi perkampungan yang sederhana ini nampak hamparan ikan hasil tangkapan yang dijemur di sekitar rumah.

Beberapa suku Bajo bahkan sudah mengenal teknik budidaya produk laut tertentu, misalnya lobster, ikan kerapu, udang, dan lain sebagainya. Mereka menyebut tempat budidaya sebagai tambak terapung yang biasanya terletak tak jauh dari pemukiman. Sebagian kecil masyarakat suku Bajo bahkan sudah membuat rumah permanen dengan menggunakan semen dan berjendela kaca. Anak-anak Suku Bajo juga sudah banyak yang bersekolah, bahkan ada yang sampai perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran mereka tentang pentingnya pendidikan sudah mulai terbangun.

Selain hidup di sekitar Taman Nasional Kepulauan Togean, masyarakat suku Bajo tersebar di hampir setiap provinsi di Pulau Sulawesi. Di Sulawesi Selatan, pemukiman suku Bajo terpusat di Kelurahan Bajoe, Kabupaten Bone. Orang Bajodi wilayah ini tinggal di kawasan sepanjang pesisir teluk Bone sejak ratusan tahun silam.

Suku bajo tersebar di banyak tempat di Nusantara bahkan hingga ke negara tetangga termasuk Malaysia, Filipina dan Thailand. Satu kesamaan darinya adalah di tempat berbeda tersebut mereka menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa ibu suku Bajoe. Dari segi bahasa yang digunakan suku Bajo saat ini pun ada kesamaan dengan bahasa Tagalog, Filipina.

Di Sulawesi Tengah, masyarakat Suku Bajo menempati Pulau Siatu, Pulau Bomba, Pulau Kuling Kenari, Pulau Tumbu Lawa, dan lainnya. Di Gorontalo, Suku Bajo bermukim di sepanjang pesisir Teluk Tomini, yaitu di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato dan di Tanjung Bajoe, Kabupaten Bualemo.

Inilah salah satu suku di negeri ini yang menjadi favorit saya. Mereka memiliki ketangguhan dan kedekatan dengan alam yang luar biasa. Dengan sejarah yang panjang sebagai pengarung lautan, anak-anak mereka sedari kecil berteman dan bermain dengan laut, mereka hidup dan dihidupi lingkungan laut. Meresap dan melekat keseharian mereka tentang tradisi serta kearifan lokal mengelola ekosistem laut.

Di Sulawesi Tenggara, dapat Anda temui juga suku Bajo berdiam di pesisir Konawe dan Kolaka. Bahkan suku Bajo di Desa Bangko, Kecamatan Baginti, Pulau Muna, sudah ada sejak abad ke-16. Tersebar juga hunian suku Bajo di Pulau Kabaena, Pulau Wolio, Pulau Buton, Kepulauan Wakatobi (Kaledupa, Binongko, Kapotta dan Tomea).

Suku Bajo juga menetap di Nusa Tenggara Timur, dari Kabupaten Manggarai Barat hingga Flores Timur. Salah satu nama kota sebagai tempat singgah ke Taman Nasional Komodo bernama Labuhan Bajodan itu diambil dari nama suku Bajoe.

Orang Bajo juga banyak dijumpai di kawasan sekitar Pulau Komodo dan Rinca. Pemukiman suku Bajo bahkan sampai di Lembata yakni di wilayah Balauring, Wairiang, Waijarang, Lalaba dan Lewoleba. Jauh ke arah timur hingga Timor Barat mereka ada yang menetap di Pulau Adonara (Meko, Sagu dan Waiwerang), Pulau Solor, Alor, dan Timor. Mereka bermukim disana sejak ratusan tahun silam dan hidup rukun dengan penduduk setempat.

Di kawasan Nusa Tenggara Barat, suku Bajo membangun pemukiman di Pulau Medang. Suku Bajo juga bermukim di Pulau Lombok, menghuni sebuah kampung di Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur. Sedangkan di Pulau Sumbawa, mereka dapat dijumpai di Pulau Moyo dan sekitarnya serta kawasan Bima di timur Sumbawa.

Di Pulau Madura, Jawa Timur, tepatnya di Kepulauan Kangean, Sumenep berdiam juga suku Bajoe. Ada pula di Pulau Sapeken, Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, Paliat, dan pulau-pulau sekitarnya. Mereka tinggal bersama dengan suku Madura dan Bugis.

Sekarang, seiiring meningkatnya jumlah suku Bajo yang mendirikan rumah di tepian pantai dan mulai menetap, dikabarkan bahwa jumlah suku Bajo yang menggantungkan hidupnya di perahu-perahu kayu sudah mulai berkurang. Meski demikian, mereka tetap tidak terpisahkan dari laut. Keberadaan mereka telah mengundang banyak kalangan untuk mengenal lebih jauh asal usul, pola hidup, adat, seni, dan budaya tradisional suku penghuni lautan di negeri bahari ini.

Ngada: Bersentuhan dengan Tradisi Leluhur dari Zaman Batu

Jauh di tepian timur Pulau Flores, di sebelah barat Maumere, Kabupaten Sikka, tersebutlah Kabupaten Ngada dengan desa-desa tradisionalnya yang memukau. Anda perlu merasakan sentuhan langsung budaya warisan zaman batu Austronesia dengan segala keunikannya yang jarang terungkap dalam buku atau televisi. Kunjungan ke desa tradisonal ini akan menjadi pelengkap sempurna petualangan Anda di NTT, bisa juga dari atau ke Taman Nasional Komodo yang terkenal itu.

Mengunjungi Ngada bukanlah hal yang sulit karena jalan di Flores tak begitu rumit seperti di Pulau Jawa atau Sumatera. Ngada bersebelahan dengan Sikka dan Ende sehingga tak sulit mencapainya. Para petualang sering melalui jalan-jalan ke Bajawa. Angkot dan ojek selalu menjadi pilihan populer bagi para petualang. Alternatif lain Anda dapat menyewa kendaraan di Maumere atau di Labuan Bajo.

Ngada telah memperlihatkan toleransi terhadap pengaruh luar. Sentuhan modernisasi sudah menjadi hal biasa di ibukotanya yaitu Bajawa. Infrastruktur, fasilitas umum, dan beragam bangunan tidaklah jauh berbeda dengan kota lain di Flores yang sedang berkembang menuju abad ke-22. Akan tetapi, hanya belasan kilometer dari Bajawa, sebuah desa seolah tak pernah melalui abad 20, bahkan abad 19, desa tersebut masih terus mempertahankan kesederhanaannya dengan tradisi kuno yang dihidupkan dengan kuat.

Jadikan hari Anda di Desa Bena atau Desa Lupa sebagai hari yang menyenangkan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Cobalah memakan sirih yang merupakan kegiatan mengasyikan para ibu di sana. Lihat bagaimana mereka melalui hidup dalam kesehariannya. Hargai kepercayaan dan tradisi mereka maka suatu waktu Anda sendiri akan bersyukur betapa hidup ini begitu berharga dan bermakna.

Di Desa Bena atau Desa Lupa akan Anda dapati batu-batu seperti taring babi hutan atau raksasa menengadah ke langit bersandar rapi di tepi altar yang juga terbuat dari batu. Konon persembahan bagi para dewa dulunya dilakukan di atasnya. Penataan lahan dan lanskap arsitektur yang penuh bebatuan tersebut menandakan budaya zaman megalitik masih tersisa dan bertahan di sini. Masih dalam kawasan yang sama, rumah panggung beratap rumbia berjajar saling berhadapan membawa Anda pada nuansa masyarakat tradisional sesungguhnya.

Desa Bena lokasinya tak jauh dari Bajawa sekitar 12 kilometer saja tetapi dalam perhitungan waktu, desa ini memiliki kehidupan seolah di abad ke-17 atau 18. Perjalanan ke Desa Bena tak begitu mudah karena kondisi jalan yang belum laik (baca: pantas; layak), sehingga waktu yang diperlukan dapat mencapai 1 jam. Namun demikian, sebaiknya tetap diingat bahwa kecepatan bukanlah hal terpenting dalam berpetualang. Apa yang akan Anda dapatkan, lihat, rasakan, dan dengar adalah hal penting sehingga kecepatan rata-rata 12 km/jam tentulah bukan masalah.

Anggota masyarakat di Desa Bena merupakan anggota klan tertentu yang diwakili oleh setiap rumah yang berdiri di dalamnya. Rumah di Bena dibagi dalam tiga area, yakni area tamu, area tidur, dan area bekerja. Sementara para pria bekerja di ladang maka para ibu bekerja di serambi sambil menenun kain ikat dengan warna-warni sungguh menawan. Anda dapat melihat cara pembuatan tradisionalnya atau mengapa tidak membelinya langsung.

Di dalam sistem kemasyarakatan Bena dan umumnya di desa-desa tradisional di Ngada, sistem matrilineal adalah tatanan yang dipertahankan hingga kini. Garis keturunan dari ibu memegang peranan penting terutama perihal waris dan gelar. Akan tetapi, nyatanya kepemimpinan tidak menjadi harus matriarki karena masyarakat tradisional di Ngada lentur dengan kepemimpinan para pria.

Pusatkan perhatian Anda ke tengah pelataran di Bena untuk melihat lambang-lambang kepercayaan kuno. Termasuk juga tumpukan batu yang merupakan kuburan para leluhur, seolah dibuatkan rumah oleh para penduduk desanya. Tempat yang dianggap keramat oleh masyarakatnya ini selalunya dalam keadaan rapih dan bersih. Patutlah Anda kiranya turut menghormati dan bertoleransi.

Walau masih memegang kepercayaan kepada para leluhur, masyarakat Bena sudah banyak yang memeluk Katolik. Nampak poster dan tanda-tanda di atas batu bernuansakan Katolik. Menariknya, mereka pun percaya bahwa ada dewa pria atau dewa langit, serta dewa wanita atau dewa bumi. Keduanya berjalan seiring dalam kehidupan masyarakat ini. Hal tersebut tercermin dari aktifnya kegiatan gereja dan juga tumpukan tulang rahang babi dan juga tanduk-tanduk kerbau yang disusun di depan rumah para penduduk desa yang dianggap lebih makmur dan berpengaruh. Itu juga sebagai simbol penting dalam kemasyarakatan.

Bila ingin melihat desa lain maka Anda bisa mencoba mengunjungi Desa Lupa yang sering didatangi wisatawan asing. Karena berkendaraan terkadang dianggap sebagai hal yang membosankan maka banyak wisatawan yang memilih pulang dari Bena dengan cara berjalan kaki sehingga dapat mampir di desa-desa lainnya yang memiliki fitur dan karakter hampir serupa.

Burung Cendrawasih: Kecantikan Burung dari Surga

Warna bulu cenderawasih yang mencolok biasanya merupakan kombinasi beberapa warna yang lain seperti hitam, cokelat, oranye, kuning, putih, biru, merah, hijau, dan ungu. Burung ini semakin molek dengan keberadaan bulu memanjang dan unik yang tumbuh dari paruh, sayap, atau kepalanya.

Cukup beralasan apabila burung cenderawasih disebut-sebut sebagai bird of paradise. Bagaimana tidak, burung yang menjadi maskot Papua ini memang memiliki keindahan dengan warna bulu yang indah. Karena kemolekan warnanya,burung cenderawasih disebut sebagai burung dari surga atau bird of paradise. Bahkan, kabarnya karena keindahannya itu juga burung ini jarang turun ke tanah atau seringnya terbang di udara dan hinggap di dahan pohon.

Burung cendrawasih yang berbulu indah ini biasanya adalah pejantan. Bulu indah tersebut menjadi modal cenderawasih jantan untukmenarik perhatian betina pada musim kawin. Selain memamerkan keindahan bulu mereka, cenderawasih jantan bahkan melakukan gerakan-gerakan atraktif serupa tarian yang dinamis dan indah untuk merebut perhatian betina. Tiap jenis cenderawasih memiliki jenis tarian dan atraksi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Cenderawasih betina cenderung berukuran lebih kecil dengan warna bulu yang tidak seindah dan sesemarak warna cenderawasih jantan.

Warna yang dimiliki burung surga ini bermacam-macam dan menjadi salah satu indikator pengelompokan jenis mereka. Burung cendrawasih dikelompokkan dalam  famili Paradisaeidae; terdiri dari 13 genus dan sekira 43 spesies (jenis). Habitat aslinya di hutan-hutan lebat yang umumnya terletak di daerah dataran rendah dan hanya dapat ditemukan di Indonesia bagian timur terutama pulau-pulau selat Torres, Papua Nugini, dan Australia timur. 

Kabarnya, Indonesia adalah negara dengan jumlah spesies cendrawasih terbanyak. Diduga terdapat sekira 30 jenis cendrawasih di Indonesia, 28 jenis diantaranya dapat ditemukan di Papua. Burung cenderawasih mati kawat (Seleucidis melanoleuca) adalah jenis yang menjadi maskot atau identitas Provinsi Papua.Selain menjadi maskot Papua, masyarakat di Papua juga sering menggunakan bulu cenderawasih sebagai pelengkap atau hiasan dalam pakaian adat mereka.

Sebab keindahan bulunya, keberadaan burung cenderawasih ini kian lama kian terancam. Perburuan dan penangkapan liar untuk tujuan perdagangan serta kerusakan habitat hidup di alam bebas menjadi beberapa penyebab utama kian langkanya burung ini. Bahkan di akhir abad 19 dan awal abad 20, bulu cenderawasih marak diperdagangkan karena menjadi trend penghias topi wanita di Eropa.

Akan tetapi, kini burung cantik yang eksotis ini dikategorikan sebagai jenis satwa yang dilindungi. Di Indonesia sendiri, beberapa jenis cenderawasih diantaranya cendrawasih kuning kecil, cendrawasih botak, cendrawasih raja, cendrawasih merah, dan toowa telah masuk daftar jenis satwa yang dilindungi berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 dan PP No 7 Tahun 1999. Pemanfaatan bulu burung cenderawasih masih diperbolehkan hanya untuk kepentingan masyarakat lokal dalam menghiasi pakaian adat mereka. Itu pun tentu tidak secara berlebihan dan untungnya masyarakat Papua memiliki kearifan lokal dan adat untuk turut menjaga kelestarian burung ini. 

Berikut adalah beberapa jenis dan karakteristik burung cenderawasih.

Lesser bird of paradise (Paradisaea minor)

Diantara sekian banyak jenis cenderawasih, mungkin burung ini yang paling dikenal kebanyakan orang. Burung ini memiliki warna merah kecoklatan dengan mahkota kuning dan punggung atas kuning kecoklatan. Burung jantan jenis ini memiliki tenggorokan berwarna hijau  zamrud tua, sepasang ekor yang panjang dan dihiasi dengan bulu hiasan sayap yang berwarna kuning dan putih. Habitat asli burung ini terdapat hampir di seluruh hutan bagian utara Papua Nugini dan juga pulau-pulau sekitar, seperti Pulau Misool dan Yapen.

Cenderawasih Merah atau Red bird of paradise (Paradisaea rubra)

Dinamakan cendrawasih merah sebab burung ini memiliki warna bulu dominan merah darah. Kombinasi warna lain tampak pada bagian muka; bulu muka warna gelap, memiliki semacam mahkota atau jambul berwarna hijau zamrud, paruh dan sedikit di bawah leher berwarna kuning terang. Pada bagian ekornya terdapat dua buah bulu memanjang serupa tali atau pita berbentuk pilin ganda berwarna hitam. Cenderawasih merah hanya terdapat di hutan dataran rendah, diantaranya di Pulau Waigeo dan Batanta, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. 

Di Desa Sawinggrai yang terletak di Distrik Meos Mansar, cenderawasih merah merupakan ikon khas desa kecil ini. Di desa tersebut, Anda dapat menyaksikan langsung burung jenis ini di habitat asli melakukan atraksi menari pada jam-jam tertentu, yaitu pada pagi dan petang hari di musim kawin. 

Lawes’s Parotia (Parotia Lawesii)

Sekilas postur burung jantan jenis ini mirip dengan perkutut, hanya saja ia berwarna hitam dengan kening putih dan mata berwarna biru gelap. Tengkuknya berwarna biru; sedikit di bagian dada atas (mulai dari bawah paruh) berwarna perpaduan hijau dan emas. Ciri khas yang mencolok dari jantan burung jenis ini adalah adanya tiga bulu memanjang yang tumbuh dari ujung tiap matanya (masing-masing 3 helai). Sementaraitu, burung betinanya berwarna coklat dan mata berwarna kuning gelap.

King of Saxony bird of paradise (Pteridophora alberti)

King of Saxony bird of paradise adalah jenis burung pengicau yangterbilang kecil sebab memiliki panjang sekira 22 cm.  Burung jantan berwarna hitam dan kuning tua. Bulu mantel dan punggungnya tumbuh memanjang berbentuk serupa tudung berwarna hitam. Pada bagian mulai dari dada hingga ke perut berwarna putih kekuningan. Iris matanya berwarna coklat tua dan paruhnya berwarna hitam dengan bagian dalam mulut berwarna hijau laut. Yang membuatnya atraktif dan eksotis adalah adanya dua helai bulu kawat bersisik yang berwarna biru langit mengilap yang tumbuh mulai dari wajahnya. Panjangnya dapat mencapai 40 cm, seolah tak seimbang dengan tubuhnya yang kecil. 

Sementara burung betinanya berwarna abu-abu kecoklatan dengan garis-garis dan bintik gelap. Burung betina tidak “mengenakan” mantel dan tidak memiliki bulu kawat yang memanjang. Burung betina berukuran lebih kecil ketimbangburung jantan.

Wilson’s bird of paradise (Cicinnurus respublica)

Jantan Wilson’s Bird of Paradise yang berukuran kecil sekira 21 cm ini berwarna perpaduan merah darah dan hitam. Ia “mengenakan”  jubah kecil berwarna kuning terang di bagian tengkuk. Pada bagian kepala, ia seolah memakai penutup kepala berwarna biru langit, sedikit lebih terang dibandingkan warna kakinya yang juga biru. Selain perpaduan warna yang menarik, keunikan burung ini adalah memiliki dua bulu ekor yang berwarna ungu dan bentuknya melengkung serupa sulur. Sedangkan pada burung betina memiliki warna kecoklatan dan bermahkota biru.

Selain burung cenderawasih di atas, masih banyak jenis lain dengan warna dan variasi bulunya bermacam-macam dan tak kalah cantik. Semoga burung dari surga ini tidak akan menjadi semacam dongeng untukgenerasi penerus karena tindakan tidak bertanggung jawab manusia yang mengancam kelestariannya. 

Travel Storytelling Efektif Promosikan Destinasi Wisata Budaya

Travel Storytelling bisa menjadi alat untuk mempromosikan nilai-nilai budaya dalam sebuah objek wisata. Sebagai contoh penerapannya pada destinasi Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh Unesco pada 6 Juli 2019.

“Karena sudah ditetapkan menjadi warisan budaya dunia, seharusnya Sawahlunto punya nilai jual yang jauh lebih baik dibanding warisan budaya yang lain,” kata Alex.

Alex Reyaan (Direktur Wisata Alam Budaya dan Buatan, Kemenparekraf) mengungkapkan pihaknya telah berkomitmen untuk terus mempromosikan destinasi wisata Sawahlunto. “Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menjadikan Sawahlunto sebagai sebuah destinasi yang difavoritkan wisatawan dan akan diprioritaskan untuk dikembangkan ke depan khususnya dengan menggali potensi budayanya,” katanya.

Webinar ini dihadiri oleh dua narasumber yakni Kepala Bidang Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Rahmat Gino Sea Games yang menyampaikan materi berjudul “Sejarah Warisan Budaya Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto”.
Serta, penulis Astrid Savitri yang membahas mengenai “Travel Storytelling”.

Rahmat Gino memaparkan, nama Sawahlunto berasal dari dua kata, yaitu Sawah dan Lunto. “Jadi sawah ini dilintasi Sungai Lunto atau Batang Lunto, sehingga kota ini dinamai Sawahlunto,” ujar Rahmat.

Dalam perkembangannya, lanjut Rahmat, Sawahlunto memang dikenal sebagai kota pertambangan di masa penjajahan Hindia-Belanda. Sawahlunto memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara.

“Karena dikenal sebagai kota tambang, orang-orang yang tinggal di kota ini pun beraneka ragam latar belakangnya. Ada orang Eropa dan keturunan Indo-Eropa, ada orang Tionghoa, serta orang-orang pribumi seperti orang Minangkabau dan pekerja tambang yang disebut ‘Orang Rantai’,” jelasnya.

Hal ini tentu saja menjadikan adanya tradisi budaya yang beranekaragam di Sawahlunto. Sehingga, dalam Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-43 pada 6 Juli 2019 di Baku, Azerbaijan, Sawahlunto ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia, yaitu “Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto”.

Sementara itu, terkait Travel Storytelling, Astrid Savitri menuturkan ada banyak hal yang dapat diceritakan mengenai Sawahlunto. Menurut Astrid, penyajian nilai-nilai sejarah dan budaya lewat Travel Storytelling akan jauh lebih menarik bagi wisatawan dibanding penyampaian fakta-fakta sejarah saja.

“Dengan travel storytelling, kita bisa mengajak audiens untuk merasakan nuansa petualangan dari objek wisata tersebut melalui cerita. Dalam cerita itu, kita gabungkan kekuatan data, visualisasi, dan narasi, lalu tambahkan sentuhan empati dan emosi,” tutur Astrid.

Puri Saren Ubud Krisnakusuma: Denyut Nadi Seni dan Budaya Bali

Sedari awal pendiriannya, bangunan puri yang indah ini masih asli tidak banyak berubah hingga saat ini. Selain menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Ubud, puri ini juga menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan dan pusat kegiatan seni, budaya, dan upacara keagamaan.

Puri Saren Ubud berlokasi Jalan Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Lokasi puri ini berada di tengah kota, seberang Pasar Ubud. Apabila pasar tradisional menjadi simbol ekonomi penduduknya maka Puri Ubud merupakan pusat kehidupan adat, budaya dan seni warga Ubud. Pasar dan Istana yang saling berhadapan juga menggambarkan bagaimana dinamika masyarakat dan kehidupan Kerajaan Ubud sejak dahulu hingga saat ini. Di sekitar puri saat ini juga dihidupkan dengan aktivitas pariwisata dengan berjejer restaurant, café, bungalow, toko souvenir, money changer, sanggar seni, dan lainnya.

Ubud sendiri telah menjadi kota kerajaan selama lebih dari seratus tahun dengan pimpinan seorang raja bergelar “Tjokorda atau Agung”. Meskipun sistem feodal telah lama ditinggalkan namun peran Tjokorda masih sangat berarti bagi masyarakat Ubud. Begitupun kekuasaan formal bangsawan Ubud masih menghargai perintah semata-mata karena keturunan mereka. Keberadaan Puri Ubud telah menunjukkan jiwa serta identitas dari Desa Ubud secara keseluruhan. Itu karena Puri Ubud telah bertindak sebagai pelindung utama bagi keberhidupan seni, tarian, musik, dan juga sastra Bali. 

Bangunan Puri Ubud didirikan tahun 1800-1823 atas prakarsa Tjokorda Ida Putu Kandel.  Awalnya puri ini ditujukan untuk tempat tinggal raja dan keluarganya namun sekarang dibuka untuk umum dan menjadi tujuan wisata seni dan budaya. Saat Anda mengunjungi Puri Ubud akan diizinkan berkeliling hingga batas jabaatau bagian luar dari bangunan inti puri yang masih ditempati oleh kerabat istana. 

Bangunan Puri Saren Ubud terdiri dari beberapa paviliun elok yang kebanyakan menggunakan furniture Eropa untuk dekorasinya. Benda-benda dengan estetika tinggi menjadi penghias bangunan tradisional istana yang menawan dan artistik. Kesejukan udara Ubud juga menjadikan pura ini mampu memberikan ketenangan bagi siapapun yang mengunjunginya. Puri ini memiliki wantilan di sebelah kanan istana yang berfungsi sebagai ruang pertemuan terbuka bagi warga atau tempat latihan dan pertunjukan seni. 

Ubud sejak tahun 1930 memang telah dikenal sebagai tempat dimana aktivitas warganya lekat dengan seni dan budaya. Karena bernuasa seni dan budaya tidak mengherankan Ubud dipilih oleh beberapa seniman dunia menjadi rumah tinggalnya. Beberapa pelukis dunia seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, Arie Smith, Hans Snell, dan tentunya sang maestro lukis Antonio Blanco memilih ubud sebagai tempat peristirahatannya. Ketika para seniman dunia hadir ke Ubud, Puri Ubud telah menjadi tempat penjamuannya bahkan kegiatan seni para seniman tersebut.

Raja terkhir Puri Ubud, yaitu Tjokorda Gde Agung Sukawati merupakan peminat seni sehingga memberikan banyak ruang untuk berkembangnya seni dan budaya di tempat ini. Beberapa museum lukis bahkan masih di kelola oleh kerabat Puri Ubud. Pihak puri juga memberikan pengajaran musik dan tarian tradisional bagi masyarakat atau pengunjung yang biasanya dilaksanakan sore hari. 

Dengan keberadaan banyak seniman maka tumbuhlah Ubud sebagai kawasan berwawasan seni dan budaya amat kental dengan banyak sanggar dan galeri seni. Pun demikian, pertunjukan musik dan tari digelar setiap malam secara bergantian di banyak penjuru desa. Ubud yang membawahi 13 banjar dan 6 desa adat juga menjadi tempat penghasil kerajinan seni rupa yang elok dan telah banyak dijual ke mancanegara.

Untuk menuju Ubud dari Denpasar maka jaraknya sekira 20 km atau 45 menit. Ada banyak pilihan moda transportasi ke sana berupa taksi dari Bandara Ngurah Rai sekira 35 km, mobil sewaan, atau menggunakan bus dari Denpasar. Dari Kuta sempatkan mengarahkan tujuan ke Ubud dengan perjalanan selama 1,5 jam untuk mendapatkan pengalaman seni dan budaya Bali yang begitu memikat dan khas di Ubud. 

Bulukumba: Negeri Pembuat Kapal Pinisi

Melihat kapal layar pinisi yang megah sedang dibangun, berinteraksi dengan masyarakat tradisional, menikmati pantai berpasir putih, atau menjelajahi keindahan bawah lautnya adalah pengalaman luar bisa dapat Anda peroleh selama di Bulukumba, negeri para pembuat perahu layar Nusantara.

Kabupaten Bulukumba terletak di ujung paling selatan Semenanjung Sulawesi Selatan, atau sekitar 153 km dari selatan kota Makassar. Bulukumba dianugrahi alam yang indah dan menyimpan keajaiban menawan tersembunyi di pantai dan bawah lautnya. Bahkan berinteraksi dengan wajah-wajah baru masyarakat setempat yang berbudaya maritim adalah hal yang akan sangat berkesan bagi Anda nantinya. 

Kabupaten Bulukumba dikenal juga sebagai Butta Panrita Lopiatau “Bumi Pembuat Pinisi”. Masyarakat Bulukumba memang sejak dahulu memiliki keahlian sebagai pembuat ulung kapal pinisi yang merupakan kebanggaan orang Bugis. Hingga saat ini keterampilan mereka bahkan didengar dan dihargai oleh berbagai pihak dari mancanegara.

Menurutnaskah kuno“I La Galigo kapal layar pinisi  sudah sudah menjadi tradisi sejak abad ke-14. Kapal layar tradisional tersebut sebagian besar dibuat didaerah yang disebut TanahBeru, terletak sekitar 23km dari ibu kota Bulukumba, atau 176 kilometer dari Makassar.

Di sepanjangbibir pantai Tanah Beru, Anda akan melihat puluhan dermaga tempat di manakapal layar pinisi  dibuat oleh tangan-tangan handal bermodalkan ilmu kearifan lokal yang diwariskan. Tangan trampil orang Bugis dengan jiwa seni yang luar biasa membangun kapal layar pinisi sehingga menjadi lambang pelaut Indonesia. 

Kapal layar Pinisi  dikonstruksi menggunakan peralatan tradisional dengan teknik tradisional yang sudah di wariskan dari generasi ke generasi. Pembagunan kapal layar ini tidak hanya menggunakan kekuatan dan teknik semata. Penduduk setempat percaya, kekuatan supranatural juga berada dibalik pembaguan kapal megah tersebut.Di setiap tahappembuatan pinisi  memerlukan ritualdan upacara yang harus dipatuhi.

Kata”bulukumba” sendiri diyakini berasal darifraseBugis yaitu”bulu’kumupa”, yang diterjemahkan,“masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya”. Namatersebut muncul abad ke-17, ketika perangantarakerajaanGowadan Bone. Saat ituGunungLompobattangyang dikenal sebagai “Bengkeng Buki”diklaim olehKerajaanGowa. KerajaanBone membantah klaim tersebut dan mempertahankan daerah itu.Dari pertempuran keduanya tercetuslah kalimat dalam bahasa Bugis “bulu’kumupa!” atau “masihgunung saya”. Secara bertahap pengucapannya mengalami perubahan menjadi “Bulukumba“.

Bulukumbamenjadi rumahdari kelompoketnisyang disebutKajang. Selama berabad-abadmerekatinggal di daerahpedalamanyang disebutTana.Sampaihari ini, etnis Kajang masih mempraktekan tradisi kuno dan cara hidup yang mengajarkan manusia untuk mempertahankan keharmonisandengan alam. Mereka hidup dalam kesederhanaan, tidak adarumah-rumah yang memiliki perabotan, listrik, dan peralatan modern lainnya. Bagi etnis Kajang, modernitas dilihat sebagai nilai yang menyimpang dari aturan-aturan adat dan ajaran leluhur mereka. Sehari-harinya mereka mengenakan pakaian hitam.

Kegiatan 

Sebagai kabupaten yang kaya kemegahan alam dan budaya. Lokasinya yang dekat dengan Makassar membuatnya menjadi tujuan alternatif yang ideal. Bulukumba menawarkan banyak atraksi wisata. Setelah mengunjungi dermaga pinisi  di TanaBeru, pantai berpasir putih danberair yang tenang akan menarik minat Anda untuk berenang, bermain-main atau hanya membaringkan tubuh di bawah matahari tropis.

Lebih jauh ke arah selatan, di ujung paling selatan, sekitar 200km dari Makassar, ada Pantai Tanjung Bira yang berpasir putih, berair jernih, serta angin yang memanjakan tubuh menunggu Anda. Matahari terbit dan terbenam membentang begitu mengagumkan di cakrawala. Di sini terdapat Amatoa Resort yang menyajikan pemandangan pasir putih spektakuler, menjadikan tempat ini layak untuk berjemur, snorkeling atau menyelam.

Tidak terlalu jauh dari sana, Kepulauan Liukang dan Kambing menyambut langkah pengujung di alamnya yang masih alami.Terdapat beberapa perahudi sepanjang pantai berkenan membawa Anda berkeliling ke pulau-pulau sekitarnya. 

Perairan Tanjung Bira dan sekitar Pulau Selayar juga idealuntuk kegiatan menyelam. Di sekitarBira terdapat terumbu karang tetapi pemandangan batu karang yang paling indah adalah dinding karang terjal di PulauKambing di manalem pengan batuta jam berada diantara Bira dan Selayar. Di sini terumbu karang dan ribuan ikan berenang ke sana kemari dan menjadi daya tarik yang sulit untuk dilewatkan. 

Lebih jauh dari Bulukumba ke Kepulauan Kambing dan Liukang menawarkan keajaiban bawah laut dan biotanya. Di sepanjang jalan ke dekat Pulau Selayar, ada surga bawah laut Bulukumba dengan air yang masih jernih untuk kegiatan menyelam. Bahkan keindahan tempat ini layak disandingkan dengan kegembiraan menyelam Raja Ampat, Bunaken dan Wakatobi.

Akomodasi 

Pilihanakomodasi yang tersediadi KabupatenBulukumbabervariasi darihotel berbintangdanresor hingga penginapansederhana ataupondokbackpacker.Berikut beberapaakomodasiyang dapat Anda temukan di Bulukumba:

Salassa Guest house
Internet, kafe, restoran, tourist information, sepeda motor dan penyewaan mobil. 

Penginapan Tanjung Bira
AC, sarapan pagi
Telp: 085824635570 24 jam

Penginapan Pasir Putih Bira
Telp: 0811 420 1028      

Kalubimbi Cottage
Bira
Telp: 085656 456 853      

Wisma Ala Din Homestay
Telp: 085 299 7021 68/ 0815 4328 8159      

Riswan Bungalows
Banana boat
Telp: 085 341 664 955

Nusa Bira Indah Cottage
Jl. Kapongkolang

Penginapan Bukit Sawerigading
Telp: 081342242318

Bira Beach Hotel and Restaurant
Jl. Kapongkolang No. 2
Telp: +62 413 270 2034

Hotel Sapolohe
Telp: Tepat di tepi pantai Pasir Putih

Anda Beach Hotel and Restaurant
Telp: +62 413 258 9065|+62 81 355 963 628  

Bahagia Pondok Wisata Hotel
Jalan Bira, Bulukumba 92571
Sulawesi Selatan Indonesia
Telp: (0413) 83599

Awal Fajar Wisma
Jl Pisang 19, Bulukumba 92511
Sulawesi Selatan / South Sulawesi
Telp: 0413-81267

Anda Bunglows
Jl. Kapongkolang No. 6 Bira
Telp: (0413) 82125

Bira View Inn
Telp: (0413) 82043 – 81763
Perwakilan di Makassar:
Telp: (0411) 867336 

Informasi lebih lanjut mengenai hotel-hotel di Bulukumbah tersedia di http://birabeachhotels.com

Informasi akomodasi lainnya tersedia di cari hotel.

Kuliner 

Kuliner khas Bulukumbah yang patut Anda cicipi adalah sambala pette (sambal petai china), tumis cukka dan paccala pippi coli. Anda bisa menemukan hidangan ini di resoran-restoran di Bulukumbah.

Transportasi 

Bandara Internasional Hasanuddin di Makassar melayani penerbangan dari danke kota-kota besar di Indonesia termasuk Jakarta, Bali, Yogyakarta dan Surabaya. Tersedia pula penerbangan dari Malaysia menggunakan AirAsia dandari dan ke Singapura dengan Garuda Indonesia. 

Untuk mencapai Bulukumba, Anda bisa langsung dari bandarake terminal Malengkeri di Makassar dengan taksi sekitar Rp40.000,-. Dari terminal,Anda dapat naik bus atau angkutan umum lainnya ke Bulukumba sekitar2-3 jam dengan biaya mulai dariRp35.000,-

Setelah Anda mencapai pusat kota Bulukumba, bisa menuju Pantai Bira dengan menggunakan pete-pete mini bus sekitar Rp8.000,- sampai Rp10.000,-. Dermaga Pinisi  Tanah Beru berada di sepanjang jalan ini.

Di Pantai Tanjung Bira,a ngkutan umum beroperasi hanya sampai sore hari. Jika Anda ingin kembali ke Makassar, Anda bisa menyewa mobil dengan ongkos Rp500.000,-.

Keragaman yang Harmoni dalam Imlek

Betapa kita perlu bersyukur tinggal di Nusantara, sebuah negeri yang dihidupi dengan keragaman yang harmoni dan seakan itu sudah digariskan dalam DNA masyarakatnya. Ratusan suku dengan etnis serta budaya yang berbeda telah memperkaya dan menguatkan Indonesia yang multikultual lewat sejarahnya yang panjang.

Sejak berabad lamanya para pendatang dari India, Timur Tengah, dan Tiongkok telah turut mengisi jalannya sejarah Nusantara. Mereka bermigrasi ke negeri ini dengan latar belakang agama, perdagangan, atau sukarela. Hampir tidak ada kisah penaklukkan. Kendati kecil secara kuantitas namun pengaruh ketiga pendatang itu begitu besar sekali dalam berbagai bidang hingga saat ini.

Pendatang yang disebut terakhir, orang Tiongkok, telah datang, memilih tinggal, dan berbaur di negeri ini hingga budaya mereka mengakar melebur bersama warga lokal. Keserasian hubungan budaya Tiongkok dan pribumi telah menciptakan pengertian yang apik dan koheren. Budaya Tionghoa secara nyata memberikan akulturasi unik memperkaya budaya Indonesia. Keberadaan dan pengaruh orang Tionghoa di Nusantara adalah keniscayaan yang mengalir dengan sendirinya.

Apa yang kita sebut sekarang sebagai orang Tionghoa peranakan adalah mereka yang secara kebudayaan mengalami akulturasi. Keberadaan warga Tionghoa di Nusantara mempunyai keunikan tersendiri dalam interaksinya dengan suku lain di Indonesia. Sebut saja beberapa kota seperti Singkawang, Semarang, Surabaya, Bandung, Padang, Bangka, Pontianak, hingga Ternate, Maluku, dan bahkan di Papua. Di kota-kota tersebut orang Tionghoa berhubungan baik dengan suku setempat. Meleburnya peranakan Tionghoa di negeri ini jelas menjadi bukti adanya daya kohesi budaya yang kuat dalam suasana polietnis.

Warga Tionghoa telah hidup persis seperti anak negeri Indonesia. Semisal di Pecinan Glodok-Pancoran, Jakarta, merekalah yang menjadi motor tumbuh dan berkembangnya Batavia menjadi Jakarta. Mereka berdampingan hidup bersama warga pribumi dan bahkan tidak hanya di Jakarta tetapi di berbagai kota lain di negeri ini mereka bahkan menikah dengan orang pribumi.

Orang Indonesia keturunan persilangan antara masyarakat Tionghoa dan pribumi bisa menjadi jembatan antarbudaya serta simpul rasa saling percaya dalam masyarakat. Demikianlah sebenarnya wujud harmonisasi sosial terbuka lebar antara masyarakat Tionghoa dan masyarakat pribumi sehingga menguatkan identitas Indonesia sebagai bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Perayaan Imlek yang digelar di banyak kota di Tanah Air adalah gambaran bagaimana tradisi berusia ribuan tahun tersebut mendapat tempat dan dihidupi pula oleh warga pribumi. Imlek di berbagai kota nyatanya memang menjadi sebuah peragaaan dan etalase akulturasi budaya Tionghoa dan pribumi.

Tahun Baru Imlek (Sin-Cia) sendiri merupakan awal penanggalan Kalender Imlek warisan agama dan budaya Tionghoa sejak 4700-an tahun yang lalu yang dirintis oleh Fu Xi atau Ho-Hi (2852-2736 SM), seorang tokoh legendaris penegak bangsa Hoa-Xia (Tionghoa). Tahun Baru Imlek tidak terlepas dari aspek spiritual religius para raja suci atau nabi purba agama Ru (Ru-Jiao/Ji-Rauw) dan sudah ada jauh sebelum Nabi Khongcu dilahirkan namun melalui Nabi Khongcu-lah kalender Imlek sekarang mempunyai ketetapan tahun Imlek 2561, dihitung sejak tahun kelahiran Khongcu.

Budaya Imlek sudah memengaruhi Nusantara diperkirakan sejak pedagang dari Tiongkok datang abad ke-4 dan melakukan hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Berikutnya mereka mewarnai kehidupan dan kebudayaan di negeri ini hingga sekarang. Adalah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang kembali memberikan tempat bagi etnis Tionghoa untuk merayakan acara keagamaan mereka. Sebelumnya pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, aktivitas budaya warga keturunan khususnya umat Konfusianitas kurang mendapatkan tempat,padahal di masa Presiden Soekarno diperbolehkan. Kini perayaan Imlek dijadikan sebagai hari libur nasional. Warga yang merayakan biasanya akan mengisi dengan beraneka kegiatan seperti berdoa, perjamuan makan malam, penyulutan kembang api, pemasangan lampion dan gambar para Dewa, hio, dupa, patung naga, barongsai, serta tentunya ucapan “Gong Xi Fat Chai” yang artinya “Semoga kemakmuran menyertai Anda”. 

Baleo: Menghujam Jantung Ikan Paus di Lamalera

Angin berderu di hadapan Laut Sawu yang dilalui paus sperma setiap tahunnya. Lelaki pemburu paus Lamalera mengepulkan asap rokok dari mulutnya lalu segera hilang diterpa angin. Kotoklema (Paus sperma-Physeter macrocephalus) tak lama lagi akan menjadi objek keramaian bagi warga Lamalera di Pulau Lembata, pun demikian bagi turis asing yang sabar menanti berhari-hari di sana untuk menyaksikan atraksi yang sangat jarang disaksikan.  

Kebiasaan memburu paus sudah dimulai sejak abad ke-17 atau mungkin ke-16. Catatan Portugis menyebutkan adanya masyarakat di Pulau Lembata yang memburu paus dengan cara tradisional. Di Lamalera ada 15 klan keluarga dengan tradisi ini, lengkap dengan rumah adat, rumah perahu atau najeng, dan tale leo atau tali penangkap paus.

Ikan Paus Sperma adalah buruan satu-satunya yang dijalankan masyarakat Lamalera Atas ataupun Lamalera Bawah. Ikan paus biru (Balaenoptera musculus) pun sering berlalu di hadapan mereka sebagai mamalia air terbesar yang ada (cetacean). Namun paus itu tak pernah diburu, karena selain untuk menjaga kelestarian satwa laut besar ini, tradisi menyebutkan bahwa Lamalera dan Lembata pada umumnya pernah diselamatkan paus biru dulu kala.

Pantangan lain bagi mereka selain membunuh ikan paus biru, ialah membunuh paus sperma betina yang sedang hamil, anak paus, dan paus yang sedang dalam suasana kawin. Kepekaan terhadap kondisi ini hanya dapat diturunkan oleh klan-klan yang ada di Lamalera. Sayang, sekarang pantangan ini terkadang diabaikan.

Secara tradisi, ikan paus yang didapatkan dikonsumsi untuk masyarakat desa dan tidak melebihi dari kebutuhan hidup secara keseluruhan secara sosial. Terkadang jumlah paus yang ditangkap berfluktuasi sesuai ketersediaan dan keperluan masyarakatnya. Kadang setahun hanya ada 4 paus, dan kadang dapat mencapai  56 paus, jumlah tertinggi yang diraih pada tahun 1969. Seorang ahli biologi kelautan menyebutkan bahwa fluktuasi tergantung dari pola meteorologis dan pola populasi paus tersebut.

Kebiasaan kotoklema yang digelar hanya antara Mei dan Oktober dikhawatirkan akan sirna oleh gerusan modernisasi dan juga celah yang timbul dari upaya konservasi dan pendekatan adat di sana. Tahun 2009, pemburuan kotoklema dicetuskan menjadi sebuah festival agar tradisi ini dapat bertahan. Festival Baleo akhirnya dikenal dari tahun ke tahun. 

Saat festival, pakaian adat dikenakan. Tambangnya asli terbuat dari daun sawu, dan di awal Mei, sebuah lefa, upacara adat yang juga disebut iyegerek, dilaksanakan sebagai pembukaan baleo. Satu peledang diisi oleh 7 orang matros, dan seorang lamafa atau balafaing, sang penghujam harpoon tangan yang tajam yang disebut secara tradisonal sebagai tempuling

Pemburuan dapat memakan waktu berjam-jam. Saat paus nampak, matros akan mengayuh dayung kea rah paus sasaran. Lamafa segera menghujamkan tempuling ke jantung sang paus, tiga hingga empat kali sampai paus letih kehabisan darah. Hujaman pertama dapat sangat berbahaya bagi seluruh awak, karena paus akan menerjang, bergeliat kesakitan dan menghancurkan segala yang ada di dekatnya.

Tak heran festival ini begitu sangat berharga bagi wisatawan, selain menangkap nyale, cacing laut, melihat pasola yang juga melibatkan lembing, dan terkadang darah. Nusa Tenggara Timur memang kaya akan budaya tereksotis di negeri Indonesia, termasuk tarian yang juga mengundang decak kagum para insan perfilman seperti Tari Caci yang gagah berani.

Seorang peneliti Universitas Oxford, R.H. Barnes menuliskan dalam bukunya, “Sea Hunters of Indonesia: Fisher and Weavers of Lamalera (1996)”, bahwa Lamalera berasal dari bahasa lokal yang berarti Cakram Matahari.

Kuliner

Temukan jagung titi di Desa Waienga, Kabupaten Lembata sebagai sebuah kuliner khas sekaligus pangan dari kearifan lokal. Anda dapat melihat penduduk setempat meniti jagung yaitu menumbuk butiran jagung menjadi pipih seperti kripik. Sebuah keterampilan yang diturunkan turun-temurun dan menggunakan peralatan yang sangat sederhana berupa periuk tanah kecil untuk menyangrai butiran jagung, batu ceper sebagai landasan untuk meniti dan batu berbentuk lonjong yang berfungsi sebagai penumbuk (titi). 

Bahan jagung titi ini diambil dari hasil panen masyarakatnya, biasanya yang paling enak berasal dari Jagung Pulut, sedangkan agar proses menitinya lebih mudah, digunakan jagung yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Untuk membuat jagung titi biasanya dilakukan pada subuh sampai menjelang pagi. Proses pembuatannya dimulai dengan butiran-butiran jagung pipilan disangrai di dalam periuk tanah. Cukup menggunakan kayu bakar yang sedikit saja, agar jagung tidak cepat gosong. Setelah berwarna agak kekuningan atau sekitar 3 menit disangrai. Bila periuk tanah tadi terdengar berbunyi “kletek-kletek-kletek” maka itu tandanya jagung sudah siap untuk dititi. Sejumlah 4 butir jagung diambil langsung dari periuk dengan menggunakan tangan tanpa alas, lalu diletakkan di atas batu landasan. Butiran jagung tadi ditumbuk (dititi) menggunakan batu lonjong seberat lebih kurang 2 kg. Diperlukan ketepatan waktu antara meletakkan butiran jagung dan menarik telapak tangan agar tidak terpukul. Dengan sekali titi saja maka sudah jadilah jagung titi.

Jagung titi lebih nikmat disantap dengan lawar, sejenis pangan yang berbahan utama ikan-ikan kecil sejenis ikan teri segar yang direndam beberapa menit di dalam cuka yang telah ditambahkan dengan cabe dan bawang. Dengan sendirinya ikan-ikan kecil ini akan melunak dan menjadi setengah matang, mirip dengan salah satu jenis makanan Jepang.

Masyarakat Desa Waienga umumnya melakukan kebiasaan membuat jagung titi untuk konsumsi dan sebagian lagi untuk dijual. Untuk keperluan konsumsi, masyarakat meniti jagung bila dianggap persediaan sudah habis, selain itu masyarakat Desa Waienga juga akan meniti bilamana ada pesanan. Untuk dijual dengan pola pemasaran yang dilakukan masih sangat sederhana. Biasanya jagung titi dijual kepada pemesan di sekitar desa atau di pasar lokal setempat. Umumnya masih dalam jumlah yang terbatas, 3 mangkuk plastik dihargai Rp10.000,00. 

Kunjungilah Desa Waienga dan cicipi jagung titi untuk melestarikan dan mengapresiasi pangan dan kearifan lokal ditengah-tengah gencarnya promosi makanan siap saji.

Selain Lamalera, Desa Lamakera di Pulau Solor bagian timur pun memiliki tradisi memburu ikan paus dan ikan yang lebih beragam jenisnya. Di Desa Lamalera, mayoritas beragama Kristen walau tradisi adat masih sangat kuat diterapkan. Di Desa Lamakerta, mayoritas penduduknya berdagang dan menganut agama Islam.

Transportasi

Pulau Lembata yang menjadi kabupaten tersendiri terletak 190 kilometer di sebelah utara Kupang, Ibukota Nusa Tenggara Timur. Kota terbesar di Pulau Lembata ialah Lewoleba di bagian selatan pulau yang merupakan ibu kota Kabupaten Lembata. 

Karena terpisah secara geografis, menuju Lewoleba hanya dapat ditempuh melalui udara dengan Bandar Udara Wonopito atau dengan melalui laut. Penerbangan menuju Maumere menjadi penerbangan terakhir sebelum dilanjutkan oleh perjalanan laut di Larantuka. Jadi Anda harus menuju Larantuka dari Maumere dengan menggunakan bus kota.

Dari Larantuka Flores, kapal laut berlayar setiap hari ke Lewoleba, atau ada pula yang berlayar langsung ke Lamalera seminggu sekali.